Tag: hari lingkungan hidup sedunia

  • Dari Tragedi Teluk Minamata Lahirlah Hari Lingkungan Hidup Sedunia

    Dari Tragedi Teluk Minamata Lahirlah Hari Lingkungan Hidup Sedunia

    7cloud.asia – Hari ini, Senin 5 Juni 2023) warga dunia memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia atau World Environmet Day. 

    Tahun ini, peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia berfokus pada isu plastik dan solusinya dengan mengusung tagar #BeatPlasticPollution.

    Hari Lingkungan Hidup Sedunia memiliki makna yang dalam guna membangun kesadaran individu untuk mengambil tindakan nyata demi kelestarian lingkungan dan kehidupan di Bumi.

    Kegiatan untuk merayakan Hari Lingkungan Hidup Sedunia antaralain meliputi demonstrasi jalanan dan parade untuk membangun kepedulian pada lingkungan, konser, penanaman pohon, hingga kampanye pembersihan lingkungan.

    Baca: Hari Spesies Terancam Punah

    Di banyak negara, acara tahunan Hari Lingkungan Hidup Sedunia juga digunakan untuk meningkatkan perhatian dan tindakan politik terhadap perbaikan lingkungan.

    Mengapa Hari Lingkungan Hidup Sedunia dirayakan setiap tanggal 5 Juni? Berikut  sejarah, tema dan logonya.

    Hari Lingkungan Hidup Sedunia diperingati pada tanggal 5 Juni setiap tahunnya untuk membangkitkan kesadaran tentang pentingnya kelestarian alam serta penghijauan di Bumi.

    Setiap tahunnya ada isu khusus yang berbeda diangkat untuk memperingati Hari Lingkungan Sedunia. 

    Baca: Terdampak perubahan iklim Indonesia bisa klaim dana loss and damage

    Dilansir dari Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion Jawa KLHK, pada 1972, Majelis Umum PBB menyepakati bahwa tanggal 5 Juni sebagai Hari Lingkungan Hidup Sedunia.

    Hal ini menyangkut permasalahan lingkungan yang sudah menjadi perhatian dan kekhawatiran masyarakat internasional.

    Saat itu, Mantan Sekretaris Jenderal PBB mengatakan untuk pertama kalinya dalam sejarah umat manusia telah terjadi krisis di seluruh penjuru dunia.

    Baca: Negara miskin paling merasakan dampak perubahan iklim

    Hal ini juga dialami negara maju maupun negara berkembang. Tanda-tanda ancaman terhadap lingkungan ini, dapat dilihat sejak lama antara lain:

    • Ledakan jumlah penduduk
    • Integrasi yang tidak memadai antara teknologi yang amat kuat dengan keperluan lingkungan
    • Kerusakan lahan budidaya
    • Pembangunan tidak berencana dari kawasan perkotaan
    • Menghilangnya ruang terbuka
    • Bahaya kepunahan yang terus meningkat di antara hewan dan tumbuhan
    • Kondisi lingkungan pada 1960-an hingga 1970-an dinilai sangat memprihatinkan hingga menimbulkan kekhawatiran masyarakat dunia.

    Baca: Nasib nelayan terombang-ambing akibat perubahan iklim

    Salah satu masalah lingkungan yang mendorong lahirnya Hari Lingkungan Hidup Sedunia adalah wabah penyakit yang menyerang warga Teluk Minamata Jepang.

    Teluk Minamata adalah saksi sejarah kelam dari dahsyatnya dampak kelalaian manusia dalam menanggulangi pencemaran merkuri.

    Pencemaran merkuri ini salah satunya bersumber dari kegiatan Pertambangan Emas Skala Kecil (PESK).  PESK masih mengandalkan merkuri dalam proses ekstraksi emas.

    Minamata merupakan sindrom yang merusak fungsi saraf. Dilansir goldismia.com, ratusan ribu warga Minamata secara misterius mengalami kelumpuhan, gangguan saraf, kanker, bahkan sampai berujung kematian.

    Baca: Mekanisme perdagangan karbon ditataulang, ini tujuannya

    Tidak ada yang menyangka kalau penyakit yang sekarang dinamakan penyakit Minamata ini disebabkan oleh satu zat beracun bernama merkuri.

    Selain itu, di wilayah Eropa terjadi kabut asap yang berdampak buruk terhadap kesehatan. Asap tersebut diduga merupakan dampak yang ditimbulkan pembakaran hutan di berbagai wilayah untuk pembangunan di tahun 1960.

    Karena berbagai alasan itulah, negara-negara di dunia melalui PBB melaksanakan konferensi terkait lingkungan hidup di Stockholm, Swedia, pada tanggal 5 sampai 16 Juni 1972.

    Negara yang menjadi pengusul pertama diadakannya Hari Lingkungan Hidup Sedunia antara lain Jepang dan Senegal.

    Setelah melakukan diskusi yang panjang, konferensi PBB tersebut menghasilkan beberapa kesepakatan terkait kondisi lingkungan termasuk menetapkan 5 Juni sebagai Hari Lingkungan Hidup Sedunia.

     

  • 50 Tahun Hari Lingkungan Hidup Sedunia: Polusi Plastik Ditargetkan Turun 80 Persen pada 2040

    50 Tahun Hari Lingkungan Hidup Sedunia: Polusi Plastik Ditargetkan Turun 80 Persen pada 2040

    7cloud.asia – Tahun ini masyarakat dunia memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia ke-50 dengan fokus pada solusi polusi plastik. Perayaan resmi Hari Lingkungan Hidup Sedunia diadakan di Abidjan, Pantai Gading.

    Tema solusi untuk polusi plastik pada Hari Lingkungan Hidup Sedunia ini dinilai sangat tepat, setelah berakhirnya negosiasi putaran kedua mengenai kesepakatan global untuk mengakhiri polusi plastik di Prancis.

    Umat manusia di seluruh dunia memproduksi lebih dari 430 juta ton plastik setiap tahunnya, dua pertiganya merupakan produk berumur pendek yang segera menjadi limbah.

    Sementara biaya sosial dan ekonomi dari polusi plastik berkisar antara 300 hingga 600 miliar dolar AS per tahun.

