Tag: musim kemarau

  • 2 Bulan Musim Kemarau Terjadi 131 Kebakaran Hutan dan Lahan, Warga Diminta Waspada

    2 Bulan Musim Kemarau Terjadi 131 Kebakaran Hutan dan Lahan, Warga Diminta Waspada

    “Kita saat ini sudah mulai berada pada awal musim kemarau di bulan Juni. Yang diwaspadai ada dua yakni kebakaran hutan dan lahan serta kekeringan,” kata Muhari dalam diskusi disaster briefing yang diikuti secara daring di Jakarta, Senin (12/6/2023).
     
    Baca: Perubahan iklim sebabkan musim kemarau semakin kering
     
    Dilansir antaranews.com Grafik kejadian bencana sepekan selama 5-11 Juni 2023 tercatat ada 27 kejadian bencana, di mana tujuh di antaranya adalah kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di beberapa wilayah.
     
    Kebakaran hutan dan lahan antara lain terjadi di Sumatera, Bangka Belitung, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.
     

    Namun ia menyatakan ada variabilitas cuaca lokal yang secara umum terjadi musim kemarau tetapi juga berpotensi banjir, sehingga harus diperhatikan pemerintah daerah (pemda).
     
    “Kita musim kemarau iya, tetapi ada daerah-daerah yang potensi banjir juga, misalnya Kabupaten Bogor mengalami kekeringan, sedangkan Kota Depok banjir. Jadi dalam satu kawasan yang tidak terlalu luas, bisa terjadi dua fenomena yang sangat berlawanan,” tuturnya.
     

     

    Meski curah hujan sudah tidak terlalu tinggi, kata dia, tetapi bisa membantu mengurangi dampak kebakaran hutan dan lahan.
     
    “Misalnya ada kebakaran hutan dan lahan di Karo, Sumatera Utara, begitu meluas, ada hujan, itu terbantu, sehingga upaya-upaya pemadaman cepat terbantu oleh faktor alam,” kata Abdul Muhari.
     
    Untuk itu ia berharap tahun ini cuaca tidak terlalu kering, masih ada awan hujan sehingga ketika ada eskalasi dari kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan, masih bisa berharap awan hujan bisa memadamkan karhutla atau setidaknya menjaga sumber-sumber air.
     
    “Dalam jangka panjang kita harus mencari solusi-solusi permanen, misalnya preservasi air, karena ketika musim hujan bisa kita tahan di daerah-daerah resapan air dengan vegetasi yang cukup, sehingga saat musim kemarau, air ini kemudian bisa mengalir sehingga tetap bisa mengisi embung, waduk, dan daerah resapan air yang lain,” kata Muhari.
     

     

    Muhari mengingatkan pentingnya pencegahan agar tak terjadi kebakaran hutan dan lahan parah seperti tahun 2015, di mana kerugian negara ditaksir mencapai Rp116 triliun oleh Bank Dunia.

     

    “kebakaran hutan dan lahan secara umum akan meningkatkan emisi CO2, harus kita putus, dan melihat karhutla sebagai upaya sistematis, yang paling utama adalah pencegahan, jangan sampai ada api. Karena begitu apinya sudah menjalar akan sangat sulit memadamkan,” katanya.
     
    Hingga saat ini BNPB pun telah melakukan upaya modifikasi cuaca dengan hujan buatan untuk menjaga daerah resapan air agar tidak kering.

  • BRIN Perkirakan Bulan Oktober Puncak Suhu Panas Ekstrim  

    BRIN Perkirakan Bulan Oktober Puncak Suhu Panas Ekstrim  

     

    7cloud.asia – Musim kemarau masih melanda sejumlah wilayah di Indonesia. Diperkirakan suhu panas ekstrim mencapai puncaknya pada Oktober ini.

    Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Iklim dan Atmosfer pada BRIN (Badan Riset dan Inovesi Nasional), Eddy Hermawan menjelaskan normalnya musim kemarau terjadi pada Juni sampai Agustus.

    Tetapi adanya pengaruh fenomena El Nino dan Indian Ocean Dipole (IOD) bergeser ke Oktober.

