Tag: ramah lingkungan

  • Gaya Hidup Ramah Lingkungan Nggak Cuma Suka Tanaman, Ini 17 Langkah yang Bisa Kamu Lakukan

    Gaya Hidup Ramah Lingkungan Nggak Cuma Suka Tanaman, Ini 17 Langkah yang Bisa Kamu Lakukan

    7cloud.asia – Beberapa tahun belakangan gaya hidup ramah lingkungan makin sering didengungkan untuk lingkungan yang lebih lestari.

    Baik sendiri maupun bergabung dalam komunitas, makin banyak anggota masyarakat yang coba menerapkan gaya hidup ramah lingkungan. Kamu juga bisa melakukan aksi nyata untuk melestarikan bumi dengan menerapkan gaya hidup ramah lingkungan.

    Gaya hidup ramah lingkungan tak hanya soal suka menanam tanaman, tetapi juga meliputi banyak aspek lainnya. Kamu tak harus melakukannya sekaligus, karena gaya hidup ramah lingkungan adalah perjalanan yang dilakukan secara konsisten.

    Kamu bisa memulainya dengan cara sederhana seperti mulai menggunakan tumbler untuk menggantikan minuman kemasan. Sebuah langkah kecil tapi berdampak besar bagi lingkungan jika dilakukan secara kolektif.

    Untuk itu, ada baiknya kita lebih dulu mengenal apa itu gaya hidup ramah lingkungan dan manfaatnya bagi lingkungan.  

    Baca: Dampak gaya hidup konsumtif untuk lingkungan

    Dilansir Indonesiabaik.com, gaya hidup ramah lingkungan adalah cara hidup yang berfokus pada pengurangan dampak negatif terhadap lingkungan lewat aksi nyata dalam kehidupan sehari-hari.

    Bisa dikatakan, inti dari gaya hidup ramah lingkungan adalah mengurangi sampah, mengurangi emisi gas rumah kaca dengan cerdas mengonsumsi sumber daya alam, dan selalu merawat lingkungan guna menjaga keseimbangan ekosistem.

    Salah satu aspek penting gaya hidup ramah lingkungan adalah mengurangi jejak karbon atau jumlah emisi gas rumah kaca yang kita hasilkan. Emisi karbon itu kita hasilkan dari penggunaan energi, transportasi, maupun cara kita mengonsumsi. 

    Jadi gaya hidup ramah lingkungan adalah tentang upaya untuk lebih bijak dalam mengonsumsi yang berujung pada pengurangan sampah dan emisi karbon yang dihasilkan dengan mengadopsi praktik-praktik baik. 

    Gaya hidup ramah lingkungan juga berarti mengurangi penggunaan sumber daya alam, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, dan mengurangi penggunaan sumber daya alam yang tidak terbarukan.

    Berikut 17 langkah yang bisa kamu lakukan untuk memulai Gaya Hidup Ramah Lingkungan

    1. Kurangi Penggunaan Plastik Sekali Pakai

    Plastik sekali pakai adalah salah satu sumber polusi lingkungan. Mulailah dengan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, seperti kantong plastik, botol air, sedotan, dan wadah makanan.

    Gantilah dengan menggunakan tas belanja kain, botol air yang dapat diisi ulang, sedotan logam atau bambu, dan wadah makanan yang dapat digunakan kembali. 

    Baca: Sistem isi ulang dari Siklus efektif kurangi sampah plastik

    2. Hemat Energi

    Hemat energi berarti mengurangi emisi gas rumah kaca. Kamu bisa melakukannya dengan mematikan lampu dan peralatan listrik yang tak digunakan, mengganti lampu dengan LED, mengatur suhu pengatur udara dengan bijak.

    Jika memungkinkan, mulailah beralih ke panel surya untuk menghasilkan energi terbarukan di rumah kamu.

    3. Gunakan Transportasi Berkelanjutan

    Transportasi adalah sumber terbesar emisi karbon. Untuk itu kurangi penggunaan kendaraan pribadi dengan memilih transportasi berkelanjutan seperti berjalan kaki, bersepeda, atau menggunakan angkutan umum.

    Jika memungkinkan, pertimbangkan untuk menggunakan mobil listrik atau carpooling dengan teman atau tetangga.

    Baca: Berbagai produk daurulang dari DemiBumi

    4. Daur Ulang

    Daur ulang merupakan cara efektif untuk mengurangi limbah dan penggunaan sumber daya alam. Pisahkan limbahmu dan pastikan untuk mendaur ulang kertas, plastik, kaca, dan logam. Selain itu, perbaiki barang yang rusak daripada langsung membeli yang baru. Pilihlah produk daur ulang atau bahan ramah lingkungan.

    5. Menghemat Air

    Hemat air dengan memperbaiki keran yang bocor, menggunakan shower yang hemat air, dan mengumpulkan air hujan untuk keperluan taman. Ketika mencuci piring atau mencuci mobil, gunakan air secukupnya dan matikan keran saat tidak digunakan.

    6. Minimalkan Pemakaian Bahan Kimia 

    Bahan kimia dapat mencemari air dan tanah serta berdampak buruk pada kesehatan manusia. Pertimbangkan untuk menggunakan alternatif alami dan ramah lingkungan seperti cuka, baking soda, dan minyak esensial dalam kegiatan pembersihan dan perawatan pribadi kamu.

    Baca: Baking soda, benda yang serba guna lagi ramah lingkungan

    7. Kurangi Konsumsi Daging

    Produksi daging memiliki dampak besar terhadap lingkungan, termasuk deforestasi, polusi air, dan emisi gas rumah kaca. Mulai kurangi konsumsi daging dengan mengadopsi pola makan yang lebih berbasis tumbuhan. Cobalah untuk menjadikan hari-hari tertentu sebagai “hari tanpa daging” atau eksplorasi dengan hidangan nabati yang lezat dan bergizi.

    8. Budidaya Tanaman Sendiri

    Menanam tanaman di rumah tak hanya bisa menyediakan makanan segar dan sehat, tetapi juga mengurangi ketergantungan pada pertanian konvensional yang menggunakan pestisida dan penggunaan energi yang tinggi. Kamu dapat memulai dengan menanam tanaman herbal, sayuran, atau bahkan menanam pohon di halaman atau dalam pot.

    9. Gunakan Produk Ramah Lingkungan

    Beli produk yang memiliki label ramah lingkungan, seperti produk dengan sertifikasi organik, bebas dari bahan kimia berbahaya, atau yang menggunakan bahan daur ulang.

    Pertimbangkan juga untuk membeli produk dengan kemasan minimal atau kemasan yang dapat didaur ulang.

    10. Tidak boros makanan 

    Mulai sekarang beli makanan sesuai dengan kebutuhan, gunakan kembali sisa makanan, dan pelajari cara menyimpan makanan dengan baik agar tahan lebih lama. Kamu juga bisa berpartisipasi dalam inisiatif seperti berbagi makanan yang tidak terpakai kepada mereka yang membutuhkan.

    Baca: Seperti ini dampak sampah makanan

    11. Mendukung Komunitas Lokal

    Belilah produk-produk lokal yang dihasilkan dengan praktik ramah lingkungan. Dukung petani lokal, pedagang kecil, dan pengrajin lokal. Dengan melakukannya, kamu tidak hanya mengurangi jejak karbon transportasi, tetapi juga membantu perekonomian lokal.

