Tag: mikroplastik

  • Perjalanan Panjang Menuju Lahirnya Perjanjian Plastik Global

    Perjalanan Panjang Menuju Lahirnya Perjanjian Plastik Global

    7cloud.asia – PBB memperkirakan lebih dari 51 triliun partikel mikroplastik telah mengotori lautan dunia. Kondisi ini menjadi ancaman serius bagi lingkungan

    Diperkirakan 99 persen spesies laut akan mengonsumsi mikroplastik pada tahun 2050 jika tidak ada tindakan nyata yang dilakukan untuk memperlambat polusi plastik.

    Menyadari kebutuhan mendesak akan tindakan terkoordinasi untuk mengatasi sampah plastik secara global, PBB telah memulai upaya untuk mengembangkan Perjanjian Plastik Global.

    Perjanjian Plastik Global ini bertujuan untuk menetapkan komitmen yang mengikat secara hukum antar negara untuk mengurangi produksi plastik, meningkatkan upaya daur ulang, dan mempromosikan alternatif yang berkelanjutan.

    Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres menyoroti bahwa “sampah plastik kini ditemukan di wilayah paling terpencil di planet Bumi sehingga membunuh kehidupan laut dan berdampak buruk pada masyarakat yang bergantung pada perikanan dan pariwisata.”

    Inisiatif sukarela perusahaan terbukti tidak cukup sebagai solusi global untuk mengatasi masalah plastik global. Tanpa aturan yang lebih kuat dan peraturan yang harmonis di seluruh siklus hidup plastik, perubahan nyata kecil kemungkinan terjadi.

    Pada awal tahun 2022, Majelis Lingkungan Hidup PBB mengadopsi Resolusi 5/14, menyetujui untuk mengadopsi perjanjian plastik global yang mengikat secara hukum pada akhir tahun 2024.

    Sejak itu, empat sesi Komite Perundingan Antarpemerintah (INC) telah diadakan, dengan sesi terbaru – INC-4 – berakhir pada tanggal 29 April 2024.

    Baca: INC 5 gagal batasi produksi plastik global dan dampaknya pada lingkungan

    Meskipun ada kemajuan yang dicapai dalam mengidentifikasi produk-produk penting dan bahan kimia yang menjadi perhatian, pembicaraan tersebut tidak cukup mengatasi kebutuhan untuk mengurangi produksi plastik primer.

    Pengaruh pelobi industri telah menjadi hambatan besar dalam negosiasi. Pada INC-4 di Ottawa, Kanada, hampir 200 pelobi bahan bakar fosil hadir, meningkat sebesar 37 persen dari INC sebelumnya.

    Hal ini meningkatkan kekhawatiran mengenai potensi kepentingan korporasi yang dapat melemahkan efektivitas perjanjian tersebut.

    Pada hari terakhir INC-4, 28 negara, termasuk Australia, Nigeria, dan Filipina, meluncurkan “Jembatan ke Busan: Deklarasi Polimer Plastik Primer.” Deklarasi ini menekankan bahwa perjanjian global yang berfokus pada polusi plastik harus mengatasi masalah produksi.

    Namun, masih ada skeptisisme mengenai kelayakan untuk mencapai perjanjian yang dapat ditandatangani pada akhir tahun 2024, mengingat kompleksitas negosiasi.

    Aspek penting lainnya yang tampaknya kurang dalam diskusi perjanjian plastik global adalah akuntabilitas perusahaan pencemar atas limbah yang mereka hasilkan.

    Studi mengenai polusi plastik bermerek menunjukkan bahwa sekitar 60 perusahaan bertanggung jawab atas lebih dari separuh polusi plastik dunia.

    Selama enam tahun berturut-turut, Coca-Cola telah diakui sebagai pencemar terbesar dalam inisiatif Audit Merek global, dengan mencetak rekor baru dengan total 33.820 lembar sampah plastik—jumlah tertinggi sejak proyek ini dimulai.

    Baca: Perbedaan Pendapat Tajam Soal Penanganan Plastik Sekali Pakai

    Selain mewajibkan perusahaan mengurangi produksi plastik, penting juga untuk memastikan bahwa perusahaan yang menghasilkan polusi bertanggung jawab mendanai pembersihan limbah yang mereka timbulkan.

    Sungai, samudera, dan lautan di dunia telah menjadi jalur transportasi dan tempat pembuangan sampah plastik yang dihasilkan oleh aktivitas manusia.

    Polusi ini menimbulkan biaya besar, termasuk upaya restorasi, hilangnya pendapatan dari pariwisata, dan dampak sosial akibat degradasi lingkungan.

    Kebutuhan akan Perjanjian Plastik Global menjadi lebih mendesak dari sebelumnya. Ketika polusi plastik meningkat, kerja sama internasional sangat penting untuk menciptakan solusi yang dapat ditegakkan.

    Dengan membuat perjanjian yang menekankan akuntabilitas dan inovasi, dunia dapat memerangi polusi plastik dan mendorong ekonomi sirkular yang meminimalkan limbah dan memaksimalkan efisiensi sumber daya.

    Kesepakatan ini harus melibatkan seluruh pemangku kepentingan –pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat sipil– yang bekerja sama untuk mengembangkan dan menerapkan strategi komprehensif yang mengatasi seluruh siklus hidup plastik.

    Hanya melalui tindakan kolektif kita dapat memastikan bahwa generasi mendatang mewarisi planet yang sehat, bebas dari beban polusi plastik.

    Artikel ini diterjemahkan dari Earth.org, Penulis: Gauri Sharma, Design and Production Intern di Earth.org

  • Ratusan Kelompok Lingkungan Desak Pemerintah AS Lebih Serius Tangani Mikroplastik

    Ratusan Kelompok Lingkungan Desak Pemerintah AS Lebih Serius Tangani Mikroplastik

    7cloud.asia – Lebih dari 170 kelompok lingkungan terkemuka telah menandatangani petisi yang mendesak Badan Perlindungan Lingkungan AS untuk mulai memantau mikroplastik dalam air minum.

