Tag: jawa tengah

  • Ribuan Hektare Sawah di Jawa Tengah Terancam Gagal Panen Akibat Banjir

    Ribuan Hektare Sawah di Jawa Tengah Terancam Gagal Panen Akibat Banjir

    7cloud.asia – Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Jawa Tengah menyebutkan ribuan hektare lahan pertanian di sejumlah kabupaten terancam mengalami gagal panen akibat banjir yang menerjang areal persawahan.

    Kepala Distanbun Jateng Supriyanto di Semarang, Selasa (19/3/2024), menyampaikan lahan pertanian yang tergenang banjir itu berada di Kabupaten Grobogan, Demak, Kudus, Jepara dan Pati.

    Berdasarkan data per 15 Maret 2024, kata dia, tercatat 4.381 ha lahan tanaman padi di Kabupaten Grobogan terdampak banjir dengan umur tanaman padi 5-100 hari setelah tanam (HST).

    “Lahan jagung seluas 152 ha juga terdampak banjir di Grobogan. Komoditas bawang merah juga. Lahan yang terkena banjir seluas 84 ha,” katanya.

    Baca: Atasi banjir di Jawa Tengah BNPB lakukan modifikasi cuaca 

    Untuk Demak, ia menyebutkan setidaknya 162 ha lahan padi tergenang banjir dengan umur padi 10-90 HST, kemudian lahan bawang merah seluas 765,76 ha juga terdampak banjir.

    Di Kabupaten Kudus, kata dia, sebanyak 2.776 hektare lahan padi dengan umur 10 hingga 90 HST terdampak banjir, kemudian sejumlah komoditas lainnya, seperti melon dan cabai.

    “Ada 63 hektare lahan tanaman melon dan empat ha lahan cabai yang terdampak (banjir) di Kudus,” katanya.

    Baca: Banjir meluas ribuan warga Demak harus mengungsi

    Sedangkan di Jepara, lanjut dia, tercatat lahan padi seluas 1.989 ha dengan umur 30 hingga 80 HST yang tergenang banjir.

    Namun, Supriyanto mengatakan bahwa dampak terparah terhadap lahan pertanian sebenarnya adalah Pati, yakni sebanyak 6.961,4 ha lahan padi di Pati tergenang banjir.

    “Di Pati ada 6.961,4 ha lahan padi yang terdampak dengan umur padi 10-80 HST. Ada juga lahan jagung dengan luas 153,1 ha tergenang di Pati,” katanya.

     

    Baca: Cuaca ekstrem makin sering terjadi

    Data tersebut, kata dia, dimungkinkan masih terus berkembang, mengingat banjir yang belum surut di wilayah tersebut sehingga belum bisa dipastikan puso atau kerusakan lahan akibat banjir.

    Mengenai penyebab banjir, ia menjelaskan intensitas hujan yang tinggi menjadi salah satu penyebab banjir yang berdampak pada lahan pertanian di pesisir utara Jawa Tengah.

    “Selain itu, ada sungai yang tidak bisa menampung air dan tanggul Sungai Lusi jebol lagi. Kami masih melakukan pendataan dan fasilitasi sarana penanganan banjir,” pungkasnya.

  • Musim Kemarau di Jawa Tengah Diperkirakan Pertengahan April, Bisa Hingga 7 Bulan Lamanya

    Musim Kemarau di Jawa Tengah Diperkirakan Pertengahan April, Bisa Hingga 7 Bulan Lamanya

    7cloud.asia – Beberapa wilayah di Jawa Tengah akan memasuki musim kemarau pada pertengahan April 2024 yang berlangsung selama 4 hingga 7 bulan.

    Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Jawa Tengah, Sukasno mengungkapkan ada beberapa wilayah di Jawa Tengah yang memasuki musim kemarau paling awal, pertengahan April 2024.

    Wilayah tersebut antara lain Kabupaten Rembang bagian selatan serta sebagian Kabupaten Blora dan Pati.

    “Puncak kemarau diperkirakan terjadi antara Juli hingga Agustus 2024,” ujarnya seperti dikutip Antaranews.

    Baca: Musim kemarau 2024 bakal mundur

    Selanjutnya Sukasno menjelaskan anomali suhu permukaan perairan Indonesia pada April hingga September 2024 diprediksi hangat.

