Tag: gelombang panas

  • Akibat Gelombang Panas, Terjadi Pemutihan Karang di Perairan Taiwan

    Akibat Gelombang Panas, Terjadi Pemutihan Karang di Perairan Taiwan

    7cloud.asia – Para pemerhati lingkungan lokal Taiwan menyuarakan keprihatinan mereka terhadap pemutihan karang besar-besaran di perairan selatan dan timur lepas pantai.

    Kondisi ini telah terjadi sejak Juni akibat gelombang panas yang berkepanjangan.

    Sekretaris Jenderal Taiwan Eco-Angel Environmental Conservation Association Elaine Chen mengatakan kepada media lokal bahwa para penyelam telah mendeteksi pemutihan karang.

    Mereka menemukan hal tersebut di perairan lepas pantai Kenting di Taiwan selatan serta di sekitar Pulau Liuqiu Kecil (Little Liuqiu), Pulau Anggrek (Orchid Island), dan Pulau Hijau (Green Island) sejak Juni lalu.

    Baca: Perbaiki terumbu karang, AS hapus hutang Indonesia 35 juta dollar

    Taiwan Loo-Koo Yu Association, sebuah lembaga swadaya masyarakat lainnya di bidang lingkungan hidup, juga melaporkan kejadian pemutihan karang pada Juni dan Juli.

    Ketika suhu air laut melebihi 28 derajat celsius selama dua pekan, alga simbiotis di dalam polip karang mengeluarkan racun yang berbahaya bagi polip karang.

    Akibatnya alga keluar dari karang sehingga polip karang menjadi transparan dan menampakkan kerangka karang yang berwarna putih.

    Fenomena itu secara umum dikenal sebagai coral bleaching atau pemutihan karang.

    Menurut seorang sukarelawan dari Taiwan Loo-Koo Yu Associatio Lee Kun-hsien suhu air laut di sekitar Pulau Liuqiu Kecil biasanya berkisar antara 28 hingga 29 derajat celsius selama musim panas.

    Baca: Meningkatnya keasaman air laut ancam terumbu karang

    Tapi, suhu secara konsisten berada di antara 30 hingga 32 derajat Celsius sejak Juni tahun ini.

    Lee memperingatkan bahwa jika suhu tinggi terus berlanjut pascapemutihan, kemungkinan besar karang-karang itu akan mati.

    Sebelumnya, pemutihan karang besar-besaran di sekitar Taiwan pernah terjadi pada 2020.

    Pemutihan akan mengakibatkan kerusakan jangka pendek pada terumbu karang, tetapi, dengan berjalannya waktu dan lingkungan yang mendukung, sebagian besar terumbu karang yang paling sehat dan stabil akan pulih secara bertahap.

    Karena terumbu karang yang memutih sangatlah rentan, para pemerhati lingkungan menyerukan pembatasan aktivitas manusia di dekat terumbu karang dan peningkatan langkah-langkah pencegahan serta pengendalian pencemaran air laut.

    Baca: Krisis iklim bikin suhu permukaan laut jadi naik

    Menurut Lu Shiau-yun, kepala departemen urusan kelautan kepulauan, sebuah draf yang berisi rencana aksi konservasi karang sedang disusun dan diharapkan akan dirilis tahun ini atau tahun depan.

    Dia mengatakan bahwa departemen tersebut sedang bekerja sama dengan sejumlah lembaga akademis untuk terus memantau masalah itu.

    Sumber: Antaranews

  • Cuaca Hari Ini: Suhu Panas Diperkirakan Capai 37 Derajat Celsius, Masihkah Aman dari Gelombang Panas?

    Cuaca Hari Ini: Suhu Panas Diperkirakan Capai 37 Derajat Celsius, Masihkah Aman dari Gelombang Panas?

    7cloud.asia – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan suhu panas capai 37 derajat celsius di Kota Banda Aceh pada Minggu (21/07/2024).  

    Beberapa kota lainnya juga mengalami suhu panas, tetapi suhu tertinggi hanya mencapai 34 derajat celsius. Seperti Kota Serang, Pontianak, Banjarmasin dan Medan.

    Meski demikian, BMKG memastikan Indonesia aman dari ancaman gelombang panas atau heatwave seperti yang dialami sejumlah negara di kawasan Asia.

    Deputi Meteorologi pada Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Guswanto menjelaskan peningkatan suhu yang dialami sejumlah kota di Indonesia tidak dapat dikategorikan sebagai heatewave.

