Tag: kekeringan

  • Dampak El Nino Sudah Terasa, Sejumlah Daerah Alami Kekeringan

    Dampak El Nino Sudah Terasa, Sejumlah Daerah Alami Kekeringan

    7cloud.asia – Memasuki pekan kedua bulan Juni 2023, sejumlah daerah di Jawa barat dan Nusa Tenggara Barat dilaporkan mulai mengalami kekeringan. Kondisi ini ditengarai tak lepas dari fase El Nino.

    Plt. Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari menjelaskan biasanya Indonesia sudah masuk musim kemarau pada bulan Juni.

    Menurut data BNPB, selama 2013-2023, bencana kekeringan selama kemarau paling sering terjadi di sebagian besar wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Namun, musim kemarau tahun 2023 ini dipengaruhi oleh fase El Nino.

    “Nah fase El Nino ini memang puncaknya itu di Agustus, tetapi biasanya dampaknya atau efek dari kekeringan yang ditimbulkan – karena kalau kita bicara ini kan bencana dua aja kan, kekeringan atau karhutla – sudah mulai ‘tercicil’ sejak mungkin akhir Mei atau pertengahan Mei lalu, karena di beberapa tempat juga di Jawa timur juga sudah mengalami kekeringan,” kata Abdul Muhari kepada BBC News Indonesia.

    Baca: Terjadi 113 kebakaran hutan dalam dua bulan terakhir

    Dia memperkirakan musim kemarau 2023 akan kurang-lebih sama dengan kemarau di 2018 atau 2019, sama-sama fase puncak periode El Nino. Adapun 2020 sampai Maret 2023 Indonesia dalam periode La Nina atau periode basah.

    “La Nina ini kebalikan dari El Nino… La Nina itu tumpah ruah hujannya. Makanya dalam tiga tahun terakhir kita enggak berhenti ngurusin banjir aja dari Januari sampai Desember itu karena kemaraunya pun kita sebut kemarau basah,” tuturnya.

    Abdul Muhari mengungkap bahwa BNPB sudah berusaha memitigasi kekeringan dengan teknologi modifikasi cuaca (TMC). Tujuannya, mengisi embung-embung, waduk, danau sampai pada ketinggian air yang cukup untuk melewati musim kemarau di fase El Nino tahun ini.

     

    Upaya itu dilakukan sejak bulan Maret, kata Abdul Muhari, karena masih ada awan hujan.

    “Ini kita manfaatin di golden time untuk TMC ini saat sekarang, di saat kita masih ada hujan sekali 3 hari … Nah ini kita distribusi dulu si hujannya untuk mengisi embung, waduk, danau tadi supaya tempat tempat penampungan alami air ini bisa terisi optimal bisa terpenuhkan secara optimal sebagai cadangan air nanti di musim kemarau,” jelasnya.

    Baca: Perubahan iklim picu banjir rob mamkin sering terjadi

    Bagaimanapun, modifikasi cuaca hanyalah solusi jangka pendek untuk kekeringan. Solusi permanennya, kata Abdul Muhari, membutuhkan perbaikan ekosistem.

    “Kenapa sih di musim hujan kita banjir? Ya karena enggak ada pohon kita yang cukup kuat untuk menahan air. Kenapa sih di musim kemarau kita kekeringan? Karena tidak ada cukup banyak air yang tersedia di daerah-daerah resapan karena enggak ada pohonnya.

    “Kalau kita mau bicara solusi permanen ya ekosistem yang harus dibenerin. Karena kalau tidak sifatnya itu akan instantaneous lagi, cuma jangka pendek,” ungkapnya.

    Sebelumnya, BMKG memprediksi bahwa El Niño Southern Oscillation (ENSO) yang sebelumnya berada dalam fase netral mulai beralih pada periode Juni 2023 dan berlangsung dengan intensitas lemah hingga moderat.

    Sementara itu gangguan iklim dari Samudra Hindia, yaitu IOD (Indian Ocean Dipole), juga diprediksi akan beralih menuju fase IOD Positif mulai Juni 2023.

    Baca: Perubahan iklim membuat musim kemarau semakin kering

    “Kombinasi dari fenomena El Niño dan IOD Positif yang diprediksi akan terjadi pada semester II 2023 tersebut dapat berdampak pada berkurangnya curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia selama periode Musim Kemarau 2023,” papar Kepala BMKG Dwikorita Karnawati.

    “Bahkan sebagian wilayah diprediksi akan mengalami curah hujan dengan kategori Bawah Normal (lebih kering dari kondisi normalnya) hingga mencapai hanya 20 mm per bulan dan beberapa wilayah mengalami kondisi tidak ada hujan sama sekali (0 mm/bulan).”

    Dwikorita menjelaskan bahwa selain memicu kekeringan, minimnya curah hujan juga akan berpotensi meningkatkan jumlah titik api, sehingga makin meningkatkan kondisi kerawanan untuk terjadi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).

    Sumber: BBC Indonesia

  • Fenomena El Nino Mendekati Puncaknya, Warga Diminta Bersiap Hadapi Kekeringan

    Fenomena El Nino Mendekati Puncaknya, Warga Diminta Bersiap Hadapi Kekeringan

    7cloud.asia – Pemerintah terus memperkuat langkah antisipasi dalam menghadapi dampak dari El Nino yang puncaknya diprediksi pada bulan Agustus-September mendatang.

    Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mengungkapkan, El Nino yang diprediksi berintensitas lemah hingga moderat dikhawatirkan akan berpengaruh terhadap ketersediaan air atau kekeringan.

    Dampak El Nino ini akan berpengaruh kepada produktivitas di sektor pertanian hingga ketahanan pangan nasional.

    Dampak dan upaya untuk mengantisipasi El Nino ini dibahas dalam rapat terbatas (ratas) yang dipimpin oleh Presiden  Joko Widodo (Jokowi), di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (18/07/2023).

    Dwikorita mengatakan dalam rapat tersebut dikoordinasikan antisipasi dampak El Nino yang sudah dimulai sejak bulan Februari-April itu sudah berjalan tetapi tetap perlu diperkuat. 

    Baca: Dampak El Nino sudah terasa, sejumlah daerah alami kekeringan

    Meskipun memasuki musim kemarau atau kering, Kepala BMKG mengingatkan bahwa Indonesia juga masih memiliki potensi ancaman bencana hidrometeorologi.

    Wilayah Indonesia ini dipengaruhi oleh dua samudra dan juga topografinya yang bergunung-gunung di garis khatulistiwa, ujarnya, masih tetap ada kemungkinan satu wilayah mengalami kekeringan, tetangganya mengalami banjir atau bencana hidrometeorologi.

    “Artinya, bukan berarti seluruhnya serempak kering, ada di sela-sela itu yang juga mengalami bencana hidrometeorologi basah,” terangnya.

    Oleh karena itu, Kepala BMKG pun mengimbau kepada seluruh elemen masyarakat untuk berperan aktif menjaga lingkungan dan terus memantau perkembangan cuaca dari BMKG.

    “Kami juga mengimbau selain terus menjaga lingkungan, mengatur tata kelola air, kemudian juga beradaptasi terhadap pola tanam, juga terus memonitor perkembangan informasi cuaca dan iklim yang sangat dinamis dari waktu ke waktu dari BMKG,” tandasnya

    Baca: PBB Ingatkan tahun 2023-2027 bakal jadi periode terpanas untuk bumi

    Dwikorita Karnawati mengatakan fenomena El Nino dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif yang saling menguatkan pada musim kemarau dapat berdampak pada kurangnya sumber air hingga gagal panen.

    Dilansir Antaranews, Dwikorawati mengatakan dampak El Nino membuat musim kemarau menjadi lebih kering, dan curah hujan menjadi rendah hingga sangat rendah.

    Kondisi tersebut, menurut dia, membuat uap air sangat berkurang sehingga kemungkinan terjaidnya hujan juga berkurang.

    Dengan patokan jika curah hujan normal sekitar 20 mm untuk satu hari, menjadi curah hujan untuk sebulan sekali, sehingga menjadi kering, atau bahkan tidak ada hujan sama sekali.

     

    Baca: Perubahan iklim membuat petani kopi kehilangan produksi

    Bahkan bisa saja selama dua bulan menjadi sama sekali hari tanpa hujan. Akibatnya tentu kekurangan air, kita khawatir akan kekurangan sumber mata air menjadi kering, karena resapan hujannya juga berkurang.

    “Nah kalau kita kekurangan sumber air, yang terganggu adalah pertanian dan juga kehidupan sehari-hari menjadi kekurangan air,” ujar Dwikorita.

    Ia menegaskan bahwa di sektor pertanian dikhawatirkan akan terjadi gagal panen. Selain itu, juga dapat memicu hama penyakit pada tanaman pertanian.

    Risiko kesehatan, menurut dia, juga akan terjadi karena kegiatan sanitasi menjadi terganggu akibat kekurangan air.

    “MCK (mandi, cuci, kakus) menjadi terganggu, misalnya untuk di daerah-daerah yang sangat tergantung air,” kata dia.

    Baca: Nasib nelayan terombang-ambing oleh perubahan iklim

    BMKG dalam hal ini telah berkoordinasi dengan berbagai stakeholder untuk mengantisipasi dua fenomena tersebut yang diprediksi puncaknya pada Agustus maupun awal September 2023.

    Presiden Joko Widodo juga memerintahkan Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo untuk menggenjot produksi beras guna menjaga stok beras nasional menjelang fenomena El Nino atau musim cuaca abnormal yang diperkirakan terjadi pada kuartal III 2023.

  • Gak Cukup Hanya Bantuan, Perlu Solusi Jangka Panjang Tuk Atasi Bencana Kelaparan di Papua

    Gak Cukup Hanya Bantuan, Perlu Solusi Jangka Panjang Tuk Atasi Bencana Kelaparan di Papua

     

    7cloud.asia – Kelaparan di Distrik Agandugume dan Distrik Lambewi Kabupaten Puncak Papua Tengah disebabkan oleh kemarau panjang yang dibarengi dengan cuaca dingin ekstrem hingga membuat daerah tersebut mengalami kekeringan.

    Akibat bencana kelaparan kali ini, 7.500 warga terdampak bencana kelaparan, khususnya yang berada di Distrik Agandugume dan Distrik Lambewi Papua Tengah.

    Masyarakat di dua distrik itu akhirnya mengungsi ke distrik-distrik terdekat yang kondisinya sedikit lebih baik.