    Hal ini karena Monsun Australia diprediksi mulai aktif memasuki wilayah Indonesia pada April 2024.

    “Pada masa peralihan musim hujan ke kemarau, masyarakat diimbau untuk mewaspadai cuaca ekstrem,” katanya.

    Sebelumnya Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati mengatakan hasil analisa iklim awal musim kemarau akan sangat berkaitan dengan mekanisme interaksi antara El-Nino – angin Monsun Asia menjadi angin timuran Monsun Australia.

    Baca: Kekeringan akibat El Nino, pemerintah siapkan dana Rp 8 triliun

    Proses tersebut diprediksi akan dimulai awal April mendatang pada beberapa wilayah Indonesia timur dan Pesisir Utara Pulau Jawa (Banten, DKI Jakarta), kemudian mendominasi Pulau Jawa dan seluruh daerah Indonesia pada September.

    “Juli-Agustus diprediksi menjadi puncak dari musim kemarau di bawah normal, karena akan mendekati puncak, mulai lah persiapkan embung pertanian tetap basah saat ini,” jelasnya.

    Menurutnya hal ini penting dilakukan karena sifat kemarau di bawah normal itu lebih kering daripada biasanya.

    Baca: Kemarau panjang biaya tanam melonjak

    Ia menyebut puncak kemarau tahun ini diprediksi melanda 31- 45 persen daerah di Indonesia. 

    Mulai dari sebagian daerah di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Riau, Kepulauan Bangka Belitung, dan Jawa Timur.

    Selanjutnya, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, NTT, Maluku Utara, Papua Barat, Papua Tengah, dan Papua Selatan.

    Reporter: Nurakhmayani

  • BMKG Ingatkan Pemudik Sepeda Motor Waspadai Cuaca Ekstrem di Sejumlah Wilayah di Jawa Tengah

    BMKG Ingatkan Pemudik Sepeda Motor Waspadai Cuaca Ekstrem di Sejumlah Wilayah di Jawa Tengah

    7cloud.asia – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengimbau pemudik, khususnya pemudik sepeda motor agar mewaspadai potensi cuaca ekstrem di sejumlah wilayah Jawa Tengah.

    Cuaca ekstrem yang ditandai dengan hujan dengan intensitas sedang-lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang ini berpotensi terjadi di Jawa Tengah, 

    “Wilayah Jateng yang berpotensi terjadi cuaca ekstrem pada hari Senin (8/4) meliputi Kabupaten Cilacap, Boyolali, Pemalang, dan sekitarnya,” kata Kepala Kelompok Teknisi BMKG Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap Teguh Wardoyo di Cilacap, Jateng, Minggu (7/4/2024).

    Dilansir Antaranews.com, Teguh memaparkan potensi cuaca ekstrem itu dipicu oleh pola belokan angin dan konvergensi yang terlihat dominan untuk wilayah Pulau Jawa, termasuk Jateng serta labilitas lokal kuat yang mendukung proses konvektif pada skala lokal diamati di Jawa Tengah.

    Baca: Antisipasi cuaca ekstrem saat mudik Lebaran, BMKG siap lakukan modifikasi cuaca

    Di sisi lain, lanjut dia, wilayah Jateng saat sekarang telah memasuki masa pancaroba atau peralihan dari musim hujan menuju kemarau.

    Pada masa pancaroba, lanjut Teguh, hujan masih berpotensi terjadi dengan intensitas ringan hingga sedang yang kadang disertai petir.

    “Waktu terjadinya hujan di wilayah pesisir selatan Jateng cenderung pada malam dan pagi hari, sedangkan di wilayah yang lebih ke utara atau jauh dari pesisir cenderung pada siang hingga sore hari,” katanya.

    Menurut dia, beberapa hal yang perlu diwaspadai pada masa peralihan musim, di antaranya kejadian hujan lebat durasi singkat, petir, dan angin kencang, atau kombinasi dari ketiga hal tersebut.

     

    Baca: Cuaca ekstrem membayangi puncak Mudik 2024

    Ia menambahkan hujan lebat disertai petir, hujan lebat disertai angin kencang atau puting beliung, serta hujan lebat disertai petir dan angin kencang berpotensi terjadi di wilayah Jawa Tengah ini.

