Tag: plastik

  • 4 Model yang Bisa Ditempuh Untuk Membangun Ekosistem Guna Ulang

     

    7cloud.asia – Prinsip guna ulang menjadi salah satu isu yang diusung dalam Pawai Bebas Plastik 2023 yang digelar pada 30 Juli lalu.

    Konsep guna ulang dianggap sebagai solusi yang paling tepat untuk mengatasi sampah plastik sekali pakai yang sudah sangat serius. 

    Prinsip guna ulang sebenarnya telah banyak diterapkan di sejumlah daerah di Indonesia.

    Kebiasaan untuk membeli jamu dari mbok jamu yang keliling di depan rumah dengan menggunakan gelas yang bisa digunakan kembali, membeli mie bakso dari pedagang gerobak keliling yang menggunakan piring sendiri adalah sedikit dari contoh prinsip guna ulang.

    Baca: Beda daur ulang dengan guna ulang

    Di era modern sekarang konsep guna ulang bisa dilakukan dengan membeli minuman yang dikemas dengan gelas atau botol kaca.

    Dilansir di laman resmi Diet Kantung Plastik dietkantongplastik.info, Ellen MacArthur Foundation Reuse Framework menyebut ada empat model guna ulang yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, yaitu

    (1) Pengisian ulang di rumah (Refill at home),

    (2) Pengisian ulang saat bepergian (Refill on the go) ,

    (3) Pengembalian dari rumah (Return from home), dan

    (4) Pengembalian saat bepergian (Return on the go).

    Baca: Prinsip guna ulang masih diabaikan

    Direktur Eksekutif Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik (GIDKP) Tiza Mafira dalam jumpa pers Pawai Bebas Plastik akhir Juli mengatakan, guna ulang bukanlah hal yang baru.

    Model guna ulang ini sudah kita lakukan sejak lama, namun hingga sekarang belum ada sistem atau struktur yang memfasilitasi inisitaif masyarakat ini. 

    Menurutnya, untuk menyukseskan gerakan guna ulang ini, dibutuhkan peran berbagai pihak agar dapat berjalan dengan optimal.

    Selain konsumen, pemerintah harus membuat kebijakan yang menjadikan guna ulang sebagai mandatory atau keharusan sehingga mau tidak mau produsen melakukannya. 

    Baca: Produsen diminta transparan soal pengelolaan sampah plastik

    Manufaktur atau industri produk kebutuhan sehari-hari dapat menyediakan dan menjual produk dalam kemasan guna ulang, yang dapat disediakan secara mandiri maupun dengan jasa bisnis rintisan guna ulang.

    “Produk-produk ini dapat didistribusikan di titik penjualan, seperti pertokoan, pasar rakyat, warung, dan lainnya, sehingga konsumen dapat dengan mudah membelinya untuk digunakan,” demikian Tiza dalam pernyataannya.

    Kemasan produk yang sudah selesai digunakan, dapat dikembalikan melalui titik-titik pengumpulan atau drop off points, seperti di bank sampah, pertokoan, pasar rakyat, warung.

    Selain tempat-tempat itu, pemerintah dan/atau industri produk kebutuhan sehari-hari dapat membangun titik-titik untuk memfasilitasi gerakan guna ulang ini.

    Baca: Seperti ini seharusnya ekonomi sirkular

    Konsumen juga dapat mengembalikan kemasan produk itu sendiri atau menggunakan jasa penjemputan yang disediakan oleh pemerintah dan/atau oleh industri produk kebutuhan sehari-hari, sehingga dapat meminimalisir emisi karbon dari proses transportasi. 

    Kemasan produk yang telah dikumpulkan akan dicuci dan disterilkan kembali sebelum diisi ulang oleh industri produk kebutuhan sehari-hari dan/atau jasa dari bisnis rintisan guna ulang.

    Pengisian kembali ini dilakukan sesuai dengan standar kebersihan yang berlaku. Produk dapat didistribusikan kembali di titik penjualan, dan mengulang proses yang sebelumnya sudah dilakukan.

    “Jika infrastruktur ini dapat terwujud dan dijalankan dengan optimal, maka ekosistem guna ulang dapat dibangun sehingga kita bisa mengurangi ketergantungan konsumsi yang menghasilkan sampah bertumpuk,” imbuh Tiza

    Penerapan sistem guna ulang secara massal juga dapat membantu mengurangi efek perubahan iklim dari masalah sampah yang tercecer di lingkungan.

    Karena itu Tiza mengajak seluruh masyarakat mendukung Gerakan Guna Ulang di Indonesia, demi terwujudnya masa depan yang berkelanjutan.

    Baca: Penerapan konsep guna ulang ala Siklus

     
  • Berniat Praktikkan Konsep Guna Ulang untuk Kurangi Sampah Plastik? Simak Infonya di Sini

    7cloud.asia – Saat ini, praktik guna ulang juga sudah mulai digalakkan oleh industri penyedia produk rumah tangga di Indonesia untuk kurangi sampah plastik.

    Praktik guna ulang ini antara lain dilakukan Gerakan Guna Ulang Jakarta yang diselenggarakan oleh Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik (GIDKP) dan Zero Waste Living Lab (ZWLL) Enviu.

    Program tersebut bertujuan untuk mengurangi plastik sekali pakai dari kemasan makanan, minuman, kemasan produk rumah tangga, dan kemasan dari layanan pesan-antar online. 

    Baca: Ekosistem guna ulang harus mulai dibangun dari sekarang

    Program Lead Zero Waste Living Lab by Enviu di Indonesia Darina mengatakan Enviu hadir untuk memasyarakatkan konsep guna ulang sekaligus mengurangi timbulan plastik sekali pakai dari kemasan sekali pakai.

    “Kemasan sekali pakai sering digunakan untuk produk-produk rumah tangga seperti sabun cuci piring, pembersih lantai, sabun pencuci baju dan lain sebagainya,” ujarnya di sela Seminar dan Peluncuran Laporan Break Free From Plastic dalam terjemahan bahasa Indonesia “Mewujudkan Sistem Guna Ulang” di Jakarta, pekan lalu.