    Baca: Baru dua produsen di Indonesia yang benar-benar kelola sampah plastiknya

    Menurut laporan Program Lingkungan PBB (UNEP) baru-baru ini, polusi plastik dapat berkurang hingga 80 persen pada tahun 2040.

    Hal itu bakal terwujud jika negara dan perusahaan membuat kebijakan mendalam dan ada perubahan mendasar di pasar dengan menggunakan teknologi yang ada.

    “Demi kesehatan planet ini, demi kesehatan kita, demi kemakmuran kita, kita harus mengakhiri polusi plastik. Ini akan memerlukan desain ulang menyeluruh tentang cara kami memproduksi, menggunakan, memulihkan, dan membuang plastik dan produk yang mengandungnya,” kata Inger Andersen, Direktur Eksekutif UNEP.

    “Bagaimana dunia memproduksi, mengkonsumsi, dan membuang plastik telah menciptakan bencana. Tapi itu salah satu yang bisa kita akhiri dengan mematikan keran polusi plastik. Pada Hari Lingkungan Hidup Sedunia, saya mengajak semua orang untuk bergabung dengan gerakan global. Dan bantu kami mengalahkan polusi plastik, untuk selamanya.”

    Baca: Robries mengubah sampah plastik jadi furnitur cantik

    Selama lima dekade terakhir, Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia telah berkembang menjadi salah satu platform global terbesar untuk lingkungan.

    Puluhan juta orang berpartisipasi dalam peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia, baik secara daring maupun melalui berbagai aktivitas, acara, dan tindakan langsung di seluruh dunia.

    “Plastik terbuat dari bahan bakar fosil – semakin banyak plastik yang kita hasilkan, semakin banyak bahan bakar fosil yang kita bakar, dan semakin buruk kita membuat krisis iklim. Tapi kami punya solusinya,” kata Sekretaris Jenderal PBB António Guterres dalam pesan Hari Lingkungan Hidup Sedunia.

    Ia menambahkan, “Kita harus bekerja sebagai satu kesatuan – pemerintah, perusahaan, dan konsumen – untuk menghentikan ketergantungan terhadap plastik, memperjuangkan nol limbah, dan membangun ekonomi sirkular yang sesungguhnya.”

    Baca: Solusi sampah plastik di Indonesia

    Berbicara pada acara resmi di Espace Latrille Events Deux Plateaux di Abidjan, Jean-Luc Assi, Menteri Lingkungan Hidup dan Pembangunan Berkelanjutan Pantai Gading, mengatakan Pantai Gading mengeluarkan keputusan pada tahun 2013 yang melarang produksi, impor dan pemasaran, kepemilikan dan penggunaan kantong plastik.

    “Ini telah mendukung bisnis untuk beralih ke kemasan yang dapat digunakan kembali dan dapat terurai secara hayati.” ujarnya.

    Kota terbesar di Pantai Gading, Abidjan, juga diarahkan untuk menjadi pusat bagi perusahaan baru yang ingin mengalahkan polusi plastik. 

    Baca: Cara asyik kurangi sampah plastik

    “Hari Lingkungan Hidup Sedunia membantu menyoroti tantangan mendesak yang kita hadapi saat ini. Tantangan seperti perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan polusi. Polusi plastik menyentuh ketiga tantangan tersebut,” kata Vivianne Heijnen, Menteri Lingkungan Hidup Belanda.

    “Sangat penting bagi kami untuk terus meningkatkan kesadaran, mengumpulkan praktik terbaik, dan memastikan komitmen dari semua pemangku kepentingan. Saya berharap edisi Hari Lingkungan Hidup Sedunia ini akan terbukti menjadi peristiwa penting dalam perjuangan kita bersama untuk mengalahkan polusi plastik.” imbuhnya

    Baca:  KLHK ajak warga ‘boikot’ produk yang tak kelola sampah plastiknya

    Upaya mengurangi produksi dan penggunaan plastik juga terus dilakukan. Pada sesi kedua Intergovernmental Negotiating Committee (INC) tentang polusi plastik di Paris, Prancis, Ketua INC diberi mandat untuk menyiapkan draft nol perjanjian internasional yang mengikat secara hukum tentang polusi plastik, termasuk di lingkungan laut.

    Pada bulan Februari 2022, pada sesi kelima Majelis Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEA-5.2), sebuah resolusi bersejarah diadopsi untuk mengembangkan instrumen yang mengikat secara hukum internasional tentang polusi plastik, termasuk di lingkungan laut dengan ambisi untuk menyelesaikan negosiasi pada akhir tahun 2024.

    Instrumen tersebut akan didasarkan pada pendekatan komprehensif yang membahas siklus hidup penuh plastik. Sesi ketiga INC akan berlangsung di Nairobi, Kenya, pada November 2023.

    Sumber: UNEP

  • Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2024: Upaya Dunia untuk Merestorasi Lahan dan Melawan Penggurunan

    Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2024: Upaya Dunia untuk Merestorasi Lahan dan Melawan Penggurunan

     

    7cloud.asia – Hari ini, Rabu 5 Juni 2024 jutaan warga dunia kembali memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia.

    Dipimpin oleh Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa ( UNEP ), dan diadakan setiap tahun sejak tahun 1973, Hari Lingkungan Hidup Sedunia telah berkembang menjadi platform global terbesar untuk penjangkauan lingkungan hidup.

    Kerajaan Arab Saudi akan menjadi tuan rumah Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2024 dengan fokus pada restorasi lahan, penggurunan, dan ketahanan terhadap kekeringan.

    Restorasi lahan adalah pilar utama Dekade Restorasi Ekosistem PBB (2021-2030), sebuah seruan untuk perlindungan dan kebangkitan ekosistem di seluruh dunia, yang sangat penting untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan .

    Dalam pernyataannya, Direktur Eksekutif UNEP Inger Andersen mengatakan, Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2024 berfokus pada restorasi lahan, penggurunan, dan ketahanan terhadap kekeringan.

    Baca Juga: Dari Tragedi Teluk Minamata Lahirlah Hari Lingkungan Hidup Sedunia

    Sebagai negara yang menghadapi degradasi, penggurunan, dan kekeringan, ujarnya, Kerajaan Arab Saudi berinvestasi besar dalam memberikan solusi Inisiatif Hijau Timur Tengah.

