Tag: longsor

  • Banjir dan Longsor Kerap Melanda Pulau Jawa, Ini Penyebabnya

    Banjir dan Longsor Kerap Melanda Pulau Jawa, Ini Penyebabnya

    7cloud.asia – Beberapa hari belakangan ini banjir dan tanah longsor melanda sebagian wilayah di Pulau Jawa. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor, di antaranya penurunan permukaan tanah.

    Demikian diungkapkan oleh Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati seperti yang dikutip Antaranews pada Kamis (14/03/2024).

    “Fenomena penurunan muka tanah ini diketahui merujuk dari hasil penyelidikan geologi yang diikuti oleh tim BMKG,” ujar Dwikorita.

    Baca: Cuaca ekstrem berpotensi landa Jawa Timur

    Perempuan yang akrab disapa Rita ini menjelaskan Kota Semarang, Pekalongan dan Demak menjadi salah satu contoh daerah di Pulau Jawa yang paling kentara mengalami penurunan permukaan tanah itu.

    Berdasarkan hasil penelitian itu penurunan permukaan tanah menyasar wilayah pesisir Kota Semarang, Pekalongan dan Demak sekitar 10 sentimeter per tahun.

    Kondisi ini sudah berlangsung sejak 10 tahun terakhir. Akibatnya permukaan tanah wilayah pesisir Jawa Tengah itu terpaut lebih rendah dari muka air laut.

    Kondisi ini diperburuk dengan adanya aktivitas Madden Julian Oscillation (MJO) serta fenomena Gelombang Kelvin, Rossby Equatorial, dan tiga Bibit Siklon Tropis sekaligus yang melanda Indonesia.

    Baca: Tiga jenis cuaca ekstrem yang merusak

    “Itulah mengapa bila diguyur hujan air cepat menyebar, dan surutnya membutuhkan waktu lama dan juga tak sedikit berujung longsor,” ujarnya.

    Rita berharap dengan adanya analisa ini, semua pihak baik pemerintah, legislatif maupun masyarakat dapat menemukan solusi terbaik dalam menangani banjir serta meminimalisir dampak banjir.

    Pihaknya siap membantu berbagai hal baik dalam mitigasi kebencanaan maupun upaya penanganan darurat dampak bencana bersama lembaga/instansi lainnya demi kemaslahatan bangsa.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Banjir dan Longsor di Bandung Barat, Puluhan Rumah Hancur dan 9 Orang Hilang

    Banjir dan Longsor di Bandung Barat, Puluhan Rumah Hancur dan 9 Orang Hilang

    7cloud.asia – Banjir dan tanah longsor yang melanda Kabupaten Bandung Barat pada Minggu (24/03/2024) malam telah mengakibatkan 30 unit rumah hancur, sejumlah fasilitas umum rusak dan sembilan orang hilang.

    Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi, Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Abdul Muhari dalam rilisnya menjelaskan kesembilan orang itu merupakan warga Desa Gintung, Cibenda, Kecamatan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat.

    Mereka diduga hilang setelah terbawa arus deras banjir dan gulungan tanah longsor sejak Minggu malam sekitar pukul 23.00 WIB. Menurut Muhari, jumlah korban yang hilang kemungkinan bertambah.

    Baca: Ini penyebab banjir dan longsor sering melanda Pulau Jawa

    Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung Barat saat ini  tengah melakukan pencarian dan penyelamatan.

    Petugas menggunakan pesawat  tanpa awak atau drone pendeteksi panas tubuh dari Kantor SAR Bandung agar korban yang hilang dapat segera ditemukan apapun kondisinya.

    Curah hujan yang tinggi serta kondisi tanah yang labil memicu terjadinya banjir dan longsor di wilayah ini.

    Akibatnya tanah di atas bukit longsor serta menerjang Kampung Gintung, Desa Cibenda, Kecamatan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. 

    Baca: Curah hujan tinggi waspada banjir dan longsor

    Berdasarkan data dari BPBD, sebanyak 99 keluarga terdampak akibat bencana tersebut. Dua diantaranya mengalami luka akibat terkena serpihan material longsor hingga harus dirawat secara intensif di puskesmas setempat.

    Selain itu, Sebanyak 189 warga mengungsi sementara di SD Negeri Padakati, Kecamatan Cipongkor dan Gor Desa Cibenda.

