Tag: pariwisata

  • Kegiatan Pariwisata di Karimunjawa Memicu Degradasi Lingkungan

    Kegiatan Pariwisata di Karimunjawa Memicu Degradasi Lingkungan

    7cloud.asia – Kawasan kepulauan seperti Karimunjawa memiliki potensi besar, namun juga menghadapi tantangan pembangunan yang kompleks dan tidak merata, baik secara ekonomi maupun ekologis.

    Penelitian yang dilakukan mahasiswa Universitas Gadjah Mada dalam Kuliah Kerja Lapangan di Karimunjawa menemukan adanya sejumlah masalah yang muncul akibat kegiatan pariwisata di Kepulauan Karimunjawa.

    Kajian selama lima hari ini, mahasiswa UGM menemukan bahwa terjadi kesenjangan antara pelaku usaha wisata dan masyarakat sektor tradisional seperti nelayan di Karimunjawa.

    Selain itu, meningkatnya aktivitas pariwisata turut memperparah degradasi lingkungan, seperti kerusakan terumbu karang,” ujar Freya Alif Maretha, salah satu mahasiswa yang terlibat penelitian

    Sejumlah Hasil kajian dari para mahasiswa UGM ini dipaparkan dalam SDGs Seminar Series ke-112 oleh Fakultas Geografi UGM untuk dievaluasi kembali oleh audiens dengan mengangkat tema “Archipelago Development: Dilema Pengembangan Pariwisata, Konservasi, dan Kesejahteraan Masyarakat di Karimunjawa.” yang dilaksanakan secara daring pada Senin (16/6/2025).

    Pulau Karimunjawa merupakan salah satu objek tujuan wisata yang terletak di perairan Laut Jawa dengan jarak 77,2 kilometer dari Kabupaten Jepara, Jawa Tengah.

    Baca: Transportasi jadi kendala pengembangan pariwisata Maluku

    Potensi wisata taman laut dan keindahan pulau yang terdapat pada Pulau Karimunjawa menjadikannya sebagai salah satu wisata bahari di Indonesia dengan potensi wisata bahari seluas 110.000 hektar dan potensi daratan seluas 1.500 hektare.

    Selain keindahan pulau yang menjadi daya tarik bagi wisatawan domestik maupun mancanegara, Karimun Jawa merupakan rumah bagi bagi terumbu karang, hutan bakau, hutan pantai, serta hampir 400 spesies fauna laut.

    Dengan keindahan terumbu karang dan keanekaragaman fauna lautnya, menjadikan snorkeling sebagai kegiatan yang digemari wisatawan untuk melihat keindahan isi laut Karimun Jawa.

    Keindahan dan kekayaan alam laut yang beraneka ragam, maka oleh Pemerintah Jepara menetapkan Pulau Karimun Jawa sebagai sebagai Taman Nasional Laut yang dilindungi dan dilestarikan. 

    Namun demikian, keberadaan berbagai aktivitas manusia yang dilakukan dalam memanfaatkan sumber daya alam laut yang ada di Karimunjawa berpotensi memicu kerusakan terumbu karang.

    Kondisi ini selanjutnya akan mengancam keberlangsungan pariwisata bahari Taman Nasional Karimunjawa.

    Baca: Candi Borobudur cerminkan tiga tahapan pencapaian manusia

    Kegiatan itu seperti kegiatan konservasi, kegiatan penangkapan ikan, budidaya ikan kerapu, budidaya rumput laut, wisata laut (snorkeling), transportasi laut, dan pemanfaatan lahan (pulau),

    Aktivitas masyarakat tersebut dapat menyumbang fosfat, nitrat, dan mikroplastik ke lingkungan perairan. 

    Kegiatan manusia yang tinggi dapat menurunkan kualitas perairan akibat masuknya limbah ke perairan Karimunjawa. Limbah yang berasal dari kawasan penduduk, pertanian, peternakan, perikanan dan industri dapat menjadi sumber pencemaran akibat kandungan zat nutrien fosfat dan nitrat.

    Lepasnya nutrien fosfat dan nitrat ke lingkungan perairan dengan jumlah yang berlebihan dapat memicu terjadinya eutrofikasi.

