Tag: kekeringan

  • Kemarau Panjang Membuat Biaya Tanam Melonjak, Untuk Mengairi Sawah Petani di Lebak Harus Menyewa Pompa

    Kemarau Panjang Membuat Biaya Tanam Melonjak, Untuk Mengairi Sawah Petani di Lebak Harus Menyewa Pompa

    7cloud.asia – Kemarau panjang imbas El Nino berdampak besar bagi para petani, termasuk petani di Lebak Banten. Sawah mereka mengalami kekeringan dani serangan hama yang merajalela membuat gagal panen membayang petani. 

    Untuk memenuhi kebutuhan air guna mengairi sawahnya warga menggunakan pompa mandiri, seperti yang dilakukan petani di Cibadak, Lebak, Banten. 

    Petani yang mampu secara mandiri menggunakan pompa dengan menyedot air dari kali Cisangu agar terpenuhi ketersediaan pasokan air.

    “Kami terpaksa memanfaatkan pompa dengan biaya sendiri agar tanaman padi bisa dipanen. Bahkan sejak sepekan kemarin ini sudah habis membeli bahan bakar Rp350 ribu,” ungkap Didin  seorang petani di Blok Lalay, Cibadak Kabupaten Lebak seperti yang dilansir Antaranews.

    Baca Juga: Korban Akibat Bendungan Jebol di Libya Diperkirakan Mencapai Lebih dari 5000 Orang

    Menurutnya, sejak sepekan terakhir ia menggunakan pompa dengan kapasitas tiga inci untuk mengaliri tanaman padi seluas 1 hektare. 

    Laki-laki berusia 55 tahun ini menjelaskan areal tanaman padi di blok Lalay seluas 30 hektare usia padi rata-rata 30 hari setelah tanam. Sehingga diperlukan pengairan agar tetap tumbuh dan bisa dipanen.

    Kondisi serupa juga dialami Yasin. Petani di Kecamatan Cimarga, Kabupaten Lebak ini dalam mengatasi kekeringan dengan cara menggunakan pompa untuk menyedot air dari Sungai Ciujung.

    “Kami hanya menggunakan pompa dengan kapasitas empat inci dan bisa mengaliri lima hektar,” jelas Yasin.

    Dengan menggunakan pompa ini, tak bisa dipungkiri biaya produksi menjadi meningkat.

    Baca Juga: PDAM Mati Picu Krisis Air Bersih di Kota Makassar, Penjual Air Bersih dari Sumur Bor Laris Manis

    Menurut pria berusia 55 tahun ini, pada musim kemarau biaya produksi bisa mencapai Rp13 juta per hektare. Padahal biasanya biaya produksi Rp8 juta/hektare.

    “Kami berharap tanaman padi seluas dua hektare bisa dipanen pada awal November 2023 dengan pompa itu,” harap Yasin.

    Sementara itu, Kepala Bidang Produksi Dinas Pertanian Kabupaten Lebak, Deni Iskandar menjelaskan saat ini pihaknya telah mengajukan pompa ke Pemerintah Provinsi Banten. Tetapi hingga kini belum terealisasi.

    Selanjutnya Deni menjelaskan para petani yang memiliki sumber mata air permukaan cukup membutuhkan pompa agar sawah bisa terairi dan padi dapat tumbuh subur dan dipanen.

    “Kami berharap Pemerintah Provinsi Banten dapat membantu pompa untuk mengatasi kekeringan. Bahkan seluas 238 hektar terancam gagal panen akibat kemarau itu,” harap Deni.

    Reporter: Nurakhmayani 

  • Kekeringan Melanda, Menteri Agama Imbau Salat Istisqa

    Kekeringan Melanda, Menteri Agama Imbau Salat Istisqa

    7cloud.asia – Kekeringan melanda sebagian besar wilayah Indonesia sebagai dampak fenomena El Nino. Akibatnya banyak warga yang kesulitan mendapatkan air bersih hingga gagal panen.karena itu Kementerian Agama (Kemenag) mengajak umat Islam untuk menggelar Shalat Istisqa atau shalat meminta hujan.

    “Kementerian Agama mengajak umat Islam untuk melaksanakan Salat Istisqa atau salat meminta hujan,” ujar Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas seperti dikuti Antaranews, Jumat (15/09/2023).

    Salat Istisqa ini sebagai salah satu bentuk upaya manusia sekaligus bentuk penghambaan kepada Allah SWT.