    “Sekarang El Nino positif dan IOD juga positif, keduanya mencapai puncak sekitar Oktober 2023,” kata Eddy seperti dikutip Antaranews.

    Baca: Warga diminta waspada, kamarau panjang bisa picu kebakaran hutan

    Kedua fenomena osilasi suhu air permukaan laut–El Nino di Samudera Pasifik dan IOD di sebelah barat Samudera Hindia—berdampak cukup masif pada Indonesia dan negara lainnya di garis khatulistiwa.

    Karena itu, lanjut Eddy, beberapa daerah di Indonesia diprediksi mengalami suhu panas ekstrem, di antaranya Kota Surabaya dengan suhu tertinggi diprediksi mencapai 43 derajat Celcius.

    Suhu panas ekstrem juga diperkirakan terjadi di Kota Semarang mencapai 40 derajat Celcius, dan Jakarta dengan suku udara maksimum 37 derajat Celcius pada pertengahan Oktober 2023.

    Baca: Sebagian wilayah di Indonesia sudah masuki musim hujan

    Eddy menjelaskan semua uap air dan awan hujan ditarik ke arah utara dan barat karena pusat tekanan rendah berada di Samudera Pasifik dan sebelah barat Samudera Hindia tempat terjadinya El Nino dan IOD.

    Kondisi itu membuat Indonesia yang terletak di antara kedua fenomena tersebut mengalami musim kering yang cenderung panjang.

    “Saya berharap Oktober 2023 adalah akhir dari cerita kemarau terik. El Nino dan IOD diprediksi menuju fase netral pada akhir Februari atau awal Maret 2024,” harapnya.

    Baca: BRIN sebut El Nino akan berlangsung hingga Mei 2024

    Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan Cilacap adalah daerah yang saat ini mengalami kekeringan ekstrem karena lebih dari 60 hari tidak hujan.

    Sejumlah kecamatan di Cilacap yang mengalami kekeringan ekstrem diantaranya Kecamatan Majenang, Wanareja, Cimanggu, Cipari, dan Karangpucung.

    Sedangkan wilayah lainnya masuk kategori menengah hingga sangat panjang atau 11-60 hari tidak hujan.

    Reporter: Nurakhmayani

  • BMKG: Musim Kemarau Berlangsung hingga Akhir Oktober

    BMKG: Musim Kemarau Berlangsung hingga Akhir Oktober

    7cloud.asia – Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati memperkirakan transisi musim kemarau menuju musim hujan baru dimulai bulan November mendatang.

    Berdasarkan pantauan data satelit terkini, BMKG memperkirakan puncak musim kemarau yang sebelumnya diprediksi terjadi September, nyatanya masih berlangsung hingga akhir Oktober.

    “BMKG melihat Oktober ini nampaknya belum turun, jadi puncak (musim kemarau, red) ini masih bertahan diprediksi sampai akhir Oktober dan bulan November mulai terjadi transisi dari musim kemarau ke musim hujan,” kata Dwikorita usai mengikuti ratas membahas El Nino di Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (3/10/2023)

    Baca: Penjelasan BMKG soal cuaca terik beberapa hari ini

    Dwikorita menjelaskan, meski hujan diprediksi mulai turun pada November mendatang, fenomena cuaca El Nino masih berlangsung diprediksi sampai akhir tahun.

    Adanya angin monsun dari arah Asia yang mulai masuk Indonesia pada November menjadi penyebab hujan diperkirakan bisa turun pada waktu tersebut.

    Artinya, fenomena cuaca El Nino masih berlangsung, namun pengaruhnya mulai tersapu oleh hujan, sehingga diharapkan musim kemarau secara bertahap akan berkurang.

    Baca: BMKG ingatkan potensi kebakaran hutan di berbagai wilayah

    Fenomena El Nino diperkirakan masih berlangsung hingga akhir tahun dan baru melemah bulan Februari-Maret mendatang.

    Oleh karena itu, BMKG mengimbau masyarakat untuk tidak memicu hal-hal yang dapat mengakibatkan kebakaran karena puncak kemarau kering masih berlangsung selama Oktober.