    Proses eutrofikasi merupakan meningkatnya kesuburan air yang berlebihan, dimana hal ini disebabkan oleh masuknya nutrien dalam badan air dalam jumlah berlebihan sehingga mengakibatkan pertumbuhan alga secara pesat.

    Hal ini kemudian diikuti dengan menurunnya kadar oksigen terlarut akibat pemanfaatan oksigen yang berlebihan untuk mendekomposisi (mengurai) bahan organik. 

    Baca: Pengelolaan Kaldera Toba Geopark

  • Dampaknya Berlipat Ganda, Kalimantan Utara Didorong Kembangkan Sektor Pariwisata

    Dampaknya Berlipat Ganda, Kalimantan Utara Didorong Kembangkan Sektor Pariwisata

    7cloud.asia – Anggota Komisi VII DPR Muhammad Hatta menegaskan bahwa sektor pariwisata memiliki nilai ekonomi yang sangat besar jika dikelola dengan serius.

    Menurutnya, investasi yang relatif kecil di sektor ini mampu menghasilkan dampak berlipat ganda terhadap pendapatan daerah, termasuk bagi Provinsi Kalimantan Utara yang saat ini tengah gencar mengembangkan potensi wisatanya.

    “Sektor pariwisata itu leveraging-nya luar biasa. Kalau diinvestasikan satu miliar, itu bisa kembali seratus kali lipat,” ujar Hatta di sela kunjungan kerja Komisi VII DPR ke Kantor Gubernur Kalimantan Utara, Tanjung Selor, Kamis (19/6/2025).

    Di negara-negara maju seperti Singapura dan Malaysia yang sudah punya tourism board, potensi pengalian sektor pariwisata bisa sangat besar

    Baca: Pengembangan pariwisata Maluku terkendala transportasi

    Baca: Kegiatan pariwisata di Karimunjawa picu degradasi lingkungan

    Legislator dari Fraksi PAN itu mencontohkan bagaimana alokasi dana pariwisata secara nasional yang mencapai Rp3,6 triliun dapat menghasilkan kontribusi sebesar Rp260 triliun terhadap perekonomian nasional.

    Menurutnya, rasio tersebut menunjukkan potensi yang sama dapat terjadi di daerah, termasuk di Kalimantan Utara.

    Artinya ada pengembalian hingga 60 kali lipat. Hatta mengatakan, Kalimantan Utara juga bisa seperti itu, karena potensinya sangat lengkap—ada daratan, laut, dan sungai.

    ”Tinggal bagaimana keseriusan pemerintah daerah Kalimantan Utara dan seluruh stakeholder mengelola sektor ini,” jelas Hatta.

    Baca: Menghidupkan relief Candi Borobudur

    Baca: Ziarah ribuan kilometer ke Candi Borobudur

    Dilansir laman resmi Kalimantan, pariwisata di Kalimantan Utara menawarkan pengalaman yang berbeda dan menarik. Dari pantai yang eksotis, penangkaran buaya, hingga budaya lokal yang sangat kaya. 

    Hatta menambahkan, pariwisata tidak hanya berkontribusi pada peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD), tetapi juga menjadi penggerak sektor lain seperti UMKM, ekonomi kreatif, dan transportasi.

    Oleh karena itu, ia mendorong Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara untuk tidak ragu mengalokasikan anggaran dan membuka peluang investasi pariwisata secara lebih luas.

    “Saya melihat langkah Gubernur sudah konkret dan ini harus diperkuat dengan kerja sama semua pihak. Jangan khawatir berinvestasi di sektor ini, karena dampaknya bisa sangat besar dan menyentuh banyak lapisan masyarakat,” tutupnya.

     

  • Berkomitmen Kembangkan Green Tourism, Ini yang Dilakukan Pemerintah Kota Bandung

    Berkomitmen Kembangkan Green Tourism, Ini yang Dilakukan Pemerintah Kota Bandung

    7cloud.asia – Sejak tahun 2016, Kota Bandung, Jawa Barat telah diakui sebagai salah satu dari 10 tujuan wisata utama di Indonesia. Pemerintah pusat bahkan telah menetapkan turunan brand Wonderful Indonesia untuk Bandung dengan nama Stunning Bandung.

