Tag: gelombang panas

  • Cuaca Panas di Indonesia Bukan Gelombang Panas! Sampai Kapan Akan Berlangsung?

    Cuaca Panas di Indonesia Bukan Gelombang Panas! Sampai Kapan Akan Berlangsung?

    Ilustrasi gelombang panas/heatwave Foto: Pixabay

    7cloud.asia – Cuaca panas ekstrem menyergap sejumlah negara di Benua Asia, dari Bangladesh hingga Thailand selama April 2023 dan masih berlanjut hingga kini. Tak tanggung-tanggung, suhu rata-rata harian lebih dari 40 derajat Celcius melanda 16 negara di Asia selama lebih dari seminggu sehingga disebut dengan gelombang panas (heatwave).

    Untuk disebut heatwave atau gelombang panas, cuaca panas di atas daratan harus memenuhi tiga kriteria: (1) suhu rata-rata harian melebihi 40 C; (2) terjadi selama minimal tiga hari berturut-turut; (3) terjadi pada wilayah yang luas dengan area mencakup ribuan bahkan ratusan ribu kilometer persegi.

    Berdasarkan tiga kriteria tersebut, gelombang panas atau heatwave umumnya terjadi di daratan yang luas seperti benua dengan atmosfer stabil. Di area ini, cuaca panas ekstrem dapat terjadi berhari-hari bahkan berbulan-bulan.

    Itu sebabnya mengapa gelombang panas sulit terjadi di Indonesia. Sebab, sebagian besar wilayah Indonesia adalah lautan. Iklim dan cuacanya juga lebih banyak dikontrol oleh parameter angin dan curah hujan.

     

    Sekalipun terjadi, gelombang panas kemungkinan akan melanda wilayah yang berdekatan dengan semenanjung Malaysia dan Selat Malaka seperti Aceh, Sumatra Utara, Riau, ataupun Kepulauan Riau.

    Penelitian saya dan tim yang masih dalam proses reviu menemukan Indonesia lebih berisiko mengalami serbuan panas atau hot spells. Fenomena ini dianggap terjadi jika suhu rata-rata harian melebihi 27,8 derajat Celcius dan terjadi berturut-turut minimal tiga hari.

    Meski tak separah gelombang panas, hot spells tetap berisiko bagi Indonesia karena bisa meningkatkan risiko perburukan kualitas udara, kasus penyakit menular ataupun tidak menular, serta kebakaran hutan dan lahan.

    Distribusi hot spells di Indonesia

    Indonesia harus bersiap. Frekuensi terjadinya cuaca panas berkaitan erat dengan perubahan iklim global sehingga fenomena hot spells berisiko lebih sering terjadi.

    Sebaran hot spells di Indonesia. Author providedAuthor provided (no reuse)

    Berdasarkan data selama dekade terakhir (2012–2022), penelitian saya mencatat hot spells di Indonesia dapat terjadi pada setiap bulan kecuali Desember-Januari-Februari atau pada saat musim hujan (lihat gambar).

    Hal ini terjadi karena selama musim hujan perubahan cuaca lebih dominan dipengaruhi oleh angin monsun barat dan peningkatan aktivitas konvektif (terkait awan).

    Selama Maret-April-Mei (lihat gambar b), hot spells tampak lebih banyak terjadi di Sumatra khususnya pesisir timur yang berhadapan dengan Selat Malaka (Medan, Pekanbaru) dan Laut Cina Selatan (Tanjung Pinang, Bangka). Serbuan panas juga bisa melanda Sumatra bagian selatan seperti Jambi, Palembang, pesisir timur Lampung.

    Selain Sumatra, wilayah lain yang mengalami hot spells di Indonesia adalah Kalimantan bagian selatan (Palangkaraya, Banjarmasin). Sementara itu, di pulau Jawa, pesisir utara Jawa bagian barat, Jawa Timur, dan Madura biasa mengalami hot spells.

    Pada Juni-Juli Agustus (lihat gambar c), hot spells hanya terjadi di Sumatra dengan wilayah yang lebih meluas di Sumatra bagian selatan (Palembang dan Jambi) dibandingkan bulan Maret, April, dan Mei. Pada September-Oktober-November, hot spells juga masih terjadi di Sumatera bagian selatan juga di Jawa bagian timur serta sebagian Kalimantan Selatan.


    Baca juga: Pakar Menjawab: kenali ‘heat islands’, pemicu panas menyengat di Ciputat dan kawasan urban lainnya


    Hasil awal dari studi saya juga menunjukkan gelombang panas di Asia dapat memicu hot spells di Indonesia sejak Maret hingga Mei. Panas ekstrem dari daratan Thailand dapat menjalar ke laut Cina Selatan dan terputus di area sekitar ekuator. Walau begitu, pemanasan suhu udara di atas Laut Jawa dapat terbentuk kembali bahkan meluas ke daratan–ke wilayah pesisir atau dataran rendah di bagian utara Jawa.

    Berdasarkan data tersebut dapat disimpulkan bahwa wilayah terdampak yang paling rentan dengan hot spells adalah Sumatra bagian selatan. Kawasan ini dilanda serbuan panas sejak bulan Maret hingga November. Sementara itu, untuk Pulau Jawa, wilayah paling rentan adalah pesisir utara Jawa Timur dan Madura.

    Proyeksi perubahan iklim hingga 2050 yang dilakukan oleh rekan peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional, Amalia Nurlatifah, bersama tim yang juga masih dalam proses reviu menunjukkan pulau Jawa, khususnya Jawa Timur, mengalami peningkatan suhu maksimum yang merata. Potensi terjadinya hot spells di Indonesia yang perlu diwaspadai di Jawa adalah Jawa Timur termasuk Madura.

