Tag: limbah

  • Inovasi Teknologi untuk Kurangi Biaya Produksi Bioetanol Berbasis Limbah

    Inovasi Teknologi untuk Kurangi Biaya Produksi Bioetanol Berbasis Limbah

    7cloud.asia – Pengembangan bioetanol di Tanah Air saat ini masih berfokus pada tanaman pangan seperti sawit dan tebu. Singkong dan jagung juga mulai dibidik sebagai bahan baku.

    Padahal, ada banyak sekali potensi limbah yang bisa dimanfaatkan dan diolah menjadi bioetanol termasuk limbah sawit, jagung, dan tebu.

    Melansir studi International Council on Clean Transportation (ICCT), potensi produksi etanol dari bahan baku residu sawit mencapai 2 juta kiloliter/tahun. Jika ditambah dengan pengolahan jerami, batang jagung, dan ampas tebu, potensi produksinya bisa mencapai 50 juta kiloliter/tahun.

    Penulis bersama sejumlah rekan peneliti mengkaji penghematan ongkos produksi bioetanol berbasis limbah. Sejumlah studi yang kami lakukan menunjukkan efisiensi pengembangan bioetanol dari limbah bisa dilakukan dengan beberapa inovasi teknologi dalam negeri.

    Mula-mula, kami meneliti cara mengolah limbah aren menjadi bioetanol dengan teknologi biorefinery menggunakan cairan ionik.

    Teknologi ini terbukti sangat efisien dan dilakukan dalam tiga tahap utama:
    1. Perlakuan awal dengan cairan ionik: Cairan ionik adalah senyawa yang keseluruhannya terdiri dari ion-ion dengan titik leleh di bawah 100°C.

    Cairan ionik dapat juga disebut sejenis garam yang tetap berada dalam bentuk cair pada suhu di bawah 100°C.

    Cairan ini berfungsi memecah struktur keras limbah yang mengandung lignoselulosa, sehingga bahan baku lebih mudah diolah menjadi bioetanol.

    2. Sakarifikasi enzimatik: Setelah strukturnya lebih lunak, selulosa (yang merupakan komponen dalam lignoselulosa) diubah menjadi gula sederhana dengan bantuan enzim.

    3. Fermentasi dan distilasi: Gula di fermentasikan menggunakan mikroorganisme untuk menghasilkan etanol.

    Hasil uji coba yang kami temukan dalam riset ini cukup tinggi, dengan konsentrasi etanol mencapai 90,6 g/L dan efisiensi konversi 96 persen. Artinya, hampir semua gula berhasil diubah menjadi bioetanol.

    Simulasi yang saya lakukan bersama sejumlah tim peneliti menggunakan perangkat lunak SuperPro Designer menunjukkan bahwa proses ini dapat menurunkan biaya produksi hingga 30 persen, menjadikannya lebih kompetitif dibandingkan bahan bakar fosil.

    Untuk mempermudah proses pengolahan, kami juga telah merancang sistem hidrolisis terintegrasi dengan membuat tangki dengan sekat bergerak, sehingga pencampuran biomassa lebih efektif.

    Kami juga membuat pengaduk khusus yang bisa menangani limbah yang kental supaya enzim bekerja lebih efektif.

    Selain itu, kami pun merancang sistem kendali pintar yang bisa mengatur kekentalan limbah secara otomatis agar produksi lebih cepat dan efisien.

    Teknologi ini menawarkan fleksibilitas bagi pabrik baru maupun lama. Pabrik lama dapat mengadopsi teknik sakarifikasi Very High Gravity (VHG) tanpa perubahan besar pada infrastruktur, sementara pabrik baru dapat langsung mengintegrasikan desain tangki modern dan sistem kendali pintar sejak awal pembangunan.

    Kesimpulannya, dengan adopsi teknologi inovatif ini, tantangan teknis dalam produksi bioetanol G2 dapat diatasi sehingga menjadi lebih ekonomis dan efisien.

    Biaya produksi bioetanol juga sebenarnya sudah ditekan dengan sendirinya karena bahan baku yang jauh lebih murah dan tersedia melimpah. Jadi, tidak ada alasan untuk sulit mengembangkan bioetanol G2.

