Tag: penyakit

  • Memasuki Musim Pancaroba Rawan Penularan Penyakit Herpes Zoster, Ini Dia Gejalanya

    Memasuki Musim Pancaroba Rawan Penularan Penyakit Herpes Zoster, Ini Dia Gejalanya

     

    7cloud.asia – Musim pancaroba seperti yang terjadi saat ini memicu sejumlah penyakit musiman muncul. Herpes zooster atau cacar ular atau karurawit salah satu contohnya. Berbagai gejala yang muncul, misalnya timbul ruam yang berair.

    Penyakit yang berasal dari virus Varicella zoster  yang menyerang jaringan saraf ganglion posterior. Jenis virus ini juga yang menyebabkan cacar air.

    Meski herpes zoster ini bukan penyakit yang mematikan tetapi penderitanya cukup merasakan gatal dan sakit yang luar biasa.

    Dikutip dalam WebMD, gejala herpes hampir mirip dengan cacar air serta menular. Hanya saja penyebaran cacar air yang berbeda dengan herpes.

    Jika ruam cacar air bisa menyebar ke bagian tubuh yang berbeda-beda, sementara ruam pada herpes zoster menyebar di satu area tubuh. Misalnya, herpes yang bermula dari pinggul bisa menyebar hingga punggung bawah.

    Herpes dan cacar air muncul karena sistem kekebalan tubuh yang lemah sehingga  gagal untuk mengontrol replikasi virus. 

    Baca Juga: DPR Minta Pemerintah Pastikan Akses Vaksin di Daerah Rentan Penyebaran Penyakit Menular

    Berikut ini gejala herpes zoster seperti yang dikutip dari laman Mitra Keluarga:

    1. Kelelahan, nyeri tubuh, hingga muncul rasa gatal

    Saat kondisi tubuh sedang turun, maka herpes dengan mudahnya menyerang tubuh.

    Gejala awal dari herpes adalah rasa lelah, demam, pusing, dan nyeri tubuh. Rasa gatal dan terbakar sudah mulai muncul pada awal-awal gejala ini, tetapi kebanyakan orang tidak menyadarinya.

    Lalu timbul ruam berwarna merah muda seperti luka lecet di salah satu titik pada anggota tubuh. Kondisi seperti ini masih belum berbahaya, tetapimulai terasa menyakitkan bagi penderitanya .

    1. Ruam mulai berair seperti luka melepuh

    Jika ruam dibiarkan, maka ruam semakin membesar dan terlihat seperti berair. Jika ruam disentuh, timbul rasa perih dan melepuh seperti cacar air. Kondisi ini bertahan hingga 3 hari. 

    Kondisi ruam herpes yang sudah melepuh, sifatnya sudah menular. Nah, jika terasa sangat gatal, jangan digaruk. Sebab hal ini membuat herpes menjadi menyebar ke anggota tubuh lainnya.

    Baca Juga: Pakar: Perubahan Iklim dan Kenaikan Suhu Bumi Picu Risiko Penyakit Musiman

    1. Sensitif terhadap cahaya dan sentuhan

    Umumnya penderita herpes  akan sangat sensitif saat melihat cahaya yang cukup terang serta kondisi tubuh pegal dan kesemutan juga membuat penderita herpes sangat rentan terhadap sentuhan. 

    Herpes zoster juga dapat dipicu oleh:

    1. Stres, sehingga daya tahan tubuh semakin menurun.
    2. Penggunaan obat-obatan.
    3. Penyakit akut dan kronis yang berkaitan dengan penurunan imunitas tubuh, misalnya penyakit kanker dan sedang melakukan kemoterapi, HIV/AIDS, autoimun. 
    4. Pernah terkena cacar air sebelumnya yang berasal dari virus Varicella zoster.

    Herpes umumnya akan sembuh dalam waktu 2-4 minggu untuk sembuh namun tergantung pada tingkat keparahan, dan pengobatan yang dilakukan. 

    Jika akan sembuh, maka ruam akan mengering dan tidak berair. Tetapi masih ada rasa gatal sedikit dan diusahakan jangan digaruk agar tidak menimbulkan infeksi dan bekas pada kulit.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Kolesterol Tinggi Tak Selalu Dibarengi Keluhan Mudah Lelah, Simak Gejalanya di Sini

    Kolesterol Tinggi Tak Selalu Dibarengi Keluhan Mudah Lelah, Simak Gejalanya di Sini

    7cloud.asia – Kolesterol tinggi merupakan kondisi yang tak bisa disepelekan, pasalnya kolesterol tinggi bisa memicu baragam penyakit.

    Menurut National Library of Medicine, tingginya angka kolesterol biasanya dibarengi dengan gejala yang meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, dan masalah kesehatan lainnya.

    Ditulis laman Well and Good, pada Maret lalu, ahli mengatakan kolesterol tinggi hampir tidak selalu memiliki gejala.

    Menurut ahli jantung di Rush University System for Health di Chicago, Illinois, Melissa Tracy, MD, salah satu penyebab merasa lelah saat memiliki kolesterol tinggi adalah karena tidak dibarengi dengan gaya hidup sehat.

    “Saat Anda mengalami kolesterol tinggi, biasanya Anda tidak mengonsumsi makanan seimbang, tidak berolahraga, dan secara tidak sengaja menambah berat badan, Jadi gaya hidup yang sering dibarengi dengan kolesterol tinggi pasti bisa menyebabkan kelelahan,” katanya.

    Baca: Cara sederhana mencegah hipertensi

    Jika tidak ditangani, kolesterol tinggi dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, suatu kondisi yang juga dapat menyebabkan kelelahan, ujarnya.