    Pada Senin (25/03/2024) BPBD Kabupaten Bandung Barat sudah mendirikan posko darurat dan beberapa dapur umum bekerja sama dengan Dinas Sosial (Dinsos) setempat.

    Baca: Banjir dan longsor landa Semarang

    Adapun kebutuhan mendesak yang dibutuhkan saat ini antara lain paket sembako, selimut, dan kasur.

    BNPB mengimbau masyarakat terutama yang tinggal di wilayah berbukit dan dekat dengan tebing untuk selalu waspada terutama jika hujan turun dengan intensitas tinggi lebih dari satu jam.

    Warga yang bermukim di dekat lokasi bencana tanah longsor diharap mengevakuasi diri sementara ke tempat yang lebih aman guna mengantisipasi potensi longsor susulan.

     Reporter: Nurakhmayani

  • Curah Hujan Tinggi di Sulawesi Selatan Mengakibatkan Longsor, Delapan Orang Tewas

    Curah Hujan Tinggi di Sulawesi Selatan Mengakibatkan Longsor, Delapan Orang Tewas

    7cloud.asia – Meski beberapa wilayah sudah memasuki musim kemarau, tetapi curah hujan di Kabupaten Luwu dan Sidrap, Sulawesi Selatan (Sulsel) masih tinggi. Akibatnya bencana longsor terjadi dan menewaskan 8 warga.

    Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulsel, Amson Pandolo menjelaskan  7 orang korban tewas di Desa Buntu Sarek, Kecamatan Latimojong, Kabupaten Luwu, dan satu orang di Kabupaten Sidrap.

    “Iya, ada tujuh orang korban meninggal dunia akibat tanah longsor di Kabupaten Luwu,” kata Amson seperti yang dikutip Antaranews.

    Berdasarkan data dari BPBD, korban tewas akibat tanah longsor di Desa Buntu Sarek berjenis kelamin perempuan, yaitu Rumpak (97), Jatima (55), Mawi (57), dan Sukma (9).

    Baca: Banjir akibat cuaca ekstrem, BNPB harus lebih responsif

    Selanjutnya korban laki-laki atas nama Rima (84), Muh Misdar (29) dan Kapila (84). Sedangkan satu korban yang belum dikenali namanya di Kabupaten Sidrap.

    Selanjutnya Amson menjelaskan saat ini tim BPBD dan SAR gabungan melakukan evakuasi dan asesmen terhadap para korban terdampak tanah longsor di lokasi kejadian.

    Sejak Senin (29/04//2024) curah hujan yang tinggi mengguyur sejumlah wilayah seperti Kabupaten Sidrap, Kabupaten Enrekang, dan Kabupaten Wajo Sulsel. Akibatnya banjir dan longsor menerjang wilayah tersebut.  

    “Bencana longsor terjadi di Sidrap, Enrekang, Wajo, dan Luwu. Saat ini di Luwu, Kecamatan Latimojong, ada tujuh meninggal, termasuk di Suli dan Suli Barat. Untuk banjir hampir merata di Luwu,” jelas Amson.

    Pihaknya juga tengah mendata jumlah korban, rumah serta fasilitas umum yang terdampak akibat banjir dan longsor.

    Baca: Banjir dan longsor di Bandung Barat, 9 orang hilang

    “Belum terdata, karena tim masih fokus melaksanakan evakuasi dan pertolongan, serta belum mendata berapa rumah yang rusak,” ungkapnya.

    Data sementara terdapat 22 titik lokasi banjir dan tanah longsor di Kabupaten Enrekang yang tersebar di Kabupaten Enrekang sejak Kamis 2 Mei 2024.

    Untuk ketinggian banjir di 22 titik tersebut bervariasi antara 40 hingga 150 sentimeter. Selebihnya tanah longsor yang menutupi akses jalan Trans Sulawesi dan tidak dapat dilalui kendaraan roda empat.

    “Data sampai saat ini masih dihimpun di posko siaga bencana, begitu pula kerugian materiil dari bencana tanah longsor dan banjir masih dalam pendataan,” jelas Amson.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Banjir Gorontalo Mulai Surut, Tetapi Lebih dari 7 Ribu Warga Masih Mengungsi

    Banjir Gorontalo Mulai Surut, Tetapi Lebih dari 7 Ribu Warga Masih Mengungsi

    7cloud.asia – Banjir yang melanda Gorontalo sejak Rabu (10/07/2024) lalu, kini mulai berangsur surut. Lebih dari 7 ribu warga mengungsi hingga kini.

    Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Abdul Muhari menjelaskan  curah hujan di Kota Gorontalo cukup tinggi sejak 10 hingga 13 Juli 2024 lalu.

    Akibatnya air merendam sejumlah wilayah di Kota Gorontalo dengan ketinggian antara 30-150 sentimeter.

    Kondisi geografis wilayah Kota Gorontalo berupa cekungan membuat banjir kali ini menjadi yang terparah di tahun 2024. Data dari BNPB sebanyak 4.686 unit rumah terendam.  

    Baca: Banjir landa Gorontalo, ketinggian air hingga 2 meter

    “Banjir ini merupakan yang keempat kalinya selama bulan Juli 2024,” ungkap Muhari, seperti yang dikutip Sindonews pada Senin (15/7/2024).

    Akibat banjir tersebut, sebanyak 15 kecamatan di 3 wilayah yang terdampak dan 47 kelurahan di sembilan kecamatan se-Kota Gorontalo terdampak banjir.

    Yaitu Kecamatan Kota Barat, Kota Utara, Kota Selatan, Kota Tengah, Kota Timur, Dumbo Raya, Hulonthalangi, Dungingi, dan Sipatana.

    Baca: Ratusan rumah di Sorong Selatan banjir, warga mengungsi ke hutan

    Tak hanya banjir, beberapa kelurahan juga turut terdampak tanah longsor di antaranya Kelurahan Tenilo (Kecamatan Kota Barat), Kelurahan Pohe (Kecamatan Hulanthalangi).

    Selain itu Kelurahan Leato Utara, Leato Selatan, Botu dan Talumolo di Kecamatan Dumbo Raya juga terjadi longsor. Seorang warga Kecamatan Kota Barat meninggal dunia akibat tertimbun material longsor.

    BPBD Kota Gorontalo bekerjasama dengan Pemda setempat dan lintas sektor telah melakkan berbagai upaya tanggap darurat.

    Diantaranya dengan mengevakuasi warga, mendirikan pendirian pos pengungsian, dan pendirian dapur umum.

    Baca: Sungai Ngarai Sianok meluap, 7 rumah rusak berat diterjang banjir

    Total pos pengungsian yang telah didirikan sebanyak 59 titik tersebar di tiap kelurahan. Jumlah total warga mengungsi per 13 Juli 2024 sebanyak 7.486 jiwa.

    Selain itu BPBD Kota Gorotalo bersama tim gabungan juga telah mengevakuasi sarana dan prasarana umum terdampak serta melakukan pengerukan material longsor dan membersihkan sisa banjir.

    Dalam menangani bencana ini, Wali Kota Gorontalo menetapkan status tanggap darurat bencana banjir dan tanah longsor dengan Nomor 256/6/VII/2024 selama 14 hari terhitung sejak tanggal 11 Juli sampai 24 Juli 2024.

     

  • Operasi SAR Evakuasi 10 Korban Longsor di Karo, Sumatera Utara

    Operasi SAR Evakuasi 10 Korban Longsor di Karo, Sumatera Utara

    7cloud.asia – Korban akibat longsor yang terjadi di Kabupaten Karo, Provinsi Sumatra Utara terus bertambah. Hingga Senin (25/11) malam, tim SAR mengevakuasi 10 korban dalam kondisi meninggal dunia.

    Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penangguangan Bencana (BNPB), Abdul Muhari, Ph.D menjelaskan para korban meninggal telah dievakuasi dan didentifikasi di RS Kabanjahe.

    Selain korban jiwa, longsor kali ini mengakibatkan kerusakan tempat tinggal. Data BNPB pada Senin (25/11), pukul 21.36 WIB mencatat bangunan yang mengalami kerusakan berat mencakup rumah warga 2 unit, penginapan dan masjid masing-masing 1 unit.

    Baca: Bandung tanggap darurat selama 2 minggu

    Petugas gabungan yang dipimpin Basarnas memfokuskan pencarian korban di sekitar bangunan rumah yang terdampak longsor.