    Baca: Climate Central sebut Indonesia berpeluang besar mengalami gelombang panas

    “Jika ditinjau secara karakteristik fenomena, maupun secara indikator statistik pengamatan suhu kita tidak termasuk ke dalam kategori heatwave, karena tidak memenuhi persyaratan sebagai gelombang panas,” jelas Guswanto beberapa waktu lalu.

    Selanjutnya Guswanto menerangkan berdasarkan data rekapitulasi meteorologi BMKG selama 24 jam terakhir, memang ada peningkatan suhu di sebagian besar wilayah Indonesia.

    Peningkatan tersebut sekitar lima derajat di atas suhu rata-rata maksimum harian, dan sudah bertahan sekitar lebih dari lima hari.

    Meski terjadi peningkatan suhu,lanjut Guswanto,tetapi kondisinya tidak sama dengan apa yang dialami sejumlah negara Asia lain seperti Myanmar, Thailand, India, Bangladesh, Nepal dan Cina.

    Baca: Gelombang panas landa Jepang, 6 orang tewas

    “Secara karakteristik suhu panas terik harian yang terjadi di wilayah Indonesia merupakan fenomena akibat dari adanya gerak semu matahari,” ungkapnya.

    Menurutnya hal demikian itu merupakan suatu siklus yang biasa dan terjadi setiap tahun, sehingga potensi suhu panas seperti ini juga dapat berulang pada periode yang sama setiap tahunnya.

    BMKG memperkirakan sebagian besar kota di Indonesia cerah dan berawan dengan suhu terendah 19 derajat celsius diperkirakan terjadi di Kota Bandung.

    Namun potensi hujan dengan intensitas ringan masih terjadi dibeberapa kota, yaitu Kota Jayapura, Ambon dan Mamuju hujan terjadi pada pagi hari.

    Baca: Sebanyak 61 orang tewas akibat suhu panas di Thailand

    Siangnya Kota Samarinda, Tanjung Pinang, Ambon, Ternate, Jayapura dan Manokwari diperkirakan hujan dengan intensitas ringan.

    Kemudian malam hari hujan dengan intensitas ringan diperkirakan terjadi di Kota Tarakan dan Manokwari.

    Sementara untuk wilayah Jakarta, BMKG memperkirakan seluruh wilayah diperkirakan cerah berawan dari pagi hingga malam hari.

    Suhu udara berkisar antara 24 hingga 33 derajat celsius dengan tingkat kelembaban udara berkisar antara 55 hingga 85 persen.

     

     

  • Perubahan Iklim Picu Gelombang Panas Akan Makin Sering Terjadi

    Perubahan Iklim Picu Gelombang Panas Akan Makin Sering Terjadi

    7cloud.asia – Perubahan iklim, yang disebabkan oleh emisi gas rumah kaca dari pembakaran bahan bakar fosil, diperkirakan akan membuat gelombang panas lebih lama terjadi. lebih intens, dan lebih sering.

    Selanjutnya, gelombang panas yang makin sering terjadi karena perubahan iklim menimbulkan risiko yang signifikan sebagai salah satu bencana alam yang paling berbahaya.

    Baru-baru ini, cuaca panas menewaskan puluhan orang di negara-negara Asia Tenggara termasuk Thailand dan sebagian Amerika Serikat.

    Sementara di Mekkah, Arab Saudi, lebih dari 1.300 jamaah haji kehilangan nyawa karena cuaca panas ekstrem selama ibadah haji tahunan.

    Dampak gelombang panas terhadap kehidupan manusia dan lingkungan sering kali diremehkan sehingga memerlukan perhatian dan membangun kesadaran yang lebih besar.

    Gelombang panas adalah periode cuaca sangat panas yang berlangsung lama, baik pada siang hari maupun pada malam hari.

    Baca: Gelombang panas landa Timur Tengah, suhu capai 50°C

    Walaupun panas ekstrem mungkin tidak terlihat mencolok seperti badai atau banjir, dampaknya sangat besar dampak ekonomi serta sangat membahayakan kesehatan dan kesejahteraan manusia.

    Dampak gelombang panas, khususnya dirasakan kalangan kelompok masyarakat yang paling rentan, seperti anak-anak dan orang lanjut usia, perempuan, dan mereka yang tinggal di pemukiman informal.

    Stres pada tubuh manusia yang disebabkan oleh gelombang panas menghalangi aktivitas normal sehari-hari dan kemampuan kita untuk mendinginkan tubuh dengan baik. Area yang umumnya memiliki kelembapan lebih tinggi juga dapat membahayakan nyawa.