    Tracy menambahkan kolesterol dapat mengembangkan plak di arteri, dan jantung akan mulai memberi tanda-tanda bahwa ia sedang kesulitan. Dan salah satu tandanya adalah kelelahan, serta penurunan toleransi olahraga.

    Pada akhirnya, bukan kolesterol tinggi itu sendiri yang menyebabkan kelelahan, namun faktor gaya hidup yang menyebabkan kolesterol tinggi, dan penyakit yang diakibatkannya, yang dapat membuat seseorang merasa lesu dan mudah lelah.

    Selain kelelahan, gejala kolesterol tinggi yang telah berkembang menjadi penyakit jantung menurut Mayo Clinic antara lain nyeri dada, tekanan, atau sesak, pusing atau sakit kepala ringan.

    Selain itu juga palpitasi jantung, sesak napas, nyeri di leher atau rahang, dan mati rasa atau kelemahan pada lengan dan kaki.

    Baca: Hipertensi bisa memicu gagal ginjal

    Perubahan gaya hidup adalah langkah awal untuk menurunkan kadar kolesterol tinggi.

    Direktur medis di Cardiology Consultants of Philadelphia di Pennsylvania, Brett Victor, MD, menyarankan untuk menambah konsumsi biji-bijian, buah-buahan dan sayuran, lemak sehat, dan protein tanpa lemak yang menyehatkan jantung seperti ikan.

    Meningkatkan asupan serat larut dan asam lemak omega-3 juga bermanfaat, dengan menambahkan bahan-bahan seperti alpukat, dedak gandum, salmon, sereal yang diperkaya, dan biji rami ke dalam makanan Anda.

    Cobalah untuk mengurangi jumlah makanan yang mengandung lemak jenuh, seperti daging merah, produk susu berlemak penuh, dan minyak tropis seperti kelapa dan minyak sawit, yaitu satu-satunya makanan nabati yang mengandung lemak jenuh.

    Membatasi jumlah makanan ultra-olahan, gorengan, dan makanan panggang juga membantu menurunkan kadar kolesterol jahat dalam tubuh.

    Baca: Waspadai nyeri pinggang berkepanjangan

    Lakukan setidaknya 150 menit olahraga intensitas sedang per minggu atau 30 menit olahraga intensitas sedang per hari, lima kali seminggu.

    Ini dapat mencakup aktivitas aerobik seperti berjalan kaki atau bersepeda, dan latihan kekuatan seperti angkat beban.

    Cara terbaik yang bisa dilakukan adalah menemukan gerakan yang paling disukai, dan  konsisten melakukannya.

    Selain itu, dia juga menyarankan untuk berhenti merokok untuk kesehatan jantung, kolesterol dan keseluruhan.

    Menurunkan berat badan setidaknya 5-10 persen kadar lemak di tubuh dapat menurunkan kadar kolesterol, dan memeriksakan kolesterol Anda setiap empat hingga enam tahun, jika Anda adalah orang yang relatif sehat.

    Jika perubahan gaya hidup tidak berhasil, dan kadar kolesterol Anda masih di atas 200 mg/dL, dokter mungkin menyarankan untuk menambahkan obat penurun kolesterol seperti statin.

  • Yuk, Kurangi Konsumsi Daging Olahan untuk Kurangi Risiko Kematian Akibat Penyakit Kardiovaskular

    Yuk, Kurangi Konsumsi Daging Olahan untuk Kurangi Risiko Kematian Akibat Penyakit Kardiovaskular

    7cloud.asia – Daging olahan tak asing buat masyarakat Indonesia. Pengolahannya yang praktis dan rasa yang enak menjadikan daging olahan sebagai menu favorit.

    Meski enak dan praktis, sebaiknya mengonsumsi daging olahan dikurangi. Dengan demikian dapat mencegah kematian akibat penyakit kardiovaskular, diabetes dan kanker kolorektal.

    Hal ini berdasarkan penelitian yang diterbitkan dalam Lancet Planetary Health yang mengungkapkan dengan mengurangi 10 potong bacon (daging asap olahan) setiap minggu dapat mengurangi kematian akibat penyakit-penyakit tersebut.

    Penelitian itu mengatakan perubahan pola makan kecil ini berpotensi menyelamatkan ribuan nyawa, sehingga patut dipertimbangkan demi masa depan yang lebih sehat.

    Dalam laman Medical Daily, Jumat (5/7), tim peneliti tersebut dari Global Academy of Agriculture and Food Systems, University of Edinburgh bersama dengan University of North Carolina, Chapel Hill.

    Menurut mereka mengurangi konsumsi daging olahan sekitar sepertiga atau setara dengan sekitar 10 potong daging asap seminggu dapat mencegah lebih dari 350.000 kasus diabetes di AS selama 10 tahun.

    Hal ini juga dapat menyebabkan 92.500 kasus penyakit kardiovaskular lebih sedikit dan 53.300 kasus kanker kolorektal lebih sedikit selama satu dekade.

    “Mengurangi konsumsi (daging olahan dan tidak olahan) hingga 30 persen menghasilkan 1.073.400 kasus diabetes lebih sedikit, 382.400 kasus penyakit kardiovaskular lebih sedikit, dan 84.400 kasus kanker kolorektal lebih sedikit.

    Mengurangi asupan daging merah tidak olahan saja hingga 30 persen – yang berarti mengurangi sekitar satu burger daging sapi seberat seperempat pon seminggu – menghasilkan lebih dari 732.000 kasus diabetes lebih sedikit. Hal ini juga menghasilkan 291.500 kasus penyakit kardiovaskular lebih sedikit dan 32.200 kasus kanker kolorektal lebih sedikit,” demikian pernyataan penelitian.