    “Jadi jangan mencoba-coba untuk dengan sengaja atau tidak sengaja mengakibatkan nyala api, karena pemadamannya akan sulit untuk dilakukan,” kata Dwikorita.

    Sumber: Antaranews

  • BMKG: Meski Telah Memasuki Musim Kemarau Hujan Masih Berpotensi Terjadi hingga September

    BMKG: Meski Telah Memasuki Musim Kemarau Hujan Masih Berpotensi Terjadi hingga September

    7cloud.asia – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebutkan, hingga akhir tahun potensi hujan masih tinggi di sejumlah wilayah Indonesia.

    BMKG memperkirakan hujan masih akan terjadi di sejumlah daerah setidaknya hingga bulan September, meskipun juga sudah mulai memasuki musim kemarau.

    Deputi Meteorologi BMKG Guswanto dalam keterangan di Jakarta, Senin (4/6/2024), mengatakan bahwa potensi peningkatan hujan dipicu oleh adanya beberapa dinamika atmosfer yang masih aktif berada di wilayah Indonesia.

    Hujan juga dipicu fenomena Madden Julian Oscillation (MJO), gelombang ekuatorial Rossby Kelvin, hingga pola sirkulasi siklonik dan potensi pembentukan daerah belokan dan perlambatan angin.

    Baca Juga: BMKG: Musim Kemarau 2024 Bakal Mundur

    Kombinasi pengaruh fenomena-fenomena tersebut diprakirakan tim meteorologi BMKG dapat menimbulkan potensi hujan berintensitas sedang-lebat yang disertai kilat/petir angin kencang.

    Bahkan, kata dia, kondisi demikian bisa juga menimbulkan dampak cuaca ekstrem kebencanaan hidro-meteorologi yang meliputi banjir, banjir bandang, banjir lahar hujan, tanah longsor dan seterusnya.

    Meskipun, di saat yang bersamaan Indonesia mulai dilanda musim kemarau kering pada medio bulan Juni – September 2024.

    Baca Juga: El Nino Berlalu, Indonesia Kini Bersiap Hadapi La Nina pada Juli Mendatang

    BMKG mencatat, dalam 24 jam terakhir tercatat adanya intensitas hujan sedang hingga lebat di beberapa wilayah di Indonesia.

    Hujan sedang hingga lebat masing-masing teramati BMKG mulai dari Pulau Jawa meliputi wilayah Jawa Tengah (Kota Semarang dengan intensitas 104,4 mm/hari).

    Juga wilayah Kalimantan meliputi wilayah Kalimantan Barat (Kabupaten Sambas hujan berintensitas 103,0 mm/hari).

    Baca Juga: WMO: Transisi Cepat dari El Nino ke La Nina Bakal Memicu Musim Badai

    Pulau Sumatera meliputi Sumatera Utara (Silangit, Tapanuli Utara berintensitas 57,3 mm/hari) dan Kepulauan Riau wilayah Tanjung Pinang berintensitas 50.8 mm/hari.

    Pulau Papua dan Maluku (meliputi wilayah Kabupaten Sarmi berintensitas 94,0 mm/hari dan Kota Ambon berintensitas 69,9 mm/hari).

    Sedangkan Sulawesi meliputi Sulawesi Tengah di Kabupaten Toli-toli berintensitas 61,1 mm/hari.

    Sumber:Antaranews.com

  • Hujan Deras Masih Terus Terjadi, Kapan Indonesia Memasuki Musim Kemarau?

    Hujan Deras Masih Terus Terjadi, Kapan Indonesia Memasuki Musim Kemarau?

    7cloud.asia – Musim hujan yang melanda Indonesia sejak akhir tahun 2024 telah membawa dampak signifikan, terutama di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek).

    Baru-baru ini banjir besar melanda Jabodetabek akibat curah hujan tinggi dari daerah hulu. Selain banjir, hujan deras juga menyebabkan tanah longsor di beberapa lokasi.

    Dengan situasi hujan yang masih sering terjadi seperti saat ini, banyak orang bertanya-tanya kapan Indonesia akan memasuki musim kemarau 2025?

    Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, menginformasikan bahwa hujan masih akan berlangsung hingga akhir Maret 2025. Sedangkan peralihan musim diperkirakan akan terjadi pada April 2025

    Namun, dia menekankan bahwa durasi hujan akan semakin singkat seiring dengan peralihan menuju musim kemarau.

    Baca: Cuaca Ekstrem Makin Sering Terjadi Akibat Krisis Iklim

    “Pada 10 hari terakhir Maret, masih ada kemungkinan hujan, bahkan hujan lebat. Namun, durasinya lebih pendek dibandingkan dengan awal bulan,” ungkapnya yang dikutip dari Kompas.com pada Kamis (6/3/2025).

    Dwikorita juga mencatat bahwa intensitas hujan akan semakin menurun pada sepuluh hari terakhir bulan Maret, seiring dengan transisi menuju musim kemarau pada April 2025.

    Meskipun pada masa peralihan musim, yang sering disebut sebagai pancaroba, intensitas hujan cenderung melemah, dia tetap memperingatkan bahwa hujan lebat atau ekstrem dengan durasi pendek masih mungkin terjadi.

    Dalam menghadapi peralihan musim ini, masyarakat diharapkan tetap waspada dan mempersiapkan diri untuk kemungkinan cuaca ekstrem yang dapat terjadi.

    Sementara, Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menjelaskan bahwa Indonesia diprediksi akan memasuki musim kemarau pada Mei 2025.

     

    Baca: Perubahan Iklim Memicu Kekeringan dan Krisis Air Global

    Menurutnya, awal musim kemarau tidak akan terjadi secara bersamaan di seluruh daerah. Puncak Musim Kemarau 2025 Tidak Serempak, Terjadi Juni-Agustus

    “Biasanya, musim kemarau mulai dari timur Indonesia, seperti Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat, kemudian berlanjut ke Jawa,” ungkap Ardhasena dalam wawancara dengan Kompas.com pada Kamis (6/3/2025).

    Puncak musim kemarau diperkirakan akan berlangsung pada bulan Agustus dan September, dengan kemungkinan berakhirnya musim kemarau pada Oktober atau November, sebelum kembali memasuki musim hujan.

    Ardhasena juga menjelaskan bahwa musim kemarau di Indonesia umumnya dipengaruhi oleh angin Monsun Timur yang berasal dari tengara atau Australia.

    Angin muson timur memiliki sifat kering dan berpotensi mendorong pertumbuhan awan menjauh dari Indonesia. Hal ini dapat menyebabkan kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di setiap musim kemarau.

     

  • BMKG Ingatkan Potensi El Nino pada 2026, Masyarakat Diimbau Bersiap Hadapi Kekeringan

    BMKG Ingatkan Potensi El Nino pada 2026, Masyarakat Diimbau Bersiap Hadapi Kekeringan

    7cloud.asia – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan adanya potensi fenomena anomali iklim El Nino yang akan melanda Indonesia pada tahun 2026 ini.

    Dalam konferensi pers yang digelar Rabu (4/3/2026) BMKG telah merilis prediksi terbaru musim kemarau tahun 2026 yang diperkirakan akan datang lebih awal, dengan sifat yang lebih kering dari normalnya, serta akan berlangsung lebih lama.

    Sementara itu, La Nina lemah yang melanda Indonesia sejak Oktober 2025 lalu dikonfirmasi telah berakhir pada bulan Februari 2026.

    Deputi bidang Klimatologi BMKG Ardhasena mengingatkan, mengacu pada prediksi terbaru ini maka semua pihak untuk menetapkan langkah-langkah dan program mitigasi, antisipasi, serta serta pijakan jangka panjang untuk berbagai sektor yang terdampak iklim.

    “Mengenai perkembangan El Nino-Southern Oscillation (ENSO) 2026. El Nino pada saat ini berada dalam fase Netral atau ENSO berada dalam fase Netral. Dan, El Nino berpeluang terjadi mulai di pertengahan tahun 2026,” katanya dalam konferensi pers BMKG: Update Prediksi Musim Kemarau 2026 di Indonesia yang dipantau di kanal Youtube BMKG, Kamis (5/3/2026).