    Seiring dengan laju kenaikan suhu global yang diprediksi terus meningkat hingga 1,5 C pada 2035, maka hot spells di Indonesia juga berpotensi semakin intens dan meluas.

    Rekomendasi mitigasi hot spells

    Indonesia perlu melakukan sejumlah langkah strategis maupun taktis untuk meredam dampak apabila hot spells meningkat ataupun meluas.

    Pemerintah harus mencegah agar situasi di Indonesia tak seperti India saat dilanda gelombang panas April lalu. Pada waktu tersebut, India biasanya sedang memasuki musim hujan seiring dengan penguatan angin monsun yang berembus dari Teluk Benggala menuju ke daratan India. Situasi terburuk gelombang panas India juga tidak termuat pemodelan iklim oleh ilmuwan setempat.

    Ketidaksiapan tersebut membuat heatwave India menewaskan 13 orang karena serangan panas atau heatstroke serta 50 orang dirawat di rumah sakit.

    Karena itulah, Pemerintah Indonesia juga perlu membuat skenario terburuk serangan panas hingga 2035 berdasarkan indikasi peningkatan suhu global 1,5 C. Pemerintah bisa memprioritaskan mitigasi di wilayah-wilayah rentan ini: Sumatra bagian utara dan selatan, Kalimantan bagian tengah dan selatan, serta Jatim.

    Langkah strategis yang perlu dilakukan pertama kali adalah, pemetaan proyeksi hot spells juga heatwave hingga 2050 di wilayah Indonesia dan ASEAN. Selanjutnya, pemerintah dapat mengevaluasi efektivitas Indonesia dalam menekan emisi karbon untuk meredam perubahan iklim.


    Baca juga: Presiden Jokowi sahkan target iklim baru yang lebih ambisius, apa saja perubahannya?


    Melalui Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN di Labuan Bajo pada 9–11 Mei 2023 mendatang, Indonesia dapat berinisiatif memimpin negara-negara di ASEAN untuk merumuskan berbagai regulasi regional. Regulasi menjadi komitmen bersama dalam menghambat laju kenaikan suhu di Asia Tenggara sekaligus melindungi negara-negara ASEAN dari potensi gelombang panas / heatwave ataupun hot spells yang kian intens.

    Pemerintah juga harus meningkatkan koordinasi pusat-daerah dalam merealisasikan kebijakan yang mendukung mitigasi perubahan iklim khususnya untuk daerah-daerah yang rentan terhadap hot spells.

    Masyarakat pun perlu mempersiapkan diri secara psikologis dalam menghadapi tahun-tahun mendatang yang lebih panas pada Maret-Mei maupun September–November untuk pulau Jawa, serta Maret hingga November untuk Sumatra dan Kalimantan.

    Perlu disadari bahwa tubuh tidak bisa tahan terhadap paparan hot spells. Karena itu, kita harus menjaga tubuh tetap terhidrasi dengan baik dan melindungi kulit dari paparan radiasi ultraviolet, serta mengurangi aktivitas di luar ruangan yang terlalu lama.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, baca artikel asli di sini

  • Gelombang Panas di India Tewaskan 98 Orang

    Gelombang Panas di India Tewaskan 98 Orang

    Saat sebagian wilayah India menyaksikan gelombang panas parah dalam beberapa hari dengan suhu melewati 40 derajat Celsius di banyak tempat.
     
    Jika dirinci korban meninggal akibat gelombang panas di India ini adalah sebagai berikut, 54 orang meninggal di utara Uttar Pradesh dan 44 di Bihar timur.
    Baca: Cuaca panas di Indonesia bukan gelombang panas

    Seluruh 54 orang yang meninggal di Uttar Pradesh dilaporkan berasal dari satu distrik Ballia, di mana setidaknya 400 orang dibawa ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan perawatan.
     

    Pengawas Medis SK Yadav, mengkonfirmasi korban meninggal, serta mengatakan satu tim dari ibukota negara bagian Uttar Pradesh, Lucknow akan tiba untuk menyelidiki permasalahan tersebut

    “Mereka akan melihat apakah penyakit lain yang menyebabkan kematian ini. Sebagian besar para pasien memiliki penyakit penyerta seperti hipertensi dan diabetes,” kata Yadav kepada Anadolu.

    Baca : Negara miskin paling merasakan dampak perubahan iklim
     
    Gelombang panas di Distrik Ballia mencatat suhu maksimum mencapai 43 derajat Celsius pada Sabtu. Sementara itu 44 orang lainnya meninggal di negara bagian timur, Bihar akibat kondisi cuaca panas.
     

    Dari 44 yang meninggal akibat gelombang panas, 35 meninggal di kota Patna, menurut keterangan media India Today. Sembilan orang meninggal dari distrik lain di negara bagian yang sama.

    Patna, ibukota Bihar, mencatat suhu maksimum mencapai 44,7 derajat Celsius pada Jumat. Suhu di 11 distrik lainnya melewati 44 derajat Celsius.
     
    Baca: Negara paling terdampak perubahan iklim berhak dapatkan loss and damage fund

    Departemen Meteorologi India (IMD) meramalkan gelombang panas di banyak negara bagian India dan mengeluarkan tanda bahaya bagi Bihar. 

     
    Banyak negara bagian yang memperpanjang liburan musim panas akibat panas terik.

    Tahun lalu, sebuah penelitian yang diterbitkan oleh jurnal medis The Lancet mengatakan bahwa kematian akibat panas di India meningkat 55% antara 2000-2004 dan 2017-2021.

