Tag: pedagang

  • Harga Sayur Mayur Turun, Pembeli Sepi Pasca Lebaran

    Harga Sayur Mayur Turun, Pembeli Sepi Pasca Lebaran

    7cloud.asia – Pasca lebaran, sejumlah harga sayur mayur mulai berangsur turun. Namun, para pembeli tetap sepi. Kondisi ini membuat para pedagang resah.

    Seperti yang terjadi di Pasar Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Saat dijumpai 7cloud.asia pada Rabu (23/04/2025), kondisi pasar tidak seramai saat sebelum lebaran lalu.

    Bahkan beberapa pedagang hanya sibuk berbincang dengan pedagang lainnya sambil menunggu calon pembeli.

    Salah satunya ibu Tati yang terpaksa berjualan hingga malam hari agar omset yang dia peroleh lebih banyak. “Harga mulai stabil, terjangkau. Tapi pembeli masih sepi. Ini aja jualan sampai malam, biar bisa nutup (modalnya),” kata Ibu Tati.

    Baca: Pemerintahan baru, harga bahan pokok tinggi

    Selanjutnya ia mengungkapkan omset yang ia peroleh dari pagi hingga pukul 9 malam sekitar 4 juta rupiah. Omset ini turun jika dibandingkan sebelum lebaran yang bisa ia peroleh hingga 7 juta rupiah saat ia berjualan hingga malam hari.   

    Padahal, lanjut Ibu Tati, harga sayur mayur mulai turun meski masih belum kembali ke harga normal. Misalnya harga bawang merah dibanderol Rp 60.000 per kilogram. Sebelum lebaran harga bawang merah Rp 80.000 per kilogram.

    Demikian juga harga cabai yang kini dijual dengan harga Rp 60.000 per kilogram, turun Rp 20.000 dari harga sebelumnya. Harga cabai rawit juga turun Rp 20.000 dari harga sebelumnya Rp 100.000.  

    Baca: Harga cabai tinggi, omset pedagang turun

    Kenaikan harga hanya terjadi pada tomat yang kini dibanderol dengan harga Rp 20.000 per kilogram. Padahal sebelum lebaran, harga tomat dijual berada pada angka Rp 15.000 per kilogram.

    Tati berharap harga sayur mayur dapat stabil sehingga tidak memberatkan pedagang maupun pembeli. Dengan demikian, jumlah pembeli dapat berangsur-angsur naik.

    “Enak, kalau harga stabil. Pedagang untung, pembeli juga untung. Pembeli juga tidak khawatir ke pasar karena harga tinggi. Mudah-mudahan jelang idul adha bisa rame lagi,” tutupnya.

     

  • Pedagang Pasar Barito Tak Mau Direlokasi Meski Pemprov DKI Jakarta Memberi Keleluasaan

    Pedagang Pasar Barito Tak Mau Direlokasi Meski Pemprov DKI Jakarta Memberi Keleluasaan

    7cloud.asia – Para pedagang Pasar Barito bersikukuh tetap akan berjualan di kiosnya, meski Pemprov DKI Jakarta meminta mereka segera angkat kaki.

    Para pedagang juga sempat berunjuk rasa saat Gubernur DKI Jakata Pramono anung melakukan peletakan batu pertama pembangunan Taman Bendera Pusaka, Jumat (8/8/2025).

    “Kami berprinsip, tetap akan berjualan di sini sampai gubernur akan menyinergikan Pasar Barito dengan taman,” ujar kuasa hukum pedagang, Fahmi Akbar, dikutip Kompas.com, Jumat (8/8/2025).

    Para pedagang burung Pasar Barito menjadi bagian dari Taman Bendera Pusaka nantinya.

    Para pedagang bersedia mengosongkan beberapa kios jika dibutuhkan untuk jalan masuk ke Taman Bendera Pusaka. Fahmi pun meminta Pramono Anung mau mendiskusikan hal tersebut dengan para pedagang.

    Baca: Ratusan pedagang hewan Barito bakal direlokasi

    Sementara Pemprov DKI Jakarta menyebut memberikan sejumlah kemudahan bagi para pedagang yang selama ini beraktivitas di kawasan Barito selama proses penataan Taman Bendera Pusaka berlangsung.