    Baca: Pentingnya merawat sistem pangan lokal atasi dampak El Nino

    “Pemantauan yang dilakukan BMKG terhadap anomali iklim global di Samudra Pasifik menunjukkan bahwa pada Februari 2026, fenomena La Nina lemah telah berakhir. Dan kondisi ENSO sekarang berada pada fase Netral dengan indeks -0,28,” paparnya.

    Sementara dari pemantauan suhu muka laut di Samudra Hindia, lanjutnya, menunjukkan kondisi Indian Ocean Dipole (IOD) Netral dengan indeks +0,4.

    Ardhasena menjelaskan, kondisi Netral ENSO diprediksi akan berlangsung hingga Juni 2026. ENSO merupakan fenomena iklim yang berperan besar terhadap cuaca dan iklim dunia, termasuk Indonesia.

    “Selanjutnya mulai pertengahan tahun 2026, menurut prediksi kami menyatakan terdapat peluang sebesar 50-60 persen terjadi El Nino dengan kategori Lemah-Moderat,” ucap Ardhasena.

    “Sementara kondisi Indian Ocean Diploe diprediksi tetap Netral sepanjang tahun 2026,” tambahnya.

    Baca: Perubahan iklim membuat prediksi La Nina dan El Nino makin sulit dilakukan

    El Nino terjadi ketika suhu permukaan laut di Pasifik Tengah Ekuator lebih hangat dari biasanya, yang dapat mengurangi curah hujan di Indonesia, terutama jika suhu perairan Indonesia dingin.

    Hal ini mengakibatkan awan yang mengandung air hujan menjauh dari wilayah Indonesia sehingga risiko terjadi kekeringan meningkat

    Ardhasena memaparkan, awal musim kemarau di Indonesia untuk tahun 2026 pada umumnya terkait erat dengan peralihan Angin Baratan atau Monsun Asia menjadi Angin Timuran atau yang dikenal sebagai Monsun Australia.

    Dipaparkan, dari 699 Zona Musim (ZOM) di Indonesia, terdapat 144 ZOM atau 16,3 persendari ZOM keseluruhan, akan memasuki musim kemarau pada bulan April 2026.

    Kondisi ini meliputi Pesisir Utara Jawa bagian Barat, sebagian besar Jawa Tengah hingga Jawa Timur, sebagian kecil Bali, sebagian besar Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), sebagian kecil Kalimantan Selatan, dan sebagian kecil Sulawesi Selatan.

    Baca: Perubahan iklim memaksa tumbuhan lebih sering “berpuasa”

    Sementara itu, sebanyak 184 ZOM atau 26,3 persen dari total ZOM, diprediksi memasuki musim kemarau di bulan Mei 2026.

    Ini meliputi, sebagian Sumatra, Jawa bagian Barat, sebagian kecil Jawa Tengah hingga Jawa Timur, Bali, sebagian kecil NTB, Kalimantan bagian Selatan, sebagian kecil Sulawesi, sebagian kecil Maluku, dan sebagian Pulau Papua.

    Dan, sebanyak 163 ZOM atau 23,3 persen dari keseluruhan ZOM diprediksi mulai masuk musim kemarau pada bulan Juni 2026. Yang meliputi sebagian besar Sumatra, sebagian kecil Jawa, sebagian besar Kalimantan, sebagian Sulawesi, sebagian Maluku, dan sebagian kecil Pulau Papua.

    Jika dibandingkan dengan kondisi rata-rata klimatologi sebagai base line-nya, awal musim kemarau 2026 yang akan kita hadapi ini diprediksi maju. Itu di sebanyak 46,5 persen dari keseluruhan Zona Musim atau 325 Zona Musim.

    “Sama dengan kondisi normalnya, yaitu di sekitar 173 Zona Musim atau 24,7 persen. Dan mundur di sebanyak 72 Zona Musim atau 10,3 persen dari keseluruhan Zona Musim,” papar Ardhasena.

    “Selanjutnya, mengenai sifat hujan musim kemarau 2026 ini secara umum kami prediksi bersifat bawah normal atau lebih kering dari biasanya,” sambungnya.