    “Faktor yang paling dominan mempengaruhi hal tersebut adalah adanya awan cumulonimbus atau Cb, walaupun tidak semua awan cumulonimbus berpengaruh,” katanya.

    Oleh karena itu, kata dia, pemudik bersepeda motor diimbau untuk mewaspadai potensi cuaca ekstrem yang dapat terjadi di sejumlah jalur mudik wilayah Jateng.

    Terkait dengan prakiraan cuaca di jalur mudik wilayah Jateng, dia mengatakan secara umum pada hari Minggu (7/4/2024) diprakirakan dalam kondisi cerah berawan.

    Baca: Demi keselamatan pemudikmotor tidak disarankan lakukan perjalanan pada malam hari

    “Pemudik yang membutuhkan informasi cuaca jalur darat dapat mengunjungi laman Digital Weather for Traffic yang dapat diakses melalui https://signature.bmkg.go.id/dwt/main,” kata Teguh.

     

    Terpisah, Kepala Kepolisian Resor Kota (Kapolresta) Banyumas Komisaris Besar Polisi Edy Suranta Sitepu mengatakan kendaraan berat telah disiagakan di sejumlah titik pada jalur mudik yang berada di wilayah Kabupaten Banyumas.

    Menurut dia, hal itu dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya cuaca ekstrem yang dapat mengakibatkan banjir, longsor, atau pohon tumbang.

    “Kami berupaya agar pemudik di jalur selatan dapat melintas dengan aman dan nyaman,” katanya.

    Sumber: Antaranewscom

  • Prakiraan Cuaca: Hujan Bakal Mengguyur Sejumlah Wilayah di Jawa Tengah

    Prakiraan Cuaca: Hujan Bakal Mengguyur Sejumlah Wilayah di Jawa Tengah

    7cloud.asia – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprakirakan kondisi cuaca di sejumlah wilayah Jawa Tengah (Jateng) bagian selatan khususnya Kabupaten Cilacap, Banyumas, dan sekitarnya berpotensi diguyur hujan saat Shalat Idul Fitri 1445 Hijriah pada Rabu (10/4/2024).

    “Pantauan cuaca dari Stasiun Meteorologi (Stamet) Tunggul Wulung Cilacap pada hari Selasa (9/4/2024), pukul 05.00-10.00 WIB, terjadi hujan ringan hingga lebat disertai petir,” kata Kepala Kelompok Teknisi BMKG Stamet Tunggul Wulung Cilacap Teguh Wardoyo di Cilacap, Selasa.

    Dalam hal ini, kata dia, curah hujan di wilayah perkotaan Cilacap pada Selasa (9/4/2024) pagi tercatat 68 milimeter atau kategori lebat, di Bandara Tunggul Wulung tercatat 45 milimeter atau kategori sedang, dan di Dayeuhluhur tercatat 9 milimeter atau kategori ringan.

    Berdasarkan pantauan dinamika atmosfer pada Selasa, kata dia, menunjukkan adanya Madden Julian Oscillation (MJO) di fase 4 atau Maritime Continent yang berkontribusi terhadap proses pembentukan awan hujan di Indonesia.

    Baca: Shalat Ied yang ramah lingkungan

    Dilansir Antaranews.com, Slamet mengatakan adanya gelombang atmosfer Kelvin yang salah satunya melewati Jawa bagian barat dan tengah serta adanya belokan angin di Jateng berdampak terhadap terjadinya hujan sedang hingga lebat.

    Hujan dengan intensitas sedang hingga lebat ini berpotensi terjadi khususnya di wilayah Cilacap dan sekitarnya pada Selasa (9/4/2024) pagi.

    “Khusus untuk tanggal 10 April 2024 wilayah Cilacap, Banyumas, dan sekitarnya, diprakirakan berawan pada pagi hari, ada potensi hujan ringan di beberapa wilayah di pesisir selatan. Namun pada sore hingga malam hari diprakirakan akan berpotensi terjadi hujan ringan hingga sedang,” katanya.

    Bahkan berdasarkan prakiraan cuaca yang dikeluarkan Stamet Ahmad Yani Semarang, kata dia, cuaca ekstrem berpotensi terjadi di sejumlah wilayah Jateng pada 9-11 April.