    Keringat membantu tubuh manusia menjadi dingin, namun kelembapan mengubah cara keringat menguap dari tubuh.

    Ketidakmampuan untuk melakukan pendinginan dapat membahayakan kesehatan seseorang, dan dapat menyebabkan peningkatan komplikasi kardiovaskular dan pernapasan, dehidrasi, sengatan panas, tekanan darah tinggi, dan kurang tidur.

    Baca: Waspadai suhu panas di perkotaan

    Kondisi yang terlalu panas dan lembab bisa berakibat fatal, karena mempengaruhi termoregulasi manusia, yaitu proses yang menjaga suhu internal tubuh tetap stabil – idealnya antara 36,5 hingga 37,5°C ​​– meskipun terjadi perubahan kondisi eksternal

    Batas atas teoritis kemampuan beradaptasi tubuh manusia terhadap panas ekstrem, yang ditetapkan para ilmuwan pada suhu 35°C – dilanggar, keringat tidak akan cukup untuk mendinginkan tubuh.

    Sebuah penelitian yang diterbitkan pada tahun 2021 menunjukkan bahwa sekitar 489.000 kematian terkait panas terjadi secara global setiap tahun antara tahun 2000 dan 2019.

    Di Amerika Serikat, gelombang panas merupakan peristiwa cuaca yang paling mematikan selama tiga dekade terakhir. Di tempat lain di dunia, panas ekstrem juga telah mengakibatkan kematian yang tak terhitung jumlahnya.

    Sebuah penelitian baru-baru ini menunjukkan bahwa di Eropa saja, lebih dari 60.000 orang meninggal karena panas di benua ini – yang merupakan negara dengan pemanasan tercepat di dunia – angka kematian akibat panas telah meningkat sekitar 30 persen dalam dua dekade terakhir.

    Baca: Gelombang panas landa Asia, sekolah diliburkan

    Sementara kematian akibat panas diperkirakan meningkat di 94 persen wilayah Eropa yang dipantau.

    Selain terhadap kesehatan dan kesejahteraan manusia, gelombang panas juga mempunyai dampak yang signifikan terhadap keselamatan publik, infrastruktur, dan lingkungan alam.

    Suhu panas yang ekstrem semakin meningkat di wilayah perkotaan, sehingga memperburuk polusi udara sistem pendingin udara di gedung-gedung dan mobil, yang pada gilirannya menghasilkan emisi dan polusi udara yang lebih tinggi.

    Selain itu, gelombang panas dapat berdampak negatif terhadap kinerja infrastruktur penting dengan mempengaruhi bahan-bahan yang digunakan dalam konstruksinya dapat mempercepat korosi pada logam dan kerusakan material batu bata dan batu.

    Selanjutnya kondisi ini dapat melemahkan struktur baja yang tertanam di dalam eksterior beton suatu bangunan.

    Artikel ini diterjemahkan dari earth.org, penulis: Jolin Li

  • Seperti Ini Emisi Gas Rumah Kaca Memicu Gelombang Panas Ekstrem

    Seperti Ini Emisi Gas Rumah Kaca Memicu Gelombang Panas Ekstrem

    7cloud.asia – Akibat emisi gas rumah kaca, dunia baru saja melampaui ambang batas pemanasan global sebesar 1,5°C selama 12 bulan berturut-turut, dengan bulan Juni menjadi bulan Juni terpanas dalam sejarah – bulan ke-13 berturut-turut yang mencatatkan suhu yang memecahkan rekor.

    Peningkatan panas ekstrem ini merupakan akibat langsung dari emisi gas rumah kaca yang dipicu aktivitas manusia. Emisi gas rumah kaca inilah yang menyebabkan perubahan iklim.

    Ketika emisi gas rumah kaca memerangkap lebih banyak panas di atmosfer, gelombang panas –jenis peristiwa cuaca ekstrem yang paling mematikan– menjadi lebih lama dan lebih panas.

    Studi atribusi yang dilakukan oleh World Weather Attribution (WWA) menemukan bahwa gelombang panas yang melanda India dan Pakistan pada Maret 2022 sangat dipengaruhi oleh perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia

    Ini membuatnya setidaknya 30 kali lebih mungkin terjadi gelombang panas yang melanda Siberia pada tahun 2020, dan 600 kali lebih tinggi akibat perubahan iklim dibandingkan yang terjadi secara alami.

    Baca: Perubahan iklim membuat gelombang panas semakin ekstrem

    Vikki Thompson, ilmuwan iklim di Cabot Institute, Universitas Bristol pernah menjelaskan, perubahan iklim membuat gelombang panas menjadi lebih panas dan bertahan lebih lama di seluruh dunia.

