Tag: hari lingkungan hidup sedunia

  • Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026: Saatnya Dunia Bertindak Memperlambat dan Beradaptasi dengan Perubahan Iklim

    Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026: Saatnya Dunia Bertindak Memperlambat dan Beradaptasi dengan Perubahan Iklim

    7cloud.asia – Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, pada Jumat (5/6/2026) dipusatkan di Baku Azerbaijan dengan menyerukan aksi iklim global.

    Dalam sambutannya, Direktur Eksekutif Program Lingkungan PBB, Inger Andersen mengatakan, Azerbaijan terus memainkan peran penting dalam aksi iklim global.

    Azerbaijan menjadi tuan rumah pembicaraan iklim COP29 di sini pada tahun 2024 dan memandu dunia menuju kesepakatan untuk memobilisasi dana iklim sebesar 300 miliar dolar pada tahun 2035.

    Bulan lalu, Baku juga menjadi tuan rumah Forum Perkotaan Dunia, yang berfokus pada kebutuhan akan ketahanan iklim di kota-kota. Dan sekarang Azerbaijan membantu UNEP untuk memfokuskan perhatian dan tindakan pada perubahan iklim pada peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia ke-54 ini.

    Inger menambahkan, perubahan iklim memang merupakan isu yang harus menjadi perhatian utama masyarakat dunia

    Suhu global meningkat dan dampak iklim semakin intensif. Planet ini mengirimkan sinyal kepada kita. Gelombang panas. Kekeringan. Banjir. Penggurusan dan badai debu dan pasir.

    “Dampak-dampak ini merugikan kita semua, dengan kaum miskin dan paling rentan menderita yang terburuk. Azerbaijan menghadapi banyak tantangan iklim, mulai dari degradasi ekosistem pegunungan hingga penurunan permukaan air di Laut Kaspia, yang mengancam pelabuhan, perikanan, infrastruktur, dan komunitas pesisir,” ujarnya.

    Namun, Inger menegaskan, kondisi ini tidak seharusnya menjadi kisah bencana dan keputusasaan. Masa depan belum tertulis.

    Kita, lanjutnya, dapat menciptakan kisah kita sendiri dengan bertindak untuk memperlambat dan beradaptasi dengan perubahan iklim – mewujudkan masyarakat yang lebih aman, lebih sehat, lebih makmur, dan lebih adil.

    Aksi iklim merupakan peluang besar bagi bangsa dan masyarakat di dunia. Jika dunia bertindak sekarang, sebagai komunitas global, maka jutaan kematian dan triliunan kerugian ekonomi pada tahun 2050 dapat dicegah.

    “Kita dapat mendorong pertumbuhan, lapangan kerja, ketahanan, dan investasi. Kita semua dapat berkembang,” imbuhnya.

    Namun, Inger menegaskan, solusi iklim bukan teoritis tapi harus nyata. Solusinya ada di sini. Solusinya berkembang pesat. Dan solusinya menawarkan banyak manfaat.

    Energi bersih dan mobilitas listrik berkembang pesat, menjanjikan keamanan energi dan kemandirian energi yang lebih besar bagi berbagai negara. Energi terbarukan melampaui batu bara sebagai sumber listrik terbesar di dunia pada tahun 2025.

    Pun demikian dengan pergerakan energi bersih yang pesat ini tidak akan berhenti. Namun, kita tetap perlu lebih cerdas dan fleksibel dalam menggunakan listrik untuk meminimalkan emisi dan mencegah kelebihan beban jaringan listrik.

    Kota-kota memimpin dalam solusi iklim. Mulai dari mengatasi panas ekstrem dengan pendinginan berkelanjutan dan bangunan tahan panas, hingga alam perkotaan dan desain cerdas iklim, pemerintah daerah sedang mempersiapkan ruang kota untuk menghadapi perubahan iklim.

    Kombinasi strategis dari berbagai langkah pendinginan pasif dapat mengurangi suhu dalam ruangan hingga 8°C.

    Di sisi lain, momentum politik global untuk aksi iklim semakin meningkat. Bulan lalu, Majelis Umum PBB mengesahkan resolusi yang mendukung putusan Mahkamah Internasional yang mewajibkan negara-negara di dunia memiliki kewajiban hukum untuk melindungi manusia dan planet dari emisi gas rumah kaca.