    Pada Senin kemarin BPBD dan dinas terkait berhasil membersihkan dua titik longsoran yang menimbun akses menuju lokasi yang diduga masih adanya warga tertimbun longsor.

    Operasi SAR dilakukan petugas gabungan dari Basarnas, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Karo, TNI, Polri dan warga setempat.

    Sementara itu, material longsor di sekitar Masjid Al-Hidayah yang terletak di Desa Semangat Gunung, Kecamatan Merdeka, Karo, belum sepenuhnya berhasil dibersihkan. Kondisi tersebut menyebabkan akses jalan belum dapat dilalui kendaraan.

    Material longsor sempat memutus akses jalan yang menghubungkan Desa Semangat Gunung menuju Desa Doulu.

    Baca: BNPB kembangkan sistem peringatan dini tanah longsor

    Pada lahan pertanian dan sektor perikanan terdampak, pemerintah daerah setempat masih melakukan pendataan di lapangan. Sedangkan dampak lain tanah longsor menyasar pada infrastruktur irigasi dan jaringan listrik yang terputus.

    Tanah longsor di Desa Semangat Gunung atau dekat dengan pemandian air panas Sidebu debu terjadi setelah adanya hujan lebat pada Sabtu lalu (23/11), pukul 14.00 WIB.

    Sebelumnya Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah mengimbau masyarakat agar mewaspadai ancaman bahaya hidrometeorologi, seperti banjir, banjir bandang, tanah longsor atau pun angin kencang.

    Masayarakat bekerjasama dengan pemerintah dapat melakukan antisipasi dengan menyelamatkan diri dan keluarga. Masyarakat juga dapat memantau potensi curah hujan melalui kanal resmi pemerintah atau pun BPBD.

     

     

     

     

  • Tim SAR Lakukan Pencarian, Jumlah Korban Longsor di Pekalongan Bertambah Jadi 17 Orang

    Tim SAR Lakukan Pencarian, Jumlah Korban Longsor di Pekalongan Bertambah Jadi 17 Orang

    7cloud.asia – Korban longsor yang terjadi di Kecamatan Petungkriono, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, pada Selasa (21/01/2025) siang bertambah jadi 17 orang dari sebelumnya sebanyak 16 orang.

    Longsor yang terjadi pada Senin (20/01/2025) pukul 17.30 waktu setempat tersebut menimbun 2 unit rumah dan menyeret beberapa kendaraan yang sedang melintas di wilayah tersebut.

    “Ya, informasi terakhir ada 17 korban yang sudah ditemukan tertimbun longsor,” kata Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Pekalongan Yulian Akbar seperti yang dikutip Antaranews di Pekalongan.

    Baca: Banjir dan longsor di Sukabumi terparah dalam 10 tahun

    Jumlah korban ini dimungkinkan dapat bertambah. Tim SAR gabungan saat ini masih mencari korban yang tertimbun material longsor.

    Tak hanya korban jiwa, longsor juga menyebabkan 10 orang terluka dan dirujuk ke Puskesmas dan RSUD terdekat.

    Longsor juga mengakibatkan 2 unit jembatan rusak.  

    “Jadi, dampaknya tidak terjadi hanya di Petungkriono. Akan tetapi di Kecamatan Kandangserang juga terjadi bencana, bahkan untuk menuju ke wilayah bencana kami harus memutar melalui daerah tetangga, karena jembatan di Doro yang menghubungkan akses ke Kandangserang terputus,” jelasnya.

    Selain longsor, banjir bandang juga menerjang wilayah tersebut pasca hujan deras yang mengguyur. Kerugian akibat banjir bandang masih dalam pendataan hingga saat ini.

    Baca: Cura hujan tinggi di Sulawesi Selatan mengakibatkan longsor, 8 orang tewas

    Merujuk prakiraan cuaca BMKG hingga (23/01/2025) wilayah Kabupaten Pekalongan masih berpotensi terjadi hujan dengan intensitas ringan hingga sedang. Kondisi cuaca seperti ini dapat memicu terjadinya banjir, banjar bandang, dan tanah longsor.

    Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengimbau warga untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan kewaspadaan.

    Bagi warga yang tinggal di dekat lereng dan tebing, pantau secara berkala kondisi tanah yang ada di sekitar rumah. Warga juga diminta melakukan evakuasi mandiri jika terjadi hujan terus menerus selama dua jam atau lebih.