    ”Para ilmuwan telah menunjukkan bahwa banyak gelombang panas tertentu menjadi lebih intens karena sinyal perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia bahkan dapat dideteksi dalam jumlah kematian yang disebabkan oleh gelombang panas,” ujarnya.

    Penjelasan ini sejalan dengan Laporan Penilaian ke-6 dari Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC), yang menyatakan bahwa perubahan iklim telah meningkatkan frekuensi dan intensitas gelombang panas sejak tahun 1950-an.

    Diperkirakan kondisi ini akan terus meningkat seiring dengan pemanasan global yang terus berlanjut dan tidak diimbangi dengan pengurangan emisi gas rumah kaca.

    Baca: Apakah gelombang panas di Eropa dipicu perubahan iklim?

    Penyebab gelombang panas
    Gelombang panas biasanya berasal dari adanya sistem udara bertekanan tinggi yang disebut juga antisiklon.

    Kondisi atmosfer ini menyebabkan udara di atas suatu wilayah menumpuk dan terkompresi, sehingga mengakibatkan peningkatan suhu dan penurunan kadar air, memerangkap panas yang diserap di dalam lanskap.

    Secara bersamaan, sistem bertekanan tinggi menggantikan udara yang lebih dingin dan menyebarkan awan, sehingga sinar matahari tidak terputus mencapai permukaan tanah.

    Akibatnya, udara di dekat permukaan tanah terus-menerus dipanaskan hingga melampaui suhu rata-rata.

    Baca: Gegara panas ekstrem setengah juta penduduk dunia meninggal per tahunnya

    Daerah gelombang panas sangat umum terjadi di daerah kering seperti gurun Barat Daya dan di dataran tinggi, di mana pembentukan sistem tekanan tinggi lebih rentan terjadi.

    Kelembapan di dalam tanah dapat mengurangi dampak panas akibat sinar matahari, seperti halnya keringat mendinginkan tubuh melalui penguapan.

    Namun, ketika tanah, saluran air, dan jumlah vegetasi atau tumbuh-tumbuhan penahan air semakin terbatas, kapasitasnya untuk menyerap panas akan berkurang secara signifikan.

    Kondisi ini akan meninggalkan udara sebagai media utama untuk retensi atau penahan panas sehingga suhu panas berlangsung lebih lama.

    Artikel ini diterjemahkan dari earth.org, penulis: Jolin Li, pelaporan tambahan: Martina Igini.

  • Gelombang Panas Hantam Korea Selatan, Empat Orang Meninggal dan Ratusan Lainnya Dirawat

    Gelombang Panas Hantam Korea Selatan, Empat Orang Meninggal dan Ratusan Lainnya Dirawat

    7cloud.asia – Hampir 400 orang dirawat di rumah sakit Korea Selatan pada pekan lalu menyusul cuaca panas yang melanda negara tersebut, demikian data resmi pemerintah setempat, pada Minggu (4/08/2024).

    Data dari Badan pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korsel, 507 rumah sakit di seluruh negeri melaporkan sebanyak 384 pasien yang menderita penyakit terkait gelombang panas antara Senin hingga Jumat pekan lalu, dengan 114 di antaranya dirawat pada Kamis.

    Empat orang juga dinyatakan meninggal karena penyakit yang terkait gelombang panas tersebut pada periode yang sama.

    Baca: Hampir setengah juta orang meninggal per tahun akibat panas ekstrem

    Salah satu di antaranya meninggal di Seoul dan satu orang lainnya di Busan. Sedangkan dua lainnya pada Jumat, meninggal di bagian tenggara provinsi Gyeongsang.

    Gelombang panas yang hebat melanda Korsel sejak pekan lalu menyusul berakhirnya musim hujan, dengan suhu berkisar di atas 35 derajat Celsius terjadi di sebagian besar wilayah negara itu.

    Bahkan sempat tercatat suhu meningkat menjadi 40 derajat Celsius di Yangsang, kota di bagian barat daya Korsel pada Sabtu.

    Sumber: Yonhap-OANA

  • Gelombang Panas di Prancis Tewaskan 2 Orang dan Lebih dari 300 Orang Dirawat

    Gelombang Panas di Prancis Tewaskan 2 Orang dan Lebih dari 300 Orang Dirawat

    7cloud.asia – Dua orang tewas, dan lebih dari 300 lainnya dirawat di rumah sakit di seluruh Prancis karena penyakit akibat panas, demikian menurut Menteri Transisi Ekologi Agnes Pannier-Runacher pada Rabu (02/07/2025).