    Sumber: Anadolu

  • Gelombang Panas Mengakibatkan Ratusan Orang Meninggal, PBB Ingatkan 2023-2027 Jadi Periode Terhangat

    Gelombang Panas Mengakibatkan Ratusan Orang Meninggal, PBB Ingatkan 2023-2027 Jadi Periode Terhangat

    7cloud.asia – gelombang panas hebat dengan suhu mencapai 49 derajat celcius yang melanda India, Meksiko, hingga Amerika Serikat (AS).  Gelombang panas itu menewaskan ratusan orang dari tiga negara tersebut.

    Sementara itu, gelombang panas juga mengakibatkan kebakaran hutan terburuk dalam sejarah Kanada.

    Fenomena gelombang panas ini menurut para ilmuwan diperparah oleh perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia.

    Pada Mei lalu, Perserikatan Bangsa-Bangsa memperingatkan bahwa 2023-2027 akan menjadi periode lima tahun terhangat yang pernah tercatat, sebab gas rumah kaca dan El Nino bergabung dan membuat suhu bumi melonjak dan memicu gelombang panas.

    Baca: Emisi gas ruang kaca capai rekor tertinggi

    Para ilmuwan mengatakan pemanasan global memperburuk cuaca di Meksiko. Hal ini, katanya, banyak negara mengalami rekor suhu tinggi dan mengalami gelombang panas

    Kementerian Kesehatan Meksiko pada Rabu (28/6/2023) menyebut, ada lebih dari 1.000 keadaan darurat terkait panas dilaporkan di Meksiko antara 12 hingga 25 Juni, di mana 104 di antaranya mengakibatkan kematian.

    Pihak berwenang melaporkan delapan kematian antara 14 April hingga 31 Mei. Sehingga total kematian hingga saat ini menjadi 112.

    Kementerian Kesehatan menyebut penyebab utamanya adalah heat stroke, kemudian diikuti oleh dehidrasi yang dipicu gelombang panas.

    Baca: Fenomena El Nino memuncak pada bulan Juni-Juli

    Wilayah utara Meksiko melaporkan kematian terbanyak, dengan 64 kematian tercatat di negara bagian timur laut Nuevo Leon dan 19 di negara tetangga Tamaulipas, berbatasan dengan negara bagian Texas, AS, yang juga dilanda panas ekstrem.

    Otoritas Meksiko menyebut, suhu maksimum rata-rata di Meksiko selama musim panas berfluktuasi antara 30 dan 45 derajat Celcius.

    Pihak berwenang memperingatkan bahwa gelombang panas lain dapat mempengaruhi mulai 1 Juli.

    Baca: Gelombang panas tewaskan 96 orang di India

    Di Amerika Serikat, dilaporkan setidaknya 13 orang tewas akibat gelombang panas ekstrem yang melanda negara itu dalam dua minggu terakhir. Korban tewas tertinggi, 11 orang, tercatat di Webb County, Texas, dekat perbatasan Meksiko.

    Dalam beberapa hari terakhir, suhu di beberapa kota di AS bagian selatan terasa seperti 113 derajat Fahrenheit, dengan trotoar retak di Houston, Texas.

    Otoritas setempat  telah mendirikan pusat-pusat pendinginan di kota berpenduduk 2,3 juta jiwa tersebut untuk mencegah damak lanjutan dari gelombang panas ini.

    Sementara itu, Kanada terus memerangi musim kebakaran hutan terburuk dalam sejarahnya, sebuah fenomena yang menurut para ilmuwan diperparah oleh perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia.

    Baca: Cuaca panas di Indonesia apakah bisa disebut gelombang panas

    Di India, gelombang panas menewaskan setidaknya 96 orang akibat terik matahari yang tak tertahankan itu.

    Ada dua daerah yang paling parah merasakan dampak gelombang panas, yaitu Uttar Pradesh dan Bihar, yang memiliki penduduk yang padat. Daerah padat penduduk dengan udara yang terik, pengap, dan kering membuat kondisi semakin parah!

    Otoritas Uttar Pradesh dan Bihar memperingatkan warga berusia 60 tahun ke atas dan orang-orang yang menderita berbagai penyakit untuk tetap berada di dalam rumah pada siang hari.

    Distrik Ballia di Uttar Pradesh kena dampak gelombang panas paling parah. Lebih dari setengah jumlah korban tewas berasal dari Ballia.

    Baca: Jokowi sebut perlu langkah nyata atasi perubahan iklim

  • Gelombang Panas di Eropa, Apakah Dipicu Perubahan Iklim?

    Gelombang Panas di Eropa, Apakah Dipicu Perubahan Iklim?

     

    Foto satelit suhu permukaan sepanjang Eropa pada 10 Juli lalu. ESA/Copernicus Sentinel data (2023)CC BY-NC-SA

    7cloud.asia – Gelombang panas menerjang Eropa. Di Italia, misalnya, panas terik akan mencapai 40℃ hingga 45℃. Panas juga berpeluang melampaui temperatur 48.8℃, temperatur tertinggi yang tercatat di Sisilia pada 2021.

    Gelombang panas yang ditandai dengan suhu panas membara juga menyebar ke negara-negara lain di Eropa selatan dan timur, termasuk Prancis, Spanyol, Polandia, dan Yunani.

    Gelombang panas ini mempersulit rencana perjalanan orang-orang menuju tujuan liburan populer di seluruh wilayah Eropa

    Gelombang panas atau cuaca panas di suatu lokasi selama periode tertentu bisa sangat berbahaya. Fenomena merusak ini sudah beberapa kali terjadi di Eropa.