    Berdasarkan laporan yang diterima, terdapat 6 warga di Distrik Agandugume dan Distrik Lambewi di Kabupaten Puncak, Papua Tengah, meninggal dunia di tengah kemarau panjang tahun ini.

    Sebanyak lima korban meninggal akibat kelaparan ini merupakan orang dewasa dan satu orang lainnya bayi berusia 6 bulan.

    Baca: Pemerintah akan bangun lumbung sosial di Papua Tengah

    Berada di belakang pegunungan Carstensz, Kabupaten Puncak kerap mengalami kekeringan saat musim kemarau seperti saat ini. Fenomena El Nino membuat kondisi semakin parah.

    Suhu rendah di Kabupaten Puncak akibat kemarau panjang menyebabkan kekeringan terjadi sehingga tanaman seperti umbi-umbian tidak bisa tumbuh.

    Padahal umbi-umbian merupakan makanan pokok masyarakat setempat sehingga saat gagal panen, mereka kesulitan memenuhi kebutuhan pangan.

    Bencana kelaparan ini bukan pertama terjadi di Papua. Pada tahun 1982, ratusan warga Jayawijaya, Kabupaten Puncak Jaya, juga mengalami hal yang sama.

    Lalu, pada tahun 1984 dan 1986, kelaparan kembali berulang dengan jumlah kematian yang juga tak sedikit.

    Selain kejadian di tahun 2023, bencana terkini terjadi pada 2022, saat empat orang di Lanny Jaya meninggal akibat kelaparan.

    Baca: Antisipasi Kementan hadapi ancaman El Nino terhadap ketahanan pangan

    Di Kabupaten Puncak sendiri, bencana kelaparan hampir setiap tahun terjadi.

    Menyoroti bencana kelaparan di Kabupaten Puncak, Papua Tengah ini, Ketua DPR Puan Maharani menegaskan Pemerintah Indonesia perlu menyiapkan solusi jangka panjang guna mengatasi peristiwa yang terjadi hampir setiap tahun.

    Puan meminta Pemerintah melakukan langkah terpadu menghadapi bencana kelaparan yang rutin terjadi di wilayah tersebut. 

    “Gotong royong dari seluruh pihak diperlukan untuk membantu saudara-saudara kita di Papua yang saat ini menghadapi bencana kelaparan dampak dari cuaca ekstrem,” kata Puan Kamis (3/8/2023) seperti dikutip Parlementaria

    Puan mengigatkan penyelesaian masalah kelaparan di daerah pegunungan di Papua ini harus dilakukan secara komprehensif.

    Tidak cukup hanya dengan sekadar memberi bantuan, tapi juga antisipasi agar ke depannya bencana kelaparan bisa dihindari.

    Baca: Fenomena El Nino dan dampaknya bagi lingkungan

    Penyelesaian bencana kelaparan di Papua secara terpadu diperlukan mengingat medan geografis yang sulit menyebabkan bantuan susah sampai. Akses yang paling mudah dan cepat adalah dengan menggunakan pesawat. 

    Puan mendukung pengamanan dari TNI/Polri dalam penyaluran bantuan ke warga Papua Tengah dari gangguan keamanan dari Organisasi Papua Merdeka (OPM).

    Puan menyebut, dukungan dari TNI/Polri bisa membantu penyaluran logistik yang tertahan. 

    “Sebagai pilar penjaga keamanan di Papua, TNI/Polri harus menjamin keamanan saat pasokan bantuan tiba di Papua. Upayakan agar bantuan untuk warga segera sampai dan antisipasi adanya masalah saat proses pendistribusiannya, serta pastikan masyarakat aman saat menerima bantuan,” paparnya.

    Baca: DPR usulkan insentif bagi daerah penghasil Oksigen

    Ia mendukung upaya Pemerintah yang saat ini tengah bekerja secara masif dengan penetapan tambahan masa tanggap darurat bencana kekeringan di Papua Tengah menjadi dua minggu.

    “Ini pekerjaan rumah yang sangat besar. Pemerintah dengan dukungan seluruh elemen bangsa harus bisa mengatasi persoalan kelaparan di Papua ini. Tentunya DPR akan memberi dukungan lewat fungsi dan kewenangan kami,” pungkasnya. 

  • Antisipasi Kekeringan Akibat El Nino, DKI Jakarta Tambah Instalasi Pengolahan Air

    Antisipasi Kekeringan Akibat El Nino, DKI Jakarta Tambah Instalasi Pengolahan Air

    7cloud.asia – Fenomena alam El Nino diperkirakan akan mencapai puncaknya pada Agustus dan September 2023 ini.

    Berbagai dampak El Nino telah mulai dirasakan warga termasuk warga Jakarta, salah satunya kekeringan.

    Mengantisapasi kekeringan yang dipicu fenomena alam El Nino tersebut Pemprov DKI Jakarta mempersiapkan sebanyak 67 unit mobil tangki.

    Baca: Penyebab fenomena El Nino dan dampaknya pada lingkungan

    “Jajaran Pemprov DKI Jakarta siap menghadapi ancaman kekeringan dengan menyiapkan sejumlah sarana dan prasarana pendukung milik PAM Jaya, Dinas SDA, dan instansi terkait lainnya,” jelas Kepala BPBD DKI Jakarta, Isnawa Adji dalam keterangan tertulis yang dilansir Kamis (17/8/2023).