    Petisi ini mencerminkan meningkatnya kesadaran akan keberadaan mikroplastik di lingkungan dan meningkatnya kekhawatiran mengenai potensi risikonya terhadap kesehatan manusia.

    Petisi tersebut, yang diajukan bulan lalu oleh Food & Water Watch, meminta EPA untuk mulai memantau mikroplastik sebagai polutan yang muncul berdasarkan Undang-Undang Air Minum yang Aman mulai tahun 2026.

    Langkah ini untuk melindungi kesehatan masyarakat. Petisi ini ditandatangani bersama oleh 175 kelompok termasuk Beyond Plastics, Pusat Keanekaragaman Hayati, Pusat Hukum Lingkungan Internasional, Friends of the Earth dan Greenpeace.

    Baca: Ancaman sampah plastik kian nyata

    Mikroplastik, partikel plastik kecil yang dihasilkan dari degradasi plastik yang lebih besar, ditemukan hampir di mana-mana – di dalam makhluk laut dan kotoran mamalia, dalam makanan dan air kemasan, dan bahkan dalam darah manusia.

    Karena ini masih merupakan bidang penelitian yang relatif baru, para ilmuwan belum dapat sepenuhnya memperkirakan dampak jangka panjang partikel-partikel ini terhadap hewan dan manusia.

    “Ilmu pengetahuan sudah jelas dan mengkhawatirkan: Mikroplastik ada di mana-mana di dunia kita dan di seluruh tubuh kita, sehingga menimbulkan ancaman yang sangat serius terhadap kesehatan manusia,” kata Wenonah Hauter, direktur eksekutif Food & Water Watch.

    “Kita tidak bisa menunggu lima tahun atau lebih lagi hingga EPA serius menyelidiki bagaimana mikroplastik beracun mencemari air dan menyerang tubuh kita.”

    Baca: Cara mudah hilangkan mikroplastik dalam air minum

    Sebuah penelitian yang diterbitkan awal tahun ini menemukan bahwa terdapat sekitar seperempat juta partikel plastik dalam rata-rata satu liter botol air, 100 kali lebih banyak dari perkiraan sebelumnya.

    Sebelumnya, para ilmuwan mengamati lima botol air berbeda dari tiga merek populer dan menemukan rata-rata 240.000 partikel dari tujuh jenis plastik berbeda, sebagian besar dalam bentuk nanoplastik.

    Menurut PBB, lebih dari 51 triliun partikel mikroplastik telah mengotori lautan di seluruh dunia.

    Dan diperkirakan, sekitar 99 persen spesies laut akan mengonsumsi mikroplastik pada tahun 2050 jika tidak ada tindakan yang dilakukan untuk memperlambat polusi plastik.

    Fakta inilah yang mendasari sikap sejumlah negara untuk mengurangi produksi global. Sikap menunda-nunda hanya akan melahirkan bencana yang lebih besar pada lingkungan.

  • Ecoton Foundation Temukan Mikroplastik Pada Sampel dari Tiga Pulau di Kepulauan Seribu

    Ecoton Foundation Temukan Mikroplastik Pada Sampel dari Tiga Pulau di Kepulauan Seribu

    7cloud.asia – Penelitian yang dilakukan Ecoton Foundation menemukan mikroplastik pada sampel yang diambil dari tiga pulau di Kepulauan Seribu, Jakarta.

    “Di Pulau Untung Jawa, mikroplastik yang ditemukan di air permukaan ada 72 partikel per 10 liter,” kata Manajer Divisi Edukasi Ecoton Foundation, M Alaika Rahmatullah di Jakarta, Sabtu (22/2/2025)

    Hal itu dikatakannya dalam tur media bertajuk “Dari Air ke Rantai Makanan: Mengungkap Ancaman Mikroplastik di Sekitar Kita” yang diadakan Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI).

    Kemudian pada swab kulit dua petugas tempat pembuangan sampah (TPS) masing-masing ditemukan 68 dan 30 partikel.

    Sampel kulit warga setempat lewat metode swab ditemukan 21 partikel, dan pada daun ditemukan 13 partikel.

    Baca: Polusi mikroplastik di Sungai Citarum sudah mengkhawatirkan

    Alaika Rahmatullah mengatakan bahwa partikel yang ditemukan pada petugas TPS ada jenis fiber, film, dan fragmen.

    Partikel jenis fiber banyak teridentifikasi di kulit karena fiber berasal dari serpihan kain. Hal ini diduga karena kain yang dipakai itu ada campuran plastiknya, seperti polyester.

    “Polyester ada nilon ya. Bisa jadi kaos panjangnya itu menempel serpihan-serpihan fiber ke wajah petugas TPS saat dia mengusap keringat,” katanya.

    Sementara partikel film berasal dari plastik-plastik tipis seperti kresek atau plastik sekali pakai.

    Fragmen berasal dari plastik saset.
    Sementara di Pulau Onrust, mikroplastik yang ditemukan pada air permukaan sebanyak 35 partikel per 10 liter, swab kulit 19 partikel, dan daun ada 7 partikel.

    Baca: Indonesia masuk daftar negara dengan polusi mikroplastik tertinggi

    Di Pulau Cipir, mikroplastik yang ditemukan pada air permukaan sebanyak 44 partikel per 10 liter, swab kulit 25 partikel, dan daun ada 17 partikel.

    Lebih lanjut, Kepala Laboratorium Ecoton Foundation Rafika Aprilianti menjelaskan mikroplastik adalah remahan, patahan, pecahan plastik yang berukuran kurang dari 5 milimeter.

    “Plastik tidak akan terurai dan hilang di lingkungan, hanya dapat terpecah atau terdegradasi menjadi bentuk baru, yaitu mikroplastik,” kata Rafika Aprilianti.

    Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI) adalah sembilan organisasi yang terdiri atas YPBB, Dietplastik Indonesia, Nexus 3 Foundation, PPLH Bali, Ecoton, Nol Sampah, Greenpeace Indonesia, Gita Pertiwi, dan Walhi.

    AZWI mengkampanyekan implementasi konsep zero waste yang benar dalam rangka pengarusutamaan berbagai kegiatan, program, dan inisiatif zero waste yang sudah ada untuk diterapkan di berbagai kota dan kabupaten di Indonesia.

    Hal ini dilakukan dengan mempertimbangkan hirarki pengelolaan sampah, siklus hidup material, dan ekonomi sirkuler.

    Baca: Teknologi baru tuk usir mikroplastik dan nanoplastik dari perairan

  • Guru Besar FMIPA UI: Mikroplastik Jadi Tantangan Serius Kesehatan Laut Indonesia

    Guru Besar FMIPA UI: Mikroplastik Jadi Tantangan Serius Kesehatan Laut Indonesia

    7cloud.asia – Guru Besar Tetap Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Indonesia (UI) Prof Mufti Petala Patria menyebut mikroplastik sebagai tantangan serius laut Indonesia.

    “Mikroplastik merupakan ancaman bagi kehidupan kita, bukan hanya di ekosistem laut, tetapi juga di perairan tawar,” katanya di Kampus UI Depok, Jumat (28/2/2025)

    Mufti mengatakan tubuh dapat kemasukan mikroplastik saat mengonsumsi ikan, kerang, atau organisme air lainnya.

    Ini mengkhawatirkan karena mikroplastik pada manusia mengakibatkan perubahan kromosom yang menyebabkan infertilitas, obesitas, dan kanker, serta meningkatkan respons imun.

    Dalam kajiannya, Mufti mengamati berbagai penelitian terkait mikroplastik. Dari hasil kajian tersebut ia menemukan bahwa kandungan mikroplastik di air dan sedimen di Kepulauan Seribu dipengaruhi jarak dengan pesisir.

    Kawasan dekat dengan pesisir Tangerang, yaitu Pulau Untung Jawa (jarak 7 kilometer) dan yang lebih jauh yaitu Pulau Tidung (jarak 29 kilometer) berbeda kandungan mikroplastiknya.

    Baca: Mikroplastik ditemukan di sampel dari tiga pulau di Kepulauan Seribu

    Jumlah mikroplastik di pulau yang jauh dari pesisir berkurang 12 persen untuk di air dan berkurang 20 persen untuk di sedimen. Artinya, pencemaran mikroplastik di Kepulauan Seribu bersumber dari pesisir Jakarta dan Tangerang.

    Selain itu, penelitian di lokasi yang sama dengan jeda waktu satu tahun juga menunjukkan peningkatan jumlah mikroplastik.

    “Kami melakukan pemeriksaan pada sedimen Pulau Rambut pada bulan Maret 2022 dan Maret 2023. Jumlah mikroplastik pada tahun 2023 meningkat 19,4 persen dibandingkan tahun 2022,” ujar Mufti.

    Menurut dia, mikroplastik yang ada di air atau sedimen dapat termakan dan terhisap oleh hewan atau menempel pada makroalga (rumput laut) dan lamun (seagrass).

    Biota laut sering menganggap mikroplastik sebagai makanannya karena memiliki bentuk serupa.

    Penelitian skala labotarorium menunjukkan dampak negatif mikroplastik terhadap biota laut, yakni terhambatnya pertumbuhan fotosintesis pada alga.

    Baca: Polusi mikroplastik di Sungai Citarum sudah mengkhawatirkan

    Mikroplastik juga mengakibatkan berkurangnya nafsu makan dan fekunditas; serta menurunnya berat badan, fungsi lisosom dalam mencerna makanan, dan diameter dan kecepatan sperma pada tiram.

    Mufti menjelaskan bahwa mikroplastik adalah partikel plastik berukuran kurang dari 5 milimeter.

    Berdasarkan sumbernya, mikroplastik dibedakan menjadi dua, yakni mikroplastik primer dan mikroplastik sekunder.

    Mikroplastik primer merupakan plastik berukuran kurang dari 5 mm berupa pelet (granula) yang banyak digunakan untuk campuran produk pembersih dan kosmetik.
    Sementara mikroplastik sekunder adalah sampah plastik yang akan terurai menjadi partikel yang lebih kecil.

    Bentuk partikel mikroplastik berupa fiber, fragmen, film, dan granula. Mikroplastik fiber berbentuk seperti benang yang berasal dari degradasi jaring ikan nelayan dan bahan kain.

    Adapun mikroplastik fragmen, film, dan foam berasal proses degradasi kantong plastik, kemasan produk kebutuhan sehari-hari, atau abrasi. Mikroplastik memiliki densitas yang lebih kecil dari air laut, sehingga dapat melayang di air cukup lama.

    Namun, akibat bereaksi dengan senyawa kimia atau melekat dengan mikroorganisme, densitas mikroplastik meningkat dan akan tenggelam tersimpan di sedimen dasar laut.

  • Riset: Kontaminasi Mikroplastik Berdampak Serius pada Fungsi Kognitif Otak

    Riset: Kontaminasi Mikroplastik Berdampak Serius pada Fungsi Kognitif Otak

    7cloud.asia – Mikroplastik dan sampah plastik tak hanya jadi ancaman lingkungan, Kontaminasi mikroplastik dalam tubuh manusia juga bisa membawa dampak serius terhadap fungsi kognitif otak.

    Tidak adanya standar pengujian mikroplastik dalam pangan dan lingkungan semakin memperparah kontaminasinya di dalam tubuh manusia. Masalah sampah plastik menjadi masalah serius di Indonesia.