    “Memohon agar Allah menurunkan hujan yang lebat merata, mengairi, menyuburkan, bermanfaat tanpa mencelakakan, segera tanpa ditunda. Amin,” harapnya.

    Pelaksanaan Salat Istisqa sama dengan Salat Idul Fitri dan Idul Adha. Sesudah Takbiratul Ihram, melakukan takbir tujuh kali pada rakaat pertama, dan lima kali takbir pada rakaat kedua.

    Setelah membaca Surat Al-Fatihah dan lainnya, lalu rukuk, sujud hingga duduk tahiyyat kemudian salam.

    Khatib lalu menyampaikan khutbah sama seperti khutbah Idul Fitri dan Idul Adha. Khutbah dianjurkan mengajak umat Islam untuk bertobat, meminta ampun atas segala dosa, serta memperbanyak istighfar dengan harapan Allah SWT mengabulkan apa yang menjadi kebutuhan umat Islam dan makhluk hidup lainnya pada saat kemarau panjang.

    Pada kesempatan yang berbeda, Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kota Sukabumi, Jawa Barat, bersama ribuan umat Muslim menggelar Salat Istisqa atau salat meminta hujan kepada Allah SWT.

    Shalat Istisqa ini merupakan upaya, khususnya umat Muslim, di Kota Sukabumi dengan cara berdoa kepada Allah SWT agar menurunkan hujan.

    “Kegiatan keagamaan ini sesuai tuntunan Islam, untuk itu Pemkot Sukabumi bekerja sama dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Sukabumi menggelar Shalat Istisqa yang juga diikuti oleh ribuan warga,” kata Wali Kota Sukabumi, Achmad Fahmi di Sukabumi.

    Sebelum pelaksanaan Salat Istisqa, pihaknya telah mengeluarkan surat edaran yang mengajak warga muslim di Sukabumi melaksanakan Salat Istisqa.

    Dengan demikian ia berharap, hujan dapat segera turun karena kekeringan di Sukabumi kian meluas membuat warga kesulitan mendapatkan air.

    “Hanya Allah SWT yang bisa menurunkan hujan, maka dari itu ikhtiar yang kami lakukan ini diharapkan bisa dikabulkan oleh Allah SWT dengan menurunkan hujan, khususnya di wilayah Kota Sukabumi,” harapnya.

    Repoter: Nurakhmayani

  • Jakarta Krisis Air Bersih, PMI Salurkan Bantuan 24 Ribu Liter Air

    Jakarta Krisis Air Bersih, PMI Salurkan Bantuan 24 Ribu Liter Air

    7cloud.asia – Kebutuhan air bersih meningkat seiring dengan kekeringan yang tengah melanda sejumlah wilayah termasuk Jakarta. Palang Merah Indonesia (PMI) DKI Jakarta menyuplai kebutuhan air bersih bagi warga yang membutuhkan.

    Hal ini dilakukan dalam rangka HUT ke-78 PMI di Kantor PMI DKI Jakarta, Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, Minggu (17/9).

    Bantuan air bersih yang diberikan mencapai 24.000 liter untuk disalurkan kepada 1.600 KK.

    Dilansir Beritajakarta, Ketua PMI DKI Jakarta, Rustam Effendi menjelaskan bantuan ini sebagai bukti komitmen PMI yang terus membantu masyarakat, sesuai dengan tema HUT ke-78 PMI yakni “Menolong Sepenuh Hati”.

    Baca Juga: Pemasangan Water Mist di Gedung Tinggi di Jakarta Terkendala Ketersediaan Alat

    “Saat ini sedang dalam masa kemarau dan ada juga dampak dari El Nino yang menyebabkan terjadinya kekeringan. Kami bergerak membantu warga di Jakarta yang membutuhkan air bersih, termasuk di wilayah Kalideres, Jakarta Barat. Sebab, air ini menjadi kebutuhan dasar manusia,” jelas Rustam usai apel HUT PMI di Jakarta.

    PMI, lanjut Rustam akan terus berinovasi dan melakukan terobosan agar dapat memberikan bantuan serta pelayanan sosial kepada masyarakat secara maksimal.

    “PMI DKI Jakarta memiliki moto SIAP yang merupakan akronim dari Sigap, Inovatif, Akuntabel, dan Profesional. Semboyan ini harus bisa diimplementasikan insan PMI DKI Jakarta,” ungkapnya.