    Baca: PBB ingatkan tahun 2023 hingga 2027 bakal jadi periode terpanas

    Pada 2009, gelombang panas menyapu seluruh Eropa, menyebabkan kematian hingga 70 ribu orang. Tahun lalu, gelombang panas terjadi lagi dan menyebabkan hampir 62 ribu korban jiwa.

     

    Adapun gelombang panas kali ini disebabkan oleh fenomena cuaca antisiklon Cerberus–makhluk dari mitologi Yunani berupa monster anjing berkepala yang menjaga dunia bawah.

    Antisiklon, atau sistem bertekanan tinggi, adalah fenomena cuaca yang mengisap air dari bagian atas atmosfer sehingga menyebabkan masa kemarau dan cuaca yang tenang (formasi awan sedikit dan minim angin).

    Gerakan sistem bertekanan tinggi cenderung lambat, berlangsung hingga berhari-hari hingga sepekan. Di area yang luas, sistem ini bisa menjadi semipermanen.

    Baca: Gelombang panas di India tewaskan hampir seratus orang

    Ketika terbentuk di sekitar daratan yang panas seperti di gurun Sahara, sistem bertekanan tinggi kian memanaskan udara hangat sehingga temperatur jauh lebih meningkat lagi.

    Fenomena antisiklon dapat berakhir ataupun mereda sehingga gelombang panas dapat berlalu. Menurut Italian Meteorological Society, gelombang panas Cerberus dapat berlangsung hingga dua pekan.

    Pertanyaan muncul, apakah perubahan iklim berperan? Beberapa tahun belakangan, sistem bertekanan tinggi seperti yang melanda Eropa cenderung bergerak ke kawasan utara.

    Cukup sulit untuk menerka suatu fenomena seperti gelombang panas terkait langsung dengan perubahan iklim.

    Baca: Riset mengungkap emisi karbon catat rekor tertinggi

    Walau begitu, saat suhu terus menghangat, kita terus melihat perubahan pola sirkulasi atmosfer yang dapat meningkatkan jumlah kejadian temperatur ekstrem dan kekeringan di Eropa.

    Laporan Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) mengonfirmasi tren ini. Data mereka menunjukkan peningkatan frekuensi dan tingginya intensitas cuaca ekstrem sejak dekade 1950-an.

    Analisis terpisah turut menemukan peningkatan keparahan gelombang panas Eropa sejak dua dekade belakangan.

    Pada musim panas 2022, kawasan Eropa selatan dilanda suhu tinggi dari biasanya. Spanyol, Perancis, dan Italia mengalami temperatur maksimum harian melebihi 40°C. Lembaga Copernicus Climate Change Service Eropa mengaitkan kondisi panas tak biasa ini  dengan perubahan iklim.

    Prediksinya, fenomena panas menyengat akan menjadi lebih sering, intens, dan berlangsung lama di masa depan. Taksiran ini mengindikasikan bahwa tren serupa bakal terjadi tahun ini.

    Baca: Peran padang lamun untuk atasi kenaikan suhu bumi

    Bahaya panas ekstrem

    Gelombang panas dan suhu ekstrem menyebabkan berbagai masalah kesehatan seperti serangan panas (heatstroke) dengan gejala sakit kepala dan pusing. Dehidrasi akibat cuaca panas juga berdampak pada pernapasan dan aktivitas jantung.

    Sudah ada sejumlah kasus gangguan kesehatan terkait panas di Eropa akibat gelombang panas kali ini. Misalnya, tewasnya seorang pekerja jalanan di Italia dan berbagai laporan tentang serangan panas di Spanyol maupun Italia.

    Menteri Kesehatan Italia telah mengimbau warga dan pengunjung di daerah terdampak untuk berjaga-jaga, misalnya menghindari sengatan matahari langsung selama jam-jam kala hari panas. Ada juga saran untuk tetap terhidrasi dan menghindari konsumsi alkohol.

    Walau begitu, gelombang panas tak hanya berdampak bagi kesehatan. Ada juga imbas sosial dan ekonominya. Panas ekstrem dapat merusak permukaan jalanan dan menyebabkan rel kereta melengkung.

    Gelombang panas juga mengurangi pasokan air sehingga mengganggu produksi listrik, pengairan tanaman, dan air minum.

    Baca: Fenomena El Nino mendekati puncak, warga diminta antisipasi kekeringan

    Pada 2022, panas menyengat di Perancis menyebabkan pembangkit listrik negara nuklir tak bisa beroperasi secara penuh karena temperatur sungai dan rendahnya muka air mengganggu proses pendinginan.

    Sebuah penelitian menyatakan panas ekstrem memperlambat pertumbuhan ekonomi di Eropa sebesar 0.5% pada satu dekade silam.

    Saat suhu terus meningkat, gelombang panas akan semakin parah. Karena itu, penting bagi pemerintah di seluruh dunia untuk bertindak cepat dan tegas untuk segera mengurangi emisi gas rumah kaca.

    Patut dicatat bahwa sekalipun kita berhasil meredam laju emisi gas rumah kaca hari ini, iklim bumi akan terus menghangat. Pasalnya, laut sudah terlanjur menyerap dan menyimpan panas.

    Walaupun laju pemanasan global melambat, dampak perubahan iklim di masa depan akan terus kita alami.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation dalam bahasa Inggris

  • Gelombang Panas Terjang Wilayah Asia, Bagaimana di Indonesia?

    Gelombang Panas Terjang Wilayah Asia, Bagaimana di Indonesia?

    7cloud.asia – Gelombang panas atau heatwave melanda sejumlah negara di Asia Tenggara dan Selatan. Suhu udara hampir mencapai 45 derat celsius. Namun, wilayah Indonesia dipastikan tidak akan mengalaminya.

