Tag: gaza

  • WHO: Setiap 10 Menit Satu Anak Terbunuh di Gaza

    WHO: Setiap 10 Menit Satu Anak Terbunuh di Gaza

    7cloud.asia – Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan, Jumat (10/11/2023) rata-rata seorang anak terbunuh setiap 10 menit di Jalur Gaza.

    Ia membeberkan hal itu kepada Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sambil memperingatkan: “Tidak ada tempat dan tidak ada seorang pun di Gaza yang aman.”

    Dia mengatakan bahwa setengah dari 36 rumah sakit di Gaza dan dua pertiga dari pusat layanan kesehatan primernya tidak berfungsi.

    Rumah sakit yang beroperasi jauh melampaui kapasitasnya, dan menggambarkan sistem layanan kesehatan dalam keadaan “terpuruk.”

    “Koridor rumah sakit penuh dengan korban luka, orang sakit, dan sekarat. Kamar mayat meluap. Pembedahan tanpa anestesi. Puluhan ribu pengungsi berlindung di rumah sakit,” kata Tedros kepada dewan yang beranggotakan 15 orang itu.

    Baca: Gaza layaknya kuburan, PBB serukan gencatan senjata

    “Rata-rata, satu anak terbunuh setiap 10 menit di Gaza,” kata Tedros.

    Sejak 7 Oktober, WHO memverifikasi lebih dari 250 serangan terhadap layanan kesehatan di Gaza dan Tepi Barat, sementara ada 25 serangan terhadap layanan kesehatan di Israel, kata Tedros.

    Israel mengatakan Hamas menyembunyikan senjata di terowongan di bawah rumah sakit. Namun, Hamas membantah tuduhan itu.

    Duta Besar Israel untuk PBB Gilad Erdan mengatakan kepada Dewan Keamanan bahwa Israel membentuk satuan tugas untuk mendirikan rumah sakit di Gaza selatan.

    Pada 12 Oktober, Israel memerintahkan sekitar 1,1 juta orang di Gaza untuk pindah ke selatan menjelang invasi darat.

    Baca: Seruan gencatan senjata dari Majelis Umum PBB dianggap angin lalu

    “Israel sedang melakukan pembicaraan lanjutan dengan Uni Emirat Arab, ICRC (Komite Internasional Palang Merah -red) dan negara-negara Eropa lainnya mengenai pendirian kapal rumah sakit lapangan dan rumah sakit terapung,” kata Erdan.

    Ia menambahkan, “Israel memfasilitasi pengiriman bantuan medis dari Yordania ke rumah sakit di Gaza utara.”

    “Sedihnya, Israel berbuat lebih banyak demi kesejahteraan warga Gaza dibandingkan WHO atau badan PBB lainnya,” katanya.

    Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres berbicara di markas PBB di New York, Senin 6 November 2023.

    Amerika Serikat (AS) berupaya untuk menyediakan bahan bakar ke rumah sakit di Gaza, kata Wakil Duta Besar AS untuk PBB Robert Wood.

     

    Baca: Korban terus berjatuhan di Gaza, pemakaman layak sulit dilakukan

    Ia menekankan bahwa fasilitas sipil dan kemanusiaan harus dihormati dan dilindungi berdasarkan hukum internasional.

    Wood mengatakan Hamas menggunakan warga sipil sebagai tameng manusia.

    “Taktik pengecut ini tidak mengurangi tanggung jawab Israel untuk membedakan antara warga sipil dan teroris dalam perjuangannya melawan Hamas,” ujarnya.

    “Risiko kerugian terhadap warga sipil di lokasi yang digunakan Hamas untuk tujuan militer harus dipertimbangkan ketika merencanakan operasi.”

    Tedros mengenang masa kecilnya saat perang di Ethiopia, dan mengatakan bahwa dia memahami apa yang harus dialami anak-anak Gaza.

    “Suara tembakan dan peluru yang berdesing di udara, bau asap setelah serangan, peluru pelacak di langit malam, ketakutan, rasa sakit, kehilangan – hal-hal ini selalu melekat pada saya sepanjang hidup saya,” katanya. 

    Sumber: VOA Indonesia

  • Rumah Sakit Digempur Israel dan Pasokan Listrik Terputus, Tiga Bayi Prematur Meninggal

    Rumah Sakit Digempur Israel dan Pasokan Listrik Terputus, Tiga Bayi Prematur Meninggal

    7cloud.asia – Rumah Sakit Al Shifa dan rumah sakit lain di Gaza utara digempur habis-habisan oleh militer Israel.

    Akibatnya tiga bayi yang lahir prematur meninggal dunia kerena tiada pasokan listrik di rumah sakit di Gaza itu  pada Minggu (12/11/2023).

    Petugas medis di Rumah Sakit Al Shifa mengatakan Setiap hari, jumlah korban tewas dan terluka akibat serangan Israel kian bertambah, tetapi tempat untuk merawat mereka semakin sedikit.

    Bahkan banyak rumah sakit yang hampir tidak mampu merawat pasien. Di RS Al Shifa, juru bicara Kementerian Kesehatan Gaza, Ashraf Al-Qidra, mengatakan serangan Israel “meneror petugas medis dan warga sipil”.

    baca: israel akan terapkan jeda operasi militer 4 jam sehari di gaza

    Selain itu, Al-Qidra mengatakan dari 45 bayi yang dirawat, tiga di antaranya sudah meninggal dunia dan mereka tidak diberi tahu oleh militer Israel bagaimana membawa bayi-bayi itu ke tempat yang aman.

