Tag: musim kemarau

  • Antisipasi Fenomena Godzilla El Nino Pemerintah Perkuat Stok Cadangan Pangan

    Antisipasi Fenomena Godzilla El Nino Pemerintah Perkuat Stok Cadangan Pangan

    7cloud.asia – Fenomena iklim Godzilla El Nino yang diprediksi akan diperkuat dengan adanya fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) positif diperkirakan dapat mengakibatkan musim kemarau di Indonesia menjadi lebih panjang dan kering.

    Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyebutkan kedua fenomena tersebut kemungkinan akan terjadi bersamaan mulai April mendatang.

    Istilah Godzilla El Nino digunakan untuk menggambarkan potensi variasi El Nino yang kuat, sehingga muncul prediksi musim kemarau yang lebih panjang dan kering.

    Indonesia dapat mengalami keadaan minim awam dan hujan. Namun, dampaknya bisa saja tidak seragam terjadi di seluruh wilayah Indonesia.

    BRIN mengajak kementerian/lembaga yang terkait untuk dapat memitigasi dengan mempertimbangkan dampak kekeringan di bagian selatan Indonesia dan dampak banjir di timur laut Indonesia (Sulawesi, Halmahera, Maluku).

    Sebagai antisipasi di sektor pangan, pemerintah memastikan ketahanan stok Cadangan Pangan Pemerintah (CPP) terus diperkuat dengan mengutamakan penyerapan produksi dalam negeri.

    “Kami di Badan Pangan Nasional (Bapanas) sesuai arahan Kepala Bapanas memastikan ketahanan stok CPP terus diperkuat agar nanti saat diperlukan, bisa segera disalurkan untuk membantu masyarakat,” kata Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan I Gusti Ketut Astawa di Jakarta, Rabu (25/3/2026).

    Baca: BMKG ingatkan potensi El Nino pada 2026

    Terkait itu, dalam laporan Bapanas per 25 Maret, stok pangan pokok strategis yang merupakan CPP dan dikelola oleh BUMN pangan, baik Perum Bulog maupun ID FOOD, masih memadai dengan beras sebagai CPP dengan stok terbesar.

    Sementara CPP lainnya juga terus diperkuat seperti jagung, minyak goreng, gula konsumsi, daging sapi/kerbau, daging ayam dan telur ayam.

    Stok CPP beras di Bulog saat ini total telah mencapai 4,08 juta ton. Capaian ini meningkat pesat sebesar 77,8 persen dibandingkan kondisi stok CPP beras pada akhir Maret tahun lalu yang saat itu masih berada 2,29 juta ton.

    Sebagian besar pasokan pun bersumber dari produksi dalam negeri dikarenakan Bulog telah melaksanakan penyerapan setara beras sejak awal 2026 hingga hari ini mencapai 1,24 juta ton.

    Kemudian stok CPP jagung berada di kisaran 144 ribu ton yang sebagian besar bersumber dari penyerapan panen jagung dalam negeri.

    Realisasi penyerapan jagung produksi dalam negeri di tahun 2026 ini telah mencapai 101,96 ribu ton. Patut diketahui, Indonesia sudah tidak melakukan impor jagung pakan sejak tahun 2025.

    Sementara kondisi stok CPP lainnya antara lain minyak goreng berada di angka total 95 ribu kiloliter. Lalu gula konsumsi ada 50 ribu ton dengan sebagian besar ada di ID FOOD sebagai pengelolanya.

    Kemudian stok CPP daging sapi/kerbau ada 11 ribu ton yang juga sebagian besar dikelola ID FOOD. Daging ayam 39 ton pun ada di ID FOOD. Sementara CPP telur ayam 62 ton dikelola Bulog.

    Baca: Perubahan iklim mengakibatkan La Nina dan El Nino makin sulit diprediksikan

    Dalam berbagai kesempatan, Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman menekankan ketahanan pangan nasional di mana Indonesia harus mampu berdiri di atas kaki sendiri, tanpa bergantung terhadap negara lain.

    “Dunia sedang menghadapi ancaman krisis pangan yang serius. Oleh karena itu setiap negara harus memperkuat ketahanan pangannya dan tidak boleh bergantung pada negara lain. Kita tidak boleh takut,” ajak Amran.

