7cloud.asia – Berbagai proyek pemerintah seperti kawasan industri maupun pembangunan jalan tol Semarang-Demak mengancam ruang tangkap nelayan di pesisir Pantura terutama di Semarang, Jawa Tengah.
Hal ini diungkapkan Manager Advokasi dan Kampanye Eksekutif Daerah WALHI Jawa Tengah, Iqbal Alma acara gelar wicara dalam peluncuran program Kawasan Pemulihan Pesisir (KPP) di Desa Tambakrejo, Kecamatan Gayamsari, Kota Semarang, Jawa Tengah, pada Kamis (27/2/2025).
Dilansir di laman resmi walhi.or.id, Iqbal menjelaskan proyek pemerintah ini telah menciptakan krisis lokal seperti mempersempit akses ruang tangkap nelayan, hilangnya ekosistem mangrove.
Selain itu juga menurunnya kualitas pesisir karena sampah dan limbah dan memperparah krisis iklim dan memperparah krisis iklim. Kondisi itu, selanjutnya berpengaruh dengan pendapatan ekonomi nelayan.
Kondisi ini antara lain terjadi di Tambakrejo, Semarang. Walhi mencatat perbedaan ekonomi nelayan cukup mencolok antara rentang tahun 2000-2017, nelayan bisa mengantongi penghasilan Rp300ribu-Rp400ribu perhari.
Baca: Harus ada kebijakan yang memihak nelayan yang terdampak krisis iklim
Pendapatan ini bersumber dari tambak ikan bandeng, tangkapan ikan, kepiting, dan udang. Kondisi yang sama juga terjadi di Desa Sengon (Batang) dan Bedono (Demak).
“Rentang tahun 2017-sekarang, pendapatan nelayan Rp50ribu sampai Rp100ribu perhari dengan usaha pilihan nelayan hanya kerang hijau,” jelasnya.
Sittatun, warga Tambakrejo menceritakan bagaimana krisis iklim berdampak pada tempat tinggalnya, yang cukup mengganggu aktivitas hidup sehari-hari.
Waktu demi waktu, di tahun 2000 itu sudah mulai terasa rob yang masuk ke wilayah mereka. Setiap hari wilayah tempat warga tinggal tergenang air rob. Bahkan sampai setinggi lutut orang dewasa.
“Wilayah kami juga mengalami penurunan tanah yang begitu cepat, jadi setiap lima tahun sekali kami harus meninggikan rumah, dengan biaya yang tidak sedikit,” ujar Sittatun.
Baca: Nasib nelayan terombang-ambing dampak krisis iklim
Sittatun mengaku sangat terbantu oleh adanya program dari DMC Dompet Dhuafa dan WALHI dan berharap warga Tambakrejo semakin kuat untuk tetap bertahan dan beradaptasi pada perubahan iklim.
Dilansir walhi.or.id, Kawasan Pemulihan Pesisir ini diluncurkan oleh ID Humanity Dompet Dhuafa melalui Disaster Management Center (DMC) dan Eksekutif Daerah WALHI Jawa Tengah.
Lokus program KPP di pesisir utara Jawa Tengah ini mencakup tiga daerah, di antaranya Tambakrejo, Bedono dan Batang. Kawasan pesisir di tiga daerah tersebut mengalami degradasi lingkungan yang cukup parah akibat krisis iklim.
Keberadaan aktivitas industri dari berbagai perusahaan besar yang memancang ruang operasi produksinya di kawasan pesisir memperburuk keadaan yang sudah buruk.
Program KPP ini ditujukan untuk mengatasi persoalan degradasi lingkungan tersebut, terutama memulihkan ekosistem pesisir, dan mendorong masyarakat pesisir sebagai terdampak mampu beradaptasi dari perubahan ruang hidupnya akibat krisis iklim.
Baca: Penambangan pasir laut membuat nelayan makin susah menangkap ikan
Ahmad Baikhaki, Kepala Bagian Lingkungan DMC Dompet Dhuafa menjelaskan program KPP ini merupakan bentuk kontribusi dari DMC Dompet Dhuafa dalam pemulihan ekosistem pesisir yang mengalami krisis iklim dan berdampak pada kehidupan warga pesisir.
Menurut Baikhaki, krisis iklim punya daya rusak yang sama besar terhadap kehidupan warga pesisir sebagaimana daya rusak yang disebabkan bencana alam terhadap kehidupan manusia secara langsung.
Suatu wilayah yang terdampak krisis iklim punya jenis bencana yang pelan-pelan terjadi dan kemudian sekian tahun baru terasa, misal bencana itu seperti banjir rob, abrasi dan lain sebagainya.
“Kalau di laut itu misalnya cuaca ekstrem semakin sering terjadi,” ucap Baikhaki dalam acara peluncuran program KPP.
DMC Dompet Dhuafa dalam program KPP ini, lanjutnya, berkontribusi terhadap pemulihan pesisir utara Jawa. Dalam hal ini kontribusinya ada di aspek lingkungan, yaitu bagaimana memulihkan ekosistem mangrove.
Baikhaki mengatakan dengan terjaganya ekosistem mangrove di pesisir mampu menciptakan kembali habitat hewan-hewan laut. Hal ini menjadi ihwal positif untuk penghidupan nelayan.