  • Musim Kemarau 2026 Lebih Kering dan Lebih Lama, Ini Rekomendasi BMKG

    Musim Kemarau 2026 Lebih Kering dan Lebih Lama, Ini Rekomendasi BMKG

    7cloud.asia – Dalam konferensi pers yang digelar Rabu (4/3/2026) Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah merilis prediksi terbaru musim kemarau tahun 2026 yang diperkirakan akan datang lebih awal, dengan sifat yang lebih kering dari kondisi normal.

    Dalam kesempatan itu, Deputi bidang Klimatologi BMKG Ardhasena mengingatkan, adanya potensi fenomena anomali iklim El Nino yang akan melanda Indonesia pada tahun 2026.

    Fenomena ini, menurut Ardhasena, akan membuat musim kemarau 2026 lebih kering dan berlangsung lebih lama.

    Sejumlah daerah di Indonesia mulai memasuki musim kemarau pada April 2026, mencakup pesisir utara Jawa bagian barat, sebagian besar Jawa Tengah hingga Jawa Timur, NTB, NTT, serta sebagian kecil Kalimantan dan Sulawesi.

    Baca: BMKG ingatkan potensi El Nino pada 2026

    Sementara puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada bulan Agustus 2026 yang mencakup 429 ZOM atau sekitar 61,4 persen wilayah Indonesia. Wilayah lain akan mengalami puncak kemarau pada Juli (12,6 persen) dan September (14,3 persen).

    “BMKG mengimbau agar informasi Prediksi Musim Kemarau 2026 ini dapat dijadikan sebagai bentuk peringatan dini atau early warning dan dapat dimanfaatkan oleh pemangku kepentingan untuk aksi dini atau early action,” kata Ardhasena.

    Untuk mengantisipasi musim kemarau 2026 yang diperkirakan akan berlangsung lebih lama, BMKG menyampaikan sejumlah rekomendasi baik kepada Kementerian dan Lembaga, Pemerintah Daerah, institusi terkait, maupun masyarakat.

    “Untuk sektor pangan agar dapat menyesuaikan jadwal tanam dan memilih varietas tanaman yang membutuhkan lebih sedikit air, lebih tahan kekeringan, dan siklus tanam lebih pendek,” ujar Ardhasena.

    Baca: Pentingnya sistem pangan lokal saat terjadi El Nino

    Sedangkan untuk sektor sumber daya air, melakukan revitalisasi waduk, memperbaiki jaringan distribusi air, serta memastikan ketersediaan air untuk kebutuhan masyarakat pada periode musim kemarau.

    Di sektor energi, BMKG mengimbau agar pihak terkait memastikan kapasitas air bendungan cukup memadai untuk operasional PLTA.

    Di sektor lingkungan, Pemerintah Daerah diminta menyiapkan mekanisme respons cepat untuk antisipasi kemungkinan penurunan kondisi kualitas udara.

    “Yang terakhir untuk sektor kehutanan dan kebencanaan, kita perlu kesiapsiagaan terhadap potensi kekeringan dan terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada musim kemarau yang akan datang,” ucap Ardhasena.

     

  • ASMC Perkirakan Suhu di Atas Normal Akan Melanda Sebagian Besar Wilayah Indonesia pada Maret-Mei 2026

    ASMC Perkirakan Suhu di Atas Normal Akan Melanda Sebagian Besar Wilayah Indonesia pada Maret-Mei 2026

    7cloud.asia – Menurut tinjauan musiman ASMC (ASEAN Specialised Meteorological Centre), suhu di atas normal diprediksi akan melanda sebagian besar wilayah Indonesia selama periode Maret hingga Mei 2026

    Menurut laporan, probabilitas atau kemungkinan kejadian mencapai 80 hingga 100 persen. hal ini terutama karena datangnya musim kemarau yang lebih awal.

    Meskipun puncak suhu secara pasti belum dapat diprediksi, suhu tertinggi pada bulan April yang biasanya berkisar 33°C berpotensi mencapai 35 hingga 37°C di dataran rendah.

    Wilayah yang paling terdampak cukup luas, dimulai dari dataran rendah di Indonesia dan Malaysia seperti Jawa, Sumatra, dan sebagian Kalimantan.