    “Lebih dari 300 orang dibawa ke rumah sakit melalui layanan darurat di seluruh Prancis akibat cuaca panas. Dua orang bahkan kehilangan nyawa akibat penyakit karena panas tersebut, ” sebut Pannier-Runacher saat konferensi pers.

    Sebelumnya pada hari yang sama, Menteri Kesehatan Prancis Catherine Vautrin mengatakan jumlah panggilan layanan darurat meningkat drastis setelah suhu mencapai puncaknya pada Selasa (1/7).

    Baca: Gelombang panas landa Filipina, pemerintah liburkan sekolah

    “Kemarin, kami mengamati peningkatan jumlah panggilan layanan darurat untuk bantuan medis di wilayah Ile-de-France sebesar 15 persen, ini peningkatan serius,” kata Vautrin kepada radio RMC.

    Sementara itu, badan meteorologi nasional, Meteo Prancis, menetapkan empat departemen dalam status siaga merah tingkat maksimum.

    Di Paris, tingkat siaga untuk gelombang panas diturunkan ke tingkat oranye—tingkat satu sebelum maksimum—yang juga diberlakukan di 55 departemen, atau dua pertiga wilayah Prancis.

    Baca: Gas rumah kaca memicu gelombang panas ekstrem

    Di wilayah selatan Provence-Alpes-Cote d’Azur, 8.000 rumah tangga tidak mendapatkan listrik setelah infrastruktur bawah tanah yang terlalu panas menyebabkan pemadaman, lapor BFMTV dengan mengutip operator jaringan energi Enedis.

    Jurnal medis Lancet menerbitkan sebuah studi pada 2023 yang mengidentifikasi Paris sebagai ibu kota paling mematikan di Eropa selama gelombang panas, dengan rata-rata 400 kematian terkait panas setiap tahunnya.

    Sumber: Antaranews/Sputnik/RIA Novosti-OANA

  • Gelombang Panas yang Dipicu Perubahan Iklim Sebabkan 2300 Kematian di Eropa

    Gelombang Panas yang Dipicu Perubahan Iklim Sebabkan 2300 Kematian di Eropa

    7cloud.asia – Gelombang panas cukup parah yang melanda Eropa sejak pekan lalu diperkirakan telah menyebabkan sekitar 2.300 kematian, menurut sebuah studi yang dirilis pada Rabu (9/7/2025)

    Sekitar 1.500 dari sekitar 2.300 kematian akibat panas dikaitkan dengan perubahan iklim, yang mengakibatkan gelombang panas yang lebih parah di seluruh benua Eropa.

    Penelitian yang dilakukan oleh para ilmuwan di Imperial College London dan London School of Hygiene and Tropical Medicine tersebut menyatakan perubahan iklim melipatgandakan kematian akibat panas di awal musim panas di seluruh Eropa.

    Para peneliti berfokus pada 10 hari cuaca panas dari 23 Juni hingga 2 Juli dan mencakup 12 kota di Eropa, termasuk London, Paris, Frankfurt, Budapest, Zagreb (Kroasia), Athena, Roma, Milan, Sassari (Italia), Barcelona, Madrid, dan Lisbon.

    Baca: Suhu Bumi semakin panas dan dampaknya semakin nyata

    “Temuan analisis ini dan banyak lainnya sangat jelas: suhu panas ekstrem di seluruh Eropa meningkat dengan cepat akibat perubahan iklim yang disebabkan manusia,” menurut penelitian tersebut.

    Penelitian itu lebih lanjut menggarisbawahi bahwa kota-kota tersebut mengalami peningkatan suhu hingga 4 derajat Celsius.

    Studi tersebut memperingatkan bahwa suhu gelombang panas akan terus meningkat, dan kemungkinan akan meningkatkan jumlah kematian.

    Layanan Perubahan Iklim Copernicus Uni Eropa juga menyatakan dalam buletin iklim bulanan pada Rabu bahwa Juni 2025 merupakan Juni terhangat ketiga secara global.

    Baca: Langkah mitigasi dan adaptasi terhadap pemanasan global 

    “Juni 2025 mencatatkan gelombang panas luar biasa yang berdampak pada sebagian besar Eropa barat, dengan sebagian besar wilayah mengalami tekanan panas yang sangat kuat,” kata Samantha Burgess, pimpinan strategis untuk urusan iklim di Pusat Prakiraan Cuaca Jangka Menengah Eropa.

    “Gelombang panas ini diperparah oleh rekor suhu permukaan laut di Mediterania barat,” imbuhnya.