    Baca: Tahun ini muslim Indonesia rayakan Idul Fitri bersamaan 

    Slamet menambahkan, cuaca ekstrem berpotensi di Kabupaten Cilacap, Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara, Kebumen, Purworejo, Wonosobo, Temanggung, Kabupaten/Kota Magelang, Boyolali, Klaten, Kota Surakarta, Sukoharjo, Wonogiri, Karanganyar, Sragen

    Kota Salatiga, Kota/Kabupaten Semarang, Purwodadi, Kudus, Pati, Kendal, Batang, Kota/Kabupaten Pekalongan, Pemalang, Brebes, dan sekitarnya juga berpotensi alami cuaca ekstrem.

    Selanjutnya pada Kamis (11/4/2024) cuaca ekstrem berpotensi di Kabupaten Cilacap, Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara, Kebumen, Purworejo, Wonosobo, Temanggung, Kabupaten/Kota Magelang, Boyolali, Klaten, Wonogiri, Karanganyar, Kabupaten Pekalongan, Pemalang, Kabupaten Tegal, Brebes, dan sekitarnya.

    “Bagi para pemudik tetap harus berhati-hati dalam perjalanan karena curah hujan dengan intensitas sedang disertai petir diprakirakan masih berpotensi terjadi dalam beberapa hari ke depan, terutama pada sore hingga malam hari,” katanya. 

  • UMP 2025 Ditetapkan Naik 6,5 Persen, Jawa Tengah Tetap yang Terendah

    UMP 2025 Ditetapkan Naik 6,5 Persen, Jawa Tengah Tetap yang Terendah

    7cloud.asia – Kenaikan upah minimum tahun 2025 sebesar 6,5 persen berlaku merata di seluruh provinsi, kabupaten/kota di Indonesia.

    Keputusan itu ditetapkan usai rapat yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto bersama Menteri Ketenagakerjaan dan sejumlah pihak terkait pada Rabu (4/12/2024).

    Kenaikan UMP sebesar 6,5 persen ini diatur dalam Peraturan Menteri Ketenagakerjaan atau Permenaker Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2024 tentang Penetapan Upah Minimum Tahun 2025.

    Kebijakan kenaikan UMP sebesar 6,5 persen ini bertujuan untuk meningkatkan daya beli pekerja sekaligus menjaga daya saing dunia usaha.

    Jateng atau Jawa Tengah masih menjadi provinsi dengan nilai UMP terendah di Indonesia, setelah diberlakukannya kenaikan upah minimum nasional sebesar 6,5 persen pada 2025.

    Baca: Buruh tuntut kenaikan upah dan pencabutan UU Cipta Kerja

    Pemerintah Jawa Tengah melalui Penjabat Gubernur Jateng Nana Sudjana mengumumkan kenaikan UMP Jateng pada Rabu malam (11/12/2024) di kantornya, Semarang.

    Dalam kesempatan itu, dirinya menyampaikan Kenaikan UMP Jawa tengah hanya meningkat sebesar Rp132.402 menjadi Rp2.169.349 dari sebelumnya UMP 2024 sebesar Rp2.036.947.

    Menurut Nana, penetapan UMP 2025 tertuang dalam Keputusan Gubernur Jateng Nomor 561/38 tahun 2024 tentang Upah Minimum Provinsi Jateng Tahun 2025.

    Ia juga menjelaskan bahwa penetapan UMP 2025 berdasarkan Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 168/PUU-XXI/2023 tanggal 30 Oktober 2024 terhadap undang-udang Cipta Kerja.

    Baca: Ganjar-Mahfud akan evaluasi Omnibus Law UU Cipta Kerja

    Putusan tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 16 Tahun 2024 tentang Penetapan Upah Minimum Tahun 2025.

    Upah minimum ini berlaku bagi pekerja atau buruh dengan masa kerja kurang dari satu tahun pada perusahaan yang bersangkutan.

    Sementara upah bagi pekerja atau buruh dengan masa kerja satu tahun atau lebih berpedoman pada struktur dan skala upah.