    Baca: BMKG ingatkan potensi El Nino pada 2026

    Dilansir di laman resmi asmc.asean.org, untuk bulan Maret 2026, curah hujan di bawah normal diprediksi untuk sebagian wilayah tengah dan barat Benua Maritim (lautan yang ditaburi pulau-pulau).

    Sementara curah hujan di atas normal diprediksi untuk wilayah timur laut Benua Maritim.

    Untuk Maret – Mei 2026, curah hujan di atas normal diprediksi akan berlanjut, bersamaan dengan curah hujan di bawah normal untuk sebagian besar wilayah Benua Maritim lainnya.

    Kondisi La Niña diprediksi akan melemah pada Februari 2026 dan beralih ke kondisi netral ENSO pada Maret 2026. Suhu di atas normal diprediksi untuk sebagian besar wilayah ASEAN untuk periode Maret-Mei 2026.

    Baca: Pemanasan global membuat La Nina dan El Nino makin sulit diprediksi

    Dalam kondisi kering yang berlaku, aktivitas titik panas dan kabut asap di wilayah ASEAN utara kemungkinan akan tetap tinggi, dengan peningkatan risiko terjadinya kabut asap lintas batas.

    Kondisi ini terutama di bagian barat laut sub-wilayah Mekong di mana curah hujan diprediksi akan di bawah normal.

    Meskipun secara keseluruhan aktivitas titik panas kemungkinan akan tetap rendah di bawah kondisi cuaca basah yang berlaku di wilayah ASEAN selatan, aktivitas titik panas mungkin masih meningkat.

    Potensi ini disertai dengan perkembangan gumpalan asap, selama fase kering kondisi Monsun Timur Laut, khususnya di daerah-daerah yang diprediksi mengalami curah hujan di bawah normal.

  • Memasuki Musim Kemarau, Warga Sumatera Utara Diminta Waspadai Potensi Kebakaran Lahan

    Memasuki Musim Kemarau, Warga Sumatera Utara Diminta Waspadai Potensi Kebakaran Lahan

    Titi


    7cloud.asiaBadan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebutkan, memasuki musim kemarau, jumlah  titik panas di Sumatera Utara (Sumut) terpantau bertambah. 

    Dalam pernyataan yang dirilis Selasa (24/3/2026) BMKG menyebutkan bahwa jumlah titik panas bertambah 18 titik menjadi 33 dari sehari sebelumnya yang hanya 15 titik.

    Sebanyak 33 titik panas tersebut terpantau berada di Deli Serdang, Dairi, Karo, Labuhanbatu, Mandailing Natal, Padang Lawas, Samosir, Serdang Bedagai, dan Toba

    “Titik panas tersebut terpantau berdasarkan pantauan sensor medis, yakni Satelit Tera, Aqua, SNPP, dan NOAA20,” kata Prakirawan BBMKG wilayah I Juliana di Kota Medan, Selasa (24/3/2026) seperti dikutip dari Antaranewa.com.

    Terkait hal tersebut BMKG mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran lahan mengingat sebagian wilayah Sumatera saat ini mulai memasuki musim kemarau.

    Kepada masyarakat yang berada di beberapa wilayah yang memiliki suhu cukup tinggi dan titik panas, lanjut dia, diimbau untuk tidak membuka lahan dengan cara dibakar atau meninggalkan api di lahan lahan kosong dan kering agar tidak menyebabkan kebakaran hutan dan lahan.

    Sementara sebelumnya Prakirawan Stasiun Meteorologi Kelas II Maritim Belawan Dasmian Sulviani menyebutkan sejumlah perairan di Sumatera Utara dari 24 hingga 26 Maret 2026 masih berpotensi diterjang gelombang setinggi 1,15 hingga 2,5 meter.

    Pola angin di wilayah Sumatera bagian utara umumnya bergerak dari tenggara hingga barat daya dengan kecepatan angin berkisar 6-25 knot.

    Gelombang tinggi berpotensi terjadi di perairan barat Kepulauan Batu, Samudra Hindia barat Kepulauan Nias, perairan barat Kepulauan Nias dan perairan timur Kepulauan Nias.

