7cloud.asia – Memasuki pekan kedua bulan Juni 2023, sejumlah daerah di Jawa barat dan Nusa Tenggara Barat dilaporkan mulai mengalami kekeringan. Kondisi ini ditengarai tak lepas dari fase El Nino.
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari menjelaskan biasanya Indonesia sudah masuk musim kemarau pada bulan Juni.
Menurut data BNPB, selama 2013-2023, bencana kekeringan selama kemarau paling sering terjadi di sebagian besar wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Namun, musim kemarau tahun 2023 ini dipengaruhi oleh fase El Nino.
“Nah fase El Nino ini memang puncaknya itu di Agustus, tetapi biasanya dampaknya atau efek dari kekeringan yang ditimbulkan – karena kalau kita bicara ini kan bencana dua aja kan, kekeringan atau karhutla – sudah mulai ‘tercicil’ sejak mungkin akhir Mei atau pertengahan Mei lalu, karena di beberapa tempat juga di Jawa timur juga sudah mengalami kekeringan,” kata Abdul Muhari kepada BBC News Indonesia.
Baca: Terjadi 113 kebakaran hutan dalam dua bulan terakhir
Dia memperkirakan musim kemarau 2023 akan kurang-lebih sama dengan kemarau di 2018 atau 2019, sama-sama fase puncak periode El Nino. Adapun 2020 sampai Maret 2023 Indonesia dalam periode La Nina atau periode basah.
“La Nina ini kebalikan dari El Nino… La Nina itu tumpah ruah hujannya. Makanya dalam tiga tahun terakhir kita enggak berhenti ngurusin banjir aja dari Januari sampai Desember itu karena kemaraunya pun kita sebut kemarau basah,” tuturnya.
Abdul Muhari mengungkap bahwa BNPB sudah berusaha memitigasi kekeringan dengan teknologi modifikasi cuaca (TMC). Tujuannya, mengisi embung-embung, waduk, danau sampai pada ketinggian air yang cukup untuk melewati musim kemarau di fase El Nino tahun ini.
Upaya itu dilakukan sejak bulan Maret, kata Abdul Muhari, karena masih ada awan hujan.
“Ini kita manfaatin di golden time untuk TMC ini saat sekarang, di saat kita masih ada hujan sekali 3 hari … Nah ini kita distribusi dulu si hujannya untuk mengisi embung, waduk, danau tadi supaya tempat tempat penampungan alami air ini bisa terisi optimal bisa terpenuhkan secara optimal sebagai cadangan air nanti di musim kemarau,” jelasnya.
Bagaimanapun, modifikasi cuaca hanyalah solusi jangka pendek untuk kekeringan. Solusi permanennya, kata Abdul Muhari, membutuhkan perbaikan ekosistem.
“Kenapa sih di musim hujan kita banjir? Ya karena enggak ada pohon kita yang cukup kuat untuk menahan air. Kenapa sih di musim kemarau kita kekeringan? Karena tidak ada cukup banyak air yang tersedia di daerah-daerah resapan karena enggak ada pohonnya.
“Kalau kita mau bicara solusi permanen ya ekosistem yang harus dibenerin. Karena kalau tidak sifatnya itu akan instantaneous lagi, cuma jangka pendek,” ungkapnya.
Sebelumnya, BMKG memprediksi bahwa El Niño Southern Oscillation (ENSO) yang sebelumnya berada dalam fase netral mulai beralih pada periode Juni 2023 dan berlangsung dengan intensitas lemah hingga moderat.
Sementara itu gangguan iklim dari Samudra Hindia, yaitu IOD (Indian Ocean Dipole), juga diprediksi akan beralih menuju fase IOD Positif mulai Juni 2023.
“Kombinasi dari fenomena El Niño dan IOD Positif yang diprediksi akan terjadi pada semester II 2023 tersebut dapat berdampak pada berkurangnya curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia selama periode Musim Kemarau 2023,” papar Kepala BMKG Dwikorita Karnawati.
“Bahkan sebagian wilayah diprediksi akan mengalami curah hujan dengan kategori Bawah Normal (lebih kering dari kondisi normalnya) hingga mencapai hanya 20 mm per bulan dan beberapa wilayah mengalami kondisi tidak ada hujan sama sekali (0 mm/bulan).”
Dwikorita menjelaskan bahwa selain memicu kekeringan, minimnya curah hujan juga akan berpotensi meningkatkan jumlah titik api, sehingga makin meningkatkan kondisi kerawanan untuk terjadi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).
Sumber: BBC Indonesia