    Konsep Guna Ulang juga mulai diterapkan produsen perawatan tubuh The Body Shop.

    Baca: Guna ulang lebih efektif kurangi sampah plastik, tapi diabaikan

    “The Body Shop mencoba menjadi bagian dari sistem guna ulang dengan cara menyediakan kosmetik yang dapat diisi ulang di beberapa store yang kami miliki saat ini,” PR Manager The Body Shop Indonesia, Gesit Pambudi di kesempatan yang sama.

    Kami yakin, ujarnya, dengan kontribusi sekecil apapun dari kami para produsen, dapat menghasilkan dampak yang cukup besar untuk menciptakan sistem guna ulang di Indonesia khususnya.

    Penerapan sistem guna ulang tidak lepas dari pengawasan dari pihak-pihak yang berwenang untuk memastikan uji kelayakan dari produk guna ulang.

    Baca: Beda guna ulang dengan daur ulang

    Saat ini, Badan Pengawasan Obat dan Kosmetik (BPOM) sudah memiliki Peraturan No 12 Tahun 2023 Tentang Pengawasan Pembuatan dan Peredaran Kosmetik yang dapat diedarkan dengan sistem isi ulang.

    “Saat ini BPOM sedang mengedukasi para pelaku usaha dengan memberikan penjelasan terkait implementasi. Peraturan ini mengatur secara keseluruhan mulai dari proses produksi hingga proses penyimpanan sampai ke distribusinya.” ujar Direktur Pengawasan Kosmetik BPOM, Irwan.

    Konsep guna ulang dengan menyediakan wadah atau kemasan yang ramah lingkungan, dapat digunakan berulang kali, bahkan dapat dikembalikan juga mulai dilakukan sejumlah restoran.  

    Baca: Produsen dinilai tak serius tangani sampah plastik dan tak transparan

    Berikut ini merupakan beberapa startup yang menyediakan kemasan yang dapat dikembalikan sebagaimana dilansir Waste4change

    ALLAS Indonesia

    Menjadi startup penyedia kemasan pesan-antar makanan secara online berkelanjutan pertama di Jakarta, Allas memiliki visi mengurangi sampah wadah makanan sekali pakai dalam sektor kuliner.

    ALLAS Menyediakan wadah yang dapat dipakai berulang kali, membuat kita merasa seperti membawa bekal yang dibuat oleh orang tua dan berharap kita tidak lagi merasa bersalah ketika memesan makanan secara online apabila akan menambah sampah.

    Kunjungi website https://www.allas.id/ untuk informasi lebih lanjut.

    Baca: Produsen sampah plastik terbesar di dunia

    KOINPACK

    Koinpack memberlakukan sistem pengemasan yang inovatif. Menyediakan kemasan guna ulang yang dapat digunakan berulang kali dan dikembalikan untuk mengganti kemasan sachet dan jenis kemasan sekali pakai lainnya dengan cara deposit dan insentif.

    Kita akan mendapatkan cashback jika mengembalikan kemasan kosong kepada Koinpack. Nantinya kemasan kosong tersebut akan dibersihkan dan diisi ulang agar dapat dipakai kembali.

    Saat ini tercatat sudah lebih dari 130.500 jumlah sachet yang digantikan dengan botol koinpack. Kunjungi website https://www.koinpack.id/ untuk informasi lebih lanjut.

    Baca: KLHK ajak warga ‘boikot’ produk yang tak olah sampah plastiknya

    CupKita

    Merupakan layanan reusable cup pertama di Indonesia untuk kedai kopi. Kelahiran CupKita dilatarbelakangi oleh fakta bahwa kedai kopi di Jakarta rata-rata menjual sekitar 125 cangkir sekali pakai setiap harinya.

    CupKita menyediakan alternatif wadah atau kemasan guna ulang berupa cangkir yang dapat digunakan kembali dan membuat kedai kopi berkelanjutan melalui biaya yang lebih ramah dijangkau. 

    Cara untuk menggunakan layanan ini pun cukup mudah. Kita hanya perlu memesan kopi dan memindai serta membayar deposit, kemudian pilih CUPKITA, setelah itu dapat menikmati kopi yang dipesan.

    Cangkir yang sudah kosong dapat dikembalikan ke toko untuk dikumpulkan, dicuci bersih, dan dikirimkan kembali ke kedai kopi. Dengan mengembalikan kemasan ke toko, kita juga bisa mendapatkan uang kita kembali.

    Kunjungi website https://cupkita.id/ untuk informasi lebih lanjut.

    Baca: Apakah bioplastik benar-benar aman untuk lingkungan?

    QYOS

    Startup berbasis digital ini didirikan pada tahun 2020 dan merupakan bagian dari Enviu, sebuah perusahaan sosial yang berfokus untuk memberikan dampak positif bagi sosial dan lingkungan.

    Qyos berpartisipasi dalam gerakan Guna Ulang Jakarta bersama Koinpack dan Allas. 

    Demi mengurangi sampah plastik dari hulu, Qyos menyediakan stasiun refill atau mesin isi ulang otomatis untuk produk rumah tangga yang berada di toko-toko terdekat area tempat tinggal masyarakat, seperti kompleks perumahan.

    Hingga saat ini, Qyos telah memiliki lebih dari 2.700 pelanggan dan bekerja sama dengan 4 FMCGs. Kunjungi website https://www.qyos.id/ untuk informasi lebih lanjut.

    Baca: Tiga tuntutan Pawai Bebas Plastik

    Clubzerø

    Sama seperti 4 startup sebelumnya, Clubzerø menyediakan layanan kemasan guna ulang yang dapat digunakan kembali ketika berada di toko, takeaway, atau pemesanan secara online.

    Kemasan yang disediakan Clubzerø menggunakan CO2 lebih sedikit 50% daripada kemasan sekali pakai.

    Hingga saat ini, Clubzerø telah melayani lebih dari 1 juta pesanan, menghemat 68 ton CO2 dan mencapai 95% tingkat pengembalian.