    Namun, dalam diskusi “Bandung Bersinar” di Pendopo Kota Bandung, Sabtu, 13 Desember 2025 terungkap hingga kini, branding tersebut dinilai belum optimal akibat tantangan komunikasi dan implementasi.

    “Yang perlu kita jawab adalah, apa yang membuat orang benar-benar terpana melihat Bandung? Banyak faktornya, mulai dari arsitektur, kuliner, komunitas, hingga event. Tapi salah satu tantangan utama destinasi wisata adalah mobilitas,” ujar Wali Kota Bandung Ahmad Farhan dalam diskusi tersebut.

    Dilansir bandung.go.id, dalam kesempatan itu Farhan juga menegaskan komitmennya untuk memperkuat transformasi pariwisata berkelanjutan melalui pengembangan pariwisata hijau atau green tourism di Kota Bandung.

    Farhan mengungkapkan, konsep pariwisata hijau merupakan inovasi yang untuk pertama kalinya secara serius diperkenalkan di Kota Bandung.

    Menurutnya, aktivitas wisata tidak lagi cukup hanya menawarkan hiburan, tetapi harus memiliki nilai tambah, salah satunya dengan menekan dampak sosial dan dampak lingkungan.

    “Green tourism menunjukkan, kegiatan berwisata harus diberi nilai tambah. Inilah esensi inovasi yang kami dorong di Kota Bandung,” ujar Farhan.

    Dia menambahkan, tingginya aktivitas wisata selalu berbanding lurus dengan kemacetan. Dan, kemacetan berbanding lurus dengan tingginya emisi karbon.

    Baca: Pembangunan jalan tol dalam Kota Bandung dinilai tak sesuai lanskap kota

    Pemerintah kota, ujarnya, bertanggung jawab menangani persoalan lalu lintas, namun partisipasi masyarakat dibutuhkan untuk menekan dampak emisi.

    “Kalaupun masih macet, emisinya harus minimum. Di sinilah peluang wisata berbasis zero emission,” tuturnya.

    Farhan menyoroti besarnya jejak karbon yang dihasilkan sektor pariwisata, mulai dari transportasi wisatawan hingga operasional hotel. Dengan konsep pariwisata rendah emisi, Kota Bandung berupaya memberikan nilai tambah sekaligus meningkatkan daya saing.

    “Semakin kecil jejak karbonnya, semakin tinggi nilai tambah wisatanya,” ujarnya.

    Dalam pengembangan ekonomi daerah, Pemkot Bandung menerapkan strategi TTI (Tourism, Trading, Investment).

    Pariwisata menjadi pintu masuk kedatangan wisatawan, yang kemudian mendorong aktivitas ekonomi melalui transaksi perdagangan.

    “Wisata itu to see, to do, to buy. Ketika orang berbelanja dan beraktivitas, maka trading terjadi. Dari situlah investasi masuk,” jelas Farhan.

    Dampaknya terlihat nyata. Sepanjang semester pertama 2025, pertumbuhan ekonomi Kota Bandung mencapai 5,43 persen, di atas rata-rata nasional. Pada triwulan ketiga, pertumbuhan tercatat 5,26 persen.

    Baca: Bandung siap kembangkan wisata gastronomi kelas dunia

    Tingginya tingkat hunian hotel, terutama hotel berbintang, menunjukkan bahwa wisatawan yang datang memiliki daya beli tinggi.

    Namun, Farhan mengingatkan adanya risiko ketimpangan ekonomi yang harus diantisipasi.
    Dari hasil kunjungan ke sekitar 50 RW, Farhan menemukan adanya disparitas ekonomi yang perlu dijembatani.

    Sektor pariwisata dinilai paling inklusif karena membuka peluang pendapatan bagi semua lapisan, mulai dari pemilik hotel hingga juru parkir.

    “Pariwisata memberi kesempatan yang sama untuk mendapatkan penghasilan. Karena itu, berbagai jenis pariwisata terus kami kembangkan,” katanya.