    Selain itu, para peneliti mencatat bahwa lebih banyak kasus penyakit dapat dicegah dengan mengurangi daging merah yang tidak diolah dibandingkan dengan daging olahan.

    Sebagian karena asupan harian rata-rata daging merah yang tidak diolah lebih tinggi (47 g per hari) dibandingkan dengan daging olahan (29 g per hari).

    Pemotongan konsumsi daging juga telah direkomendasikan oleh berbagai organisasi nasional dan internasional untuk mengurangi emisi gas rumah kaca, termasuk Komite Perubahan Iklim di Inggris dan Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa atau IPCC.

    “Penelitian kami menemukan bahwa perubahan pola makan ini juga dapat memberikan manfaat kesehatan yang signifikan di AS, sehingga ini merupakan solusi yang menguntungkan bagi manusia dan planet ini,” jelas Profesor Lindsay Jaacks, salah satu penulis penelitian tersebut.

     

     

  • 10 Manfaat Kesehatan Daun Kelor atau Moringa Oleifera

    10 Manfaat Kesehatan Daun Kelor atau Moringa Oleifera

    7cloud.asia – Daun kelor dikenal kaya nutrisi yang bagus untuk kesehatan tubuh. Daun kelor yang memiliki nama latin Moringa oleifera ini kaya vitamin dan mineral, seperti potasium, vitamin C, kalsium, vitamin A, dan zat besi.

    Dengan kandungan nutrisinya ini, daun kelor bisa dimanfaatkan untuk meringankan gejala atau menyembuhkan beberapa masalah kesehatan, seperti rheumatoid arthritis, diabetes, kanker, dan kolesterol tinggi.

    Memahami daun kelor bisa menyembuhkan penyakit apa saja sangatlah penting sehingga Anda bisa mengonsumsinya secara rutin.

    Meskipun umumnya aman dan tidak akan menimbulkan efek samping yang serius, Anda perlu berkonsultasi dengan dokter sebelum minum air rebusan daun kelor setiap hari, khususnya jika mengidap penyakit tertentu atau sedang minum obat.

    Baca: Manfaat ekonomi daun kelor

    Berikut adalah beberapa penyakit yang bisa disembuhkan atau diringankan gejalanya dengan daun kelor, disarikan dari WebMD dan Pharmeasy:

    1. Rheumatoid arthritis
    Rheumatoid arthritis adalah peradangan pada sendi yang dapat menimbulkan beberapa gejala, seperti nyeri dan kaku sendi, kelelahan, dan demam.

    Minum air rebusan daun kelor dapat membantu untuk mengurangi gejala yang muncul, seperti pembengkakan, kemerahan, dan rasa nyeri.

    2. Diabetes
    Sejumlah penelitian mengungkap bahwa daun kelor memiliki protein menyerupai insulin yang dapat membantu untuk menurunkan gula darah.

    Zat kimia yang ditemukan pada daun pohon kelor dapat membantu tubuh untuk memproses gula dengan lebih baik sehingga berdampak positif pada kemampuan tubuh untuk memproduksi insulin.

    3. Inflamasi
    Daun kelor memiliki kandungan isothiocyanate yang merupakan kandungan anti-inflamasi alami.

    Konsumsi rebusan daun kelor secara teratur dapat membantu untuk mengurangi inflamasi di dalam tubuh sehingga risiko masalah kesehatan yang lebih serius, seperti kanker, dan gangguan autoimun, berkurang.

    Baca: Manfaat teh hijau untuk kesehatan

    4. Gangguan pencernaan
    Minum air rebusan daun kelor setiap hari terbukti dapat membantu untuk menyembuhkan beberapa gangguan pencernaan, seperti sembelit, kembung, dan kolitif ulseratif.

    Pasalnya, daun kelor memiliki kandungan antibiotik, antimikroba, dan vitamin B, yang bisa mengurangi gejala gangguan pencernaan dan menyehatkan saluran pencernaan.

    5. Infeksi bakteri
    Daun kelor memiliki kandungan antiseptik yang dapat melawan infeksi bakteri. Tidak hanya itu saja, daun kelor juga bisa mempercepat proses penyembuhan luka, memar, dan luka bakar ringan.

    6. Berat badan berlebih
    Daun kelor dapat meningkatkan pembakaran lemak di dalam tubuh. Selain itu, konsumsi kelor setiap hari bisa mengurangi nafsu makan dan meningkatkan metabolisme tubuh sehingga berat badan bisa berangsur berkurang.

    7. Sakit kepala
    Salah satu manfaat daun kelor adalah dapat mengurangi migrain dan menurunkan frekuensi sakit kepala.

    Daun kelor juga dapat menyeimbangkan produksi neurotransmitter di dalam otak, seperti serotonin, dopamin, dan noradrenalin, yang mendukung daya ingat, suasana hati, dan stimulus-respons.

    Baca: Air kelapa bagus untuk kesehatan, tapi hati-hati untuk kelompok ini

    8. Kolesterol tinggi
    Kadar kolesterol tinggi dapat meningkatkan risiko masalah kesehatan yang lebih serius, seperti penyakit jantung.

    Daun kelor sudah terbukti dapat menurunkan kadar kolesterol jahat (LDL) di dalam tubuh dan membantu untuk meningkatkan kesehatan jantung.

    9. Kanker
    Penelitian laboratorium menunjukkan bahwa ekstrak daun kelor mampu memperlambat pertumbuhan sel kanker pankreas dan membantu untuk meningkatkan efek kemoterapi.

    Tak hanya itu saja, beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa daun, batang, dan akar pohon kelor memiliki efek anti-kanker yang bisa digunakan sebagai obat.

    10. Kerusakan liver
    Konsumsi daun kelor secara rutin dapat membantu untuk melindungi liver dari efek negatif obat yang dikonsumsi, khususnya obat anti-tuberkulosis.