    Kunjungi website https://www.clubzero.co/ untuk informasi lebih lanjut.

    Berbagai usaha telah dilakukan dan semakin dikembangkan untuk mengurangi konsumsi plastik sekali pakai.

    Baca: Pawai Bebas Plastik mampu dorong kebijakan ramah lingkungan

     

  • Peneliti Jepang Temukan Mikroplastik Cemari Awan di Gunung Fuji

    Peneliti Jepang Temukan Mikroplastik Cemari Awan di Gunung Fuji

    7cloud.asia – Polusi akibat limbah plastik makin mengkhawatirkan. Mikroplastik sudah  ditemukan di mana-mana mulai dari kedalaman lautan hingga es Antartika.

    Bakan penelitian terbaru dari Universitas Waseda mendeteksi mikroplastik di lokasi baru yang mengkhawatirkan – awan yang menggantung di atas dua gunung di Jepang.

    Awan di sekitar Gunung Fuji dan Gunung Oyama di Jepang mengandung jumlah serpihan plastik yang sangat kecil atau mikroplastik.

    Sehingga peneliti menyoroti bagaimana polusi dapat menyebar dari jarak jauh, mencemari tanaman dan air di planet ini melalui “curah hujan plastik”.

    Baca: Bahaya mikroplastik pada kesehatan

    Mikroplastik tersebut sangat tinggi dalam sampel yang dikumpulkan para peneliti sehingga diperkirakan dapat menyebabkan terbentuknya awan sekaligus mengeluarkan gas rumah kaca.

    “Jika isu ‘polusi udara plastik’ tidak ditangani secara proaktif, perubahan iklim dan risiko ekologi dapat menjadi kenyataan, sehingga menyebabkan kerusakan lingkungan yang serius dan tidak dapat diubah di masa depan,” ujar penulis utama studi tersebut, Hiroshi Okochi.

    Makalah yang ditinjau oleh rekan sejawat ini diterbitkan di Environmental Chemistry Letters, dan penulis yakin ini adalah makalah pertama yang memeriksa mikroplastik di awan.

    Polusi tersebut terdiri dari partikel plastik berukuran kurang dari lima milimeter yang dilepaskan dari potongan plastik yang lebih besar selama proses degradasi.

    Baca: Mengenal bioplastik, apakah benar-benar aman untuk lingkungan

    Mikroplastik ini ditambahkan ke beberapa produk, atau dibuang ke limbah industri. Ban dianggap sebagai salah satu sumber utama mikroplastik yang ditemukan di awan.

    Begitu pula manik-manik plastik yang digunakan dalam produk perawatan pribadi.

    Peneliti Waseda mengumpulkan sampel pada ketinggian berkisar antara 1.300-3.776 meter, yang mengungkapkan sembilan jenis polimer, seperti poliuretan, dan satu jenis karet.

    Kabut di awan tersebut mengandung sekitar 6,7 hingga 13,9 keping mikroplastik per liter, dan di antara mikroplastik tersebut terdapat sejumlah besar mikroplastik  yang “mencintai air”.

    Baca: Mungkinkah mewujudkan pasar tradisional yang benar-benar bebas plastik

    Temuan ini menunjukkan bahwa polusi “memainkan peran penting dalam pembentukan awan yang cepat, yang pada akhirnya dapat mempengaruhi iklim secara keseluruhan,” tulis penulis dalam siaran pers.

    Hal ini berpotensi menjadi masalah karena mikroplastik terurai lebih cepat ketika terkena sinar ultraviolet di atmosfer bagian atas, dan mengeluarkan gas rumah kaca.

    Konsentrasi mikroplastik yang tinggi di awan di wilayah kutub yang sensitif dapat mengganggu keseimbangan ekologi, tulis para penulis.

    Temuan ini menyoroti betapa mikroplastik sangat mudah berpindah dan dapat berpindah jarak jauh melalui udara dan lingkungan.

    Baca: Yuk, Tinggalkan lima jenis plastik sekali pakai ini

    Penelitian sebelumnya telah menemukan material tersebut dalam air hujan, dan penulis studi menyebut, sumber utama mikroplastik di udara mungkin berasal dari semprotan laut, atau aerosol, yang dilepaskan saat ombak menerjang atau gelembung laut pecah.

    “Debu yang ditimbulkan oleh mobil di jalan raya juga merupakan sumber potensial mikroplastik,” tulis para penulis.

    Penelitian terbaru menunjukkan bahwa limbah mikroplastik tersebut terakumulasi secara luas di seluruh dunia – sebanyak 10 juta ton diperkirakan berakhir di lautan setiap tahunnya.

    Manusia dan hewan menelan atau menghirup mikroplastik dalam jumlah besar, yang terdeteksi di paru-paru, otak, jantung, darah, plasenta, dan kotoran manusia.

    Baca: 5 perusahaan penghasil sampah plastik terbesar di dunia

    Toksisitas mikroplastik masih dipelajari, tetapi penelitian baru memaparkan bahwa tikus pada mikroplastik menunjukkan adanya masalah kesehatan, seperti perubahan perilaku.

    Penelitian lain menemukan kaitan mikroplastik dengan kanker dan sindrom iritasi usus besar.

    Sumber: The Guardian baca artikel asli di sini

     

  • Negara-negara ASEAN Sepakat Perkuat Kerjasama Mengatasi Polusi Plastik

    Negara-negara ASEAN Sepakat Perkuat Kerjasama Mengatasi Polusi Plastik

    7cloud.asia – Polusi plastik masih menjadi permasalahan bagi negara anggota ASEAN. Karena itu perlu berbagai upaya dalam menanganinya. Salah satunya menetapkan standar kemasan plastik yang dapat didaur ulang.

    Rekomendasi ini disampaikan oleh Direktur Penanganan Sampah, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Novrizal Tahar dalam ASEAN Conference for Combating Plastic Pollution (ACCPP) di Jakarta.

    Pertemuan yang berlangsung 17 Oktober 2023 lalu ini merupakan kolaborasi Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) dan KLHK serta Sekretariat ASEAN (ASEC).

