Tag: hujan

  • BMKG: Potensi Hujan di Sejumlah Wilayah Masih Tinggi

    BMKG: Potensi Hujan di Sejumlah Wilayah Masih Tinggi

    Deputi Meteorologi BMKG Guswanto di Jakarta, Senin (8/5/2023) menyampaikan bibit siklon ini berpotensi memicu hujan di sejumlah wilayah di Indonesia. Bibit siklon tropis 91S terpantau di Samudera Hindia sebelah barat Bengkulu.

    Ia menyampaikan bibit siklon 91S terpantau berada di sekitar 4,3 Lintang Selatan (LS) dan 91,6 Bujur Timur (BT) dengan kecepatan angin maksimum 15 knot, dan tekanan udara minimum 1008.5 milibar (mb).

    “Potensi bibit ini untuk tumbuh menjadi siklon tropis dalam 24 jam ke depan berada dalam kategori rendah,” katanya.

    Ia memaparkan dampak bibit 91S terhadap kondisi cuaca di Indonesia dalam 24 jam ke depan, antara lain potensi hujan dengan intensitas sedang hingga hujan lebat di Bengkulu dan Lampung.

     
    Selain itu, lanjutnya,  bibit 91S juga berdampak pada tinggi gelombang 1,25-2,5 meter di perairan timur Kepulauan Nias, perairan timur Pulau Sipora-Pulau Pagai.

    Untuk tinggi gelombang di kisaran 2,5-4 meter yakni di perairan Pulau Simeulue, Perairan barat Kepulauan Nias hingga Kepulauan Mentawai, perairan Pulau Enggano-Bengkulu, Perairan barat Lampung, Samudra Hindia barat Kepulauan Mentawai hingga selatan Banten. Sedangkan gelombang lebih tinggi di kisaran 4-6 meter di Samudra Hindia barat Nias.

    Sementara untuk bibit siklon tropis 91B, Guswanto menyampaikan berada di Samudera Hindia sebelah barat laut Aceh, tepatnya pada posisi 6,6 Lintang Utara (LU) dan 93.3 BT dengan kecepatan angin maksimum 15 knots dan tekanan minimum 1005 mb.

    “Untuk 24 jam ke depan bergerak ke arah barat dan potensi bibit ini untuk tumbuh menjadi siklon tropis dalam 24 jam ke depan berada dalam kategori rendah,” katanya.

    Ia memaparkan dampak bibit 91B terhadap kondisi cuaca di Indonesia dalam 24 jam ke depan, antara lain potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat di Aceh dan Sumatera Utara.

     
    Selain itu bibit 91B juga berdampak pada tinggi gelombang 1,25-2,5 meter di perairan Sabang-Banda Aceh.

    Tinggi gelombang lebih tinggi 2,5-4 meter berpotensi terjadi di Selat Malaka bagian utara. Sedangkan tinggi gelombang 4-6 meter di perairan utara Sabang, Perairan barat Aceh, Samudra Hindia barat Aceh.

     

  • Perubahan Iklim Akibatkan Musim Hujan Lebih Panjang, Banjir Akan Lebih Sering Terjadi

    Perubahan Iklim Akibatkan Musim Hujan Lebih Panjang, Banjir Akan Lebih Sering Terjadi

     
    7cloud.asia – Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan fenomena Perubahan Iklim telah menyebabkan musim hujan menjadi lebih panjang di Indonesia.
     
    Untuk itu masyarakat diminta lebih hati-hati dan lebih waspada mengantisipasi kondisi akibat perubahan iklim yang disebut bisa memicu semakin terjadinya banjir.

    Peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN Erma Yulihastin mengatakan, Perubahan Iklim telah terjadi selama hampir dua dekade terakhir pada periode tahun 2000 sampai 2019.

    Perubahan Iklim mengakibatkan durasi musim hujan lebih panjang di beberapa wilayah selatan di Indonesia.

    “Di Sumatera Selatan dan Kalimantan dan sebagian wilayah di selatan Pulau Sulawesi selama 49 hari. Perubahan Iklim, lanjutnya, mengakibatkan durasi musim hujan di Lampung dan bagian barat Pulau Jawa berlangsung lebih panjang 12 hari,” kata Erma di Jakarta, Maret lalu.

    Baca: Agar pendidikan turut jadi solusi untuk perubahan iklim

    Erna menambahkan, perubahan iklim juga mengakibatkan hari-hari kering mengalami peningkatan selama musim hujan untuk wilayah selatan Indonesia.