    Bioetanol generasi kedua berbasis limbah terbukti lebih menjamin keberlanjutan energi di masa depan. Banyak negara di dunia kini berlomba-lomba mengembangkan bioetanol generasi kedua, bahkan generasi ketiga dari alga.

    Saatnya Indonesia mengambil langkah serupa. Investasi dalam pengembangan bioetanol G2 adalah kunci menuju energi yang lebih hijau dan mandiri. Dukungan kebijakan seperti insentif pajak atau subsidi penelitian bakal mempercepat adopsi teknologi ini.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: Dr. Eng. Ir. Amaliyah Rohsari Indah Utami, IPM (Dosen, Telkom University)

  • Muncul Busa di Hilir Kanal Banjir Timur: Diduga Dipicu Limbah Detergen Keras

    Muncul Busa di Hilir Kanal Banjir Timur: Diduga Dipicu Limbah Detergen Keras

    7cloud.asia – Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta mengambil langkah cepat menindaklanjuti munculnya busa di hilir Kanal Banjir Timur (KBT)

    Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta sudah mengambil sampel air di lokasi kejadian untuk dilakukan analisis di Laboratorium Lingkungan Hidup Daerah (LLHD).

    Hasilnya akan digunakan sebagai dasar evaluasi lebih lanjut dan menentukan langkah penanganan ke depan, terutama terkait potensi limbah domestik yang masuk ke badan air.

    Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta terus memantau kondisi sungai secara berkala dan berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait agar kejadian serupa tidak terulang.

    Humas Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Yogi Ikhwan mengatakan, busa sering kali timbul dari buangan limbah masyarakat yang banyak mengandung detergen keras.

    Baca: Daerah Aliran Sungai Ciliwung dalam kondisi kritis

    Untuk diketahui, detergen keras adalah detergen yang buihnya banyak karena kandungan MBAS atau Metilen Blue Active Surfactan, yang tidak ramah bagi lingkungan.

    “Padahal banyaknya busa bukan merupakan indikator efektifitas detergen membersihan. Sebaiknya masyarakat menggunakan soft detergen yang lebih ramah lingkungan,” jelas Yogi, Jumat (20/6/2025).

    Yogi menambahkan, langkah berikutnya akan dilakukan sosialisasi dan penegakan hukum oleh Sudin Lingkungan Hidup terhadap pelaku usaha cucian mobil atau motor dan laundry di sepanjang KBT yang mengalirkan limbah ke badan air tanpa pengolahan.

    “Secara bertahap, Pemprov DKI Jakarta juga akan membangun Sistem Pengolahan Air Limbah Domestik (SPALD), yang bertujuan agar dapat menghasilkan olahan berupa air yang memenuhi baku mutu air limbah yang dapat dibuang ke badan air dengan aman,” tandasnya.

    Berdasarkan hasil koordinasi dengan petugas penjaga pintu air dari Dinas Sumber Daya Air di lokasi Weir 3 BKT, diketahui bahwa tinggi muka air pada saat kejadian mencapai 4,1 meter, atau berada pada status siaga.

    Baca: Minimnya pengolahan air limbah picu masalah serius bagi lingkungan

    “Dalam kondisi tersebut, sesuai SOP pengendalian banjir, seluruh pintu air di Weir 3 dibuka penuh untuk mengurangi tekanan air,” ujar Yogi.

    Yogi menjelaskan, sebagai dampak dari pembukaan pintu air ini memicu turbulensi air yang cukup kuat, sehingga menimbulkan busa di sekitar area pembukaan sungai.

    Ia menyampaikan, busa ini kemudian terbawa arus ke arah hilir menuju laut hingga sejauh kurang lebih satu kilometer, sebelum akhirnya berangsur menghilang.

    “Busa tersebut diduga berasal dari limbah domestik warga, seperti deterjen yang terbawa aliran air hujan dari hulu BKT, dan mengalami turbulensi akibat terjadi perbedaan tinggi muka air sebelum dan sesudah pintu air,” jelasnya.

