Tag: modifikasi cuaca

  • BMKG: Operasi Modifikasi Cuaca Sukses Kurangi Potensi Bencana Hidrometeorologi

    BMKG: Operasi Modifikasi Cuaca Sukses Kurangi Potensi Bencana Hidrometeorologi

    7cloud.asia – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan keberhasilan pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) pada 7-8 Desember 2024.

    Operasi yang bertujuan mengurangi potensi bencana hidrometeorologi di wilayah Jakarta ini terbukti mampu mengurangi intensitas hujan hingga 67 persen di beberapa wilayah, sehingga menurunkan risiko banjir dan genangan.

    Sebagai informasi, sebelumnya pada tanggal 5 Desember 2024 yang lalu, BMKG mengeluarkan Peringatan Dini Cuaca Ekstrem yg diprediksi akan terjadi pada tanggal 6 – 8 Desember 2024 dan dapat berlanjut hingga 9 Desember 2024.

    Dampaknya, berupa hujan lebat, yang dapat disertai kilat-petir, dan angin kencang. Cuaca ekstrem yang dipicu oleh beberapa fenomena atmosfer yang terjadi dalam waktu yg bersamaan ini diprakirakan dapat terjadi di sejumlah wilayah di Indonesia, terutama di Jawa Barat, Banten Selatan dan Jakarta.

    Situasi tersebut diprakirakan berlangsung selama 3 hingga 4 hari setelah Peringatan Dini dikeluarkan.

    Operasi modifikasi cuaca yang dilakukan merupakan bagian dari mitigasi lanjut terhadap hasil prakiraan dan Peringatan Dini yang dikeluarkan oleh BMKG.

    Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati menjelaskan, bahwa upaya ini dilakukan dengan melakukan penyemaian awan selama dua hari berturut-turut.

    Sebanyak lima sorti penerbangan dilakukan menggunakan empat ton bahan semai untuk mengendalikan distribusi hujan di wilayah Jakarta.

    Modifikasi cuaca ini, imbuh Dwikora, bertujuan untuk mengurangi potensi bencana hidrometeorologi, seperti banjir, yang sering melanda Jakarta akibat intensitas hujan yang tinggi.

    Hasilnya, kami berhasil menurunkan curah hujan di sejumlah wilayah dengan intensitas pengurangan mencapai 13% hingga 67% pada tanggal 7 dan 8 Desember, berdasarkan data satelit Global Satellite Mapping of Precipitation (GSMaP),” ujar Dwikorita.

    Sementara itu, Deputi Modifikasi Cuaca BMKG, Tri Handoko Seto, memaparkan, merujuk pada data satelit, pada 7 Desember 2024, operasi ini berhasil mengurangi curah hujan di sisi timur Jakarta.

    Sementara itu, curah hujan di sisi tengah dan barat Jakarta meningkat. Namun pada 8 Desember, pengurangan hujan terjadi hampir di seluruh wilayah Jakarta.

    Menurutnya, hal tersebut menunjukkan keberhasilan teknik modifikasi cuaca dalam mendistribusikan hujan ke lokasi yang lebih aman dan mengurangi tekanan pada daerah-daerah rawan banjir, khususnya di Wilayah Jakarta

    “Melalui teknologi modifikasi cuaca ini, kami dapat mengarahkan hujan agar tidak menumpuk di satu lokasi. Sebagai contoh, pada 8 Desember, hampir seluruh wilayah Jakarta mengalami pengurangan curah hujan, sehingga risiko genangan berkurang secara signifikan,” jelas Seto.

    Selanjutnya, Kepala BMKG Dwikorita juga menyebutkan bahwa OMC menjadi salah satu langkah strategis BMKG untuk mendukung upaya mitigasi bencana di musim penghujan, terutama untuk mengurangi potensi terjadinya bencana hidrometeorologi.