    “Dan ini bertindak secara global, seperti yang kita lihat ketika presiden G20 di Arab Saudi menghasilkan penerapan Inisiatif Restorasi Lahan Global,” ujarnya sebagaimana dikutip laman resmi UNEP.

    Dia menegaskan, tindakan dan kepemimpinan seperti yang dilakukan Arab Saudi ini sangat penting saat planet Bumi menghadapi tiga krisis yang semakin parah.

    Dunia sedang menghadapi krisis perubahan iklim, krisis alam dan hilangnya keanekaragaman hayati, serta krisis polusi dan limbah.

    Miliaran hektar lahan terdegradasi, mempengaruhi hampir separuh populasi dunia dan mengancam separuh PDB global, masyarakat pedesaan, petani kecil, dan masyarakat sangat miskin adalah kelompok yang paling terkena dampaknya.

    Baca Juga: WMO Kembali Ingatkan Tahun 2023 sebagai Tahun Terpanas Sepanjang Pencatatan Suhu Bumi

    Namun restorasi lahan dapat membalikkan gelombang degradasi lahan, kekeringan dan penggurunan.

    Setiap dolar yang diinvestasikan dalam restorasi akan dapat menghasilkan hingga 30 dolar dalam jasa ekosistem.

    Restorasi meningkatkan mata pencaharian, menurunkan kemiskinan dan membangun ketahanan terhadap cuaca ekstrem perubahan iklim.

    Memulihkan hanya 15 persen lahan dan menghentikan konversi lebih lanjut dapat menghindari hingga 60 persen kepunahan spesies yang diperkirakan bisa terjadi.

    Namun, lanjutnya, kita juga harus mengakhiri penyebab degradasi lahan, kekeringan, dan penggurunan, seperti perubahan iklim. Tahun lalu, rekor suhu terpecahkan.

    Baca Juga: WMO: Kenaikan Suhu Global Picu Bencana Akan Lebih Sering Terjadi

    Sebagian besar dunia merasakan dampaknya, tidak hanya berupa cuaca panas namun juga badai, banjir, dan kekeringan tanpa pelanggaran, perubahan iklim akan seperti memberi dengan satu tangan dan menerima dengan tangan yang lain.

    Sehingga negara-negara G20 harus menunjukkan kepemimpinan dalam seluruh agenda iklim – seperti yang telah dan terus dilakukan oleh Kerajaan Arab Saudi dalam restorasi lahan.

    Ada harapan nyata. Negara-negara telah berjanji untuk merestorasi satu miliar hektar, yang merupakan wilayah yang lebih luas dari China.

    “Jika mereka mewujudkannya, maka hal ini akan menjadi sangat besar,” imbuh Inger.

    Melalui Hari Lingkungan Hidup Sedunia dan dengan menjadi tuan rumah konferensi para pihak Konvensi PBB untuk Memerangi Penggurunan pada bulan Desember ini, Kerajaan Arab Saudi dapat membangun momentum dan tindakan menuju tujuan restorasi ini.

    Sekaligus menahan laju perubahan iklim, melindungi alam dan meningkatkan mata pencaharian dan ketahanan pangan miliaran orang di seluruh dunia.

     

  • Hari Lingkungan Hidup Sedunia: Save The Children Ingatkan Dampak Krisis Iklim pada Anak

    Hari Lingkungan Hidup Sedunia: Save The Children Ingatkan Dampak Krisis Iklim pada Anak

    7cloud.asia – Save The Children Indonesia mengingatkan efek domino krisis iklim yang sedang terjadi di Indonesia bisa berdampak pada hak-hak anak.

    Chief (Interim) Advocacy, Campaign, Communication and Media Save the Children Indonesia Tata Sudrajat dalam keterangannya mengatakan berbagai penyakit mengintai anak-anak akibat krisis iklim.

    “Kekeringan yang berlangsung terus-menerus akan menempatkan anak pada posisi paling rentan, yang terpaksa mengorbankan waktu belajar dan berisiko terhadap kesehatan mereka, seperti malaria, demam berdarah, infeksi pernafasan, dan penyakit kulit,” katanya, dikutip Antaranews.com, Rabu (5/6/2024).

    Tata menyampaikan hal ini berkaitan dengan peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang diperingati pada 5 Juni 2024 dengan tema “Restorasi Generasi”.

    Menurut Save The Children, krisis iklim dan hak anak sering dianggap tidak ada korelasinya, sehingga topik ini tidak muncul ke permukaan.

    Baca Juga: Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2024: Upaya Dunia untuk Merestorasi Lahan dan Melawan Penggurunan

    Pembicaraan tentang krisis iklim, menurutnya, masih dominan mengenai perubahan fisik lingkungan.

    “Ini tidak bisa diabaikan, kita harus segera bertindak untuk memastikan hak-hak mereka tetap terpenuhi walaupun dalam situasi krisis,” ujar dia.

    Dia menjelaskan bahwa berdasarkan kajian cepat Save the Children Indonesia pada November 2023, disebutkan bahwa kekeringan berdampak pada kesehatan, gangguan pada pendidikan anak serta mengancam kehidupan sehari-hari masyarakat

    Penelitian yang berfokus di tiga kabupaten, yakni Lombok Barat, Sumba Timur dan Kupang ini berfokus pada dampak dan langkah kesiapsiagaan yang harus segera dilakukan dalam menghadapi kekeringan di Indonesia.

    Dampak kekeringan pada pendidikan anak-anak dapat terlihat dari bagaimana anak-anak sulit berkonsentrasi saat pelajaran berlangsung, misalnya di Lombok Barat, anak-anak harus bangun pada jam tiga pagi untuk mengantre mengambil air sebelum pergi ke sekolah.

    Baca Juga: 50 Tahun Hari Lingkungan Hidup Sedunia: Polusi Plastik Ditargetkan Turun 80 Persen pada 2040

    “Di Sumba Timur, NTT misalnya, anak-anak harus menempuh perjalanan 1,5–2 kilometer ke mata air setiap jam lima pagi,” ujar dia.