    12. Kurangi konsumsi air mineral

    Mengurangi penggunaan air botol adalah langkah penting dalam mengurangi limbah plastik. Gantilah air botol sekali pakai dengan botol minum yang dapat diisi ulang.

    Jika kamu membutuhkan air minum di luar rumah, bawa botol minum sendiri atau gunakan tempat pengisian air minum umum. Dengan melakukan ini, kamu membantu mengurangi produksi sampah plastik.

    13. Gunakan Produk Keanekaragaman Hayati yang Bertanggung Jawab

    Ketika membeli produk seperti makanan, kosmetik, atau perawatan pribadi, pilihlah yang berasal dari sumber keanekaragaman hayati yang dikelola dengan bertanggung jawab.

    Perhatikan label dan sertifikasi yang menunjukkan produk tersebut dihasilkan dengan memperhatikan konservasi alam, keberlanjutan, dan hak asasi manusia.

    Baca: Konsumsi yang tak bertanggungjawab ancam keanekaragaman hayati di Indonesia  

    14. Gunakan Kertas Secara Bijak

    Gunakan kertas secara bijaksana dengan mencetak hanya ketika diperlukan, memanfaatkan sisi kertas yang kosong, dan mendaur ulang kertas yang tidak terpakai. Pertimbangkan pula untuk beralih ke penggunaan kertas daur ulang maupun produk yang terbuat dari kayu. 

    15. Kurangi Penggunaan Bahan Bakar Fosil

    Penggunaan bahan bakar fosil merupakan salah satu penyebab utama perubahan iklim. Kamu dapat mengurangi penggunaan bahan bakar fosil dengan mengadopsi transportasi berkelanjutan seperti berjalan kaki, bersepeda, atau menggunakan transportasi umum.

    Jika memungkinkan, gunakan kendaraan listrik atau berbagi kendaraan dengan orang lain. Selain itu, hemat energi di rumah dan gunakan sumber energi terbarukan untuk mengurangi konsumsi bahan bakar fosil.

    16. Mendukung Pengembangan Ramah Lingkungan

    Bergabung dengan gerakan yang mendukung pengembangan ramah lingkungan seperti Greenpeace Indonesia, WWF Indonesia, atau program pelestarian alam lainnya. Dengan memberikan dukunganm, kamu membantu mempercepat perubahan positif dan memberikan sumber daya bagi upaya keberlanjutan.

    17. Cerdas dalam Mengonsumsi Internet

    Konsumsi internet yang berlebihan dapat menyebabkan penggunaan energi yang tinggi dan dampak lingkungan yang negatif.

    Ajak teman-temanmu untuk sama-sama menjaga lingkungan hidup. Mulailah menggunakan produk ramah lingkungan, kurangi penggunaan plastik satu kali pakai, dan hematlah air maupun listrik di mana pun kamu berada.

  • Kurir Sepeda: Misi Lazada Membangun E-Comerce Ramah Lingkungan

    Kurir Sepeda: Misi Lazada Membangun E-Comerce Ramah Lingkungan

    Mitra kurir Lazada Logistic dari Hub Malang, Jawa Timur (ANTARA/HO/Lazada)

    7cloud.asia – Chief Logistic Officer Lazada Indonesia, Philippe Auberger mengatakan Lazada berkomitmen untuk membangun ekosistem e-commerce yang berkelanjutan dan ramah lingkungan, dengan membentuk armada kurir sepeda.
     
    Armada kurir sepeda yang lebih ramah lingkungan ini dijalankan Lazada melalui kerja sama dengan para mitra strategis.

    “Kami sangat mengapresiasi para mitra kurir sepeda yang berbagi semangat ramah lingkungan yang sama dengan kami dan berperan penting dalam mendukung operasional berkelanjutan di Lazada,” kata Philippe.

    Lazada terus mengembangkan armada #BlueVehicle di Lazada Logistic yang menggunakan kendaraan yang lebih ramah lingkungan sebagai upaya pengurangan jejak karbon dalam pengiriman paket kepada pelanggan.

     
    Baca: Bersepeda jadi cara warga nikmati kotanya

    Saat ini, layanan pengiriman barang ke konsumen oleh kurir sepeda dari WMS dan Lazada Logistics telah tersedia di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Malang, dan segera merambah ke beberapa kota besar lainnya di Indonesia.

    “Kami berharap berbagai inisiatif berkelanjutan yang dilakukan oleh Lazada ini tak hanya akan berdampak pada operasional perusahaan kami, namun juga bisa mendorong setiap orang dalam ekosistem kami untuk menjalankan gaya hidup lebih ramah lingkungan,” tutup Philippe.

     
    Ervanny Alexander Redyan (37), mitra kurir sepeda Lazada Logistic dari Hub Malang, Jawa Timur membagikan kisahnya mengantar paket sambil menyebarkan misi ramah lingkungan.

    Ervanny atau yang akrab disapa Ervan ini sudah satu tahun melakoni profesi sebagai bike messenger atau kurir sepeda pengantar paket yang lebih ramah lingkungan. 

     
    Baca: Kota di dunia yang sangat mengutamakan pejalan kaki

    Sejalan dengan misi keberlanjutan di Lazada Indonesia, khususnya di unit bisnis Lazada Logistics, bagi Ervan menjadi kurir sepeda juga membantunya menyebarkan pesan ramah lingkungan sembari mengirimkan paket Lazada dengan cepat.

    Ervan merupakan salah satu kurir sepeda dari Westbike Messenger Service (WMS), layanan logistik dengan sepeda dan sepeda kargo yang bekerja sama dengan Lazada Logistics untuk mendukung upaya pengiriman paket lebih ramah lingkungan.

    Sebagai bagian dari armada #BlueVehicle, armada pengiriman paket yang lebih ramah lingkungan di Lazada Logistics, Ervan berharap semangat bergaya hidup lebih sehat bisa dijalankan lebih banyak masyarakat, khususnya di Kota Malang tempatnya berdomisili.

    “Justru dengan menggunakan sepeda, saya bisa lebih cepat menuju ke alamat pelanggan karena bisa memasuki jalan-jalan kecil,” ujar Ervan seperti dalam siaran resminya, Selasa (27/6/2023).

     
    Baca: Manfaat jalan kaki untuk kesehatan fisik dan mental

    Lebih dalam, Ervan mengaku pelanggan yang menerima paket pun beragam menanggapinya. Ada masyarakat yang kaget melihat kurir membawa paket dengan sepeda, dan banyak pula yang penasaran lalu mengajaknya berbincang sambil menawarkan kopi.

    Setiap kali menjawab pertanyaan pelanggan, Ervan selalu menyisipkan edukasi tentang gaya hidup ramah lingkungan.

    “Kalau ada yang bertanya, kenapa naik sepeda bukan motor atau mobil? Saya selalu jelaskan jika ini salah satu upaya untuk mengurangi polusi, khususnya polusi udara. Tidak hanya baik untuk lingkungan kita, tapi juga untuk diri kita sendiri,” tandasnya.

    Ervan berharap dengan kehadiran kurir sepeda dari WMS dan Lazada Logistics ini bisa memberikan kontribusi positif bagi lingkungan di kotanya, khususnya mengurangi dampak polusi terhadap lingkungan.

     
     

  • Dunia Sedang Kembangkan Bahan Bakar Hidrogen dari Air, Ini Plus Minusnya

    Dunia Sedang Kembangkan Bahan Bakar Hidrogen dari Air, Ini Plus Minusnya

     

    Stasiun pengisian bahan bakar hidrogen 700 bar Air Liquide di Zaventem, Belgia. (Arturbraun/Wikimedia Commons)

    7cloud.asia – Dunia saat ini tengah berlomba-lomba menghasilkan bahan bakar atau energi ramah lingkungan.