    Modifikasi cuaca yang dilakukan di awal bulan Desember dinilai masih cukup efektif dalam membantu mengendalikan intensitas hujan di daerah-daerah rawan, khususnya di perkotaan padat seperti Jakarta.

    Namun saat menjelang puncak musim hujan yang diprediksi bersamaan dengan terjadinya beberapa fenomena dinamika atmosfer, kemampuan modifikasi cuaca masih relatif terbatas.

    “Meskipun masih ada keterbatasan dengan mempertimbangkan kuatnya intensitas hujan akibat beberapa fenomena labilitas atmosfer yang terjadi bersamaan, kami akan terus melakukan upaya ini selama musim penghujan berlangsung, terutama di wilayah-wilayah yang memiliki risiko tinggi terhadap bencana hidrometeorologi, untuk mengurangi intensitas hujan guna melindungi masyarakat dari dampak buruk cuaca ekstrem,” tambah Dwikorita.

    Dalam kesempatan tersebut, Dwikorita juga mengimbau masyarakat tetap terus waspada terhadap potensi cuaca ekstrem, meskipun upaya mitigasi terus dilakukan. Informasi terkini mengenai prakiraan cuaca dan potensi bencana dapat diakses melalui kanal resmi BMKG untuk memastikan masyarakat dapat mempersiapkan diri dengan baik. 

  • Operasi Modifikasi Cuaca Berhasil Menekan Potensi Bencana di Jawa Tengah dan Jawa Barat

    Operasi Modifikasi Cuaca Berhasil Menekan Potensi Bencana di Jawa Tengah dan Jawa Barat

    7cloud.asia – Mengantisipasi dampak cuaca ekstrem pada puncak musim hujan tahun ini, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Provinsi Jawa Barat dan Jawa Tengah.

    Operasi modifikasi cuaca ini bertujuan untuk mengurangi potensi bencana banjir, longsor, dan cuaca ekstrem lainnya dengan memanfaatkan teknologi penyemaian garam di awan comulonimbus untuk mengendalikan curah hujan.

    Dengan modifikasi cuaca diharapkan intensitas hujan dapat dikendalikan sehingga banjir serta tanah longsor bisa dicegah.

    Indikator keberhasilan operasi modifikasi cuaca ini bisa dilihat dari adanya pengurangan curah hujan yang signifikan di wilayah target pada 11 Desember hingga 14 Desember 2024.

    Sebelumnya, BNPB bersama dengan BMKG dan BPBD telah mengadakan briefing mendalam untuk memastikan langkah-langkah yang diambil tepat sasaran.

    Baca: BMKG Ingatkan Potensi Cuaca Ekstrem di Jawa Tengah

    Berdasarkan prediksi Global Forecast System (GFS), wilayah Jawa Tengah, khususnya daerah seperti Demak, Blora, Salatiga, dan Banjarnegara, diperkirakan akan mengalami hujan dengan intensitas 14-32 milimeter per hari.

    BMKG mengidentifikasi potensi curah hujan yang tinggi di wilayah Jawa Tengah, dengan intensitas yang bisa mencapai 50-120 mm per hari.

    Untuk menanggulangi hal ini, OMC difokuskan di wilayah laut utara Jawa Tengah untuk mempengaruhi awan yang bergerak ke arah daratan, menghindari hujan lebat yang bisa meningkatkan risiko bencana banjir dan longsor.

    Pada Sabtu (14/12/2024), tim OMC melakukan lima sorti penerbangan dengan pesawat Cessna Caravan 208B yang berangkat dari Bandar Udara Jenderal Ahmad Yani, Semarang (Posko OMC di Jawa Tengah).

    Penyemaian awan ini berhasil mengurangi risiko hujan intens di daerah-daerah seperti Jepara, Pati, Kudus, Demak, dan Semarang, yang semula diprediksi akan mengalami curah hujan hingga 50-120 mm/hari.