    Selain itu, isu kesehatan, malaria dan demam berdarah dapat menjadi problema akibat kelangkaan air yang menciptakan lingkungan yang ideal bagi perkembangbiakan nyamuk pembawa penyakit.

    Kurangnya sumber air yang memadai memaksa masyarakat untuk menyimpan air, sehingga secara tidak sengaja menciptakan tempat berkembang biak bagi nyamuk.

    Tidak hanya malaria dan demam berdarah, risiko penyakit pernafasan dan penyakit kulit, seperti infeksi bakteri dan jamur pada kulit, namun tidak terbatas pada impetigo, kudis, dan dermatitis jamur bisa terjadi akibat ketidakmampuan untuk menjaga praktik kebersihan.

    Selain itu, gagal panen akibat kekeringan mengakibatkan nutrisi anak dan ibu hamil tidak terpenuhi akibat penurunan ketersediaan makanan yang bergizi.

    Baca Juga: Dari Tragedi Teluk Minamata Lahirlah Hari Lingkungan Hidup Sedunia

    Tidak hanya itu, gagal panen juga berefek pada ekonomi keluarga sehingga berdampak pada kelanjutan pendidikan anak.

    Save the Children Indonesia, kata dia, menyerukan kepada pemerintah, masyarakat sipil, dan sektor swasta untuk segera berkolaborasi dalam memperkuat langkah-langkah mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim.

    Menurut dia, tindakan kolektif yang cepat dan terarah sangat diperlukan untuk mengkaji lebih jauh dampak perubahan iklim terhadap kesejahteraan keluarga dan anak.

    Dia juga mengajak pihak terkait untuk mentransfer istilah-istilah iklim ke dalam bahasa yang lebih mudah difahami masyarakat, orangtua, dan anak, serta menyampaikan pesan-pesan mitigasi dan adaptasi dalam bahasa masyarakat.

  • Hari Lingkungan Hidup Sedunia: Komunitas Peduli Lingkungan Bersihkan Sungai Ciliwung

    Hari Lingkungan Hidup Sedunia: Komunitas Peduli Lingkungan Bersihkan Sungai Ciliwung

    7cloud.asia – Memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang jatuh setiap 5 Juni, PLN dengan menggandeng sejumlah komunitas peduli lingkungan di Jakarta menggelar aksi bersih Sungai Ciliwung.

    General Manager PLN Unit Induk Distribusi (UID) Jakarta Raya, Lasiran mengatakan, aksi bersih Sungai Ciliwung dalam rangka Hari Lingkungan Hidup Sedunia ini diikuti 200 sukarelawan dari berbagai kalangan.

    Relawan itu terdiri atas pegawai PLN UID Jakarta Raya, komunitas, dan pegawai Pemerintah Kota Jakarta Selatan.

    Mereka berhasil mengumpulkan sekitar 600 kilogram sampah dari bantaran Sungai Ciliwung di kawasan Jagakarsa, Jakarta Selatan.

    Baca: Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2024

    “Sungai Ciliwung merupakan sumber air penting bagi warga Jakarta dan ini merupakan wujud komitmen PLN untuk menjaganya agar tetap bersih dan bebas dari sampah,” kata Lasiran dikutip Antaranews.com, Rabu (5/6/2024).

    Lasiran menjelaskan ratusan sukarelawan ini terdiri dari pegawai PLN yang tergabung dalam program “Employee Green Involvement”

    Sementara komunitas yang terlibat adalah Saung Bambon dan Bank Gesit yang aktif dalam kegiatan lingkungan, serta partisipasi Pemerintah Kota Jakarta Selatan.

    Sebanyak 600 kilogram sampah yang berhasil dikumpulkan dari Sungai Ciliwung kemudian dipilah-pilah oleh para sukarelawan.

    Baca: Di Hari Lingkungan Hidup Sedunia, dnia diingatkan dampak krisis iklim pada anak

    Selanjutnya, sampah tersebut akan dikirimkan ke Bank Sampah Gesit untuk diolah. Sampah organik akan diolah menjadi pupuk kompos, sedangkan sampah anorganik akan didaur ulang menjadi barang yang bermanfaat.

    Sementara itu, Kepala Unit Penanganan Sampah Badan Air Dinas Lingkungan Hidup Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Dadang Cahya Rusdiana mengatakan, dari sungai Ciliwung, sekitar 300 ton sampah per hari dikirimkan ke Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu Bantargebang.

    “Kegiatan seperti ini sangat penting untuk mengurangi volume sampah di Sungai Ciliwung. Kami sangat menghargai inisiatif ini dan berharap semakin banyak pihak yang terlibat dalam menjaga kebersihan lingkungan,” kata Dadang

    Dalam kesempatan tersebut, perwakilan dari masing-masing sektor juga turut menandatangani komitmen bersama dalam rangka pelestarian lingkungan, khususnya di sekitar daerah aliran sungai Ciliwung.

    Baca: Sejarah Hari Lingkungan Hidup Sedunia

  • Hari Lingkungan Hidup Sedunia: Sekjen PBB Kembali Serukan inggalkan Bahan Bakar Fosil untuk Hadang Krisis Iklim

    Hari Lingkungan Hidup Sedunia: Sekjen PBB Kembali Serukan inggalkan Bahan Bakar Fosil untuk Hadang Krisis Iklim

     

    7cloud.asia – Krisis iklim telah menjadi isu utama selama Antonio Guterres menjabat sebagai Sekjen PBB sejak tujuh setengah tahun yang lalu.

    Ia telah berulang kali menyerukan penghentian penggunaan batu bara dan bahan bakar fosil lainnya dan beralih ke energi terbarukan yang lebih bersih untuk menghadang laju krisis iklim.

    Energi terbarukan yang lebih bersih, seperti tenaga angin dan tenaga surya – telah menghasilkan hampir sepertiga kapasitas listrik dunia.

    Peringatan ini kembali disuarakan Guterres di Hari Lingkungan Hidup Sedunia Rabu (5/6/2024) dengan mendesak bank-bank untuk berhenti membiayai proyek-proyek minyak, batu bara dan gas.

    Sebagai gantinya, Guterres mengajak dunia perbankan berinvestasi pada energi terbarukan.