    Untuk memantau Perubahan Iklim inim Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN membangun model prediksi musim Decision Support System (DSS) Kamajaya 

    Kamajaya merupakan aplikasi sistem kajian awal musim jangka madya berbasis model atmosfer. Data yang dihasilkan Kamajaya kemudian dikembangkan untuk mendukung riset atmosfer maupun aplikasinya. 

    Pada Januari 2023, European Centre for Medium-Range Weather Forecasts (ECMWF) menyatakan bahwa pemanasan global diperkirakan mencapai 1,21 derajat Celcius. Pemanasan global ini diyakini telah memperparah perubahan iklim
     
    Dalam 30 tahun, pemanasan global ini dapat berlanjut hingga mencapai 1,5 derajat Celcius pada Maret 2023. Ini yang menyebabkan perubahan iklim terasa makin nyata.

    Baca:  Peringatan ancaman perubahan iklim sudah dimunculkan 70 tahun silam

    Erma menjelaskan bahwa perubahan iklim di Indonesia memiliki dampak dan efek yang berbeda di setiap wilayah di Indonesia. Namun, pengamatan BRIN terfokus pada daerah yang selama ini dikenal sebagai sumber pangan.

    “Fokus pengamatan kami di selatan Indonesia, karena selatan Indonesia merupakan tempat sentra pangan di Indonesia serta memiliki penduduk terbanyak,” kata Erma.

    Perubahan iklim telah mengakibatkan peningkatan hujan yang lebih ekstrem pada musim hujan.

    Adapun selama musim kemarau, hujan ekstrem semakin sering terjadi di Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.

    Baca:  Agar tumbuhkan kesadaran, begini seharusnya kampanye perubahan iklim dilakukan

    Lebih lanjut ia menyampaikan bahwa hasil penelitian BRIN terkait perubahan iklim menunjukkan adanya perubahan temperatur signifikan di Pulau Sumatera, Jawa, dan Kalimantan (tahun 2021-2050 terhadap 1991-2020).

    Perubahan iklim juga mengakibatkan temperatur minimum mengalami penurunan di sebagian besar pantai utara Jawa Tengah dan Jawa Timur, serta bagian tengah Jawa Barat.

     
    Sedangkan, temperatur maksimum mengalami peningkatan di sebagian besar pantai utara Jawa Tengah dan Jawa Timur.

    Adapun perubahan iklim mengakibatkan hari-hari tidak hujan di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan diproyeksikan meningkat, sehingga lebih kering dan mengalami peningkatan kering yang signifikan, sama halnya di Sumatera Selatan hingga Lampung.

    Baca:  Ribuan desa pesisir di Indonesia terancam hilang akibat perubahan iklim

    Perubahan iklim juga menyebabkan terjadinya badai vorteks dan siklon tropis di selatan Nusa Tenggara Timur, sehingga dampaknya meningkatkan hujan dan menimbulkan banjir di Madura dan wilayah Jawa Timur lainnya.

    Selain itu, perubahan iklim juga mengakibatkan penghangatan suhu permukaan laut di Laut Jawa bagian utara Jakarta.

    Di sisi lain, suhu permukaan laut yang mendingin terbentuk di Laut China Selatan telah menciptakan tekanan tinggi.

    Baca:  Tentang dana loss and damage terkait perubahan iklim 

    Erma menuturkan perlu model prediksi cuaca resolusi tinggi secara temporal dan spasial dengan wilayah dominan yang luas.
     
    Selain itu juga perlu mengedukasi masyarakat secara komprehensif untuk mengantisipasi kebencanaan yang mungkin terjadi akibat badai badai vorteks dan siklon tropis yang akan semakin sering terjadi akibat perubahan iklim. 
     
    Terakhir, sangat perlu untuk membangun Weather Ready Nation yang merupakan upaya memaksimalkan peringatan dini terhadap kejadian vortex.
     
    “Ini untuk memastikan jalur koordinasi dan komunikasi di daerah dengan kesigapan maksimal dan meminimalisasi dampak perubahan iklim yang terjadi, pungkasnya dalam webinar yang diselenggarakan Institut Teknologi Sumatera (ITERA) tersebut,” pungkas Erna. 
     
    Sumber: BRIN
     

     

  • BMKG: Sejumlah Wilayah Berpotensi Diguyur Hujan Ringan Hari Ini

    BMKG: Sejumlah Wilayah Berpotensi Diguyur Hujan Ringan Hari Ini

    7cloud.asia – Musim kemarau saat ini melanda sebagian besar wilayah di Indonesia. Namun, beberapa kota diperkirakan akan diguyur hujan dengan intesitas ringan pada Minggu (27/08/2023).