    Sarana yang disiapkan untuk antisipasi kekeringan akibat El Nino antara lain adalah 67 unit mobil tangki, 46 unit tandon air, 9 unit Instalasi Pengolahan Air (IPA) stasioner, dan 7 unit IPA mobile.

    Persiapan ini, lanjut Isnawa, sebenarnya sudah dilakukan jauh-jauh hari yakni sejak bulan April 2023 lalu.

    Baca: Dampak El Nino pada kesehatan

    Saat itu, pihaknya mengundang instansi terkait dalam memastikan pasokan air
    bersih dapat tersedia, dan melayani masyarakat selama menghadapi musim kemarau.

    Tak hanya menyediakan air bersih untuk warga, pemprov DKI Jakarta juga
    mengantisipasi kenaikan jumlah kasus kebakaran akibat cuaca panas disertai angin kencang.

    Kepala Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) DKI
    Jakarta Satriadi Gunawan menjelaskan, selama Januari-Juli 2023, telah terjadi 1.034 kejadian kebakaran.

    Baca: Ini yang terjadi jika Jakarta sukses batasi jumlah kendaraan bermotor

    Sementara dalam kurun waktu 1-15 Agustus 2023 telah terjadi 88 kebakaran
    di DKI Jakarta.

    Hubungan pendek arus listrik menjadi penyebab utama terjadinya kebakaran di Jakarta yakni sebanyak 42 kejadian.

    Lalu secara berturut-turut adalah membakar sampah (19 kejadian), ledakan gas (7 kejadian), puntung/api rokok (4 kejadian), dan lainnya 15 sebanyak kejadian.

    Baca: PBB ingatkan kurun 2023-2027 bakal jadi periode terhangat

    “Berdasarkan data tersebut, penggunaan listrik masih menjadi faktor terbesar penyebab terjadinya kebakaran di DKI Jakarta,” papar Satriadi.

    Selanjutnya Satriadi menjelaskan kenaikan suhu pada musim kemarau
    mempengaruhi pola hidup masyarakat dalam menggunakan listrik yang berlebih.

    Hal ini dapat menyebabkan perangkat elektronik, kabel listrik, dan instalasi listrik menjadi lebih rentan terhadap gangguan atau korsleting.

    Baca: Emisi gas ruang kaca capai rekor di tahun 2022

    Ia meminta warga lebih berhati-hati, karena saat musim kemarau seperti ini, sumber air untuk memadamkan api berkurang. Sementara api mudah merambat kemana-mana akibat cuaca panas dan hembusan angin.

    Apabila terjadi kebakaran, hal tersebut berdampak pada sulitnya proses
    pemadaman yang mengakibatkan perambatan api yang lebih cepat, serta kerugian yang lebih besar.

    “Oleh karena itu, kami mengajak masyarakat untuk lebih bijak dalam menggunakan listrik pada musim kemarau seperti saat ini,” ujar Satriadi.

    Baca: Dampak El Nino sudah terasa, sejumlah daerah alami kekeringan

    Pemprov DKI Jakarta mengimbau warga untuk memastikan perangkat elektronik, instalasi listrik dapat dijaga dengan baik, terutama dalam pemeliharaan dan pemantauan kabel, serta steker listrik.

    Warga diimbau untuk mematikan listrik apabila tidak digunakan untuk menghindari terjadinya korsleting listrik yang dapat memicu kebakaran.

    BPBD DKI Jakarta juga melakukan pemantauan dan bedah instalasi listrik di kawasan permukiman menengah ke bawah.

    Baca: El Nino memasuki masa puncak warga diminta siap hadapi kekeringan

    Penulis: Nurakhmayani

  • Bantu Warga Terdampak Kekeringan Akibat El Nino, Belasan Tangki Air Bersih Dikirim ke Bandung Barat

    Bantu Warga Terdampak Kekeringan Akibat El Nino, Belasan Tangki Air Bersih Dikirim ke Bandung Barat

    7cloud.asia – Kekeringan sebagai imbas El Nino mulai dirasakan warga di sejumlah wilayah di Tanah Air.

    Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut, sejak pertengahan Juli 2023, 63 persen wilayah Indonesia sudah masuk musim kemarau sehingga warga diingatkan untuk bersiap menghadapi kekeringan yang dipicu El Nino ini.

    Kekeringan atau krisis air bersih akibat El Nino antara lain dirasakan warga dua desa wilayah Kecamatan Ngamprah dan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat.

    Baca: Kekeringan imbas El Nino bisa turunkan produksi beras

    Mayoritas sumur warga yang menjadi sumber air bersih mengering akibat kemarau panjang yang disebabkan El Nino.

    Sudah dua bulan ini warga kesulitan mendapatkan air bersih, sehingga untuk memenuhi kebutuhan air bersih warga harus membeli air.

    Untuk membantu meringankan beban warga, pemerintah dengan dibantu organisasi masyarakat sipil setempat mengirim belasan tangki dan ratusan ribu liter air bersih ke dua kabupaten/kota.

    Baca:  Petani di Ciamis mulai rasakan dampak kekeringan imbas El Nino

    Bantuan 120.000 liter air bersih disalurkan di beberapa titik sudah disalurkan ke lima desa yang berada di Bandung Barat dan Kabupaten Sukabumi oleh lembaga swadaya masyarakat Golden Future Indonesia.