    Baca: Cuaca Ekstrem picu bencana hidrometeorologi di sejumlah daerah 

    Berkat modifikasi cuaca, curah hujan di wilayah tersebut turun menjadi hanya 5-20 mm/hari, yang berarti pengurangan curah hujan sekitar 70 persen.

    Dampak positif ini diharapkan dapat menurunkan potensi bencana banjir dan longsor di wilayah tersebut.

    Modifikasi cuaca juga dilaksanakan di wilayah Jawa Barat pada Sabtu (14/12/2024) untuk menangani potensi bencana hidrometeorologi yang meliputi banjir, gelombang ekstrem, dan tanah longsor.

    Operasi ini berhasil mengurangi intensitas hujan di wilayah rawan bencana seperti Sukabumi dan Cianjur. Berdasarkan analisis BMKG, curah hujan yang diprediksi di wilayah tersebut awalnya 70 hingga 150 mm/hari, berkurang menjadi 5 hingga 30 mm/hari.

    Operasi Modifikasi Cuaca di Jawa Barat ini difokuskan di wilayah selatan Sukabumi dan daerah rawan bencana lainnya, dengan tujuan mengurangi intensitas curah hujan yang dapat memicu bencana.

    Operasi modifikasi cuaca terbukti efektif dalam mengurangi curah hujan yang berisiko menyebabkan bencana banjir dan longsor.

  • Antisipasi Bencana, Modifikasi Cuaca di Jakarta dan Sekitarnya Diperpanjang Hingga 20 Maret

    Antisipasi Bencana, Modifikasi Cuaca di Jakarta dan Sekitarnya Diperpanjang Hingga 20 Maret

    7cloud.asia – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperpanjang Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) 24 jam non-stop di Jakarta dan sekitarnya hingga 20 Maret 2025. Hal ini untuk menanggulangi bencana hidrometeorologi akibat cuaca ekstrem.

    Hasil analisis BMKG memprediksi curah hujan dasarian II dan III Maret 2025 berada pada kategori tinggi-sangat tinggi di wilayah Jabodetabek bagian Selatan hingga akhir Maret 2025. Kondisi ini dapat memicu bencana hidrometeorologi.

    Plt. Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menjelaskan OMC ini berkolaborasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Daerah Khusus Jakarta, TNI AU dan berpusat di Posko Lanud Halim Perdana Kusuma.

    Baca: BMKG kembali lakukan modifikasi cuaca di Jabodetabek

    “OMC ini merupakan langkah BMKG dalam memberikan rasa aman dan nyaman bagi masyarakat. Seluruh proses OMC dilakukan berdasarkan analisis data dan pemodelan atmosfer yang tepat agar berjalan dengan efektif,” jelas Dwikorita.

    Sebelumnya, pada 4-8 Maret, BMKG juga telah melaksanakan OMC di Jabodetabek dalam upaya mengurangi curah hujan ekstrem yang berpotensi menyebabkan bencana hidrometeorologi.

    Hasilnya, OMC selama 24 jam non-stop berhasil mengurangi curah hujan 30-40% di wilayah operasi. Hasil ini sangat baik dan mampu meringankan beban masyarakat yang terdampak banjir di wilayah Jabodetabek.

    Hingga saat ini telah dilaksanakan total 26 sorti penerbangan yang berlangsung selama 50 jam 17 menit. Dalam operasi in total bahan semai yang digunakan mencapai 22.000 kg Natrium Klorida (NaCl) serta 4.000 kg Kalsium Oksida (CaO).

    Baca: Modifikasi cuaca sukses kurangi bencana

    Sementara itu, Deputi Modifikasi Cuaca BMKG, Tri Handoko Seto menjelaskan kegiatan OMC difokuskan pada pengamanan wilayah Jabodetabek.

    Terutama di daerah yang terdampak banjir, dengan penyemaian awan yang dilakukan secara strategis di wilayah hulu guna mengendalikan curah hujan sebelum mencapai kawasan rawan banjir.