    Selain sport tourism, Bandung juga mengembangkan education tourism dengan memanfaatkan banyaknya perguruan tinggi. Mahasiswa dari berbagai daerah datang ke Bandung, membawa dampak ekonomi berantai bagi sektor perhotelan, transportasi, dan UMKM.

    Di kesempatan itu, Farhan menjelaskan, program Bandung Bersinar menjadi bagian dari inovasi pariwisata, khususnya dalam mendukung mobilitas wisatawan yang pada 2025 ditargetkan mencapai 8,7 juta kunjungan.

    Farhan berharap jutaan wisatawan ini menggunakan kendaraan listrik yang emisinya lebih rendah sehingga dampaknya akan sangat baik bagi lingkungan. Pemkot Bandung, dengan berkolaborasi dengan PLN akan memperbanyak Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU).

     

    Pemerintah kota Bandung akan memberikan kemudahan perizinan dan mendukung berbagai insentif sesuai kebijakan pusat.

    SPKLU ini umumnya ditempatkan di area parkir pusat perbelanjaan dan ruang publik strategis. Ke depan, ketersediaan fasilitas ini diharapkan mendorong masyarakat beralih dari kendaraan berbahan bakar fosil ke kendaraan listrik.

    Upaya pengurangan emisi juga dilakukan melalui pengembangan angkot listrik sebagai sarana edukasi publik.

    Pemkot Bandung bekerja sama dengan koperasi angkutan umum juga akan melakukan peremajaan armada, sekaligus berkolaborasi dengan Dishub Jawa Barat agar angkot listrik menjadi feeder BRT.

    “Angkot listrik itu nyaman pisan. Ini memberi sentuhan modern bagi Kota Bandung,” kata Farhan.

     

  • Liburan Singkat dalam Lingkup yang Lebih Akrab Makin Diminati Wisatawan Domestik

    Liburan Singkat dalam Lingkup yang Lebih Akrab Makin Diminati Wisatawan Domestik

    7cloud.asia – Hasil laporan “Tourism Trends 2025 & Outlook 2026: Redefining The New Shape of Travel” menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia saat ini lebih suka melakukan liburan singkat dan berpergian dengan lingkup yang lebih akrab.

    Laporan yang dirilis oleh biro perjalanan daring, tiket.com ini menunjukkan bahwa konsumen Indonesia semakin mengutamakan perjalanan domestik singkat berbasis momentum.

    “Pertumbuhan akomodasi dan atraksi yang pesat membuka peluang untuk menghadirkan produk perjalanan yang lebih modular, family-friendly, dan terintegrasi dengan inspirasi digital,” kata Chief Strategy Officer tiket.com Tifanny Tjiptoning dalam konferensi pers di Jakarta, beberapa waktu lalu.

    Temuan platform tersebut menunjukkan hampir 70 persen perjalanan liburan singkat berlangsung selama satu sampai tiga hari. Masyarakat pada umumnya memanfaatkan long weekend (libur panjang) atau hari libur nasional untuk pergi liburan.

    Baca: Wisatawan kian cermat dan lebih peduli lingkungan

    Pola itu menjadikan perjalanan singkat sebagai rutinitas baru yang praktis dan mudah direncanakan, serta diproyeksikan semakin stabil pada 2026.

    Riset tiket.com menemukan perjalanan keluarga dan perjalanan domestik sebagai pendorong utama pergerakan pariwisata dalam negeri.

    Riset pariwisata itu juga menunjukkan pergeseran akomodasi selama liburan menjadi penginapan selain hotel. Platform tersebut mendapati pemesanan vila meningkat 44 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

    Vila menjadi pilihan para wisatawan karena perjalanan dilakukan bersama keluarga atau teman-teman sehingga mereka mencari akomodasi yang menawarkan ruang lebih luas dan privasi yang lebih baik.

    Baca: Sanur diproyeksikan jadi tujuan wisata kesehatan dunia

    Chief Data Officer Lokadata Suwandi Ahmad menambahkan pemilihan akomodasi penginapan seperti vila banyak diminati karena kapasitasnya dapat menampung lebih banyak orang dan suasananya cocok untuk bermain dengan nyaman bersama keluarga.