    Dilansir dari situs Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), hujan ringan akan mengguyur wilayah Jakarta Pusat, Jakarta Barat, Jakarta Utara,
    Tarakan, Ambon, Jayapura, Pekanbaru, Mamuju, Padang, dan Medan.

    Baca: Banjir di Aceh Tenggara, ribuan KK terdampak

    Umumnya hujan tersebut terjadi pada malam dan dinihari, kecuali di kota Padang
    dan Jakarta Barat hujan terjadi pada siang hari serta di kota Ambon hujan terjadi
    pada pagi dan siang hari.

    Suhu udara di seluruh wilayah di Indonesia berkisar antara 18 hingga 34 derajat.
    Suhu terendah terjadi di kota Bandung dengan suhu 18 hingga 28 derajat celsius.

    Baca: BMKG ingatkan warga waspadai bencada hidrometrologi

    Sementara suhu tertinggi mencapai 34 derajat celsius diperkirakan terjadi di kota
    Aceh, Serang, Semarang, Pontianak, Banjarmasin dan Bandar Lampung.

    BMKG memperingatkan, kabut asap juga berpotensi masih terjadi di wilayah Banjarmasin. 

    Baca: Dampak El Nino dirasakan di sejumlah wilayah

    Sebelumnya, Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati mengatakan puncak musim
    kemarau diprakirakan terjadi pertengahan Agustus hingga September 2023.

    “Nanti setelah masuk Oktober mulai berkurang, berkurang tapi masih kering. Nah
    diprediksi hujan ini November,”  ungkap Dwikorita.

    Baca: El Nino picu gagal panen, produksi beras diperkirakan menurun

    Dalam kurun waktu tersebut, cuaca panas karena msuim kemarau akan terus meningkat, dan membuka peluang terjadinya kebakaran hutan dan lahan.

    Karena itu BMKG mengimbau beberapa daerah untuk mewaspadai terjadinya
    karhutla ini seperti wilayah Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Tengah dan
    Kalimantan Selatan.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Hujan Buatan Tak Mampu Usir Polusi Udara di Jakarta

    Hujan Buatan Tak Mampu Usir Polusi Udara di Jakarta

    7cloud.asia – Pada Minggu (27/08/2023) dan Senin (28/8/2023) malam sejumlah wilayah di Jakarta sempat diguyur hujan selama sekitar 30 menit.

    Hujan di tengah musim kemarau ini merupakan hasil Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) yang dilakukan oleh BMKG, sebagai upaya untuk mengatasi masalah polusi udara di Jakarta yang kian memburuk.

    TMC ini digunakan oleh BMKG untuk menciptakan hujan buatan dengan mengandalkan pertumbuhan awan dan arah angin.

    Namun pembersihan udara melalui hujan buatan itu tampaknya hasilnya tak terlalu signifikan.

    Baca: Warga Marunda tuntut pemerintah data perusahaan sumber polusi udara

    Kualitas udara Jakarta pada Selasa (29/8/2023) pagi kembali memburuk. Dipantau dari laman IQAir indeks kualitas udara Jakarta berada di angka 161 dengan polutan utama adalah PM 2,5.

    Konsentrasi PM2.5 di Jakarta tertinggi saat ini masuk kategori tidak sehat. Adapun kadar polutan tertinggi terpantau ada di kawasan Jeruk Purut, Jakarta Selatan.

    Polusi udara di Jakarta hingga kini memang belum sepenuhnya teratasi. Berbagai upaya dilakukan, namun kondisi udara di Jakarta masih buruk.

    Sebelumnya, BNPB juga telah mengupayakan teknologi modifikasi cuaca selama tiga hari untuk membilas polusi udara di Jakarta dan sekitarnya.

    Baca: Terkait polusi udara, pemerintah diminta tak berikan solusi palsu

    Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari dalam Disaster Briefing yang diikuti daring di Jakarta, Senin (21/8/2023)
    mengatakan, TMC telah dilakukan di tanggal 19-21 Agustus.

    “Ada fase tertentu dimana minimal konsentrasi awan itu 30 persen, cukup untuk membuat hujan buatan. BNPB bersama BMKG, BRIN dan TNI-Polri, kita sudah
    mulai melakukan TMC” jelas Abdul seperti dilansir dari Antaranews.

    Dalam rapat gabungan membahas cara meredam polusi udara, pada Selasa (15/8/2023) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta mengungkapkan tiga opsi jangka pendek yang dapat ditempuh untuk menekan polusi udara di DKI Jakarta.