    Fasilitas yang disiapkan antara lain relokasi ke pasar-pasar yang dikelola oleh Perumda Pasar Jaya, bebas biaya sewa selama tiga bulan di lokasi relokasi, serta kebebasan memilih lokasi relokasi sesuai preferensi dan kenyamanan pedagang.

    Beberapa pasar yang ditawarkan antara lain Pasar Mampang Prapatan, Lebak Bulus, Pondok Labu, Pondok Indah, Tebet Barat, Tebet Timur, Bata Putih, dan Kebayoran Lama.

    Direktur Utama Perumda Pasar Jaya, Agus Himawan mengatakan, pihaknya mendukung penuh kebijakan Pemprov DKI Jakarta menata Taman Barito dan mengintegrasikan dua taman lainnya.

    Seperti diketahui Pemprov DKI Jakarta akan merevitalisasi Kawasan Barito dan mengintegrasikan eksisting yakni Taman Langsat, Taman Leuser, dan Taman Ayodya menjadi Taman Bendera Pusaka.

    Baca: Kawasan Barito bakal menjadi magnet baru

    Taman Bendera Pusaka yang dirancang menjadi sebuah ruang terbuka hijau sekaligus sebagai destinasi rekreasi dan ruang hidup aktif yang mendukung kesehatan maupun interaksi sosial.

    Agus mengatakan, karena penataan Kawasan Barito ini merupakan program Pemprov DKI Jakarta, Pasar Jaya siap mendukung apa yang diminta dan mendukung kebijakan Pemprov atau OPD terkait.

    ”Kami menyiapkan beberapa pilihan pasar sebagai lokasi relokasi, dan sebagai bentuk dukungan, pedagang yang pindah akan dibebaskan biaya sewa selama tiga bulan,” ujar Agus, Jumat (8/8/2025).

    Agus menambahkan, proses relokasi dilakukan secara terkoordinasi bersama Wali Kota Jakarta Selatan dan perangkat daerah terkait, termasuk dalam pendataan pedagang yang siap pindah ke pasar-pasar di bawah naungan Pasar Jaya.

    “Kami bantu sepenuhnya untuk kepentingan pedagang, mulai dari pemilihan lokasi hingga kepindahan ke tempat baru. Saat ini kami masih melakukan koordinasi terkait daftar pedagang yang akan direlokasi,” tandasnya.

    Baca: Taman di sekitar Blok M yang seru buat nongkrong

  • Musim Hujan, Harga Sayur Mayur Merangkak Naik

    Musim Hujan, Harga Sayur Mayur Merangkak Naik

    7cloud.asia – Musim hujan kini tengah melanda Indonesia. Hal ini menyebabkan harga sayur mayur di beberapa tempat merangkak naik.

    Seperti Pasar Banjarsari, Ciamis, Jawa Barat. dari pantauan 7cloud.asia pada Jumat (21/11/2025), harga cabai merah keriting melonjak menjadi Rp 80.000 per kilogram dari harga Rp 50.000 per kilogram.

    Demikian juga dengan cabai rawit yang naik dari harga Rp 40.000 kini menjadi Rp 50.000 per kilonya. Harga bawang merah juga mengalami kenaikan dari harga Rp 40.000 per kilogram kini naik menjadi Rp 48.000 per kilogram.

    Baca: Pemerintah Baru, Harga Sembako Tinggi

    Kenaikan juga terjadi pada wortel yang dibanderol menjadi Rp. 20.000 per kilogram dari harga Rp 12.000 per kilogram. Demikian pula dengan tomat yang kini berada pada harga Rp 15.000 per kilogram dari harga Rp 8000 per kilonya.

    Harga sawi hijau pun tak luput dari kenailkan. Sekilo sawi hijau kini dijual dengan harga Rp 16.000 per kilogram. Harga ini naik dua kali lipat dari harga sebelumnya Rp 8000 per kilogram. Harga pakcoy juga naik menjadi Rp 18.000 per kilogram dari harga Rp 10.000 per kilogram.