    Baca Juga: Antisipasi Kekeringan Akibat El Nino, DKI Jakarta Tambah Instalasi Pengolahan Air

    Karena itu, Rustam berharap seluruh stakeholder di Jakarta dapat mendukung PMI DKI Jakarta dalam melakukan misi-misi atau memberikan bantuan kemanusiaan kepada masyarakat.

    “Saya menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh stakeholder, insan PMI DKI Jakarta, serta seluruh relawan yang sudah berkomitmen dan mengabdikan diri untuk kemanusiaan, membantu sesama,” katanya.

    Selain memberikan bantuan air bersih, kali ini PMI juga diserahkan penghargaan kepada mereka yang sudah mengabdi di PMI DKI Jakarta dalam kurun waktu 15 tahun dan 25 tahun.

    “Ini bukan waktu yang sebentar. Saya merasa bangga, menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas dedikasi yang sudah diberikan,” ujarnya.

    Baca Juga: Menghijaukan Jakarta lewat Ruang Terbuka Hijau, Upaya Mengembalikan Kualitas Udara Jakarta

    Sementara itu, Endang sasmito, salah satu penerima penghargaan pengabdian 25 tahun di PMI DKI Jakarta sangat senang dan bersyukur mendapatkan apresiasi atas pengabdian yang sudah dilakukan.

    “Penghargaan ini sebetulnya bagi saya bukan menjadi tujuan utama. Saya merasa berbahagia bisa melakukan misi kemanusiaan, menolong sesama yang membutuhkan,” kata Sasmito.

    Pada kesempatan itu, PMI DKI Jakarta juga membagikan hadiah kepada pemenang lomba Tumpeng, Tiktok, Bola Voli, dan Futsal.

    Selain itu, juga Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup serta Dinas Pertamanan dan Hutan Kota DKI Jakarta juga membagikan bibit pohon kepada PMI DKI. Hal ini sebagai upaya untuk memperbaiki kualitas udara di Jakarta yang masih berada pada kondisi tidak sehat.

    Reporter: Nurakhmayani 

     

  • Krisis Air Bersih di Muara Angke, Warga Harus Siapkan Rp400 Ribu untuk Beli Air Bersih

    Krisis Air Bersih di Muara Angke, Warga Harus Siapkan Rp400 Ribu untuk Beli Air Bersih


    7cloud.asia – Krisis air bersih hampir terjadi setiap tahun di Muara Angke, Jakarta Utara.

    Apalagi di saat musim kemarau seperti ini, kekeringan pun terjadi di wilayah Muara Angke. Akibatnya warga harus merogoh kocek hingga Rp400 ribu untuk membeli air.

    Seperti yang dialami warga di RW 22 Blok Empang, Muara Angke, Jakarta Utara. Di tempat ini warga hanya mengandalkan suplai dari jeriken air gerobak yang dijual secara keliling untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari.

    Baca: Kemarau panjang membuat biaya tanam melonjak

    Selain itu warga juga memanfaatkan air sumur yang kondisinya tidak jernih dan berasa asin karena dekat dengan pesisir Jakarta.

    “Permasalahan akses air bersih di sini sudah berlangsung selama tahunan,” ungkap Oni, salah satu warga seperti dikutip Antaranews.

    Hal senada juga diungkapkan oleh warga lainnya, Udin. Pedagang kerang hijau ini terpaksa membeli air bersih dari pedagang keliling untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya.

    Baca: BRIN sebut El Nino akan berlangsung hingga Mei 2024

    “Seharinya bisa habis lima galon air bersih, untuk memasak dan minum, kalau mandi dan nyuci saya biasanya pakai air sumur” jelas Udin.

    Kualitas air yang buruk di wilayah ini memaksa warga harus membeli air bersih.
    Air sumur tak layak konsumsi sebab bercampur dengan tanah bekas galian dan terdapat banyak kutu air.

    Akibatnya mereka mengalami gatal-gatal usai mandi karena menggunakan air sumur. “Air dari sumur resapan berbau menyengat, berminyak, asin. Banyak warga yang terkena penyakit kulit gatal-gatal,” kata Udin.

    Baca: Warga diminta hemat air karena musim hujan diperkirakan mundur

    Jika ingin air bersih, maka warga harus membeli dengan harga Rp 5000 per jeriken. Dalam satu bulan, warga Muara Angke harus mengeluarkan uang sekitar Rp300 ribu-Rp400ribu hanya untuk membeli air bersih.

    Tentu saja kondisi ini memberatkan warga yang mayoritas bekerja sebagai nelayan, pengupas kerang, pedagang asongan atau kuli harian.