    Kepala Pelaksana BPBD DKI Jakarta, Isnawa Adji mengatakan, ketiga metode ini dapat menjadi alternatif pemerintah untuk mengatasi polusi udara yang kian parah.

    Baca: Polusi udara di Jakarta tak kunjung turun, pemerintah diminta tegas batasi kendaraan bermotor

    Pertama, teknologi modifikasi cuaca (TMC) Konvensional. TMC Konvensional itu bisa dilakukan tidak hanya di atas wilayah DKI Jakarta.

    Metode ini juga memungkinkan dilakukan di atas wilayah sekitar Jakarta, seperti di atas Bekasi, Kepulauan Seribu atau Tangerang untuk melindungi Jakarta dari polusi udara.

    Kedua, yakni dry ice yang sebelumnya pernah dilakukan di Thailand. Namun metode ini jarang dilakukan. Tapi, dry ice ini kemungkinan kecil dilakukan di Jakarta.

    “Itu seperti menyebarkan batu-batu es,” jelas Isnawa.

    Baca: DPR minta perusahaan pencemar ditindak tegas

    Ketiga, adalah dengan melakukan spraying atau penyemprotan seperti yang pernah diterapkan di Beijing. Metode ini dilakukan dengan pesawat kecil, drone atau dari atas gedung-gedung tinggi di Jakarta.

    “Tapi ini belum. Mungkin nanti mau kita usulkan, mungkin bangunan-bangunan tinggi boleh juga tuh ada teknologi spraying ya supaya polutan-polutan itu bisa diredam,” urai Isnawa.

    Reporter: Nurakhmayani 

  • Hujan Petir di Wilayah Ini, BMKG Imbau Warga Waspada

    Hujan Petir di Wilayah Ini, BMKG Imbau Warga Waspada


    7cloud.asia = Hujan petir disertai dengan angin kencang diperkirakan terjadi di enam kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Timur pada Jumat (15/09/2023).

    Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau warga agar waspada. “Dampak dari peristiwa tersebut antara lain jalan licin, banjir, sungai meluap, pohon tumbang, dan tanah longsor,” jelas Prakirawan Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan BMKG Balikpapan, Idham Chalid seperti yang dikutip Antaranews.

    Daerah yang mengalami hujan petir tersebut antara lain Kota Samarinda terjadi pada Jumat pukul 11.00 Wita di empat kecamatan yakni Kecamatan Loa Janan Ilir, Sungai Kunjang, Palaran, dan Samarinda Seberang.

    Baca Juga: Ibu Kota Pindah ke IKN, DKI Jakarta Berubah Jadi Daerah Khusus Jakarta

    Sedangkan sebagian kecamatan lainnya hujan ringan mulai pukul 11.00 Wita hingga 23.00 Wita, bahkan pada Sabtu dini hari, semua kecamatan di Samarinda hujan ringan.

    Di Kabupaten Berau, hujan petir diprakirakan terjadi pada Jumat sekitar pukul 20.00 Wita dan 23.00 Wita di tiga kecamatan, yakni Kecamatan Kelay, Pulau Derawan, dan Segah.

    Kabupaten Kutai Barat, hujan petir diprakirakan terjadi sekitar pukul 17.00 Wita di 12 kecamatan, yakni Kecamatan Sendawar, Long Iram, Melak, Muara Pahu, Barong Tongkok, Jempang, Linggang Bigung, Mook Manaar Bulatn, Muara Lawa, Nyuatan, Sekolaq Darat, dan Tering.

    Baca Juga: SOS! Sepertiga Tanah di Planet Bumi Sudah Rusak

    Pada pukul 20.00 Wita hujan ringan diprakirakan di semua kecamatan, pukul 23.00 Wita hujan petir di Kecamatan Long Iram dan Linggang Bigung, kemudian pada Sabtu dini hari hingga pagi, hujan ringan diprakirakan terjadi di hampir semua kecamatan.

    “Di Kabupaten Kutai Timur, hujan petir diprakirakan terjadi pada Jumat sekitar pukul 20.00 Wita dan 23.00 Wita di tujuh kecamatan, yakni Kecamatan Batu Ampar, Muara Ancalong, Muara Wahau, Busang, Long Mesangat, Muara Bengkal, dan Telen,” urai Idham.

    Untuk mitigasi bencana dan meminimalisir dampaknya, lanjut Idham, pihaknya telah melaporkan prakiraan ini ke Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota.