    Burgess memperingatkan bahwa gelombang panas kemungkinan akan menjadi “lebih sering, lebih intens,” dan berdampak pada lebih banyak orang di seluruh Eropa.

    Sumber: Antaranews.com/Anadolu

  • Mengapa Gelombang Panas Semakin Mematikan?

    Mengapa Gelombang Panas Semakin Mematikan?

    7cloud.asia – Gelombang panas yang mulai melanda Eropa pada akhir Juni dan berlanjut hingga Juli, membawa suhu di atas 40°C di beberapa negara dan memecahkan rekor suhu di Spanyol dan Portugal, dengan suhu tertinggi mencapai 46°C.

    Cuaca yang terik ini mendorong pembatasan jadwal kerja di luar ruangan di Italia, penutupan lebih dari 1.300 sekolah dan beberapa reaktor nuklir di Prancis, serta terjadinya kebakaran hutan di Mediterania.

    Peningkatan suhu panas ekstrem ini disebut sebagai akibat langsung dari pemanasan global, yang didorong oleh gas rumah kaca yang memerangkap panas di atmosfer.

    Hal ini meningkatkan suhu permukaan Bumi, yang menyebabkan gelombang panas yang lebih panjang dan lebih panas di belahan bumi utara.

    Bulan lalu tercatat sebagai bulan Juni terpanas kelima di Eropa, meskipun sebagian besar Eropa barat dan tengah mengalami suhu udara yang lebih hangat dari rata-rata.

    Baca: Gelombang panas memicu ribuan kematian di Eropa

    Menurut Layanan Perubahan Iklim Copernicus Uni Eropa, Eropa Barat secara keseluruhan mencatat Juni terhangat yang pernah tercatat, dengan suhu rata-rata 20,49°C, atau 2,81°C lebih tinggi dari rata-rata periode 1991–2020.

    Kehangatan luar biasa juga terjadi di Laut Mediterania, yang mencapai rekor suhu 27°C pada bulan Juni, 3,7°C lebih tinggi dari rata-rata jangka panjang.

    ‘Pembunuh Senyap’
    Gelombang panas, terutama yang berlangsung lama sangat berbahaya bagi manusia karena mengganggu proses fisiologis yang seharusnya menjaga tubuh tetap dingin.

    Sekitar 1.500 dari sekitar 2.300 kematian akibat panas pada bulan Juli dikaitkan dengan perubahan iklim, yang mengakibatkan gelombang panas yang lebih parah di seluruh benua Eropa.

    Tekanan pada tubuh manusia akibat panas mencegah aktivitas sehari-hari yang normal dan kemampuan tubuh untuk mendinginkan diri dengan baik. Area yang umumnya lebih lembap juga dapat membahayakan nyawa.

    Baca: Suhu Bumi makin panas dan dampaknya semakin nyata

    Keringat membantu tubuh kita mendinginkan diri, tetapi kelembapan mengubah cara keringat menguap dari tubuh.

    Ketidakmampuan untuk mendinginkan diri membahayakan kesehatan manusia, dan dapat menyebabkan peningkatan komplikasi kardiovaskular dan pernapasan, dehidrasi, sengatan panas, tekanan darah tinggi, dan kurang tidur.

    Beberapa kondisi kesehatan ini dapat berakibat fatal jika tidak segera ditangani.

    Meskipun tidak ada yang benar-benar kebal terhadap panas ekstrem, faktor-faktor seperti usia dan kondisi kesehatan, serta variabel paparan termasuk pekerjaan dan keadaan sosial ekonomi, dapat meningkatkan kerentanan seseorang.

    Studi menunjukkan bahwa perempuan – terutama ibu hamil, anak-anak, dan lansia – sangat berisiko mengalami gejala parah terkait udara panas.

    Gelombang panas bulan lalu secara tidak proporsional memengaruhi kategori rentan ini, menurut studi Atribusi Cuaca Dunia, dengan penduduk berusia 65 tahun ke atas mencapai sekitar 88 persen dari kematian berlebih.

    Baca: Mitigasi dan adaptasi terhadap pemanasan global sebesar 2°C

    Gelombang panas membunuh hampir setengah juta orang setiap tahun di seluruh dunia, menjadikannya peristiwa cuaca ekstrem paling mematikan.

    Panas sering disebut sebagai “pembunuh diam-diam”, karena pemantauan akurat kematian terkait panas merupakan tantangan dan banyak negara masih kekurangan sistem pencatatan yang memadai.