    Salah satu energi ramah lingkungan yang tengah disorot di dalam maupun luar negeri adalah bahan bakar hidrogen hijau yang dibuat dari air.

    Bagaimana pengembangan bahan bakar hidrogen hijau yang ramah lingkungan dikembangkan, berikut kajian Denny Gunawan dan Michael Gunawan dari ARC Training Centre for the Global Hydrogen Economy, Particles and Catalysis Research Laboratory, UNSW Sydney yang telah terbit di The Conversation

     

    Jadi emisi hidrogen hijau ini berbeda dengan pembakaran energi fosil yang mengeluarkan emisi gas beracun atau pun gas rumah kaca.

    Baca: Indonesia serius jajaki pengembangan energi hidrogen

    Indonesia pun tak mau ketinggalan. Bulan lalu, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) meluncurkan Peta Jalan Strategi Nasional Hidrogen termasuk hidrogen hijau guna mendorong terbentuknya ekosistem pemanfaatan hidrogen hijau di tanah air.

    Salah satu sektor yang menjadi sasaran adalah transportasi. Pemerintah turut berencana membangun sistem transportasi hijau – perpaduan kendaraan berbasis baterai listrik dan hidrogen di Ibu Kota Nusantara (IKN).

     

    Walau begitu, pengembangan hidrogen termasuk hidrogen hijau masih menuai pro dan kontra lantaran kelayakan teknis dan ongkosnya yang belum terjamin.

    Hidrogen, khususnya hidrogen hijau, mendapat banyak perhatian untuk bahan bakar kendaraan sebab dapat menekan kadar emisi gas rumah kaca yang dikeluarkan kendaraan.

    Di samping itu, hidrogen memiliki kerapatan energi (energy density) sekitar 33,33 kilowatt jam per kilogram, lebih tinggi dari baterai listrik.

    Baca: Pengembangan enrgi terbarukan di Indonesia berjalan lamban

    Kendaraan dengan bahan bakar hidrogen pun hanya membutuhkan waktu 3-5 menit untuk proses isi ulang hingga penuh.

    Ini jauh lebih cepat dari isi ulang daya baterai pada kendaraan listrik yang perlu waktu 20 menit – 1 jam untuk DC fast charging atau 4-10 jam untuk home charging.

    Kendati demikian, penggunaan hidrogen untuk kendaraan dinilai kurang efisien. Pasalnya, efisiensi produksi hidrogen dari elektrolisis air saat ini sekitar 75% dan konversi hidrogen ke listrik dalam sel tunam (sel bahan bakar atau fuel cell) sebesar 60%.

    Angka ini lebih rendah dibandingkan efisiensi energi baterai litium (acap digunakan kendaraan listrik) yang dapat mencapai 80%.

    Di sisi biaya, pembangunan infrastruktur hidrogen termasuk hidrogen hijau mulai dari produksi, penyimpanan, transportasi, dan pengisian ulang memerlukan dana yang besar.

    Baca: Tantangan penggunaan bus listrik untuk angkutan massal

    Akibatnya, harga bahan bakar hidrogen saat ini masih sangat tinggi dan kurang kompetitif dibandingkan bahan bakar konvensional saat ini.

    Di California, Amerika Serikat, harga hidrogen di stasiun pengisian mencapai $16 per gge (gasoline gallon equivalent), sekitar empat kali lipat harga bensin.

    Kendala lain adalah masih terbatasnya ketersediaan stasiun pengisian bahan bakar hidrogen khususnya hidrogen hijau. Bahkan publik di negara maju belum melirik jenis kendaraan ini.

    Perkembangan teknologi hidrogen

    Salah satu teknologi kendaraan hidrogen yang sedang berkembang adalah kendaraan berbasis sel tunam.

    Dalam sel tunam, hidrogen bereaksi dengan oksigen menghasilkan energi listrik dan air sebagai produk samping. Sel tunam jenis membran penukar proton (PEM), misalnya, mampu memproduksi listrik sebesar 14 kilowatt jam per kilogram hidrogen.

    Baca: Ini yang dilakukan pemerintah untuk dorong pasar motor listrik

    Teknologi ini telah diterapkan pada mobil keluaran Toyota, Toyota Mirai. Sedan tersebut dikabarkan memecahkan rekor menggunakan 0,55 kg hidrogen untuk melaju sejauh 100 km.

    Indonesia juga sedang mengembangkan mobil hidrogen skala riset karya anak bangsa. Tim peneliti mobil hidrogen Antasena Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mengenalkan prototipe mobil berbasis PEM dengan efisiensi 55,9%.

    Selain sel tunam, pemanfaatan hidrogen melalui pembakaran langsung menggunakan mesin pembakaran hidrogen internal juga telah dikembangkan.

    Perusahaan otomotif terkemuka dunia, BMW, memproduksi mobil BMW Hydrogen 7 yang dapat beroperasi menggunakan hidrogen sebagai bahan bakar dengan efisiensi maksimum 42%.

    Teknologi pemanfaatan hidrogen untuk kendaraan juga dapat dilakukan melalui pencampuran hidrogen dengan bahan bakar diesel. 

    Baca: 

    Peneliti dari University of New South Wales menemukan bahwa mencampur hidrogen dengan bahan bakar diesel sebesar 20-90% pada mesin diesel silinder tunggal yang dimodifikasi mengurangi emisi karbon sebesar 85,9% dan meningkatkan efisiensi hingga 13,3%.

    Tidak hanya kendaraan pribadi, pengembangan hidrogen juga telah menyentuh kendaraan dengan beban kerja besar seperti bus, keretatruk dan kapal.

    Perusahaan otomotif terkemuka asal Jerman, Mercedes-Benz, merilis Mercedes-Benz eCitaro yang dapat melaju sejauh 400 km dengan hanya satu kali pengisian bahan bakar.

    Pada awal 2023, negara bagian New South Wales (NSW) di Australia melakukan lompatan dengan mengoperasikan bus berbahan bakar hidrogen sebagai transportasi umum.

     

    Bus berbahan bakar hidrogen di Malden Center. (El Dorado Axess)

    Masa depan hidrogen di sektor transportasi

    Meski sudah banyak dikembangkan, kelayakan kendaraan berbahan bakar hidrogen masih menjadi perdebatan hingga saat ini.

    Beberapa pihak berpendapat bahwa kendaraan hidrogen tak mampu menyaingi keunggulan kendaraan listrik dalam hal efisiensi energi dan fleksibilitas.

    Ada juga pihak lain yang meyakini komersialisasi kendaraan hidrogen hanya menunggu waktu untuk membangun infrastruktur serta mengembangkan teknologi melalui riset.

    Terlepas dari perdebatan ini, kami menganggap baik kendaraan listrik maupun hidrogen memiliki kelebihan dan kelemahan tersendiri.

    Karena itu, kedua teknologi ini tidak seharusnya dipandang sebagai kompetitor satu sama lain.

    Ada jenis transportasi yang lebih layak menggunakan hidrogen dan jenis lainnya yang lebih cocok berbasiskan baterai listrik.

    Baca: Butuh waktu agar mobil listrik bisa eksis

    Misalnya, kendaraan pribadi seperti sedan kemungkinan akan lebih layak menggunakan baterai listrik sebab efisiensi energinya yang unggul dan beban kerja kendaraan pribadi yang relatif tidak terlalu besar.