    Menurutnya Indonesia saat ini sudah berada di jalur yang tepat. Kebutuhan konsumsi pangan pokok strategis harus mampu ditopang dari hasil kerja keras petani dan peternak dari negeri sendiri.

    “Yang paling aman adalah negara yang bisa memproduksi pangannya sendiri. Itu sebabnya kita harus memperkuat produksi dalam negeri. Kita harus optimis,” tambah Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman.

    Lebih lanjut, stok CPP tersebut akan disalurkan ke masyarakat melalui berbagai program intervensi pangan. Misalnya program bantuan pangan beras dan minyak goreng yang kembali digulirkan pemerintah mulai Maret ini.

    Bapanas mencatat realisasi penyalurannya sampai 25 Maret telah mencapai 378.666 penerima di 24 provinsi.

    Sementara realisasi penjualan beras SPHP selama bulan Maret tahun ini telah menyentuh angka 43,17 ribu ton. Program intervensi pangan lainnya masih terus dilaksanakan pemerintah bersama seluruh mitra dalam bentuk Gerakan Pangan Murah (GPM) di berbagai daerah.

  • Memasuki Peralihan ke Musim Kemarau, Sejumlah Daerah di Pulau Jawa Malah Dilanda Banjir

    Memasuki Peralihan ke Musim Kemarau, Sejumlah Daerah di Pulau Jawa Malah Dilanda Banjir

    7cloud.asia – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengingatkan warga untuk bersiap mengantisipasi cuaca terik dan hari tanpa hujan saat musim kemarau di sebagian wilayah Indonesia.

    Dalam keterangan tertulisnya pada media, BNPB menyebut bencana kebakaran hutan dan lahan mulai melanda beberapa daerah.

    Di Kalimantan Tengah, 11 kabupaten dan satu kota dilanda karhutla sejak bulan Januari 2026. Total luasan lahan terbakar per 27 Maret 2026 mencapai 357,69 hektare.

    Sementara itu, di Kalimantan Barat, terjadi kebakaran hutan dan lahan sejak 1 Januari 2026 sampai dengan 27 Maret 2026 dengan total luas lahan terbakar mencapai 671,933 hektare. Titik karhutla berada di 12 kabupaten dan dua kota.

    Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan sebagian besar wilayah di Indonesia akan memasuki musim kemarau tahun 2026 lebih awal, yaitu pada sekitar bulan April 2026.

    Meskipun demikian di beberapa wilayah mulai terjadi peralihan musim. Adapun wilayah yang diprakirakan mengalami awal kemarau lebih maju meliputi sebagian besar Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan bagian selatan dan timur, sebagian besar Sulawesi, Maluku, hingga sebagian wilayah Papua.

    BNPB mengimbau masyarakat untuk waspada terhadap potensi cuaca ekstrem yang dapat terjadi selama fase peralihan musim seperti angin kencang, hujan ekstrim, puting beliung, banjir dan gelombang tinggi.

    Di sisi lain, BNPB juga berharap agar masyarakat tidak lengah dengan potensi risiko bencana hidrometeorologi kering seperti karhutla dan kekeringan.

    Sebagai upaya pencegahan, warga diimbau untuk tidak membakar sampah tanpa pantauan langsung, membuka lahan secara sengaja dengan pembakaran, serta memastikan padamnya bara saat membuang putung rokok.

    Masyarakat diimbau menyiapkan tas siaga bencana yang berisi dokumen penting, obat-obatan, kebutuhan makanan sementara, pakaian, alat penerangan, pengisi daya, termasuk kebutuhan darurat lainnya sebagai langkah kesiapsiagaan.

    Meskipun sebagian wilayah di Indonesia mulai memasuki musim kemarau, hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi juga terjadi di sejumlah daerah.

    Merangkum laporan kejadian bencana pada periode Jumat hingga Sabtu, 27-28 Maret 2026, BNPB menyebut banjir dan angin kencang dilaporkan terjadi di berbagai wilayah Pulau Jawa.

    Banjir antara lain terjadi di Kabupaten Jombang dan Pasuruan, Jawa Timur dengan ketinggian air berkisar 10 hingga 80 centimeter.

    Menurut Kepala BNPB, Suharyanto mengatakan, banjir yang menjadi langganan tiap tahun itu harus mendapatkan intervensi dari lintas kementerian/lembaga baik pusat maupun daerah.