    Setelah penetapan UMP ini, selanjutnya pemerintah Jawa Tengah bersama pemerintah kabupaten/kota akan mengusulkan besaran upah minimum kabupaten/kota (UMK) di Jateng tahun 2025 yang akan ditetapkan maksimal pada 18 Desember 2024.

  • Belasan Warga Meninggal Akibat Bencana Hidrometeorologi yang Dipicu Cuaca Ekstrem di Jawa Tengah

    Belasan Warga Meninggal Akibat Bencana Hidrometeorologi yang Dipicu Cuaca Ekstrem di Jawa Tengah

    7cloud.asia – Memasuki minggu ke-4 bulan Januari 2025, banjir dan tanah longsor akibat cuaca ekstrem masih mendominasi kejadian bencana di Indonesia, khususnya di Provinsi Jawa Tengah.

    Merujuk prakiraan cuaca BMKG, hingga Kamis (23/1/2025) sebagian besar wilayah Provinsi Jawa Tengah masih berpotensi mengalami hujan dengan intensitas ringan hingga tinggi di antaranya Kabupaten Grobogan, Kendal, Semarang, Tegal.

    Hujan tersebut dapat memicu terjadinya banjir, banjar bandang, dan tanah longsor. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengimbau warga untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan kewaspadaan.

    Bagi warga yang tinggal di dekat lereng dan tebing, pantau secara berkala kondisi tanah yang ada di sekitar rumah. Warga juga diminta melakukan evakuasi mandiri jika terjadi hujan terus menerus selama dua jam atau lebih.

    Sebelumnya diberitakan, banjir melanda sejumlah wilayah di Jawa Tengah. Di Kabupaten Pekalongan curah hujan tinggi memicu banjir dan tanah ongsor pada Senin (20/1/2025). Akibatnya 13 korban luka-luka, 17 meninggal dunia, dan 9 dalam pencarian.

    Di Kabupaten Kendal, banjir melanda 6 kecamatan di wilayahnya pada Senin (20/1/2025) yang menyebabkan 3.366 jiwa terdampak.

    Baca: Dunia keluar jalur dari pembatasan pemanasan global 1,5°C

    Sebanyak 450 warga terpaksa harus mengungsi. Banjir juga merendam 1.065 unit rumah, 10 fasilitas ibadah, 3 unit fasilitas kesehatan, 6 unit fasilitas pendidikan, dan 7 unit perkantoran.

    BPBD Kabupaten Kendal bersama unit terkait segera melakukan penanganan darurat dengan mengirimkan bantuan logistik dan mendirikan dapur umum di Gedung PKK dan PMI Kabupaten Kendal.

    Hingga Selasa (21/1/2025), ketinggian air masih setinggi antara 1 hingga 2 meter. Kebutuh mendesak penanganan darurat berupa sembako, air bersih, dan peralatan kebersihan.

    Selain banjir, Kabupaten Kendal juga dilanda longsor yang menelan 1 korban jiwa. Longsor juga menyebabkan 4 orang mengalami luka ringan dan 16 unit rumah rusak.

    Banjir besar juga melanda Kabupaten Grobogan pada Selasa (21/1/2025). Banjir dipicu oleh hujan intensitas sangat tinggi dan luapan Sungai Lusi, Sungai Serang, dan Sungai Tuntang sehingga sungai tidak mampu menampung debit air dan menyebabkan tanggul jebol di jalur Semarang-Purwodadi.

    Peristiwa itu juga menyebabkan jalur kereta api di Gubuk lumpuh.

    Baca: Dampak lingkungan akibat pemanasan global

    Sebanyak 6.168 KK terdampak, 139 jiwa di antaranya harus mengungsi. 139,16 hektar sawah terendam.

    Pasca kejadian, BPBD Kabupaten Grobogan mengevakuasi warga terdampak. Selain itu, BPBD juga mendirikan tempat pengungsian di Gedung Serbaguna Desa Ngraji.

    BPBD Kabupaten Grobogan melaksanakan kerja bakti penambalan tanggul di Desa Papanrejo Kecamatan Gubug. Bersama tim gabungan, BPBD Kabupaten Grobogan melaksanakan kerja bakti penambalan tanggul di Desa Papanrejo Kecamatan Gubug.