    “Namun, kita masih memiliki banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Kenaikan suhu global kemungkinan besar akan segera melampaui batas 1,5°C yang ditetapkan dalam Perjanjian Paris,” imbuhnya.

    Oleh karena itu, Inger mengajak semua pihak untuk berupaya lebih keras untuk kembali ke tingkat ini pada akhir abad ini, sambil melindungi masyarakat dan negara – khususnya Negara-Negara Kepulauan Kecil yang Sedang Berkembang – dari dampak yang lebih kuat dan lebih sering yang akan datang.

    Ini berarti beralih dari bahan bakar fosil dalam sistem energi dengan cara yang adil, teratur, dan merata.

    Ini berarti berinvestasi dan menerapkan setiap solusi yang tersedia secara mendesak dan dalam skala besar. Ini berarti pendanaan yang kuat dan langkah-langkah adaptasi, peringatan dini, dan kesiapan bencana yang bermakna. Dan masih banyak lagi.

    Inger menambahkan, aksi multilateral terhadap perubahan iklim dapat membuat perbedaan. Pada saat diadopsinya Perjanjian Paris, pada tahun 2015, suhu global diprediksi akan meningkat hingga 3,5°C pada akhir abad ini.

    “Sekarang kita melihat peningkatan 2,3-2,5°C, jika kebijakan diterapkan untuk memenuhi semua janji iklim. Jadi mari kita terapkan kebijakan-kebijakan ini, mulai mengimplementasikannya, dan berupaya lebih keras untuk mencapai emisi nol bersih dan menurunkan suhu lebih jauh,” tandasnya.

    Kita dapat menang dalam perjuangan ini untuk masa depan planet ini. Tetapi ini membutuhkan kita semua: dari negara-negara dan individu terkaya, yang memegang tanggung jawab terbesar atas krisis iklim dan karenanya dapat membuat perbedaan terbesar, hingga aktivis iklim akar rumput dan masyarakat biasa.

    Hari Lingkungan Hidup Sedunia bukan hanya mengirimkan pesan; tetapi juga meneruskan pesan tersebut. Selama bertahun-tahun, planet ini telah mengirimkan sinyal bahwa batas kemampuannya semakin mendekat.

    Hari ini, pada Hari Lingkungan Hidup Sedunia, ribuan acara yang berfokus pada iklim berlangsung di seluruh dunia dan jutaan orang menyuarakan pendapat mereka secara daring, menyerukan aksi iklim. Azerbaijan menunjukkan pentingnya upaya untuk mengurangi emisi gas rumah kaca.

    “Mereka mendengar pesan tersebut. Kita semua harus melakukan hal yang sama, dan bertindak mengatasi perubahan iklim seolah-olah hidup kita bergantung padanya,” pungkasnya.

  • Hari Lingkungan Hidup Sedunia dan Upaya Kota-kota di Dunia Hadapi Panas Ekstrem

    Hari Lingkungan Hidup Sedunia dan Upaya Kota-kota di Dunia Hadapi Panas Ekstrem

    7cloud.asia – Dalam sambutannya di peringatan Hari Lingkungan Sedunia, Direktur Eksekutif Program Lingkungan PBB (United Nation Environment Programme/UNEP) Inger Andersen menyinggung kelahiran kampanye 50@50.

    Di mana lebih dari 50 kota di seluruh dunia bergabung dengan aktivasi 50@50 baru UNEP untuk berbagi pendekatan yang telah teruji dalam adaptasi dan kesiapan menghadapi panas ekstrem.

    Kampanye 50@50 yang diinisiasi UNEP adalah inisiatif global yang menyatukan lebih dari 50 kota untuk memperkuat ketahanan terhadap suhu ekstrem (menghadapi skenario hingga 50°C).

    Dilansir di laman resmi UNEP, unep.org, program 50@50 ini berfokus pada transisi dari sekadar “bertahan” menjadi desain ulang kota berkelanjutan.

    Kampanye ini menyoroti sejumlah tantangan yang dihadapi kota-kota di dunia akibat dampak perubahan iklim dan rencana aksi yang dilakukan untuk mengatasinya.