    “Dropping air bersih ini bertahap dan sisanya menyusul. Penyaluran air bersih bisa sedikit meringankan beban masyarakat terdampak kekeringan,” kata Kepala Divisi Program Rizkya Insan Kamil, Minggu (20/2023) seperti dikutip Antaranews.com 

    Para penerima bantuan merasa sangat terbantu dengan adanya bantuan air bersih. Setidaknya dalam satu bulan ke depan mereka tidak akan kesulitan air bersih lagi.

    Baca: Ini penyebab El Nino dan dampaknya pada lingkungan

    Khaeriyah, warga Desa Pakuhaji, Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung mengaku senang dan bersyukur mendapat bantuan air bersih ini. 

    “Alhamdulillah dengan bantuan tersebut kami terbantu,” katanya.

    Namun demikian warga diminta berhemat, karena menurut prediksi BMKG musim hujan baru terjadi sekitar bulan November mendatang. 

    Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan puncak musim kemarau akan terjadi pada pertengahan Agustus hingga September ini.

    Baca: Pemerintah siapkan dana Rp 8 Triliu untuk antisipasi dampak El Nino

     

     

  • BMKG: Kekeringan di NTB Sudah Masuk Level Awas

    BMKG: Kekeringan di NTB Sudah Masuk Level Awas

    7cloud.asia – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini kekeringan di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) masuk kategori Siaga dan Awas.

    Untuk mengatasi kekeringan ini BMKG mengimbau agar masyarakat NTB dapat berhemat dalam menggunakan air di musim kemarau.

    “Pada periode puncak musim kemarau tahun ini masyarakat NTB diimbau agar dapat menggunakan air secara bijak, efektif, dan efisien, karena kekeringan sudah dalam lampu kuning,” kata Prakirawan BMKG Stasiun Klimatologi Nusa Tenggara Barat, Nindya Kirana seperti yang dilansir Antaranews.

    Baca: Penyebab El Nino dan seperti ini dampaknya pada lingkungan

    Berdasarkan data BPBD NTB, jumlah warga yang mengalami kesulitan air bersih
    akibat terdampak kekeringan mencapai 577.025 jiwa.

    Jumlah ini tersebar di 335 desa, 70 kecamatan yang ada di sembilan kabupaten dan kota di NTB, mulai dari Kabupaten Lombok Barat, Lombok Tengah, Lombok Utara, Lombok Timur, Sumbawa Barat, Sumbawa, Dompu, Bima dan Kota Bima.

    Beberapa wilayah yang masuk  level Awas, adalah Kecamatan Sambelia dan Pringgabaya (Kabupaten Lombok Timur), Kecamatan Bayan (Lombok Utara), Kecamatan Utan, Buer, dan Moyo Utara (Sumbawa), Kecamatan Palibelo (Bima), Kecamatan Rasanae Timur dan Asakota (Kota Bima).

    Baca: Kekeringan akibat El Nino picu harga beras, warga beralih ke palawija

    Kekeringan pada level siaga terjadi di Kecamatan Kilo, Manggalewa, dan Woja (Dompu), Kecamatan Donggo, Lambitu, Soromandi, dan Wawo (Bima), Kecamatan Raba dan Mpunda (Bima). 

    Selain itu Kota Mataram, Kabupaten Lombok Barat (Kecamatan Batu Layar, Gerung, Lembar, dan Narmada), Kabupaten Lombok Tengah (Kecamatan Batukliang, Janapria, dan Praya Barat).

    Di Kabupaten Lombok Timur wilayah yang mengalami kekeringan adalah Kecamatan Jerowaru, Labuhan Haji, Sakra Barat, Sembalun, Sikur, Suela, dan Sukamulia

    Baca: El Nino percepat pencairan salju abadi di Puncak Jaya

    Wilayah lainnya di Kabupaten Lombok Utara (Kecamatan Gangga, Pemenang, dan
    Tanjung), serta Kabupaten Sumbawa (Kecamatan Alas, Batulanteh, Moyohulu,
    Orong Telu, Sumbawa, dan Unter Iwes).

    Di Kabupaten Sumbawa Barat antara lain adalah (Kecamatan Brang Ene, Brang Rea, Jereweh, Maluk, Poto Tano, dan Taliwang. 

    “Level Waspada terdapat di Kabupaten Lombok Timur di Kecamatan Terara dan
    Kabupaten Lombok Tengah di Kecamatan Jonggat, serta Kabupaten Lombok Barat
    di Kecamatan Sekotong,” urainya.

    Baca: Kekeringan akibat El Nino, warga Bandung Barat kesulitan air bersih

    Nindya memaparkan pada dasarian pertama September 2023 (1-10 September 2023) diprakirakan peluang terjadinya hujan sangat rendah.

    Diperkirakan curah hujan dengan intensitas lebih 20 milimeter/dasarian memiliki probabilitas kejadian kurang dari 90 persen yang merata di seluruh wilayah NTB.

    Nindya juga mengingatkan agar masyarakat juga perlu mewaspadai akan
    terjadinya bencana kebakaran hutan dan lahan dan kekeringan. Hal ini kerap terjadi pada periode puncak musim kemarau.

    Baca: Imbas El Nino, panen padi di Ciamis berkurang

    Sebelumnya Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bima,
    Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mendistribusikan air bersih ke sejumlah desa
    yang terdampak kekeringan parah pada musim kemarau 2023.

    Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Bima, Nurul Huda
    menjelaskan untuk memenuhi kebutuhan air bersih warga, pihaknya sudah
    melakukan pendistribusian air bersih di beberapa desa terdampak kekeringan.

    “Sudah ada tujuh desa yang dilakukan distribusi air bersih yaitu Desa tonggondoa, Desa Nata, Desa Kalampa, Desa Waduwani, Desa Tambe, Desa Mpili dan Desa Bugis,” jelas Nurul.

    Tim Satuan Tugas Penanganan Bencana BPBD akan terus memantau perkembangan jumlah desa yang terdampak kekeringan lantas dilakukan droping air bersih untuk memenuhi kebutuhan warga.

     

    Reporter: Nurakhmayani

  • El Nino Picu Kemarau Panjang, Kekeringan Landa Sejumlah Daerah di Bogor

    El Nino Picu Kemarau Panjang, Kekeringan Landa Sejumlah Daerah di Bogor

    7cloud.asia – Dampak kemarau panjang imbas El Nino juga dirasakan warga Bogor, Jawa Barat yang alami kekeringan. 

    Beberapa kecamatan di Kabupaten Bogor mengalami kekeringan hingga sulit mendapatkan air bersih.

    Anggota DPR Adian Napitupulu, mendesak pemerintah untuk dapat segera mengatasi kekeringan yang dialami warga Bogor ini.

    Ia meminta Bupati Bogor, Gubernur Jawa Barat, Menteri PUPR, Menteri
    Sosial, dan Presiden Joko Widodo, untuk segera membantu warga yang alami kekeringan.

    Adian juga mendesak pemerintah membangun dan mempersiapkan infrastruktur air bersih bagi rakyat.

    Baca: Dampak El Nino, wraga Bandung Barat kesulitan air bersih

    “Agar mereka tidak mencuci, meminum air yang tidak berstandar kesehatan bagi manusia,” ujar Adian dalam keterangan tertulis di Jakarta, Minggu (3/8/2023).

    Adian menjelaskan dirinya sudah berkeliling ke lebih dari tiga puluh desa dalam tiga pekan terakhir dari Kecamatan Rumpin, Cariung hingga Jonggol, Jawa Barat.

    Di wilayah tersebut menurut Adian, warga mengalami kekeringan dan kesulitan air bersih. Kondisi ini sebagai dampak dari fenomena El Nino yang mengakibatkan kemarau panjang.

    Baca: Fenomena EL Nino dekati puncak warga diminta antisipasi kekeringan

    “Saya terakhir melakukan pengecekan di Desa Sukasirna, Jonggol. Di sana, para
    warganya juga mengalami kesulitan air bersih,” ungkap politisi PDI Perjuangan ini.

    Lebih jauh Adian menjelaskan masalah kekeringan di Bogor ini seharusnya dapat
    segera diselesaikan. Sebab jarak Bogor ke Istana Merdeka hanya 90 kilometer dan 87 kilometer dari Gedung DPR.

    “Saya berharap dengan jarak yang sangat dekat itu, negara bisa bertindak dengan cepat. Kami tunggu kehadirannya dan perbaikan infrastrukturnya,” ujarnya.

     

    Baca: Pemerintah siapkan dana Rp 8 Triliun atasi dampak el nino

    Dilansir Antaranews, sebelumnya Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bogor menyatakan kekeringan menerjang empat Kecamatan pada Selasa (29/8/2023) dan Rabu (30/8/2023).

    Daerah terdampak kekeringan adalah Desa Tapos Kecamatan Tenjo Pada Selasa
    (29/8/2023), Desa Mekarwangi Kecamatan Cariu, Desa Koleang, Kecamatan Jasinga, dan Desa Cipambuan Kecamatan Babakan Madang pada Rabu (30/8/2023).

    Bencana kekeringan ini berdampak langsung ke warga. Di Kecamatan Tenjo,
    sebanyak 437 kepala keluarga atau 926 jiwa yang terdampak.

    Baca: Sejumlah daerah alami kekeringan imbas El Nino

    Sedangkan di Kecamatan Cariu, Kecamatan Jasinga dan Kecamatan Babakan Madang, terdapat 1.174 kepala keluarga atau 4.408 jiwa yang terdampak kekeringan tersebut.

    Untuk mengatasi masalah air bersih, BPBD Kabupaten Bogor telah mendistribusikan 10.000 liter air ke Kecamatan Tenjo dan 40.000 liter air untuk Kecamatan Cariu, Kecamatan Jasinga dan Kecamatan Babakan Madang.

    Selain itu, BNPB mengimbau kepada warga terdampak kekeringan dan sekitarnya
    agar mengurangi pemakaian air yang berlebihan serta mengatur pemakaian air yang masih ada.

    Jika kekeringan masih berlanjut dan pasokan air bersih semakin menipis,
    warga dapat segera melapor kepada pihak yang berwenang.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Kekeringan di Kota Serang Meluas, Lebih Dari 3 Ribu Jiwa Terdampak

    Kekeringan di Kota Serang Meluas, Lebih Dari 3 Ribu Jiwa Terdampak

    7cloud.asia – Kekeringan akibat fenomena El Nino di kota Serang, Banten sudah berlangsung sejak bulan Agustus lalu.

