7cloud.asia – Banjir melanda sejumlah kota di dunia pada bulan September yang baru berlalu. Salah satu yang terbesar adalah banjir bandang yang disebabkan jebolnya bendungan di Libya yang menewaskan lebih dari 10.000 orang.
Mengapa banjir makin sering terjadi? Mengapa hujan turun lebih deras? Dan apa yang bisa dilakukan untuk mencegahnya, berikut kajian yang telah dilakukan Olivia Lay yang telah diterbitkan di earth.org.
Banjir dapat terjadi karena beberapa faktor yang berbeda dan seringkali terjadi bersamaan. Namun salah satu penyebab terbesar terjadinya banjir, terutama pada kasus banjir bandang adalah curah hujan tinggi dan berlangsung lama.
Ketika curah hujan di lingkungan perkotaan turun lebih cepat dari volume air yang dapat diserap oleh tanah, ketinggian air akan meningkat dengan cepat, sehingga mengakibatkan banjir.
Curah hujan ekstrem di aliran sungai juga berkontribusi terhadap banjir, karena air mengalir turun dan meluap dari tepian sungai ke daratan di sekitarnya.
Baca: Hujan terderas dalam 139 tahun. bikin Hong Kong dikepung banjir
Perubahan Iklim Memperparah Dampak Banjir. Menurut studi tahun 2021 yang dilakukan para ahli iklim, perubahan iklim mengakibatkan banjir makin sering terjadi.
Dalam kasus Eropa Barat, hujan lebat di wilayah tersebut, yang menyebabkan banjir bandang yang menewaskan hampir 200 orang, kini menjadi 3-19% lebih deras karena pemanasan yang disebabkan oleh aktivitas manusia.
Bagi negara-negara yang rentan terhadap musim hujan, khususnya di Asia, perubahan iklim bisa menyebabkan banjir yang lebih besar karena musim hujan berlangsung lebih lama.
Perubahan iklim mengakibatkan musim hujan datang lebih awal, mengganggu produksi pertanian dan tanaman pangan, serta meningkatkan curah hujan ekstrem di wilayah tersebut karena semakin banyaknya gas rumah kaca yang dilepaskan ke atmosfer.
Banjir juga bisa disebabkan luapan air laut, peristiwa yang disebut juga gelombang badai.
Baca: Korban tewas akibat banjir bandang di Libya, tewaskan ribuan orang
Hal ini terjadi saat terjadi badai tropis, siklon, dan angin topan, dimana kejadian cuaca seperti ini menyebabkan air laut meluap ke daratan di wilayah pesisir.
Permukaan air laut tercatat bisa naik setinggi 20 kaki atau sekitar 6 meter selama terjadi gelombang badai. Jadi terbayang kan, bagaimana badai bisa memicu banjir besar di wilayah pesisir.
Mencairnya salju dan es secara cepat juga menyebabkan gelombang air laut, sementara bongkahan es yang mencair dapat menghalangi aliran sungai, sehingga menciptakan fenomena yang dikenal sebagai kemacetan es.
Kegagalan dan kerusakan bendungan juga dapat menyebabkan gelombang air yang kuat dan merusak ke arah hilir. Salah satu kegagalan bendungan paling dahsyat dalam sejarah terjadi pada tahun 1889 di Johnstown, Pennsylvania.
Hujan yang sangat deras selama beberapa hari memberikan tekanan besar pada bendungan setempat, menyebabkan bendungan tersebut jebol dan melepaskan 20 juta ton air ke kota, dan lebih dari 2.200 orang meninggal dalam hitungan menit.
Baca: Perubahan iklim ancam pasokan pangan dunia
Dampak Terbesar Banjir
Lebih dari 2 miliar orang di seluruh dunia merasakan dampak banjir antara tahun 1998-2017. Dan jumlah tersebut terus meningkat seiring dengan semakin seringnya terjadinya banjir besar dan parah.
Banjir, khususnya banjir bandang, dapat meluluhlantahkan seluruh kota dan lingkungan perkotaan.
Sepanjang sejarah, ribuan orang yang kehilangan nyawa akibat banjir besar, atau peristiwa yang disebabkan oleh banjir besar seperti tanah longsor dan infrastruktur yang runtuh.
Salah satu dampak dan dampak terbesar dari banjir adalah hilangnya rumah dan harta benda, serta bangunan dan infrastruktur penting seperti rumah sakit dan panti jompo tidak berfungsi.
Terputusnya aliran listrik dan komunikasi seluler merupakan kejadian umum selama banjir, yang dapat berdampak pada mata pencaharian dan akses terhadap keselamatan.
Baca: El Nino picu kabakaran lahan yang hanguskan 276 ribu hektare lahan
Banjir dapat menimbulkan dampak ekonomi yang sangat besar terhadap suatu wilayah, karena peristiwa cuaca ekstrem berdampak pada industri dan sektor utama, terutama pertanian, perikanan, tanaman pangan, kesehatan, tenaga kerja, dan pariwisata.
Penelitian menunjukkan bahwa banjir yang sering terjadi dapat mengurangi 11% PDB suatu wilayah pada akhir abad ini. Dan, untuk memulihkannya dibutuhkan waktu bertahun-tahun.
Masyarakat yang tinggal di daerah dekat sungai, beriklim basah, dan rawan musim hujan jauh lebih rentan terhadap banjir.
Banyak negara di Asia Selatan dan Tenggara seperti Bangladesh – yang sepertiganya pernah terendam air pada tahun 2020 – dan India sangat terpukul oleh banjir dalam beberapa tahun terakhir karena dataran rendah dan jumlah penduduk yang padat.
Akibatnya, terjadi tingginya tingkat migrasi massal dan perpindahan penduduk selama beberapa dekade terakhir, yang menyebabkan kepadatan penduduk di perkotaan dan bertambahnya jumlah penduduk miskin perkotaan.
Hal ini berpotensi menimbulkan kesenjangan dan keresahan sosial dalam jangka panjang.
Baca: Mungkinkah dunia wujudkan netzero emision pada 2050?
Apa yang bisa dilakukan?
Salah satu solusi jangka pendek yang paling menonjol adalah negara-negara, terutama yang berada di wilayah dengan risiko banjir tinggi, memprioritaskan investasi dalam strategi adaptasi banjir.
Hal ini berarti membangun infrastruktur yang lebih tangguh yang dirancang untuk tahan terhadap banjir dan kerusakan akibat air.
China misalnya, telah banyak berinvestasi dalam konsep ‘kota spons’, yang pengembangannya berpotensi membantu mengendalikan dan mengurangi banjir, serta mendaur ulang sumber air hujan dan memulihkan lingkungan yang rusak.
Membangun tembok laut dapat menjadi bentuk pertahanan dan perlindungan pantai yang efektif dalam menghadapi gelombang badai dan banjir yang terkait dengan badai tropis.
Namun dalam jangka panjang. tembok laut ini juga bisa memicu masalah lingkungan.