    Menurut Adi, salah satu pedagang sayur mayur kenaikan ini terjadi sejak satu minggu terakhir. “Musim hujan, banyak yang banjir, longsor jadi sayuran banyak yang busuk  atau gagal panen,” jelas Adi kepada 7cloud.asia.

    Baca: Harga Sembako Melonjak, Pembeli dan Pedagang Mengeluh

    Kenaikan harga ini juga membuat omsetnya menurun, karena pembeli mengurangi bahkan batal membeli sayuran.

    “Pengaruh banget. Banyak pelanggan yang biasanya beli segini terus dikurangi atau nggak jadi beli karena mahal harganya,” katanya.

    Adi mengaku sudah seminggu ini omset yang ia dapat hanya beberapa ratus ribu saja. Padahal biasanya ia bisa mendapatkan omset 1 hingga 1,5 juta rupiah per hari.

    Dia berharap pemerintah turun tangan untuk menstabilkan harga. Apalagi jelang perayaan Natal dan Tahun Baru 2026, dimana harga sayuran dan sembako akan melonjak naik.

  • Jelang Ramadan Harga Sayur Mayur Naik, Omset Pedagang Menurun

    Jelang Ramadan Harga Sayur Mayur Naik, Omset Pedagang Menurun

    7cloud.asia – Jelang bulan Ramadan, harga sayur mayur mulai merangkak naik. Para pedagang mengeluh omset yang mereka peroleh menurun.

    Di Pasar Kebayoran Lama, Jakarta Selatan misalnya, harga cabe rawit merah melonjak tajam hingga menyentuh angka Rp 110.000-120.000 per kilogram. padahal sebelumnya cabe rawit dijual dengan harga Rp. 80.000 per kilogram.

    Selain cabe rawit, bawang merah juga mengalami kenaikan harga dari Rp 50.000 per kilogram menjadi Rp 60.000 per kilogram.

    Kenaikan harga juga terjadi pada sawi putih yang kini dijual dengan harga Rp 15.000 per kilogram dari harga Rp 10.000 per kilogram.

    Baca: Musim Hujan, Harga Sayur Mayur Merangkak Naik

    Sementara sawi hijau kini dibanderol dengan harga Rp 15.000 per kilogram dari harga Rp 8000/kilogram.

    Harga buncis juga mengalami kenaikan dari Rp 20.000 per kilogram kini menjadi Rp 24.000 hingga 25.000 perkilogram. Kol gepeng pun juga tak luput dari kenaikan harga dari Rp 6000 per kilogram kini menjadi Rp 9000 per kilogram.

    Kenaikan harga ini dikeluhkan oleh para pedagang, seperti Catiri (57 tahun). Sejak kenaikan yang mulai terjadi pada awal minggu ini, ia mengaku omset penjualannya menurun karena pembeli mengurangi jumlah pembeliannya.

    “Penurunannya (omset) lumayan, 50 persen adalah (turunnya). Tadinya pelanggan saya beli cabe rawit 1/2 kilogram, sekarang cuma seperempat atau 1 ons aja ,” kata Catiri tanpa mau mengungkapkan omset yang ia peroleh.

    Baca: Pasca Lebaran, Pedagang di Pasar Sepi Pembeli 

    Dia mengungkapkan penurunan dipicu oleh musim hujan yang membuat komoditas sayur mayur menjadi busuk atau terendam air.

    “Kenaikan ini gara-gara musim hujan, barangkali stoknya sudah nggak ada kena banjir jadi pada rontok pada mati, jelang puasa juga,” katanya.

    Kenaikan harga ini juga dikeluhkan oleh Selly, salah seorang pembeli. Ia terpaksa harus mengurangi pembelian bawang merah.

    “Kirain harganya masih sama. Ternyata sudah naik. Jadi beli sekilo aja. Nanti kalau sudah turun (harga) beli lagi,” kata Selly.

    Baik Selly maupun Catiri berharap harga sayur mayur dapat kembali stabil. Apalagi bulan Ramadan tinggal beberapa hari, dimana masyarakat banyak kebutuhan untuk perispan berpuasa.