7cloud.asia – Longsor yang melanda wilayah Cilacap, Jawa Tengah beberapa hari yang lalu dipicu oleh beberapa faktor. Salah satunya intensitas hujan tinggi yang mengguyur wilayah tersebut hingga terjadi pergerakan tanah.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat adanya hujan berintensitas tinggi di wilayah Kabupaten Cilacap dan sekitarnya, pada Kamis (13/11/2025).
Kondisi hujan yang juga berlangsung dalam beberapa hari sebelumnya turut meningkatkan kadar air dalam tanah. Sehingga secara umum dapat meningkatkan kondisi rentan dan berkontribusi pada terjadinya tanah longsor di lokasi tersebut.
Baca: 10 Korban Longsor di Cilacap Masih Dicari
Dalam siaran persnya, Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto, menjelaskan hasil pengamatan di Pos Hujan Majenang, curah hujan cukup tinggi, yakni masing-masing 98,4 mm/hari dan 68 mm/hari pada 10–11 November 2025.
Setelah itu, wilayah tersebut masih mengalami hujan ringan yang mempertahankan kondisi tanah tetap basah hingga akhirnya terjadi pergerakan tanah yang memicu longsor.
“Rangkaian hujan tersebut membuat kondisi tanah semakin basah dan lereng menjadi lebih rentan terhadap pergerakan,” ungkap Guswanto.
Faktor lainnya adalah kondisi atmosfer. Pola cuaca beberapa hari terakhir memang mendukung terbentuknya awan hujan di wilayah Jawa Tengah.
Baca: Longsor di Banjarnegara Timbun 27 Warga
Guswanto menjelaskan adanya aktivitas fenomena MJO (Madden Jullian Oscillation) yang sedang melintas serta gelombang atmosfer lain di kawasan yang sama ikut memperkuat proses pembentukan awan tersebut.
Pada skala yang lebih luas, peningkatan hujan juga dipengaruhi adanya pusaran angin di perairan barat Lampung dan selatan Bali, serta zona belokan angin di sekitar Jawa yang membuat pertumbuhan awan semakin intens.
“Kondisi atmosfer tersebut mendorong terbentuknya awan konvektif yang dapat menimbulkan hujan sedang hingga lebat, disertai kilat atau petir serta angin kencang,” terangnya.
Baca: BMKG Ingatkan Cuaca Ekstrem
Direktur Meteorologi Publik BMKG, Andri Ramdhani menjelaskan hasil pemantauan atmosfer, adanya kelembapan udara yang sangat tinggi pada beberapa lapisan, yakni 850 mb, 700 mb, dan 500 mb, dengan nilai mencapai 70–100 persen.
Kondisi udara yang basah di berbagai ketinggian ini mendukung pembentukan awan hujan dalam jumlah besar, sehingga meningkatkan potensi hujan sedang hingga lebat yang dapat disertai kilat dan angin kencang.
Dengan kondisi cuaca seperti ini, BMKG telah mengeluarkan Peringatan Dini Cuaca dan Iklim Ekstrem periode 11–20 November 2025 di sejumlah wilayah termasuk Cilacap yang meliputi Kecamatan Majenang.
Baca: Memasuki Puncak Musim Hujan, Waspada Bencana
“Pada rilis tersebut juga disampaikan bahwa hujan sedang hingga lebat diperkirakan dapat terjadi kembali pada 19–22 November 2025,” ujar Andri.
Sementara itu, Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG, Tri Handoko Seto mengatakan BMKG bersama sejumlah instansi terkait akan melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di wilayah yang mengalami bencana tanah longsor.
Hal ini perlu dulakukan untuk memudahkan proses evakuasi korban yang dilakukan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di wilayah bencana.
“Skema penerapan OMC yang disiapkan berfokus pada pengamanan daerah bencana longsor sehingga daerah Majenang terbebas dari hujan deras yang berpotensi memicu longsor susulan atau mengganggu proses evakuasi,” terang Seto.

Leave a Reply