    BNPB akan mencatat segala kebutuhan yang diperlukan mulai fase percepatan penanganan darurat hingga upaya mitigasi ke depannya agar bencana serupa tidak terulang atau paling tidak dapat diminimalisir dampaknya di kemudian hari.

    Di Jawa Tengah, banjir juga dilaporkan terjadi di Kabupaten Brebes, Kabupaten Pemalang, Kabupaten Demak dan Kabupaten Grobogan yang mengakibatkan ratusan keluarga terdampak.

    Atas bencana ini, warga yang terdampak mencapai 300 jiwa termasuk 27 unit rumah. BPBD Kabupaten Demak telah melakukan kaji cepat dan pengumpulan data (asesmen) termasuk memberikan dukungan bagi warga.

  • Pakar Ingatkan Dampak El Nino terhadap Produksi Pangan

    Pakar Ingatkan Dampak El Nino terhadap Produksi Pangan

    7cloud.asia – Pengelola negara diingatkan potensi penurunan produksi pangan akibat fenomena El Nino yang diperkirakan memicu musim kemarau 2026 akan lebih panjang dan suhu yang lebih panas dari kondisi normal.

    “Fenomena El Nino akan menyebabkan musim kemarau memanjang, sehingga berdampak pada pertumbuhan dan produksi tanaman, khususnya tanaman pangan dan hortikultura,” kata Pakar pertanian Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto Prof Totok Agung Dwi Haryanto dilansir Antaranews.com, Selasa (31/3/2026).

    Menurut dia, gangguan terhadap sektor pertanian tersebut umumnya disebabkan oleh dua faktor utama, yakni kekurangan air dan peningkatan suhu udara.

    Kombinasi kedua faktor tersebut dapat memicu stres pada tanaman, menghambat pertumbuhan, hingga menyebabkan tanaman gagal panen.

    Ia mengatakan hingga akhir Maret ini, curah hujan di wilayah Jawa Tengah masih relatif tinggi, sehingga tanda-tanda awal musim kemarau belum terlihat secara jelas.

    Namun sebelumnya, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan musim kemarau akan datang lebih cepat.

    Baca: Fenomena Godzilla El Nino Menjadi Alarm Darurat Kebakaran Hutan dan Lahan

    Oleh karena itu, diperlukan prediksi yang lebih akurat terkait waktu awal kekeringan agar langkah antisipasi dapat dilakukan secara tepat.

    “Perlu kepastian kapan kekeringan mulai terjadi, sehingga petani bisa menyesuaikan pola tanam dan memilih jenis tanaman yang lebih toleran terhadap kondisi kering,” katanya.

    Dalam menghadapi potensi tersebut, ia mendorong petani untuk mulai mengembangkan varietas tanaman yang lebih tahan atau toleran terhadap kekeringan, seperti padi gogo.

    Ia juga menekankan pentingnya kesiapan benih dalam jumlah cukup guna mendukung percepatan masa tanam mengingat prediksi mengenai kondisi kemarau tahun 2026 sudah cukup lama disampaikan oleh BMKG.

    Menurut dia, percepatan masa tanam pada musim tanam kedua (MT II) menjadi strategi penting agar tanaman dapat tumbuh optimal sebelum puncak musim kemarau terjadi.

    “Pembibitan bisa dilakukan lebih awal, bahkan sebelum panen musim tanam pertama, sehingga setelah panen lahan bisa langsung diolah dan ditanami kembali,” katanya.

    Baca: Musim Kemarau 2026 Lebih Kering dan Lebih Lama, Ini Rekomendasi BMKG

    Ia mengatakan pengelolaan sumber daya air juga menjadi faktor penting dalam menghadapi musim kemarau panjang.

    Menurut dia, pemanfaatan sumber air alternatif seperti sumur serta penggunaan pompa air perlu dioptimalkan guna menjaga ketersediaan air bagi tanaman.

    Dalam hal ini, ketersediaan bahan bakar minyak (BBM), khususnya solar, menjadi komponen penting dalam mendukung operasional pompa air maupun alat mesin pertanian.

    Oleh karena itu, ia mendorong adanya kebijakan pemerintah yang berpihak kepada petani, terutama dalam hal kemudahan akses dan stabilitas harga BBM.

