7cloud.asia – Dalam sambutannya di peringatan Hari Lingkungan Sedunia, Direktur Eksekutif Program Lingkungan PBB (United Nation Environment Programme/UNEP) Inger Andersen menyinggung kelahiran kampanye 50@50.
Di mana lebih dari 50 kota di seluruh dunia bergabung dengan aktivasi 50@50 baru UNEP untuk berbagi pendekatan yang telah teruji dalam adaptasi dan kesiapan menghadapi panas ekstrem.
Kampanye 50@50 yang diinisiasi UNEP adalah inisiatif global yang menyatukan lebih dari 50 kota untuk memperkuat ketahanan terhadap suhu ekstrem (menghadapi skenario hingga 50°C).
Dilansir di laman resmi UNEP, unep.org, program 50@50 ini berfokus pada transisi dari sekadar “bertahan” menjadi desain ulang kota berkelanjutan.
Kampanye ini menyoroti sejumlah tantangan yang dihadapi kota-kota di dunia akibat dampak perubahan iklim dan rencana aksi yang dilakukan untuk mengatasinya.
Dampak itu antara lain adalah stres panas perkotaan, di mana kota-kota yang tergabung dalam kampanye ini melakukan stress test untuk mengevaluasi kerentanan wilayah mereka terhadap panas ekstrem.
Baca: Melindungi Warga Miskin dari Panas Perkotaan
Kota-kota yang tergabung dalam 50@50 juga bersama-sama mencari solusi berbasis alam. Inisiatif ini mendorong kota-kota di dunia memperbanyak ruang hijau dan pendinginan pasif untuk melindungi kesehatan warganya.
Selain itu kampanye 50@50 juga mendorong kolaborasi global dengan didukung oleh UNEP dan mitra seperti C40 Cities, kota-kota di dunia berbagi strategi desain untuk mengatasi krisis iklim.
“Kami mengundang semua kota untuk bergabung dengan 50@50 untuk membantu melindungi masyarakat, mengurangi ketidaksetaraan, dan memperkuat ketahanan perkotaan,” ujar Inger Andersen dalam sambutannya menyambut Hari Lingkungan Hidup Sedunia.
Inger menegaskan, dunia harus bersatu untuk mengurangi metana, dan polutan super lainnya, yang dapat memberikan kemenangan cepat bagi iklim dan udara bersih.
Dia menambahkan, aksi semakin meningkat untuk mengurangi kehilangan dan pemborosan makanan, penyebab utama emisi, meningkatkan ketahanan pangan, dan menghemat uang.
Aksi iklim juga mewujud dalam bentuk bangunan berkelanjutan yang mendorong penurunan penggunaan energi dan mendukung pertumbuhan yang tangguh.
Baca: Kematian Terkait Cuaca Panas Ekstrem di Negara Miskin Jauh Lebih Tinggi
Inger menambahkan, Hari Lingkungan Hidup Sedunia menjadi momentum untuk semakin meningkatkan dukungan kepada alam – solusi iklim asli planet ini.
“Mendukung alam sangat penting. Karena ekosistem yang sehat menyerap karbon, mengatur air, dan melindungi masyarakat. Karena restorasi ekosistem menciptakan lapangan kerja, memperkuat ekonomi, dan membantu masyarakat rentan beradaptasi.” imbuhnya.
Mendukung alam juga akan meningkatkan kualitas udara, ketahanan perkotaan, dan kesehatan manusia – baik mental maupun fisik.
Dan karena alam juga memainkan peran penting dalam mengurangi panas ekstrem dan memungkinkan akses yang adil terhadap pendinginan berkelanjutan.
Inger menambahkan, momentum politik global untuk aksi iklim semakin meningkat.
Bulan lalu misalnya, Majelis Umum PBB mengesahkan resolusi yang mendukung putusan Mahkamah Internasional bahwa negara-negara memiliki kewajiban hukum untuk melindungi manusia dan planet dari emisi gas rumah kaca.
Baca: Program ‘Gentengisasi’ Prabowo Tak Menjawab Masalah Panas Perkotaan
Inger mengingatkan, warga dunia masih memiliki banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Kenaikan suhu global kemungkinan besar akan segera melampaui batas 1,5°C yang ditetapkan dalam Perjanjian Paris.
Oleh karena itu, ujarnya, kita harus berupaya lebih keras untuk kembali ke tingkat ini pada akhir abad ini, sambil melindungi masyarakat dan negara – khususnya Negara-Negara Kepulauan Kecil yang Sedang Berkembang – dari dampak yang lebih kuat dan lebih sering yang akan datang.
Menurut Inger, ini berarti beralih dari bahan bakar fosil dalam sistem energi dengan cara yang adil, teratur, dan merata. Ini berarti berinvestasi dan menerapkan setiap solusi yang tersedia secara mendesak dan dalam skala besar.
Hal ini juga berarti pendanaan yang kuat dan langkah-langkah adaptasi, peringatan dini, dan kesiapan bencana yang bermakna. Dan masih banyak lagi.
Inger menegaskan bahwa aksi multilateral terhadap perubahan iklim dapat membuat perbedaan. Pada saat diadopsinya Perjanjian Paris, pada tahun 2015, suhu global diprediksi akan meningkat hingga 3,5°C pada akhir abad ini.
Sekarang kita melihat peningkatan 2,3-2,5°C, jika kebijakan diterapkan untuk memenuhi semua janji iklim. Jadi mari kita terapkan kebijakan-kebijakan ini, mulai mengimplementasikannya, dan berupaya lebih keras untuk mencapai emisi nol bersih dan menurunkan suhu lebih jauh.
Dunia dapat menang dalam perjuangan ini untuk masa depan planet ini. Tetapi ini membutuhkan kita semua: dari negara-negara dan individu terkaya, yang memegang tanggung jawab terbesar atas krisis iklim dan karenanya dapat membuat perbedaan terbesar, hingga aktivis iklim akar rumput dan masyarakat biasa.

Leave a Reply