Tag: gencatan senjata

  • AS Veto Seruan Sekjen PBB Terkait Gencatan Senjata antara Israel dan Hamas

    AS Veto Seruan Sekjen PBB Terkait Gencatan Senjata antara Israel dan Hamas

    7cloud.asia – Amerika Serikat (AS), memveto resolusi Dewan Keamanan (DK) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk menerapkan gencatan senjata dalam menyelesaikan konflik antara Israel dan kelompok militan Hamas.

    Dalam sidang DK PBB, pada Jumat (8/12/2023), 13 negara anggota dewan lainnya mendukung usulan resolusi gencatan senjata antara Israel dan Hamas itu, sedangkan Inggris abstain.

    Namun, usulan gencatan senjata antara Israel dan Hamas itu terjegal veto AS, yang merupakan sekutu dekat Israel. AS beralasan bukan waktu yang tepat untuk menerapkan gencatan senjata.

    “Mungkin yang paling tidak realistis, resolusi ini masih menyerukan gencatan senjata tanpa syarat,” kata Wakil Duta Besar AS Robert Wood.

    Wood menjelaskan dalam pernyataannya, mengapa (gencatan senjata) ini tidak saja tidak realistis, tetapi juga berbahaya.

    “Gencatan senjata hanya memberi kesempatan Hamas untuk berkonsolidasi dan mengulang apa yang mereka lakukan pada 7 Oktober.”

    Baca: Gaza terputus dari bantuan makanan dan obat-obatan

    Dia mengatakan Washington sangat mendukung perdamaian yang bertahan agar warga Israel dan Palestina bisa hidup dalam perdamaian dan keamanan. Bukan gencatan senjata “yang hanya menanam benih-benih untuk perang selanjutnya.”

    Pemerintahan Biden sudah mengatakan akan mendukung perpanjangan jeda, seperti jeda kemanusiaan yang berlangsung selama tujuh hari pada November.

    Jeda tersebut membuka jalan pembebasan lebih dari 100 sandera yang ditahan oleh Hamas dan 300 tahanan Palestina dari penjara-penjara Israel.

    AS dan Israel menyalahkan penolakan Hamas untuk membebaskan para sandera perempuan muda sebagai sumber kegagalan jeda itu.

    Hamas mengutuk veto AS atas draf resolusi itu dengan menggambarkannya sebagai tidak etis dan tidak berperikemanusiaan.

    Dewan Keamanan yang beranggotakan 15 negara menggelar pertemuan pada Jumat (8/12/2023) pagi setelah Sekretaris Jenderal PBB menyurati mereka pada Rabu (6/12/2023) bahwa dia akan menerapkan Pasal 99 Piagam PBB.

    Pasal tersebut memberi Guterres kekuasaan untuk mendesak Dewan Keamanan mengambil tindakan atas masalah apa saja yang menurutnya bisa mengancam perdamaian dan keamanan internasional.

    Baca: Gaza dibombardir, 80 persen warganya mengungsi

    Ini adalah pertama kalinya Guterres menerapkan pasal itu selama tujuh tahun menjabat yang dipenuhi oleh berbagai krisis.

    Pasal 99 terakhir kali diterapkan pada 1971 saat pertikaian yang berujung pada pendirian Bangladesh dan pemisahan negara itu dari Pakistan.

    Tuai Protes. Duta Besar Inggris Barbara Woodward menyebut penderitaan warga Palestina “mengerikan dan menyedihkan”.

    Dia juga mengatakan lebih banyak jeda dan durasi jeda yang lebih panjang sangat penting untuk mengirimkan bantuan dan pembebasan sandera.

    “Namun, kita tidak memilih resolusi yang tidak mengutuk kekejaman yang dilakukan Hamas terhadap warga sipil Israel yang tidak berdosa pada 7 Oktober,” kata Woodward.

    “Menyerukan gencatan senjata sama saja dengan mengabaikan fakta bahwa Hamas sudah melakukan aksi teror dan menyandera warga sipil.”

    Baca: Warga Gaza hidup dalam kengerian

    Wakil Duta Besar Uni Emirat Arab (UEA) Mohamed Abushahab mengatakan bahwa sangat disesalkan di tengah penderitaan yang tak terperikan, Dewan Keamanan tidak bisa menuntut gencatan senjata kemanusiaan.

    “Mari saya perjelas: Dengan adanya peringatan keras dari Sekjen PBB, seruan dari para pelaku kemanusiaan, dan opini publik dunia – dewan ini menjadi terisolasi,” ujar Abushahab.

    Duta Besar Palestina mengatakan kegagalan DK PBB untuk menuntut gencatan senjata akan memicu konsekuensi yang berbahaya.

    “Ratusan orang akan terbunuh pada saat ini besok. Kemudian ratusan lagi, dan kemudian ribuan,” kata Mansour. “Anak-anak akan terbunuh. Menjadi yatim-piatu. Cedera. Cacat seumur hidup.”