    Sementara itu juru bicara militer Israel, Laksamana Madya Daniel Hagari, mengatakan militer Israel akan membantu evakuasi bayi dari rumah sakit tersebut atas permintaan staf di sana.

    Namun, Seorang ahli bedah plastik di Al Shifa mengatakan akibat pengeboman terhadap ruang inkubator, bayi-bayi prematur terpaksa dirawat di ranjang biasa dengan sedikit daya yang tersedia untuk mengubah AC menjadi pemanas.

    “Kami tahu ini sangat berisiko. Kami menduga akan kehilangan bayi lebih banyak lagi setiap hari,” kata dr Ahmed El Mokhallalati seperti yang dilansir Reuters.

    baca: israel gencatan senjata dengan hamas tidak akan terjadi

    Hantaman roket Israel mengakibatkan bayi laki-laki bernama Mosab Subeih dilarikan ke RS Indonesia di Beit Lahiya, Gaza utara setelah rumah keluarganya hancur.

    “Dia terluka langsung di kepala dan mengalami pendarahan, dan kami tidak punya operasi,” kata petugas medis yang merawatnya dengan resusitator manual karena listrik padam.

    Minimnya obat-obatan, makanan dan air membuat staf medis di RS terbesar kedua di Gaza utara, Al-Quds, kesulitan merawat pasien.

    “Rumah sakit Al Quds terisolasi dari dunia dalam 6-7 hari terakhir. Tak ada jalan masuk, tak ada jalan keluar,” kata Tommaso Della Longa, juru bicara Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah.

    baca: korban tewas akibat perang israel dan hamas palestina dekati 4000 orang

    Salah seorang dokter pada RS Nasser di Khan Younis, Gaza selatan, Mohammad Qandil, mengatakan RS Shifa juga tak dapat diakses oleh mereka yang baru saja terluka.

    “RS Shifa sekarang tidak berfungsi, tak ada yang diizinkan masuk, tak ada yang boleh keluar,”

    Kondisi ini membuat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) kehilangan kontak dengan RS itu dan mengkhawatirkan orang-orang yang terjebak di sana.

    Israel mengatakan RS-RS di Gaza utara harus dikosongkan sehingga militer bisa menghancurkan apa yang mereka anggap sebagai pusat komando Hamas di bawah gedungnya dan di daerah sekitarnya. Hamas membantah dalih Israel itu.

    Pihak Israel  mengatakan orang-orang bisa dievakuasi dengan aman dari tiga RS di Gaza utara, termasuk Al Shifa.

    Direktur RS itu, Mohammad Abu Selmeyah, mengatakan kepada stasiun TV Al Arabiya bahwa tidak ada jalur keluar yang aman.

    Reporter: Nurakhmayani/berbagai sumber

  • Israel Bersikeras Akan Kelola Gaza Pasca Perang, Palestina Menolak

    Israel Bersikeras Akan Kelola Gaza Pasca Perang, Palestina Menolak

    7cloud.asia – Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan militer Israel akan mengelola Jalur Gaza setelah perang berakhir nanti.

    Isarel akan menyiapkan kamp pengungsi bagi warga Palestina yang terpaksa mengungsi dari rumah mereka di Gaza karena perang Israel-Hamas.

    Gagasan Israel soal pengelolaan Gaza pasca perang ini ditolak mentah-mentah oleh Perdana Menteri Palestina Mohammed Shtayyeh.

    “Pembicaraan tentang apa yang akan terjadi setelah perang berakhir baru akan dilakukan setelah Hamas dapat dihancurkan. Gaza akan didemiliterisasi sehingga tidak akan ada lagi ancaman dari Jalur Gaza terhadap Israel. Untuk memastikan hal itu, maka selama diperlukan Pasukan Pertahanan Israel akan tetap mengontrol keamanan di Jalur Gaza.”

    Demikian petikan pernyataan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dalam pidato yang disiarkan secara nasional dari Tel Aviv, Sabtu (11/11/2023).

    Baca: Israel terapkan jeda kemanusiaan 4 jam sehari di Gaza

    Netanyahu kembali menegaskan hal ini saat diwawancarai CNN di program “State of the Union” hari Minggu (12/11/2023).

    Ia jelas menolak proposal Amerika agar pengelolaan Gaza pasca perang nanti dikembalikan kepada rakyat Palestina, sebagaimana disampaikan Menteri Luar Negeri Amerika Antony Blinken dalam konferensi pers di Tokyo pada 8 November lalu.

    “Jelas bahwa Israel tidak dapat menduduki Gaza. Kenyataannya, mungkin perlu ada masa transisi di akhir konflik, tetapi sangat penting bagi rakyat Palestina untuk memimpin pusat pemerintahan di Gaza dan Tepi Barat, dan sekali lagi, kami tidak melihat adanya pendudukan kembali (oleh Israel.red).” ujarnya saat itu

    Dan apa yang saya dengar dari para pemimpin Israel, lanjutnya, adalah bahwa mereka tidak berniat untuk menduduki kembali Gaza dan mengambil alih kendali atas Gaza.