    Tempat tinggal seperti itu dinilai dapat mempererat hubungan antar anggota keluarga.

    “Asumsi kami awalnya ini ditopang oleh trauma-trauma ketika pandemi Covid-19, apakah ketika pandemi jadi lebih nyaman kumpul dengan lingkaran yang sangat erat atau ada di hotel yang banyak orang berlalu lalang,” kata dia.

    Pertumbuhan tren juga terjadi pada pemesanan kategori atraksi wisata, pemesanan tiket taman bermain melonjak secara signifikan sebesar 71 persen. Bagi keluarga urban, taman bermain menjadi pilihan merayakan liburan tanpa harus menempuh perjalanan jarak jauh.

  • Pariwisata Jadi Kontributor Utama Timbulan Sampah di Bali

    Pariwisata Jadi Kontributor Utama Timbulan Sampah di Bali

    7cloud.asia – Aktivitas pariwisata terbukti memberikan kontribusi signifikan terhadap timbulan sampah di Bali.

    Sampah tidak hanya berasal dari wisatawan, tetapi juga dari aktivitas operasional sektor pariwisata seperti hotel, restoran dan kafe, dan pengelolaan kawasan wisata, hingga perawatan lanskap.

    Kondisi ini mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) Studi Assessing Plastic Use and Pollution within the Tourism Sector in Indonesia yang diselenggarakan di Denpasar, Bali, Kamis (5/2/2026).

    FGD tersebut merupakan bagian dari kajian nasional yang bertujuan memetakan penggunaan plastik dan pola pencemaran di sektor pariwisata Indonesia, dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari peneliti, kementerian/lembaga, pemerintah daerah, pelaku usaha pariwisata, hingga organisasi masyarakat sipil.

    Berdasarkan diskusi lintas pemangku kepentingan dalam FGD tersebut, terungkap bahwa lebih dari 50 persen timbulan sampah di Bali terkonsentrasi di empat wilayah utama, yakni Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan.

    Keempat wilayah ini merupakan pusat aktivitas pariwisata, dengan kepadatan hotel, restoran, kawasan wisata, serta berbagai fasilitas pendukung lainnya.

    Baca: Pulau Bali diproyeksikan jadi pulau pertanian organik

    Dilansir di brin.goid, kontribusi signifikan timbulan sampah berasal dari aktivitas pariwisata, baik secara langsung maupun tidak langsung.

    Profesor Riset dari Pusat Riset Oseanologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), M. Reza Cordova menegaskan, tantangan utama pengelolaan sampah pariwisata di Indonesia tidak hanya terletak pada keterbatasan infrastruktur, tetapi juga pada lemahnya basis data dan belum konsistennya pengelolaan sampah dari sumber.

    Selama ini, banyak orang berbicara soal sampah pariwisata, tetapi datanya masih parsial.

    “Padahal, tanpa data yang terukur dan representatif, akan sulit merancang kebijakan yang tepat sasaran, terutama untuk subsektor seperti villa, homestay, dan usaha wisata skala kecil yang jumlahnya besar namun belum sepenuhnya tercatat,” ujar Reza.

     

    Sampah organik masih mendominasi komposisi sampah, terutama sisa makanan dari hotel dan restoran, serta limbah hijau seperti daun, ranting, dan rumput hasil perawatan taman dan lanskap kawasan wisata.

    Baca: Bali dan Yogyakarta kian disesaki wisatawan

    Namun demikian, fraksi sampah organik tersebut masih kerap diperlakukan sebagai sampah residu dan langsung dibuang ke tempat pembuangan akhir.

    Padahal, menurut Reza, potensi pengelolaan sampah organik sangat besar jika ditangani dengan pendekatan yang tepat dan berkelanjutan.

    “Fraksi ini memiliki potensi besar untuk dikelola melalui berbagai metode, seperti komposting, teba modern, pemanfaatan maggot, atau melalui kerja sama dengan pengolah sampah organik lokal,” jelasnya.

    Selain sampah organik, penggunaan plastik sekali pakai dalam sektor pariwisata juga menjadi perhatian dalam kajian ini.