    Duta Besar Israel mengucapkan terima kasih kepada AS atas dukungannya dan mengatakan gencatan senjata memungkinkan dengan kembalinya seluruh sandera dan kehancuran Hamas.

    Israel dan Hamas Terlibat Pertempuran Sengit di Kota-kota Besar di Gaza
    Sejumlah organisasi bantuan kemanusiaan dan hak-hak asasi manusia (HAM) mengkritik Washington.

    Baca: WHO ingatkan ancaman penyakit menular di Gaza

    “Pemerintah AS berdiri sendiri untuk memveto gencatan senjata membawa kredibilitas AS untuk masalah HAM ke ambang kehancuran,” kata Abby Maxman, Presiden dan Kepala Eksekutif (CEO) Oxfam America.

    “Sekali lagi, AS menggunakan hak vetonya untuk mencegah Dewan Keamanan agar tidak melakukan imbauan-imbauan yang telah AS tuntut sendiri dari Israel dan kelompok-kelompok bersenjata Palestina, termasuk kepatuhan terhadap hukum humaniter internasional, perlindungan warga sipil dan pembebasan semua warga sipil yang disandera,” kata Louis Charbonneau, Direktur PBB pada Human Rights Watch.

    “Dengan terus menyediakan persenjataan dan perlindungan diplomatik untuk Israel sementara negara itu melakukan kekejaman, termasuk menerapkan hukuman kolektif terhadap populasi warga sipil Palestina di Gaza, AS berisiko terlibat dalam kejahatan perang,” kata Charbonneau memperingatkan.

    Sumber: VOA Indonesia

  • Menlu Retno Sesalkan Tak Ada Desakan Gencatan Senjata di Resolusi DK PBB

    Menlu Retno Sesalkan Tak Ada Desakan Gencatan Senjata di Resolusi DK PBB

    7cloud.asia- Menteri Luar Negeri Indonesia, atau Menlu Retno Marsudi menyesalkan tidak ada desakan gencatan senjata di dalam resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) yang disahkan pada 22 Desember 2023.

    Padahal, menurut Retno, gencatan senjata merupakan salah satu elemen penting yang diperlukan untuk mengatasi krisis kemanusiaan yang tengah berlangsung di Gaza.

    “Kita lihat apakah resolusi ini dapat membuat perbedaan atau perbaikan di lapangan,” katanya dalam temu media di Jakarta, Rabu (27/12/2023)

    Baca: Dewan keamanan PBB setujui resolusi bantuan kemanusiaan untuk Gaza

    Retno menyatakan bahwa Indonesia bersama negara-negara Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) akan terus berupaya mengatasi situasi yang sedang berlangsung di Gaza.

    Dewan Keamanan PBB mengesahkan resolusi yang menuntut semua pihak melakukan “langkah-langkah mendesak” untuk membuka akses kemanusiaan yang lebih luas, aman, dan tanpa hambatan ke Gaza.

    Setelah negosiasi yang alot dan beberapa kali ditunda, resolusi yang diajukan oleh Uni Emirat Arab itu disahkan setelah didukung 13 negara, 0 menolak.

    Baca: AS veto seruan sekjen PBB soal gencatan senjata

    Sedangkan Amerika Serikat dan Rusia yang sama-sama anggota tetap DK PBB memilih abstain.

    Resolusi tersebut juga menuntut pihak-pihak berkonflik mengizinkan dan membuka semua rute menuju dan di seluruh Jalur Gaza, termasuk pintu-pintu perbatasan.

    Hal ini untuk memastikan staf kemanusiaan dan bantuan tersalurkan kepada warga sipil yang membutuhkan.

    Baca: Serangan di malam Natal tewaskan 60 warga Gaza

    Namun, banyak pihak yang menilai resolusi tersebut tidaklah cukup karena tidak menyerukan gencatan senjata.

    Padahal ini langkah utama yang dapat melindungi kehidupan warga sipil secara berkelanjutan dan memungkinkan bantuan tersalurkan kepada semua yang membutuhkan.

    Pengiriman bantuan ke Jalur Gaza selama ini terhambat karena Israel memberlakukan pemeriksaan keamanan terhadap truk-truk bantuan yang akan memasuki wilayah kantong Palestina yang terkepung itu.

    WHO serukan bantuan untuk Gaza

    PBB pada Selasa (26/12) telah mengumumkan penunjukan Sigrid Kaag sebagai koordinator kemanusiaan untuk Gaza.

    Tugasnya adalah memfasilitasi, mengoordinasikan, memantau, dan mengecek pengiriman bantuan kemanusiaan ke Gaza.

    Menteri Keuangan Belanda itu juga akan membentuk mekanisme PBB untuk mempercepat pengiriman bantuan kemanusiaan ke Gaza melalui negara-negara yang bukan pihak dalam konflik tersebut.

    Sumber: Antaranews                            

  • Gencatan Senjata Israel-Hamas Diharapkan Tercapai Akhir Pekan ini

    Gencatan Senjata Israel-Hamas Diharapkan Tercapai Akhir Pekan ini

    7cloud.asia – Presiden Amerika Serikat Joe Biden mengaku optimistis gencatan senjata antara Israel dan Hamas dapat segera disepakati pada akhir pekan ini atau sebelum bulan Ramadan.