    Ia meminta negara-negara untuk melarang iklan dari produsen bahan bakar fosil dan mengatakan bahwa platform berita dan teknologi harus berhenti menerima iklan mereka.

    “Saya menyerukan kepada para pemimpin industri bahan bakar fosil untuk memahami bahwa jika Anda tidak berada di jalur cepat menuju transformasi energi bersih, Anda membawa bisnis Anda ke jalan buntu – dan menyeret kita semua,” ujarnya.

    Baca Juga: Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2024: Upaya Dunia untuk Merestorasi Lahan dan Melawan Penggurunan

    Guterres menambahkan bahwa industri minyak dan gas hanya menginvestasikan 2,5 persen dari total pengeluaran untuk energi bersih pada tahun lalu.

    Ia mendesak perusahaan-perusahaan hubungan masyarakat dan pelobi untuk berhenti mendukung industri “penghancuran planet” ini dan meninggalkan klien-klien tersebut.

    “Banyak orang di industri bahan bakar fosil yang tanpa malu-malu melakukan greenwashing, bahkan ketika mereka berusaha untuk menunda aksi iklim – dengan lobi, ancaman hukum, dan kampanye iklan yang besar-besaran,” katanya.

    Di Hari Lingkungan Hidup Sedunia ini, Guterres juga menegaskan kembali pendiriannya bahwa mereka yang paling sedikit berkontribusi terhadap krisis iklim adalah mereka yang paling menderita,

    Masuk dalam kelompok ini terutama negara-negara miskin di Afrika dan negara-negara kepulauan kecil.

    Negara-negara ekonomi utama G20 menghasilkan 80 persen emisi dunia justru lebih sedikit merasakan dampak krisis iklim.

    “Sangat memalukan bahwa mereka yang paling rentan dibiarkan terlantar, berjuang mati-matian untuk menghadapi krisis iklim yang tidak mereka ciptakan,” katanya.

    Baca Juga: 50 Tahun Hari Lingkungan Hidup Sedunia: Polusi Plastik Ditargetkan Turun 80 Persen pada 2040

    Guterres memperingatkan bahwa perbedaan suhu antara 1,5 dan 2 derajat celcius dapat berarti kelangsungan hidup atau kepunahan bagi beberapa negara kepulauan kecil dan masyarakat pesisir.

    “1,5 derajat bukanlah sebuah target. Itu bukan tujuan. Ini adalah batas fisik,” katanya.

    Pemanasan global, ujarnya, telah merusak lautan di planet ini, terumbu karang dan ekosistem laut, serta mencairnya es laut.

    Di seluruh dunia, banjir besar, kekeringan, gelombang panas, kebakaran hutan, dan bencana lain yang berhubungan dengan iklim menjadi semakin sering terjadi.

    Guterres menegaskan bahwa harus ada lebih banyak pembiayaan dan dukungan teknis dari negara-negara kaya untuk mengurangi dampak iklim dan berinvestasi pada energi terbarukan bagi negara-negara berpenghasilan rendah.

    Ia juga mengatakan bahwa sistem peringatan dini global harus tersedia pada tahun 2027, untuk melindungi semua orang di Bumi dari cuaca, air, dan iklim yang berbahaya.

    Dia mendesak warga untuk terus membuat suara mereka didengar dan mengatakan bahwa inilah saatnya bagi para pemimpin untuk memutuskan di pihak siapa mereka berada.

    “Sekarang adalah waktunya untuk menggerakkan; sekarang adalah waktunya untuk bertindak; sekarang adalah waktunya untuk menyampaikan,” ujarnya yang disambut tepuk tangan meriah. “Ini adalah momen kebenaran kita.”

    Sumber: VOA Indonesia

  • Peringati Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Sekjen PBB Ingatkan Dunia Menjauh dari Penurunan Emisi

    Peringati Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Sekjen PBB Ingatkan Dunia Menjauh dari Penurunan Emisi

    7cloud.asia – Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres mengatakan bahwa dunia sedang berada pada “momen genting” untuk mencapai target untuk membatasi pemanasan global yang ditetapkan dalam Perjanjian Paris 2015.

    Pernyataan ini disampaikan Guterres menyambut Hari Lingkungan Hidup Sedunia pada Rabu (5/6/2024)

    Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2024, ujar Guterres, diperingati saat planet Bumi baru saja mengalami 12 bulan terpanas secara berturut-turut sepanjang sejarah.

    Baca Juga: Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2024: Upaya Dunia untuk Merestorasi Lahan dan Melawan Penggurunan

    “Kenyataannya, hampir sepuluh tahun sejak Perjanjian Paris diberlakukan, target untuk membatasi pemanasan global jangka panjang hingga 1,5 derajat Celcius masih menggantung di ujung tanduk,” kata Guterres di hadapan pengunjung Museum Sejarah Alam Amerika di New York, AS

    Sebuah pameran mengenai dinosaurus yang telah punah dihelat guna memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia di museum tersebut menjadi pengingat lain akan kondisi planet yang memburuk.

    “Organisasi Meteorologi Dunia melaporkan hari ini bahwa ada kemungkinan 80 persen suhu rata-rata tahunan global akan melebihi batas 1,5 derajat dalam setidaknya satu dari lima tahun ke depan,” katanya.

     

    Baca Juga: Dari Tragedi Teluk Minamata Lahirlah Hari Lingkungan Hidup Sedunia

    “Kita sedang bertaruh dengan planet kita,” ujarnya memperingatkan dalam sebuah pidato khusus tentang iklim yang ia sampaikan di bawah patung paus biru yang terkenal di museum tersebut.

    Guterres mengatakan bahwa 1 persen negara terkaya mengeluarkan polusi sebanyak dua pertiga dari seluruh umat manusia.

    Ia juga mengatakan bahwa Bumi menghasilkan sekitar 40 miliar ton karbon dioksida setiap tahunnya dan akan menghabiskan “anggaran karbon” yang tersisa sekitar 200 miliar ton sebelum tahun 2030.