    Baca: Warga diimbau tak membuang sampah ke sungai

  • Komisi XII DPR Temukan Limbah Pengolahan Sawit Cemari Laut di Belawan

    Komisi XII DPR Temukan Limbah Pengolahan Sawit Cemari Laut di Belawan

    7cloud.asia – Komisi XII DPR menemukan dugaan pelanggaran pengelolaan limbah oleh salah satu perusahaan pengolahan sawit (CPO) di kawasan industri Belawan, Medan Sumatera Utara.

    Pelanggaran perusahaan pengolahan sawit tersebut terungkap saat Komisi XII melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke beberapa lokasi industri yang diduga mencemari lingkungan pada Jumat (20/6/2025).

    Atas temuan ini, anggota Komisi XII DPR Ratna Juwita menyuarakan keprihatinannya.
    Dalam sidak tersebut, Ratna menemukan bahwa perusahaan bersangkutan membuang limbah cair langsung ke laut tanpa proses pengolahan yang layak.

    Tindakan ini dinilai berisiko merusak lingkungan dan ekosistem laut di sekitarnya, karena limbah dari pengolahan sawit mengandung polutan tinggi dan bahkan tergolong bahan beracun dan berbahaya.

    Baca: Dampak lingkungan ekspansi perkebunan sawit

    “Saya bisa membayangkan bagaimana kondisi laut yang tercemar tidak akan bisa dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat. Aktivitas seperti ini jelas tidak berkelanjutan,” ujar Ratna.

    Ia menambahkan bahwa temuan ini menuntut perhatian serius dari berbagai pemangku kepentingan, termasuk pemerintah pusat dan daerah.

    Menurutnya, perlu ada penyamaan perspektif dalam menangani perusahaan-perusahaan yang terbukti melakukan pelanggaran terhadap kaidah lingkungan.

    “Kita harus menyamakan frekuensi. Tidak bisa dibiarkan begitu saja. Banyak perusahaan menyerahkan pengelolaan limbah ke pihak ketiga, tapi itu tidak serta-merta membebaskan tanggung jawab mereka,” tegasnya.

    Baca: Pengolahan limbah sawit untuk menurunkan emisi

    Politisi PKB ini menyoroti pentingnya pengawasan berkelanjutan oleh perusahaan utama, meskipun mereka bekerja sama dengan vendor pengelola limbah. Ia menegaskan bahwa prinsip tanggung jawab tetap melekat pada pemilik utama kegiatan usaha.

    “Bukan berarti suatu perusahaan kalau sudah menyerahkan pengolahan limbah ke perusahaan ketiga itu mereka bebas dari tanggung jawab loh. Mereka harus tetap memaintain seberapa besar pengelolaan itu dilakukan dengan baik dan benar,” pinta Ratna

    Sebagai langkah awal penindakan, Ratna menyampaikan bahwa pihaknya aka berkoordinasi langsung denganDitjen Gakkum Kementerian Lingkungan Hidup.

    Komisi XII DPR juga akan meminta data dan laporan resmi dari Ditjen Gakkum KLH untuk memperkuat proses pengawasan lanjutan.

  • Limbah Minyak dari Kapal Diduga Mencemari Perairan Pesisir Pantura

    Limbah Minyak dari Kapal Diduga Mencemari Perairan Pesisir Pantura

    7cloud.asia – Perairan pesisir pantai utara (pantura) tepatnya di Desa Tanjung Burung, Kecamatan Teluknaga, Kabupaten Tangerang, Banten diduga tercemar limbah minyak dari kapal yang berlalu-lalang di Laut Jawa.

    Informasi diperoleh di Tangerang, Rabu, melalui edaran video di media sosial (medsos) yang diabadikan salah satu nelayan di wilayah pesisir laut tersebut.

    Dalam unggahan itu, menunjukkan banyaknya cairan berwarna kuning emas yang menyebar ke beberapa hamparan Laut Pantai Tanjung Burung.

    Elemen berupa gumpalan padat itu, juga tampak tidak menyatu atau tercampur dengan air laut. Dimana, para nelayan menduga cairan itu merupakan cemaran limbah.

    Baca: Pencemaran Antibiotik di Perairan Bisa Bikin Bakteri Jadi Kebal

    “Tahu dari mana ini, limbah apa ini?. Tau begini gimana dapat ikan. Arahnya kayanya dari Priuk?,” terangnya dalam percakapan unggahan video tersebut.