    Rekomendasi lainnya adalah mendukung kerja sama ASEAN pada ASEAN Working Group on Environmentally Sustainable Cities (AWGESC), untuk menggabungkan tingkat daur ulang sebagai salah satu kriteria Penghargaan Kota Berkelanjutan Lingkungan ASEAN.

    “Mengembangkan standar di masing-masing negara ASEAN dan standar regional ASEAN untuk meningkatkan model bisnis reuse/refill sebagai alternatif untuk mengurangi konsumsi plastik sekali pakai,” urai Novrizal.

    ASEAN, lanjut Novrizal, perlu memainkan peran penting untuk menyuarakan suara dan posisinya sebagai kawasan yang memiliki banyak kesamaan, dalam proses negosiasi Internasional Legally Binding Instrument (ILBI) mengenai polusi plastik.

    Selain itu, ASEAN perlu mengintegrasikan ekonomi sirkular ke dalam sistem perdagangan, keuangan dan investasi, dengan menetapkan insentif ramah lingkungan bagi sektor swasta.

    Dalam rilis KLHK, kegiatan ACCPP juga didukung oleh National Plastic Action Partnership (NPAP) dan Economic Research Institute for ASEAN and East Asia (ERIA).

    Tujuannya mengeksplorasi potensi inisiatif dalam penguatan peran negara anggota ASEAN guna mendukung upaya penanganan polusi plastik, termasuk di laut. 

    Sementara itu, Kepala Badan Standardisasi Instrumen LHK, Ary Sudijanto menjelaskan ACCPP merupakan bagian dari komitmen Indonesia sebagai Ketua ASEAN.

    Indonesia mengkoordinasikan suara dalam melawan polusi plastik dan sampah laut secara regional melalui Pernyataan Ketua KTT ASEAN ke-43.. Selain itu, ACCPP ini merupakan kesempatan strategis untuk menggalang rekomendasi demi menemukan kondisi regional yang memungkinkan mengatasi pencemaran plastik.

    ACCP juga akan mengharmonisasikan misi AMS dalam menghadapi negosiasi zero-draft Global Plastic Treaty pada INC-3.

    “Sebelum inisiatif ILBI, ASEAN telah mengambil tindakan nyata untuk memerangi polusi plastik dalam bentuk Deklarasi Bangkok mengenai Sampah Laut di kawasan ASEAN dan Kerangka Aksi ASEAN mengenai Sampah Laut,” jelas Ary.

    “Kemarin seluruh anggota ASEAN berpartisipasi dalam pertemuan koordinasi untuk membahas dan berbagi pandangan persamaan dan perbedaan prioritas sebagai persiapan pertemuan INC-3 berikutnya yang diselenggarakan di Nairobi, Kenya bulan depan,” tambahnya.

    Dalam forum ACCP juga dibahas penguatan commonalities dari aspek teknis terkait material alternatif, mendorong penerapan produksi dan konsumsi berkelanjutan (sustainable consumption and production) dan skema financial.

    Indonesia ikut mendorong ASEAN untuk melakukan kajian dampak ekonomi yang menyeluruh khususnya terkait dengan keberadaan industri plastik di negara berkembang sebagai bagian dari pembangunan.

    Selain itu, ACCP juga membahas aspek teknis, seperti lingkup pencemaran plastik, bahan aditif plastik terkait microplastik dan nanoplastik, chemical yang digunakan pada proses produksi, penggunaan single use plastic dan isu EPR.

    Reporter: Nurakhmayani

     

  • Kurangi Limbah, Kecamatan di Mataram Ubah Sampah Plastik Menjadi Pot

    Kurangi Limbah, Kecamatan di Mataram Ubah Sampah Plastik Menjadi Pot

    7cloud.asia – Banyak cara untuk memanfaat limbah plastik menjadi bernilai ekonomis. Seperti mengolah sampah plastik menjadi pot bunga yang dikombinasikan dengan bekas tatakan telur.

    Uji coba ini dilakukan oleh pemerintah Kecamatan Sekarbela, Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) sebagai tindak lanjut dari program jaring sampah.

    “Sampah plastik yang terjaring di beberapa aliran sungai dan saluran, kami kumpulkan, kemudian kami olah untuk membuat pot bunga dengan menggunakan tatakan bekas telur,” jelas Camat Sekarbela, Cahya Samudera.

    Baca: limbah pabrik coklat mencemari aliran irigasi pertanian petani mengeluh

    Melansir Antaranews, Cahya mengatakan dari uji coba sekitar setengah kontainer kendaraan roda tiga sampah plastik menghasilkan 20 pot bunga.

    “Untuk volume sampah plastik setengah kontainer itu belum bisa kami pastikan berapa kilogram, sebab kami gunakan ukuran setengah kontainer kendaraan roda tiga,” ungkapnya.

    Selanjutnya Cahya menjelaskan untuk menjadi sebuah pot, sampah plastik dicampur semen, kemudian diaduk dan dicetak dengan tatakan telur dan dikeringkan.

    “Alhamdulillah, hasilnya cukup bagus dan yang pastinya dapat mengurangi sampah plastik yang dibuang ke tempat pembuangan akhir,” katanya.

    Baca: Teba, cara unik warga Bali kelola sampah rumah tangga

    Rencananya pot-pot plastik ini akan ditempatkan pada titik-titik pembuangan sampah ilegal.

    Hal ini untuk mencegah masyarakat agar tidak membuang sampah lagi ke sungai atau saluran air lainnya.

    “Kalau pinggir sungai atau saluran sudah rapi tertata, ditanami bunga-bunga, Insya Allah masyarakat sungkan membuang sampah,” ucapnya.

    Selain itu, hasil uji coba ini juga akan dibagi ke masyarakat untuk memotivasi mereka agar mau memanfaatkan sampah plastik menjadi barang bernilai ekonomis, salah satunya pot bunga.

    Baca: masalah lingkungan terbesar 2023 limbah makanan

    Dia berharap nantinya program ini dapat dilakukan masyarakat, terutama di Kecamatan Sekarbela.