    “Jadi pertanyaannya adalah, apakah ada periode transisi yang mungkin diperlukan, dan mekanisme apa yang dapat dilakukan untuk memastikan adanya keamanan? Yang pasti kami (Amerika.red) sangat tegas, tidak akan ada pendudukan kembali (oleh Israel.red). Hal ini sama tegasnya seperti sikap kami bahwa tidak akan ada pemindahan penduduk Palestina,” tandas Blinken.

    Baca: Gaza telah jadi kuburan, PBB serukan gencatan senjata

    Lebih jauh Blinken ketika itu juga menegaskan bahwa ini harus mencakup pemerintahan yang dipimpin oleh Palestina, dan bahwa Gaza bersatu dengan Tepi Barat di bawah kepemimpinan Otoritas Palestina.

    Hampir 40 hari sejak berkecamuknya perang Israel-Hamas, lebih dari 11.000 warga Palestina di Gaza tewas.

    Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza, wilayah yang dikelola Hamas, mengatakan dua per tiga dari jumlah itu adalah perempuan dan anak-anak.

    Sementara di pihak Israel, sedikitnya 1.200 orang tewas ketika Hamas melancarkan serangan awal 7 Oktober lalu.

    Masih terus berlanjutnya serangan Israel ke Gaza, yang kini bahkan mulai memasuki wilayah pemukiman padat penduduk, memaksa ribuan warga di bagian utara kota itu melarikan diri ke bagian selatan untuk menyelamatkan diri. Sejumlah tenda pengungsian pun bermunculan di antara jalur itu.

    Deretan tenda berwarna putih itu paling banyak terdapat di kota Khan Younis, di mana setiap pagi warga antri untuk mendapatkan makanan ala kadarnya, seperti roti dan satu kaleng biji-bijian atau ikan tuna.

    Baca: Setiap 10 menit satu anak meninggal di Gaza

    PM Palestina Tolak Pendirian Kamp Pengungsi Baru, Serukan Pemulangan Warga

    Perdana Menteri Palestina Mohammed Shtayyeh, dalam rapat kabinet hari Senin (13/11/2023) di Tepi Barat, menolak pendirian kamp pengungsi bagi warga Palestina yang terpaksa meninggalkan rumah mereka.

    Ia menyerukan pemulangan mereka yang terpaksa mengungsi ke rumah mereka.

    “Kami menolak pendirian kamp-kamp sementara bagi para pengungsi, seperti yang diminta oleh tentara Israel pada organisasi-organisasi internasional.

    “Kami ingin rakyat kami kembali ke rumah mereka, di mana mereka dipindahkan secara paksa. Dalam sejarah Palestina, tidak ada yang namanya ‘sementara’, karena pengalaman telah mengajarkan kita bahwa yang sementara itu bersifat permanen,” tegasnya.

    Mimpi Buruk “Nakba”. Keberadaan warga Palestina yang dengan tergesa-gesa mendirikan tenda-tenda PBB di Khan Younis itu, membuka kenangan menyakitkan tentang eksodus massal, yang oleh warga Palestina disebut sebagai Nakba, atau “malapetaka”.

    Pada bulan-bulan sebelum dan selama perang 1948, sekitar 700.000 warga Palestina melarikan diri atau diusir dari wilayah yang sekarang dikenal sebagai Israel.

    Banyak dari mereka yang berharap untuk kembali ke rumah mereka ketika perang berakhir, tetapi semua harapan itu sirna.

    Baca: Majelis Umum PBB sepakati resolusi gencatan senjata di Gaza

    Tujuh puluh lima tahun kemudian, tenda-tenda sementara di Tepi Barat, Gaza, dan negara-negara Arab yang berdekatan telah menjadi rumah-rumah batako yang permanen.

    Pakar studi Arab di Universitas Columbia, Rashid Khalidi, kepada Associated Press mengatakan “langsung teringat tahun 1948 ketika warga Palestina di Gaza diperintahkan untuk mengungsi, langsung teringat akan hal itu ketika Anda melihat gambar-gambar (tenda) itu. Para penulis Palestina telah mengukir hal ini ke dalam kesadaran orang Arab.”

    UNRWA: Pendirian Kamp Pengungsi Tidak Bersifat Permanen

    Badan PBB untuk urusan pengungsi Palestina UNRWA mengatakan kamp-kamp pengungsi itu tidak bersifat permanen.

    UNRWA menambahkan, mereka mendistribusikan tenda dan selimut kepada puluhan keluarga pengungsi di Khan Younis itu karena mereka tidak dapat ditampung di fasilitas PBB lainnya.

    “Hal ini untuk melindungi mereka dari hujan dan memberikan martabat dan privasi,” demikian petikan pernyataan UNRWA.

    Sumber: VOA Indonesia

  • PBB: Israel Hanya Izinkan Separuh Bantuan Masuk ke Gaza, Palestina

    PBB: Israel Hanya Izinkan Separuh Bantuan Masuk ke Gaza, Palestina

    7cloud.asia – Direktur Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) di Gaza, Thomas White mengatakan, Israel tak sepenuhnya membuka pintu agar semua bantuan masuk ke Gaza, Palestina.

    Dalam pernyataan yang dilansir Sabtu (18/11/2023) White mengumumkan bahwa Israel hanya mengizinkan masuknya setengah bahan bakar yang dibutuhkan dari bantuan kemanusiaan harian ke Gaza.