    Menurut Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), terdapat total 41,07 juta ton sampah di tahun 2023. Sebanyak 7,86 juta ton atau hampir 20 persen dari total sampah adalah sampah plastik.

    Meski ada sampah yang dikelola, sebagian besar sampah di Indonesia berakhir di tempat pembuangan sampah atau ditimbun, sementara sisanya mencemari lingkungan termasuk lautan.

    Produksi sampah plastik yang terus meningkat, tanpa diimbangi pengelolaan yang mumpuni telah menyebabkan pencemaran mikroplastik di berbagai aspek lingkungan –air, tanah, udara dan produk konsumsi seperti ikan, daging dan garam.

    “Kondisi ini semakin meningkatkan kekhawatiran akan resiko kontaminasi mikroplastik pada manusia,” kata Afifah Rahmi Andini, Peneliti Plastik Greenpeace Indonesia seperti dilansir di laman resminya. 

    Baca: Mikroplastik jadi tantangan serius kesehatan laut Indonesia

    Untuk mengetahui dampak yang ditimbulkan dari kontaminasi mikroplastik di dalam tubuh manusia, Greenpeace Indonesia bersama Universitas Indonesia melakukan studi kolaboratif untuk mendalami dampak mikroplastik terhadap kesehatan, terutama penurunan fungsi kognitif.

    Tahap pertama studi ini dilakukan melalui survei untuk mengidentifikasi kelompok masyarakat yang rentan terhadap paparan mikroplastik dan pola konsumsi plastik pada 562 responden di Jakarta, Bogor, Depok, dan Tangerang melalui kuesioner.

    Di tahap kedua, penelitian dilakukan dengan analisis kadar mikroplastik dalam urin, darah, dan feses para partisipan yang terpilih untuk melihat hubungan antara kadar mikroplastik dalam tubuh dan fungsi kognitif mereka.

    Studi yang dilakukan pada Januari 2023-Desember 2024 ini menemukan mikroplastik pada 95 persen sampel dari 67 partisipan dengan kadar per sampel darah berkisar antara 0-7.35 partikel per gram (p/g).

    Mikroplastik juga ditemukan dalam sampel urin partisipan dengan jumlah sekitar 0-0,33 partikel per mililiter (p/mL), serta pada feses dengan jumlah sekitar 0-44.35 partikel per gram (p/gr).

    Penelitian ini juga menemukan bahwa PET (Polyethylene Terephthalate) adalah jenis mikroplastik yang paling banyak mengontaminasi tubuh partisipan, dengan total 204 partikel terdeteksi.

    Baca: Mikroplastik ditemukan pada sampel dari tiga pulau di Kepulauan Seribu

    PET dapat bersumber dari penggunaan kemasan plastik sekali pakai seperti botol minuman, kemasan makanan siap saji, botol produk perawatan tubuh, hingga serat pakaian dan karpet.

    Partikel mikroplastik yang berukuran tak lebih besar dari 5 milimeter dapat dengan mudah menyebar melalui rantai makanan, proses pengolahan limbah yang tidak sempurna, atau konsumsi makanan laut yang terkontaminasi.

    Hasil studi kolaborasi yang tengah dilakukan peer review ini menemukan bahwa partisipan dengan pola konsumsi plastik sekali pakai yang tinggi memiliki risiko mengalami penurunan fungsi kognitif hingga 36 kali lipat.

    “Kami menemukan hubungan yang berarti antara fungsi kognitif dengan paparan mikroplastik. Gangguan fungsi kognitif yang dialami partisipan penelitian mencakup diantaranya pengaruh pada kemampuan berpikir, mengingat, dan mengambil keputusan,” ujar Ahli Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) dr. Pukovisa Prawirohardjo, Sp.S(K)., Ph.D.

    Fungsi kognitif partisipan dianalisis menggunakan Montreal Cognitive Assessment Indonesia (MoCA-Ina) dan dilakukan bersama tim dokter dari Divisi Neurobehavior Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (FKUI-RSCM).

    Baca: Polusi mikroplastik di Sungai Citarum sudah mengkhawatirkan

    Untuk mengurangi kontaminasi mikroplastik dalam lingkungan dan mengurangi dampaknya bagi kesehatan, Juru Kampanye Plastik Greenpeace Indonesia Ibar F. Akbar mengatakan, pemerintah dan produsen perlu mengambil langkah untuk mengurangi kontaminasi mikroplastik yang memiliki dampak buruk ke kesehatan manusia.

    Pemerintah perlu memperbaiki sistem pengelolaan sampah berbasis pemilahan, mempercepat dan memperluas larangan plastik sekali pakai, melarang mikroplastik primer,

    “Serta mendorong transisi ke sistem kemasan guna ulang (reuse) untuk mengurangi pencemaran dan dampak lingkungan,” ujarnya.

    Ibar menambahkan, pemerintah juga perlu menetapkan standar pengujian mikroplastik yang ketat serta ambang batas kontaminasi dalam produk pangan dan lingkungan.

    Di sisi lain, produsen juga perlu mengurangi produksi dan distribusi plastik sekali pakai secara signifikan sebagai bentuk tanggung jawab mereka untuk mengelola sampah plastik yang telah mereka produksi.

    “Produsen harus segera beralih ke sistem kemasan guna ulang (reuse) dan isi ulang (refill). Produsen juga perlu meningkatkan transparansi komposisi plastik dalam produknya serta peta jalan pengurangan sampah oleh produsen,” kata Ibar.

  • Mengubah Kebiasaan Minum Dapat Mengurangi Asupan Mikroplastik

    Mengubah Kebiasaan Minum Dapat Mengurangi Asupan Mikroplastik

    7cloud.asia – Sejumlah penelitian mengungkap paparan mikroplastik berhubungan dengan risiko kejadian penyakit seperti kanker dan demensia.