    Baca Juga: Hujan Deras Picu Banjir Bandang di Halmahera Tengah, Tambang Nikel Ikut Terdampak

    Sementara empat wilayah lainnya Kota Bontang, Balikpapan, Kabupaten Paser, dan Penajam Paser Utara (PPU) tidak terjadi hujan petir. Dikeempat wilayah ini hanya terjadi hujan ringan hingga hujan sedang pada Jumat, bahkan hingga Sabtu (16/9) pagi. 

    Reporter: Nurakhmayani

     

  • Diguyur Hujan Lebat, Sejumlah Wilayah di Pasaman Barat Banjir

    Diguyur Hujan Lebat, Sejumlah Wilayah di Pasaman Barat Banjir

     

    7cloud.asia – Beberapa wilayah di Indonesia telah memasuki musim hujan. Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat salah satunya. Curah hujan yang tinggi sejak Rabu (20/09/2023) sore hingga malam mengakibatkan banjir bandang.

    Banjir setinggi 1 meter menggenangi ribuan rumah warga. 

    Kepala Bidang Pencegahan dan kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pasaman Barat, Zulkarnain menjelaskan hujan lebat terjadi sejak Rabu sore hingga malam.

    Akibatnya sejumlah lokasi tergenang air dan menggenangi rumah warga, di antaranya di Silawai Air Bangis, Simpang Pasaman Baru, Bundaran Simpang Empat dan Bandarjo

    Baca Juga: BRIN: El Nino Berlangsung Hingga Mei 2024, Kapan Hujan Mulai Turun?

    “Informasi awal banjir melanda wilayah Silawai-Air Bangis, Kecamatan Sungai Beremas yang mengakibatkan arus transportasi terganggu hingga malam ini, karena ketinggian air mencapai 0,5-1 meter,” papar Zulkarnain di Simpang Empat, seperti dikutip Antaranews.

    Saat ini pihaknya tengah melakukan pendataan berapa jumlah rumah yang terdampak banjir tersebut. “Saat ini kami masih mengumpulkan data terkait banjir. Dari hasil sementara tidak ada korban jiwa,” ujarnya.

    Selain itu, BPBD juga terus memantau kondisi sejumlah sungai yang ada di Pasaman Barat.

    Pihaknya juga mengimbau warga agar waspada terhadap banjir susulan dan longsor yang berpeluang terjadi.

    Baca Juga: BMKG: Musim Hujan Tahun 2023/2024 Akan Mundur

    Hal ini karena adanya lima aliran sungai di Pasaman Barat yang membuat wilayah ini menjadi langganan banjir setiap hujan melanda daerah itu.

    Lima aliran sungai yang rawan banjir tersebut adalah Sungai Batang Pasaman, Batang Sikabau, Batang Bayang, Batang Batahan, dan Sungai Anak Air Haji.

    “Setiap hujan lebat air sungai itu selalu meluap dan menggenangi rumah warga sekitar,” ungkapnya.

    Menurutnya, selain di lima sungai besar itu, warga yang berada di daerah perbukitan, pegunungan dan di pesisir pantai juga agar selalu waspada.

    Sebab, Pasaman Barat juga rawan longsor, terutama di Kecamatan Talamau dan rawan abrasi di pantai Sasak.

    Baca Juga: Hujan Deras Picu Banjir Bandang di Halmahera Tengah, Tambang Nikel Ikut Terdampak

    Banjir di Kabupaten Pasaman memang sering terjadi. Terakhir, banjir bandang terjadi pada pertengahan Juli lalu yang menenggelamkan 20 hektar lahan pertanian.

    Kemudian pada akhir Februari tahun ini, banjir juga melanda di sejumlah wilayah di Kabupaten Pasaman. Saat itu banjir merusak 3 rumah warga dan 1 jembatan putus. 

     Reporter: Nurakhmayani

  • Dampak El Nino, Kekeringan di Bali Meluas

    Dampak El Nino, Kekeringan di Bali Meluas

    7cloud.asia – Kekeringan akibat kemarau panjang masih terjadi di sejumlah tempat meski di beberapa wilayah hujan mulai turun.

    Seperti yang terjadi Bali, kekeringan akibat kemarau panajng terus meluas dan kini telah dialami 15 kecamatan.

    Kekeringan ini terjadi sebagai dampak fenomena El Nino yang memicu kemarau panjang sehingga mengakibatkan beberapa wilayah di Bali tidak turun hujan selama 80 hari.

    “Secara umum di Bali berada pada kategori masih ada hujan hingga kekeringan ekstrem,” ujar Koordinator Bidang Data dan Informasi BMKG Wilayah III Denpasar, I Nyoman Gede Wiryajaya seperti dikutip Antaranews.