    Hujan intensitas tinggi juga memicu terjadinya banjir di Kabupaten Batang, Jawa Tengah pada Senin (20/1/2025). Banjir melanda 10 Kecamatan diantaranya Kecamatan Bawang, Kecamatan Reban, Subah, Tersono, Warungasem, Gringsing, Bandar, Wonotunggal, Blado, dan Kecamatan Batang.

    Total warga yang terdampak mencapai 7.531 jiwa. Dua diantaranya sempat hanyut namun sudah berhasil diselamatkan dan saat ini sedang dalam perawatan.

    Di Kabupaten Demak hujan intensitas tinggi mengakibatkan meluapnya air di Sungai Cabean dan Sungai Tuntang. Luapan tersebut menyebabkan tanggul jebol dan banjir di 2 kecamatan.

    Sebanyak 3.480 jiwa terdampak dan 2.400 diantaranya harus mengungsi. 400 pengungsi berada di Gedung BLK belakang kantor Desa Bogosari dan sisanya mengungai ke rumah kerabat.

    Hingga Selasa (21/1/2025) debit air semakin bertambah dan wilayah terdampak mulai meluas.

  • Alih Fungsi Hutan Picu Banjir dan Tanah Longsor di Jawa Tengah

    Alih Fungsi Hutan Picu Banjir dan Tanah Longsor di Jawa Tengah

    7cloud.asia – Alih fungsi lahan di beberapa tempat terutama di pegunungan dan perbukitan menjadi salah satu penyebab terjadinya bencana alam seperti banjir dan tanah longsor di Jawa Tengah

    Seperti diberitakan sebelumnya, cuaca akstrem telah mengakibatkan banjir dan tanah longsor di sejumlah daerah di Jawa Tengah, seperti Pemalang, Pekalongan, Kendal dan Banjarnegara.

    Bencana paling parah terjadi di Pekalongan. Tanah longsor yang terjadi di daerah ini menewaskan setidaknya 17 meninggal dan 9 orang lainnya hilang.

    “Beberapa tempat iya. Ada beberapa lokasi yang memang penyebabnya memang alih fungsi lahan,” kata Penjabat Gubernur Jawa Tengah Nana Sudjana di Semarang, Kamis (23/1/2025).

    Ia mencontohkan bencana tanah longsor di Desa Kasimpar, Kecamatan Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan yang disebabkan alih fungsi lahan.

    Baca: Cuaca ekstrem picu bencana hidrometeorologi di Jawa Tengah

    Kemudian, kata dia, peristiwa banjir di Kabupaten Brebes juga disebabkan adanya alih fungsi lahan di wilayah hulu atau perbukitan yang semula lahan hutan menjadi kebun.

    Berkaitan dengan alih fungsi lahan itu, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus berupaya untuk melakukan antisipasi, salah Satunya dengan penanaman pohon yang mampu menyerap dan menahan air.

    Selain itu, ia juga mendorong untuk adanya edukasi kepada masyarakat agar sadar dengan lingkungan dan menjauhi wilayah rawan bencana alam.

    Seandainya masih ada masyarakat yang memilih tinggal di lereng-lereng perbukitan serta tempat rawan bencana lainnya maka bisa diedukasi mengenai faktor risiko yang dihadapi.

    Baca: Pemanasan global lampaui 1,5C, kelestarian lingkungan makin terancam

    Nana sebelumnya menyampaikan duka cita kepada korban tanah longsor di Petungkriyono, Kabupaten Pemalang, yang menelan banyak korban jiwa dan ada belum ditemukan.

    Ia memastikan penanganan dan pencarian orang hilang korban bencana tanah longsor di Petungkriyono masih terus dilakukan oleh tim gabungan yang berjumlah sekitar 500-an petugas, termasuk sukarelawan.

    Ratusan petugas tersebut ada yang ditugaskan untuk mencari orang hilang, dan ada yang membuka akses jalan yang tertutup tanah dan pepohonan.

    Atas kejadian bencana tersebut, berbagai bantuan untuk korban juga sudah berdatangan, mulai dari kementerian Sosial, Pemprov Jateng, Pemkab Pekalongan, Bulog, dan lainnya.

    Beberapa bantuan yang dibutuhkan masyarakat seperti kasur lipat, pakaian, selimut, alat mandi, dan sembako sudah berada di posko penanganan bencana Kecamatan Petungkriyono.