    Dampak itu antara lain adalah stres panas perkotaan, di mana kota-kota yang tergabung dalam kampanye ini melakukan stress test untuk mengevaluasi kerentanan wilayah mereka terhadap panas ekstrem.

    Baca: Melindungi Warga Miskin dari Panas Perkotaan

    Kota-kota yang tergabung dalam 50@50 juga bersama-sama mencari solusi berbasis alam. Inisiatif ini mendorong kota-kota di dunia memperbanyak ruang hijau dan pendinginan pasif untuk melindungi kesehatan warganya.

    Selain itu kampanye 50@50 juga mendorong kolaborasi global dengan didukung oleh UNEP dan mitra seperti C40 Cities, kota-kota di dunia berbagi strategi desain untuk mengatasi krisis iklim.

    “Kami mengundang semua kota untuk bergabung dengan 50@50 untuk membantu melindungi masyarakat, mengurangi ketidaksetaraan, dan memperkuat ketahanan perkotaan,” ujar Inger Andersen dalam sambutannya menyambut Hari Lingkungan Hidup Sedunia.

    Inger menegaskan, dunia harus bersatu untuk mengurangi metana, dan polutan super lainnya, yang dapat memberikan kemenangan cepat bagi iklim dan udara bersih.

    Dia menambahkan, aksi semakin meningkat untuk mengurangi kehilangan dan pemborosan makanan, penyebab utama emisi, meningkatkan ketahanan pangan, dan menghemat uang.

    Aksi iklim juga mewujud dalam bentuk bangunan berkelanjutan yang mendorong penurunan penggunaan energi dan mendukung pertumbuhan yang tangguh.

    Baca: Kematian Terkait Cuaca Panas Ekstrem di Negara Miskin Jauh Lebih Tinggi

    Inger menambahkan, Hari Lingkungan Hidup Sedunia menjadi momentum untuk semakin meningkatkan dukungan kepada alam – solusi iklim asli planet ini.

    “Mendukung alam sangat penting. Karena ekosistem yang sehat menyerap karbon, mengatur air, dan melindungi masyarakat. Karena restorasi ekosistem menciptakan lapangan kerja, memperkuat ekonomi, dan membantu masyarakat rentan beradaptasi.” imbuhnya.

    Mendukung alam juga akan meningkatkan kualitas udara, ketahanan perkotaan, dan kesehatan manusia – baik mental maupun fisik.

    Dan karena alam juga memainkan peran penting dalam mengurangi panas ekstrem dan memungkinkan akses yang adil terhadap pendinginan berkelanjutan.

    Inger menambahkan, momentum politik global untuk aksi iklim semakin meningkat.

    Bulan lalu misalnya, Majelis Umum PBB mengesahkan resolusi yang mendukung putusan Mahkamah Internasional bahwa negara-negara memiliki kewajiban hukum untuk melindungi manusia dan planet dari emisi gas rumah kaca.

    Baca: Program ‘Gentengisasi’ Prabowo Tak Menjawab Masalah Panas Perkotaan

    Inger mengingatkan, warga dunia masih memiliki banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Kenaikan suhu global kemungkinan besar akan segera melampaui batas 1,5°C yang ditetapkan dalam Perjanjian Paris.

    Oleh karena itu, ujarnya, kita harus berupaya lebih keras untuk kembali ke tingkat ini pada akhir abad ini, sambil melindungi masyarakat dan negara – khususnya Negara-Negara Kepulauan Kecil yang Sedang Berkembang – dari dampak yang lebih kuat dan lebih sering yang akan datang.

    Menurut Inger, ini berarti beralih dari bahan bakar fosil dalam sistem energi dengan cara yang adil, teratur, dan merata. Ini berarti berinvestasi dan menerapkan setiap solusi yang tersedia secara mendesak dan dalam skala besar.

    Hal ini juga berarti pendanaan yang kuat dan langkah-langkah adaptasi, peringatan dini, dan kesiapan bencana yang bermakna. Dan masih banyak lagi.

    Inger menegaskan bahwa aksi multilateral terhadap perubahan iklim dapat membuat perbedaan. Pada saat diadopsinya Perjanjian Paris, pada tahun 2015, suhu global diprediksi akan meningkat hingga 3,5°C pada akhir abad ini.