    Sementara itu, bus, truk, dan kapal yang memiliki beban kerja dan jarak tempuh lebih besar akan lebih layak menggunakan hidrogen yang lebih ringan dengan waktu isi ulang lebih cepat.

    Bagi Indonesia, perpaduan sistem transportasi berbasis listrik dan hidrogen sangat diperlukan untuk mempercepat peralihan energi dari fosil ke sumber-sumber ramah lingkungan.

    Penerapan kedua jenis transportasi bersih ini memerlukan kebijakan dari pemerintah untuk mendorong investasi, membangun pasar, mengembangkan teknologi, serta menyediakan infrastruktur.

    Semua ini agar biaya mobil hidrogen dapat ditekan dan memberikan manfaat lingkungan serta ekonomi bagi masyarakat luas.

    Baca: Alasan untuk segera beralih ke mobil ramah lingkungan

  • Desainer Asal Broklyn Ini Hasilkan Fesyen Ramah Lingkungan dari Bahan Tekstil Sisa

    Desainer Asal Broklyn Ini Hasilkan Fesyen Ramah Lingkungan dari Bahan Tekstil Sisa

    7cloud.asia – Jonas King dari Brooklyn, New York, termasuk di antara sekelompok desainer baru yang berfokus pada daur ulang busana dan tekstil bekas yang ramah lingkungan.

    Wartawan VOA Nina Vishneva melaporkan, King menggunakan bahan tekstil bekas itu menjadi barang-barang berdesain khusus yang disebutnya lebih ramah lingkungan.

    “Ini kumpulan sisa-sisa potongan bahan (tekstil bekas, red), Anda lihat saya punya potongan bahan ini di mana-mana. Potongan-potongan bahan ini adalah hidup saya.” demikian Jonas King menjelaskan karyanya yang disbeut produk ramah lingkungan itu.

    Baca: Sustainable fashion dari ControlNew

    Desainer di Brooklyn ini menjahit kembali, mewarnai ulang, mengubah dan mendaur ulang potongan-potongan bahan itu.

    King menggunakan pendekatan ramah lingkungan yang lebih jauh untuk karya modenya.

    Yang terbaru, King menciptakan pakaian warna hijau hasil celupan dengan pewarna dari bunga dan daun-daun ivy.

    Berikutnya, ia berencana menggunakan dandelion dan bunga matahari untuk mendapatkan warna-warna tanah untuk pakaiannya. Ia menjual kemeja, celana dan tas melalui situs toko busananya, 2fifty. 

    Baca: Batik berkelanjutan hadir di JF3 2023

    Bajunya sendiri adalah karya tambalan yang terdiri berbagai warna, pola dan aneka jenis bahan.

    Ia juga seorang upcycler, tren ramah lingkungan terbaru di mana bahan-bahan lama bisa mendapat ‘kehidupan baru’ dengan nilai lebih tinggi ketimbang produk awalnya.

    Untuk King, produknya adalah pakaian.

    Baca: Ngetred di AS, thrifting cara berpakaian yang lebih ramah lingkungan

    Sang pendiri, Jessica Schreiber, mengatakan, “FabSrap” mengumpulkan sekitar 3,5 ton bahan setiap pekan.

    Ia menjelaskan, sewaktu disortir, kita bisa lihat ada kain-kain lepas di sini, semuanya sisa kain.

    “Kami kirim ke mesin penghancur, dan inilah hasil akhirnya, yang disebut shoddy. Orang menggunakannya sebagai pengisi bantal, jok bangku, boneka binatang.” terangnya sebagaimana dikutip VOA Indonesia.

    Baca: Era baru thrifting, mengubah pakaian bekas jadi fesyen bernilai tinggi

  • Catat! Ini Dua Kota Paling Ramah Lingkungan di Dunia

    Catat! Ini Dua Kota Paling Ramah Lingkungan di Dunia

    7cloud.asia – Di tengah kekhawatiran dampak perubahan iklim, ada kabar baik yang patut disyukuri, yakni semakin banyak kota di dunia yang menghargai alam dan mengupayakan kehidupan yang lebih ramah lingkungan.

    Tidak ada memang kota yang sempurna, dan banyak kota yang harus menempuh jalan panjang sebelum layak disebut ramah lingkungan, namun semakin banyak kota yang kualitas hidupnya meningkat.

    Itu semua dicapai berkat upaya terus menerus oleh otoritas kota untuk melestarikan dan melindungi lingkungan sehingga kemudian layak disebut sebagai kota ramah lingkungan.

    Baca: Empat kota ini sangat ramah untuk pejalan kaki

    Upaya kota untuk menjadi ramah lingkungan antara lain dengan menekan emisi karbon, serta memfasilitasi warganya untuk menjalani gay ahidup ramah lingkungan.

    Secara global, pemerintah dan otoritas kota mendapat tekanan dari penduduknya sendiri, terutama Generasi Z, yang dikenal sensitif pada isu lingkungan dan terus  mendorong negara-negara untuk menempuh pendekatan baru yang lebih berkelanjutan.

    Lantas kota apa saja yang layak disebut sebagai kota paling ramah lingkungan di dunia?

    Baca: Daftar kota ramah pesepeda

    Dilansir pointship.com pada Juli 2022 lalu, Kopenhagen, ibu kota Denmark berada di posisi teratas sebagai kota yang paling ramah lingkungan di dunia.

    Berkat dedikasinya untuk mengembangkan gaya hidup keberlanjutan dan ramah lingkungan, Kopenhagen berulang kali dinobatkan sebagai kota paling ramah lingkungan di dunia.

    Otoritas kota Kopenhagen sangat menghargai pengguna sepeda dan berharap setengah dari penduduknya bersepeda ke kantor atau sekolah pada tahun 2022.

    Kopenhagen dinobatkan menjadi kota paling ramah lingkungan di dunia berkat investasi berkelanjutan dalam alternatif hijau.

    Baca: Bogota berhasil sukses terapkan konsep TOD

    Otoritas kota Kopenhagen terus menerus memperkenalkan inisiatif baru untuk mempromosikan cara hidup yang ramah lingkungan.

    Rencana ambisius kota Kopenhagen untuk menjadi lebih ramah lingkungan itu dilakukan sambil tetap menyediakan kualitas hidup yang baik bagi warganya.

    Pada tahun 2025, Kopenhagen akan berstatus netral atau nol karbondioksida atau CO2.

    Di kota ini keluarga yang memiliki mobil hanya 29 persen atau kurang dari sepertiga jumlah penduduk di sana.

    Baca: Penataan kawasan TOD guna kurangi kemacetan di Jakarta

    Otoritas Kopenhagen telah menambahkan jalur sepeda ekstra karena lebih banyak orang yang lebih suka bersepeda daripada mengemudi untuk berkeliling.

    Karena sebagian besar hotel kota sekarang meminjamkan sepeda kepada pengunjungnya. Bersepeda menjadi lebih disukai.

    Tren yang berkembang di kota adalah makan organik; 24 persen dari makanan yang dijual di Kopenhagen adalah makanan organik yang dihasilkan sendiri warganya.

    Selain itu, 88 persen makanan yang disajikan di lembaga publik adalah makanan organik. 

    Baca: Metamorfosa Jakarta lewat penataan transportasi publik

    Di posisi kedua kota ramah lingkungan, ada kota Amsterdam Belanda. Sudah lama Amsterdam dikenal memiliki lebih banyak sepeda daripada jumlah penduduknya.