    Karena itu, para peneliti menganjurkan penerapan perubahan kebiasaan minum untuk mengurangi asupan mikroplastik ke dalam tubuh.

    Dilansir di Medical Daily pada Kamis (6/3/2025), mikroplastik yang awalnya mencemari lingkungan selanjutnya bisa mencemari makanan yang dikonsumsi, air yang diminum, hingga udara yang dihirup.

    Dalam makalah ilmiah baru yang diterbitkan di Genomic Press, para peneliti menyadari, karena keberadaan mikroplastik yang sudah tersebar luas di lingkungan, menghilangkan paparan sepenuhnya tidaklah realistis.

    Menurut mereka, pendekatan yang lebih praktis adalah mengurangi sumber asupan mikroplastik yang paling signifikan.

    Baca: Kontaminasi mikroplastik berdampak serius pada fungsi kognitif otak

    Para peneliti mendapati bahwa beralih dari air dalam kemasan ke air keran yang disaring dapat mengurangi asupan mikroplastik dari 90.000 menjadi 4.000 partikel setiap tahun, menjadikannya sebagai “intervensi yang berdampak.”

    Mengurangi asupan merupakan pendekatan yang logis diterapkan untuk meminimalkan dampak mikroplastik terhadap kesehatan, namun masih belum jelas apakah tindakan ini dapat menghasilkan pengurangan yang terukur dalam akumulasi mikroplastik dalam jaringan tubuh manusia.

    Para peneliti menyampaikan bahwa selain dari air minum dalam kemasan, mikroplastik bisa masuk ke dalam tubuh melalui makanan laut dan alkohol.

    Makalah ilmiah yang dipublikasikan di Genomic Press juga menyoroti beberapa strategi praktis untuk mengurangi paparan mikroplastik dalam kehidupan sehari-hari.

    Menurut makalah tersebut, pengurangan paparan mikroplastik dapat dilakukan dengan menghindari kebiasaan memanaskan makanan di dalam wadah plastik, yang dapat melepaskan hingga 4,22 juta partikel mikroplastik per sentimeter persegi.

    Baca: Cara mudah menghilangkan mikroplastik dalam air minum

    Cara lain yang direkomendasikan yakni mengurangi penggunaan kantong teh yang berpeluang mengandung mikroplastik dan tidak menyimpan makanan dalam wadah plastik.

    Dalam makalah ilmiahnya, para peneliti juga menggarisbawahi pentingnya memilih makanan utuh daripada makanan dalam kaleng atau makanan yang diproses secara berlebihan untuk mengurangi peluang terpapar mikroplastik.

    Penelitian menunjukkan bahwa manusia bisa menghirup hingga 62.000 partikel mikroplastik setiap tahun.

    Karena udara merupakan sumber utama paparan mikroplastik, para peneliti menyarankan penggunaan filter High-Efficiency Particulate Air (HEPA) yang dapat menyaring hingga 99,97 persen partikel sekecil 0,3 mikron di udara.

    Para peneliti mencatat bahwa usia tidak berpengaruh pada seberapa banyak mikroplastik yang terakumulasi dalam tubuh.

    Hal ini menunjukkan bahwa meski mungkin terus menerus terpapar mikroplastik di lingkungan tubuh seiring waktu dapat menghilangkannya secara alami melalui keringat, urine, dan feses.

  • Ditemukan Mikroplastik dalam Teh Celup, Amankah Mengonsumsinya

    Ditemukan Mikroplastik dalam Teh Celup, Amankah Mengonsumsinya

    7cloud.asia – Belum lama ini, masyarakat dihebohkan dengan temuan mikroplastik pada lima merek teh celup di Indonesia.

    Peneliti dari Ecological Observation and Wetland Conservation (ECOTON) menemukan keberadaan partikel mikroplastik saat kantong teh—berbahan kertas kraft—diseduh dalam suhu 95 derajat Celcius.

    Mikroplastik adalah komponen kecil plastik berukuran kurang dari lima milimeter (mm) yang tidak dapat larut dalam air dan sulit terurai. Sebagian besar partikel ini masuk ke dalam tubuh melalui makanan, lalu mengendap di ginjal, hati, hingga otak.

    Menurut peneliti ECOTON, mikroplastik berisiko menimbulkan efek kesehatan negatif, mulai dari peradangan, gangguan hormon, hingga kanker.

    Namun, selama lebih dari 20 tahun penelitian mikroplastik (mayoritas pada hewan coba), pengetahuan soal dampak langsung keracunan partikel ini terhadap kesehatan manusia masih sangat terbatas.

    Lantas, apakah teh celup masih aman untuk dikonsumsi? Mikroplastik terdiri dari tujuh komponen dengan karakteristik masing-masing, yaitu polipropilena (PP), polivinil klorida (PC), polietilena (PE), polietilena tereftalat (PET), poliformaldehida (POM), nilon 6 (PA6), dan polistirena (PS).

    Ketujuh komponen tersebut dapat ditemui dalam produk sehari-hari, misalnya air kemasan, buah, sayuran, botol minuman, produk kosmetik, hingga kantong teh seperti yang diteliti ECOTON. Mikroplastik bisa masuk ke tubuh, saat kita mengonsumsi atau memakai produk yang sudah terkontaminasi partikel plastik ini.

    Sayangnya, hasil penelitian ECOTON tidak mencantumkan informasi estimated daily intake (EDI) alias perkiraan jumlah mikroplastik yang tertelan ketika minum teh tersebut.

    Alhasil, masyarakat tidak memperoleh informasi utuh mengenai risiko kesehatan akibat mengonsumsi teh yang tercemar mikroplastik.

    Sebagai perbandingan, di bawah ini EDI mikroplastik dalam buah dan sayuran:

    Penelitian tahun 2020 mengenai perkiraan jumlah mikroplastik yang dikonsumsi dalam buah dan sayuran. Table provided by TCID / Canva

    Data penelitian tahun 2020 di atas memaparkan dugaan tingginya jumlah mikroplastik dalam buah dan sayuran yang tertelan oleh anak-anak dan orang dewasa.