    Meski begitu, pernyataan Biden soal gencatan senjata ini dianggap terlalu dini karena Israel dan Hamas masih mempelajari kesepakatan itu.

    Harapan bahwa gencatan senjata antara Israel dan Hamas itu akan terjadi sebelum hari Senin (4/3/2024) pekan depan disampaikan Biden pada hari Senin (26/2/2024) lalu.

    Dilansir VOA Indonesia, pernyataan Biden ini, setelah dirinya mengaku telah memperoleh informasi terkait dari penasihat keamanan Gedung Putih.

    Baca: PM Palestina mengundurkan diri

    Upaya negosiasi untuk menghentikan sementara peperangan antara Israel dan Hamas utamanya bertujuan membebaskan sandera yang ditahan di Gaza oleh Hamas.

    Sebagai gantinya, Israel akan membebaskan ratusan warga Palestina yang menjadi tahanan mereka.

    Kesepakatan gencatan senjata di Gaza ini diharapkan berlanjut hingga Ramadan
    Gencatan senjata selama 40 hari diajukan dalam negosiasi ini, termasuk di dalamnya memperbolehkan ratusan truk bantuan masuk ke Gaza setiap harinya.

    Para pihak yang terlibat negosiasi dihadapkan pada tenggat waktu tidak tertulis, yaitu saat dimulainya bulan Ramadan pada sekitar tanggal 10 Maret mendatang.

    Baca: AS dan sejumlah negara Arab rumuskan kemerdekaan Palestina

    Sejarah menunjukkan, ketegangan antara Israel dan Palestina kerap meningkat pada bulan suci tersebut.

    Meski begitu, Qatar selaku mediator dalam negosiasi gencatan senjata ini mengaku tidak bisa berkomentar mengenai pernyataan yang disampaikan Biden.

    Pasalnya, menurut Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Qatar Majed Al-Ansari, belum ada terobosan yang bisa diumumkan terkait kesepakatan gencatan senjata dan para tahanan.

    Al-Ansari juga menjelaskan dalam konferensi pers yang digelar hari Selasa (27/2) lalu bahwa Qatar “terus mendorong” Israel dan Hamas agar menerima proposal perjanjian yang dibuat di Paris pada pekan lalu.

    Baca: Harapan membentuk Palestina yang merdeka

    Al ansari menyebut, pihaknya melihat arah yang positif dari terjadinya pertemuan itu, tetapi belum ada kesepakatan final.

    “Semoga kami bisa mengumumkannya di awal bulan Ramadan – sebuah jeda kemanusiaan yang dapat meredakan ketegangan, dan memungkinkan kita untuk membawa masuk bantuan ke Gaza. Ketegangan akan mulai menurun dari sana,” ujar Al-Ansari.

    Kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Hamas sebelumnya pernah terjadi pada bulan November 2023 lalu selama satu pekan.

    Sebanyak lebih dari 100 tahanan Israel dibebaskan oleh Hamas, dan Israel membebaskan tahanan Palestina sebanyak tiga kali lipat dari jumlah tersebut.

    Baca: Keputusan Mahkamah Internasional diharapkan hentikan impunitas untuk Israel

    Selama beberapa minggu terakhir, baik Israel maupun Hamas secara terbuka mempertahankan posisi yang berbeda terkait kemungkinan kesepakatan gencatan senjata, sembari menyalahkan satu sama lain atas penundaan yang terjadi.

    Israel mengatakan bahwa mereka tidak akan mengakhiri perang sampai Hamas dihancurkan.

    Sementara Hamas mengatakan bahwa mereka tidak akan membebaskan sandera tanpa adanya komitmen untuk mengakhiri perang secara permanen.

    Sejumlah pejabat tinggi Hamas bahkan menyebut pernyataan Biden terkait gencatan senjata ini masih terlalu dini untuk disampaikan.

    Sumber: VOA Indonesia

  • Mediator Hamas dan Israel Pesimistis Akan Dicapai Kesepakatan Gencatan Senjata

    Mediator Hamas dan Israel Pesimistis Akan Dicapai Kesepakatan Gencatan Senjata

    7cloud.asia – Mediator Israel, Hamas dan Qatar, pada Selasa (27/2/2024), semuanya mengecilkan sinyalemen yang disampaikan oleh Presiden AS Joe Biden soal gencatan senjata di Gaza.

    Sebelumnya Biden mengatakan bahwa kesepakatan baru untuk gencatan senjata dan pembebasan sandera dalam perang lima bulan Israel dengan militan Hamas dapat segera dicapai akhir pekan ini.

    Hamas kini mempertimbangkan proposal, yang disetujui oleh Israel pada pembicaraan dengan mediator di Paris pekan lalu, untuk gencatan senjata yang akan menunda pertempuran selama 40 hari selama Ramadan.