    Begitu banyak sepeda yang ditemukan ditumpuk satu sama lain di jalanan kota amsterdam ini.

    Amsterdam juga dikenal sebagai salah satu kota yang paling ramah sepeda di dunia. Bersepeda tidak hanya mempromosikan populasi yang sehat tetapi juga menurunkan emisi karbon.

    Pengenalan kendaraan listrik di sekitar kota, menjadi faktor lain yang membuat Amsterdan sebagai kota ramah lingkungan.

    Baca: Tiga kota di Indonesia yang dinilai ramah lingkungan

    Otoritas kota Amstersam telah membangun setidaknya 300 stasiun pengisian baterai listrik untuk membatasi jumlah emisi gas rumah kaca yang dihasilkan oleh kendaraan bermotor.

    Rumah-rumah di Amsterdam juga berusaha menjadi lebih ramah lingkungan dan menerapkan gaya hidup hijau.

    Mengunjungi Amsterdam, kita akan melihat begitu banyak banyak pemilik rumah yang memasang panel surya di atap mereka.

    Tak hanya itu, warga Amsterdam juga memproduksi makanan mereka sendiri, atau membelinya dari pasar petani setempat, yang semuanya berkontribusi pada ekonomi lokal.

    Baca: Kawasan Malioboro akan diubah jadi zona rendah emisi

  • Transisi Energi di Indonesia: Sebuah Langkah Mitigasi yang Lebih Ramah Lingkungan

    Transisi Energi di Indonesia: Sebuah Langkah Mitigasi yang Lebih Ramah Lingkungan

    7cloud.asia – Istilah transisi energi ke energi yang ramah lingkungan kini makin sering disebut. 

    Istilah transisi energi begitu populer di media massa, seminar, diskusi, dan perbincangan masyarakat. Transisi energi adalah usaha kita untuk beralih dari pemakaian energi fosil ke energi terbarukan yang lebih ramah lingkungan.

    Sebagian besar dari kita mungkin bertanya: apa makna transisi energi ke energi yang lebih ramah lingkungan, bagaimana melakukannya.

    Dan, tentu saja, apa untungnya transisi energi ke energi yang lebih ramah lingkungan, jika kita semua jika kita benar-benar melakukannya.

    Tulisan , Peneliti dan Mahasiswa Doktoral, Universitas Gadjah Mada yang telah terbit di The Conversation ini akan menjelaskan tiga hal mendasar tentang transisi energi ke energi yang lebih ramah lingkungan.

    Baca: Menggunakan tumbler, langkah kecil yang berdampak besar bagi lingkungan

    1. Transisi energi adalah mitigasi perubahan iklim
    Transisi energi merupakan satu dari sekian banyak bentuk mitigasi atau usaha meredam perubahan iklim.

    Sedangkan perubahan iklim merupakan akibat dari naiknya suhu rata-rata permukaan bumi (pemanasan global) dalam setidaknya dalam durasi 30 tahun.

    Pada mulanya, menghangatnya permukaan Bumi adalah sebuah kewajaran. Normal. Bahkan kebutuhan. Tanpa paparan sinar matahari yang menghangatkan, hewan, tumbuhan, dan manusia tidak bisa tumbuh.

    Jika energi panas sinar matahari memancar dari sumbernya dengan kekuatan 100%, maka ia akan terbagi-bagi.

    Sebagian dipantulkan kembali ke luar angkasa oleh awan dan atmosfer 23%, diserap atmosfer 23%, diserap permukaan bumi 47%, dan dipantulkan oleh bumi kembali ke luar angkasa 7%.

    Baca: Inovasi energi terbarukan dari ampas kopi

    Skenario normal ini merupakan bagian dari earth’s energy budget atau anggaran energi bumi, sebuah neraca energi yang masuk ke bumi dan yang keluar dari bumi ke luar angkasa.

    Semua berubah ketika revolusi industri dimulai pada akhir abad ke-18, saat era produksi massal menjadi tren.

    Sejak itu konsumsi energi meningkat di berbagai sektor kehidupan yang didapatkan dari membakar kayu, minyak bumi, gas, dan batu bara (karena itu mereka disebut bahan bakar).

    Bahan bakar itu merupakan senyawa berbasis unsur hidrogen (H) dan karbon (C), yang meninggalkan limbah di atmosfer setelah dibakar. Kita menyebutnya emisi karbon.

    Apa yang terjadi saat dan setelah emisi karbon memenuhi atmosfer kita?

    Neraca anggaran energi bumi kita tak lagi seimbang. Atmosfer yang memiliki kemampuan menyerap dan memancarkan energi menjadi penyimpan panas yang semakin baik.

    Baca: Sisi gelap transisi energi di Indonesia

    Hangatnya matahari yang seharusnya hanya berlangsung saat matahari bersinar saja, justru menghangatkan bumi sepanjang 24 jam penuh karena disimpan oleh atmosfer.

    Energi panas permukaan bumi yang seharusnya terpancar ke luar angkasa, malah terjebak di atmosfer.

    Dalam istilah sains, atmosfer kita yang dipenuhi emisi karbon juga sering disebut Gas Rumah Kaca (GRK) karena efeknya yang menjebak panas bagaikan rumah kaca untuk lahan pertanian itu.

    Planet kita tidak lagi menghangat, tapi memanas sejak beberapa dekade terakhir.

    Bahkan kini, Sekjen Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres mulai frustasi dengan lambatnya upaya global untuk mengatasi perubahan iklim. Dia pun mengenalkan istilah baru: pendidihan global.

    2. Mengapa pilihannya adalah transisi energi?

    Jawaban pertama, bukti ilmiah temuan Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) terbaru menunjukkan bahwa sumber GRK terbesar berasal dari sektor energi (34%).

    Lalu disusul industri (24%), kegiatan di sektor pangan, kehutanan, dan alih fungsi lahan (22%), dan transportasi (15%) serta bangunan (6%).

    Maka, upaya transisi energi merupakan ikhtiar mengendalikan 49% sumber GRK (energi dan transportasi).

    Jawaban kedua, transisi energi bukanlah silver bullet (obat mujarab lengkap) yang mampu menyelesaikan persoalan pendidihan global dan perubahan iklim secara serta-merta. Upaya itu hanya salah satu bentuk ikhtiar.

    Saat kita melakukannya saja, perubahan iklim tidak otomatis tertanggulangi, apalagi kalau tidak melakukannya!

    Baca: Dampak sosial dan dampak lingkungan penggunaan batubara

    Lalu, bagaimana melakukan transisi energi? Nah, di titik ini jawabannya mulai ruwet karena urusannya sangat kompleks.

    Transisi energi di bidang transportasi misalnya, berarti mengubah jenis bahan bakarnya: dari minyak bumi (bensin, solar, avtur), ke bahan bakar lain, seperti bahan bakar organik (bioenergi) yang diperoleh dari makhluk hidup.

    Bioenergi di Indonesia sedikitnya punya tiga tantangan. Pertama, kita cenderung menggunakan tanaman sawit untuk mengurangi pemakaian solar.

    Sayangnya, perkebunan kelapa sawit dibangun dengan fondasi yang buruk. Seperti mengubah hutan yang tanamannya beragam-–dengan segudang jasa ekologisnya–-menjadi hutan yang tanamannya seragam.