    Mulai dari kemasan makanan dan minuman, perlengkapan mandi hotel, hingga kantong plastik dan kemasan sekali pakai lainnya masih banyak digunakan dan berpotensi menjadi sumber pencemaran lingkungan, termasuk pencemaran laut.

    Baca: Eksploitasi pariwisata mengancam kawasan adat Bali Aga

  • Pengelolaan Limbah Pariwisata di Nusa Dua Bali Mendapat Sorotan

    Pengelolaan Limbah Pariwisata di Nusa Dua Bali Mendapat Sorotan

     

    7cloud.asia – Komisi VII DPR menyoroti pemanfaatan teknologi pengolahan limbah yang mampu mengubah air buangan menjadi air bersih hingga layak konsumsi.

    Di mana hal itu upaya menjawab tantangan utama sektor pariwisata, yakni pengolahan limbah. pengelolaan sampah dan ketersediaan air.

    Untuk itu Komisi VII meninjau langsung proses pengolahan limbah yang berasal dari kawasan hotel yang dikelola oleh InJourney Tourism Development Corporation (ITDC), di Nusa Dua, Bali.

    “Ini adalah penampungan limbah dari seluruh hotel di kawasan ini. Air limbah tersebut diolah secara bertahap, awalnya dimanfaatkan untuk penyiraman tanaman, kemudian melalui proses lanjutan hingga akhirnya aman untuk diminum,” ujarnya Selasa (5/5/2026) saat kunjungan kerja reses ke kawasan Nusa Dua, Bali, 

    Menurut Evita, sistem ini menunjukkan bahwa limbah dapat diolah menjadi sumber daya yang bermanfaat apabila didukung teknologi dan pengelolaan yang tepat.

    Selain pengolahan limbah, DPR juga meninjau sistem pengelolaan sampah terpadu (Integrated Waste Management) yang menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas destinasi wisata.

    Baca: Krisis sampah di Bali coreng citranya sebagai tujuan wisata dunia

    Ia menegaskan bahwa persoalan sampah masih menjadi tantangan utama sektor pariwisata di Indonesia, sehingga diperlukan pendekatan yang terintegrasi dan berkelanjutan.

    “Waste management ini diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat. Ini yang harus kita dorong,” ujar politisi PDI Perjuangan tersebut.

    Selain itu, DPR juga mencermati sistem pengolahan air laut menjadi air tawar yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan kawasan. Teknologi ini dinilai sebagai solusi atas tingginya kebutuhan air di destinasi wisata.

    Kunjungan ini dilakukan secara mendalam, termasuk meninjau langsung fasilitas pengolahan limbah. Evita menegaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari fungsi pengawasan DPR RI terhadap isu lingkungan di sektor pariwisata.

    “Kita bukan sekadar kunjungan biasa. Kita benar-benar melihat langsung karena ini menjadi persoalan serius dalam pariwisata kita saat ini,” tegasnya.

    Melalui kunjungan ini, Komisi VII menegaskan pentingnya penguatan pengelolaan lingkungan berbasis teknologi dalam mendukung pariwisata berkelanjutan.

    Baca: Dampak lingkungan dari pembangunan KEK Kura-Kura Bali

     

    Sistem terpadu yang diterapkan di Nusa Dua diharapkan dapat menjadi acuan nasional dalam mengatasi persoalan sampah dan krisis air di destinasi wisata Indonesia.

    Untuk mengurangi produksi sampah, beberapa hotel mengolah secara mandiri untuk sampah organik berupa sisa makanan misalnya dengan memanfaatkan magot.

    Total produksi sampah di kawasan wisata seluas total 350 hektare itu mencapai 32,3 ton per hari, sebanyak 70 persen atau 22,9 ton di antaranya adalah sampah organik

    Sisanya, sebanyak 4,1 ton adalah sampah anorganik atau 13,5 persen di antaranya berasal dari kantin, perkantoran, sampah di Pulau Nusa Dharma dan Pulau Peninsula serta fasilitas lain di kawasan premium itu.

    Sampah anorganik itu kemudian dikumpulkan dan disortir di area Lagoon yang menjadi tempat pengelolaan sampah (TPS) kemudian hasil sortiran itu dikelola oleh Tempat Pengolahan Sampah berbasis pengurangan timbulan sampah, pemanfaatan kembali dan daur ulang (TPS3R).