    Akibatnya, jumlah kematian terkait panas yang terdokumentasi seringkali jauh lebih rendah daripada jumlah sebenarnya.

    “Meskipun beberapa kematian telah dilaporkan di Spanyol, Prancis, dan Italia, ribuan orang lainnya diperkirakan meninggal akibat suhu yang sangat tinggi dan kematian mereka tidak akan tercatat sebagai kematian terkait panas,” kata Malcolm Mistry, Asisten Profesor di London School of Hygiene & Tropical Medicine dan salah satu penulis studi ini.

    “Kebanyakan orang yang meninggal akibat gelombang panas meninggal di rumah atau di rumah sakit karena tubuh mereka kewalahan dan menyerah pada kondisi kesehatan yang sudah ada sebelumnya,” tambahnya.

    Baca: Dampak pemanasan global pada kehidupan manusia

  • Gelombang Panas Makin Ganas, Tapi Alam Menawarkan Cara Berkelanjutan untuk Menurunkan Suhu Perkotaan

    Gelombang Panas Makin Ganas, Tapi Alam Menawarkan Cara Berkelanjutan untuk Menurunkan Suhu Perkotaan

    7cloud.asia – Seiring dengan perubahan iklim di seluruh dunia, gelombang panas yang memecahkan rekor diperkirakan akan semakin sering terjadi terutama di kota-kota besar di dunia

    Gelombang panas ekstrem sering meninggalkan jejak gangguan perkotaan – dan seringkali mengakibatkan kematian – setelahnya.

    Namun, para ahli mengatakan kota-kota, yang sangat rentan terhadap pemanasan, dapat menangkal beberapa dampak terburuk gelombang panas dengan menanam pohon, memulihkan sumber air, dan memanfaatkan solusi alami lainnya.

    “Alam menawarkan begitu banyak cara berkelanjutan dan hemat biaya untuk menurunkan suhu,” kata Steven Stone, Wakil Direktur Divisi Industri dan Ekonomi Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP).

    Dia menambahkan, banyak kota mulai menyadari cara alami ini, yang merupakan langkah penting dalam beradaptasi dengan perubahan iklim dan panas ekstrem yang akan ditimbulkannya.”

    AC memperparah krisis iklim. Bisakah alam membantu?
    Para ahli iklim telah lama memperingatkan tentang kenaikan suhu global dan peningkatan risiko bagi kesehatan manusia.

    Baca: Mengapa gelombang panas semakin mematikan

    Laporan Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim atau IPCC 2022 menggambarkan gambaran suram tentang pemanasan global yang tidak terkendali: peningkatan gelombang panas, musim hangat yang lebih panjang, dan musim dingin yang lebih pendek.

    Kota-kota, yang dihuni 55 persen umat manusia, bisa menjadi sangat panas. Suhu di kota-kota biasanya 5°C hingga 9°C lebih hangat daripada daerah pedesaan karena bangunan beton dan trotoar menyerap dan memancarkan sinar matahari.

    Konsentrasi manusia, mobil, dan mesin di kota-kota juga mendorong kenaikan suhu. Pada tahun 2050, kecuali umat manusia secara drastis mengurangi emisi gas rumah kaca yang mengubah iklim, hampir 1.000 kota akan mengalami suhu tertinggi

    Diperkirakan, rata-rata suhu di musim panas sebesar 35°C atau hampir tiga kali lipat dari kondisi saat ini.

    Populasi perkotaan yang terpapar suhu tinggi ini juga diperkirakan meningkat hingga 800 persen, mencapai 1,6 miliar pada pertengahan abad ini.

    Panas ekstrem seringkali berakibat fatal. Sebuah studi baru dalam jurnal Nature Medicine menemukan bahwa di Eropa saja, terdapat lebih dari 61.000 kematian terkait panas pada musim panas lalu, banyak di antaranya terjadi di perkotaan.

    Baca: Konsep bangunan hijau sebagai solusi mengatasi panas perkotaan

    “Penyakit dan kematian akibat panas dapat dicegah dengan kesadaran, sumber daya, dan respons yang tepat, yang banyak di antaranya dapat diimplementasikan di skala perkotaan,” kata Eleni Myrivili, Global Chief Heat Officer UN-Habitat

    Ia menambahkan bahwa kota-kota dapat mengurangi risiko panas dengan mengeluarkan peringatan dini akan panas ekstrem dan membuka pusat pendingin, sekaligus “meningkatkan secara radikal” ruang hijau dan alam.

    Data UNEP menunjukkan bahwa menanam pohon di jalan-jalan kota dapat memberikan 77 juta orang pengurangan suhu hingga 1°C di hari-hari panas.