    “Bahan bakar dalam jumlah yang terbatas telah masuk ke Gaza, Palestina” kata White dalam sebuah pernyataannya di akun media sosial X.

    “Ketika otoritas Israel membatasi bahan bakar yang masuk ke Gaza, Palestina – ini berarti mengurangi kapasitas di Perbatasan Rafah untuk menerima truk bantuan,” ujarnya.

    Baca: Israel kekeuh untuk kelola Gaza pasca perang, Palestina menolak

    White menyatakan bahwa “otoritas Israel hanya mengizinkan 50 persen dari kebutuhan bahan bakar harian untuk bantuan kemanusiaan yang dapat menyelamatkan orang-orang.”

    Ada “kesenjangan besar dalam respons bantuan ini – misalnya orang-orang hanya akan mendapatkan dua pertiga dari kebutuhan harian mereka terhadap air minum yang bersih,” tandas White

    Saat ini 1,5 juta orang di Jalur Gaza terpaksa mengungsi akibat serangan intensif Israel, lebih dari 800 ribu warga Palestina mencari perlindungan di fasilitas-fasilitas UNRWA.

    Sejak Israel mulai melakukan pengeboman pada 7 Oktober, lebih dari 12 ribu warga Palestina telah tewas. sementara lebih dari 30 ribu orang lainnya luka-luka,

    Baca: Israel terapkan jeda kemanusiaan 4 jam sehari di Gaza

    Sebagian besar korban meninggal adalah anak-anak, yakni lebih dari 8.300 perempuan dan anak-anak,  menurut data terbaru.

    Ribuan bangunan, termasuk rumah sakit, masjid dan gereja, telah rusak atau hancur akibat serangan udara dan darat tanpa henti yang dilakukan Israel di Gaza yang terkepung itu.

    Blokade Israel juga telah memutus pasokan bahan bakar, listrik dan air ke Gaza, dan mengurangi pengiriman bantuan hingga hanya sedikit yang tersalurkan.

    Sementara itu, jumlah korban tewas di Israel adalah sekitar 1.200 orang, menurut data resmi.

    Sumber: Antaranews/Anadolu

     

  • Pasukan Israel Kepung RS Indonesia di Gaza, 8 Orang Tewas

    Pasukan Israel Kepung RS Indonesia di Gaza, 8 Orang Tewas

    7cloud.asia – Rumah Sakit Indonesia yang berada di jalur Gaza sejak Minggu (19/11/2023) dikepung dan di bombardir pasukan Israel hingga Senin (20/11/2023). Akibatnya, 8 orang dilaporkan tewas.

    Sementara dua orang dokter di rumah sakit ini mengalami luka-luka akibat serangan bertubi-tubi dari pasukan Israel.

    Melansir Al Jazeera, salah seorang tim medis menjelaskan rumah sakit ini menjadi target serangan sejak Minggu malam tanpa ada peringatan terlebih dahulu.

    Karena itu, pihaknya mendesak meminta bantuan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Palang Merah.

    Sementara itu, kantor berita Palestina, WAFA melaporkan Israel menyerang rumah sakit tersebut dengan peluru artileri dan rudal.

    Baca: presiden turki sebut banyak bukti untuk seret israel ke mahkamah internasional

    Tidak hanya itu, sejumlah tentara menembaki siapapun yang bergerak di luar pintu rumah sakit.

    WAFA melaporkan serangan Israel tersebut telah mengakibatkan sejumlah fasilitas di rumah sakit tersebut mengalami kerusakan.

    Pengeboman tersebut mengenai bagian bedah khusus perempuan dan melukai beberapa dokter yang tengah melakukan operasi.

    Selain itu terdapat kerusakan di lantai dua rumah sakit milik Indonesia di Gaza tersebut.   

    Serangan Israel juga mengenai generator listrik rumah sakit. Akibatnya listrik padam dan memaksa para tenaga medis menggunakan lampu dari ponsel mereka untuk mengoperasi pasien.

    Hingga kini belum ada tanggapan dari militer Israel terhadap serangan ke rumah sakit Indonesia ini.

    Baca: pbb israel hanya mengizinkan separuh bantuan masuk ke gaza palestina

    Koresponden Al Jazeera, Safwat al Kahout yang berada di jalur Gaza, menjelaskan pasukan Israel tersebut diduga akan mengulangi apa yang mereka lakukan di Rumah sakit Al Shifa dan akan menduduki RS Indonesia.

    Di tengah serangan pasukan Israel, RS Indonesia yang terletak di jalur Gaza bagian utara ini menjadi satu-satunya rumah sakit yang masih berusaha memberikan layanan medis di area Gaza City dan Gaza bagian utara.

    Saat ini RS Indonesia tengah merawat sekitar 150 pasien yang mengalami luka-luka akibat serangan pasukan Israel dan dibantu oleh 100 orang tenaga medis.

    RS Indonesia juga menjadi tempat berlindung ribuan warga Gaza untuk menghindari serangan pasukan Israel.

    Baca: israel bersikeras akan kelola gaza pasca perang palestina menolak

    Menurut direktur RS. Indonesia, Dr. Marwan Al Sultan sekitar 5000 warga sipil yang berlindung di tempat ini.