    Kemudian sampah dari laut dikumpulkan mencapai hampir 1.945 kilogram per hari dan sampah lainnya mencapai 1.850 kilogram per hari dan sampah residu mencapai 1.343 kilogram per hari atau 3,8 persen.

    “Sekitar 95 persen dari total produksi sampah dapat diproses dan dimanfaatkan kembali, hanya sekitar 3,8 persen berupa residu yang kami bawa ke tempat pengolahan akhir (TPA),” ucapnya.

  • Sektor Pariwisata Bali Mulai Beralih ke Energi Bersih

    Sektor Pariwisata Bali Mulai Beralih ke Energi Bersih

    7cloud.asia – Sektor pariwisata di Bali terus berupaya mengimplementasikan strategi energi bersih sebagai bisnis jangka panjang. Sejumlah hotel premium di Pulau Dewata kini mempercepat adopsi pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) atap.

    Langkah ini tidak hanya untuk memenuhi target keberlanjutan, tetapi juga mengurangi risiko akibat volatilitas suplai dan harga energi global.

    Wujud komitmen ini adalah pemasangan PLTS atap yang baru saja rampung di sebuah resor internasional premium di Bali yang dikembangkan bersama dengan Greenvolt Power Indonesia.

    Sistem tersebut memiliki kapasitas terpasang sekitar 323 kilowatt-peak (kWp) dan memberikan kontribusi terhadap tren adopsi PLTS atap di sektor perhotelan Bali.

    “Kami melihat adanya pergeseran struktural dalam strategi sektor perhotelan memandang energi,” kata Head of Business Development Greenvolt Power Indonesia, Bobby Benly dalam keterangan tertulis yang diterima 7cloud.asia, beberapa waktu lalu.

    Dia menambahkan, penggunaan energi bersih bukan lagi sekadar soal efisiensi biaya, melainkan tentang ketahanan energi, pemenuhan standar global, serta menjawab tuntutan wisatawan yang semakin mempertimbangkan aspek keberlanjutan dalam memilih tujuan maupun akomodasi.

    Baca: Kesiapan Transisi Energi Desa Masih Timpang

    Melalui pemanfaatan PLTS atap, operator hotel premium dapat mendiversifikasi bauran energi mereka dengan energi bersih dan terbarukan, sekaligus mengurangi ketergantungan pada listrik berbasis bahan bakar fosil.

    Tren ini turut mencerminkan perubahan yang lebih luas di industri pariwisata global.

    Faktor eksternal, seperti konflik geopolitik hingga fluktuasi harga bahan bakar, kini tidak lagi dipandang sebagai risiko jangka panjang, melainkan tantangan operasional yang harus diantisipasi sejak awal.

    Bagi Pulau Dewata, tuntutan mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil kian urgen. Di luar faktor ketahanan energi, tekanan pasar turut mendorong tren ini.

    Hotel-hotel di Indonesia kini menghadapi tuntutan dari berbagai arah, mulai dari komitmen perusahaan induk global, investor, regulator, hingga wisatawan.

    Dari sudut pandang wisatawan, riset Sustainable Travel 2025 dari Booking.com, menunjukkan 93 persen responden kini secara aktif mempertimbangkan opsi perjalanan yang lebih berkelanjutan saat membuat keputusan bepergian.

    Baca: Krisis Energi Global Jadi Katalisator Transisi Energi

    Survei tersebut melibatkan 32.000 wisatawan dari 34 negara, termasuk Indonesia.

    Saat ini Bali masih bergantung pada sistem pasokan listrik dari luar pulau, sedangkan kebutuhan listrik terus meningkat sekitar 14–16 persen per tahun, berdasarkan estimasi Pemerintah Provinsi Bali. Padahal, Bali memiliki potensi energi surya yang besar, namun pemanfaatannya belum optimal.

    Berdasarkan data dari Institute for Essential Services Reform (IESR), potensi PLTS di Bali diperkirakan mencapai 3,3 hingga 10,9 gigawatt, sedangkan tingkat pemanfaatannya per 2025 baru di bawah satu persen.

