Tag: hutan mangrove

  • Riset YAKN Temukan Cara Pulihkan Hutan Mangrove dan Tambak Udang Sekaligus

    Riset YAKN Temukan Cara Pulihkan Hutan Mangrove dan Tambak Udang Sekaligus

    7cloud.asia – Indonesia sudah kehilangan sekitar seperempat tutupan mangrove sejak 1980-an. Penyebab utamanya adalah pembukaan hutan mangrove untuk ekspansi tambak udang. Karena itu, pintu masuk untuk memulihkan mangrove juga harus dimulai lewat tambak-tambak tersebut.

    Namun, penyelesaiannya menjadi kompleks karena budidaya udang adalah mata pencaharian utama bagi masyarakat pesisir sekaligus menjadi komoditas dengan nilai ekspor tertinggi dari sektor perikanan.

    Oleh sebab itu, ada dua pertanyaan besar yang mesti dijawab terlebih dahulu. Pertama, apakah budi daya tambak udang bisa berjalan berdampingan dengan restorasi mangrove? Bagaimana caranya?

    Kedua, dengan tingkat kerusakan yang sedemikian luas dan banyaknya masyarakat yang bergantung pada tambak, bagaimana cara menentukan lokasi prioritas pemulihan yang paling menguntungkan ekonomi dan lingkungan sekaligus?

    Di lokasi riset kami, Berau, Kalimantan Timur, misalnya, terdapat lebih dari 900 tambak. Belum lagi di seluruh Indonesia. Mustahil untuk mengubah semuanya sekaligus.

    Riset terbaru kami menjawab pertanyaan tersebut satu per satu. Kami menguji kualitas ekosistem di tambak berdampingan dengan mangrove. Kami memetakan lokasi-lokasi prioritas restorasi tambak melalui analisis spasial. Kesimpulannya, kedua tujuan ini dapat dicapai jika pendekatannya tepat.

    Menguji ekosistem tambak-mangrove

    Riset kami sebelumnya membuktikan, tambak udang dan restorasi mangrove bisa dikelola bersama dengan pendekatan SECURE (Shrimp-Carbon Aquaculture). Metode ini menggabungkan budidaya udang dengan pemulihan mangrove.

    Baca Juga: Hutan Mangrove di Tangerang Menyusut Drastis Akibat Proyek PSN di Era Jokowi

    Dengan cara ini, tambak terbagi dalam dua zona:

    1. Zona restorasi (60–80 persen luas tambak): mangrove ditanam kembali dengan metode restorasi hidrologis (mengalirkan air kembali seperti kondisi alaminya).

    2. Zona budi daya (20–40 persen): untuk memelihara udang secara organik, tanpa pakan buatan atau pupuk kimia.

    Hasilnya, tambak lebih kecil yang dikelilingi mangrove sehat bisa menghasilkan panen yang hampir setara dengan tambak konvensional. 

    Petambak peserta SECURE memanen rata-rata 140 kilogram udang per tambak setiap tahun. Angka ini mendekati panen tambak konvensional di wilayah yang sama yaitu sekitar 160 kilogram 

    Uji coba budi daya dan restorasi mangrove SECURE ini masih terus disempurnakan. Kami memperkirakan hasil panen dapat menyamai bahkan lebih tinggi dari tambak konvensional.

    Kami juga menguji kesehatan ekosistem tambak SECURE dengan menggunakan teknologi DNA lingkungan (eDNA).

    Metode ini mendeteksi keberadaan berbagai organisme melalui jejak DNA yang tertinggal di air—misalnya dari sel, kulit, atau kotoran. Jadi, kami cukup mengambil sampel air untuk menganalisis keberadaan organisme tersebut.

    Baca Juga: Kisah Sukses Hilirisasi Mangrove di Muara Gembong, Bekasi

    Dari satu liter air tambak yang kami saring, kami menemukan 4.291 kelompok organisme fitoplankton dan zooplankton kunci.

    Temuan ini menunjukkan bahwa kualitas air yang sangat baik serta indikator ekosistem yang lebih sehat pada tambak yang terintegrasi dengan mangrove.

    Cara menentukan wilayah prioritas restorasi

    Kami kemudian membuat peta prioritas wilayah restorasi menggunakan analisis spasial yang terbagi atas tiga kategori:

    1. Potensi restorasi atau perlindungan mangrove: Kami memprioritaskan tambak dengan tutupan mangrove di bawah 60 persen karena biaya pemulihannya cenderung lebih efisien jika areal restorasinya lebih luas.

    2. Perkiraan manfaat ekonomi bagi petani: Potensi nilai tambah yang bisa dihasilkan berdasarkan kalkulasi dari luas tambak. Hasilnya, tambak yang lebih besar berpotensi menghasilkan panen lebih banyak.

    3. Biaya implementasi: Ini dipengaruhi beberapa faktor. Salah satunya, panjang batas tambak yang berbatasan dengan sungai. Semakin jauh dari sungai, semakin sedikit biaya yang dibutuhkan untuk membuat tanggul pelindung.

    Menariknya, analisis spasial menunjukkan lokasi restorasi prioritas tinggi—yang berukuran besar dan jauh dari sungai—banyak berada di wilayah barat.

    Tambak prioritas di sisi barat cenderung berkelompok atau mengumpul, sehingga pemulihan seluruh lanskap pesisir dapat dilakukan secara lebih efisien dan efektif.

    Baca Juga: BRIN Gandeng Rekam Jejak Alam Nusantara Pulihkan Hutan Mangrove di Segara Anakan

    Penting untuk diterapkan di Indonesia?