    Daun kelor bisa mempercepat penyembuhan sel-sel liver dan melindunginya dari kerusakan akibat stres oksidatif.

    Baca: Mengapa daun meniran bagus untuk kesehatan

  • Diabetes dan Hipertensi Terus Meningkat: Butuh Regulasi Pembatasan Gula-Garam-Lemak Tinggi dalam Jajanan

    Diabetes dan Hipertensi Terus Meningkat: Butuh Regulasi Pembatasan Gula-Garam-Lemak Tinggi dalam Jajanan

    7cloud.asia – Jumlah pengidap penyakit tidak menular akibat konsumsi makanan dengan kandungan kadar gula, garam dan lemak GGL berlebih, terus meningkat dari tahun ke tahun.

    Menurut Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 dan studi kohor penyakit tidak menular (PTM) 2011-2021, hipertensi menjadi faktor risiko tertinggi penyebab kematian keempat dengan persentase 10,2 persen.

    Data SKI 2023 menunjukkan bahwa 59,1 persen penyebab disabilitas (melihat, mendengar, berjalan) pada penduduk berusia 15 tahun ke atas adalah penyakit yang didapat, di mana 53,5 persen penyakit tersebut adalah PTM, terutama hipertensi yakni 22,2 persen).

    Sementara Data Riskesdas 2018 menunjukkan, prevalensi diabetes sebesar 8,5 persen, meningkat dibandingkan Riskesdas 2013 yaitu sebesar 6,9 persen.

    Baca: Separuh populasi dunia kekurangan mikronutrien

    Menyikapi hal ini, Wakil Ketua Komisi IX DPR, Charles Honoris, memandang perlunya regulasi pembatasan peredaran produk pangan olahan dan pangan siap saji dengan kandungan kadar gula, garam dan lemak (GGL) cukup tinggi.

    Pasalnya, gula, garam dan lemak adalah penyebab utama terjadinya penyakit katastropik seperti kanker, jantung, stroke dan penyakit diabetes dan dari tahun ke tahun pengidapnya terus bertambah.

    ”Semakin hari semakin tinggi sehingga harus kita batasi. Secara umum kita mendorong adanya regulasi yang lebih spesifik,” ungkap Charles usai memimpin Kunjungan Kerja Spesifik Panja GGL di Denpasar, Bali, Kamis (12/9/2024).

    Sementara, data Dinas Kesehatan Provinsi Bali menunjukkan bahwa penyandang PTM (Penyakit Tidak Menular) karena konsumsi makanan tinggi gula, garam dan lemak, selalu meningkat setiap tahunnya.

    Baca: Kasus diabetes pada anak terus meningkat karena faktor jajanan tak sehat

    Pada tahun 2024 (hingga bulan Agustus) terdapat 43.622 kasus hipertensi, 13.590 kasus Diabetes Melitus, 5.070 kasus penyakit jantung, serta 573 kasus stroke.

    Charles juga mendorong edukasi dan sosialisasi untuk mengatasi permasalahan ini, bukan hanya kepada masyarakat secara umum, namun juga kepada pelaku usaha khususnya di tingkat UMKM agar lebih memperhatikan penggunaan GGL pada produk makanan yang dijualnya.

    Edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat juga harus ditingkatkan bahkan bukan saja kepada masyarakat tetapi juga kepada pelaku usaha ya khususnya di tingkat UMKM.

    ”Agar teman-teman pelaku usaha ketika memproduksi pangan olahan juga bisa ikut mulai membatasi penggunaan garam, gula dan lemak yang berlebihan,” tutupnya.

  • Hadiah Nobel Kedokteran 2024 Dianugerahkan kepada Dua Penemu MikroRNA

    Hadiah Nobel Kedokteran 2024 Dianugerahkan kepada Dua Penemu MikroRNA

    7cloud.asia – Hadiah Nobel bidang Fisiologi atau Kedokteran tahun ini dianugerahkan kepada ilmuwan biologi Amerika Serikat Victor Ambros dan Gary Ruvkun atas penemuan RNA-mikro atau mikroRNA.

    “Hadiah Nobel bidang Fisiologi atau Kedokteran 2024 diberikan kepada Victor Ambros dan Gary Ruvkun atas penemuan mikroRNA dan fungsinya dalam regulasi gen pascatranskripsi,” demikian diumumkan di media sosial Nobel Prize, Senin.

    Dalam pernyataan terpisah, Komite Nobel mengakui pentingnya penemuan mikroRNA oleh Ambros dan Ruvkun terhadap upaya memahami asal-muasal begitu banyak penyakit.

    Dilansir di indonesianjournalofcancer.or.id, mikroRNA (miRNA) merupakan keluarga RNA yang tidak menyandi (non-coding RNA) yang berfungsi mengatur ekspresi gen pada jalur transduksi sinyal seluler.

    RNA-mikro dapat bersifat onkogen atau gen supresor tumor, tergantung mRNA sasarannya dan berfungsi sebagai modulator translasi dan stabilitas mRNA serta berpotensi mempengaruhi berbagai jalur proliferasi, diferensiasi, dan apoptosis sel.

    Baca: Aktivis Iran raih Nobel Perdamaian 2023

    Kelainan pada miRNA, baik ekspresi berlebihan maupun delesi, dapat berpengaruh pada berbagai proses seluler di atas dan berakibat transformasi ganas.

    Beberapa tahun terakhir, berbagai jenis miRNA yang berperan pada keganasan telah dapat diidentifikasi, bahkan selain dalam jaringan tumor juga dapat diidentifikasi dan diukur kadarnya dalam serum dan cairan tubuh lain sebagai circulating miRNA.