    Sementara itu, salah satu penjual air bersih keliling, Rizal menjelaskan dalam sehari mampu mengangkut 40 jeriken air untuk dijajakan kepada warga Muara Angke.

    Baca: BMKG perkirakan musim hujan 2023/2024 akan mundur

    “Biasanya kalau lagi ramai bisa dapat Rp200 ribu tapi kalau sepi paling Rp150 ribu,” kata Rizal yang berdagang air bersih mulai pukul 04.00 WIB hingga pukul 17.00 WIB.

    Kualitas air di wilayah ini yang buruk memang tak bisa dipungkiri. Badan Geologi, Kementerian Energi Dan Sumber Daya Mineral menyatakan bahwa 80 persen air tanah di wilayah Cekungan Air Tanah (CAT) Jakarta tidak memenuhi standar Menteri Kesehatan No. 492 tahun 2010 tentang Persyaratan Kualitas Air Minum.

    Jakarta bagian utara merupakan wilayah terparah di mana secara umum CAT air tanahnya mengandung unsur Fe (besi) dengan kadar yang tinggi serta kandungan Na (Natrium), Cl (Klorida), TDS (Total Dissolved Solids).

    Baca: Mentan perkirakan El Nino bisa picu kekurangan beras

    Tak hanya itu, air sumur di wilayah ini juga mengandung DHL (Daya Hantar Listrik) yang tinggi akibat adanya pengaruh dari intrusi air asin.

    Masalah air bersih ini sebenarnya sudah menjadi perhatian lama pemerintah setempat. Pihak Kelurahan Pluit tengah mengupayakan pipanisasi air agar tersambung dengan aliran air dari PAM Jaya.

    “Kami sudah rapat terus intens dengan pihak PAM dan kami akan usahakan secepat mungkin mengenai jalur pipa di Muara Angke,” kata Sekretaris Lurah Kelurahan Pluit Muhamad Djahruddin.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Situbondo Kekeringan, Warga Harus Masuk Hutan Mencari Air

    Situbondo Kekeringan, Warga Harus Masuk Hutan Mencari Air

    7cloud.asia – Kekeringan akibat fenomena El Nino masih terjadi di beberapa wilayah. Kabupaten Situbondo, Jawa Timur salah satu yang mengalami krisis air bersih.

    Akibatnya, warga harus berjalan jauh masuk hutan untuk mendapatkan air bersih. Kekeringan yang mengakibatkan krisis air bersih ini terjadi dalam dua bulan ini.

    Salah seorang warga, Sumirah menjelaskan, untuk memenuhi kebutuhan air bersih ia harus mengambil ke sumber mata air yang jaraknya cukup jauh dan juga bergiliran atau antre dengan warga lainnya.

    “Kalau belum mendapatkan distribusi air bersih kami ya mengambil air di sumber mata air berjalan kaki. Apalagi kebutuhan air bersih dibutuhkan sehari-hari untuk kepentingan memasak, mandi, dan mencuci,” urai Sumirah seperti dikutip Antaranews.

    Baca Juga: Krisis Air Bersih di Muara Angke, Warga Harus Siapkan Rp400 Ribu untuk Beli Air Bersih

    Sementara itu Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, terus mendistribusikan air bersih secara bergiliran tiga hari sekali ke sejumlah wilayah terdampak kekeringan guna memenuhi kebutuhan air bersih. 

    Kepala Pelaksana BPBD Situbondo, Sruwi Hartanto mengemukakan pada hari ini petugas melakukan pengiriman air bersih di dua titik terdampak kekeringan, yakni di Dusun Bandusa dan Dusun Polay, Desa Jatisari, Kecamatan Arjasa.

    “Hari ini kami mendistribusikan air bersih ke dua dusun di Desa Jatisari, masing-masing dusun satu armada truk tangki kapasitas 5.000 liter, jadi sehari dua titik wilayah kekurangan air bersih kami kirim 10.000 liter,” jelas Sruwi.

    Selanjutnya Sruwi mengungkapkan ada dua dusun Desa Jatisari menjadi langganan terdampak kekeringan dan kekurangan air bersih setiap memasuki musim kemarau.

    Baca Juga: Selama 60 Hari Hujan Tak Turun, Sejumlah Wilayah di Pulau Jawa Kekeringan

    Kedua dusun itu terletak di atas perbukitan sehingga saat memasuki kemarau sumber mata air semakin mengecil dan tidak mampu memenuhi kebutuhan warga setempat.