    Penegasan ini disampaikan oleh Deputi Meteorologi pada Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Guswanto.

    “Jika ditinjau secara karakteristik fenomena, maupun secara indikator statistik pengamatan suhu kita tidak termasuk ke dalam kategori heatwave, karena tidak memenuhi persyaratan sebagai gelombang panas,” jelas Guswanto seperti yang dilansir Antaranews.

    Selanjutnya Guswanto menerangkan berdasarkan data rekapitulasi meteorologi BMKG selama 24 jam terakhir, memang ada peningkatan suhu di sebagian besar wilayah Indonesia.

    Peningkatan tersebut sekitar lima derajat di atas suhu rata-rata maksimum harian, dan sudah bertahan sekitar lebih dari lima hari.

    Baca: Cuaca panas ekstrem landa Asia, 30 orang tewas

    Peningkatan suhu tersebut teramati melanda mulai dari Jayapura, Papua (35,6 celcius), Surabaya, Jawa Timur (35,4 celcius), Palangka Raya, Kalimantan Tengah (35,3 celcius), Pekanbaru- Melawi, Kalimantan Barat- Sabang, Aceh dan DKI Jakarta (34,4 celcius).

    Meski terjadi peningkatan suhu,lanjut Guswanto,tetapi kondisinya tidak sama dengan apa yang dialami sejumlah negara Asia lain seperti Myanmar, Thailand, India, Bangladesh, Nepal dan Cina.

    “Secara karakteristik suhu panas terik harian yang terjadi di wilayah Indonesia merupakan fenomena akibat dari adanya gerak semu matahari,” ungkapnya.

    BMKG menilai hal demikian itu merupakan suatu siklus yang biasa dan terjadi setiap tahun, sehingga potensi suhu panas seperti ini juga dapat berulang pada periode yang sama setiap tahunnya.

    Pihaknya merekomendasikan untuk meminimalkan waktu di bawah paparan matahari antara pukul 10.00 WIB – 16.00 WIB dan direkomendasikan mengoleskan cairan pelembab tabir surya SPF 30 + setiap dua jam untuk melindungi kulit.

    Baca: Sejumlah sekolah tutup sebagai imbas gelombang panas

    Seperti yang diwartakan sebelumnya, cuaca panas ekstrem kembali menerjang sejumlah negara di Asia Selatan dan Tenggara. Bahkan 30 orang meninggal akibat suhu udara hampir mencapai 50 derajat celsius.

    Sejak 1 Januari hingga 17 April, sengatan panas atau heatstroke di Thailand telah menewaskan 30 orang. Jika dibandingkan dengan tahun 2023, jumlah orang yang meninggal ini tergolong tinggi.

    Melansir AFP pada Kamis (25/4/2024), otoritas kota Bangkok mengeluarkan peringatan panas ekstrem untuk wilayah ibu kota setelah indeks panas wilayah itu diperkirakan akan meningkat di atas 52 derajat celsius.

    Suhu udara di Bangkok dilaporkan mencapai 40,1 derajat Celsius pada Rabu (24/4) waktu setempat, dan level serupa diperkirakan akan tercatat pada Kamis (25/4) waktu setempat.

    Departemen lingkungan hidup ibu kota Thailand menyatakan indeks panas kota Bangkok berada pada level “sangat berbahaya”.

    Baca: Panas ekstrem berlanjut hingga 2024

    Sementara itu, otoritas di Provinsi Udon Thani, area pedesaan di timur laut Thailand, juga memperingatkan suhu sangat panas pada Kamis (25/4) waktu setempat.

    Sementara itu di Filipina, pemerintah setempat meliburkan sekolah-sekolah akibat adanya cuaca panas dengan suhu yang mencapai 47 derajat celsius. 

    Departemen Pendidikan Filipina, yang mengawasi lebih dari 47.600 sekolah, mengatakan hampir 6.700 sekolah menangguhkan kelas tatap muka pada hari Rabu.

    “Ada juga kemungkinan 50 persen peningkatan suhu panas dalam beberapa hari mendatang,” ujar Ana Solis, kepala ahli klimatologi di lembaga peramal cuaca negara bagian, kepada AFP.

    Sementara itu di Bangladesh, ribuan orang di ibu kota Dhaka melakukan doa meminta hujan, karena udara panas yang ekstrem memaksa pemerintah menutup seluruh sekolah.

    Biro cuaca Banglades mengatakan, rata-rata temperatur maksimum di Dhaka dalam beberapa pekan terakhir naik 4-5 derajat celcius, dibandingkan rata-rata temperatur 30 tahun terakhir.

    Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) PBB mengatakan suhu global mencapai rekor tertinggi pada tahun lalu.

    Baca: Meski hujan, suhu panas hingga 35 derajat celsius

    WMO mencatat wilayah Asia mengalami pemanasan dengan sangat cepat, dan dampak gelombang panas di wilayah tersebut menjadi lebih parah.

    Laporan State of the Climate in Asia 2023 dari WMO menemukan bahwa Asia mengalami pemanasan lebih cepat dibandingkan rata-rata global, dengan suhu tahun lalu hampir 2 derajat Celcius di atas rata-rata pada tahun 1961 hingga 1990.

    “Banyak negara di kawasan ini mengalami rekor tahun terpanas pada 2023, bersamaan dengan serangkaian kondisi ekstrem, mulai dari kekeringan dan gelombang panas hingga banjir dan badai,” kata Ketua WMO Celeste Saulo, yang menggambarkan laporan tersebut sebagai hal yang serius.