    “Perlu ada kebijakan yang memudahkan petani mendapatkan BBM dengan harga terjangkau, misalnya melalui skema subsidi atau distribusi khusus ke wilayah pertanian,” katanya.

    Ia menyoroti pentingnya menjaga kelancaran distribusi air melalui jaringan irigasi selama musim kemarau.

    Menurut dia, kegiatan perbaikan irigasi yang mengharuskan pengeringan saluran sebaiknya dibatasi selama musim kemarau, kecuali dalam kondisi mendesak.

    “Jika tidak terlalu mendesak, perbaikan irigasi sebaiknya ditunda agar tidak mengganggu suplai air ke lahan pertanian, karena hal itu bisa berdampak pada proses tanam dan produksi,” katanya.

    Prof Totok mengharapkan dengan berbagai langkah antisipatif tersebut, dampak El Nino terhadap sektor pertanian dapat diminimalkan, sehingga target produksi pangan tetap dapat tercapai dan ketahanan pangan nasional tetap terjaga.

    Baca: Masyarakat Diimbau Bersiap Hadapi Kekeringan Akibat El Nino

  • BMKG: Curah Hujan pada 2026 Lebih Rendah Dibanding Rata-rata Curah Hujan 30 tahun Terakhir

    BMKG: Curah Hujan pada 2026 Lebih Rendah Dibanding Rata-rata Curah Hujan 30 tahun Terakhir

    7cloud.asia – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi bahwa curah hujan rata-rata pada musim kemarau 2026 akan lebih rendah jika dibandingkan rata-rata curah hujan dalam 30 tahun terakhir.

    “Dengan hujan rata-rata di bawah normal dibandingkan musim kemarau selama 30 tahun terakhir, maka kondisi hujan di tahun ini akan lebih rendah atau di bawah normal,” kata Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani usai rapat koordinasi kebakaran hutan dan lahan di Jakarta, Senin (6/4/2026)

    BMKG juga memprediksi musim kemarau pada tahun ini akan berlangsung lebih awal dan lebih lama, yang dimulai pada April atau Mei, dengan puncaknya pada Agustus.

    “Kita akan memasuki musim kemarau, mulai April atau Mei, puncaknya nanti di Agustus, kemudian nanti berakhir di bulan September atau awal Oktober,” imbuhnya.

    Sehari sebelumnya, Faisal Fathani menjelaskan bahwa beberapa wilayah yang telah memasuki musim kemarau adalah sebagian kecil wilayah Aceh, sebagian kecil wilayah Sumatera Utara, sebagian kecil Riau.

    Baca: Musim kemarau 2026 lebih kering dan lebih lama, ini rekomendasi BMKG

    Musim kemarau juga telah terjadi sebagian Sulawesi Tengah, sebagian Sulawesi Selatan, sebagian Sulawesi Tenggara, sebagian kecil NTB, sebagian kecil NTT dan Maluku, serta sebagian kecil Papua Barat.

    Terkait fenomena El Nino yang juga akan berdampak di Indonesia, berdasarkan pemantauan BMKG, saat ini masih lemah hingga moderate. BMKG memprediksi peluang berkembangnya fenomena El Niño pada semester kedua tahun ini.

    Hingga akhir Maret 2026, kondisi El Niño-Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD) terpantau masih berada pada fase Netral.

    Namun, pemodelan iklim menunjukkan bahwa ENSO dapat berkembang menjadi fase El Niño pada semester kedua tahun 2026.

    “Pada saat ini, prediksi BMKG untuk intensitas El Niño berada pada kategori lemah hingga moderat dengan peluang 50-80 persen, dan mencatat adanya kemungkinan kecil (kurang dari 20 persen) fenomena ini berkembang menjadi kategori kuat” ujarnya.

    Baca: Pakar ingatkan dampak El Nino terhadap produksi pangan

    Tingkat kepercayaan (confidence) terhadap intensitas El Niño akan semakin tinggi pada hasil prediksi bulan Mei 2026. Secara statistik, prediksi pada bulan Mei memiliki keandalan yang lebih baik untuk menjangkau kondisi iklim hingga enam bulan ke depan.