    Dalam prosesnya, perusahaan sawit kadang kala membakar lahan gambut yang justru menambah GRK di angkasa.

    Baca: Pengembangan energi terbarukan di Indonesia berjalan lamban

    Kedua, bioenergi berbasis jagung dan singkong untuk mengurangi penggunaan bensin.

    Ini berarti akan memicu persaingan fungsi lahan antara jagung dan singkong sebagai tanaman pangan (manusia) dan pakan (ternak) versus sebagai tanaman energi.

    Ketiga, bioenergi berbasis ganggang (microalgae) masih membutuhkan riset yang panjang untuk bisa efisien.

    Ada juga opsi lain, yaitu penggantian mesin yang berbasis pembakaran menjadi listrik. Pada titik ini, kekusutannya bertambah.

    Meskipun kendaraannya tak lagi membakar bensin atau solar, ketika mengisi baterai kendaraan, kita menancapkan kabel kendaraan pada listrik yang berasal dari pembakaran batu bara.

    Bagaimanapun, lebih dari setengah pembangkit listrik Indonesia (54,94%) merupakan ajang penambangan dan pembakaran bahan bakar fosil bernama batu bara.

    Baca: Jutaan kematian dini setiap tahun dipicu polusi udara

    3. Kunci transisi energi: listrik
    Pembahasan kita sekarang menukik pada persoalan listrik.

    Listrik adalah sebuah produk yang paling dicari semua orang. Lampu rumah, rice cooker dan alat dapur, lemari es, televisi, radio, AC, telepon genggam, laptop dan komputer, lift kantor, dan beberapa jenis kereta membutuhkan listrik.

    Begitu pula dengan kegiatan kita sehari-hari: pendidikan, kesehatan, hiburan, usaha kecil, industri besar, dan sebagainya.

    Upaya transisi energi di sektor listrik berarti bagaimana caranya mengurangi 54,94% pembangkit batu bara.

    Ada solusi, misalnya dengan co-firing. Maksudnya mengganti sebagian batu bara yang dibakar di pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) dengan pelet kayu atau bahan berbasis makhluk hidup lainnya (disebut biomassa).

    Tantangan dari solusi ini serupa dengan sawit: ada potensi penggunaan lahan yang merusak keragaman hutan, ataupun persaingan lahan antara urusan pangan dengan urusan energi.

    Baca: Dunia sedang kembangkan energi hidrogen, ini plus minusnya

    Sementara solusi energi terbarukan seperti air, angin, dan surya, juga menghadapi banyak persoalan.

    Energi air dinilai tidak ramah secara ekologis karena, ketika skalanya besar, pembangunan bendungannya bakal menenggelamkan beberapa ekosistem.

    Angin dan surya diterpa persoalan pasokan yang tidak konstan (disebut intermitensi).

    Angin tak selalu berhembus 24 jam. Durasi sinar matahari di Indonesia hanya efektif 4-5 jam setiap harinya.

    Bahkan energi surya juga diancam oleh bayang-bayang ketergantungan impor. Pasalnya, kita tak punya industri manufaktur yang memproduksi komponen utamanya.

    Baca: Indonesia mulai serius jajaki pengembangan energi hidrogen

    Ketika industri manufaktur mencoba masuk (industri nikel dan baterai), kita tahu persis bagaimana efek lingkungannya tak diawasi dengan baik oleh otoritas Indonesia.

    Optimisme transisi energi. Banyak orang yang bekerja di sektor energi selama ini merasa pusing ketika mengelola kerumitan tersebut. Itu baru masalah teknis.

    Dari perspektif kebijakan pemerintah, termasuk sikap dan perilaku perusahaan energi pelat merah, daftar masalahnya tak kalah panjang.

    Namun, kita harus optimistis bahwa transisi energi itu mungkin dilakukan.

    Tantangan-tantangan tersebut seharusnya mendorong kita semua (terutama pelaku industri bahan bakar fosil!) untuk mulai peduli pada urusan transisi energi.

    Kita harus mencari solusi terbaik yang seimbang antara perspektif teknis, ekonomi, sosial, dan lingkungan hidup. Itu memang tidak mudah, tapi mungkin.

    Sumber: The Conversation.

  • Keren! Pelajar SMA Ini Ciptakan Batu Bata Ramah Lingkungan dari Limbah PLTU Batubara

    Keren! Pelajar SMA Ini Ciptakan Batu Bata Ramah Lingkungan dari Limbah PLTU Batubara

    7cloud.asia – Berbagai cara dilakukan warga untuk menangani limbah yang dihasilkan warga dan industri. Tak terkecuali pelajar SMA di Jakarta yang membuat bahan bangunan ramah lingkungan dengan berbahan limbah dari PLTU batu bara.

    Itulah yang dilakukan Sheina Ashley Pribadi, siswi kelas 12 Jakarta Intercultural School. Ia menginisasi projek ACE untuk menciptakan bangunan yang lebih ramah lingkungan berbahan limbah. 

    “Proyek ACE bertujuan untuk menggantikan batu bata semen, tanah liat yang menimbulkan polusi. Caranya dengan mengganti sebagian besar semen pada batu bata dengan fly ash,” jelas Sheina dikutip detik.com.

    Baca: Robries mengolah sampah plastik jadi produk bernilai tinggi

    “Fly ash adalah produk sampingan atau limbah PLTU batu bara. Jika tidak dimanfaatkan untuk pembuatan semen ini, fly ash hanya jadi sampah yang dapat mencemari saluran air dan berakhir di tempat pembuangan sampah,” paparnya.

    Selanjutnya Sheina mengungkapkan ide pembuatan batu bata ini sebenarnya sudah ada sejak tahun lalu.

    “Idenya muncul saat kursus solusi tentang lingkungan di Stanford tahun lalu. Saya banyak konsultasi dengan Profesor, insinyur dan mempraktikkannya sendiri di Jakarta,” ungkapnya.  

    Baca: Insectta olah limbah pangan jadi bahan kosmetik

    Untuk produk ini, Sheina bereksperimen sendiri, membuat prototipe rumah sampai menguji prototipe di laboratorium.

    “Formula yang terakhir dapat mencegah 50 persen lepasnya karbondioksida,” imbuhnya.

    Setiap kilogram semen yang diganti dengan fly ash menghemat 0.9 kilogram karbondioksida agar tidak terbuang ke atmosfer,” katanya.

    Baca: Mengenal bioplastik, apakah benar-benar aman untuk lingkungan

    Tahap selanjutnya adalah uji kekuatan. Sembilan prototipe batu bata terkuat diuji di lab Universitas Tarumanegara Jakarta untuk dilakukan penguatan dengan uji kompresi.

    “Formula terakhir bisa melampaui standar FC20 (mutu sedang beton standar Kementerian PUPR),” ujar juara Technovation Girls Indonesia tahun 2023 ini.

    Batu bata ramah lingkungan ini mulai diproduksi. Sheina mengaku dibantu lokakarya lokal di Bogor untuk memproduksi dengan bahan baku fly ash dari PLTU Paiton Malang.

    Baca: Briket dari ampas kopi, inovasi menuju energi terbarukan

    Sementara untuk desain, finalis Global RISE for The World 2023 ini banyak dibantu pamannya, yang kebetulan seorang arsitek.

    Dia berharap dengan penemuannya ini, masyarakat akan semakin sadar pentingnya menggunakan bahan bangunan rendah polusi. Dengan demikian dampak perubahan iklim dapat diminimalisir.