    Pemerintah Indonesia terus berupaya memulihkan mangrove, bahkan sempat menargetkan rehabilitasi 600 ribu hektare pada 2024.

    Dan, studi menunjukkan bahwa hampir seluruh area restorasi tersebut dulunya adalah tambak ekstensif.Sehingga dalam banyak kasus, restorasi berarti mengembalikan tambak menjadi hutan mangrove.

    Sementara di sisi lain, pemerintah juga ingin memulihkan tambak-tambak udang yang sudah tidak produktif menjadi tambak baru atau diubah fungsi— misalnya menjadi tambak ikan air payau seperti nila.

    Program ini menargetkan sekitar 78.000 hektare lahan tambak udang lama yang terlantar untuk kepentingan produksi perikanan.

    Pendekatan SECURE menunjukkan bahwa tujuan-tujuan yang tampaknya kontradiktif ini bisa dicapai secara bersamaan.

    Meski demikian, penting dicatat, SECURE tetap tidak bisa menggantikan fungsi mangrove alami sepenuhnya. Fungsi penyimpanan karbon, habitat organisme air, dan perlindungan pesisir tetap jauh lebih baik pada hutan yang tidak terganggu.

    Kami menawarkan konsep ini hanya sebagai solusi kompromi yang realistis: memulihkan mangrove yang sudah rusak sambil mencegah alih fungsi mangrove yang masih utuh. 

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Muhammad Ilman, Aji Wahyu Anggoro, Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN)

  • Cegah Meluasnya Kerusakan Hutan Mangrove, Pemkab Berau Dorong Peran Perempuan

    Cegah Meluasnya Kerusakan Hutan Mangrove, Pemkab Berau Dorong Peran Perempuan

    ruangkotacom – Pemerintah Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, bersama Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) berkolaborasi memberdayakan kelompok perempuan dalam melestarikan ekosistem hutan mangrove.

    Program konservasi hutan mangrove ini sekaligus untuk memperkuat ekonomi masyarakat pesisir di Berau.

    Hasil penelitian yang dilakukan tim dari UGM pada 2023 menunjukkan, terjadinya penurunan signifikan luas ekosistem hutan mangrove di Berau.

    Pada tahun 2013, luas hutan mangrove di Berau mencapai 62.307,42 hektare dan tahun 2023 sebesar 60.011,59 hektare.

    Faktor yang mempengaruhi terjadinya konversi lahan disebabkan aktivitas pertambakan, perkebunan, pertambangan dan permukiman. Kerusakan ekosistem hutan mangrove tahun 2013 didominasi oleh persentase tutupan vegetasi mangrove

    Baca: KLH bakal kembangkan 11 kawasan lanskap mangrove

    Sekretaris Daerah Kabupaten Berau, Muhammad Said mengatakan, perempuan memegang peran sangat penting dalam menjaga keseimbangan antara ekonomi dan lingkungan, salah satunya adalah ekosistem hutan mangrove.

    Ia mengatakan bahwa hutan mangrove memiliki peran strategis, tidak hanya sebagai pelindung ekosistem pesisir dari abrasi dan perubahan iklim, tetapi juga sebagai penopang kehidupan dan sumber ekonomi masyarakat pesisir.

    Untuk itu, Pemkab Berau sangat mendukung inisiatif yang mendorong ekonomi pesisir berbasis sumber daya lokal, terutama yang melibatkan kelompok perempuan dan UMKM.

    Pemberdayaan kelompok perempuan dalam kolaborasi ini meliputi pelatihan produksi, penguatan kelembagaan, sistem produksi UMKM berbasis perikanan dan kelautan, hingga literasi keuangan.

    Inisiatif yang digagas oleh YKAN dan Pemkab Berau ini dalam kerangka Program Solutions for Marine and Coastal Resilience in the Coral Triangle (SOMACORE).

    Program ini bertujuan untuk meningkatkan efektivitas Kawasan Lindung Laut (MPA), mempromosikan mata pencaharian berkelanjutan dan adaptif iklim bagi masyarakat pesisir, serta meningkatkan inovasi lokal dalam konservasi.

    Baca: Setiap tahun belasan ribu hektare hutan mangrove musnah

    Program ini sebagai bagian dari upaya mendorong pengelolaan pesisir berkelanjutan yang mengintegrasikan aspek ekologi dan ekonomi masyarakat.

    Program SOMACORE didukung oleh Kementerian Federal Jerman untuk Lingkungan, Aksi Iklim, Konservasi Alam, dan Keselamatan Nuklir (BMUKN) melalui International Climate Initiative (IKI).

    Program ini dilaksanakan oleh konsorsium yang terdiri dari 10 organisasi nasional, regional, dan internasional di enam negara Segitiga Terumbu Karang.

    Said menambahkan, melalui kegiatan ini, masyarakat tidak hanya memahami pentingnya konservasi mangrove, tetapi juga memperoleh keterampilan praktis dalam mengembangkan usaha berbasis mangrove secara berkelanjutan.

    Sementara itu, Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Berau Abdul Majid menekankan bahwa penguatan kapasitas kelompok menjadi bagian penting dari pembangunan sektor perikanan yang berkelanjutan.

    “Wilayah pesisir Kabupaten Berau memiliki potensi sumber daya alam yang besar, terutama ekosistem mangrove yang berperan penting sebagai pelindung pesisir sekaligus menjadi sumber penghidupan masyarakat,” kata Abdul Majid.