    “Meskipun intensitas pastinya masih berkembang, BMKG menegaskan bahwa musim kemarau 2026 diprediksi akan lebih kering dan berlangsung lebih panjang dibandingkan rata-rata normalnya, sebagai kontribusi juga dari variabilitas iklim alamiah yang ada di wilayah Indonesia,” jelasnya.

    Kementerian Kehutanan menggandeng BMKG untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada musim kemarau.

    Salah satu upayanya dengan rewetting (pembasahan kembali) lahan gambut dengan menggunakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) BMKG.

    “Kita melakukan upaya preventif, kita coba melakukan rewetting ketika kita masih punya awan yang bisa kita semai, dengan bahan semai kemudian terjadi hujan itu dapat membasahkan lahan gambut sehingga nantinya potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan ini dapat kita tekan semaksimal mungkin,” kata Teuku Faisal Fathani.

  • Fenomena Godzilla El Nino Mengancam Produksi Pangan: Pemerintah Diingatkan untuk Siapkan Langkah Mitigasi

    Fenomena Godzilla El Nino Mengancam Produksi Pangan: Pemerintah Diingatkan untuk Siapkan Langkah Mitigasi

    7cloud.asia – Fenomena Godzilla El Nino yang terjadi pada musim kemarau tahun ini diperkirkan akan menyebabkan kondisi kekeringan yang tinggi dan panjang.

    Hingga Maret 2026, BMKG mencatat sekitar 7 persen dari Zona Musim (ZOM) di Indonesia telah memasuki fase kemarau. Sebagian besar wilayah di Indonesia diprediksi akan mulai memasuki musim kemarau pada bulan April, Mei dan Juni 2026.

    Sementara menurut analisa Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI), terdapat beberapa wilayah yang rentan mengalami kekeringan sedang, berat dan bahkan ekstrem.

    Dilansir di laman resmi walhi.or.id, wilayah yang paling rentan terhadap kekeringan saat El Nino berada di Provinsi Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur serta Kalimantan.

    Pengkampanye Pangan dan Ekosistem Esensial Eksekutif Nasional WALHI, Musdalifah menyampaikan bahwa saat terjadi El Nino kondisi kekeringan semakin ekstrem yang berdampak pada krisis air bersih, gagal panen dan mengalami krisis pangan”.

    Di sisi lain, sistem pangan di Indonesia masih sangat bergantung pada impor pangan, data Badan Pusat Statistik (BPS) periode Januari-Maret 2025, menyebutkan bahwa Indonesia mengimpor hingga 13.629 ton komoditas pangan.

    Baca: Musim Kemarau 2026 lebih kering dan lebih lama, ini rekomendasi BMKG

    Musdalifah menyebut, kekeringan dan fenomena El Nino memberikan dampak serius terhadap produksi pangan di Indonesia, terutama melalui penurunan curah hujan dan peningkatan risiko kekeringan.

    Kondisi ini diperburuk dengan turunnya luasan lahan pertanian dan rusaknya lahan pertanian akibat paradigma pembangunan yang ekstraktif dan eksploitatif.

    ”Ini menyebabkan alih fungsi lahan pertanian produktif ke lahan perkebunan monokultur, pembangunan infrastruktur dan mega proyek investasi lainnya, termasuk di sekitar wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil di Indonesia, yang notabenenya merupakan wilayah kelola rakyat dan sumber pangan utama untuk menopang ketercukupan pangan” katanya.

    Secara historis, El Nino pada tahun 1997/1998 menyebabkan penurunan produksi padi sebesar 3,6 persen dibandingkan tahun 1997 dan hingga 6 persen dibandingkan tahun 1996.

    Krisis saat itu tidak hanya menekan produksi, tetapi juga memicu lonjakan harga pangan yang memperburuk krisis ekonomi nasional.

    Sementara, El Nino tahun 2024 menyebabkan penurunan produksi beras sebesar 2,28 juta ton pada periode Januari hingga April, atau turun 17,52 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

    Baca: Seperti ini dampak El Nino terhadap produksi pangan

    Di sisi lain, Badan Pangan Nasional, menyampaikan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama komisi IV DPR RI, bahwa Indonesia dalam menghadapi fenomena El Nino telah menyediakan cadangan beras pemerintah (CBP) sebanyak 4,6 juta ton perhari.