    Selain itu, penyemaian juga dilakukan di perairan selatan Banten hingga Jawa Barat untuk memutus pasokan uap air dari selatan yang berpotensi masuk ke wilayah Bogor.

    “Tak hanya itu, awan-awan yang terbentuk di Perairan Laut Utara Jawa dan berpotensi bergerak menuju Jabodetabek pun turut disasar, guna memutus pasokan uap air dari utara. Langkah ini diambil untuk meminimalisasi risiko curah hujan tinggi di wilayah Jabodetabek dan mendukung upaya mitigasi banjir,” jelas Seto.

  • Mitigasi Bencana Hidrometeorologi, BPBD DKI Jakarta Gelar Operasi Modifikasi Cuaca

    Mitigasi Bencana Hidrometeorologi, BPBD DKI Jakarta Gelar Operasi Modifikasi Cuaca

    7cloud.asia – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta, melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) mulai 17 hingga 21 Agustus 2025.

    Modifikasi cuaca dilakukan sebagai langkah strategis dalam kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana hidrometeorologi di saat peringatan Hari Kemerdekaan RI.

    “Berdasarkan prediksi cuaca dari BMKG terdapat potensi peningkatan curah hujan di pertengahan Agustus, oleh karena itu modifikasi cuaca akan dilaksanakan selama lima hari, mulai 17 hingga 21 Agustus 2025,” ujar Kepala BPBD DKI Jakarta Isnawa, Senin (18/8/2025).

    Perwakilan Direktorat Meteorologi Publik BMKG, Fahim, menyampaikan adanya potensi hujan di sebagian wilayah Jabodetabek.

    Baca: Bencana alam makin intens akibat perubahan iklim

    “Secara umum wilayah Jabodetabek memiliki kelembaban yang berkisar antara 40 sampai 100 persen pada lapisan 925 hingga 500 hPa. Labilitas atmosfer menunjukkan kondisi massa udara labil lemah dan potensi konveksi sedang,” tandasnya.

    Sebelumnya, BMKG dalam prospek cuaca mingguan yang dirilis di laman resminya, mengingatkan bahwa kondisi cuaca di Tanah Air menunjukkan dinamika yang patut diwaspadai.

    Meskipun saat ini 57 persen wilayah Indonesia masih berada pada periode musim kemarau mencakup sebagian Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, dan Kalimantan, BMKG sebut hujan dengan intensitas sangat lebat hingga ekstrem masih terjadi di sejumlah daerah.

    BMKG menyebut, periode 18 – 21 Agustus 2025 Cuaca di Indonesia umumnya didominasi cerah berawan hingga hujan lebat.

    Baca: Mitigasi perubahan iklim mampu redam dampak bencana alam

    Perlu diwaspadai adanya hujan dengan intensitas sedang yang terjadi di Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Bengkulu

    Hujan dengan intensitas sedang juga berpotensi terjadi di Jakarta, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, NTB, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua, dan Papua Selatan.

    Selain itu, hujan dengan intensitas lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang dapat terjadi di Jawa Barat, Bali, Kalimantan Tengah, Papua Tengah, dan Papua Pegunungan.

    BMKG mengingatkan angin kencang berpotensi terjadi di Aceh, Sulawesi Selatan, NTT, Maluku, Papua Barat, dan Papua Selatan.

  • BMKG Ungkap Penyebab Longsor di Cilacap, Jawa Tengah

    BMKG Ungkap Penyebab Longsor di Cilacap, Jawa Tengah

    7cloud.asia – Longsor yang melanda wilayah Cilacap, Jawa Tengah beberapa hari yang lalu dipicu oleh beberapa faktor. Salah satunya intensitas hujan tinggi yang mengguyur wilayah tersebut hingga terjadi pergerakan tanah.

    Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat adanya hujan berintensitas tinggi di wilayah Kabupaten Cilacap dan sekitarnya, pada Kamis (13/11/2025).