    Seperti yang diwartakan sebelumnya, pasukan Israel mengincar sejumlah fasilitas publik untuk dihancurkan.

    Beberapa fasilitas yang jadi target serangan itu antara lain masjid, Rumah Sakit Al Shifa, sejumlah kamp pengungsian hingga sekolah.

    Serangan tersebut menewaskan banyak warga sipil dari pihak Palestina, termasuk anak-anak dan perempuan.

    Penulis: Nurakhmayani/berbagai sumber

  • UE: Pengakuan terhadap Negara Palestina Kunci Keamanan Israel

    UE: Pengakuan terhadap Negara Palestina Kunci Keamanan Israel

    7cloud.asia – Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa (UE), Josep Borrell, menegaskan bahwa pembentukan negara Palestina merupakan cara terbaik untuk menjamin keamanan Israel.

    Pengakuan negara Palestina dari Israel itu dikatakan Borrell Senin (20/11/2023) usai menggelar pertemuan video dengan para menteri luar negeri ke-27 negara anggota UE.

    Sebelum pertemuan Menlu UE ini, Borrell telah mengunjungi Timur Tengah untuk membahas perang Israel dengan hamas, salah satu faksi di Palestina

    Diplomat tertinggi UE itu mengatakan dirinya sudah mengambil “kesimpulan politik mendasar” dari hasil diskusinya di kawasan TimTeng.

    Baca: Israel bersikukuh akan kelola Gaza jika perang berakhir

    “Saya rasa jaminan terbaik bagi keamanan Israel adalah pembentukan negara Palestina,” ungkapnya dalam ringkasan tertulis pertemuan UE.

    Borrell telah menekankan bahwa Israel tidak boleh menduduki Gaza setelah konflik antara Israel-Hamas yang berlangsung sejak awal Oktober lalu ini, berakhir.

    Borrell juga menekankan, kekuasaan wilayah di Gaza tersebut harus diserahkan kepada Otoritas Palestina.

    “Terlepas dari tantangan besar yang ada, kita harus menjalankan pemikiran kita mengenai upaya penstabilan wilayah Gaza dan negara Palestina pada masa depan,” ungkapnya.

    Baca: Gaza telah jadi kuburan, PBB serukan gencatan senjata segera

    Dalam jangka pendek, Borrell mengatakan, setelah mengunjungi sejumlah negara Arab, ada “urgensi” mengenai situasi kemanusiaan yang gawat di Gaza.

    “Resolusi Dewan Keamanan PBB yang menyerukan jeda kemanusiaan sesegera mungkin merupakan sebuah kemajuan besar, namun kita harus memastikan penerapannya secara cepat,” kata pejabat UE itu.

    Kekhawatiran besar lainnya adalah kemungkinan konflik itu akan semakin memperburuk situasi di Tepi Barat dan menyeret aktor-aktor lain di Timur Tengah.

    “Mengingat meningkatnya kekerasan ekstremis dan pemukim terhadap warga Palestina, terdapat risiko nyata bahwa situasi itu dapat mengeskalasi,” kata Borrell.

    Baca: Korban terus berjatuhan, otoritas Palestina kesulitan memakamkan korban

    “Laporan mengenai sebuah kapal yang dibajak oleh Houthi adalah sinyal mengkhawatirkan lainnya mengenai risiko meluasnya konflik regional.”

    Pemimpin Hamas Ismail Haniyeh mengatakan, pada Selasa (21/11/2023), bahwa gerakan militannya mendekati kesepakatan gencatan senjata dengan Israel, menurut sebuah pernyataan yang diposting di Telegram.

    “Kami hampir mencapai kesepakatan mengenai gencatan senjata,” kata Haniyeh, menurut postingan tersebut.

    Para perunding telah berupaya untuk mencapai kesepakatan yang memungkinkan pembebasan sekitar 240 sandera, yang sebagian besarnya adalah warga Israel yang ditangkap pada 7 Oktober lalu. 

    Baca: OKI diminta segera ambil sikap soal Palestina

    Serangan Hamas ini merupakan serangan paling mematikan terhadap Israel yang kemudian memicu serangan besar-besaran ke Gaza yang telah menewaskan lebih dari 10.000 orang Palestina.

    Sumber: VOA Indonesia

  • Israel dan Hamas Perpanjang Gencatan Senjata Sehari Lagi

    Israel dan Hamas Perpanjang Gencatan Senjata Sehari Lagi

    7cloud.asia – Israel dan Hamas mencapai kesepakatan untuk memperpanjang jeda gencatan senjata enam hari mereka hingga satu hari lagi.

    Kesepakatan untuk memperpanjang gencatan senjata antara Israel dan Hamas ini dicapai menit-menit terakhir sebelum gencatan senjata berakhir pada Kamis (30/11/2023) 

    Kesepakatan gencatan senjata itu untuk memungkinkan para perunding terus berupaya mencapai kesepakatan untuk menukar sandera yang ditahan di Gaza dengan tahanan Palestina.

    Jeda atau gencatan senjata selama tujuh hari ini telah memungkinkan bantuan kemanusiaan yang sangat dibutuhkan untuk masuk ke Gaza.

    Baca: Gencatan senjata Israel-Hamas akan berakhir, bagaimana nasib pengungsi?