    Meski demikian, arah kebijakan pemerintah Bali juga semakin mendukung percepatan transisi energi bersih.

    Sejak 2019, Pemerintah Provinsi Bali telah mengeluarkan regulasi yang mendorong adopsi PLTS atap di berbagai sektor, mulai dari pemerintahan, akomodasi dan pariwisata, hingga sektor swasta atau komersial.

    Dalam pernyataan resmi yang dipublikasikan di situs Pemerintah Provinsi Bali pada Mei 2025, Gubernur Bali Wayan Koster, menyatakan kemandirian energi sebagai kebutuhan strategis bagi Bali.

    “Bali mandiri energi tidak bisa ditawar lagi. Ini soal kedaulatan dan masa depan pulau kita, yang notabene tidak memiliki sumber daya alam batu bara ataupun migas lainnya. Salah satu solusi nyata yang bisa segera dilakukan adalah pemanfaatan PLTS atap secara masif,” ujar Koster.

    Baca: Menggali Makna Adil untuk Masyarakat Terkait Transisi Energi 

  • Pariwisata Berbasis Produk Indikasi Geografis Makin Diminati Wisatawan

    Pariwisata Berbasis Produk Indikasi Geografis Makin Diminati Wisatawan

    7cloud.asia – Kementerian Pariwisata berupaya mengembangkan pariwisata berbasis produk indikasi geografis atau Geographical Indication Tourism guna menghadirkan pariwisata yang memberi nilai tambah, baik bagi warga setempat maupun wisatawan yang datang.

    Asisten Deputi Pengembangan Produk Pariwisata Kemenpar Itok Parikesit mengatakan pengembangan wisata tematik itu dilakukan bersama dengan Kementerian Hukum (Kemenhum).

    Saat ini, kolaborasi tersebut telah memasuki tahap audiensi dan pemetaan awal untuk mengidentifikasi potensi produk serta destinasi yang dapat dikembangkan sebagai bagian dari ekosistem Geographical Indication Tourism yang berkelanjutan.

    “Wisata tematik ini akan memberikan nilai tambah bagi masyarakat lokal,” kata Itok saat dikutip Antaranews.com, Senin (22/6/2026).

    Baca: Daerah Ini Hadirkan Agrobiodiversitas sebagai Atraksi Wisata

    Itok menjelaskan bahwa inisiatif itu bertujuan menjadikan produk-produk indikasi geografis sebagai pintu masuk pengembangan wisata tematik berbasis pengalaman (experience-based tourism).

    Sehingga wisatawan tidak hanya mengenal atau membeli produk khas suatu daerah, tetapi juga terdorong mengunjungi daerah asalnya untuk menikmati proses produksi, budaya, tradisi, serta atraksi lokal yang melatarbelakanginya.

    Menurut Itok, hal itu sejalan dengan adanya tren pariwisata dunia yang telah bergeser dari semula wisatawan hanya gemar melihat-lihat, kini menjadi mencari pengalaman yang membumi.

    “Wisatawan tidak lagi hanya ingin membeli kopi atau kain tenun, tetapi juga ingin mengetahui cerita di balik produk tersebut,” ujar Itok.

    Baca: Tayangan Kuliner di Netflix Mendorong Eksplorasi Budaya dan Wisata

    Oleh karena itu, Itok mengatakan produk khas daerah perlu dikemas menjadi sebuah pengalaman wisata yang utuh (story-driven tourism).

    Sebagai contoh, kopi tidak hanya dipasarkan sebagai komoditas, tetapi juga menjadi pintu masuk bagi wisatawan untuk mengunjungi kebun kopi, bertemu petani.

    “Sekaligus mengikuti proses panen dan pengolahan, belajar teknik penyeduhan, menikmati kuliner lokal, hingga mengenal budaya masyarakat setempat,” imbuh Itok.

    Ketika produk dikemas menjadi sebuah narasi perjalanan yang autentik, katanya, barang tersebut akan berpotensi meningkatkan lama tinggal (length of stay) dan pengeluaran wisatawan (spending), sehingga memberikan dampak ekonomi yang lebih besar bagi daerah.