    Untuk selanjutnya di kemudian hari dapat digunakan sebagai biomarker non-invasif untuk diagnosis maupun prognosis dan pemantauan kanker.

    “Atas penemuan penting Ambros dan Ruvkun, serta para kolega yang berkembang atas jasa penemuan mereka, dimensi baru regulasi gen akhirnya tersingkap,” ucap Komite Nobel.

    “Ketika fungsi protein dalam sebuah nukleus adalah meregulasi transkripsi dan penjalinan RNA, fungsi RNA-mikro adalah mengendalikan translasi dan degradasi mRNA (RNA duta) dalam sitoplasma,” demikian penjelasan komite tersebut terkait fungsi RNA-mikro yang ditemukan Ambros dan Ruvkun.

    Baca: Peraih Nobel Perdamaian asal Bangladesh alami kriminalisasi

    Regulasi gen di tingkat RNA-mikro memiliki peran yang menentukan selama suatu organisme hidup, dan hal tersebut juga penting “bagi kehidupan organisme multiseluler yang rumit”.

    “Sejumlah kemajuan telah tercipta dalam pengembangan diagnosis dan terapi penyakit berbasis RNA-mikro, seperti untuk gangguan metabolisme, penyakit kardiovaskuler, kondisi neurodegeneratif, dan kanker,” menurut Komite Nobel seperti dilansir Sputnik.

    Dalam penelitian mereka, Ambros dan Ruvkun meneliti nematoda mikro C. elegans yang bermutasi dengan kecacatan pertumbuhan, dan dari situ mereka menemukan suatu “RNA pendek”.

    Penelitian dan uji laboratorium lanjutan memastikan penemuan RNA-mikro dan modus regulasi gennya yang hingga saat itu belum diketahui dunia medis.

  • Deforestasi Picu Penyebaran Penyakit, Pemerintah Diminta Tidak Mengabaikannya

    Deforestasi Picu Penyebaran Penyakit, Pemerintah Diminta Tidak Mengabaikannya

    7cloud.asia – Selama 10 tahun terakhir, Indonesia diperkirakan kehilangan 12,5 juta hektare (ha) hutan akibat deforestasi. Jumlah ini termasuk 1.500 ha hutan yang dibuka untuk proyek food estate “warisan” Jokowi, di desa Tewai Baru, Gunung Mas, Kalimantan Tengah.

    Di bawah kepemimpinan Prabowo, deforestasi berisiko makin menggila. Pemerintah, misalnya, berencana membuka 2 juta ha lahan demi mengejar program swasembada energi melalui bioetanol.

    Masifnya pembabatan hutan atau deforestasi di Indonesia disebabkan pula oleh industri penebangan kayu, tekstil, kelapa sawit, dan pertambangan. Berkurangnya luas hutan ini berdampak signifikan terhadap menghilangnya habitat satwa liar.

    Banyak hewan yang sumber makanannya bergantung pada hutan, terpaksa mencari makanan di lahan pertanian dan pemukiman warga.

    Interaksi antara manusia dan satwa liar pun meningkat, beberapa di antaranya berujung konflik—yang sebagian besar terjadi di hutan sekunder, lahan wanatani, maupun pertanian masyarakat.

    Lebih dari itu, peningkatan interaksi manusia dengan satwa liar juga memperbesar risiko terjadinya zoonosis, yakni penyakit yang menular dari hewan ke manusia.

    Baca: Tanpa Food Estate baru Indonesia sudah lampaui kuota deforestasi

    Pembabatan hutan picu zoonosis
    Penyebaran kuman dari satwa ke manusia lebih banyak terjadi di hutan sekunder, lahan pertanian, dan permukiman.

    Penelitian menunjukkan bahwa pembabatan hutan meningkatkan keberagaman jenis satwa pembawa penyakit sebanyak 18-72 persen, dengan total jumlah spesies mencapai 144% lebih banyak di ketiga kawasan tersebut.

    Hal ini jika dibandingkan ketika hewan berada di habitat alaminya, seperti hutan primer yang belum terdampak aktivitas manusia.

    Peningkatan ini terjadi karena pembabatan hutan mengurangi jumlah karnivora. Alhasil, jumlah hewan pembawa penyakit yang menjadi mangsa (seperti primata, kelelawar, burung, dan tikus) meningkat. HIV, misalnya, merupakan salah satu penyakit zoonosis yang awalnya hanya menular di antara primata.

    Adapun penyakit zoonosis yang berasal dari kelelawar, seperti virus Nipah, virus Hendra, MERS, ebola, demam berdarah Marburg, hingga SARS. Penyebaran SARS maupun SARS-CoV merupakan contoh dampak berkelanjutan dari penebangan hutan di Cina, Vietnam, dan Asia Tenggara.

    Penebangan hutan juga meningkatkan distribusi penyakit yang dibawa oleh nyamuk, seperti malaria, Zika, dan demam berdarah. Sebanyak 75% penyakit yang muncul melalui jalur zoonosis merupakan penyakit infeksi baru maupun penyakit yang timbul kembali setelah lama hilang.

    Baca: Daftar 13 perusahaan global penyumbang terbesar deforestasi 

    Pemerintah jangan abai
    Zoonosis memiliki dampak yang sangat luas dan bisa mengganggu banyak sektor, seperti pandemi COVID-19 lalu.

    Karena itu, pemerintahan Prabowo perlu mengambil langkah-langkah strategis yang komprehensif untuk mengurangi risiko zoonosis, di antaranya:

    1. Perkuat kebijakan perlindungan hutan
    Pemerintah harus memperkuat kebijakan perlindungan hutan dan habitat hewan liar. Ini termasuk penegakan hukum yang lebih ketat terhadap penebangan liar dan konversi lahan yang tidak berkelanjutan.