    Dengan demikian, pihak kecamatan nantinya dapat membeli hasil karya masyarakat yang membuat pot dari limbah plastik ini.

    “Dari pada kami beli pot bunga dari luar, lebih baik kami manfaatkan potensi lokal hasil pengolahan sampah dari warga kami. Karenanya, warga juga akan diberikan pelatihan pengolahan sampah plastik,” jelasnya.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Warga Tokyo Jepang Ini Berusaha Keras Hidup Tanpa Plastik, Caranya Bisa Ditiru

    Warga Tokyo Jepang Ini Berusaha Keras Hidup Tanpa Plastik, Caranya Bisa Ditiru

    7cloud.asia – Ini masih tentang kisah Melinda Joe, wartawan BBC news di Tokyo Jepang yang mencoba hidup tanpa menghasilkan sampah palstik.

    Melinda sudah memilih tas yang dapat digunakan kembali untuk berbelanja, jauh sebelum Jepang mulai memungut biaya untuk kantong plastik di toko ritel.

    Membawa botol air dan mengunduh aplikasi MyMizu, yang menunjukkan peta stasiun pengisian ulang di sekitar pusat kota Tokyo, membantunya menghindari membeli air dalam botol PET.

    Untuk mengurangi sampah plastik secara signifikan, ia juga fokus pada pembatasan kemasan, pertama dengan mengurangi makanan yang dibawa pulang pada waktu makan siang, yang sering kali dikemas dalam wadah plastik

    “Saya juga menghindari belanja online sebisa mungkin,” tulisnya .

    Namun, pengemasan yang berlebihan adalah hal yang lumrah di Tokyo. Pegawai toko biasanya membungkus toples kaca dengan bubble wrap atau memasukkan sayuran ke dalam kantong plastik secara otomatis saat checkout.

    Baca: Mengintip pengelolaan sampah di Jepang

    Obsesi Jepang terhadap kemasan memiliki akar budaya yang berkaitan dengan konsep “presentasi dan rasa hormat, terutama saat memberi hadiah,” kata Azby Brown, penulis Just Enough: Lessons from Japan for Sustainable Living, Architecture, and Design.

    Tradisi membungkus benda menyampaikan “rasa hormat Anda terhadap orang lain”.

    Dalam konteks ritel modern, kemasan menunjukkan layanan pelanggan yang baik: “Pelanggan mengharapkannya,” kata Brown.

    “Masyarakat ingin tahu bahwa makanannya terlindungi, tidak lebam atau kotor. Anggapan kebersihan sangat penting di sini.”

    Terlepas dari niat baik saya, saya menemui kemunduran sejak awal, setelah importir bir menawarkan untuk mengirimi saya beberapa botol untuk dicoba.

    sebagai penulis makanan dan minuman, saya sering menerima sampel minuman untuk dicoba. Kotak yang tiba diisi dengan bantal kemasan plastik, setiap botol dibungkus dengan bubble wrap dua lapis.

    Baca: Membawa tumbler yang berdampak besar pada lingkungan

    Minggu tantangan saya juga bertepatan dengan gelombang panas terburuk di Jepang sejak tahun 1875 – lima hari yang mengerikan dengan suhu melebihi 35C (95F), dengan tingkat kelembapan yang sangat mencengangkan.

    Setelah dua hari memasak di dapur yang panas terik, saya menyerah. Karena takut harus repot mencuci dan memotong sayuran setiap malam, saya mulai menambah makan malam dengan makanan siap saji dari berbagai toko makanan bawa pulang di lingkungan saya.

    Ayam goreng karaage memang dijual dalam kantong kertas lilin dan pangsit gurita takoyaki dijual dalam nampan bambu berbentuk perahu yang ramahlingkungan.

    Tetapi hidangan sayuran seperti salad tahu perasan dan selada kol disajikan dalam kemasan kulit kerang plastik tersendiri.

    Barang-barang yang rawan bocor seperti kimchi, lauk khas Korea berupa sayur-sayuran yang diawetkan, dibungkus dengan plastik ekstra.

    Baca: Sistem guna ulang, cara efektif kurangi sampah plastik  

    Namun bahkan roti segar dan kue kering dari toko roti lokal saya pun terbungkus dalam kantong plastik.

    “Kami mencoba meminimalkan penggunaan plastik, namun permintaan konsumen tinggi di lingkungan lembab ini,” kata koki dan pendukung keberlanjutan Shinobu Namae, yang mengelola Bricolage Bakery di distrik Roppongi di pusat kota Tokyo.

    “Membandingkan kualitas makanan versus masalah plastik selalu menjadi masalah, namun kami mencoba menemukan keseimbangan.”

    Saat mencari restoran ramah lingkungan di sekitar kota, saya menemukan daftar restoran bawa pulang yang mengizinkan pelanggan membawa wadahnya sendiri yang disusun oleh Mona Neuhauss, pendiri No Plastic Japan.

    Sayangnya, tidak ada satu pun yang berlokasi di dekat saya. Hal yang sama juga terjadi di sejumlah toko di Tokyo yang menjual makanan berdasarkan beratnya.

    Saya sangat tertarik untuk mengunjungi Nue, supermarket tanpa limbah pertama di kota ini yang menjual makanan kering dalam jumlah besar dan produk tanpa kemasan.

    Baca: Galon sekali pakai, solusi atau masalah bagi lingkungan

    Namun, untuk sampai ke sana membutuhkan perjalanan kereta dan bus selama 52 menit dari rumah saya.

    Demikian pula perjalanan ke salah satu supermarket Aeon di Tokyo dengan skema loop deposit untuk kontainer yang dapat digunakan kembali akan memakan waktu 38 menit dengan kereta api.

    Meskipun ini memberikan pilihan bagus untuk jalan-jalan sesekali, tidak ada yang menawarkan solusi praktis untuk kebutuhan sehari-hari saya.