    Besaran konsentrasi mikroplastik pada buah dan sayuran dipengaruhi oleh keragaman paparan, cara mengemas, dan mencuci yang dapat mengurangi kadar partikel pada buah dan sayuran.

    Meski perkiraan jumlah mikroplastik dalam buah dan sayuran yang tertelan sangat banyak, penelitian tersebut tidak menjelaskan secara lengkap dampak konsumsi mikroplastik terhadap kesehatan manusia.

    Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), maupun Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sendiri belum mengumumkan secara resmi ambang batas aman EDI mikroplastik dari buah, sayuran, dan produk konsumsi sehari-hari.

    Oleh karena itu, sejauh belum ada regulasi batas aman mikroplastik pada bahan makanan, maka konsumsi teh celup masih diperbolehkan. Masyarakat pun tidak perlu khawatir, tetapi tetap harus waspada.

    Minum teh celup boleh-boleh saja. Namun, kita tetap perlu waspada dengan tidak mengonsumsinya terlalu sering agar terhindar dari risiko efek negatif mikroplastik.

    Waspada efek negatif mikroplastik
    Pada dasarnya, mikroplastik ada di mana-mana. Partikel ini pun bisa memasuki tubuh manusia lewat hidung, kulit, ataupun mulut. Sejumlah penelitian menemukan keberadaan mikroplastik dalam ASI, dahak, feses, hingga darah.

    Meski begitu, dampak langsung keracunan mikroplastik terhadap kesehatan manusia perlu diteliti lebih lanjut. Pasalnya, riset sebelumnya lebih banyak dilakukan pada hewan coba

    Artikel ini pertamakali terbit di The Conversation, Penulis: Sani Rachman Soleman (Staf Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran UII, Universitas Islam Indonesia/UII)

  • Kenali Dampak Mikroplastik pada Kesehatan dan Cara Mencegahnya

    Kenali Dampak Mikroplastik pada Kesehatan dan Cara Mencegahnya

    7cloud.asia – Mikroplastik kini dapat ditemukan di mana-mana. Partikel ini pun bisa memasuki tubuh manusia lewat hidung, kulit, ataupun mulut.

    Sejumlah penelitian menemukan keberadaan mikroplastik dalam air susu ibu (ASI), dahak, feses (kotoran), hingga darah.

    Meski begitu, dampak langsung keracunan mikroplastik terhadap kesehatan manusia perlu diteliti lebih lanjut. Pasalnya, riset sebelumnya lebih banyak dilakukan pada hewan coba.

    Berikut sejumlah temuan terkait dampak mikroplastik pada hewan percobaan:

    1. Masalah pencernaan
    Penelitian tahun 2022 pada hewan coba mengungkapkan bahwa paparan mikroplastik yang tertelan dan mengontaminasi saluran cerna menyebabkan ketidakseimbangan komposisi bakteri baik dan jahat di dalam usus.

    Akibatnya, penyerapan makanan pun terganggu sehingga menyebabkan hewan yang keracunan mengalami masalah pencernaan.

    2. Gangguan pernapasan
    Kontaminasi mikroplastik pada pernapasan manusia diduga dapat menyebabkan stres oksidatif—yang bisa memicu peradangan, merusak saluran napas, dan menimbulkan gangguan pernapasan.

    3. Gangguan hormon dan perkembangan janin
    Bisphenol A merupakan mikroplastik yang dapat terakumulasi dalam darah dan menyebabkan gangguan hormon, reproduksi, pertumbuhan, maupun perkembangan janin.

    Penelitian terbaru menemukan keberadaan mikroplastik dalam empat sampel plasenta bayi. Ukuran mikroplastik yang sangat kecil menyebabkan partikel ini sanggup melewati plasenta dan masuk ke dalam sirkulasi janin.

    Studi lainnya juga menemukan 59 sampel ASI yang terkontaminasi mikroplastik polipropilena (PP), polivinil klorida (PC), dan polietilena (PE). Mikroplastik bisa mengikat hormon estrogen sehingga partikel ini bisa ikut masuk ke dalam ASI.

    4. Kanker
    Kontaminasi mikroplastik pada hewan dan manusia diduga bisa mendorong pembelahan sel secara tidak terkendali. Kondisi ini bisa memicu berbagai jenis kanker, seperti paru-paru, darah, payudara, prostat, dan ovarium.

    Namun, penelitian lanjutan diperlukan untuk memahami bagaimana paparan mikroplastik menyebabkan pembelahan sel.

    Mengurangi dampak buruk mikroplastik
    Mikroplastik bisa ada di mana-mana sehingga sulit untuk benar-benar menghindari paparannya. Hal yang bisa kita lakukan adalah mengurangi risiko paparan mikroplastik lewat sejumlah cara berikut:

    1. Cuci bersih buah, sayur, daging, dan ikan berulang kali. Pastikan membuang jeroannya yang mungkin mengandung zat racun berbahaya.

    2. Gunakan kosmetik seperlunya. Penggunaan berlebihan berisiko menyebabkan mikroplastik masuk lewat kulit dan terserap ke dalam tubuh melalui pembuluh darah kulit.

    3. Gunakan masker wajah saat keluar rumah untuk menghindari zat yang mengiritasi pernapasan.

    4. Kurangi konsumsi air kemasan, teh celup, dan produk kemasan lainnya.

    5. Hindari menyimpan dan memanaskan makanan dalam plastik.

    6. Jaga kesehatan dengan tidur yang cukup, konsumsi makan sehat bergizi seimbang, dan rutin berolahraga.

    Artikel ini pertamakali terbit di The Conversation, Penulis: Sani Rachman Soleman (Staf Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran UII, Universitas Islam Indonesia/UII)

  • Temui KLH/BPLH, Greenpeace Indonesia Bahas Peta Jalan Produsen dan Ancaman Mikroplastik

    Temui KLH/BPLH, Greenpeace Indonesia Bahas Peta Jalan Produsen dan Ancaman Mikroplastik

    7cloud.asia – Greenpeace Indonesia melakukan audiensi ke Kementerian Lingkungan Hidup dan BPLH RI untuk mendorong kebijakan konkret dalam menangani polusi plastik.