    Untuk melindungi ekosistem yang tersisa, pemerintah juga perlu mengembangkan kawasan konservasi yang efektif.

    2. Tingkatkan pemantauan zoonosis
    Pemerintah perlu meningkatkan surveilans kesehatan masyarakat, termasuk membuat sistem pemantauan zoonosis. Edukasi masyarakat mengenai risiko zoonosis dan cara pencegahannya juga sangat penting.

    Selain itu, lakukan kolaborasi antarpemangku kepentingan, baik di dalam negeri maupun global. Pertengahan 2024 lalu, pemerintah Indonesia mengadakan pertemuan dengan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) guna memperkuat ketahanan menghadapi penyakit menular yang berpotensi menjadi pandemi.

    Baca: Hutan hujan tropis dalam ancaman deforestasi

    Kolaborasi tersebut perlu disertai dengan memperbanyak penelitian ilmiah untuk memahami lebih banyak hubungan antara hilangnya habitat, perilaku hewan, timbulnya risiko zoonosis, dan langkah-langkah penanganannya.

    Melalui pendekatan holistik ini, pemerintah dapat secara efektif mengurangi dampak zoonosis terhadap kesehatan masyarakat di masa depan.

    3. Terapkan konsep one health
    Metode untuk menanggulangi zoonosis lainnya adalah dengan menerapkan konsep one health yang mengintegrasikan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan sebagai suatu kesatuan yang saling terkait.

    Melalui prinsip one health, pemerintah membuat kebijakan yang saling berkesinambungan dengan mempertimbangkan kesehatan ekosistem, kesehatan hewan, dan kesehatan masyarakat. Misalnya, kebijakan perlindungan hutan dan habitat alami dibuat untuk menjaga kelangsungan hidup spesies hewan, sekaligus sebagai langkah pencegahan untuk mengurangi risiko zoonosis.

    Konsep one health bisa disertakan dalam analisis dampak lingkungan (Amdal) maupun pemberian izin usaha dan pembukaan lahan. Dengan begitu, pembabatan hutan tidak bisa dilakukan semena-mena.

    Dalam kasus swasembada energi, misalnya, pembabatan hutan berskala masif perlu mempertimbangkan dampak berkelanjutan terhadap ekosistem hewan, lingkungan, maupun masyarakat sekitar.

    Sebagai gantinya, pemerintahan Prabowo bisa mengupayakan alternatif produksi bioetanol yang lebih ramah lingkungan, seperti memanfaatkan limbah sawit dan pulping.

    Pada akhirnya, penerapan one health dalam kebijakan pemerintah sangat diperlukan tidak hanya untuk memastikan keberlanjutan ekosistem dan kesejahteraan hewan, tetapi juga untuk menciptakan lingkungan yang lebih sehat bagi seluruh makhluk hidup.

    Artikel ini merupakan edisi khusus #PantauPrabowo The Conversation yang memuat isu-isu penting hasil pemetaan redaksi The Conversation bersama TCID Author Network. Penulis: Robby Jannatan (Lecturer of Biology, Universitas Andalas)

  • Penularan Penyakit HMPV Meningkat, Kenali Gejala dan Cara Mencegahnya

    Penularan Penyakit HMPV Meningkat, Kenali Gejala dan Cara Mencegahnya

    7cloud.asia – Pejabat kesehatan di seluruh dunia berada dalam siaga tinggi karena China melaporkan lonjakan infeksi yang disebabkan oleh human metapneumovirus (HMPV).

    HMPV adalah virus yang menyerang pernapasan dan sangat menular dengan potensi komplikasi parah hingga kematian.

    Dilansir dari Medical Daily, Jumat (3/1/2025) HMPV menyebar melalui kontak dekat dengan orang yang terinfeksi, percikan dari batuk atau bersin, atau melalui permukaan yang terkontaminasi.

    Meskipun infeksi HMPV dapat menyerang individu dari segala usia, anak kecil, orang dewasa lanjut usia, dan orang dengan kekebalan tubuh yang lemah berisiko mengalami komplikasi serius seperti pneumonia.

    Data dari Badan Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Nasional China melaporkan adanya lonjakan infeksi pernapasan termasuk infeksi HMPV di provinsi utara pada Minggu 16-22 Desember.

    Infeksi tersebut meliputi rhinovirus dan human metapneumovirus, dengan peningkatan kasus HMPV yang nyata di antara mereka yang berusia di bawah 14 tahun, seperti yang dilaporkan oleh Reuters.

    Baca: Deforestasi picu penyebaran penyakit zoonosis

    Di Amerika Serikat, musim HMPV biasa mulai muncul pada musim dingin dan berlangsung hingga musim semi.

    Infeksi HMPV menyumbang sekitar lima persen hingga 10 persen dari rawat inap pada anak-anak dan hingga 16 persen dari kasus ini dapat menyebabkan komplikasi serius seperti pneumonia.

    Gejala HMPV
    Seseorang yang tertular HMPV dapat mengalami gejala dalam seminggu, yang umumnya meliputi batuk, demam, hidung tersumbat, dan sesak napas. Virus ini dapat menyebabkan infeksi saluran pernapasan atas dan bawah.

    Sementara kasus ringan biasanya sembuh dalam beberapa hari tanpa intervensi, infeksi terkadang dapat berkembang menjadi kondisi yang lebih parah seperti bronkitis atau pneumonia.

    Cara pencegahan
    Tidak ada vaksinasi untuk mencegah infeksi, dan karenanya mengambil tindakan pencegahan yang diperlukan dapat mengurangi risiko penularan.