    Sekarang kita melihat peningkatan 2,3-2,5°C, jika kebijakan diterapkan untuk memenuhi semua janji iklim. Jadi mari kita terapkan kebijakan-kebijakan ini, mulai mengimplementasikannya, dan berupaya lebih keras untuk mencapai emisi nol bersih dan menurunkan suhu lebih jauh.

    Dunia dapat menang dalam perjuangan ini untuk masa depan planet ini. Tetapi ini membutuhkan kita semua: dari negara-negara dan individu terkaya, yang memegang tanggung jawab terbesar atas krisis iklim dan karenanya dapat membuat perbedaan terbesar, hingga aktivis iklim akar rumput dan masyarakat biasa.

  • Hari Lingkungan Hidup Sedunia: Krisis Iklim Mengancam Masa Depan Generasi Mendatang

    Hari Lingkungan Hidup Sedunia: Krisis Iklim Mengancam Masa Depan Generasi Mendatang

    7cloud.asia – Memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) menggelar aksi damai di sela gelaran car free day, Minggu (7/6/2026) di Kawasan Dukuh Atas Jakarta.

    Dalam aksiya, aktivis lingkungan Walhi membawa spanduk yang mengingatkan ancaman krisis iklim terhadap masa depan bangsa. Spanduk bertuliskan “Pulihkan Indonesia“ pun dibentangkan untuk mencuri peserta CFD.

    Dalam pernyataannya, WALHI menyebut peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 berlangsung di tengah realitas krisis iklim terus memburuk.

    Banjir rob menggerus kawasan pesisir, memaksa banyak warga kehilangan ruang hidupnya sedikit demi sedikit. Cuaca ekstrem semakin sering terjadi dan memukul petani serta nelayan yang bergantung pada pola musim yang kini kacau.

    Pengkampanye Iklim dan Isu Global Walhi, Patria Rizky Ananda mengatakan, perayaan tahunan ini justru menegaskan kondisi yang kontras, dirayakan di tengah situasi krisis yang tidak terselesaikan terutama oleh negara.

    Dia mengingatkan, krisis iklim yang saat ini terjadi adalah akibat langsung dari cara manusia mengelola lingkungan. Pola pembangunan yang terus bertumpu pada ekstraksi sumber daya alam, secara tidak langsung telah melemahkan daya dukung ekosistem.

    Baca: Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Solusi Iklim Membutuhkan Perubahan Struktural

    Hutan dibuka, ujarnya, pesisir direklamasi, dan ruang hidup dikonversi tanpa mempertimbangkan keberlanjutan. Dampaknya bukan hanya dirasakan hari ini, tetapi terakumulasi menjadi beban ekologis yang diwariskan.

    “Inilah inti persoalan hak antar generasi, generasi sekarang mengonsumsi sumber daya secara berlebihan, sementara generasi mendatang dipaksa menanggung kerusakannya,” jelas Patria.

    WALHI menghimpun data yang menunjukkan bahwa semua kebijakan tersebut tengah menjadi ancaman serius bagi lingkungan.

    Sekitar 2.000 pulau kecil di Indonesia diproyeksikan berpotensi tenggelam pada tahun 2050, mengancam kehidupan sekitar 42 juta penduduk di wilayah pesisir rendah.

    Di sektor pangan, perubahan iklim diperkirakan menurunkan produksi beras sebesar 6 persen dan jagung hingga 14 persen, mengancam ketahanan pangan nasional.

    Baca: Hari Lingkungan Hidup Sedunia dan Upaya Kota-kota di Dunia Hadapi Panas Ekstrem

    Sementara itu, lebih dari 34 persen populasi Indonesia diproyeksikan mengalami kelangkaan air pada tahun yang sama.

    Risiko kesehatan juga meningkat, dengan ancaman malnutrisi serta penyakit seperti diare dan malaria akibat perubahan ekosistem dan cuaca ekstrem. Semua ini akan paling dirasakan oleh generasi muda dan anak-anak yang hidup lebih lama di tengah krisis.

    “Situasi ini mencerminkan ketidakadilan lintas generasi yang nyata. Generasi hari ini masih memiliki kesempatan mengakses sumber daya, sementara generasi mendatang menghadapi degradasi yang jauh lebih parah,” tegas Patria..