    “Panas ekstrem semakin menjadi pembunuh diam-diam yang terbesar,” beber Wakil Sekretaris Jenderal WMO Ko Barrett.

    Laporan tersebut menyoroti percepatan indikator-indikator utama perubahan iklim seperti suhu permukaan, penyusutan gletser, dan kenaikan permukaan laut.

    Hal-hal tersebut akan berdampak serius bagi masyarakat, perekonomian, dan ekosistem di wilayah tersebut.

    Reporter: Nurakhmayani

     

     

  • Penjelasan Mengapa Indonesia Terhindar dari Fenomena Gelombang Panas yang Melanda Asia

    Penjelasan Mengapa Indonesia Terhindar dari Fenomena Gelombang Panas yang Melanda Asia

    7cloud.asia – Peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN Eddy Hermawan memastikan fenomena gelombang panas yang saat ini melanda kawasan Asia Selatan, Asia Tengah, dan sebagian Asia Tenggara tidak menciptakan efek serupa bagi Indonesia.

    “Secara geografis, Indonesia aman dari fenomena gelombang panas,” ujarnya saat dilansir Antaranews.com, Kamis (2/5/2024).

    Eddy menjelaskan negara-negara yang saat ini mengalami gelombang panas mayoritas daratan dan masuk di belahan bumi utara, seperti India dan Vietnam.

    Gelombang panas bagi negara-negara tersebut adalah fenomena yang lumrah terjadi ketika matahari bergerak ke arah utara.

    Baca: BMKG sebut Indonesia tidak terdampak gelombang panas Asia, termasuk Sumut

    Sedangkan, Indonesia sebagian besar berupa laut dan secara astronomis terletak pada posisi 6 derajat lintang utara dan 11 derajat lintang selatan.

    Posisi ini membuat wilayah Indonesia dominan berada di wilayah belahan selatan Bumi.

    Sifat laut yang lambat menerima panas dan lambat mengeluarkan panas berfungsi melindungi Indonesia dari efek gelombang panas yang saat ini melanda negara-negara Asia di belahan bumi utara.

    “Sekarang matahari sedang meninggalkan ekuator menuju belahan bumi utara. Wilayah Gujarat dan Haiderabat di India itu tandus dan tidak ada air, sehingga daratannya menjadi sasaran panas matahari,” kata Eddy.

    Lebih lanjut dia menerangkan sifat daratan cepat menerima panas dan cepat melepaskan panas.

    Baca: Gelombang panas landa Asia Selatan, 30 orang tewas

    Jadi, ketika posisi matahari berada di utara, maka penyerapan panas matahari menjadi lebih optimal.

    Distribusi panas ke seluruh dunia sama karena bersumber dari matahari, hanya saja responnya tidak sama terutama bagi negara dominan laut dan negara dominan darat.

    Secara historis, kata Eddy, Indonesia tidak pernah tercatat mengalami fenomena gelombang panas.

    Walau ada kawasan yang mengalami suhu 40 sampai 42 derajat Celcius, tetapi itu hanya bersifat sementara dan tidak permanen.

    “Apakah gelombang panas membahayakan? Iya pasti berbahaya bagi negara daratan, tetapi itu tidak berbahaya untuk Indonesia,” pungkasnya.

    Baca: Cuaca panas di Indonesia bukan gelombang panas

     

  • Gelombang Panas Melanda Thailand, 61 Orang Tewas

    Gelombang Panas Melanda Thailand, 61 Orang Tewas

    7cloud.asia – Gelombang panas melanda sejumlah negara Asia, diantaranya Thailand. Bahkan 61 orang dilaporkan tewas akibat gelombang panas sejak Januari lalu. Jumlah ini naik dua kali lipat dibandingkan tahun lalu, 2023.

    Laporan Kementerian Kesehatan setempat, cuaca terik tercatat hampir di seluruh wilayah negeri Gajah Putih tersebut. Setiap hari pihak berwenang mengeluarkan peringatan cuaca panas.

    Namun jumlah korban tewas tetap tak terhindarkan, bahkan jika dibandingkan tahun lalu 37 orang, jumlah ini naik dua kali lipat akibat heatstroke (sengatan panas pada tubuh).

    “Bagian timur laut Thailand, jantung pertanian mengalami jumlah kematian tertinggi,” kata kementerian kesehatan seperti yang dilansir Channel News Asia, Sabtu (11/5/2024).

    Di tahun 2024 ini Thailand juga telah mencatat rekor gelombang panas hingga mencapai lonjakan suhu di atas 52 derajat celcius.

    Baca: 30 orang tewas akibat gelombang panas

    Gelombang panas selama beberapa pekan terakhir menyebabkan suhu di malam hari bahkan tetap berada di sekitar 30 derajat celcius, pada Bangkok maupun banyak wilayah lain di negara tersebut.

    Sementara itu, Wakil Departemen Pengendalian Penyakit Thailand, Apichart Vachiraphan memperingatkan orang-orang dengan kondisi medis atau memiliki penyakit penyerta lebih baik menunda aktivitas atau kegiatan di luar ruang.

    Meski gelombang panas melanda sejumlah negara di Asia, namun Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) PBB mengatakan suhu global mencapai rekor tertinggi pada tahun lalu.

    WMO mencatat wilayah Asia mengalami pemanasan dengan sangat cepat, dan dampak gelombang panas di wilayah tersebut menjadi lebih parah.

    Laporan State of the Climate in Asia 2023 dari WMO menemukan bahwa Asia mengalami pemanasan lebih cepat dibandingkan rata-rata global, dengan suhu tahun lalu hampir 2 derajat Celcius di atas rata-rata pada tahun 1961 hingga 1990.