    Ifha menambahkan, dalam konteks pemenuhan hak atas pangan yang dijamin dalam peraturan perundang-undangan, tidak hanya bicara soal ketersediaan.

    Tetapi pemerintah juga perlu memastikan sejauh mana masyarakat khususnya kelas ekonomi ke bawah bahkan miskin dapat menjangkaunya, serta memastikan kelayakan pangan untuk dikonsumsi.

    Komite Hak-Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya PBB menyatakan bahwa hak atas pangan yang layak terwujud jika setiap laki-laki, perempuan dan anak-anak, baik sendiri atau dalam bersama dengan orang lain dalam masyarakat, memiliki akses fisik dan ekonomi sepanjang waktu terhadap pangan yang layak atau cara untuk pengadaannya.

    Oleh karena itu, negara berkewajiban untuk mengambil tindakan yang diperlukan untuk mencegah dan mengurangi kelaparan sebagaimana diatur dalam pasal 11 ayat (2) Kovenan Hak Ekonomi, Sosial, Budaya, bahkan saat terjadi bencana alam ataupun bencana lainnya.

    Baca: Pengurus negara diminta siapkan antisipasi dampak El Nino di sektor kesehatan

  • Skenario Terburuk El Niño 2026: ‘Neraka’ Panas yang Mengancam

    Skenario Terburuk El Niño 2026: ‘Neraka’ Panas yang Mengancam

     

    7cloud.asia – Tahun ini Indonesia diprediksi bakal menghadapi musim kemarau yang tidak biasa.

    Bukan hanya sekadar panas, musim kemarau juga diperkirakan akan datang lebih cepat, lebih kering, dan masanya lebih lama dari tahun-tahun sebelumnya.

    Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat hingga akhir Maret 2026, sebanyak 7 persen zona musim (Z0M) di Indonesia sudah memasuki musim kemarau.

    Jumlah ini akan terus bertambah secara signifikan dengan sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi m

    Beberapa wilayah yang telah memasuki musim kemarau adalah sebagian kecil wilayah Sumatera Utara, Aceh, Riau, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, NTB, NTT dan Maluku, serta sebagian kecil di Papua Barat.

    Salah satu alasan mengapa kemarau tahun ini terasa lebih menyengat adalah potensi kembalinya fenomena El Nino, suatu kondisi ketika suhu permukaan laut di Samudra Pasifik memanas dan menguat di pertengahan tahun.

    Efeknya membuat pembentukan awan hujan di Indonesia jadi terhambat hingga pasokan air hujan bakal jauh berkurang dibanding biasanya.

    Tahun ini sebagian wilayah Indonesia sudah mulai masuk musim kering sejak April. Puncaknya diprediksi akan terjadi pada Agustus 2026. Sebagian besar wilayah, mulai dari Jawa, Sumatera bagian selatan, Bali, hingga Nusa Tenggara, diprediksi bakal merasakan dampak yang cukup signifikan. 

    Dalam edisi terbaru Ask the Expert Deputi bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan mengingatkan ada beberapa hal serius yang perlu kita waspadai untuk menghadapi datangnya musim kemarau dan fenomena El Nino.

    Ardhasena menjelaskan, pada semester kedua tahun ini, peluang ENSO (El Nino-Southern Oscillation) berkembang menjadi fase El Niño cukup besar.

    “Prediksi untuk intensitas El Niño berada pada kategori lemah hingga moderat dengan peluang 50-80 persen, dan ada kemungkinan kecil (kurang dari 20 persen) fenomena ini berkembang menjadi kuat,” ujarnya.

    Beberapa ahli menyebutnya dengan istilah Super El Niño dan Godzilla El Nino. Namun Ardhasena mengingatkan terminologi resmi seputar kategori El Niño adalah kategori lemah, moderat dan kuat.

    Jika El Niño menguat, maka kemarau di Indonesia tahun ini akan cenderung lebih kering dan lebih panjang, sehingga meningkatkan risiko kekeringan ekstrem.

    Oleh karenanya, masyarakat dihimbau untuk hemat dan bijak menggunakan air. Masyarakat bisa memaksimalkan penampungan air atau sumur resapan untuk menampung sisa-sisa air hujan.