    Baca: Kekeringan picu krisis air bersih, warga Muara Angke harus beli air dengan harga mahal

    Kelimabelas kecamatan tersebut adalah Kecamatan Buleleng, Gerokgak, Kubutambahan, Sawan, dan Sukasada, Kabupaten Buleleng.

    Selain itu, Kecamatan Melayan, Kabupaten Jembrana; Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli; Kecamatan Karangasem dan Kubu, Kabupaten Karangasem.

    Kecamatan Kuta, Kuta Utara, dan Kuta Selatan, Kabupaten Badung; Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung; dan Kecamatan Denpasar Timur dan Denpasar Selatan, Kota Denpasar juga tak luput dari kekeringan.

    Baca: Kekeringan bikin biaya tanam melonjak

    Di antara 15 kecamatan tersebut, lanjut Nyoman, yang paling lama mengalami kekeringan adalah Kecamatan Kubu, Kubutambahan, dan Kintamani.

    Dengan demikian, BMKG menerbitkan peringatan dini kekeringan di Pulau Dewata yang berlaku selama dasarian atau per 10 hari yang akan diperbarui berdasarkan pengamatan terbaru BMKG.

    Pada 10 hari lalu, BMKG Denpasar mencatat kekeringan terjadi di 14 kecamatan di Bali.

    Baca: Harga beras naik, sebagian warga Rangkasbitung beralih konsumsi palawija

    Selanjutnya Nyoman menjelaska meski kini kekeringan meluas hingga 15 kecamatan, tetapi masih ada potensi terjadi hujan hingga 30 September 2023.

    Wlayah yang berpotensi hujan yaitu, Kecamatan Selemadeg, Selemadeg Barat, dan Sidemen.“Distribusi curah hujan di Bali secara umum itu antara nol hingga 215,5 milimeter per 10 hari,” ungkapnya.

    Sebelumnya, BMKG memperkirakan puncak musim kemarau di Bali terjadi pada Juli-Agustus 2023 yang dipengaruhi fenomena El Nino.

    Baca: El Nino picu kekeringan, produksi beras diperkirakan bakal minus

    El Nino merupakan fenomena cuaca yang terjadi akibat peningkatan suhu permukaan air di Samudra Pasifik Tengah dan Timur yang menjadi lebih hangat dari biasanya.

    Biasanya terjadi setiap 5 atau 7 tahun sekali. Fenomena alami ini menyebabkan perubahan pola cuaca global, yang berdampak signifikan pada iklim di berbagai wilayah di dunia, termasuk di Indonesia.

    Reporter: Nurakhmayani

  • BMKG: 10 Persen Wilayah di Indonesia Mulai Masuk Musim Hujan  

    BMKG: 10 Persen Wilayah di Indonesia Mulai Masuk Musim Hujan  

     

    7cloud.asia – Meski sebagian besar wilayah di Indonesia masih mengalami musim kemarau, tetapi ada beberapa wilayah mulai memasuki musim hujan. Jumlahnya sekitar 10 persen, diantaranya Sumatera Utara.

    “Berdasarkan jumlah zona musim, sebanyak 10 persen wilayah Indonesia masuk musim hujan,” kata Analis Iklim Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Kukuh Prasetyaningtyas yang dikutip Antaranews, Sabtu (23/09/2023).

    Selanjutnya Kukuh menjelaskan selain Sumatera Utara, wilayah yang mulai masuk musim penghujan adalah sebagian Aceh, sebagian besar Riau, sebagian besar Sumatera Barat dan Bengkulu.

    Selain itu musim hujan juga terjadi di sebagian kecil Kalimantan Barat, sebagian kecil Kalimantan Utara, Sulawesi Tengah bagian timur, sebagian kecil Maluku dan sebagian Papua Barat.

    Pada dasarian III September hingga dasarian II Oktober tahun ini, BMKG memperkirakan curah hujan berada pada kriteria rendah hingga menengah (0-75 milimeter per dasarian).

    Wilayah yang diprediksi mengalami hujan kategori rendah di bawah 50 milimeter per dasarian adalah sebagian besar Sumatera bagian tengah hingga selatan, Jawa hingga Nusa Tenggara Timur, sebagian besar Kalimantan.

    Kemudian sebagian besar Sulawesi dan Maluku, sebagian Papua Barat, Papua bagian utara, dan Papua Selatan pada dasarian III September 2023.

    Lalu dasarian I Oktober 2023, wilayah hujan rendah meliputi Sumatera bagian tengah dan selatan, Jawa hingga Nusa Tenggara Timur, sebagian besar Kalimantan.