    Menanggapi hal tersebut, Kasi Bina Hukum Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Tangerang, Sandi Nugraha mengungkapkan, bahwa pihaknya telah menerima laporan adanya cairan yang diduga limbah tersebut.

    Sandi menjelaskan, atas adanya laporan DLHK telah menyampaikan ke Pemerintah Provinsi Banten dan Kementerian Kelautan dan Perikanan.

    “Sudah kami sampaikan ke provinsi dan pemerintah pusat, saat ini kami sedang menunggu tindak lanjutnya,” ujarnya.

    Baca: Pencemaran di Laut Sangihe Ancam Kesehatan Manusia

    Dia menjelaskan, berdasarkan laporan dan keterangan para nelayan bahwa gumpalan dengan warna kuning emas ini diduga merupakan limbah minyak bumi yang tercecer saat diangkut menggunakan kapal tanker dari wilayah pesisir Cirebon.

    “Jadi itu mungkin minyak bumi yang bocor dari kapal tanker,” ucapnya.

    Untuk memastikan adanya pencemaran limbah ini, DLHK Kabupaten Tangerang juga telah melaporkannya ke Kementerian Lingkungan Hidup sebagai bahan penelitian dan penyelidikan dalam kasus tersebut.

    “Kalau penelitian kewenangannya ada di kementerian. Nanti itu bisa dipastikan terkait pencemarannya,” kata dia.

    Sumber: Antaranews

  • Ribuan Ikan Mati di Karawang, Diduga Akibat Pembuangan Limbah Secara Sembarangan

    Ribuan Ikan Mati di Karawang, Diduga Akibat Pembuangan Limbah Secara Sembarangan

    7cloud.asia – Berbagai jenis ikan mati secara massal di sejumlah titik sepanjang saluran irigasi induk atau saluran primer di wilayah Kabupaten Karawang, Jawa Barat.

    Untuk mengatasi kondisi ini, pihak Dinas Lingkungan Hidup (DLH) setempat mengerahkan personel untuk melakukan investigasi.

    Seorang warga Guro, Kelurahan Karawang Wetan, Kecamatan Karawang Timur, Ujang, di Karawang, Selasa, mengaku sudah melihat ikan mati di saluran irigasi sejak Senin (1/6/2026) malam. Kemudian hingga hari Selasa jumlah ikan yang mati semakin banyak.

    “Sudah dari kemarin (Senin) banyak ikan mati mengambang di saluran irigasi dan hari ini terlihat semakin banyak ikan yang mati,” katanya dikutip Antaranews.com.

    Ikan-ikan banyak yang mati terlihat di sejumlah titik saluran irigasi primer di Karawang, seperti di Tanggul Johar, Kelurahan Karawang Wetan, Kecamatan Karawang Timur, serta di sekitar saluran irigasi Perumahan CKM.

    Baca: Tak Hanya Ikan Sapu-sapu, Ada Banyak Spesies Invasif Lainnya

    Di antara jenis ikan yang mati itu seperti ikan tawes, baung, dan jenis ikan air tawar lainnya. Bahkan ikan sapu-sapu juga banyak yang terlihat mati di saluran irigasi.

    Ikan-ikan yang mati itu mengambang dan berkumpul di pinggiran saluran irigasi.

    Atas kondisi itu masyarakat berinisiatif mengambil dan mengumpulkan ikan yang mati tersebut. Bahkan ada beberapa masyarakat yang justru membawa ikan mati ke rumahnya.

    Belum diketahui secara pasti penyebab ikan mati secara massal itu. Namun sejumlah warga menyebutkan kondisi tersebut terjadi akibat adanya pembuangan limbah cair ke saluran irigasi.

    Kepala DLH Karawang Asep Suryana mengatakan, pihaknya sudah mengambil sampling air saluran irigasi tempat ikan mati secara massal di sejumlah titik saluran irigasi di Karawang.

    “Beberapa petugas kami sudah meluncur ke lokasi dan mengambil sampel air dan juga ikan yang mati. Kami belum tahu penyebabnya karena masih diselidiki,” kata Asep Suryana.

    Baca: Populasi Ikan Sapu-sapu Meningkat, Tanda Kualitas Air Sungai Kian Tercemar