    Ramadan sebagai bulan suci dan ibadah puasa umat Islam, yang akan menjadi perpanjangan gencatan senjata pertama dalam perang tersebut.

    Baca: Biden berharap kesepakatan gencatan senjata dicapai akhir pekan ini

    Delegasi kedua pihak berada di Qatar minggu ini untuk berusaha membahas rincian usulan gencatan senjata itu.

    Namun juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar Majed al-Ansari mengatakan, Kami belum memiliki kesepakatan akhir mengenai masalah apa pun yang menghambat pencapaian kesepakatan.

    “Kami tetap berharap bahwa kami bisa mencapai semacam kesepakatan.” ujarnya.

    Dilansir VOA Indonesia, seorang pejabat Hamas mengatakan bahwa masih ada kesenjangan besar yang harus dijembatani.

    “Masalah utama dan terutama tentang gencatan senjata dan penarikan pasukan Israel tidak disebutkan dengan jelas, sehingga menunda pencapaian kesepakatan.”

    Baca: PM Palestina mengundurkan diri

    Israel tidak mengomentari secara langsung optimisme Biden perihal kesepakatan gencatan senjata.

    Namun juru bicara pemerintah Israel, Tal Heinrich, mengatakan kesepakatan apa pun masih mengharuskan Hamas untuk membatalkan “tuntutan aneh, yang tidak masuk akal, yang sulit dipahami.”

    “Kami bersedia. Namun pertanyaannya apakah Hamas bersedia,” katanya.

    Situs berita Israel Ynet mengutip pejabat senior Israel yang tidak disebutkan namanya yang mengatakan bahwa mereka tidak memahami “dasar optimisme [Biden].”

    Biden mengatakan, pada Senin (26/2/2024), bahwa dia berharap akan ada gencatan senjata pada tanggal 4 Maret.

    Baca: Mungkinkah mewujudkan Palestina yang merdeka

    Dia kemudian mengatakan kepada komedian Seth Meyers dalam acara larut malamnya di televisi NBC,

    “Ramadan akan segera tiba [pada 10 Maret], dan sudah ada kesepakatan dari Israel bahwa mereka tidak akan terlibat dalam serangan selama Ramadan juga, untuk memberi kami waktu untuk membebaskan semua [100 atau lebih] sandera.”

    Menurut salah satu sumber yang dekat dengan perundingan itu, usulan Paris tersebut akan membuat Hamas membebaskan sebagian namun tidak semua sandera yang mereka tahan.

    Ini sebagai imbalan atas pembebasan ratusan warga Palestina yang dipenjara oleh Israel, dan peningkatan bantuan kemanusiaan bagi warga Palestina yang kelaparan di Gaza.

    Juga penarikan mundur pasukan Israel dari sejumlah area padat penduduk di daerah kantong di sepanjang garis pantai Laut Mediterania itu.

    Sumber: VOA Indonesia

  • Menlu Palestina Sebut Jika Tidak Ada Gencatan Senjata, Genosida di Jalur Gaza Terus Akan Berlanjut

    Menlu Palestina Sebut Jika Tidak Ada Gencatan Senjata, Genosida di Jalur Gaza Terus Akan Berlanjut

    7cloud.asia – Menteri Luar Negeri Palestina Riyad al-Maliki pada Jumat (1/3) memperingatkan “berlanjutnya genosida” di Jalur Gaza jika kesepakatan gencatan senjata tidak dicapai dalam dua-tiga pekan ke depan.

    “Jika dalam dua sampai tiga pekan ke depan kami tidak bisa mencapai gencatan senjata, maka itu berarti kami akan melihat putaran permusuhan lainnya, serangan terhadap Rafah, aksi pembantaian lainnya, dan berlanjutnya genosida,” kata al-Maliki di sela-sela Forum Diplomasi Antalya.

    “(PM Palestina Benjamin) Netanyahu ingin sepenuhnya mengusir orang-orang dari Gaza, dan tidak hanya membuat Gaza tidak bisa dihuni,” tambahnya.

    Baca: Israel tembak warga Palestina saat antri bantuan

    Terkait kebijakan Israel di Tepi Barat, al-Maliki mengatakan: “Israel… mempunyai kepentingan jangka panjang tidak hanya untuk tetap berada di Tepi Barat tetapi juga untuk mengusir orang-orang dari Tepi Barat ke Yordania dan juga untuk mencaplok wilayah Palestina.”

    “Itu sebabnya kami setiap hari menyaksikan penyitaan tanah Palestina di Tepi Barat, pembangunan permukiman ilegal, penghancuran rumah-rumah warga Palestina, serangan dari para pemukim terjadi di mana-mana,” lanjutnya.

    “Ketika semua orang fokus pada genosida yang terjadi di Gaza, kita harus selalu ingat bahwa tujuan Israel sebenarnya adalah Tepi Barat, yang disebut Wilayah Yudea dan Samaria,” ungkapnya.