     

     

  • Peringatan Dini BMKG: Cuaca Ekstrem Landa Jawa Tengah, Waspada Bencana

    Peringatan Dini BMKG: Cuaca Ekstrem Landa Jawa Tengah, Waspada Bencana

    7cloud.asia – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem untuk wilayah Jawa Tengah. Masyarakat diimbau waspada potensi bencana hidrometeorologi.

    Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati dalam Rapat Koordinasi Antisipasi Bencana Hidrometeorologi, menjelaskan cuaca ekstrem yang dapat memicu bencana ini berlangsung hingga Februari 2025.

    Sebagian besar wilayah Jawa Tengah akan mengalami puncak musim hujan hingga Februari. Namun, puncak musim hujan ini tidak serempak, terjadi bertahap mulai November, Desember, Januari, hingga Februari.

    “Hal ini membuat potensi bencana, seperti yang terjadi di Pekalongan, masih bisa terjadi. Oleh karena itu, langkah antisipasi terus kami tingkatkan,” jelas Dwikorita dalam rilis BMKG.

    Baca: Cuaca ekstrem berpotensi landa Jakarta dan beberapa wilayah hingga Februari 2025

    Dalam rapat yang dihadiri oleh Pejabat Gubernur Jawa Tengah, Nana Sudjana tersebut, Dwikorita menegaskan pentingnya kesiapsiagaan masyarakat dan pemerintah daerah bekerjasama dalam menghadapi potensi bencana.

    Apalagi saat ini wilayah Jawa Tengah berada pada puncak musim hujan yang diperkirakan akan berlangsung hingga Februari 2025.

    Dalam pemaparannya Dwikorita menerangkan kondisi cuaca ekstrem seperti ini terjadi dipengaruhi oleh kombinasi aktif beberapa fenomena atmosfer global, seperti La Nina lemah, Monsun Asia, Madden-Julian Oscillation (MJO), serta gelombang ekuatorial Kelvin dan Rossby.

    Kondisi ini diperkuat oleh fenomena astronomis, seperti fase bulan baru, yang menciptakan potensi peningkatan curah hujan, angin kencang, hingga gelombang tinggi di wilayah pesisir.

    Selain itu, kelembaban udara yang sangat basah serta aktivitas konvektif lokal turut memicu pembentukan awan hujan yang menjulang tinggi.

    Baca: Cuaca ekstrem landa Jawa Tengah, belasan warga meninggal

    Semua faktor ini menjadi pemicu utama peningkatan risiko bencana seperti banjir, tanah longsor, banjir rob, dan angin kencang di sejumlah wilayah Jawa Tengah.

    Selanjutnya Dwikorita menerangkan ketika berada di puncak musim hujan, maka curah hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat akan terjadi di berbagai wilayah, terutama di kawasan rawan bencana seperti Pekalongan, Batang, dan Boyolali.

    Di wilayah ini ancaman tanah longsor dan banjir bandang menjadi perhatian utama. Dwikorita mencontohkan Kabupaten Boyolali yang berada dalam kondisi kritis.

    Sebab, lanjut dia, dengan adanya jalur sungai di lereng Gunung Merbabu maka akan  sangat rentan terhadap bencana hidrometeorologi.

    Baca: Banjir dan longsor kerap melanda Jawa Tengah, ini dia penyebabnya

    Sebelumnya, Dwikorita bersama tim BMKG telah mengunjungi wilayah ini untuk meninjau langsung kondisi di lapangan dan memberikan arahan mengenai langkah mitigasi bencana.

    Selain ancaman hujan ekstrem, BMKG juga mengidentifikasi potensi banjir rob yang dapat melanda kawasan pesisir utara dan selatan Jawa Tengah.

    Pada kesempatan itu, Dwikorita mengingatkan masyarakat agar lebih waspada terhadap tanda-tanda awal bencana, seperti retakan tanah, rembesan air dari lereng, atau pohon yang tiba-tiba miring.

    Jika tanda-tanda ini terdeteksi, masyarakat diimbau segera meninggalkan lokasi rawan dan melapor kepada pihak berwenang.

    Di sisi lain, masyarakat yang berada di pesisir diminta untuk menghindari aktivitas di dekat pantai saat terjadi pasang tinggi atau gelombang besar.