    Sebagian besar wilayah Gaza, yakni pesisir berpenduduk 2,3 juta jiwa menjadi reruntuhan akibat pemboman Israel sebagai respons terhadap serangan mematikan yang dilakukan Hamas pada 7 Oktober lalu.

    “Mengingat upaya para mediator untuk melanjutkan proses pembebasan sandera dan tunduk pada ketentuan kerangka kerja, jeda operasional akan terus berlanjut,” kata militer Israel.

    Pernyataan itu dirilis beberapa menit sebelum gencatan senjata sementara berakhir pada Kamis pukul 05.00 GMT atau pukul 12.00 WIB.

    Hamas sudah membebaskan 16 sandera dengan imbalan 30 tahanan Palestina pada Rabu (29/11/2023), mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa gencatan senjata akan berlanjut hingga hari ketujuh.

    Baca: Israel dan Hamas sepakat untuk gencatan senjata

    Kondisi gencatan senjata, termasuk penghentian permusuhan dan masuknya bantuan kemanusiaan, akan tetap sama, menurut juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar.

    Qatar telah menjadi mediator utama antara pihak-pihak yang bertikai, bersama dengan Mesir dan Amerika Serikat.

    Sementara itu, sekitar enam orang terluka dalam serangan penembakan di Yerusalem pada Kamis, kata petugas layanan ambulans Israel Magen David Adom.

    Pihak kepolisian mengatakan dua tersangka penyerang telah “dilumpuhkan di tempat”

    Baca: Hampir 15.000 warga Palestina tewas selama 46 hari konflik

    Sebelum tercapainya kesepakatan tersebut, baik Israel maupun Hamas mengatakan mereka bersiap untuk melanjutkan pertempuran karena negosiasi mengenai pembebasan sandera berikutnya menemui jalan buntu.

    “Beberapa waktu yang lalu, Israel diberikan daftar perempuan dan anak-anak sesuai dengan ketentuan perjanjian, dan oleh karena itu gencatan senjata akan terus berlanjut,” kata kantor perdana menteri Israel dalam sebuah pernyataan tepat ketika gencatan senjata akan berakhir.

    Hamas sebelumnya mengatakan Israel menolak menerima tujuh perempuan dan anak-anak lagi serta jenazah tiga sandera lainnya sebagai imbalan atas perpanjangan gencatan senjata tersebut.

    Hamas tidak menyebutkan nama anggotanya yang tewas namun mengatakan pada hari Rabu bahwa sebuah keluarga yang terdiri dari tiga sandera Israel, termasuk sandera termuda, Kfir Bibas yang berusia 10 bulan, tewas dalam pemboman Israel di daerah kantong tersebut.

    Baca: Uni Eropa tegaskan pengakuan terhadap Palestina jadi kunci keamanan Israel

  • WHO Sebut Gaza Ingatkan Ancaman Penyakit di Gaza

    WHO Sebut Gaza Ingatkan Ancaman Penyakit di Gaza

    7cloud.asia – Gencatan senjata antara Israel dan Hamas berakhir hari ini, Jumat (1/12/2023) di tengah ancaman merebaknya penyakit di Gaza.

    Sementara Israel kembali memborbardir Gaza dengan serangkaian serangan mematikan, setelah tidak mencapai kesepakatan untuk memperpanjang waktu penerapan gencatan senjata. 

    Berlanjutnya kembali peperangan antara Hamas dan Israel dikhawatirkan akan memperburuk kondisi di Gaza.    

    Sebelumnya, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengingatkan penyakit bisa menimbulkan ancaman yang lebih besar terhadap kehidupan manusia dibandingkan pemboman di Gaza.

    Baca: Dubes Palestina sebut gencatan senjata saja tak akan menyelesaikan masalah 

    Kepadatan penduduk dan kurangnya akses pada air minum bersih atau sistem sanitasi telah menyebabkan berkembangnya penyakit menular, terutama diare pada anak-anak.

    WHO menyebut berkembangnya penyakit menular di Gaza telah mencapai hampir 100 kali lipat dari tingkat normal.

    Juru bicara WHO Margaret Harris dalam laporan kepada PBB di Jenewa, Selasa (28/11/2023) mengatakan kematian akibat penyakit menular ini lebih berbahaya.

    “Pada akhirnya kita akan melihat lebih banyak orang meninggal karena penyakit dibandingkan dengan yang kita lihat akibat pemboman jika kita tidak mampu mengembalikan sistem kesehatan ini,” katanya 

    Baca: Gencatan senjata Israel-Hamas akan berakhir

    WHO mengatakan kekurangan pangan telah menambah risiko penyakit, sementara masyarakat semakin lemah karena kelaparan, sehingga menyebabkan mereka lebih rentan terhadap penyakit.

    Masyarakat di Gaza juga menghadapi kesulitan dalam mendapatkan pengobatan, karena terbatasnya staf medis dan kurangnya akses terhadap obat-obatan dan vaksinasi.

    Gangguan dalam pengumpulan sampah dari tempat penampungan yang padat telah menambah kekhawatiran akan risiko penyakit.

    Dalam menanggapi kondisi di Gaza, Organisasi Kesehatan Dunia telah menyerukan gencatan senjata, “mempertahankan akses bantuan ke Gaza,”.