    Baca: Gelombang panas landa Asia, sekolah tutup

    “Banyak negara di kawasan ini mengalami rekor tahun terpanas pada 2023, bersamaan dengan serangkaian kondisi ekstrem, mulai dari kekeringan dan gelombang panas hingga banjir dan badai,” kata Ketua WMO Celeste Saulo, yang menggambarkan laporan tersebut sebagai hal yang serius.

    “Panas ekstrem semakin menjadi pembunuh diam-diam yang terbesar,” beber Wakil Sekretaris Jenderal WMO Ko Barrett.

    Laporan tersebut menyoroti percepatan indikator-indikator utama perubahan iklim seperti suhu permukaan, penyusutan gletser, dan kenaikan permukaan laut.

    Hal-hal tersebut akan berdampak serius bagi masyarakat, perekonomian, dan ekosistem di wilayah tersebut.

    Reporter: Nurakhmayani

     

  • Climate Central Sebut Gelombang Panas Berpeluang Besar Terjadi di Indonesia

    Climate Central Sebut Gelombang Panas Berpeluang Besar Terjadi di Indonesia

    7cloud.asia – Potensi gelombang panas (heatwave) berpeluang besar terjadi di Indonesia.

    Laporan Climate Central, probabilitasnya di Indonesia mencapai tertinggi kedua dan ketiga di seluruh dunia.

    Dalam laporan yang dikeluarkan oleh Climate Central, World Weather Attribution (WWA), dan Red Cross Red Crescent Climate Centre, mengulas potensi gelombang panas dan jumlah orang yang terpapar oleh cuaca ekstrem di seluruh belahan dunia, termasuk di Indonesia.

    Berdasarkan laporan yang dirilis pada 28 Mei 2024 itu, rasio probabilitas (probability ratio) dua kejadian gelombang panas di Indonesia tercatat menjadi yang tertinggi kedua dan ketiga di seluruh dunia.

    Baca: Gelombang panas melanda Thailand, 61 orang tewas

    Melansir Antaranews, rasio probabilitas yang dimaksud adanya peningkatan kemungkinan atau potensi terjadinya suatu peristiwa akibat dari perubahan iklim yang disebabkan manusia.

    Temuan dari studi yang dilakukan ketiga lembaga itu memperlihatkan dua kejadian gelombang panas yang terjadi di Indonesia dan Filipina menempati rasio probabilitas tertinggi kedua dan ketiga di dunia atau memiliki potensi terjadi hal serupa.

    Kejadian pertama adalah gelombang panas yang terjadi di Indonesia dan Filipina pada 2-7 April 2024 dengan skor rasio probabilitas 29.

    Sementara posisi ketiga adalah gelombang panas yang terjadi 26-31 Oktober 2023 yang memiliki skor rasio probabilitas sebesar 25.

    Baca: Gelombang panas landa Asia, bagaimana di Indonesia?

    Indikasi dari rasio probabilitas itu adalah skor 25 berarti perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia membuat kejadian tersebut 25 kali lebih mungkin terjadi.

    Wilayah dengan skor probabilitas tertinggi menurut laporan itu adalah gelombang panas yang terjadi di Kepulauan Marshall dan Mikronesia, dengan skor tercatat sebesar 35 untuk kejadian periode 7-12 Maret 2024.

    Selain itu, dalam laporan tersebut selama periode 12 bulan, sebanyak 6,3 miliar orang atau sekitar 78 persen dari populasi global mengalami cuaca panas ekstrem setidaknya selama 31 hari.

    Hal ini setidaknya dua kali lebih mungkin terjadi akibat perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia.

    Baca: Gelombang panas landa Asia Selatan, 30 orang tewas

    Selama 12 bulan terakhir di seluruh dunia perubahan iklim yang disebabkan oleh aktivitas manusia menambah rata-rata suhu panas ekstrem selama 26 hari lebih lama dibandingkan jika bumi tidak mengalami perubahan iklim.

    Sebelumnya Deputi Meteorologi pada Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Guswanto memastikan gelombang panas yang melanda sejumlah negara di Asia, tidak akan terjadi di Indonesia.

    Dia menjelaskan jika ditinjau secara karakteristik fenomena maupun indikator statistik pengamatan suhu Indonesia tidak termasuk ke dalam kategori heatwave, karena tidak memenuhi persyaratan sebagai gelombang panas.

    “Jika ditinjau secara karakteristik fenomena, maupun secara indikator statistik pengamatan suhu kita tidak termasuk ke dalam kategori heatwave, karena tidak memenuhi persyaratan sebagai gelombang panas,” jelas Guswanto.

    Baca: Sejumlah sekolah tutup gegara gelombang panas di Asia

    Memang selama bulan Mei, Guswanto mengakui ada peningkatan suhu. Tetapi kondisinya tidak sama dengan apa yang dialami sejumlah negara Asia lain seperti Myanmar, Thailand, India, Bangladesh, Nepal dan Cina.

    “Secara karakteristik suhu panas terik harian yang terjadi di wilayah Indonesia merupakan fenomena akibat dari adanya gerak semu matahari,” ungkapnya.

    Menurut dia hal demikian itu merupakan suatu siklus yang biasa dan terjadi setiap tahun, sehingga potensi suhu panas seperti ini juga dapat berulang pada periode yang sama setiap tahunnya.