    Sayangnya, batu bata buatan Sheina ini masih belum dijual secara komersil. Penggunaannya saat ini masih diperuntukkan membangun kepentingan umum.

    Baca: Ilmuwan AS ciptakan bioplastik dari bangkai lalat

    Salah satunya untuk membangun trotoar yang rusak. Seperti yang sudah dibangun di trotoar di kawasan sekolah Al-Firdaus di BSD.

    “Meskipun kami punya harapan di masa depan, proyek ini tidak bertujuan menjual batu bata secara komersial. Batu bata ini akan digunakan untuk memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan,” jelasnya.

    Atas batu bata temuannya ini, Sheina telah menerima hibah dari The Iris Project yang memungkinkan Sheina membeli bahan baku dan perlatan yang diperlukan.

    Baca: Botol dan kaca, mana lebih ramah lingkungan

    Ia berharap, ke depan temuan ini bisa dipatenkan dan bisa mengembangkan produk ini bermitra dengan perusahaan bangunan di Indonesia agar bisa memproduksi secara massal.

    “Untuk menciptakan bahan bangunan yang lebih ramah lingkungan, untuk mengurangi emisi karbon,” harapnya.

    Reporter: Nurakhmayani

     

  • Mengenal Infrastruktur Ramah Lingkungan dan Manfaatnya Untuk Kehidupan Kota

    Mengenal Infrastruktur Ramah Lingkungan dan Manfaatnya Untuk Kehidupan Kota

    7cloud.asia – Infrastruktur ramah lingkungan disebut sebagai  terobosan baru bagi kehidupan dan komunitas kota.

    Infrastruktur ramah lingkungan adalah konsep baru untuk memanfaatkan alam atau lahan dan menjadikannya kawasan perkotaan yang lebih baik bagi semua penghuninya.

    Infrastruktur ramah lingkungan bukan tentang membangun bangunan atau kawasan  dengan cara biasa, tetapi juga memanfaatkan alam untuk menciptakan cara hidup yang berkelanjutan dan lebih ramah lingkungan.

    Konsep ini tidak hanya baik bagi lingkungan dn kota, tetapi juga manusia yang menghuninya. Infrastruktur ramah lingkungan diwujudkan dengan menambahkan lebih banyak unsur alam ke dalam kota, untuk dapat mengatasi permasalahan seperti polusi dan perubahan iklim.

    Baca: Desain biolivik menghadirkan alam dalam lingkungan binaan

    Infrastruktur ramah lingkungan juga tentang upaya untuk meningkatkan kualitas hidup warga kota secara keseluruhan.

    Di era modern saat kota-kota semakin besar dan kita mengkhawatirkan bumi, infrastruktur ramah lingkungan bagaikan peta jalan menuju masa depan yang lebih cerah dan sejahtera.

    Infrastruktur ramah lingkungan memainkan peran penting dalam perencanaan kota dengan meningkatkan kelestarian lingkungan, meningkatkan kesejahteraan warga kota dengan menciptakan kota yang lebih layak huni melalui integrasi elemen alam, seperti taman dan ruang hijau, ke dalam lanskap perkotaan.

    Infrastruktur ramah lingkungan membantu mengurangi dampak buruk urbanisasi, mendukung keanekaragaman hayati, mendorong inklusivitas sosial, dan berkontribusi terhadap ketahanan sebuah kota dan kualitas hidup warganya secara keseluruhan.

    Baca:  Slow city, konsep baru tata kelola kota yang lebih memanusiakan

    Manfaat untuk lingkungan 
    Menurut studi pada 2018, perkotaan ramah lingkungan adalah kombinasi kreatif dari struktur alami dan buatan yang ditujukan untuk mencapai ketahanan sebuah kota terhadap sejumlah masalah.

    Tata kota yang ramah lingkungan meliputi pengelolaan banjir, antisipasi terhadap kekeringan, kesehatan masyarakat, dll.) dengan melibatkan masyarakat luas dan perhatian terhadap prinsip teknologi tepat guna.

    Investasi infrastruktur ramah lingkungan di wilayah perkotaan menawarkan manfaat signifikan untuk lingkungan, sehingga menjadikan investasi GI sebagai strategi yang berharga untuk perencanaan kota yang berkelanjutan dan berketahanan.

    Infrastruturramah linngkungan seperti trotoar permeabel dan atap hijau dapat mengelola air hujan secara efektif dengan menyerap dan menyaring air hujan. Hal ini mengurangi risiko banjir, mencegah polusi air, dan membantu menjaga kesehatan ekosistem perairan.

    Baca: Kota di dunia yang sangat ramah untuk pejalan kaki

    Infrastruktur ramah lingkungan juga memperkenalkan lebih banyak ruang hijau di perkotaan, sekaligus meningkatkan keanekaragaman hayati perkotaan dengan menyediakan habitat bagi berbagai spesies.

    Langkah ini mendukung upaya konservasi satwa liar perkotaan dan meningkatkan keseimbangan ekologi secara keseluruhan.

    Infrastruktur kota juga berkontribusi terhadap ketahanan iklim dengan memitigasi efek pulau panas yang tercipta akibat kegiatan di sebuah kota.

    Kehadiran infrastruktur ramah lingkungan  memberikan efek keteduhan dan pendinginan, mengurangi konsumsi energi untuk AC dan meningkatkan kenyamanan iklim perkotaan secara keseluruhan.

    Seperti apa manfaat infrastruktur untuk sosial ekonomi masyarakat kota akan kita bahas dalam artikel selanjutnya. 

    Sumber: earth.org baca artikel asli di sini

     

  • Tantangan Menerapkan Infrastruktur Ramah Lingkungan dalam Perencanaan Kota

    Tantangan Menerapkan Infrastruktur Ramah Lingkungan dalam Perencanaan Kota

    7cloud.asia – Infrastruktur ramah lingkungan disebut sebagai konsep pembangunan kota masa depan. 

    Infrastruktur ramah lingkungan merupakan alat yang ampuh untuk perencanaan kota, memberikan solusi terhadap tantangan yang dihadapi kota terkiat masalah lingkungan, sosial, dan ekonomi.

    Dengan menggabungkan alam ke dalam kota lewat infrastruktur ramah lingkungan, kita dapat menciptakan komunitas kota yang lebih berkelanjutan dan berketahanan.

    Infrastruktur ramah lingkungan menawarkan manfaat lingkungan seperti mengelola air hujan, mendukung keanekaragaman hayati, dan mengurangi udara panas dan polusi udara di kawasan kota.

    Perencanaan infrastruktur ramah lingkungan juga meningkatkan kesejahteraan penduduk kota dengan meningkatkan kesehatan mental dan fisik serta menumbuhkan rasa kebersamaan.

    Baca: Mengenal apa itu infrastruktur ramah lingkungan

    Secara ekonomi, infrastruktur ramah lingkungan akan memotong biaya energi dan perawatan kesehatan, meningkatkan nilai properti, menghasilkan pendapatan pariwisata, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan produktivitas.

    Namun, tantangan terkait pendanaan, keterlibatan masyarakat, dan integrasi kebijakan perlu mendapat perhatian. 

    Penerapan infrastruktur ramah lingkungan dalam perencanaan kota menghadapi beberapa tantangan.

    Pertama, sering kali ditemukan kurangnya fokus yang jelas terhadap keadilan dalam kriteria infrastruktur hijau, sehingga sulit untuk mendapatkan pendanaan bagi proyek-proyek yang bermanfaat bagi masyarakat marginal.

