7cloud.asia – Prinsip guna ulang menjadi salah satu isu yang diusung dalam Pawai Bebas Plastik 2023 yang digelar pada 30 Juli lalu.
Konsep guna ulang dianggap sebagai solusi yang paling tepat untuk mengatasi sampah plastik sekali pakai yang sudah sangat serius.
Prinsip guna ulang sebenarnya telah banyak diterapkan di sejumlah daerah di Indonesia.
Kebiasaan untuk membeli jamu dari mbok jamu yang keliling di depan rumah dengan menggunakan gelas yang bisa digunakan kembali, membeli mie bakso dari pedagang gerobak keliling yang menggunakan piring sendiri adalah sedikit dari contoh prinsip guna ulang.
Baca: Beda daur ulang dengan guna ulang
Di era modern sekarang konsep guna ulang bisa dilakukan dengan membeli minuman yang dikemas dengan gelas atau botol kaca.
Dilansir di laman resmi Diet Kantung Plastik dietkantongplastik.info, Ellen MacArthur Foundation Reuse Framework menyebut ada empat model guna ulang yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, yaitu
(1) Pengisian ulang di rumah (Refill at home),
(2) Pengisian ulang saat bepergian (Refill on the go) ,
(3) Pengembalian dari rumah (Return from home), dan
(4) Pengembalian saat bepergian (Return on the go).
Baca: Prinsip guna ulang masih diabaikan
Direktur Eksekutif Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik (GIDKP) Tiza Mafira dalam jumpa pers Pawai Bebas Plastik akhir Juli mengatakan, guna ulang bukanlah hal yang baru.
Model guna ulang ini sudah kita lakukan sejak lama, namun hingga sekarang belum ada sistem atau struktur yang memfasilitasi inisitaif masyarakat ini.
Menurutnya, untuk menyukseskan gerakan guna ulang ini, dibutuhkan peran berbagai pihak agar dapat berjalan dengan optimal.
Selain konsumen, pemerintah harus membuat kebijakan yang menjadikan guna ulang sebagai mandatory atau keharusan sehingga mau tidak mau produsen melakukannya.
Baca: Produsen diminta transparan soal pengelolaan sampah plastik
Manufaktur atau industri produk kebutuhan sehari-hari dapat menyediakan dan menjual produk dalam kemasan guna ulang, yang dapat disediakan secara mandiri maupun dengan jasa bisnis rintisan guna ulang.
“Produk-produk ini dapat didistribusikan di titik penjualan, seperti pertokoan, pasar rakyat, warung, dan lainnya, sehingga konsumen dapat dengan mudah membelinya untuk digunakan,” demikian Tiza dalam pernyataannya.
Kemasan produk yang sudah selesai digunakan, dapat dikembalikan melalui titik-titik pengumpulan atau drop off points, seperti di bank sampah, pertokoan, pasar rakyat, warung.
Selain tempat-tempat itu, pemerintah dan/atau industri produk kebutuhan sehari-hari dapat membangun titik-titik untuk memfasilitasi gerakan guna ulang ini.
Baca: Seperti ini seharusnya ekonomi sirkular
Konsumen juga dapat mengembalikan kemasan produk itu sendiri atau menggunakan jasa penjemputan yang disediakan oleh pemerintah dan/atau oleh industri produk kebutuhan sehari-hari, sehingga dapat meminimalisir emisi karbon dari proses transportasi.
Kemasan produk yang telah dikumpulkan akan dicuci dan disterilkan kembali sebelum diisi ulang oleh industri produk kebutuhan sehari-hari dan/atau jasa dari bisnis rintisan guna ulang.
Pengisian kembali ini dilakukan sesuai dengan standar kebersihan yang berlaku. Produk dapat didistribusikan kembali di titik penjualan, dan mengulang proses yang sebelumnya sudah dilakukan.
“Jika infrastruktur ini dapat terwujud dan dijalankan dengan optimal, maka ekosistem guna ulang dapat dibangun sehingga kita bisa mengurangi ketergantungan konsumsi yang menghasilkan sampah bertumpuk,” imbuh Tiza
Penerapan sistem guna ulang secara massal juga dapat membantu mengurangi efek perubahan iklim dari masalah sampah yang tercecer di lingkungan.
Karena itu Tiza mengajak seluruh masyarakat mendukung Gerakan Guna Ulang di Indonesia, demi terwujudnya masa depan yang berkelanjutan.