    Audiensi berfokus pada revisi Peta Jalan Pengurangan Sampah oleh Produsen, penetapan baku mutu mikroplastik, dan posisi Indonesia dalam Perjanjian Global Pengendalian Polusi Plastik (INC 5.2).

    Greenpeace Indonesia menyerahkan temuan dari Laporan Brand Audit Saset 2023 yang mencatat bahwa 3609 kemasan saset yang ditemukan di lapangan berasal dari lima perusahaan besar yaitu Wings, Salim Group, Mayora Indah, Unilever dan Santos Jaya Abadi.

    Jenis limbah didominasi oleh sachet multilayer yang sulit didaur ulang. Hingga saat ini, 13 produsen telah mengimplementasikan peta jalan, 17 telah mengirimkan dokumen, dan 24 dalam tahap revisi.

    Greenpeace mengapresiasi langkah KLH/BPLH yang telah mendorong produsen agar mengirimkan peta jalan pengurangan sampahnya. Peta jalan ini penting untuk mengatasi krisis plastik melalui pengurangan produksi plastik dan perubahan sistem distribusi dari kemasan sekali pakai menuju sistem guna ulang.

    ”Kami mendorong produsen manufaktur agar segera mengirimkan peta jalan pengurangan sampahnya dan transparan atas peta jalannya kepada publik,” ujar Ibar Akbar, Juru Kampanye Plastik Greenpeace Indonesia.

    Selain mendorong penguatan aspek reuse dalam peta jalan, Greenpeace juga menyampaikan keprihatinan atas ancaman mikroplastik terhadap kesehatan publik.

    Berdasarkan hasil riset bersama Universitas Indonesia, ditemukan kontaminasi mikroplastik dalam sumber air minum yang dikonsumsi masyarakat serta indikasi dampak langsungnya terhadap kesehatan manusia, termasuk gangguan fungsi kognitif.

    Studi ini menambah daftar panjang cemaran mikroplastik di lingkungan dan memperkuat bukti bagaimana risikonya terhadap kesehatan kita.

    Namun, selama dampak dan mekanisme paparan mikroplastik dalam tubuh belum sepenuhnya dipahami, peningkatan produksi dan penggunaan plastik yang tidak terkendali harus dianggap sebagai ancaman serius bagi kesehatan masyarakat.

    “Oleh karena itu, pendekatan kehati-hatian dalam mengurangi paparan, terutama melalui konsumsi, menjadi langkah yang urgent.” ungkap Afifah Rahmi, Peneliti Plastik Greenpeace Indonesia.

    Tim Leader Kampanye Sosial & Ekonomi Greenpeace Indonesia, Muharram Atha Rasyadi, dilansir di laman resmi Greenpeace Indonesia, mengatakan bahwa pihaknya ingin bicara soal Permen LHK No. 75 tahun 2019 yang berkaitan dengan tanggung jawab produsen serta ingin memastikan bahwa memang tanggung jawab terkait masalah plastik sekali pakai tidak hanya dibebankan ke masyarakat tapi juga produsen.

    ”Kami cukup mengapresiasi karena itu salah satu aturan yang akhirnya bicara cukup detil atas tanggung jawab produsen yang sebenarnya sudah diatur undang-undang pengelolaan sampah,” ujarnya

    Direktur Pengurangan Sampah dan Pengembangan Ekonomi Sirkuler KLH, Agus Rusly, secara umum menyatakan implementasi Permen LHK No. 75 tahun 2019 masih menghadapi tantangan.

    Pasalnya, sebagian produsen menganggap Kementerian Lingkungan Hidup tidak memiliki otoritas dalam mengatur industri. KLH/BPLH tidak hanya berfokus pada aspek ekologis, tetapi juga mempertimbangkan dampak sosial dari setiap kebijakan yang diterapkan.

    Sektor lingkungan, ujarnya, juga tidak dapat berdiri sendiri, karena sektor lain seperti perdagangan, industri, dan sosial harus turut terlibat agar upaya pengurangan sampah bisa berjalan efektif.

    Greenpeace Indonesia mendorong KLH/BPLH untuk segera menetapkan kebijakan pemantauan mikroplastik secara ketat dan ambang batas aman kontaminasi dalam produk pangan dan lingkungan.

    Selain itu, Greenpeace menekankan pentingnya percepatan implementasi kebijakan pengurangan plastik serta perluasan larangan plastik sekali pakai, termasuk jenis PET yang paling banyak ditemukan sebagai kontaminan dalam tubuh manusia.

    Greenpeace Indonesia juga menyampaikan rekomendasi terhadap posisi Indonesia dalam proses Intergovernmental Negotiating Committee (INC 5.2) untuk perjanjian global plastik.

    Greenpeace menyoroti pentingnya Traktat Global untuk Plastik, serta menekankan bahwa delegasi Indonesia harus mendukung komitmen pengurangan produksi plastik global.

    “Traktat Global untuk Plastik merupakan kesempatan sekali seumur hidup untuk mengakhiri krisis plastik ini, tentu melalui pengurangan produksi plastik global, Indonesia perlu memperkuat posisinya untuk menyuarakan pengurangan produksi plastik global” ujar Ibar Akbar, Juru Kampanye Plastik Greenpeace Indonesia.

    Dalam kesempatan ini, Greenpeace Indonesia mendorong KLH/BPLH memperkuat peran regulasinya agar krisis plastik ditangani secara adil, berbasis sains, dan tidak meninggalkan masyarakat sebagai pihak paling terdampak.

