7cloud.asia – Kawasan kepulauan seperti Karimunjawa memiliki potensi besar, namun juga menghadapi tantangan pembangunan yang kompleks dan tidak merata, baik secara ekonomi maupun ekologis.
Penelitian yang dilakukan mahasiswa Universitas Gadjah Mada dalam Kuliah Kerja Lapangan di Karimunjawa menemukan adanya sejumlah masalah yang muncul akibat kegiatan pariwisata di Kepulauan Karimunjawa.
Kajian selama lima hari ini, mahasiswa UGM menemukan bahwa terjadi kesenjangan antara pelaku usaha wisata dan masyarakat sektor tradisional seperti nelayan di Karimunjawa.
Selain itu, meningkatnya aktivitas pariwisata turut memperparah degradasi lingkungan, seperti kerusakan terumbu karang,” ujar Freya Alif Maretha, salah satu mahasiswa yang terlibat penelitian
Sejumlah Hasil kajian dari para mahasiswa UGM ini dipaparkan dalam SDGs Seminar Series ke-112 oleh Fakultas Geografi UGM untuk dievaluasi kembali oleh audiens dengan mengangkat tema “Archipelago Development: Dilema Pengembangan Pariwisata, Konservasi, dan Kesejahteraan Masyarakat di Karimunjawa.” yang dilaksanakan secara daring pada Senin (16/6/2025).
Pulau Karimunjawa merupakan salah satu objek tujuan wisata yang terletak di perairan Laut Jawa dengan jarak 77,2 kilometer dari Kabupaten Jepara, Jawa Tengah.
Baca: Transportasi jadi kendala pengembangan pariwisata Maluku
Potensi wisata taman laut dan keindahan pulau yang terdapat pada Pulau Karimunjawa menjadikannya sebagai salah satu wisata bahari di Indonesia dengan potensi wisata bahari seluas 110.000 hektar dan potensi daratan seluas 1.500 hektare.
Selain keindahan pulau yang menjadi daya tarik bagi wisatawan domestik maupun mancanegara, Karimun Jawa merupakan rumah bagi bagi terumbu karang, hutan bakau, hutan pantai, serta hampir 400 spesies fauna laut.
Dengan keindahan terumbu karang dan keanekaragaman fauna lautnya, menjadikan snorkeling sebagai kegiatan yang digemari wisatawan untuk melihat keindahan isi laut Karimun Jawa.
Keindahan dan kekayaan alam laut yang beraneka ragam, maka oleh Pemerintah Jepara menetapkan Pulau Karimun Jawa sebagai sebagai Taman Nasional Laut yang dilindungi dan dilestarikan.
Namun demikian, keberadaan berbagai aktivitas manusia yang dilakukan dalam memanfaatkan sumber daya alam laut yang ada di Karimunjawa berpotensi memicu kerusakan terumbu karang.
Kondisi ini selanjutnya akan mengancam keberlangsungan pariwisata bahari Taman Nasional Karimunjawa.
Baca: Candi Borobudur cerminkan tiga tahapan pencapaian manusia
Kegiatan itu seperti kegiatan konservasi, kegiatan penangkapan ikan, budidaya ikan kerapu, budidaya rumput laut, wisata laut (snorkeling), transportasi laut, dan pemanfaatan lahan (pulau),
Aktivitas masyarakat tersebut dapat menyumbang fosfat, nitrat, dan mikroplastik ke lingkungan perairan.
Kegiatan manusia yang tinggi dapat menurunkan kualitas perairan akibat masuknya limbah ke perairan Karimunjawa. Limbah yang berasal dari kawasan penduduk, pertanian, peternakan, perikanan dan industri dapat menjadi sumber pencemaran akibat kandungan zat nutrien fosfat dan nitrat.
Lepasnya nutrien fosfat dan nitrat ke lingkungan perairan dengan jumlah yang berlebihan dapat memicu terjadinya eutrofikasi.
Proses eutrofikasi merupakan meningkatnya kesuburan air yang berlebihan, dimana hal ini disebabkan oleh masuknya nutrien dalam badan air dalam jumlah berlebihan sehingga mengakibatkan pertumbuhan alga secara pesat.
Hal ini kemudian diikuti dengan menurunnya kadar oksigen terlarut akibat pemanfaatan oksigen yang berlebihan untuk mendekomposisi (mengurai) bahan organik.