    “Dusun Polay dan Bandusa ini masuk kategori terpencil dan memang menjadi langganan lokasi kekeringan,” ujar Sruwi.

    Berdasarkan data BPBD Situbondo hingga kini ada tujuh dusun yang mengalami kekurangan air bersih akibat sumber mata air mengecil.

    Ketujuh dusun tersebut adalah Dusun Sokaan Utara (wilayah barat dan timur) Desa Gunung Putri, Kecamatan Suboh tercatat sebanyak 2.793 jiwa tersebar di enam RT.

    Kemudian Dusun Bandusa dan Dusun Polay Taman, Desa Jatisari, Kecamatan Arjasa tercatat ada 800 jiwa tersebar di enam RT mengalami kekurangan air bersih akibat sumber mata air di dua dusun tersebut mengecil.

    Baca Juga: BMKG: Musim Hujan Tahun 2023/2024 Akan Mundur

    Selanjutnya Dusun Sekar Putih dan Dusun Curah Temu, Desa Sumberanyar, Kecamatan Banyuputih tercatat ratusan jiwa juga mengalami kekurangan air bersih karena sumber air di sumur bor berkurang.

    Sedangkan di Dusun Jerugan, Desa Selomukti, Kecamatan Mlandingan, ada 673 jiwa kekurangan air bersih, karena sumur bor bantuan pemerintah di dusun tersebut rusak.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Dampak El Nino, Kekeringan di Bali Meluas

    Dampak El Nino, Kekeringan di Bali Meluas

    7cloud.asia – Kekeringan akibat kemarau panjang masih terjadi di sejumlah tempat meski di beberapa wilayah hujan mulai turun.

    Seperti yang terjadi Bali, kekeringan akibat kemarau panajng terus meluas dan kini telah dialami 15 kecamatan.

    Kekeringan ini terjadi sebagai dampak fenomena El Nino yang memicu kemarau panjang sehingga mengakibatkan beberapa wilayah di Bali tidak turun hujan selama 80 hari.

    “Secara umum di Bali berada pada kategori masih ada hujan hingga kekeringan ekstrem,” ujar Koordinator Bidang Data dan Informasi BMKG Wilayah III Denpasar, I Nyoman Gede Wiryajaya seperti dikutip Antaranews.

    Baca: Kekeringan picu krisis air bersih, warga Muara Angke harus beli air dengan harga mahal

    Kelimabelas kecamatan tersebut adalah Kecamatan Buleleng, Gerokgak, Kubutambahan, Sawan, dan Sukasada, Kabupaten Buleleng.

    Selain itu, Kecamatan Melayan, Kabupaten Jembrana; Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli; Kecamatan Karangasem dan Kubu, Kabupaten Karangasem.

    Kecamatan Kuta, Kuta Utara, dan Kuta Selatan, Kabupaten Badung; Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung; dan Kecamatan Denpasar Timur dan Denpasar Selatan, Kota Denpasar juga tak luput dari kekeringan.

    Baca: Kekeringan bikin biaya tanam melonjak

    Di antara 15 kecamatan tersebut, lanjut Nyoman, yang paling lama mengalami kekeringan adalah Kecamatan Kubu, Kubutambahan, dan Kintamani.

    Dengan demikian, BMKG menerbitkan peringatan dini kekeringan di Pulau Dewata yang berlaku selama dasarian atau per 10 hari yang akan diperbarui berdasarkan pengamatan terbaru BMKG.

    Pada 10 hari lalu, BMKG Denpasar mencatat kekeringan terjadi di 14 kecamatan di Bali.

    Baca: Harga beras naik, sebagian warga Rangkasbitung beralih konsumsi palawija

    Selanjutnya Nyoman menjelaska meski kini kekeringan meluas hingga 15 kecamatan, tetapi masih ada potensi terjadi hujan hingga 30 September 2023.

    Wlayah yang berpotensi hujan yaitu, Kecamatan Selemadeg, Selemadeg Barat, dan Sidemen.“Distribusi curah hujan di Bali secara umum itu antara nol hingga 215,5 milimeter per 10 hari,” ungkapnya.

    Sebelumnya, BMKG memperkirakan puncak musim kemarau di Bali terjadi pada Juli-Agustus 2023 yang dipengaruhi fenomena El Nino.