    Baca Juga: Hari Lingkungan Hidup Sedunia: Save The Children Ingatkan Dampak Krisis Iklim pada Anak

    Guterres menambahkan, emisi global harus turun sebesar 9 persen setiap tahun antara saat ini dan 2030 untuk menjaga batas 1,5 derajat Celcius. Tahun lalu, emisi global naik 1 persen.

    Biaya untuk mengatasi dampak krisis iklim akan terus bertambah tanpa adanya tindakan yang berarti.

    “Meskipun besok emisi mencapai nol, sebuah studi baru-baru ini menemukan bahwa kekacauan iklim masih akan menelan biaya setidaknya 38 triliun dolar per tahun pada tahun 2050,” kata Guterres.

    Sumber: VOA Indonesia

     

  • Peringati Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Ini yang Dilakukan Masyarakat Dunia

    Peringati Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Ini yang Dilakukan Masyarakat Dunia

    7cloud.asia – Komunitas, masyarakat sipil, pelaku bisnis, dan pemerintah di seluruh dunia pada Kamis (5/6/2025) memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia dengan tema #BeatPlasticPollution.

    Pemerintah, bisnis, lembaga pendidikan, masyarakat sipil, dan komunitas di seluruh dunia bergabung dalam upaya untuk mengadvokasi diakhirinya polusi plastik dan mengatasi polusi plastik di tempat mereka masing-masing

    Lebih dari 2.500 acara memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia di penjuru dunia, dan jutaan orang terlibat dengan tagar #WorldEnvironmentDay dan #BeatPlasticPollution – yang menjadi tren di seluruh dunia.

    Di Meksiko, Presiden Claudia Sheinbaum meluncurkan Strategi Nasional untuk Pembersihan dan Konservasi Pantai dan Pesisir (2025-2030) pada tanggal 5 Juni, yang bertujuan untuk menghilangkan 100 persen sampah plastik dari pantai dan pesisir negara tersebut dalam waktu lima tahun.

    Bandara di sejumlah kota di dunia, seperti Baghdad, Beijing, Brussels, Jenewa, dan Kansai (Jepang) yang menjangkau jutaan pelancong dihiasi pesan publik tentang polusi plastik

    Baca: UNEP terus dorong lahirnya perjanjian pembatasan plastik global

    Hal yang sama juga terjadi di pusat transportasi umum besar lainnya, termasuk stasiun metro di Beijing dan Mexico City.

    Beberapa kota menyala untuk menandai Hari Lingkungan Hidup Sedunia – papan reklame di Times Square New York memuat pesan Hari Lingkungan Hidup Sedunia, sementara Jet d’Eau yang ikonik di Jenewa menyala dalam warna hijau

    Demikian juga halnya dengan balai kota dan gedung-gedung terkemuka di Brussels dan kota-kota Belgia lainnya.

    Pada tanggal 4 Juni, Kemitraan Global untuk Polusi Plastik dan Sampah Laut (GPML), di mana UNEP bertindak sebagai sekretariatnya – meluncurkan Global Plastics Hub, sebuah platform terpadu untuk data, pengetahuan, dan kolaborasi guna mengakhiri polusi plastik.

    Hub ini dimaksudkan untuk menawarkan satu titik akses untuk informasi akurat dan terkini tentang sampah laut, polusi plastik, dan topik terkait, serta forum virtual tempat para pemangku kepentingan dapat berkumpul.

     

    Baca: Sirkularitas jadi cara selamatkan Bumi dari banjir polusi plastik

    Sebagai bagian dari Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2025, inisiatif UNEP, Tide Turners Plastic Challenge, mengadakan pertemuan puncak di India yang menampilkan kisah-kisah inspiratif dan praktik terbaik dari para pemimpin muda di seluruh negeri yang telah mengambil langkah-langkah berarti untuk mengurangi sampah plastik di komunitas mereka.

    Tide Turners adalah salah satu gerakan lingkungan terbesar yang dipimpin oleh kaum muda, yang memobilisasi kaum muda untuk mengambil tindakan melawan polusi plastik.

    Sejak dimulai di Kenya, program ini telah berkembang secara global dan telah melibatkan lebih dari 980.000 pemuda di lebih dari 60 negara sebagai penggerak utama keberlanjutan lingkungan, khususnya dalam kampanye global untuk #BeatPlasticPollution.

    Di Chicago, mural setinggi 245 kaki berjudul Stand Tall, yang dibuat oleh seniman Belanda terkenal Mr. Super A, diresmikan pada tanggal 31 Mei di cakrawala Gedung Prudential (Pru) yang ikonik.

    Mural tersebut dikurasi oleh lembaga nirlaba (SAM), dan merupakan bagian dari seri global #EcosystemRestorationMurals, sebuah inisiatif oleh SAM bekerja sama dengan UNEP dan Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO), dalam mendukung Dekade PBB tentang Restorasi Ekosistem — sebuah gerakan di seluruh dunia untuk menghentikan, mencegah, dan membalikkan degradasi alam.

    Baca: Isu yang menghambat lahirnya perjanjian pembatasan plastik global

  • Hari Lingkungan Hidup Sedunia: Upaya Dunia Mengakhiri Polusi Plastik

    Hari Lingkungan Hidup Sedunia: Upaya Dunia Mengakhiri Polusi Plastik

    7cloud.asia – Komunitas, masyarakat sipil, bisnis, dan pemerintah di seluruh dunia pada Kamis (5/6/2025) secara serentak memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia dengan tema #BeatPlasticPollution.

    Adapun puncak perayaan Hari Lingkungan Hidup Sedunia tahun ini diadakan diadakan di Provinsi Jeju, Korea Selatan.

    Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2025 menyerukan tindakan kolektif untuk mengatasi polusi plastik. Hari ini tiba tepat dua bulan sebelum negara-negara melanjutkan negosiasi menuju perjanjian global untuk mengakhiri polusi plastik.

    Dalam pesannya untuk Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Sekretaris Jenderal PBB António Guterres mengatakan bahwa sampah plastik menyumbat sungai, mencemari lautan, dan membahayakan satwa liar.

    ”Dan saat terurai menjadi bagian-bagian yang semakin kecil, sampah tersebut menyusup ke setiap sudut Bumi: dari puncak Gunung Everest, hingga ke kedalaman lautan; dari otak manusia; hingga ke ASI manusia.” ujarnya.