    Sumber: Anadolu

  • Gencatan Senjata di Gaza Kini Tergantung pada SIkap Kelompok Hamas, Israel Tetap Didesak Buka Kran Bantuan Kemanusiaan

    Gencatan Senjata di Gaza Kini Tergantung pada SIkap Kelompok Hamas, Israel Tetap Didesak Buka Kran Bantuan Kemanusiaan

    7cloud.asia – Presiden AS Joe Biden mengatakan harapan gencatan senjata di Gaza kini ada di tangan Hamas.

    Namun pada saat yang sama, dia mengatakan Israel “tidak punya alasan” selain mengizinkan lebih banyak bantuan kemanusiaan masuk ke wilayah yang dilanda perang untuk membantu warga Palestina yang kelaparan.

    Dalam perjalanan kembali ke Washington dari Camp David, Biden mengatakan, “Israel telah bekerja sama. Ada tawaran yang masuk akal. Kami tidak tahu apa… kita akan mengetahuinya dalam beberapa hari apakah gencatan senjata akan terwujud. Kita membutuhkan gencatan senjata.”

    Dia memperingatkan kondisi bahaya akan meningkat jika Israel dan Hamas gagal mencapai gencatan senjata di Gaza pada awal bulan suci Ramadan minggu depan.

    “Jika kita menghadapi keadaan di mana hal ini terus berlanjut selama Ramadan, Israel dan Yerusalem… bisa menjadi sangat, sangat berbahaya,” kata Biden.

    Pernyataan Biden disampaikan sehari setelah Wakil Presiden AS Kamala Harris menerima anggota Kabinet Israel pada masa perang.

    Baca: Tanpa gencatan senjata, genosida di Gaza akan berlanjut

    Mereka datang ke Washington meskipun ditentang Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu karena pemerintahan Biden mengintensifkan upaya mendorong lebih banyak bantuan kemanusiaan ke Gaza yang dilanda perang.

    Wakil Presiden AS Kamala Harris pada juga Senin mendesak Hamas untuk menerima persyaratan perjanjian yang diusulkan.

    Salah satunya, pembebasan sekitar 100 sandera yang tersisa akan menghasilkan gencatan senjata selama enam minggu dan memungkinkan gelombang bantuan kemanusiaan di seluruh wilayah Gaza.

    Pejabat-pejabat Gedung Putih mengatakan Benny Gantz, saingan politik Netanyahu yang berhaluan tengah, meminta pertemuan itu.

    Gedung Putih percaya bahwa penting bagi Harris dari pemerintahan Partai Demokrat, untuk duduk bersama pejabat terkemuka Israel meskipun Netanyahu keberatan.

    Biden, Harris, dan pejabat senior lainnya di pemerintahan semakin blak-blakan menyatakan ketidakpuasan atas meningkatnya jumlah korban tewas di Gaza dan penderitaan warga Palestina yang tidak bersalah sementara perang sudah berlangsung hampir lima bulan.

    Baca: Diharapkan tercapai gencatan senjata di Gaza sebelum masuk Ramadan

    Pertemuan terjadi setelah AS pda Sabtu lalu mengirim bantuan kemanusiaan pertama ke Gaza. Diperkirakan bantuan kemanusiaan akan terus dikirim melalui udara.

    Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Antony Blinken juga mendesak Israel untuk memaksimalkan “segala cara yang memungkinkan” untuk memberikan lebih banyak bantuan kemanusiaan ke Gaza.

    Blinken mengatakan bahwa situasi yang dihadapi puluhan ribu warga Palestina yang mengungsi saat ini tidak dapat diterima dan tidak berkelanjutan.

    “Israel harus memaksimalkan segala cara, setiap metode yang memungkinkan untuk memberikan bantuan kepada orang-orang yang membutuhkannya,” kata Blinken sebelum bertemu dengan Perdana Menteri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani di Departemen Luar Negeri.

    Blinken mengulangi seruan pemerintahan Biden agar Israel membuka penyeberangan perbatasan baru guna memungkinkan lebih banyak bantuan kemanusiaan masuk ke Gaza, namun hal ini ditentang oleh Israel.

    “Perlu lebih banyak penyeberangan. Perlu lebih banyak bantuan untuk masuk. Dan begitu bantuan itu masuk, maka kita perlu memastikan bahwa bantuan tersebut dapat sampai ke orang-orang yang membutuhkan.”

    Baca: Frustasi dengan situasi di Gaza, PM Palestina mengundurkan diri

    Jadi, kita akan terus menekannya setiap hari, karena situasinya semakin buruk, sikap Israel tidak bisa diterima,” kata Blinken.

    Kelaparan kini membayangi Jalur Gaza yang terkepung di sepanjang garis pantai Laut Mediterania karena pasokan bantuan, yang sudah sangat dibatasi sejak dimulainya perang pada Oktober lalu, semakin berkurang dalam sebulan terakhir.

    Perundingan gencatan senjata terus berlanjut di Kairo, tetapi belum ada terobosan yang jelas.