    Saya melakukan hampir semua belanjaan saya dengan berjalan kaki, dalam radius 800 m (2,625 kaki) dari rumah saya, jadi tidak masuk akal bagi saya untuk melakukan perjalanan keliling kota untuk membeli makanan.

    Sebaliknya, saya mulai membeli lebih banyak produk di pedagang sayur yaoya di daerah tempat tinggal saya.

    Di sana buah-buahan utuh seperti nanas dan sayuran seperti kentang dan mentimun sudah diukur sebelumnya di nampan dan dijual tanpa kemasan.

    Baca: Ekonomi sirkular, efektifkah kurangi sampah?

    Bahkan di kios sayuran kecil ini, wadah plastik masih digunakan untuk berbagai barang seperti jamu.

    Alih-alih membeli beras dari supermarket, saya malah menemukan toko beras tradisional yang belum pernah saya lihat sebelumnya yang menjual beras dalam kantong kertas berdasarkan beratnya, hanya berjarak 600 m (1,968 kaki).

    Pergi ke toko yang berbeda membutuhkan waktu ekstra, tetapi saya tidak pernah harus berjalan kaki lebih dari 20 menit ke setiap tempat.

    Saya terus berbelanja di supermarket lokal saya, yang baru-baru ini mulai menjual beberapa sayuran tanpa kemasan.

    Ketika kasir mencoba memasukkan pare dan terong saya ke dalam kantong plastik kecil atau mencoba membungkus botol dengan bubble wrap, saya dengan tegas menolaknya.

    Cara ini efektif mengurangi sampah plastik yang saya produksi. (Sumber:BBC)

     

  • Pesan Hari Bumi: Setiap Generasi Hanya Punya Sekali Kesempatan untuk Ubah Kebijakan Soal Plastik

    Pesan Hari Bumi: Setiap Generasi Hanya Punya Sekali Kesempatan untuk Ubah Kebijakan Soal Plastik

    7cloud.asia – Dunia hanya mempunyai kesempatan sekali dalam satu generasi untuk mengubah secara mendalam hubungan umat manusia dengan plastik.

    Itulah pesan dari para pejabat menjelang pembicaraan “penting” mengenai instrumen global yang mengikat secara hukum untuk mengakhiri polusi plastik yang akan dihelat minggu ini.

    Pembahasan upaya menghentikan produksi sampah plastik ini akan berlangsung dari tanggal 23 hingga 29 April.

    Diperkirakan delegasi dari 174 negara diperkirakan akan berkumpul di ibu kota Kanada, Ottawa, untuk putaran terakhir diskusi mengenai instrumen pembatasan penggunaan plastik tersebut.

    Pertemuan tersebut, yang secara resmi dikenal sebagai Sesi Keempat Komite Negosiasi Antarpemerintah untuk mengembangkan instrumen yang mengikat secara hukum internasional mengenai polusi plastik, termasuk di bidang lingkungan laut (INC-4).

    Baca Juga: Hasil Brand Audit Greenpeace : Kemasan Plastik Unilever Paling Banyak Ditemukan

    Ini merupakan pertemuan kedua dari belakang sebelum perundingan membahas sampah plastik dunia diharapkan selesai pada akhir tahun ini.

    “Baik manusia maupun bumi sangat menderita akibat dampak polusi plastik,” kata Jyoti Mathur-Filipp, Sekretaris Eksekutif INC seperti dilansir di laman resmi organisasi lingkungan PBB, unep.org

    “Sesi negosiasi ini sangat penting generasi mendatang untuk hidup di dunia yang bebas polusi plastik.” imbuhnya

    Negosiasi ini terjadi di tengah apa yang oleh para ahli disebut sebagai krisis plastik yang semakin meningkat.

    Sejak tahun 1950-an, tercatat 9,2 miliar ton plastik telah diproduksi, dan 7 miliar ton di antaranya menjadi sampah, memenuhi tempat pembuangan sampah, serta mencemari danau, sungai, tanah, dan laut.

    Baca Juga: Fakta Mengerikan Soal Sampah Plastik, Tak Ada Lagi Alasan Menunda Gaya Hidup Berkelanjutan

    Saat ini, umat manusia memproduksi 430 juta ton plastik setiap tahunnya, dua pertiganya terkandung dalam produk-produk berumur pendek yang akan segera menjadi sampah.

    Tujuan INC-4 adalah untuk memajukan rancangan teks instrumen global sehingga dapat diselesaikan di Busan, Republik Korea pada bulan Desember.

    Pembicaraan sejauh ini berfokus pada pengurangan polusi di seluruh siklus hidup plastik, mulai dari desain untuk mereka gunakan.

    Proses negosiasi ini secara resmi diluncurkan pada tahun 2022 pada sesi kelima Majelis Lingkungan Hidup Perserikatan Bangsa-Bangsa, yang merupakan badan pengambil keputusan tertinggi di bidang lingkungan hidup di dunia.

    Setelah dua tahun bekerja, Komite Perundingan Antarpemerintah telah beralih dari pandangan umum ke rancangan teks yang telah direvisi, sebuah perkembangan yang menggembirakan.

    Baca Juga: Keren! Daur Ulang Sampah Plastik di Jepang Mencapai 85 Persen

    Mathur-Filipp menyebut ini sebagai “hasil cepat yang merupakan warisan dari kepemimpinan yang kuat dan keterlibatan aktif hingga saat ini.”

    Meskipun jangka waktu untuk mencapai kesepakatan akhir telah lama dipandang ambisius, namun hal ini sejalan dengan urgensi krisis polusi plastik, kata Mathur-Filipp.

    “Ilmu pengetahuan sudah jelas, dan solusi tersedia bagi kita untuk mengakhiri polusi plastik,” katanya.