    Baca: El Nino picu kekeringan, produksi beras diperkirakan bakal minus

    El Nino merupakan fenomena cuaca yang terjadi akibat peningkatan suhu permukaan air di Samudra Pasifik Tengah dan Timur yang menjadi lebih hangat dari biasanya.

    Biasanya terjadi setiap 5 atau 7 tahun sekali. Fenomena alami ini menyebabkan perubahan pola cuaca global, yang berdampak signifikan pada iklim di berbagai wilayah di dunia, termasuk di Indonesia.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Demi Dapat Air Bersih, Warga Lebak Harus Cari ke Hutan

    Demi Dapat Air Bersih, Warga Lebak Harus Cari ke Hutan

    7cloud.asia – Kemarau panjang akibat fenomena El Nino mengakibat sejumlah daerah mengalami krisis air. Bahkan warga harus berjalan jauh masuk ke hutan demi mendapatkan air bersih. Seperti di pedalaman Kabupaten Lebak, Banten.

    Masyarakat di wilayah ini sejak sebulan terakhir mencari air bersih hingga masuk ke hutan akibat dampak perubahan iklim kemarau 2023 atau El Nino.

    “Kita pada malam hari mendapatkan air bersih dari sumber mata air di kawasan hutan,” kata Sarip, warga Margaluyu Kabupaten Lebak, seperti dikutip Antaranews.

    Demi mendapatkan air bersih, lanjut Sarip, masyarakat di wilayah ini terpaksa berjalan kaki ke hutan- hutan sepanjang 1 kilometer menggunakan sepeda motor.

    “Selama ini, sumur bawah tanah yang biasa kami pakai untuk keperluan wudhu dan cuci serta kakus (MCK) mengalami kekeringan,” ucap pria berusia 40 tahun ini.

    Karena itu, Sarip bersama warga lainnya setiap hari mencari air bersih ke sumber mata air setempat. Biasanya mereka mulai mencari air usai salat Isya.

    “Kami mencari air bersih untuk bisa terpenuhi bak dan tempat lainnya dari pukul 18.20 WIB sampai pukul 22.00 WIB,” ungkapnya.

    Hal senada juga diungkapkan oleh Suhari, warga dari Kecamatan Sajira Kabupaten Lebak. Ia kini harus mencari air bersih ke hutan-hutan yang ada sumber mata air.

    Pihaknya juga telah berusaha mengadukan masalah ini ke pihak desa agar dapat bantuan air.  Namun, Suhari mengaku hingga kini belum ada bantuan air bersih yang diterimanya

    “Kami sudah melaporkan krisis air bersih ke desa setempat untuk pengajuan bantuan air bersih ke Pemkab Lebak,” jelas Suhari.

    Kordinator Pendistribusian Air Bersih Badan Penanggulangan Bencana Daerah ( BPBD) Kabupaten Lebak, Irman Utharman menjelaskan masyarakat yang dilanda krisis air bersih dapat mengajukan permintaan pengiriman air.

    Masyarakat, lanjutnya, dapat melaporkan ke kepala desa setempat. Kemudian kepala desa melampirkan jumlah kepala keluarga yang terjadi krisis air bersih dan diketahui aparat kecamatan.

    Setelah itu, permohonan permintaan air bersih bisa langsung mendatangi BPBD Lebak. “Kami sampai hari ini sudah mendistribusikan air bersih di atas 700 ribu liter tersebar di 20 kecamatan yang dilanda krisis air bersih akibat kemarau itu,” ungkap Irman.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Gara-Gara Pre Wedding, Kerugian Kebakaran Bromo Capai Rp 5,4 Milyar

    Gara-Gara Pre Wedding, Kerugian Kebakaran Bromo Capai Rp 5,4 Milyar

     

    7cloud.asia – Kerugian akibat kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di kawasan Gunung Bromo, Jawa Timur beberapa waktu lalu diperkirakan mencapai Rp 5,4 miliar. Kerugian ini belum termasuk water bombing untuk memadamkan api.

    Penjelasan ini disampaikan oleh Kepala Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Hendro Widjanarko seperti dikutip Antaranews.

    “Untuk dampak sudah kita hitung estimasi (sementara) sekitar Rp5,4 miliar (nilai kerugiannya). Itu terhitung mulai 6 sampai 10 September 2023,” ungkap Hendro saat meninjau Blok Savana Lembah Watangan di Kabupaten Probolinggo, Provinsi Jawa Timur, Kamis (21/09/2023).

    Selanjutnya Hendro menjelaskan perhitungan nilai kerugian akibat kebakaran hutan dan lahan di kawasan Bromo mencakup biaya pemadaman kebakaran dari darat.

