Tag: suhu

  • WMO: Kenaikan Suhu Global Picu Bencana Akan Lebih Sering Terjadi

    WMO: Kenaikan Suhu Global Picu Bencana Akan Lebih Sering Terjadi

    7cloud.asia – Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) mengeluarkan peringatan dini bencana banjir, kebakaran hutan, pencairan gletser dan gelombang panas akan menjadi lebih umum dan intens di masa depan.

    Peringatan dini ini dilakukan seiring dengan naiknya suhu global hingga bertahun-tahun ke depan.

    Data dari WMO, suhu rata-rata global pada 2023 telah meningkat sekitar 1,4 derajat celsius dibandingkan masa pra-industri.

    Melansir Antaranews, kenaikan suhu global saat ini hanya 0,1 derajat di bawah batas 1,5 derajat celcius yang ditetapkan oleh Perjanjian Iklim Paris pada 2015.

    Baca: Pemanasan global picu masalah serius bagi lingkungan

    Perjanjian Paris merupakan perjanjian internasional yang ditandatangani oleh hampir 200 negara yang bertujuan mencegah supaya kenaikan suhu global tidak lebih dari 1,5 derajat celcius pada akhir abad ini.

    WMO menyebut tingkat karbon dioksida atau CO2 di atmosfer telah melonjak hingga 50 persen di atas level yang pernah tercatat pada era pra-industri.

    Peningkatan ini menunjukkan bahwa suhu akan terus meningkat dalam jangka waktu lama, bahkan jika langkah-langkah pengurangan emisi drastis diterapkan.

    Menurut WMO periode 2015 hingga 2023 merupakan periode paling hangat yang pernah tercatat.

    Baca: November 2022 hingga Oktober 2023 periode dengan suhu terpanas sepanjang sejarah

    Temuan ini memang berdasarkan data hingga Oktober 2023.

    Namun, WMO menegaskan bahwa dua bulan terakhir tahun ini tidak mungkin cukup untuk mencegah tahun 2023 menjadi tahun terpanas yang pernah tercatat dalam sejarah.

    Karena itu, WMO menekankan perlunya tindakan segera untuk mengatasi perubahan iklim.

    Sebelumnya lembaga pemerhati perubahan iklim Climate Central Bulan menganalisis November 2022 hingga Oktober 2023 merupakan periode terpanas sepanjang sejarah.

    Baca: Pemanasan suhu bumi capai 2derajat celcius,apayang terjadi pada planet bumi

    WMO menyebut rata-rata temperatur global 1,3 derajat diatas temperatur pada masa pra industri.

    Demikian hasil analisis yang disampaikan oleh Wakil Presiden Bidang Sains Climate Central, Andrew Pershing.

    “Rekor akan terus terjadi pada tahun depan, terutama ketika El Nino semakin meningkat, dampaknya menyebabkan panas yang tidak biasa,” ungkap Andrew.

    Lebih lanjut Andrew menjelaskan dampak iklim parah terjadi di negara-negara berkembang di khatulistiwa dan gelombang panas ekstrem yang dipicu oleh perubahan iklim melanda Amerika Serikat, India, Jepang, dan Eropa.

    Baca: Emisi karbon cetak rekor pada 2023

    Artinya tidak ada negara yang aman dari dampak perubahan iklim. Termasuk Indonesia sebagai salah satu negara Asia yang beriklim tropis mengalami kenaikan suhu dalam setahun terakhir.

    Sementara Prof Edvin Aldrian, peneliti BRIN yang menjadi penulis Laporan Intergovernmental Panel on Climate Changemengungkapkan kekhawatirannya.

    Kenaikan suhu sebesar 1,5 derajat celcius dikhawatirkan lebih cepat terjadi dari yang diperkirakan pada 2030 dengan kondisi kenaikan suhu saat ini.

    “Memang ada faktor-faktor alam seperti fenomena El Nino, atau posisi matahari yang mendekati Bumi, tetapi aktivitas manusialah yang paling banyak memengaruhi kenaikan suhu global ini,” kata Edvin.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Tahun 2023 Tahun Terpanas, Ini Dampaknya pada Suhu Laut dan Lingkungan

    Tahun 2023 Tahun Terpanas, Ini Dampaknya pada Suhu Laut dan Lingkungan

    7cloud.asia – Pemanasan global menjadi satu ancaman nyata bagi kelestarian lingkungan dan kelangsungan hidup penghuni planet Bumi.