     

     

  • Warga Jakarta Diminta Mewaspadai Cuaca Panas Ekstrem Saat Musim Kemarau

    Warga Jakarta Diminta Mewaspadai Cuaca Panas Ekstrem Saat Musim Kemarau

    7cloud.asia – Menurut tinjauan musiman ASMC (ASEAN Specialised Meteorological Centre), suhu di atas normal atau cuaca panas ekstrem diprediksi akan melanda sebagian besar wilayah Indonesia selama periode Maret hingga Mei 2026.

    Cuaca panas ekstrem ini sudah berlangsung sejak beberapa hari menjelang Lebaran 2026 atau saat memasuki musim kemarau. Bahkan, suhu udara di Jakarta sempat mencapai 35,6°Celcius.

    Menyikapi cuaca panas ekstrem ini, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta melalui Dinas Kesehatan meminta masyarakat untuk mewaspadai dampak suhu panas tinggi yang terjadi dalam beberapa hari terakhir.

    Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Ani Ruspitawati mengatakan, terdapat sejumlah masalah kesehatan yang perlu diwaspadai selama periode cuaca panas ekstrem ini.

    Di antaranya heat stroke yang merupakan kondisi darurat medis dengan gejala suhu tubuh tinggi, kulit panas dan kering, serta kebingungan.

    Selain itu, heat exhaustion dengan gejala pusing, mual, sakit kepala, kram otot, dan keringat berlebih juga perlu diantisipasi.

    Baca: Suhu di atas normal bakal landa sebagian besar wilayah Indonesia

    Dehidrasi berat akibat berkurangnya cairan tubuh secara drastis dapat memicu gangguan ginjal akut.

    Tidak hanya itu, panas ekstrem juga dapat menekan kerja jantung sehingga memperburuk penyakit kardiovaskular dan diabetes, serta menyebabkan iritasi kulit seperti ruam panas dan meningkatkan risiko kanker kulit.

    “Dinas Kesehatan DKI Jakarta mengimbau masyarakat untuk menjaga kondisi tubuh saat cuaca panas untuk mencegah gangguan kesehatan,” ujarnya, Kamis (19/3).

    Dinas Kesehatan DKI Jakarta menginformasikan bahwa suhu tinggi dapat berdampak langsung terhadap kondisi kesehatan masyarakat, terutama kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, serta pekerja luar ruangan.

    Terkait pola konsumsi selama cuaca panas, Dinas Kesehatan DKI Jakarta meminta masyarakat untuk memperhatikan asupan cairan terutama di bulan puasa. Menurutnya, air putih tetap menjadi pilihan utama karena cepat diserap tubuh dan aman dikonsumsi.

    Selain itu, larutan rehidrasi oral atau oralit dapat digunakan untuk menggantikan elektrolit yang hilang, terutama saat dehidrasi sedang hingga berat.

    Baca: BMKG ingatkan potensi El Nino pada 2026

    Alternatif lainnya adalah air kelapa yang mengandung elektrolit alami dan menyegarkan, serta minuman isotonik yang mengandung elektrolit dan sedikit gula untuk membantu pemulihan energi setelah aktivitas berat.

    “Jus buah tanpa tambahan gula juga dapat menjadi pilihan karena mengandung air dan vitamin yang membantu hidrasi ringan,” tandasnya.

    Berikut beberapa langkah pencegahan menghindari gangguan kesehatan akibat paparan panas:

    • Menghindari paparan panas terutama pada pukul 10.00 hingga 14.00;

    • Menggunakan topi atau payung saat berada di luar ruangan;

    • Mengenakan pakaian berbahan ringan dan longgar;

    • Disarankan menggunakan tabir surya minimal SPF 30 pada kulit yang tidak tertutup pakaian sebelum keluar rumah;

    • Minum air putih minimal dua liter per hari;

    • Konsumsi buah segar yang banyak mengandung air;

    • Kembalikan cairan tubuh yang hilang dengan minuman berelektrolit.

    Foto: wikipedia

    Baca: Prediksi La Nina dan El Nino makin sulit dilakukan