  • Gelombang Panas Ekstrem Landa Jepang, Enam Orang Tewas dan Ribuan Orang Dilarikan ke Rumah Sakit

    Gelombang Panas Ekstrem Landa Jepang, Enam Orang Tewas dan Ribuan Orang Dilarikan ke Rumah Sakit

    7cloud.asia – Sedikitnya enam orang tewas dan ribuan orang dilarikan ke rumah sakit akibat gelombang panas ekstrem musim hujan yang langka.

    Departemen Pemadam Kebakaran dan Bencana Alam Jepang mencatat sejak Juni, tercatat sekitar 2.276 orang mengalami heatstroke dan dilarikan ke rumah sakit.

    Sementara korban yang tewas merupakan para lansia dengan usia 70 tahun keatas.

    Seorang lansia 70 tahun di Jepang ditemukan meninggal dunia setelah memotong rumput di rumahnya pekan lalu. Berikutnya lansia 80 tahun yang tewas saat bekerja di perkebunan.

    Baca: Panas ekstrem di Jepang, suhu capai 35 derajat lebih

    Heatstroke di Jepang memang begitu mematikan untuk para lansia. Mereka merupakan kelompok yang sangat rentan terhadap heatstroke.

    Apalagi terlebih negara sakura tersebut memiliki salah satu populasi tertua di dunia.

    Tak hanya bagi lansia, kondisi ini juga berbahaya bagi bayi, orang yang tinggal sendirian, atau mereka yang miskin tak mampu membeli pendingin ruangan.

    Kondisi ini membuat pihak berwenang mengeluarkan peringatan sengatan panas di sebagian besar negara.

    Warga di Jepang juga diimbau untuk menghindari berolahraga di luar ruangan dan tetap menggunakan pendingin ruangan.

    Baca: India dan Pakistan tutup sekolah gara-gara suhu hampir 50 derajat celsius

    Pihak berwenang di Tokyo mencatat tiga kematian terkait heatstroke pada Sabtu (06/07/2024) lalu dan tiga kematian baru pada Senin (08/07/2024), ketika suhu mencapai 35 derajat pada tengah hari.

    Kondisi ini mendorong pihak berwenang mengeluarkan banyak peringatan kesehatan dan mendirikan ‘shelter pendingin’ dengan water mist di sekitar ibu kota.

    Pihak berwenang meminta masyarakat untuk menghindari aktivitas fisik karena Kementerian Lingkungan Hidup mengeluarkan peringkat tingkat ‘bahaya’ tertinggi.

    “Ini adalah keadaan darurat yang mengancam jiwa,” ujar salah satu warga bernama Hisako Ichiuji (60) ketika menggunakan fasilitas shelter pendingin di sekitar Menara Tokyo dikutip dari SCMP, Rabu (10/7/2024).

    Baca: Gelombang panas di Thailand tewaskan 61 orang

    Akhir pekan kemarin, wilayah Shizuoka bagian tengah menjadi wilayah pertama di Jepang yang mengalami suhu mencapai 40 derajat celcius tahun ini.

    Angka tersebut jauh melampaui ambang batas 35 derajat celcius yang diklasifikasikan ahli cuaca sebagai ‘sangat panas’.

    “Dulu suhunya tidak sampai seperti ini. Saya pikir penting untuk menjaga diri kita tetap terhidrasi dan berlindung di fasilitas seperti ini,” kata Hisako.

    Panas ekstrem yang terjadi di musim hujan di Jepang seperti saat ini jarang sekali terjadi.

    Menurut pejabat badan cuaca Jepang, hal ini terjadi akibat sistem tekanan tinggi yang kuat di Pasifik Selatan.

    Baca: Panas ekstrem landa Asia, 30 orang tewas

    Asosiasi Pengobatan Akut Jepang memperingatkan peningkatan angka kematian akibat kelelahan panas secara nasional.

    Angkanya meningkat dari hanya beberapa ratus per tahun pada dua dekade lalu menjadi sekitar 1.500 pada tahun 2022.

    Banyaknya jumlah korban jiwa menunjukkan bahwa heatstroke kini menimbulkan bahaya yang setara bencana alam besar menurut mereka.

    Penulis: Nurakhmayani/berbagai sumber

     

     

  • Cuaca Hari Ini: Waspada Suhu Panas Hingga 36 Derajat Celsius di Kota Ini

    Cuaca Hari Ini: Waspada Suhu Panas Hingga 36 Derajat Celsius di Kota Ini

    7cloud.asia – Musim kemarau mulai melanda Indonesia. Suhu panas berpotensi melanda beberapa kota. Bahkan ada yang mencapai suhu 36 derajat celsius.

    Berdasarkan laman resmi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), suhu udara hingga 36 derajat diperkirakan terjadi di Kota Banda Aceh pada Senin (15/07/2024). 

    Kota-kota lain yang juga diperkirakan mengalami cuaca panas adalah Kota Serang dan Kota Medan yang suhu udaranya mencapai 34 derajat celsius.

    Sedangkan suhu terendah diprediksi terjadi di Kota Bandung dengan suhu udara 19 derajat celsius.

    Meski demikian, BMKG memperkirakan potensi hujan dengan intensitas ringan masih bisa terjadi di Kota Jayapura dan Manokwari pada siang hari.

    Kemudian Senin malamnya, hujan dengan intensitas ringan berpotensi terjadi di Kota Samarinda.

    Sementara cuaca kota-kota lainnya BMKG memperkirakan cerah dan berawan dari pagi hingga malam hari. 

    Untuk wilayah Jakarta, seluruh wilayah diperkirakan cerah pada pagi hari. lalu siang dan malamnya cuaca diperkirakan cerah berawan.

    Suhu udara berkisar antara 20 hingga 31 derajat celsius dengan tingkat kelembaban udara berkisar antara 45 hingga 80 persen.