    “Namun, ada gerakan untuk perubahan yang mendesak. Kami melihat meningkatnya keterlibatan publik…

     

    Baca: Greenpeace Indonesia tagih peta jalan produsen atasi polusi plastik

    Langkah-langkah menuju penggunaan kembali dan akuntabilitas yang lebih besar… Dan kebijakan untuk mengurangi plastik sekali pakai dan meningkatkan pengelolaan sampah. Namun, kita harus melangkah lebih jauh, lebih cepat,” tambahnya.

    Upacara resmi untuk Hari Lingkungan Hidup Sedunia di Jeju, Republik Korea, menyoroti urgensi untuk mengakhiri polusi plastik, krisis global yang memengaruhi sebagian besar kehidupan di Bumi.

    “Pemerintah, pelaku bisnis, warga negara, dan masyarakat internasional sama-sama merupakan pemain kunci dalam mewujudkan ekonomi sirkular untuk plastik,” kata Lee Byounghwa, Wakil Menteri Lingkungan Hidup Republik Korea, pada peringatan resmi di Jeju.

    “Sebelum polusi plastik mengakhiri hidup kita, kita harus mengalahkan polusi plastik sendiri. Mari kita kesampingkan kenyamanan dan mulai dengan tindakan kecil, bersama-sama. Ketika semua orang bertindak, perubahan terjadi.”

    Korea telah mengambil langkah-langkah penting untuk menghilangkan polusi plastik. Provinsi Jeju menjalankan kampanye ambisius untuk mengurangi polusi plastik, memanfaatkan kekuatan gabungan dari pemerintah, bisnis, dan warga negara.

    Baca: Langkah perusahaan global dalam mengurangi sampah plastik

    Idenya: untuk mengurangi jumlah produk plastik sekali pakai yang digunakan oleh konsumen sambil menggunakan kembali dan mendaur ulang sebanyak mungkin, sebuah proses yang dikenal sebagai sirkularitas.

    Tujuan provinsi ini adalah untuk mengakhiri polusi plastik pada tahun 2040. Salah satu pilar dari rencana tersebut adalah meyakinkan penduduk untuk meninggalkan plastik sekali pakai.

    Berbicara pada perayaan resmi di Jeju, Inger Andersen, Direktur Eksekutif Program Lingkungan PBB (UNEP), mengatakan: “Mengakhiri polusi plastik jelas merupakan keharusan bagi kesehatan manusia, kesehatan planet, kesehatan ekonomi, dan kesehatan bisnis.”

    Menurutnya, mengakhiri polusi plastik di planet Bumi adalah sangat mungkin. Namun, dunia tidak bisa hanya mengandalkan daur ulang.

    “Hanya dengan menangani siklus hidup penuh, serta menggunakan pendekatan sirkular, kita dapat memastikan bahwa polusi plastik tidak mencemari lautan, tanah, dan tubuh kita,” tambahnya.

    Baca: Sirkularitas jadi cara selamatkan Bumi dari banjir polusi plastik

    “Ini berarti pemikiran ulang yang menyeluruh tentang cara kita merancang, membuat, menggunakan, dan menggunakan kembali plastik.”

    Sampah plastik juga disinggung mantan Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon dalam tulisannya di Kukmin Daily, Republik Korea,

    Dia mengatakan: “Dalam 10 tahun saya menjabat sebagai Sekretaris Jenderal PBB, saya menyadari bahwa polusi plastik adalah masalah global, dan bahwa upaya universal dari komunitas internasional diperlukan untuk menyelesaikannya.”

    Dia menegaskan, Hari Lingkungan Hidup Sedunia pada tanggal 5 Juni harus menjadi titik balik bagi pemerintah, masyarakat sipil, perusahaan, komunitas ilmiah, dan generasi mendatang untuk mengambil tindakan bersama.

    Pemerintah, bisnis, lembaga pendidikan, masyarakat sipil, dan komunitas di seluruh dunia bergabung dalam upaya untuk mengadvokasi diakhirinya polusi plastik dan mengatasi polusi plastik di lingkungan mereka.

  • Hari Lingkungan Hidup Sedunia: Solusi Iklim Membutuhkan Perubahan Struktural

    Hari Lingkungan Hidup Sedunia: Solusi Iklim Membutuhkan Perubahan Struktural

    7cloud.asia – Memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Greenpeace Indonesia merilis tulisan berjudul Mau Solusi Iklim? Perubahan Struktural Tak Boleh Alpa.

    Dalam tulisan itu, Agnes Alvionita sang penulis menyoroti pentingnya perubahan struktural sebagai solusi krisis iklim, karena kerusakan lingkungan selama ini lebih banyak disebabkan oleh sekelompok kecil manusia, namun dampaknya dirasakan oleh jutaan orang yang tidak berdosa.

    Berikut isi selengkapnya:

    Saat membahas kerusakan lingkungan hidup dan krisis iklim, narasi yang marak berkembang menitikberatkan aktivitas seluruh umat manusia sebagai penyebab utama kerusakan Bumi. Narasi ini kemudian melahirkan solusi krisis iklim yang terbatas pada pertanggungjawaban individu.

    Kita semua pasti pernah mendengar, bahkan ikut melakukan, ajakan untuk memilah sampah di rumah, beralih ke alternatif energi terbarukan, atau mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.

    Semua itu adalah contoh solusi krisis iklim yang menuntut perubahan di level individu, atau setidaknya, aksi kolektif di level komunitas.

    Vandana Shiva, seorang ilmuwan dan aktivis lingkungan, membantah narasi antroposen dalam diskursus krisis iklim. Ia percaya bahwa tidak semua manusia memikul tanggung jawab yang setara dalam krisis iklim.

    Menurut Shiva (2024), biang kerok kerusakan Bumi adalah praktik eksploitatif nan serakah kelompok superkaya yang hanya mencakup 1 persen dari populasi manusia.

    Meskipun jumlahnya tak seberapa–jika dibandingkan dengan seluruh populasi manusia–kelompok superkaya bertanggung jawab atas mayoritas kerusakan lingkungan lewat kegiatan ekstraktif yang mereka lakukan.