  • BMKG: Waspadai Potensi Cuaca Ekstrem di Jawa Tengah pada 11-13 April 2025

    BMKG: Waspadai Potensi Cuaca Ekstrem di Jawa Tengah pada 11-13 April 2025

    7cloud.asia – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat untuk mewaspadai potensi terjadinya cuaca ekstrem di sejumlah wilayah Jawa Tengah (Jateng) pada 11-13 April 2025.

    Berdasarkan informasi dinamika atmosfer yang dirilis BMKG Stamet (Stasiun Meteorologi) Ahmad Yani Semarang, ada tiga faktor yang berpotensi menyebabkan terjadinya cuaca ekstrem

    Menurut Kepala Kelompok Teknisi BMKG Stamet Tunggul Wulung Cilacap Teguh Wardoyo di Cilacap, Kamis (10/4/2025), ketiga faktor tersebut meliputi keberadaan bibit Siklon Tropis 96S di Laut Arafura bagian barat yang menyebabkan terbentuknya daerah pertemuan di wilayah Jateng.

    Selain itu, kelembapan udara di berbagai ketinggian cenderung basah sehingga berpotensi meningkatkan pembentukan awan hujan yang menjulang hingga ke lapisan atas.

    Ia mengatakan potensi cuaca ekstrem tersebut turut dipicu oleh labilitas lokal kuat yang mendukung proses konvektif pada skala lokal diamati di Jateng.

    Baca: Hujan ekstrem masih mungkin terjadi hingga akhir April

    “Kondisi tersebut dapat menyebabkan peningkatan potensi cuaca ekstrem berupa hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang di beberapa wilayah Jateng pada tanggal 11-13 April 2025,” katanya.

    Lebih lanjut, dia mengatakan wilayah yang berpotensi terjadi cuaca ekstrem pada Jumat (11/4/2025) meliputi:
    Kabupaten Cilacap, Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara, Kebumen, Purworejo, Wonosobo, Kabupaten/Kota Magelang, Boyolali, Klaten, Kota Surakarta, Sukoharjo, Wonogiri.

    Cuaca ekstrem juga berpotensi terjadi di Karanganyar, Grobogan, Blora, Rembang, Pati, Kudus, Jepara, Temanggung, Batang, Kabupaten Pekalongan, Pemalang, Kabupaten Tegal, Brebes, dan sekitarnya.

    Sementara pada Sabtu (12/4/2025), cuaca ekstrem berpotensi terjadi di Kabupaten Cilacap, Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara, Kebumen, Purworejo, Wonosobo, Kabupaten/Kota Magelang, Klaten, Wonogiri, Karanganyar, Sragen, Blora, Kudus, Jepara, Demak, Temanggung, Kendal, Batang, Kabupaten Pekalongan, Pemalang, Kabupaten Tegal, Brebes, dan sekitarnya.

    Baca: Indonesia mulai masuki musim kemarau

    Selanjutnya wilayah yang berpotensi terjadi cuaca ekstrem pada Minggu (13/4/2025) meliputi Kabupaten Cilacap, Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara, Kebumen, Purworejo, Wonosobo, Kabupaten/Kota Magelang, Boyolali, Klaten, Kota Surakarta, Sukoharjo.

    Juga KabupatenWonogiri, Karanganyar, Sragen, Grobogan, Kudus, Jepara, Temanggung, Kabupaten/Kota Semarang, Kota Salatiga, Kendal, Batang, Kabupaten/Kota Pekalongan, Pemalang, Kabupaten/Kota Tegal, Brebes, dan sekitarnya.

    Teguh mengimbau masyarakat agar tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem pada tanggal 11-13 April 2025 yang dapat memicu terjadinya bencana hidrometeorologi berupa banjir, tanah longsor, puting beliung, pohon tumbang dan sambaran petir.

    “Hal ini terutama untuk masyarakat yang berada dan tinggal di wilayah rawan bencana hidrometeorologi,” kata Teguh.

    BMKG mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada terhadap kemungkinan terjadinya cuaca ekstrem yang dapat menyebabkan bencana seperti banjir bandang dan tanah longsor.