    Sebagian besar Sulawesi, Maluku, Maluku Utara, sebagian Papua Barat, sebagian Papua, sebagian Papua Pegunungan dan Papua Selatan juga masuk dasarian l.

    Pada dasarian II Oktober 2023, wilayah hujan rendah meliputi Sumatera bagian tengah dan selatan, Jawa hingga Nusa Tenggara Timur, Kalimantan bagian tengah hingga timur.

    Selain itu sebagian besar Sulawesi, Maluku, Maluku Utara, sebagian Papua Barat, sebagian Papua, sebagian Papua Pegunungan dan Papua Selatan juga masuk dasarian ll.

    Berdasarkan analisa BMKG, El Nino-Southern Oscillation atau ENSO dasarian II September 2023 menunjukkan indeks ENSO (+1.65), sedangkan Indian Ocean Dipole atau IOD sebesar (+1.26).

     

    Kondisi El Nino moderat dan IOD positif diprediksi terus bertahan hingga akhir tahun 2023.

    Aliran massa udara di wilayah Indonesia didominasi oleh angin timuran. Pola angin selama dasarian II September relatif lebih banyak sistem tekanan rendah daripada normalnya.

    Aliran massa udara diprediksi masih didominasi oleh angin timuran dengan kecepatan yang semakin kuat.

    Reporter: Nurakhmayani

     

  • TMC Diklaim Efektif Turunkan Polusi Udara, BRIN Ingatkan Jangan Jadikan Upaya Permanen

    TMC Diklaim Efektif Turunkan Polusi Udara, BRIN Ingatkan Jangan Jadikan Upaya Permanen

    7cloud.asia – Beberapa kali pemprov DKI Jakarta berupaya memperbaiki kondisi udara di Jakarta dengan teknologi  modifikasi cuaca (TMC). Cara ini diklaim efektif menurunkan indeks polutan yang mencemari udara di Jabodetabek.  

    Hal ini diungkap oleh Koordinator Laboratorium Pengelolaan Teknologi Modifikasi Cuaca pada Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Budi Harsoyo dalam sebuah dialog tentang polusi udara, Sabtu (23/09/2023).

    “Hujan paling efektif meluruhkan indeks kualitas udara menjadi lebih baik, tapi ini tidak bisa terjadi setiap hari,” ungkap Budi yang dikutip Antaranews.

    Selama pelaksanaan operasi teknologi modifikasi cuaca pada 24 Agustus sampai 10 September 2023 lalu, hujan-hujan banyak terjadi di wilayah Bogor.  

    Menurut Budi, kondisi ini normal sebab Bogor merupakan daerah dengan topografi tinggi, sehingga awan potensial yang terbentuk di daerah Bogor hampir setiap hari ada karena terbentuk oleh proses orografis.  

    Proses orografis adalah proses pembentukan awan yang terjadi karena bertemu dengan topografi tinggi, sehingga terjadi pengangkatan masa udara dan di situ terbentuk awan konvektif atau awan kumulus.  

    Saat musim kemarau, awan yang terbentuk memiliki kandungan uap air sedikit. Hal ini terlihat dari profil kelembapan udara di lapisan atas yang sangat kering.

    “Sehingga kalau menjadi hujan, maka hujannya hanya dengan intensitas ringan dan durasi pendek,” jelasnya.

    Hujan cukup deras sempat terjadi tanggal 20 Agustus 2023 di wilayah Bogor sampai ke Depok.

    Kemudian, hujan deras juga terjadi pada tanggal 27 Agustus 2023 sampai ke wilayah Jakarta Selatan dan meluas hingga Bandara Soekarno-Hatta.

    Distribusi hujan terkonsentrasi di Kota Bogor karena hampir setiap hari di sana ada awan kumulus yang terbentuk karena proses orografis. 

    Hasil hujan paling signifikan terjadi di tanggal 27 Agustus 2023 mencapai 64,2 milimeter dan tanggal 8 September 2023 mencapai 45,6 milimeter.

    Pada 27 Agustus 2023, hujan intensitas tinggi di Bogor bahkan sampai ke Jakarta berhasil menurunkan konsentrasi PM2,5.

     

    Berdasarkan data stasiun pemantauan indeks kualitas udara di Cibinong, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat, sebelum hujan turun konsentrasi PM2,5 mencapai 97 mikrogram per meter kubik.

    Setelah hujan deras selama 1,5 jam, konsentrasi PM2,5 berubah ke angka 20 mikrogram per meter kubik.