    Ia menyebut, umat manusia berada di jalur yang tepat untuk menyetop jumlah plastik yang diproduksi setiap tahunnya pada tahun 2060,

    “Sangatlah penting bagi kita untuk terus melakukan upaya nyata. kemajuan dan mencapai kesepakatan pada akhir tahun ini.” pungkasnya

    Sumber:unep.org

     

  • Demi Lingkungan, Kanopi Hijau Indonesia Desak Pemprov Bengkulu Rilis Aturan Penggunaan Plastik Sekali Pakai

    Demi Lingkungan, Kanopi Hijau Indonesia Desak Pemprov Bengkulu Rilis Aturan Penggunaan Plastik Sekali Pakai

    7cloud.asia – Pembatasan dan pengurangan penggunaan plastik akan lebih efektif jika diformalkan dalam sistem, melalui aturan resmi.

    Alasan inilah yang mendasari Kanopi Hijau Indonesia untuk mendesak Pemerintah Provinsi Bengkulu maupun DPRD Provinsi Bengkulu segera membuat peraturan daerah pembatasan penggunaan plastik sekali pakai.

    Perda pembatasan penggunaan plastik sekali pakai ini dinilai sudah sangat mendesak demi melindungi lingkungan dari kerusakan akibat sampah plastik.

    Manager Kampanye Anti Tambang Kanopi Hijau Indonesia Cimbyo Layas Ketaren mengatakan, Indonesia berada di urutan ke 5 negara penyumbang sampah plastik terbesar di dunia.

    Produksi sampah plastik Indonesia yang dibuang ke laut tercatat sebanyak 9,13 juta ton.

    Baca:5-langkah-sederhana-untuk-berperan-dalam-menyelamatkan-lingkungan

    “Sampah plastik ikut menjadi penyebab berbagai masalah lingkungan termasuk pencemaran dan kerusakan ekosistem di bumi,” katanya di Bengkulu, Selasa (23/4/2024) seperti dilansir Antaranewws.com

    Permasalahan sampah plastik tersebut kata dia tidak hanya permasalahan di provinsi-provinsi lain, tetapi juga terjadi di provinsi berjuluk Bumi Rafflesia itu.

    “Oleh karena itu kami mendorong penghentian penggunaan plastik sekali pakai melalui sisi kebijakan pemerintah daerah,” kata dia.

    Selain itu, Kanopi Hijau Indonesia juga meminta pemerintah daerah di Bengkulu agar segera ikut beralih dari penggunaan energi fosil ke energi bersih yang adil dan berkelanjutan.

    Baca:Alokasi-anggaran-untuk-pengelolaan-lingkungan-masih-sangat-minim

    Bengkulu juga menjadi salah satu daerah yang masih mengoperasikan pembangkit listrik tenaga uap berbahan bakar batu bara.

    Energi fosil yang digunakan tersebut nyatanya menyumbangkan kerusakan alam dan membahayakan kesehatan masyarakat setempat.

    Manager Sekolah Energi Bersih Kanopi Hijau Indonesia Hosani mengatakan satu sekolah yakni SMKS 15 Kota Bengkulu masuk kawasan dampak polusi PLTU Teluk Sepang.

    “Fakta ini menyatakan bahwa sebanyak 125 siswa SMKS 15 Kota Bengkulu masuk dalam kategori kelompok yang mempunyai peluang besar sebagai ‘penerima’ polutan berbahaya tersebut” kata Hosani.

    Baca: Hari-bumi-2024-serukan-pengurangan-penggunaan-plastik-demi-lingkungan

    Menurut dia polutan berbahaya seperti NOx Dan SOx serta senyawa beracun lainnya mampu menyebar sampai dengan 200 kilometer dari pusat polusi berada.

    Fakta itu pula yang menjadi alasan Kanopi Hijau Indonesia menggelar Sekolah Energi Bersih #2 di sekolah tersebut.

    Tujuannya untuk berbagi pengetahuan tentang dampak buruk energi kotor dan solusi untuk transisi energi bersih.

    Sumber:Antaranews.com

  • Ciptakan Plastik Biodegradable, Peneliti BRIN Merekayasa Metabolisme Ragi

    Ciptakan Plastik Biodegradable, Peneliti BRIN Merekayasa Metabolisme Ragi

    7cloud.asia – Meski terbukti memicu masalah serius pada lingkungan karena sangat sulit terurai, menghapus penggunaan plastik sama sekali bukanlah hal mudah.

    Pasalnya, penggunaan plastik yang ditemukan lebih 100 tahun lalu ini, sudah sangat mendominasi kehidupan manusia.

    Untuk mengatasi masalah ini, peneliti Pusat Riset Rekayasa Genetika Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Radityo Pangestu memiliki solusi cerdas untuk menciptakan plastik yang lebih ramah lingkungan.

    Radityo merekayasa metabolisme ragi untuk memproduksi plastik biodegradable berbasis asam polilaktat (PLA).

    Dilansir laman resmi BRIN, Radityo mengatakan, saat ini plastik di industri masih diproduksi melalui proses gabungan antara fermentasi dan sintesis kimia menggunakan bahan baku berbasis fosil.

    Untuk menciptakan industri plastik yang berkelanjutan dan ramah lingkungan, diperlukan transisi ke komoditas plastik ‘3Bio’.

    Baca: Penggunaan plastik biodegradable

    3Bio yang dimaksud Radityo adalah plastik yang ‘biodegradable’, berbahan baku berbasis ‘bio’ (contohnya dari limbah pertanian dan industri), dan diproduksi melalui teknik ‘bioproses’ menggunakan bantuan mikroba.

    “Inilah yang menjadi fokus penelitian kami, yakni menemukan metode untuk mensintesis plastik biodegradable dari bio-based raw material dengan teknologi bioproses hemat energi dan minim limbah, melalui bantuan mikroorganisme,” papar Radityo, pada Friday Scientific Sharing Seminar, Jumat (14/6/2024).

    Doktor lulusan Kobe University Jepang itu menjelaskan, salah satu yeast (ragi roti) yang dikoleksi Indonesia Culture Collection (InaCC) BRIN, yaitu Saccharomyces cerevisiae, ternyata menyimpan potensi untuk menghasilkan plastik biodegradable melalui rekayasa genetika.

    “Material plastik yang tergolong biodegradable ada dua, yaitu polihidroksi alkanoat (PHA), yang saat ini telah dapat disintesis secara optimal oleh mikroorganisme, dan asam polilaktat (PLA), yang masuk kategori semi-sintesis,” ungkapnya.