    Baca: WHO sebut setiap 10 menit satu anak meninggal di Gaza

    WHO juga menyerukan “perlindungan warga sipil dan layanan kesehatan,” dan “penghormatan terhadap hukum kemanusiaan internasional,” di platform media sosial X, sebelumnya bernama Twitter.

    Israel menyatakan perang terhadap Hamas (yang oleh AS dinyatakan sebagai kelompok teror) setelah serangan mengejutkan mereka pada tanggal 7 Oktober di Israel selatan yang menewaskan sekitar 1.200 orang.

    Dalam serangan itu, Hamas menyandera sekitar 240 orang.

    Kampanye Israel melawan militan Hamas telah menewaskan lebih dari 14.000 orang, menurut pejabat kesehatan Gaza.

    Sumber: VOA Indonesia

  • Gencatan Senjata Israel-Hamas Berakhir, Israel kembali Serang Gaza dan Larang Bantuan Kemanusiaan Masuk Gaza

    Gencatan Senjata Israel-Hamas Berakhir, Israel kembali Serang Gaza dan Larang Bantuan Kemanusiaan Masuk Gaza

    7cloud.asia – Truk-truk bantuan kemanusiaan dan bahan bakar berhenti memasuki Jalur Gaza pada Jumat (1/12/2023) setelah berakhirnya gencatan senjata antara Israel-Hamas.

    Mengutip Anadolu, seorang sumber keamanan berkata bahwa Israel tidak mengizinkan ada truk yang memasuki Gaza, daerah kantong Palestina tersebut melalui perbatasan Rafah setelah gencatan senjata tujuh hari.

    Selama masa gencatan senjata itu, hanya sedikit bantuan dan bahan bakar yang masuk Gaza.

    Israel kembali melanjutkan serangan di Jalur Gaza setelah berakhirnya gencatan senjata sehingga menelan ratusan korban jiwa pada kalangan warga sipil Palestina.

    Paling sedikit 109 warga Palestina meninggal dan beberapa lainnya luka-luka ketika Israel kembali menyerang berbagai wilayah di Jalur Gaza setelah gencatan senjata berakhir, kata Kementerian Kesehatan di Gaza.

    Baca: WHO ingatkan ancaman penyakit menular di Gaza

    Sebelumnya, gencatan senjata sementara antara Israel dan Hamas berlaku pada 24 November.

    Dilansir VOA Indonesia, Israel telah mengatakan kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bahwa mereka tidak akan memperbarui visa koordinator residen dan kemanusiaan PBB di wilayah Palestina.

    Israel secara efektif akan mengusir koordinator kemanusiaanPBB di Palestina. 

    Hal ini terjadi di tengah ketegangan hubungan antara Israel dan badan dunia tersebut terkait perang di Gaza.

    Dalam surat tertanggal 12 November dan dilihat oleh VOA, Amir Weissbrod, wakil direktur jenderal kantor Kementerian Luar Negeri Israel yang menangani PBB dan organisasi internasional lainnya, menyatakan ketidaksenangan pemerintahnya terhadap seorang pejabat PBB, Lynn Hastings.

    “Dengan menyesal kami memberi tahu Anda bahwa Nona Hastings telah kehilangan kepercayaan dan keyakinan dari otoritas Israel dan tidak lagi dalam posisi untuk memenuhi tanggung jawabnya secara efektif dengan pejabat Israel terkait,” tulisnya.

    Baca: Dubes Palestina sebut hanya gencatan senjata takkan selesaikan masalah Palestina

    Dia mengatakan bahwa pemerintah Israel tidak akan memperbarui visa Hastings ketika masa berlakunya habis 20 Desember mendatang.

    Weissbrod mengutip apa yang disebutnya sebagai “sikap diam yang berkelanjutan” oleh Hastings mengenai tanggung jawab Hamas atas serangan teror 7 Oktober terhadap Israel.

    “Diamnya Hastings (atas serangan Hamas) ini menjadi lebih mencengangkan, dan sangat ofensif, mengingat sikap Hastings untuk secara teratur dan tidak bertanggung jawab mengarahkan kritik terhadap Israel,” katanya.

    Tiga hari setelah serangan Hamas itu, Hastings mengeluarkan pernyataan yang menyatakan, “Kelompok bersenjata Palestina menyusup ke Israel pada 7 Oktober, membunuh dan menangkap ratusan warga sipil Israel dan anggota pasukan Israel, sambil tanpa pandang bulu menembakkan ribuan roket ke Israel.”

    Pernyataan itu menambahkan: “Warga sipil (Israel) yang ditangkap harus segera dibebaskan dan tanpa syarat” dan “diperlakukan secara manusiawi dan bermartabat.”

    Baca: Hampir 15.000 warga Palestina tewas dalam 46 hari perang Israel-Hamas

    Hastings berulang kali menyerukan peningkatan bantuan ke Gaza. Mulai 7 hingga 21 Oktober, Israel tidak mengizinkan bantuan kemanusiaan apa pun masuk ke wilayah yang dikuasai Hamas.

    Ketika program ini dimulai, dana tersebut terbatas dan tidak memadai untuk memenuhi kebutuhan yang terus meningkat.

    Dia juga mendesak Israel untuk membatalkan perintah evakuasi yang menyebabkan lebih dari 1 juta orang dari Gaza utara melarikan diri ke selatan.

