7cloud.asia – Kebakaran hutan dan lahan masih terus terjadi. Hingga 2 Oktober kemarin, tercatat 267 ribu hektar lahan terbakar. Diperkirakan jumlah ini akan bertambah.
Hal ini disampaikan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya, di Komplek Istana Kepresidenan Jakarta, usai mengikuti rapat terbatas (ratas) di istana presiden, Selasa (03/10/2023).
“Areal yang terbakar sudah terekam 267 ribu hektare dan perkiraan saya dengan situasi bulan September kemarin dan Oktober, kelihatannya masih akan bertambah,” urai Siti.
Selanjutnya Siti memaparkan berdasarkan data per 2 Oktober 2023, terdapat 6.659 titik panas (hot spot) dengan peluang 80 persen menjadi titik api atau fire spot.
Karena itu, pemerintah melakukan berbagai upaya untuk mengatasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Diantaranya pemadaman dan teknik modifikasi cuaca (TMC) di sejumlah provinsi yang menjadi titik rawan terjadinya karhutla tersebut.
“Kita sekarang ini sejak tanggal 28 September sedang berjibaku di Sumatra Selatan, di Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, sambil juga memonitor yang di Riau, Jambi dan lain-lain,” jelasnya.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Suharyanto mengatakan pihaknya ikut melaksanakan operasi darat maupun udara dalam mengatasi karhutla.
Operasi pemadaman lewat udara pihaknya mengerahkan 35 helikopter terdiri 13 helikopter patroli dan 22 helikopter water bombing.
“Jadi ada enam provinsi prioritas yaitu Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Sumatra Selatan, Riau, dan Jambi. Itu menjadi enam provinsi prioritas kebakaran hutan dan lahan,” jelas Suharyanto.
Upaya lainnya adalah melakukan TMC sebanyak 244 kali dengan jumlah garam yang disebar mencapai 341.580 kilogram.
Selanjutnya Suharyanto menjelaska pihaknya melakukan TMC di beberapa provinsi diantaranya Riau, Kalimantan Barat, Nusa Tenggara Timur, Jawa Barat, Jambi, DKI Jakarta, Kalimantan Selatan, dan Sumatra Selatan.
Sementara itu, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati menjelaskan puncak El Nino masih akan bertahan hingga akhir Oktober.
Masa transisi dari kemarau ke musim hujan diperkirakan terjadi di bulan November.
Menurutnya, El Nino diprediksi moderat hingga akhir tahun, melemah di Februari-Maret hingga berakhir di bulan Maret.
“Namun, alhamdulillah karena adanya angin monsun dari arah Asia sudah masuk ini mulai November, jadi kita akan insyaallah mulai turun hujan di bulan November,” jelasnya.
Artinya lanjut Dwikorita, pengaruh El Nino mulai tersapu hujan. Dengan demikian kemarau kering secara bertahap akan berakhir.
“Ada yang sebelum November tapi sebagian besar mulai November, ada yang lebih mundur lagi,” kata Dwikorita.
Reporter: Nurakhmayani

Leave a Reply