    Dia menambahkan, hak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat menjadi semakin sulit dipenuhi. Bukan hanya soal kualitas udara atau air, tetapi juga hak atas masa depan yang layak: pekerjaan, pangan, kesehatan, dan keamanan dari bencana

    Ironisnya, banyak pendekatan yang diklaim sebagai solusi justru memperdalam krisis. Proyek-proyek dengan label hijau berskala besar tetap merusak hutan, mengubah bentang alam, dan memicu konflik ruang hidup sebagai contoh proyek hilirisasi nikel untuk transisi energi.

    Baca: Melindungi Warga Miskin dari Panas Perkotaan

    Pendekatan terus mempertahankan pola lama dengan kemasan baru. Transisi yang tidak adil hanya akan mempercepat penumpukan utang ekologis yang harus dibayar oleh generasi berikutnya.

    Karena itu, kerusakan lingkungan tidak dapat dilepaskan dari hak antar generasi. Setiap keputusan hari ini harus dilihat dampaknya terhadap mereka yang belum lahir. Generasi muda bukan hanya penerus, tetapi pemilik hak atas bumi yang sama.

    Hari Lingkungan Hidup seharusnya menjadi titik refleksi sekaligus peringatan keras. Krisis yang terjadi saat ini adalah warisan yang sedang dibentuk.

    Jika tidak segera berubah, dalam hal ini kebijakan, maka kita terus menimbun utang ekologis yang akan diwariskan secara tidak adil.

    “Dan ketika saat itu tiba, generasi mendatanglah yang akan membayar harga paling mahal dari keputusan yang tidak pernah mereka buat,” tutup Patria.

  • Hari Lingkungan Hidup Sedunia: Walhi Gorontalo Soroti Kondisi Kritis DAS Danau Limboto

    Hari Lingkungan Hidup Sedunia: Walhi Gorontalo Soroti Kondisi Kritis DAS Danau Limboto

    7cloud.asia – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Gorontalo memanfaatkan momen Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 untuk menyoroti kondisi Daerah Aliran Sungai (DAS) Limboto dan dampaknya terhadap keberlanjutan Danau Limboto.

    Direktur Eksekutif Daerah Walhi Gorontalo, Defri Sofyan mengatakan, pihaknya menggelar aksi simbolik di Danau Limboto untuk mengingatkan pentingnya perlindungan kawasan hulu yang berperan menjaga fungsi ekologis danau tersebut.

    “Danau Limboto saat ini sedang berada dalam kondisi kritis dan ancaman terbesarnya datang dari wilayah hulu,” kata Defri dikutip Antaranews.com, Sabtu (6/6/2026)

    Menurutnya, berbagai aktivitas pemanfaatan lahan di kawasan hulu perlu menjadi perhatian karena berpotensi memengaruhi fungsi daerah tangkapan air yang terhubung dengan Danau Limboto.

    Baca: Hari Lingkungan Hidup Sedunia dan Upaya Kota-kota di Dunia Hadapi Panas Ekstrem

    Berdasarkan kajian spasial yang dilakukan Walhi, terdapat area konsesi perusahaan biomassa yang berada di wilayah Sungai Limboto-Bolango-Bone.

    Walhi menilai kawasan tersebut memiliki fungsi penting dalam menjaga siklus hidrologi dan mengurangi risiko bencana ekologis.

    Mengutip data Balai Wilayah Sungai Sulawesi II, Defri menyebut laju sedimentasi Danau Limboto mencapai sekitar 5.300 ton per tahun. Sedimentasi tersebut berasal dari sejumlah sungai yang bermuara ke danau Limboto.

    Baca: Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Solusi Iklim Membutuhkan Perubahan Struktural

    Pada momentum Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Walhi Gorontalo meminta pemerintah memperkuat perlindungan ekosistem penting, mengevaluasi aktivitas yang berpotensi menimbulkan tekanan terhadap lingkungan.

    Pemerintah juga diminta meningkatkan penegakan hukum terhadap pelanggaran lingkungan, serta menjamin ruang partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sumber daya alam.

    Aksi yang digelar di Danau Limboto itu diisi dengan pembentangan spanduk, pembacaan puisi, orasi, serta penyampaian pesan lingkungan terkait perlindungan kawasan hulu dan upaya mitigasi krisis iklim.