    Selain itu juga mencakup kerugian akibat hilangnya habitat satwa, dan kerugian akibat terhentinya aktivitas wisata di taman nasional.

    “Untuk wisata, itu gabungan antara Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP), kemudian untuk penyedia jip, warung, hotel, homestay (penginapan), dan lainnya,” jelasnya.

    Namun, jumlah ini belum termasuk biaya operasi pengeboman air menggunakan helikopter untuk memadamkan kebakaran lahan serta kerusakan jaringan pipa air akibat kebakaran.

    Untuk memudahkan petugas memadamkan api, empat pintu masuk ke TNBTS ditutup total dari 6 sampai 18 September 2023.

    “Penutupan tersebut untuk keamanan pengunjung dan memudahkan operasi pemadaman,” ujarnya.

    Kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru mulai dibuka kembali untuk pengunjung pada 19 September 2023.

    Diwartakan sebelumnya, Kebakaran di gunung Bromo berawal pada Rabu 6 September 2023 akibat kegiatan prewedding memakai flare di Bukit Teletubbies, Bromo.

    “Api awalnya hanya menyebar ke sisi kanan dan kiri bukit Teletubbies. Kami padamkan dan berhasil, tapi apinya ternyata menjalar ke atas bukit,” jelas Hendro.

    Kondisi ini diperparah dengan angin kencang hingga membuat api terus menjalar menjalar sangat cepat memasuki kawasan di dekat posko Jemplang atau kafe Bromo Hillside.

    Akibat kebakaran tersebut, TNBTS ditutup dari 6 sampai 18 September 2023. Selama penutupan tersebut, ratusan personel dikerahkan untuk memadamkan kebakaran lahan ini.

    Areal seluas 504 hektare di kawasan TNBTS yang kebanyakan berupa sabana ini rusak akibat kebakaran tersebut.

    Gunung Bromo merupakan salah satu destinasi wisata unggulan di Jawa Timur. Pada 2022 destinasi wisata itu dikunjungi oleh 318.919 wisatawan, yang terdiri atas 310.418 orang wisatawan nusantara dan 8.501 orang wisatawan asing.

    Pendapatan Negara Bukan Pajak yang diperoleh dari kunjungan wisatawan ke Bromo selama tahun 2022 mencapai Rp11,65 miliar, meningkat dari Rp4,85 miliar pada tahun sebelumnya.

    Reporter: Nurakhmayani

     

  • Dampak El Nino, Warga Ciamis Antre Air

    Dampak El Nino, Warga Ciamis Antre Air

    7cloud.asia – Kekeringan sebagai dampak fenomena El Nino melanda sejumlah wilayah di Indonesia. Tak terkecuali  warga Desa Cibadak, Kecamatan Banjarsari, Ciamis, Jawa Barat.

    Sudah dua bulan terakhir ini, warga Desa Cibadak terpaksa mengandalkan bantuan air untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari.

    Seperti yang dialami oleh Arum, 40 tahun. Warga RT 37, RW 08 ini terpaksa mengantri air dengan menggunakan tandon saat bantuan air datang.

    “Lumayanlah buat mandi dan buat nyuci-nyuci aja. Buat masak dan minum, saya beli air galon,” kata Arum kepada Ruangkota.com Rabu (27/09/2023).

    Selanjutnya Arum menjelaskan bantuan ini tidak datang setiap hari. Karena itu jika persediaan air habis, ia biasa meminta kepada kerabat yang tidak mengalami kekeringan.  

    Di wilayah ini tidak ada orang yang menjual air dengan jeriken. Semua warga yang kekeringan hanya mengandalkan bantuan dari relawan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) dan relawan Cibadak.

    Bantuan dari pemerintah melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) jarang mereka terima.

    “Kalaupun datang cuma seminggu sekali. Kemarin hari Sabtu (23/09/2023), bantuan datang. Nggak tau deh datang lagi nggak ntar Sabtu besok,” ungkap ibu dua anak ini.

    Sementara itu, Taufik Hidayat, salah satu relawan MDMC menjelaskan bantuan ini sudah diberikan sejak 1,5 bulan yang lalu.

    Selain Desa Cibadak, pihaknya secara bergantian berkeliling ke Desa Pamarican, Banjarsari dan Banjaranyar.