    Greenpeace juga mengajak KLH/BPLH untuk terus membuka ruang dialog publik dan melibatkan masyarakat sipil dalam penyusunan kebijakan. Pertemuan ini turut dimanfaatkan untuk menanyakan perkembangan revisi peta jalan serta mekanisme pengawasan terhadap produsen yang tidak memenuhi target.

  • Temukan Mikroplastik dalam Air Hujan di Jakarta, BRIN Ingatkan Bahaya Polusi Sampah Plastik

    Temukan Mikroplastik dalam Air Hujan di Jakarta, BRIN Ingatkan Bahaya Polusi Sampah Plastik

    7cloud.asia – Hasil penelitian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap bahwa air hujan di Jakarta mengandung partikel mikroplastik berbahaya yang berasal dari aktivitas manusia di perkotaan.

    Temuan BRIN ini menjadi peringatan bahwa polusi plastik kini tidak hanya mencemari tanah dan laut, tetapi juga sudah mencemari atmosfer.

    Peneliti BRIN Muhammad Reza Cordova menjelaskan bahwa penelitian yang dilakukan sejak 2022 menunjukkan adanya mikroplastik dalam setiap sampel air hujan di ibu kota. Partikel-partikel plastik mikroskopis tersebut terbentuk dari degradasi limbah plastik yang melayang di udara akibat aktivitas manusia.

    “Mikroplastik ini berasal dari serat sintetis pakaian, debu kendaraan dan ban, sisa pembakaran sampah plastik, serta degradasi plastik di ruang terbuka,” jelas Reza saat diwawancarai di Jakarta, Kamis (17/10/2025).

    Reza menjelaskan, mikroplastik yang ditemukan umumnya berbentuk serat sintetis dan fragmen kecil plastik, terutama polimer seperti poliester, nilon, polietilena, polipropilena, hingga polibutadiena dari ban kendaraan.

    Rata-rata, peneliti menemukan sekitar 15 partikel mikroplastik per meter persegi per hari pada sampel hujan di kawasan pesisir Jakarta.

    Baca: Air galon isi ulang rentan tercemar bakteri dan mikroplastik

    Menurut Reza, fenomena ini terjadi karena siklus plastik kini telah menjangkau atmosfer. Mikroplastik dapat terangkat ke udara melalui debu jalanan, asap pembakaran, dan aktivitas industri, kemudian terbawa angin dan turun kembali bersama hujan. Proses ini dikenal dengan istilah atmospheric microplastic deposition.

    “Siklus plastik tidak berhenti di laut. Ia naik ke langit, berkeliling bersama angin, lalu turun lagi ke bumi lewat hujan,” ujarnya.

    Temuan ini menimbulkan kekhawatiran karena partikel mikroplastik berukuran sangat kecil, bahkan lebih halus dari debu biasa, sehingga dapat terhirup manusia atau masuk ke tubuh melalui air dan makanan.

    Plastik juga mengandung bahan aditif beracun seperti ftalat, bisfenol A (BPA), dan logam berat yang dapat lepas ke lingkungan ketika terurai menjadi partikel mikro atau nano. Di udara, partikel ini juga bisa mengikat polutan lain seperti hidrokarbon aromatik dari asap kendaraan.

    “Yang beracun bukan air hujannya, tetapi partikel mikroplastik di dalamnya karena mengandung bahan kimia aditif atau menyerap polutan lain,” tegas Reza.

    Meski penelitian lebih lanjut masih dibutuhkan, studi global menunjukkan bahwa paparan mikroplastik dapat menimbulkan dampak kesehatan serius, seperti stres oksidatif, gangguan hormon, hingga kerusakan jaringan.

    Baca: Siswa diajak gunakan tumbler untuk kurangi sampah plastik

    Dari sisi lingkungan, air hujan bermikroplastik berpotensi mencemari sumber air permukaan dan laut, yang akhirnya masuk ke rantai makanan.

    Reza menilai, gaya hidup urban modern menjadi salah satu penyebab utama meningkatnya mikroplastik di atmosfer. Dengan populasi lebih dari 10 juta jiwa dan kendaraan mencapai 20 juta unit, Jakarta menghasilkan limbah plastik dalam jumlah besar setiap hari.

    “Sampah plastik sekali pakai masih banyak, dan pengelolaannya belum ideal. Sebagian dibakar terbuka atau terbawa air hujan ke sungai,” katanya.

    Untuk mengatasi persoalan ini, BRIN mendorong langkah konkret lintas sektor. Pertama, memperkuat riset dan pemantauan kualitas udara dan air hujan secara rutin di kota-kota besar.

    Kedua, memperbaiki pengelolaan limbah plastik di hulu, termasuk pengurangan plastik sekali pakai dan peningkatan fasilitas daur ulang.

    Baca: Ekosistem guna ulang harus dibangun dari sekarang

    Ketiga, mendorong industri tekstil agar menerapkan sistem filtrasi pada mesin cuci guna menahan pelepasan serat sintetis.

    Selain itu, edukasi publik menjadi kunci penting. Reza mengajak masyarakat untuk mengurangi penggunaan plastik, memilah sampah, dan tidak membakar limbah sembarangan.

    “Kesadaran masyarakat bisa menekan polusi mikroplastik secara signifikan,” ujarnya.

    Menurutnya, hujan yang kini mengandung partikel plastik adalah refleksi dari perilaku manusia terhadap bumi.

    “Langit Jakarta sebenarnya sedang memantulkan perilaku manusia di bawahnya. Plastik yang kita buang sembarangan, asap yang kita biarkan mengepul, sampah yang kita bakar karena malas memilah semuanya kembali pada kita dalam bentuk yang lebih halus, lebih senyap, tapi jauh lebih berbahaya.,” tutup Reza.