    Baca: Korban longsor di Pekalongan capai 17 orang

    “Kita semua harus bekerja sama untuk memastikan keselamatan masyarakat. Informasi yang kami sampaikan bukan hanya untuk meningkatkan kewaspadaan, tetapi juga untuk membantu masyarakat mengambil langkah konkret dalam mengantisipasi bencana,” urainya.

    Sementara itu, pejabat Gubernur Jawa Tengah, Nana Sudjana menyatakan bahwa Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah mengambil langkah-langkah antisipasi.

    Diantaranya melakukan pemetaan jalur evakuasi, memastikan kesiapan drainase di kawasan rawan longsor, dan meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat hingga tingkat desa.

     

  • Kenali Beberapa Tanda Daerah Rawan Longsor Berikut Ini

    Kenali Beberapa Tanda Daerah Rawan Longsor Berikut Ini

    7cloud.asia – Bencana tanah longsor kerap terjadi di sejumlah daerah selama musim hujan. Namun, ada sejumlah tanda-tanda yang harus diperhatikan sebelum longsor terjadi.

    Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) selalu mengingatkan masyarakat akan potensi bencana hidrometeorologi termasuk tanah longsor dengan memperhatikan sejumlah tanda.

    Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati dalam konferensi pers secara daring pada Sabtu (01/02/2025) yang diikuti 7cloud.asia menjelaskan ada sejumlah beberapa tanda lereng akan longsor.

    Baca: Jumlah korban longsor di Pekalongan bertambah

    Pertama, tanah terlihat retak-retak atau ambles. Jika menemukan tanda seperti ini, masyarakat diimbau menjauh. Apalagi jika kondisi cuaca sudah mulai hujan.

    Kedua, pohon-pohon diatas lereng terlihat miring atau condong ke arah bawah lereng. Kondisi seperti ini menunjukkan bahwa akar pohon sudah mulai rapuh atau mulai terdorong oleh air.

    Ketiga, muncul air atau rembesan air dan airnya makin lama makin keruh. Iitu segera aja meninggalkan lereng, berarti lereng ini sudah mulai erosi bagian dalamnya,” jelas Dwikorita.

    Baca: Pulau Jawa waspada bencana hingga April 2025

    Keempat, kondisi tanah di lereng tiba-tiba menggembung. Adanya dorongan air menyebabkan terjadinya pergerakan di dalam tanah. Jika menemukan kondisi seperti ini, masyarakat waspada bahaya longsor.  

    Kelima, jika masyarakat tinggal dia atas lereng dan tiba-tiba pintu atau jendela sulit dibuka, berarti tanahnya mulai bergerak, rumahnya mulai terseret.

    “Pintu dan jendela itu bentuknya sudah tidak asli, makanya jika jendela atau pintu dibuka itu seret. Itu segera saja tinggalkan saja rumah tersebut. Apalagi kondisi cuaca akan hujan,” terang Dwikorita.

    Karena itu, lanjut Dwikorita, pemerintah setempat harus melakukan antisipasi salah satunya dengan melakukan pengecekan sistem drainase di sekitar lereng.

    Baca: Tim SAR evakuasi 10 orang korban longsor di Karo, Sumatera Utara

    “Pastikan apakah drainase sekitar lereng dapat berfungsi dengan optimal, tapi harus kondisi cerah dan tidak ada awan gelap,” katanya.

    Selain menjelaskan tanda-tanda tanah longsor, mantan rektor UGM ini juga memaparkan tanda-tanda banjir bandang.

    Menurutnya masyarakat dapat memperhatikan aliran sungai ketika hujan turun.

    “Kalau aliran sungai mulai keruh, berarti itu sdh mulai terjadi banjir. Sudah mulai terjadi erosi diatas jadi segera meninggalkan sungainya. Apalagi air sungainya mulai naik,” tutupnya.

  • Tembok Kolam Penampungan Air di Gontor 5 Magelang Roboh, 4 Santri Meninggal

    Tembok Kolam Penampungan Air di Gontor 5 Magelang Roboh, 4 Santri Meninggal

    7cloud.asia – Sebanyak empat santri Pondok Pesantren Modern Darul Qiyam Gontor 5, Desa Mangunsari, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, meninggal akibat tembok kolam penampungan air yang roboh pada Jumat (25/4/2025) pagi.