    Biasanya ia menyalurkan air dengan menggunakan truk sebanyak 4 ribu liter untuk sekali pengiriman. Tetapi kali ini pihaknya menggunakan gerobak motor yang mengangkut 1000 liter.

    “Jatahnya satu desa 15 ribu liter. Jadi kami bolak balik sampai malam,” jelas Taufik.

    Karena itu, Taufik berharap pihak pemerintah dapat lebih sering rutin mengimkan bantuan air kepada warga yang mengalami kekeringan.

    Hal ini perlu dilakukan agar warga bisa mendapatkan bantuan air setiap hari.

    Menurut Taufik, bantuan air ini berasal dari wilayah Manganti yang sumbernya dari PDAM.

    Saat Ruangkota melihat kondisi airnya yang ditampung untuk warga, air tidak bening dan agak keruh, meski tidak berbau.

    Karena itu, banyak warga yang menggunakannya untuk mencuci dan mandi saja.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Antisipasi Dampak El Nino dan Banjir, Pemprov Jawa Timur Lakukan Berbagai Langkah

    Antisipasi Dampak El Nino dan Banjir, Pemprov Jawa Timur Lakukan Berbagai Langkah

    7cloud.asia – Fenomena El Nino masih melanda sejumlah daerah di Indonesia. Dampaknya berupa kekeringan hingga kebakaran lahan. Jawa Timur salah satunya. Perlu langkah mitigasi, preventif dan quick response dalam menghadapinya.

    Hal ini dikatakan oleh Gubernur Jawa Timur (Jatim), Khofifah Indar Parawansa yang meminta semua pihak, termasuk para bupati dan wali kota, untuk menyiapkan langkah tersebut.

    Dilansir dari Antaranews, mengantisipasi dampak El Nino, Khofifah mengajak berbagai pihak untuk melakukan kehati-hatian atas tindakan yang bisa mengakibatkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

    Kecerobohan mengakibatkan kawasan hutan dan lahan di Gunung Arjuno Welirang dan Bromo beberapa waktu lalu habis terbakar.

    Tidak hanya El Nino, langkah-langkah ini juga perlu dilakukan untuk mengantisipasi banjir serta bencana alam lainnya saat musim hujan.

    “Apel kesiapsiagaan ini kita gelar dalam rangka menghadapi El Nino, sekaligus potensi banjir. Kita harus terus meningkatkan kehati-hatian dan mitigasi harus dilakukan lebih komprehensif,” ujar Khofifah seperti dikutip Antaranews.

    Meski sekarang masih musim kemarau, tetapi lanjut Khofifah, upaya mitigasi perlu dilakukan. Sebab Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan hujan turun pada minggu kedua atau ketiga November.

    Selanjutnya Khofifah menjelaskan salah satu langkah mitigasi dan preventif itu adalah mengecek kondisi dam atau bendungan. Perlu sinergi untuk mengantisipasi banjir akibat sampah yang menumpuk.

    “Maka yang harus dilakukan adalah gotong royong, kerja bakti, sinergi, dan antisipasi bersama,” katanya.

    Pada kesempatan itu, Khofifah juga meminta pihak berwenang untuk melakukan pengecekan pada rumah pompa yang berfungsi untuk mengatur air. 

    “Dalam rumah pompa jangan sampai ada listrik yang tidak mengalir, sehingga ketika dilakukan proses pengaturan air tidak berfungsi. Dan bisa berdampak pada terjadinya banjir,” paparnya.

    Selain itu pihaknya juga terus mendorong upaya normalisasi sungai agar bisa menampung debit air yang lebih besar dan optimal.

    Sebab hingga kini masih banyak masyarakat yang membuang sampah rumah tangga di sungai. Hal ini menyebabkan sungai menjadi penuh sampah dan berakibat banjir di saat hujan turun.

    “Kami pernah diberi informasi Kepala BNPB untuk segera melakukan normalisasi di tiga sungai di Jatim. Di situ banyak ditemukan potongan kayu yang panjangnya sampai enam meter, TV, juga sofa, dan lain sebagainya,” ungkapnya.

    Karena itu, pemerintah kabupaten/kota yang ada di Jawa Timur diminta untuk segera menyiapkan langkah mitigasi bersama, untuk normalisasi aliran sungai dalam upaya mengantisipasi ancaman banjir.

    “Saya minta tolong siapkan mitigasi bersama karena banyak sungai-sungai yang memang mungkin ada sampah yang menumpuk. Itu antisipasi kita terhadap ancaman banjir,” katanya.

    Reporter: Nurakhmayani