    “Kita berpeluang untuk segera melakukan gencatan senjata yang bisa membawa pulang para sandera, yang secara dramatis dapat meningkatkan jumlah bantuan kemanusiaan yang masuk ke warga Palestina yang sangat membutuhkannya. … Hamaslah yang harus mengambil keputusan apakah mereka siap atau tidak. untuk terlibat dalam gencatan senjata itu,” kata Blinken.

    Berdiri di samping Blinken, Sheikh Mohammed berkata, “Qatar, Amerika Serikat, dan mitra kita akan selalu gigih untuk memastikan kesepakatan ini terwujud.”

    Israel tidak ikut serta dalam perundingan di Kairo dan menyalahkan Hamas karena tidak memberikan daftar nama sandera yang masih ditahan militan di Gaza.

    Baca: AS dan negara-negara Arab rumuskan negara Palestina yang merdeka

     

    Biden menghadapi tekanan politik yang meningkat di dalam negeri atas cara pemerintahannya menangani perang Israel-Hamas. Perang itu dipicu serangan Hamas di Israel selatan yang menewaskan 1.200 orang. Hamas juga menyandera sekitar 250 orang.

    Pada pemilihan pendahuluan presiden di Michigan minggu lalu, lebih dari 100.000 pemilih dari Partai Demokrat memberikan suara “tidak berkomitmen”.

    Biden menang mudah tetapi suara “tidak berkomitmen” mencerminkan desakan pemilih yang secara terkoordinasi menyatakan ketidaksenangan atas dukungan presiden yang tak tergoyahkan bagi Israel sementara operasi militer Israel di Gaza telah menewaskan lebih dari 30.000 orang Palestina.

    Jumlah suara yang diraih Biden mengkhawatirkan Partai Demokrat. Pasalnya, Biden menang di negara bagian itu hanya dengan selisih 154.000 suara pada 2020.

    Gantz, yang menurut jajak pendapat bisa menjadi kandidat kuat perdana menteri jika pemungutan suara diadakan hari ini, dipandang sebagai seorang politikus moderat.

    Tetapi pandangannya belum jelas mengenai negara Palestina. Bagi Biden, pembentukan negara Palestina penting demi terwujudnya perdamaian yang abadi setelah konflik berakhir. Namun, Netanyahu dengan tegas menentang.

    Sementara itu, Hamas tampaknya tidak tergesa-gesa mencapai gencatan senjata sementara menjelang bulan suci Ramadan, yang dimulai minggu depan.

    Gencatan ini akan menunda serangan yang telah direncanakan Israel terhadap Rafah, kota di Gaza selatan di mana separuh penduduk Gaza kini mencari perlindungan.

    Sumber: VOA Indonesia

  • Israel Dianggap Tak Serius untuk Gencatan Senjata

    Israel Dianggap Tak Serius untuk Gencatan Senjata

    7cloud.asia – Rezim Israel belum menunjukkan keseriusannya dalam negosiasi tak langsung gencatan senjata dan pertukaran tawanan, kata seorang anggota penting kelompok perlawanan Palestina, Hamas.

    Wakil Menteri Luar Negeri pemerintahan Hamas, Ghazi Hamad, mengatakan, rezim Israel mengajukan syarat yang berlebihan selama negosiasi dan tidak menunjukkan cukup keseriusannya untuk mencapai kesepakatan.

    Menurutnya, kabinet perang rezim pendudukan rela melanjutkan perang dan pembantaian di Gaza dan tidak memperhatikan para tawanan beserta keluarga mereka.

    Baca: Serangan Israel ke warga Palestina yang menunggu bantuan direncanakan

    Akan tetapi, lanjut Hamad, Hamas akan terus melakukan negosiasi sampai ada kesepakatan signifikan yang menjamin penghentian perang, penarikan pasukan pendudukan, rekonstruksi Gaza serta pemulangan pengungsi.

    Mengingat peningkatan kasus kelaparan di Jalur Gaza, sejumlah pihak internasional telah menekan rezim Israel.

    Dia menambahkan Hamas menyerukan tekanan lebih besar untuk rezim guna membuka rute pengiriman bantuan kemanusiaan ke Gaza melalui jalur darat dan laut.

    Baca: 17 ribu anak di Palestina hidup tanpa pendamping

    Anggota biro politik Hamas, Husam Badran, sebelumnya telah mengesampingkan kemungkinan gencatan senjata sebelum bulan suci Ramadan lantaran selama pembicaraan baru-baru ini di Kairo, rezim Israel menolak usulan Palestina.

    Hamas akan terus gencar melakukan negosiasi di tingkat internal untuk mencapai konsensus mengenai isu ini, katanya.

    Badran juga menegaskan bahwa kelompok perlawanan Palestina itu tidak akan memberikan kelonggaran apa pun kepada rezim pendudukan.