    Selain itu, hujan deras juga menurunkan konsentrasi polutan PM2,5 di Tanah Sereal, Kota Bogor, Jawa Barat, dari sebelumnya 87 mikrogram per meter kubik menjadi 12 mikrogram per meter kubik.

    Sementara wilayah Jakarta, Bekasi dan sekitarnya indeks kualitas udara tidak terlalu membaik karena hujan yang turun saat itu intensitas ringan.

    Kemudian 8 September 2023, hujan deras kembali terjadi di Bogor, namun Jakarta tidak kebagian hujan. Hujan saat itu juga menurunkan konsentrasi PM2,5 terutama di wilayah Bogor.

    Meski dianggap cukup ampuh menurunkan hujan dan menurunkan polusi udara, Budi mengingatkan agar TMC tidak dijadikan sebagai upaya permanen untuk menurunkan hujan.

    Menurutnya, akar masalah polusi udara di Jabodetabek harus dicarikan akar masalahnya agar kejadian serupa tidak rutin terulang setiap tahun.

    “Kenapa teknologi itu dimanfaatkan? Karena paling tidak adalah upaya yang paling bisa dengan cepat membuat indeks kualitas udara menjadi lebih baik,” kata Budi.

    Reporter: Nurakhmayani

     

     

     

     

  • Sepekan Banjir di Nunukan, 1 Warga Hilang

    Sepekan Banjir di Nunukan, 1 Warga Hilang

    7cloud.asia – Sudah sepekan banjir melanda wilayah Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. Sebanyak 3.052 keluarga terkena dampaknya, 32 keluarga diantaranya terpaksa mengungsi dan satu warga dinyatakan hilang.

    Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan pada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Abdul Muhari menjelaskan banjir di Nunukan ini telah menggenangi 2.182 rumah.

    Selain itu, sebanyak 51 fasilitas umum, dan 54 hektare sawah yang ada di 29 desa di 11 wilayah kecamatan di Kabupaten Nunukan juga tak luput dari banjir.  Ketinggian air berkisar antara 100-740.

    “Satu warga dilaporkan hilang dan saat ini masih dalam pencarian,” kata Abdul dalam keterangan di laman BNPB.

    Baca Juga: Perdagangan Karbon Rentan Perparah Ketidakadilan

    Lebih lanjut Abdul menjelaskan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Nunukan telah berkoordinasi dengan instansi pemerintah untuk melakukan upaya pencarian dan pertolongan.

    Selain itu, BPBD Kabupaten Nunukan juga membantu mendirikan tenda di tiap-tiap pos kecamatan yang terdampak, mendirikan dapur umum, mendistribusikan bantuan logistik dan peralatan serta upaya lainnya.

    Sebelumnya diberitakan, banjir terjadi akibat hujan dengan intensitas tinggi dalam durasi yang cukup lama mengguyur wilayah perbatasan antara Indonesia dan Malaysia pada Rabu (20/9) pukul 08.00 WITA.

    Daerah yang terdampak banjir umumnya berada di dekat aliran sungai. Pemerintah Kabupaten Nunukan juga telah menetapkan status tanggap darurat bencana alam banjir selama 14 hari.

    Baca Juga: Ketahuan! Gunung Gede Diduga Sengaja Dibakar

    Kondisi terakhir yang dipantau BNPB pada Minggu (24/9/2023) pukul 21.35 WIB, banjir masih mengalami pasang surut. Hal ini akibat wilayah hulu yang berada di negara Malaysia masih sering terjadi hujan.

    Selain itu, wilayah yang terdampak banjir merupakan daerah yang dekat dengan aliran sungai, sehingga air kiriman dari wilayah hulu mempengaruhi tinggi muka air.

    Banjir tampaknya masih akan menggenangi wilayah ini. Prakiraan cuaca dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), hujan  berpotensi terjadi di wilayah Kabupaten Nunukan hingga tiga hari ke depan atau Rabu (27/9).

    Karena itu BNPB mengimbau kepada masyarakat di Nunukan, khususnya yang terdampak banjir agar mengantisipasi adanya potensi bencana susulan.

    Baca Juga: BMKG: 10 Persen Wilayah di Indonesia Mulai Masuk Musim Hujan  

    Sedangkan masyarakat yang tinggal di bantaran sungai agar memperhatikan kondisi tinggi muka air secara berkala dan selalu memperbarui informasi cuaca di wilayah hulu.

    Jika terjadi hujan lebat dalam durasi lebih dari satu jam disarankan untuk mengevakuasi secara mandiri ke lokasi yang lebih aman.

    Reporter: Nurakhmayani