    Kini lokasi kekeringan di Kota Serang semakin meluas. Tercatat 27 titik lokasi yang mengalami kekeringan.

    Akibat kekeringan ini, sebanyak 3.408 jiwa, dari 2.308 kepala keluarga (KK) di Kota Serang terdampak kekeringan dan krisis air bersih.

    Dilansir dari Pikiran Rakyat, Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Serang, Diat Hermawan menjelaskan sejak Agustus 2023 hingga saat ini, BPBD telah mendistribusikan air bersih sebanyak 150.000 liter di 27 titik di Kota Serang.

    Baca: BMKG sebut kekeringan di NTB sudah masuk level awas

    “Total yang terdampak kekeringan ada sekitar 3.408 jiwa dan 2.308 kepala keluarga, yang tersebar di beberapa wilayah kecamatan, terutama Kasemen. Pengiriman air yang sudah kami distribusikan di 27 titik sebanyak 150.000 liter,” katanya.

    Dari 27 titik wilayah yang terdampak kekeringan, Kecamatan Kasemen paling banyak yang terdampak. Seperti di Kelurahan Kilasah, Margaluyu, Mesjid Priyai, Terumbu, dan Kelurahan Bendung.

    Di Kelurahan Cibendung, Kecamatan Taktakan sebanyak 342 jiwa dari 120 kepala keluarga yang terdampak kekeringan.

    Baca: BMKG sebut musim hujan 2023/2024 akan mundur

    Termasuk di Kecamatan Walantaka, Kelurahan Teritih, khususnya Komplek Persada Banten di dua blok perumahan, sebanyak 450 kepala keluarga atau sekitar 600 rumah yang terdampak.

    Kalau totalnya, ada sekitar 1.231 rumah yang terdampak. Untuk di Kecamatan Walantaka dan Taktakan, saat ini berdasarkan data baru satu kelurahan yang mengalami kondisi kekeringan atau krisis air bersih.

    “Kami distribusikan air 10 ribu liter, dan lima ribu liter di Taktakan,” jelas Diat.

    Baca: Penyebab El Nino dan dampaknya pada lingkungan

    BPBD Kota Serang juga telah mengajukan surat status siaga darurat kepada Pemerintah Kota Serang, karena titik atau lokasi kekeringan saat ini semakin meluas.

    “Saya sudah bersurat ke pak wali terkait status kebencanaan kekeringan sekarang. Tapi masih menunggu arahan dari beliau, jadi sementara statusnya menuju siaga darurat,” ungkapnya.

    Sementara itu, Wakil Wali Kota Serang, Subadri Ushuludin mengatakan, saat ini Pemkot Serang masih mengkaji mengenai status kedaruratan kekeringan di Kota Serang.

    Baca: BRIN sebut El Nino bakal berlangsung hingga Mei 2024

    “Kami masih mengkaji, tapi tentu karena ini menyangkut kepentingan dan kebutuhan masyarakat. Kami menekankan kepada dinas terkait untuk memberikan bantuan air bersih, sebagai tanggung jawab kami. Tentunya, kami pun fokus untuk memenuhi kebutuhan masyarakat,” jelas Subadri.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Rawan Kekeringan dan Kebakaran Hutan, Kabupaten Penajam Paser Utara Dinyatakan Darurat El Nino

    Rawan Kekeringan dan Kebakaran Hutan, Kabupaten Penajam Paser Utara Dinyatakan Darurat El Nino

    7cloud.asia – Fenomena El Nino mencapai puncaknya pada bulan Agustus dan September ini. Akibatnya kekeringan dan kebakaran hutan melanda sejumlah wilayah di Indonesia dan menyatakan status darurat El Nino.

    Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur salah satu daerah yang dinyatakan darurat El Nino

    “Dengan adanya dampak kebakaran hutan dan lahan, serta kekeringan, Kabupaten Penajam Paser Utara masuk darurat El Nino,” ujar Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Penajam Paser Utara, Budi Santoso seperti yang dikutip Antaranews.

    Baca: BRIN sebut El Nino akan berlangsung hingga Mei 2024

    Selanjutnya Budi memaparkan pihaknya telah melakukan kajian serta pengamatan terkait dengan fenomena El Nino. Hasilnya, ada potensi kekeringan yang dihadapi masyarakat.

    Berdasarkan laporan Perusahaan Umum Daerah (Perunda) Air Minum Danum Taka Kabupaten Penajam Paser Utara, cekungan penampung air (embung) untuk air baku di sejumlah instansi pengolahan air bersih mengalami penyusutan yang signifikan.

    Bahkan operasional sejumlah instalasi pengolahan air bersih kini dihentikan karena sumber air baku sudah tidak memungkinkan untuk mendistribusikan air bersih terus menerus.

    Baca: Dampak El Nino musim hujan 2023/2024 mundur

    “Berdasarkan laporan Direktur Perumda Air Minum Danum Taka, sudah terjadi penyusutan air baku untuk pengolahan air bersih,” ujarnya.

    Karena itu, lanjut Budi, pihaknya akan membahas masalah ini bersama instansi terkait mengenai penetapan status siaga darurat bencana kekeringan akibat musim kemarau.

    Rencana penetapan status siaga bencana kekeringan ini karena ada potensi kekeringan dengan adanya musim kemarau panjang atau El Nino.