    Sumber: IRNA-OANA

  • Palestina Desak PBB Agar Dapat Memaksa Israel Wujudkan Gencatan Senjata di Gaza

    Palestina Desak PBB Agar Dapat Memaksa Israel Wujudkan Gencatan Senjata di Gaza

    7cloud.asia – Kementerian Luar Negeri dan Ekspatriat Palestina pada Sabtu (16/3/2024) menyerukan sikap kemanusiaan internasional melalui sebuah resolusi yang mengikat di Dewan Keamanan PBB  guna memaksa pendudukan Israel agar segera melakukan gencatan senjata di Jalur Gaza.

    Lebih lanjut kementerian menyerukan perlunya memastikan perlindungan bagi warga sipil dan akses masuk bantuan ke Gaza secara berkelanjutan.

    Baca: Pasukan Israel bunuh warga Palestina yang antre bantuan

    Melalui pernyataan, Kemenlu Palestina mengatakan, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sekali lagi mengakui bahwa dirinya sedang melakukan pertempuran diplomatik dengan dunia demi mendapatkan lebih banyak waktu untuk mencapai tujuan agresi.

    Disebutkan pula bahwa Netanyahu terus mengeluarkan ancaman untuk menyerang Kota Rafah tanpa memberikan rencana realistis untuk melindungi warga sipil dan menjamin kebutuhan dasar kemanusiaan mereka.

    Baca: Israel dianggap tak serius wujudkan gencatan senjata di Gaza

    “Tujuan terbesar Netanyahu adalah memperpanjang agresi supaya tetap berkuasa dan untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan pada hari berikutnya,” demikian menurut pernyataan Kemenlu Palestina.

    Kementerian juga menyatakan bahwa Netanyahu telah menculik lebih dari dua juta warga Palestina, termasuk anak-anak dan perempuan.

    ”Dan menjadikan hidup dan jiwa mereka sebagai “alat tawar dan pemerasan politik.” pungkas pernyataan itu 

    Sumber: WAFA

  • AS Abstain, Dewan Keamanan PBB Sukses Lahirkan Resolusi Gencatan Senjata di Gaza

    AS Abstain, Dewan Keamanan PBB Sukses Lahirkan Resolusi Gencatan Senjata di Gaza

    7cloud.asia – Dewan Keamanan PBB, Senin (25/3/2024) menyepakati resolusi yang menuntut gencatan senjata segera antara Israel dan kelompok militan Palestina Hamas.

    Dewan Keamanan PBB ini juga menuntut pembebasan seluruh sandera Hamas dengan segera dan tanpa syarat, pasca gencatan senjata ini.

    Resolusi Dewan Keamanan PBB ini disahkan setelah Amerika Serikat memutuskan abstain dari pemungutan suara terhadap resolusi DK tersebut.

    Sementara itu, 14 negara anggota DK PBB lainnya memberi suara mendukung resolusi yang diusulkan 10 negara anggota tidak tetap Dwan Keamanan PBB.

    Baca: Sekjen PBB akui tak punya kuasa hentikan serangan Israel ke Gaza

    Pada berbagai kesempatan sebelumnya, Washington menolak istilah “gencatan senjata” dalam perang di Jalur Gaza yang sudah berlangsung selama hampir enam bulan.

    AS juga menggunakan hak vetonya untuk melindungi Israel, sekutu dekatnya dalam upayanya membalas serangan Hamas pada 7 Oktober yang disebut Israel telah menewaskan 1.200 orang.

    Akan tetapi, di tengah meningkatnya tekanan global untuk gencatan senjata dalam perang yang telah menewaskan 32.000 warga Palestina itu, AS akhirnya abstain dari pemungutan suara pada hari Senin (25/3/2024).

    Sikap AS ini memungkinkan Dewan Keamanan PBB menuntut gencatan senjata segera selama bulan suci Ramadan, yang akan berakhir dua minggu lagi.

    Baca: Kelaparan di Gaza sudah sangat parah

    DK PBB juga menuntut pembebasan seluruh sandera dengan segera dan tanpa syarat. Israel mengatakan Hamas menculik 253 orang pada serangan 7 Oktober lalu.

    Resolusi DK PBB juga “menekankan kebutuhan mendesak untuk membuka distribusi bantuan kemanusiaan dan memperkuat perlindungan warga sipil di seluruh Jalur Gaza.

    Resolusi itu juga menegaskan kembali tuntutannya untuk mencabut semua hambatan atas penyediaan bantuan kemanusiaan dalam skala besar.”

    Sesaat sebelum pertemuan Dewan Keamanan PBB dimulai, radio militer Israel melaporkan bahwa Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu akan membatalkan pengiriman delegasi Israel ke Washington apabila AS tidak memveto resolusi tersebut.

    Baca: Israel jadikan kelaparan sebagai senjata perang barunya di Gaza

    AS sudah tiga kali memveto draf resolusi Dewan Keamanan PBB terkait perang israel dan Hamas di Gaza.

    AS juga telah dua kali menyatakan abstain, sehingga memungkinkan Dewan Keamanan PBB mengadopsi sejumlah resolusi yang bertujuan untuk meningkatkan bantuan ke Gaza dan menyerukan jeda pertempuran yang diperpanjang.