    Kondisi hujan yang juga berlangsung dalam beberapa hari sebelumnya turut meningkatkan kadar air dalam tanah. Sehingga secara umum dapat meningkatkan kondisi rentan dan berkontribusi pada terjadinya tanah longsor di lokasi tersebut.

    Baca: 10 Korban Longsor di Cilacap Masih Dicari

    Dalam siaran persnya, Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto, menjelaskan hasil pengamatan di Pos Hujan Majenang, curah hujan cukup tinggi, yakni masing-masing 98,4 mm/hari dan 68 mm/hari pada 10–11 November 2025.

    Setelah itu, wilayah tersebut masih mengalami hujan ringan yang mempertahankan kondisi tanah tetap basah hingga akhirnya terjadi pergerakan tanah yang memicu longsor.

    “Rangkaian hujan tersebut membuat kondisi tanah semakin basah dan lereng menjadi lebih rentan terhadap pergerakan,” ungkap Guswanto.

    Faktor lainnya adalah kondisi atmosfer. Pola cuaca beberapa hari terakhir memang mendukung terbentuknya awan hujan di wilayah Jawa Tengah.

    Baca: Longsor di Banjarnegara Timbun 27 Warga

    Guswanto menjelaskan adanya aktivitas fenomena MJO (Madden Jullian Oscillation) yang sedang melintas serta gelombang atmosfer lain di kawasan yang sama ikut memperkuat proses pembentukan awan tersebut.

    Pada skala yang lebih luas, peningkatan hujan juga dipengaruhi adanya pusaran angin di perairan barat Lampung dan selatan Bali, serta zona belokan angin di sekitar Jawa yang membuat pertumbuhan awan semakin intens.

    “Kondisi atmosfer tersebut mendorong terbentuknya awan konvektif yang dapat menimbulkan hujan sedang hingga lebat, disertai kilat atau petir serta angin kencang,” terangnya.

    Baca: BMKG Ingatkan Cuaca Ekstrem

    Direktur Meteorologi Publik BMKG, Andri Ramdhani menjelaskan hasil pemantauan atmosfer, adanya kelembapan udara yang sangat tinggi pada beberapa lapisan, yakni 850 mb, 700 mb, dan 500 mb, dengan nilai mencapai 70–100 persen.

    Kondisi udara yang basah di berbagai ketinggian ini mendukung pembentukan awan hujan dalam jumlah besar, sehingga meningkatkan potensi hujan sedang hingga lebat yang dapat disertai kilat dan angin kencang.

    Dengan kondisi cuaca seperti ini, BMKG telah mengeluarkan Peringatan Dini Cuaca dan Iklim Ekstrem periode 11–20 November 2025 di sejumlah wilayah termasuk Cilacap yang meliputi Kecamatan Majenang.

    Baca: Memasuki Puncak Musim Hujan, Waspada Bencana

    “Pada rilis tersebut juga disampaikan bahwa hujan sedang hingga lebat diperkirakan dapat terjadi kembali pada 19–22 November 2025,” ujar Andri.

    Sementara itu, Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG, Tri Handoko Seto mengatakan BMKG bersama sejumlah instansi terkait akan melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di wilayah yang mengalami bencana tanah longsor.

    Hal ini perlu dulakukan untuk memudahkan proses evakuasi korban yang dilakukan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di wilayah bencana.

    “Skema penerapan OMC yang disiapkan berfokus pada pengamanan daerah bencana longsor sehingga daerah Majenang terbebas dari hujan deras yang berpotensi memicu longsor susulan atau mengganggu proses evakuasi,” terang Seto.