    Baca: Karhutla terjaid di mana-mana

    Penetapan status siaga darurat bencana kekeringan berkaitan dengan ketersediaan air bersih serta kejadian kebakaran hutan dan lahan yang berdampak bagi warga.

    Selain itu penetapan status siaga darurat bencana ini sebagai antisipasi bebagai bencana lainnya yang akan terjadi sebagai dampak adanya fenomena El Nino hingga Januari 2024.

    El Nino merupakan fenomena cuaca yang terjadi akibat peningkatan suhu permukaan air di Samudra Pasifik Tengah dan Timur yang menjadi lebih hangat dari biasanya. Biasanya terjadi setiap 5 atau 7 tahun sekali.

    Baca: Imbas El Nino, kekeringan di NTB masuk level awas

    Fenomena ini adalah fenomena global yang juga dialami oleh negara-negara lain yang terletak pada garis ekuator dan negara Indonesia merupakan salah satunya.

    Fenomena alam ini menyebabkan perubahan pola cuaca global, yang berdampak
    signifikan pada iklim di berbagai wilayah di dunia, termasuk di Indonesia.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Selama 60 Hari Hujan Tak Turun, Sejumlah Wilayah di Pulau Jawa Kekeringan

    Selama 60 Hari Hujan Tak Turun, Sejumlah Wilayah di Pulau Jawa Kekeringan

    7cloud.asia – Fenomena El Nino yang memasuki puncaknya mengakibatkan wilayah di Pulau Jawa mengalami hari tanpa hujan selama 60 hari.

    Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Abdul Muhari mengatakan imbas dari El Nino terjadi kekeringan dan masyarakat kesulitan air bersih. 

    “Akibat El Nino ada kabupaten kota yang menyampaikan tidak hujan lebih dari dua setengah sampai 3 bulan. Jadi mengakibatkan kekeringan yang dialami oleh masyarakat daerah,” ungkap Abdul.

    Dengan kondisi kekeringan ini, lanjut Abdul, membuat eskalasi bencana kebakaran di pulau Jawa dapat terjadi serta meluas.

    Baca: Kabupaten Penajem Paser Utara dinyatakan darurat El Nino

    Dia mencontohkan beberapa kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di kawasan pegunungan dalam dua pekan terakhir.

    Belum lagi masalah kekeringan yang masih berlanjut di Pulau Jawa. Ia mengakui banyak petugas BPBD yang tidak mencatatkan kejadian tersebut pada pekan pencatatan kejadian bencana 4-10 September 2023.

    “Padahal sebenarnya di Jawa Barat ada 13 kabupaten/kota yang signifikan kekeringan. Di Jawa Tengah lebih, setidaknya 18 kabupaten/kota. Di Jawa Timur setidaknya 19 kabupaten/kota yang terdampak kekeringan,” urainya.

    Baca: BRIN sebut El Nino akan berlangsung hingga Mei 2024

    Kondisi kekeringan ini tidak hanya terjadi di Pulau Jawa. Di Kalimantan Selatan juga terjadi hari tanpa hujan selama lebih dari 2 bulan.

    Namun, situasinya di sana lebih cepat terkendali dan kebakaran hutan juga cepat 
    tertangani agar tidak mengganggu udara di negara tetangga.

    Sebaliknya, di wilayah Pulau Sumatera yang terletak di atas garis khatulistiwa justru terjadi banjir.

    Baca: BMKG perkirakan musim hujan 2023/2024 mundur ke November

    Hal ini terjadi karena masih menerima kumulatif awan hujan dari fenomena gelombang ekuator yang menyebabkan curah hujan menjadi tinggi.

    Provinsi yang melaporkan bencana banjir diantaranya Aceh, Sumatera Barat dan Riau.

    Sebelumnya Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) perkirakan awal musim hujan akan mundur hingga bulan November 2023. Namun, musim hujan tahun ini tidak berlangsung serentak di semua wilayah Indonesia.

    Baca: Hujan deras landa Hong Kong

    “Curah hujan yang turun pada periode musim hujan 2023/2024 pada umumnya diprediksi akan normal dibandingkan biasanya,” urai Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati beberapa waktu lalu.

    Meski demikian, beberapa Zona Musim (ZOM) telah terkonfirmasi mulai alami musim hujan. ZOM ini terbagi menjadi beberapa wilayah.

    Pada bulan September ini sebagian Sumatera Barat dan Riau bagian Selatan mulai diguyur hujan.

    Baca: Gelombang panas di Eropa parah tahun ini

    Di bulan berikutnya, Oktober wilayah Jambi, Sumatera Selatan bagian Utara, Jawa Tengah bagian Selatan, sebagian Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah bagian barat, sebagian besar Kalimantan Timur diprediksi turun hujan.

    Pada bulan November, hujan mulai mengguyur lebih banyak wilayah lagi. Yaitu Wilayah Sumatera Selatan, Lampung, sebagian besar Banten, Jakarta, Jawa Barat, sebagian besar Jawa Tengah, sebagian Jawa Timur, Bali.

    Selain itu hujan juga diperkirakan akan turun di sebagian kecil NTB, sebagian
    kecil NTT, Sulawesi Utara, Gorontalo, sebagian Sulawesi Tengah, sebagian
    Sulawesi Selatan, Maluku Utara bagian Utara dan Papua Selatan bagian selatan.

    Reporter: Nurakhamayani