    Rusia dan China juga telah memveto dua draf resolusi AS terkait konflik Isral-Hamas pada Oktober dan Jumat (22/3/2024) lalu.

    Sumber: skynews. 

  • Biden Dorong Gencatan Senjata Israel-Hamas, Saat Israel Makin Dalam Kuasai Rafah

    Biden Dorong Gencatan Senjata Israel-Hamas, Saat Israel Makin Dalam Kuasai Rafah

    7cloud.asia – Presiden Amerika Serikat Joe Biden mendorong kesepakatan gencatan senjata Israel-Hamas yang terdiri dari tiga fase yang disetujui oleh Israel.

    Pada saat yang sama pasukan Israel semakin masuk ke wilayah Palestina di kota Rafah di Gaza selatan.

    Kesepakatan gencatan senjata Israel-Hamas itu dimulai dengan jeda pertempuran selama enam minggu dan mengarah pada penghentian permusuhan yang lebih permanen dengan kelompok militan Hamas.

    Fase pertama akan mencakup “gencatan senjata penuh dan menyeluruh,” kata Biden dalam sambutannya di Gedung Putih, Washington DC, Jumat (31/5/2024).

    Ini berarti penarikan pasukan Israel dari semua wilayah berpenduduk di Gaza dan pembebasan beberapa sandera, termasuk perempuan, orang tua, yang terluka dan warga negara Amerika, sebagai imbalan atas pembebasan ratusan tahanan Palestina dari penjara Israel.

    Baca Juga: Bella dan Gigi Hadid Donasikan 1 Juta Dolar AS untuk Rakyat Palestina

    Selain itu, Israel akan mengizinkan lebih banyak bantuan kemanusiaan ke Gaza dan kembalinya warga Palestina ke rumah dan lingkungan mereka di semua wilayah Gaza, termasuk di Gaza utara.

    Setelah jeda awal selama enam minggu, jalan ke depan akan lebih rumit, Biden memperingatkan.

    “Saya akan jujur dengan Anda, ada sejumlah hal yang (masih) harus dinegosiasikan untuk beralih dari fase satu ke fase dua,” katanya.

    Biden melanjutkan bahwa selama negosiasi (perdamaian) terus berlanjut dan gencatan senjata akan tetap berlaku bahkan jika pembicaraan berlarut-larut hingga melewati masa enam minggu awal. Dia berjanji bahwa mediator dari Amerika Serikat, Mesir, dan Qatar akan terus bekerja sampai semua kesepakatan tercapai.

    Tahap kedua akan melihat pembebasan semua sandera yang masih ditahan oleh Hamas, termasuk tentara pria Israel.

    Baca Juga: Solidaritas untuk Rakyat Palestina di Festival Film Cannes ke-77

    Pasukan Israel akan mundur dari Gaza, dan selama Hamas menepati komitmennya, kata Biden, Israel telah setuju untuk menghentikan permusuhan “secara permanen.”

    Pada tahap ketiga dan terakhir, “rencana rekonstruksi besar untuk Gaza akan dimulai, dan jenazah para sandera yang terbunuh akan dikembalikan ke keluarga mereka,” katanya.

    Presiden Biden juga menuliskan tiga fase rencana perdamaian di Gaza itu dalam kiriman di akun X Gedung Putih.

    “Rakyat Israel harus tahu bahwa mereka dapat mengajukan tawaran ini tanpa ada risiko lebih lanjut terhadap keamanan mereka, karena mereka (pasukan Israel) telah menghancurkan pasukan Hamas selama delapan bulan terakhir,” kata presiden.

    Negosiasi untuk menghentikan pertempuran telah menemui jalan buntu selama berminggu-minggu, dengan masing-masing pihak saling menyalahkan.

    Baca Juga: Pemimpin Oposisi Israel Desak Netanyahu Akui Palestina dengan Kondisi Tertentu

    Pada Kamis (30/5/2024), perwakilan Hamas mengatakan telah memberi tahu para mediator bahwa mereka “siap untuk mencapai kesepakatan komprehensif” yang mencakup kesepakatan pertukaran sandera dan tahanan penuh jika Israel menghentikan perangnya di Gaza.

    “Hamas dan faksi-faksi Palestina tidak akan menerima untuk menjadi bagian dari kebijakan ini dengan melanjutkan negosiasi [gencatan senjata] mengingat agresi, pengepungan, kelaparan, dan genosida terhadap rakyat kami,” bunyi pernyataan Hamas.

    “Hari ini, kami memberi tahu para mediator tentang posisi kami yang jelas bahwa jika pendudukan menghentikan perang dan agresinya terhadap rakyat kami di Gaza, kesiapan kami [adalah] untuk mencapai kesepakatan lengkap yang mencakup kesepakatan pertukaran yang komprehensif,” tambah pernyataan itu.

    Biden pada Jumat mendesak Hamas agar menerima kesepakatan tersebut. “Kita tidak boleh kehilangan momen (untuk mencapai kesepakatan) ini,” tandasnya.

    Sumber:VOAIndonesia