    Beberapa langkah sederhana seperti menjaga kebersihan tangan, menghindari kontak dengan orang yang terinfeksi, dan membersihkan permukaan yang terkontaminasi dapat mencegah penyebaran.

    Baca: Cemas atau stres berkepanjangan memicu penyakit Jantung

    Bagi mereka yang mengalami gejala seperti pilek, praktik utama meliputi menutup mulut dan hidung saat batuk atau bersin, mencuci tangan secara menyeluruh, menahan diri dari berbagi peralatan makan atau cangkir, dan menghindari berciuman dengan orang lain.

    Tetap di rumah saat sakit dan membersihkan permukaan yang sering disentuh dapat lebih mengurangi risiko penularan.

    Pengobatan
    Tidak ada terapi antivirus khusus untuk infeksi HMPV. Pengobatan terutama difokuskan pada pengurangan gejala, termasuk penggunaan obat bebas seperti asetaminofen atau ibuprofen untuk mengurangi rasa sakit dan demam, serta dekongestan untuk melegakan hidung tersumbat.

    Orang dengan PPOK, asma, dan fibrosis paru mungkin mengalami gejala parah dan mungkin memerlukan obat untuk mengendalikan mengi dan batuk.

  • Mengenal Leptospirosis, Penyakit yang Sering Menjangkiti Warga Korban Banjir

    Mengenal Leptospirosis, Penyakit yang Sering Menjangkiti Warga Korban Banjir

     

    7cloud.asia – Curah hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur beberapa wilayah di Indonesia mengakibatkan banjir. Berbagai penyakit mulai menjangkiti warga yang terkena banjir, salah satunya adalah leptospirosis.

    Melansir dari Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan, Kementerian Kesehatan, leptospirosis disebabkan oleh bakteri leptospira interrogans yang dibawa oleh hewan.

    Bakteri Leptospira dapat hidup selama beberapa tahun di ginjal hewan tersebut tanpa menimbulkan gejala. Bakteri ini dapat menyebar melalui urin atau darah hewan yang terinfeksi.

    Baca: Kenali gejala Flu Singapura

    Beberapa hewan yang bisa menjadi perantara penyebaran leptospirosis adalah tikus, sapi, anjing, kuda dan babi.

    Umumnya penderita leptospirosis mengalami gejala setelah 2 hari sampai 4 minggu terinfeksi bakteri leptospira. Gejala yang muncul adalah demam, sakit kepala, mual, muntah, dan tidak nafsu makan.

    Selain itu, penderita leptospirosis juga mengalami diare, mata merah, nyeri otot, sakit perut, bintik-bintik merah pada kulit yang tidak hilang saat ditekan.

    Leptospirosis bisa ditularkan dengan cara berikut ini:

    Pertama, kontak langsung antara kulit dengan urin hewan pembawa bakteri Leptospira.

    Kedua, kontak antara kulit dengan air dan tanah yang terkontaminasi urin hewan pembawa bakteri Leptospira.

    Ketiga, mengonsumsi makanan yang terkontaminasi urin hewan pembawa bakteri penyebab Leptospirosis.

    Baca: Waspada 11 penyakit saat banjir mengepung

    Bakteri Leptospira dapat masuk ke dalam tubuh melalui luka terbuka, baik luka kecil seperti luka lecet, maupun luka besar seperti luka robek.

    Selain itu, bakteri ini bisa juga masuk melalui mata, hidung, mulut, dan saluran pencernaan.

    Ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang terjangkit infeksi leptospirosis, yaitu:

    1. Menghabiskan sebagian besar waktunya di luar ruangan, seperti pekerja tambang, petani, dan nelayan.
    2. Sering berinteraksi dengan hewan, seperti peternak atau pemilik hewan peliharaan.
    3. Memiliki pekerjaan yang berkaitan dengan saluran pembuangan atau selokan.
    4. Tinggal di daerah rawan banjir.
    5. Sering melakukan olahraga atau rekreasi air di alam bebas.
    6. Minum dari sumber air yang berpotensi terkontaminasi bakteri, seperti air banjir, air sungai, atau air ledeng yang tidak bersih
    7. Mengonsumsi makanan yang telah terkena air yang terkontaminasi
    8. Mandi atau berendam dalam air banjir atau air tawar yang terkontaminasi, terutama ketika menyelam atau jika memiliki luka terbuka saat kontak dengan air

    Baca: Musim hujan, kasus DBD naik hingga 100 persen lebih

    Jika mengalami gejala-gejala tadi, sebaiknya segera periksakan diri ke dokter agar bisa segera ditangani. Sebab jika terlambat bisa mengalami beberapa komplikasi seperti:

    • Cedera ginjal akut.
    • Trombositopenia
    • Perdarahan saluran cerna
    • Perdarahan paru
    • Gagal hati
    • Rhabdomyolysisatau kerusakan otot rangka.
    • Penggumpalan darah yang tersebar di seluruh tubuh.
    • Keguguran pada ibu hamil
    • Gagal jantung hingga mengakibatkan kematian

    Baca: Musim hujan, waspada penyakit kulit

    Komplikasi yang terjadi akibat leptospirosis cukup serius dan dapat mengakibatkan kematian. Karena itu, ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mencegah dan mengurangi risiko penyebaran infeksi leptospirosis yaitu :

    1. Mengenakan pakaian pelindung, sarung tangan, sepatu bot, dan pelindung mata saat anda bekerja di area yang berisiko menularkan bakteri Leptospira.
    2. Menutup luka dengan plester tahan air, terutama sebelum kontak dengan air di alam bebas.
    3. Menghindari kontak langsung dengan air yang terkontaminasi, seperti berenang atau berendam.
    4. Mengonsumsi air minum yang sudah terjamin kebersihannya.
    5. Mencuci tangan setiap sebelum makan dan setelah melakukan kontak dengan hewan.
    6. Menjaga kebersihan lingkungan.
    7. Melakukan vaksinasi hewan peliharaan atau ternak.