    Pada hari cerah biasa, sebatang pohon dapat mentranspirasikan beberapa ratus liter air, yang setara dengan efek pendinginan dua AC rumah tangga yang menyala selama 24 jam.

    Hutan kota dan taman-taman besar juga memberikan manfaat pendinginan hingga hampir 1 kilometer di luar batasnya dengan mengangkat udara hangat di atas permukaan tanah dan menyebarkan udara dingin.

    Baca: Kota-kota di belahan bumi selatan rentan terhadap panas ekstrem

    Ruang terbuka hijau yang terhubung menciptakan koridor angin yang mengurangi suhu lokal.

    Fakta ini membuktikan bahwa alam menawarkan begitu banyak cara berkelanjutan dan hemat biaya untuk mengurangi suhu.

    Selain itu melestarikan badan air, seperti danau, kanal, kolam maupun lahan basah di wilayah perkotaan, dapat memberikan efek pendinginan yang signifikan.

    Di ibu kota Yunani, Athena – yang terdampak parah oleh kenaikan suhu dan kebakaran hutan di sekitarnya – para pejabat kota menggunakan saluran air dari era Romawi untuk mengairi koridor pendingin hijau

    Otoritas kota Athena membangun koridor hijau sepanjang 24 kilometer yang mengarah ke pusat kota.

    Solusi alami seperti ini sangat penting karena membantu mengurangi suhu tanpa berkontribusi terhadap perubahan iklim.

    Baca: Menghijaukan Jakarta dengan memperbanyak ruang terbuka hijau

  • Gelombang Panas Landa Yunani, Suhu Udara Capai 46 Derajat Celsius

    Gelombang Panas Landa Yunani, Suhu Udara Capai 46 Derajat Celsius

    7cloud.asia – Gelombang panas (heat wave) mulai melanda sejumlah negara di Eropa. Salah satunya Yunani. Bahkan gelombang panas di negara ini mencapai suhu hingga hampir 46 derajat celsius pada Jumat (25/07/2025).

    Melansir AFP, Observatorium Nasional di Athena mencatat pada Jumat lalu suhu terpanas yang tercatat adalah 45,8°C di wilayah Peloponnesos, Messinia.

    Di Athena, suhu tertinggi di beberapa bagian ibu kota adalah 42°C, yang juga tercatat di pelabuhan utama Piraeus.

    Badan Meteorologi Yunani (EMY) menjelaskan gelombang panas ini telah berlangsung sejak Senin lalu dan diprediksi masih akan terus berlangsung hingga lebih dari seminggu.

    Baca: Gelombang panas sebabkan 2300 kematian di Eropa

    Kondisi cuaca seperti ini membuat para pejabat mengubah jam buka Akropolis, situs arkeologi terkemuka di negara itu. Hal ini dilakukan demi keselamatan pengunjung dan staf.

    Monumen tersebut ditutup dari tengah hari hingga pukul 17.00, waktu terpanas dalam sehari-sesuai dengan aturan keselamatan yang berlaku.

    Gelombang panas yang menerjang Yunani ini juga meningkatkan resiko kebakaran. Apalagi adanya peningkatan angin dari arah utara yang dapat memicu bencana tersebut.

    Baca: Gelombang panas semakin mematikan, ini penyebabnya

    Sebelumnya, pada awal pekan ini kebakaran hutan telah menghancurkan lebih dari 2.800 hektar hutan dan padang rumput di dekat desa pegunungan Feneos di Peloponnesos.

    Observatorium Nasional mengungkap kebakaran tersebut dipicu oleh dua pekerja yang menggunakan peralatan las di dekat hutan. Lebih dari separuh area yang terdampak adalah hutan pinus yang tidak dapat beregenerasi.

    Pada hari Jumat, kebakaran yang terjadi di dekat kota Kilkis di Yunani utara memaksa evakuasi sebuah universitas, rumah, dan bisnis, kata dinas pemadam kebakaran.

    Baca: Gelombang panas di Prancis tewaskan 2 orang

    Suhu tertinggi 44°C diperkirakan terjadi di Yunani pada hari Sabtu, dengan suhu maksimum 42°C diperkirakan terjadi di Athena.

    Di negara tetangga Albania, terdapat 10 kebakaran aktif, termasuk satu di Delvina, dekat perbatasan dengan Yunani.

    Kebakaran lain di Kakavia, dekat perbatasan dengan Yunani, berhasil dikendalikan pada hari Kamis (24/07/2025).

    (AFP/detik.com)