    Selain empat santri, sebanyak 25 santri lainnya mengalami luka-luka, tiga diantaranya masih dirawat di Rumah Sakit Merah Putih, Magelang. 

    Kepala Kantor SAR Jawa Tengah, Budiono menjelaskan ketiga santri tersebut meninggal ditempat. “Evakuasi hingga malam ini masih terus berlangsung, karena masih ada 1 lagi tertimpa reruntuhan (kondisi meninggal,red),” kata Budiono pada Jumat (25/04/2025) malam.

    Baca: Sebanyak satu orang tewas dan 7 orang hilang dalam banjir dan longsor di Sukabumi

    Menurutnya evakuasi yang dilakukan dengan hati-hati karena ada sejumlah bagian bangunan yang rapuh. Evakuasi tersebut dilakukan bersama tim gabungan dari TNI, Polri, BPBD, Basarnas dan para relawan.

    Keempat santri yang meninggal tersebut adalah Wildan asal Surabaya, ditemukan pukul 17.50 WIB, Reyfhan Hafidz asal Tangerang, ditemukan pukul 19.02 WIB, Bima Arya asal Surabaya, ditemukan pukul 20.00 WIB dan Fadhil Hanafi asal Depok ditemukan pukul 20.00 WIB.

    Sementara guru senior Pondok Gontor 5, Ustad Muhib Huda Muhammadi kepada wartawan menjelaskan peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 10.30 WIB saat para santri tengah antre kamar mandi untuk bersiap salat Jumat.

    Baca: Ini dia tanda-tanda daerah rawan longsor

    “Saat itu para santri sedang mandi bersiap ke masjid. Longsor datang tiba-tiba dan menimpa tembok kolam yang langsung roboh ke arah kamar mandi,” kata Ustad Muhib.

    Atas peristiwa ini, pihak pondok pesantren prihatin dan berduka. Dia berharap seluruh korban dapat segera sembuh dan ditemukan. Karena itu, dia memohon doa dari semua pihak.

    Penulis: Nurakhmayani/berbagai sumber

  • Fenomena Kemarau Basah, Apa Saja Dampaknya?

    Fenomena Kemarau Basah, Apa Saja Dampaknya?

    7cloud.asia – Fenomena kemarau basah yang kini tengah terjadi di sejumlah wilayah di Indonesia membawa dampak di berbagai bidang. Salah satunya bidang pertanian.

    Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofiska (BMKG) memprediksi kemarau basah berlangsung hingga Agustus 2025.

    Fenomena kemarau basah sebagai indikator perubahan iklim kian terasa di Indonesia. Sejumlah dampak yang muncul akibat fenomena ini, yaitu:

    Baca: Mengapa musim kemarau 2025 lebih pendek?

    1. Bidang Pertanian

    Bagi petani yang biasa menjadwalkan menanam di musim kemaru bisa kesulitan jika hujan masih sering turun. Sebab lahan menjadi mudah tergenang dan tanaman menjadi rusak.

    1. Bidang Kesehatan

    Hujan yang masih sering turun menyebabkan munculnya genangan air dan lingkungan menjadi lembab. Kondisi ini memicu berbagai penyakit seperti Demam Berdarah Dengue (DBD), leptospirosis, influenza dan infeksi saluran pernapasan.

    1. Bencana Alam

    Kondisi cuaca hujan dengan intensitas tinggi dapat menyebabkan banjir lokal, longsor atau banjir bandang yang dapat mengakibatkan kerugian materi bahkan mengancam keselamatan.

    Transportasi pun juga menjadi lumpuh akibat adanya bencana alam. Karena biasanya akses jalan terputus akibat longsor. Kondisi jalan juga tergenang air yang menyulitkan warga dalam beraktifitas.  

    Baca: Mengenal fenomena kemarau basah

    Adanya berbagai dampak tersebut, BMKG mengajak masyarakat sadar dan peduli terhadap lingkungan. Salah satunya menjaga kebersihan lingkungan.

    Selain itu, pemerintah daerah juga perlu menyusun strategi mitigasi dan penyesuaian terhadap perubahan iklim dan pola cuaca yang makin tidak menentu. Dengan demikian dampak kemarau basah dapat diminimalisir.