    Tanpa air hujan, debu akan tambah banyak dan bisa memicu gangguan pernapasan (ISPA). Suhu panas ekstrem juga membuat kita mudah terkena dehidrasi atau heatstroke. Untuk itu, perbanyak minum air putih, pakai masker saat di luar rumah yang berdebu, dan gunakan pelindung matahari (topi/payung).

    Tonton video wawancara kami di sini:

    Tonton video-video seputar sains menarik lainnya hanya di channel YouTube dan TikTok The Conversation Indonesia, jangan lupa ikuti dan berlangganan sekarang juga!

    Klik di sini:

    YouTube The Conversation Indonesia

    TikTok The Conversation Indonesia

    Rino Putama, Multimedia Producer, The Conversation

    Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.

  • Mendekati Puncak Musim Kemarau, Kekeringan Melanda Sejumlah Daerah

    Mendekati Puncak Musim Kemarau, Kekeringan Melanda Sejumlah Daerah

    7cloud.asia – Memasuki pekan kedua bulan Juni 2026, sejumlah daerah di Indonesia dilaporkan mulai mengalami kekeringan dan krisis air bersih.

    Menurut rangkuman perkembangan situasi dan penanganan bencana di sejumlah wilayah Indonesia yang disusun Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) kekeringan pertama terjadi di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah.

    Sebanyak 120 jiwa di Desa Kedungbenda, Kecamatan Nusawungu, dan 398 jiwa di Desa Karangkemiri, Kecamatan Jeruklegi, terdampak kekeringan.

    Hingga Jumat (12/6/2026), BPBD Kabupaten Cilacap telah mendistribusikan 10.000 liter air bersih kepada warga terdampak serta melakukan koordinasi lintas sektor secara berkala untuk memantau kondisi dan memastikan pasokan sumber air tetap terpenuhi di tengah musim kemarau.

    Kekeringan juga dilaporkan terjadi di Kabupaten Karawang, Jawa Barat, di mana 372 jiwa terdampak kekeringan di Desa Kutalanggeng, Kecamatan Tegalwaru.

    Baca: El Nino Bisa Memicu Kekeringan di Indonesia

    BPBD Kabupaten Karawang telah menyalurkan bantuan air bersih dengan mengerahkan dua unit mobil tangki, masing-masing berkapasitas 5.000 liter, pada Jumat (12/6/2026).

    Selain itu, kekeringan juga melanda dua desa di Kabupaten Bogor, Jawa Barat. BPBD Kabupaten Bogor melaporkan sebanyak 517 jiwa di Desa Gunung Sari, Kecamatan Citeureup, dan 217 jiwa di Desa Parakan Muncang, Kecamatan Nanggung, terdampak kekeringan.

    BPBD setempat menyalurkan air bersih serta mengisi penampungan dan toren warga terdampak. Pada Jumat (12/6/2026), penyaluran kembali dilakukan sebanyak 5.000 liter ke dua desa tersebut.

    Sementara kebakaran lahan juga dilaporkan terjadi di sejumlah daerah. Di -rovinsi Aceh, kebakaran lahan perkebunan terjadi di Desa Alur Cincin, Kecamatan Pintu Rime Gayo, Kabupaten Bener Meriah, pada Jumat (12/6) pukul 16.32 WIB.

    BPBD Kabupaten Bener Meriah mengerahkan dua unit armada pemadam kebakaran dari posko 03 dan 04 untuk menangani kebakaran lahan seluas dua hektare.

    Baca: El Nino Diperkirakan Akan Menguat

    Api berhasil dipadamkan dalam waktu sekitar satu jam dan dilanjutkan dengan proses pendinginan. Penyebab kejadian masih dalam penyelidikan.

    Berdasarkan prakiraan cuaca Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sejumlah wilayah Indonesia mulai memasuki musim kemarau, sementara wilayah lainnya masih berpotensi mengalami hujan sedang hingga lebat yang disertai petir dan angin kencang.

    Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari menekankan pentingnya kesiapsiagaan pemerintah daerah dan masyarakat dalam menghadapi potensi bencana hidrometeorologi yang masih dapat terjadi di berbagai wilayah Indonesia.

    Masyarakat di wilayah rawan kekeringan diharapkan melakukan penghematan penggunaan air dan memanfaatkan sumber daya air secara bijak.

    Selain itu, warga diminta menghindari aktivitas yang dapat memicu kebakaran hutan dan lahan selama musim kemarau.