    Hastings telah meminta kedua pihak yang berkonflik untuk mematuhi kewajiban mereka berdasarkan hukum humaniter internasional.

    “Saya hanya bisa – dan saya telah mengatakan ini sebelumnya – menegaskan kembali kepercayaan penuh Sekretaris Jenderal PBB terhadap Nona Hastings, cara dia berperilaku dan cara dia melakukan pekerjaannya,” kata juru bicara PBB Stephane Dujarric, Jumat (1/12/2023) sebagai tanggapan terhadap pertanyaan wartawan dan mengkonfirmasi keputusan Israel.

    Baca: Gencatan senjata mulai berlaku

    Dia mencatat bahwa Hastings telah menghadapi serangan publik, termasuk di media sosial.

    “Serangan pribadi dan langsung terhadap personel PBB di mana pun di seluruh dunia tidak dapat diterima dan membahayakan nyawa banyak orang,” kata Dujarric.

    Keputusan Israel diambil di tengah ketegangan hubungan antara Tel Aviv dan PBB.

    Para pejabat Israel selama bertahun-tahun menuduh organisasi tersebut bias terhadap Israel, dan bulan lalu, Duta Besar Gilad Erdan meminta Sekretaris Jenderal Antonio Guterres untuk mengundurkan diri ketika ia mengatakan bahwa serangan Hamas (ke Israel) “tidak terjadi dalam ruang hampa.”

    Guterres menambahkan bahwa rakyat Palestina “telah menjadi sasaran pendudukan yang menyesakkan selama 56 tahun.”

    Erdan mengatakan pada hari itu bahwa Israel juga harus menilai kembali hubungannya dengan PBB.

    Baca: Uni Eropa desak Israel akui kemerdekaan Palestina

    Tuduhan Israel terhadap guru UNRWA

    Secara terpisah, badan PBB yang membantu warga Palestina, UNRWA, mengatakan Jumat (1/12/2023) bahwa pihaknya telah meminta informasi lebih lanjut kepada seorang jurnalis Israel mengenai apa yang dikatakannya sebagai “tuduhan yang sangat serius”.

    Tuduhan itu menyebut seorang guru UNRWA menahan salah satu warga Israel yang diculik pada 7 Oktober di ruangan loteng rumahnya selama 50 hari.

    Reporter saluran televisi Israel 13, Almog Boker, menulis di platform media sosial X pada Kamis (30/11/2023) bahwa tersangka penculik hampir tidak memberikan makanan atau perawatan medis kepada sandera.

    “UNRWA meminta jurnalis untuk segera memberikan klarifikasi atas klaim tersebut dan siapa pun yang mungkin dapat membantu kami dalam menentukan fakta, untuk melapor,” kata badan tersebut dalam sebuah pernyataan.

    Esti Utami, dari berbagai sumber

    “Dengan tidak adanya informasi yang dapat dipercaya untuk mendukung klaim ini, UNRWA meminta jurnalis tersebut untuk segera menghapus postingan tersebut.”

    Postingan Boker diambil oleh beberapa media dan mendapat lebih dari 2.000 postingan ulang di X.

    “Membuat tuduhan serius di ranah publik, tanpa didukung oleh bukti atau fakta yang dapat diverifikasi, bisa dianggap sebagai misinformasi,” tandas UNRWA.

  • UNICEF: Pengeboman Terparah di Gaza Selatan Tewaskan Banyak Anak

    UNICEF: Pengeboman Terparah di Gaza Selatan Tewaskan Banyak Anak

    ruangkota – Gaza selatan saat ini menghadapi “pengeboman terparah” sejak agresi Israel 7 Oktober, kata juru bicara badan PBB untuk urusan anak-anak (UNICEF) James Elder, pada Minggu (3/12).

    “Ini pengeboman perang terparah saat ini di Gaza selatan. Saya melihat begitu banyak korban anak-anak,” kata Elder di X.

    Dia menambahkan: “Kami mendapatkan peringatan terakhir untuk menyelamatkan anak-anak di Gaza; serta suara hati nurani kami.”

    Baca: Banyak bukti untuk seret Presiden Israel ke Mahkamah Internasional

    Dalam pesan video terpisah, Elder mengaku telah “kehabisan cara” untuk menggambarkan kengerian yang dihadapi anak-anak di Jalur Gaza.

    “Saya merasa seperti hampir gagal dalam kapasitas untuk menyampaikan tentang pembantaian terhadap anak-anak yang tiada henti di sini,” katanya.

    Pasukan Israel kembali membombardir Jalur Gaza pada Jumat pagi setelah jeda kemanusiaan selama sepekan dinyatakan berakhir.

    Baca: Gencatan senjata Hamas dan Israel berakhir hari ini

    Sedikitnya 509 warga Palestina tewas dan 1.316 lainnya terluka akibat serangan udara Israel sejak Jumat, menurut Kementerian Kesehatan Gaza.

    Israel terus menerus meluncurkan serangan udara dan darat di Jalur Gaza menyusul serangan lintas batas oleh kelompok perlawanan Palestina Hamas pada 7 Oktober.

    Sejak saat itu lebih dari 15.500 warga Palestina, mayoritas anak-anak dan perempuan, tewas.

    Sementara itu, korban tewas di pihak Israel mencapai 1.200 orang.

    Sumber: Antaranews