    Baca: Mengenal bioplastik, benarkah aman untuk lingkungan

    PLA menjadi fokus penelitian Radityo untuk dapat diproduksi secara keseluruhan oleh mikroorganisme tanpa melibatkan proses sintesis kimia.

    Dia menambahkan, PLA telah banyak diaplikasikan untuk berbagai jenis produk, termasuk alat-alat medis, karena tidak berbahaya bagi tubuh. Contoh dari produk berbasis PLA adalah tissue scaffold, masker, serat fiber, dan popok.

    Dengan metode one-step production ini, Radityo meyakini dapat mengonversi bahan baku limbah industri berbasis lignoselulosa menjadi PLA, dengan cara memasukkan beberapa gen bakteri ke dalam genom ragi.

    Salah satunya adalah gen propionat CoA-transferase dan polimerase. Radityo menjelaskan, jika dilihat, proses dari metode ini jauh lebih singkat dalam mengubah bahan baku menjadi polimer target hanya dalam satu tahap fermentasi pada suhu ruangan.

    ”Tentunya lebih efisien dibandingkan reaksi polimerisasi biasa yang membutuhkan suhu di atas 100 derajat celsius dan melibatkan penggunaan katalis logam yang berbahaya bagi lingkungan,” imbuhnya.

    Baca: Mengenal bioplastik dari bahan bonggol jagung

    Menurut Radityo, hingga kini, teknik produksi PLA secara in vivo masih kurang dieksplorasi dibandingkan PHA. Riset-riset yang ada pun masih sangat terfokus pada sistem bakteri.

    Selain itu, belum ada laporan yang mengeksplorasi produksi PLA berbasis monomer L-laktat (PLLA) secara in vivo.

    “Melalui riset ini, kami telah berhasil mendesain metabolisme ragi agar dapat memproduksi monomer asam L-laktat maupun polimer targetnya (PLLA),” ungkapnya.

    Radityo meyakini, teknik ini dapat menciptakan keberlanjutan di industri plastik, karena memiliki potensi untuk dapat memproduksi bioplastik yang bukan berasal dari bahan baku berbasis fosil melalui teknologi produksi ramah lingkungan.

    “Metode ini masih belum banyak dikaji, karena publikasi yang membahasnya masih sedikit. Publikasi pertama yang membahas metode ini terbit tahun 2008 dan setelah itu tidak terlalu banyak dikaji hingga saat ini,” terangnya.

    “Mayoritas berfokus pada bakteri. Padahal banyak sekali potensi yeast yang dapat digali,” ucap Radityo.

  • Mungkinkah Mewujudkan Industri Kemasan Plastik Ramah Lingkungan?

    Mungkinkah Mewujudkan Industri Kemasan Plastik Ramah Lingkungan?

    7cloud.asia – Direktur Industri Kimia Hilir dan Farmasi Kementerian Perindustrian, Emmy Suryandari mengatakan, pertumbuhan sektor industri di Indonesia yang telah mencapai titik positif berkat meningkatnya permintaan atau konsumsi masyarakat.

    “Dampak positif dari pertumbuhan ini adalah peningkatan dalam pendapatan dan daya beli masyarakat, yang pada gilirannya mempengaruhi pola konsumsi,” ungkap Suryandari dalam sebuah acara yang diselenggarakan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), beberapa waktu lalu.

    Dilansir brin.go.id, salah satu indikator dari tren ini adalah meningkatnya produksi barang konsumsi seperti makanan dan minuman siap saji, serta peralatan rumah tangga.

    Namun, pertumbuhan konsumsi ini juga membawa konsekuensi serius terhadap lingkungan, terutama dalam hal penggunaan kemasan plastik.

    Suryandari mengungkapkan bahwa konsumsi produk kemasan plastik telah mencapai 60 persen, dengan lebih dari 1.000 perusahaan terdaftar di Kementerian Perindustrian pada tahun 2023.

    Baca: Alasan Pemprov DKI Jakarta belum batasi kemasan saset

    “Kita harus menyadari bahwa pertumbuhan populasi juga akan memperkuat tren penggunaan plastik di Indonesia, sehingga sektor industri kemasan plastik akan terus berkembang,” tambahnya.

    Karena itu, Suryandari menekankan perlunya sebuah strategi jangka panjang atau roadmap industri kemasan plastik yang ramah lingkungan.

    “Ini merupakan suatu kata kunci yang penting bagi kita semua. Kita perlu memikirkan bagaimana memulai langkah-langkah menuju sektor industri yang lebih ramah lingkungan,” tegasnya.

    Ia juga menyoroti pentingnya kolaborasi antara pemerintah, industri, dan masyarakat dalam menangani masalah sampah plastik.

    “Bukan hanya tanggung jawab Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, tetapi semua elemen di Indonesia harus berperan aktif dalam mengatasi permasalahan ini,” paparnya.

    Baca: Greenpeace desak Unilever kurangi sampah plastiknya

    Emmy berharap BRIN dengan segala kompetensi yang dimiliki akan bisa memberikan inputan kepada sektor industri terkait kemasan plastik.

    Jenis plastik seperti apakah, ujarnya, yang perlu ditangani dan solusinya akan seperti apa.

    “Ini merupakan langkah awal yang penting dalam mengatasi masalah lingkungan yang semakin memprihatinkan akibat dari pertumbuhan konsumsi plastik yang tak terkendali,” ungkapnya.

    Saat ini muncul desakan kuat agar produksi dan konsumsi plastik segera dikurangi untuk menurunkan risiko dampak lingkungan yang ditimbulkannya. Di sisi lain, industri plastikvtelah berkembang dan menjadi sandaran penghidupan banyak orang.

    Industri kemasan plastik ini memberikan pekerjaan bagi sekitar 110.000 orang, dengan mayoritas produksi kemasan plastik yang keras dan fleksibel.

    Baca: Konsep guna ulang untuk kurangi sampah plastik