     

  • Pemerintah Andalkan Modifikasi Cuaca untuk Mitigasi Bencana, Padahal Efektifitasnya Masih Diperdebatkan

    Pemerintah Andalkan Modifikasi Cuaca untuk Mitigasi Bencana, Padahal Efektifitasnya Masih Diperdebatkan

     

    7cloud.asia – Pemerintah semakin mengandalkan modifikasi cuaca melalui penyemaian awan sebagai solusi cepat untuk mengurangi risiko banjir, tanah longsor, maupun kebakaran hutan yang terus berulang di berbagai kota di Indonesia.

    Modifikasi cuaca dilakukan dengan menyemai awan menggunakan inti kondensasi awan atau inti es buatan. Tujuannya untuk mempercepat hujan turun ataupun berpindah ke lokasi yang dianggap ‘lebih aman’, seperti di laut ataupun kawasan dengan bendungan.

    Semai awan tidak bekerja dengan cara “memindah” awan tetapi dengan mempercepat proses terbentuknya hujan di dalam awan yang sudah potensial menghasilkan hujan. Jadi, yang dimodifikasi adalah proses pertumbuhan tetes air di awan, bukan memindahkan atau mengubah pergerakan awannya.

    Saat musim kering ataupun anomali cuaca El Nino, teknologi ini juga diklaim bisa menyemai hujan di daerah dengan risiko kebakaran hutan yang tinggi.

    Miliaran rupiah pun telah dihabiskan negara untuk modifikasi cuaca. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sempat menghabiskan Rp34 miliar anggaran modifikasi cuaca untuk meredam kebakaran hutan dan lahan besar pada 2019. Sementara pemerintah Jakarta tahun ini menaikkan anggaran serupa dari Rp7 miliar ke Rp31 miliar untuk mengurangi risiko banjir di Ibu Kota.

    Namun, di balik citra dan klaim keberhasilannya, efektivitas modifikasi cuaca sebenarnya masih menjadi perdebatan panjang di kalangan ilmuwan atmosfer.

    Baca: Pemerintah Tak Bisa Terus Menerus Mengandalkan Modifikasi Cuaca

    Perdebatan modifikasi cuaca

    Secara ilmiah, modifikasi cuaca bukan teknik untuk membuat atau meniadakan hujan. Penyemaian awan sangat bergantung pada ada atau tidaknya awan hujan yang dapat dimodifikasi.

    Masalahnya, atmosfer sangat kompleks dan dinamis. Pertumbuhan awan hujan atau konvektif bergantung pada lokasi dan kondisi iklim suatu daerah.

    Laporan lembaga dunia seperti World Meteorological Organization (WMO) dan Government Accountability Office (GAO) Amerika Serikat (AS) mencatat bahwa kompleksitas atmosfer membuat kemanjuran modifikasi cuaca sulit dibuktikan secara pasti.


    Perdebatan ilmuwan mengenai keampuhan penyemaian awan juga masih panjang. Di AS, misalnya, industri mengklaim teknik ini dapat meningkatkan hujan untuk negara bagian beriklim panas dan kering seperti Arizona dan Utah. Namun, klaim keberhasilan tersebut masih memerlukan pengakuan ilmiah melalui publikasi artikel.

    Sejumlah penelitian memang menunjukkan hubungan antara teknik modifikasi cuaca dengan potensi peningkatan hujan. Kendati demikian, banyak ilmuwan tetap skeptis terhadap implementasinya di atmosfer sesungguhnya. Sebab, banyak percobaan baru berbasiskan pemodelan ataupun uji laboratorium.

    Perdebatan justru dilembagakan

    Meski bukti ilmiahnya belum solid, penyemaian awan terus berkembang dan semakin dilembagakan dalam tata kelola bencana di Indonesia. Misalnya Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang membentuk Deputi Modifikasi Cuaca.

    Operasi modifikasi cuaca di Indonesia melibatkan BNPB, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), hingga dukungan Tentara Nasional Indonesia (TNI). 

    Ironisnya, di tengah penguatan kelembagaan yang masif, negara-negara yang telah mengoperasikan teknologi ini selama puluhan tahun pun masih terjebak dalam silang pendapat soal keampuhan modifikasi cuaca atau hanya menciptakan rasa aman sementara.