    Ironisnya, kelompok yang sama kini mengisi mayoritas kursi pemangku kebijakan dan punya andil besar dalam mengatur hajat hidup kita semua.

    Di Indonesia, peran kelompok superkaya dalam kerusakan lingkungan sangat kentara, karena eratnya kelindan kepentingan bisnis di ruang-ruang politik negara.

    Riset Greenpeace Indonesia (2024) mengungkap bahwa 45 persen anggota parlemen dan 65 persen anggota kabinet (2019-2024) memiliki hubungan bisnis langsung, kebanyakan di sektor industri ekstraktif.

    Secara langsung, tumpang tindih kekuasaan antara elit politik dan ekonomi ini telah memperburuk tata kelola industri ekstraktif dan mengakibatkan akselerasi kerusakan lingkungan hidup.

    Dampak kelindan maut ini tercermin dari berbagai kebijakan yang tidak berorientasi lingkungan dan malah mendukung pembangunan ekstraktif.

    Mulai dari pengesahan Omnibus Law di tahun 2020 yang mempermudah regulasi bisnis tetapi melemahkan hak buruh dan perlindungan lingkungan, revisi Undang-Undang Minerba tahun 2020 yang menguntungkan perusahaan pertambangan dalam negeri tempat sejumlah anggota parlemen berinvestasi.

    Sementara itu, Rancangan Undang-Undang (RUU) yang menjadi pelindung bagi keberadaan Masyarakat Adat dan hak-haknya malah mandek sejak 2008. Nasib yang sama juga menimpa RUU Pengelolaan Perubahan Iklim (sebelumnya RUU Keadilan Iklim) dan RUU Energi Baru dan Energi Terbarukan (EBET).

    Tak berhenti di situ. Tanpa kita sadari, tuntutan tanggung jawab lingkungan di level individu juga memengaruhi bentuk kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah.

    Contoh paling anyarnya dapat kita lihat pada implementasi Instruksi Gubernur DKI Jakarta Instruksi Gubernur (Ingub) Provinsi DKI Jakarta Nomor 5 Tahun 2026 yang mengatur tentang Gerakan Pemilahan dan Pengolahan Sampah dari Sumber.

    Ingub yang digagas guna mengurangi beban sampah di Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang ini mewajibkan seluruh warga, kantor, dan tempat usaha di Jakarta untuk memilah sampah secara mandiri.

    Sekilas, inisiatif ini terdengar revolusioner, tapi nyatanya ada banyak komunitas masyarakat di Jakarta yang sudah mengimplementasikan praktik baik ini jauh sebelum imbauan disosialisasikan.

    Ingub No. 5 Tahun 2026 menunjukkan bahwa Pemerintah Provinsi DKI Jakarta masih terkungkung dalam narasi tanggung jawab individu. Padahal, riset Greenpeace Indonesia (2021) menemukan bahwa sebagian besar masyarakat (70 persen) sudah bersedia untuk beralih ke sistem guna ulang.

    Namun, niat baik ini masih terhambat oleh minimnya alternatif yang dapat dipilih oleh warga untuk mengurangi penggunaan plastik.

    Lagi-lagi, perusahaan dan pemerintah yang enggan berinovasi menjadi batu sandungan warga untuk mencapai solusi krisis iklim yang berkelanjutan.

    Menuntut Solusi Krisis Iklim yang Berkeadilan
    Berbagai contoh di atas seharusnya menyadarkan pemerintah bahwa mereka tidak bisa terus membebankan persoalan lingkungan pada masyarakat dan mengacuhkan tanggung jawab korporasi.

    Sebagai kelompok yang paling sedikit berkontribusi terhadap krisis iklim, masyarakat sipil adalah kelompok yang memikul beban dampak krisis iklim paling besar. Dari pesisir hingga pegunungan, masyarakat dipaksa bertarung dengan bencana ekologis yang datang silih berganti.

    Di wilayah perkotaan, kelas pekerja terjepit di antara biaya adaptasi iklim yang terus meningkat dan upah yang stagnan. Di Papua, Masyarakat Adat–garda terdepan pelindung tutupan hutan terbesar di Indonesia–harus hidup di bawah jerat militerisme dan perampasan wilayah hidup.

    Menimbang banyaknya beban krisis iklim yang dipikul oleh masyarakat, masih adilkah jika tanggung jawab pelestarian lingkungan hidup sepenuhnya disandarkan pada individu?

    Kalau pemerintah serius mau menyukseskan inisiatif “hijau”, maka mereka tidak boleh puas dengan sekadar mengimbau masyarakat untuk melakukan perubahan.

    Pemerintah harus memiliki kemauan politik untuk mempersiapkan sistem, infrastruktur, dan anggaran untuk menopang perubahan yang diinginkan. Pemerintah juga harus berani membuat regulasi untuk menekan korporasi besar dan para konglomerat agar bertanggung jawab atas kerusakan lingkungan yang mereka ciptakan.

    Tanpa perubahan di level struktural, keputusan kolektif masyarakat untuk berhenti menggunakan sedotan plastik, misalnya, hanya akan terkubur oleh keputusan seorang konglomerat yang dengan bebas bolak-balik menggunakan jet pribadi.

    Solusi individu dan kolektif bukan hal yang buruk dan, kalau boleh jujur, kita masih membutuhkan lebih banyak inisiatif serupa. Namun, situasi krisis iklim saat ini sudah tak bisa lagi diatasi dengan mengandalkan solusi individu. Jawabannya juga bukan dengan menawarkan solusi palsu yang hanya akan menimbulkan krisis baru.

    Pemerintah harus bersedia menanggalkan ego sektoral untuk mulai mengadopsi solusi krisis iklim dari warga, yang sudah terbukti keberhasilannya, ke dalam bentuk kebijakan resmi. Di saat yang bersamaan, para konglomerat pencemar yang berlindung dari dampak krisis iklim dalam sangkar emasnya juga perlu ditindak tegas.

    Sebagai warga biasa, kita harus mulai bergerak melampaui resolusi individu dalam merespons krisis iklim. Inilah saatnya untuk mendesak lebih keras pertanggungjawaban dari pemerintah, korporasi besar, dan konglomerat pencemar lingkungan.