    Mengadvokasi pendanaan khusus untuk inisiatif infrastruktur ramah lingkungan yang berfokus pada keadilan dapat membantu.

    Baca: Desain biofilik, memasukkan alam dalam lingkungan binaan

    Kedua, kriteria teknokratis, seperti pengelolaan air hujan, sering kali lebih diutamakan daripada kebutuhan masyarakat, sehingga berujung pada konflik.

    Untuk mengatasi hal ini, para perencana harus menemukan keseimbangan antara persyaratan teknis dan prioritas masyarakat dalam kebijakan.

    Keterlibatan masyarakat yang pasif, dengan mengandalkan keluhan yang ada, dapat menimbulkan resistensi ketika proyek GI tidak sejalan dengan kebutuhan lokal.

    Secara bertahap melibatkan masyarakat yang lebih aktif, mulai dari awal proyek dan menyelesaikan konflik dengan jelas, sangatlah penting.

    Kesenjangan pendanaan, yang lebih memihak pada wilayah yang lebih kaya, merupakan tantangan yang ada. Mengeksplorasi metode pendanaan yang inovatif dan mengadvokasi kebijakan yang adil dapat mengatasi masalah ini.

    Baca: Slow city, konsep baru mengelola kota yang lebih memanusiakan

    Ketiga, menyelaraskan kebijakan infrastruktur ramah lingkungan dengan tujuan perkotaan yang lebih luas, terutama di bidang transportasi dan tata guna lahan, merupakan hal yang rumit.

    Para perencana harus menyusun strategi kohesif yang mengintegrasikan infrastruktur ramah lingkungan ke dalam rencana pembangunan perkotaan.

    Langkah-langkah ini dapat membantu mengatasi hambatan penerapan infrastruktur ramah lingkungan.

    Rekomendasi kebijakan
    Untuk menerapkan infrastruktur hijau secara efektif dalam perencanaan kota, pembuat kebijakan dan perencana kota harus memprioritaskan integrasi prinsip-prinsip hijau ke dalam perencanaan kota dan peraturan zonasi.

    Hal ini melibatkan revisi kebijakan yang ada atau pembuatan kebijakan baru yang mewajibkan penyertaan ruang hijau, multifungsi, dan konektivitas dalam rencana pembangunan perkotaan.

    Baca: Konsep kota hutan di IKN dinilai belum jamin ramah lingkungan

    Pada saat yang sama, mendapatkan pendanaan dan dukungan masyarakat sangat penting untuk keberhasilan proyek.

    Para pengambil kebijakan harus menjajaki beragam jalur pendanaan, seperti kemitraan publik-swasta, hibah, dan insentif untuk pembangunan ramah lingkungan.

    Upaya ini bisa dilakukan sembari melibatkan masyarakat melalui pertemuan balai kota dan kampanye untuk membangun kesadaran akan pentingnya infrastruktur yang ramah lingkungan.

    Memberikan insentif pajak bagi dunia usaha dan pemilik rumah yang berinvestasi pada infrastruktur ramah lingkungan dapat lebih mendorong partisipasi dan dukungan finansial.

    Dengan menjadikan prinsip-prinsip hijau sebagai bagian dari kebijakan perkotaan dan melibatkan masyarakat secara aktif, kita dapat berupaya menuju masa depan perkotaan yang lebih hijau dan sejahtera.

    Sumber: earth.org baca artikel asli di sini

     

  • Manfaat Ekonomi Infrastruktur Ramah Lingkungan untuk kehidupan Kota

    Manfaat Ekonomi Infrastruktur Ramah Lingkungan untuk kehidupan Kota

    7cloud.asia – Infrastruktur ramah lingkungan tak hanya menawarkan manfaat ekologis tetapi juga menawarkan berbagai manfaat sosial dan kesehatan bagi warga kota. 

    Seperti telah disebutkan dalam artikel sebelumnya, infrastruktur ramah lingkungan adalah terobosan baru bagi kehidupan dan komunitas sebuah kota.

    Infrastruktur ramah lingkungan adalah konsep untuk memanfaatkan alam atau lahan dan menjadikan kawasan kota yang lebih baik bagi semua penghuninya.

    Infrastruktur ramah lingkungan bukan hanya tentang membangun bangunan atau kawasan dengan cara biasa, tetapi juga memanfaatkan alam untuk menciptakan cara hidup yang berkelanjutan dan lebih ramah lingkungan.

    Baca: Apa itu infrastruktur ramah lingkungan

    Lantas apa saja manfaat infrastruktur ramah lingkungan untuk kesehatan kota, mari kita uraikan satu per satu: 

    1. Berdampak positif pada kesehatan mental

    Dengan memberikan akses terhadap ruang hijau, taman, dan lingkungan alam kepada penduduk perkotaan.

    Kawasan hijau yang mudah diakses ini dapat membantu mengurangi perasaan stres, kecemasan, dan depresi di kalangan penduduk perkotaan.

    2. Meningkatkan kesehatan fisik

    Infrastruktur ramah lingkungan menawarkan peluang untuk melakukan aktivitas seperti berjalan kaki, joging, dan kegiatan rekreasi di ruang kota.

    Kegiatan-kegiatan ini berkontribusi pada penurunan tingkat obesitas dan masalah kesehatan terkait. 

    Baca: Tantangan penerapan infrastruktur ramah lingkungan

    3. Menciptakan kawasn kreatif

    Infrastruktur ramah lingkungan memainkan peran penting dalam menciptakan kawasan komunal di mana warga dapat berinteraksi, bersosialisasi, dan mengembangkan ikatan komunitas yang lebih kuat.

    Ruang-ruang komunal ini sering kali berfungsi sebagai tempat berkumpul, acara, dan aktivitas bertetangga, sehingga menumbuhkan rasa persatuan di antara penduduk perkotaan.

    Berinvestasi di infrastruktur ramah lingkungan juga membawa berbagai manfaat ekonomi bagi sebuah kota, yaitu: 

    1. Turunkan konsumsi energi

    Menempatkan elemen hijau secara strategis seperti pepohonan dan atap hijau memberikan keteduhan dan isolasi pada bangunan.

    Ini artinya infrastruktur ramah lingkungan akan menurunkan konsumsi energi yang berbuntut pada penghematan biaya pada tagihan listrik.

    Baca: Desain biofilik hadirkan alam di dalam lingkungan binaan

    2. Turunkan biaya kesehatan 

    Infrastruktur ramah lingkungan menghasilkan kesehatan masyarakat yang lebih baik, yang berarti menurunkan biaya layanan kesehatan bagi individu dan pemerintah.

    Hal ini juga meningkatkan nilai properti bila dikelola dengan baik, sehingga berkontribusi terhadap pendapatan pajak yang lebih tinggi bagi pemerintah daerah.

    3. Ciptakan peluang usaha

    Ruang hijau menarik pengunjung, memberikan manfaat bagi bisnis dan perekonomian lokal. Proyek-proyek ini menciptakan lapangan kerja di berbagai bidang seperti pertamanan dan perencanaan kota.

    Selain itu, hal ini membantu mengelola air hujan secara alami, sehingga mengurangi kebutuhan akan infrastruktur tradisional yang mahal.

    Terakhir, akses terhadap ruang hijau saat istirahat dapat meningkatkan produktivitas pekerja dan kepuasan kerja, sehingga memberikan manfaat bagi pengusaha dan perekonomian secara keseluruhan.

    Sumber: earth.org