     

     

  • Kaitan Kerusakan Lingkungan, Perubahan Iklim dan Penularan Penyakit

    Kaitan Kerusakan Lingkungan, Perubahan Iklim dan Penularan Penyakit

    7cloud.asia – Pendekatan One Health yang dikembangkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), mengakui interaksi rumit antara kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan.

    Prakarsa One Health ini sangat penting, mengingat cepatnya penyebaran penyakit menular yang terkait dengan masalah lingkungan, khususnya penggundulan hutan dan perubahan iklim.

    Ketika lanskap dan iklim global berubah secara drastis, munculnya penyakit zoonosis dan penyakit yang ditularkan melalui vektor atau inang juga tmenjadi masalah kesehatan utama.

    Memahami berbagai faktor lingkungan untuk berbagai penyakit menular sangat penting untuk memastikan keamanan kesehatan di masa mendatang. Berikut ulasan Joshua Hadi yang telah terbit di Earth.org.

    Deforestasi, Keanekaragaman Hayati dan Wabah Penyakit
    Pada tahun 2018, peneliti dari Polandia dan Prancis menerbitkan artikel opini yang menyoroti potensi munculnya infeksi virus corona baru akibat penggundulan hutan, khususnya di Asia Tenggara.

    Para peneliti berpendapat bahwa populasi kelelawar pembawa virus tersebut telah tinggal di dekat tempat tinggal manusia karena hilangnya habitat dan kesesuaian gaya hidup kelelawar dengan lingkungan tempat tinggal manusia tertentu (misalnya, rumah dan lumbung sebagai tempat berlindung).

    Kondisi ini meningkatkan risiko penularan penyakit dari kelelawar ke manusia, yang menjadi inti masalah penularan zoonosis sebagai akibat degradasi lingkungan akibat ulah manusia.

    Peringatan ilmuwan ini ternyata bukan isapan jempol. Pada 2020, dunia dilanda pandemi Covid-19 yang kemudian diketahui mulai menyebar dari Wuhan, China.

    Baca: Deforestasi picu penyebaran penyakit

    Limpahan zoonosis, juga dikenal sebagai infeksi limpahan, adalah penularan patogen dari hewan (biasanya vertebrata) ke manusia. Rute penularan ini mencakup sekitar 60 persen penyakit menular yang muncul.

    Salah satu contoh utama penularan zoonosis adalah munculnya virus imunodefisiensi manusia (HIV) dari lentivirus yang berasal dari primata non-manusia Afrika, yang telah menyebabkan pandemi sindrom imunodefisiensi didapat (AIDS) global.

    Demikian pula, potensi penularan virus Ebola dari kelelawar buah ke manusia kemudian mengakibatkan wabah Ebola yang mencapai puncaknya di Afrika Barat.

    Oleh karena itu, seiring dengan perubahan penggunaan lahan global, terutama perluasan populasi manusia ke kawasan hutan, terdapat risiko paparan manusia terhadap patogen atau hewan pembawanya.

    Selain itu, penggundulan hutan dapat mengubah kelimpahan dan distribusi hewan atau vektor pembawa patogen.

    Penularan patogen dari hewan vertebrata ke manusia juga dapat difasilitasi oleh vektor (biasanya artropoda), seperti nyamuk, kutu, lalat, dan kutu.

    Contoh penyakit yang ditularkan melalui vektor meliputi demam berdarah, malaria, Zika, dan chikungunya. Mirip dengan penularan zoonosis langsung, penyakit yang ditularkan melalui vektor ini dipengaruhi oleh penggundulan hutan.

    Satu studi yang mengkaji dampak penggundulan hutan terhadap kelimpahan nyamuk di 12 negara di lima benua menemukan bahwa dari 87 spesies nyamuk yang dianalisis, lebih dari separuhnya (52,9 persen) terkena dampak positif oleh penggundulan hutan.

    Baca: Perubahan iklim memicu penyebaran penyakit demam berdarah

    Hal ini termasuk yang menjadi vektor patogen manusia (misalnya, nyamuk Aedes atau Anopheles).

    Meskipun alasannya belum sepenuhnya dipahami, ketersediaan badan air buatan manusia untuk tempat berkembang biak dan hewan pertanian sebagai inang alternatif merupakan faktor penting.

    Studi lain menunjukkan korelasi antara berkurangnya kawasan hutan, khususnya akibat perluasan perkebunan kelapa sawit, dengan wabah penyakit zoonosis atau yang ditularkan melalui vektor di seluruh dunia dari tahun 1990 hingga 2016.

    Temuan ini menekankan ancaman penyakit menular sebagai akibat sampingan dari degradasi lingkungan.

    Aspek lain yang perlu dipertimbangkan adalah keanekaragaman hayati. Keanekaragaman hayati hewan vertebrata yang tinggi dapat mengurangi kemungkinan vektor memakan hewan inang pembawa penyakit, sebuah fenomena yang disebut efek pengenceran.

    Dengan kata lain, karena suatu vektor memiliki lebih banyak hewan inang yang tersedia untuk dimakan, kemungkinan besar ia akan bergantung pada hewan yang membawa patogen manusia.

    Oleh karena itu, hilangnya keanekaragaman hayati sebagai konsekuensi tak terelakkan dari penggundulan hutan, dapat mendorong peningkatan infeksi yang ditularkan melalui vektor di area yang terdampak.

    Kondisi ini telah ditunjukkan pada infeksi penyakit Lyme dan virus West Nile di Amerika Serikat.