7cloud.asia – Salah satu kekayaan laut Indonesia, khususnya yang berada di wilayah-wilayah pesisir adalah hutan mangrove atau hutan bakau.
Tipe hutan mangrove ini biasanya berada di daerah pasang surut air laut. Saat air pasang, hutan mangrove digenangi oleh air laut, sedangkan pada saat air surut, hutan mangrove bebas dari genangan air laut.
Umumnya, hutan mangrove berkembang dengan baik di pantai yang terlindung, muara sungai, atau laguna.
Ada dua fungsi hutan mangrove sebagai potensi sumber daya laut di Indonesia, yaitu fungsi ekologis dan ekonomis.
Baca: Mengenal habitat lamun yang efektif jernihkan kawasan pesisir
Fungsi ekologis hutan mangrove adalah sebagai habitat binatang laut untuk berlindung, mencari makan, dan berkembang biak, serta melindungi pantai dari abrasi air laut.
Hutan mangrove juga berguna untuk meminimalkan dampak tsunami, mengurangi polusi dengan menyerap karbondioksida (CO2) dan memproduksi oksigen (O2).
Hutan mangrove juga bisa menjadi menjadi barier atau penahan abrasi dan mencegah turunnya muka air tanah.
Sementara itu fungsi ekonomis hutan mangrove adalah kayu pepohonan yang bisa digunakan sebagai bahan kayu bakar atau bahan pembuat arang serta dapat dijadikan bahan pembuat kertas.
Buah yang dihasilkan dari hutan mangrove juga bisa dimanfaatkan menjadi makanan ataupun sirup. Selain itu, hutan mangrove juga menjadi habitat beragam jenis fauna yang memiliki nilai ekonomi, misalnya udang dan jenis ikan lainnya.
Baca: Abrasi akibat perubahan iklim picu ‘bedol desa’ di Pantura
Salah satu kekayaan hutan mangrove di Indonesia berada di kawasan pesisir atau kawasan lindung Pantai Timur, Kecamatan Gunung Anyar, Kota Surabaya, Jawa Timur.
Pada 2017, hutan mangrove itu diusulkan oleh pemerintah daerah setempat agar menjadi Kebun Raya Mangrove pertama di Indonesia. Usulan ini disetujui oleh Tri Rismaharini, Wali Kota Surabaya saat itu.
Usulan mengembangkan hutan mangrove di Surabaya tersebut kemudian disampaikan ke Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia atau LIPI, yang sekarang bertransformasi menjadi BRIN.
Pembangunan hutan mangrove Surabaya menjadi kebun raya mangrove pertama di Indonesia dimulai setahun setelahnya, tepatnya pada 29 April 2018.
Baca: Ribuan desa pesisir terancam hilang akibat perubahan iklim
Program pembangunan Kebun Raya Mangrove melibatkan sejumlah pihak, seperti Pemkot Surabaya, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), LIPI, dan Yayasan Kebun Raya Indonesia (YKRI).
Kebun Raya Mangrove Surabaya sendiri melingkupi tiga kawasan hutan mangrove, yaitu Mangrove Wonorejo, Mangrove Medokan Sawah, serta Mangrove Gunung Anyar.
Luas total hutan mangrove yang kini berubah menjaid Kebun raya Mangrove Surabaya ini sekitar 27 hektare.
Hutan mangrove di Pantai Timur Surabaya ini diharapkan dapat dimanfaatkan untuk pelestarian keragaman hayati, perlindungan lingkungan, pemberdayaan ekonomi, pendidikan, dan pariwisata atau hiburan.
Baca: Kebijakan ekspor pasir laut mengancam kelestarian ekosistem pesisir
Setelah melalui proses yang panjang, bertepatan dengan peringatan Hari Mangrove Sedunia pada Rabu, 26 Juli 2023 lalu, Kebun Raya Mangrove Surabaya diresmikan.
Peresmian dilakukan Megawati Soekarnoputri selaku Ketua Yayasan Kebun Raya Indonesia, sekaligus mantan Presiden ke-5 RI dan Ketua Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Hutan mangrove Surabaya yang kini berubah menjadi Kebun Raya ini menjadi yang pertama di Indonesia. Pasalnya, dari keseluruhan kebun raya yang ada di Indonesia selama ini, belum ada yang secara khusus untuk mangrove.
Dalam kesempatan itu, Megawati menekankan pentingnya negara menjaga keanekaragaman hayati atau biodiversitas dan kelestarian plasma nutfah termasuk pelestarian hutan mangrove.
Baca: DPR usulkan insentif untuk daerah penghasil oksigen
Untuk keperluan Kebun Raya Mangrove Surabaya, Megawati sudah mengumpulkan dana sekitar Rp2 miliar, yang diharapkan bisa digunakan untuk menambah koleksi spesies-spesies yang baru.
“Operasional pemeliharaan kebun raya juga sangat tinggi. Hal itu yang selama ini harus dipikirkan dan diupayakan oleh para pengelola kebun raya, termasuk pengelola hutan mangrove Surabaya ini,” ujar Mega.
Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, Penelitian dan Pengembangan Kota Surabaya mencatat, Kebun Raya Mangrove Surabaya memiliki koleksi 57 dari 157 jenis mangrove yang ada di dunia. Saat ini juga tengah dilakukan eksplorasi tiga jenis baru yang akan menambah koleksi.
Penulis: Esti Utami dari berbagai sumber
Baca: Daftar kebun raya untuk wisata sekaligus belajar mengenal alam