    Baca: Gunakan Suara dan Uang Anda untuk Mendesak Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca

    Kecenderungan pemerintah tersebut menunjukkan wajah nyata dari post-normal science. Maksudnya, meski fakta ilmiah belum sepenuhnya pasti, pemerintah menganggap keputusan harus segera diambil karena risiko bencana dianggap terlalu besar untuk ditunda.

    Dalam konteks banjir besar atau kebakaran hutan, pemerintah seolah tidak memiliki kemewahan untuk menunggu kepastian ilmiah. Teknologi kemudian diposisikan sebagai solusi cepat yang terlihat konkret di tengah tekanan publik dan tuntutan respons darurat. 

    Padahal, tanpa evaluasi ilmiah yang transparan dan terbuka untuk publik, kondisi darurat berisiko menjadi legitimasi permanen untuk eksperimen atmosfer berskala besar tanpa akuntabilitas yang memadai.

    Tanda-tandanya terlihat dari makin banyaknya lembaga (pengurus bencana ataupun pemerintah daerah) menggunakan modifikasi cuaca sebagai langkah mitigasi (mengurangi risiko), bukan tindakan darurat.

    Alih-alih mendorong penelitian ilmiah yang kredibel mengenai klimatologi jumlah inti semai awan/es dan profil awan yang belum banyak di Indonesia, pemerintah justru menggunakan teknologi tanpa dasar ilmiah yang kuat.

    Dampak modifikasi cuaca belum dihitung

    Modifikasi cuaca pada dasarnya tidak benar-benar menghilangkan ataupun membuat hujan. Teknologi ini hanya memindahkan lokasi jatuhnya air dari langit.

    Hal ini ditegaskan BPBD DKI Jakarta yang menyatakan bahwa operasi modifikasi cuaca dilakukan dengan “menggugurkan” awan di wilayah laut, seperti Selat Sunda, sebelum mencapai Jakarta dan Jawa Barat.

    Ketika hujan sengaja dialihkan agar pusat kota, bandara, atau kawasan industri tetap kering, muncul pertanyaan penting: wilayah mana yang kemudian harus menerima hujan tersebut?

    Baca: Ilmuwan Menghapus Skenario Perubahan Iklim Terburuk

    Pertanyaan ini relevan karena wilayah pesisir yang sering menjadi lokasi “pembuangan” hujan juga merupakan ruang hidup masyarakat yang rentan terhadap ketidakpastian cuaca.

    Petani garam telah lama mengeluhkan bahwa pola hujan yang tidak menentu menyebabkan penurunan produktivitas garam. Nelayan juga menghadapi risiko karena tinggi gelombang dapat dipicu oleh aktivitas konveksi awan yang “dipaksa” matang sebelum waktunya.

    Dalam konteks ini, atmosfer bukan ruang kosong yang netral, melainkan ruang yang memberikan variasi dampak bagi kelompok sosial tertentu. 

    Karena itu, perdebatan mengenai modifikasi cuaca melalui semai awan seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan apakah teknologi ini berhasil atau tidak untuk mitigasi banjir, tanah longsor, hingga kebakaran hutan dan lahan.

    Perdebatan juga perlu diarahkan pada apakah terdapat dampak lain yang perlu juga dimitigasi, misalnya dampak lingkungan dan sosial.

    Tanpa evaluasi ilmiah yang kredibel dan pertimbangan sosial yang serius, modifikasi cuaca berisiko menciptakan sistem perlindungan yang memprioritaskan wilayah tertentu sembari membiarkan kelompok rentan menghadapi ketidakpastian cuaca yang lebih besar.


    Juwita Nirmala Sari, PhD Researcher, Monash University dan Fitria Puspita Sari, Postdoctoral Researcher, University of Wisconsin-Madison

    Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.