    Suhu ekstrim tidak hanya berdampak pada manusia di seluruh dunia tetapi juga berimbas pada lingkungan dan ekosistem laut.

    Hal ini, karena suhu laut dan samudera mencapai suhu permukaan terpanas yang pernah dicatat para ahli lingkungan.

    Pada bulan Agustus secara keseluruhan terjadi suhu permukaan laut rata-rata bulanan global tertinggi yang pernah tercatat sepanjang bulan.

    Sementara menurut data Copernicus., rekor suhu harian dipecahkan setiap hari dari tanggal 31 Juli hingga 31 Agustus 2023. 

    Baca: Tahun 2023 tercatat sebagai tahun terpanas sepanjang sejarah

    Di sejumlah tempat seperti Florida Amerika Serikat, suhu laut melampaui angka 38C (100F), menambah peringatan sebelumnya mengenai pemanasan air yang membahayakan kehidupan laut dan ekosistem.

    Sementara itu, suhu permukaan Laut Mediterania mencapai 28,7C (83,7F), rekor median tertinggi setidaknya sejak tahun 1982.

    Menurut penelitian yang didukung Uni Eropa dan diterbitkan Oktober lalu, peningkatan suhu laut dan permukaan air akibat perubahan iklim antropogenik mempunyai dampak luas terhadap kehidupan laut dan sistem cuaca global.

    Melalui pengamatan satelit dan in situ, analisis ulang lautan, dan komputasi berkinerja tinggi yang memungkinkan pengamatan lautan 4D, hampir 100 pakar ilmiah yang mengerjakan laporan ini mampu mengidentifikasi berbagai pola “tidak biasa” di seluruh sistem lautan dunia.

    Baca: Pemanasan global akan memicu lebih banyak bencana 

    Perubahan itu termasuk perubahan yang terjadi, arus sirkulasi, gelombang panas laut yang lebih sering dan intens, dan kejadian tak terduga dalam produksi biologis.

    Secara khusus, kenaikan suhu permukaan dan bawah permukaan laut dapat menimbulkan dampak serius bagi spesies laut, seperti terumbu karang, rumput laut, dan ikan.

    Kondisi ini sering kali mengakibatkan kematian massal dan migrasi yang tentunya berujung pada berkurangnya jumlah tangkapan dan meningkatnya tekanan pada industri perikanan.

    Hal ini juga dapat berdampak pada salinitas dan tingkat air tawar di lautan, mengubah sirkulasi lautan, arus, dan siklus air, serta dapat menyebabkan kenaikan permukaan laut.

    Baca: Masalah lingkungan yang dipicu pemanasan global

    Lantas seperti apa perkiraan kondisi di masa depan? Hal inisedkit banyak tercermin dari hasil KTT iklim PBB COP28 yang dihelat di Dubai awalDesember lalu.

    Para pemimpin dunia mencapai kesepakatan yang secara eksplisit menyerukan negara-negara di duniauntuk mengurangi konsumsi bahan bakar fosil.

    Meskipun belum mencapai tahap “penghentian” bahan bakar fosil, kesepakatan akhir ini memberikan terobosan baru.

    Pasalnya, hal ini merupakan pertama kalinya teks COP menyebutkan peralihan dari minyak dan gas alam yang menyebabkan pemanasan global, bahan bakar yang telah mendukung pembangunan ekonomi global selama satu abad terakhir.

    Baca: Dampak naiknya suhu air laut

    Negara-negara peserta COP 28 juga sepakat untuk melipatgandakan kapasitas energi terbarukan dan melipatgandakan peningkatan efisiensi energi pada tahun 2030.

    Meskipun para ahli masih mengatakan bahwa komitmen yang dibuat sejauh ini tidak cukup untuk menempatkan dunia pada jalur yang tepat untuk mencapai tujuan Paris.

    Esti Utami, diterjemahkan dari earth.org

     

  • Suhu Permukaan Bumi Meningkat, BMKG Sebut Pengamatan Sistem Kebumian Penting untuk Menghadapinya

    Suhu Permukaan Bumi Meningkat, BMKG Sebut Pengamatan Sistem Kebumian Penting untuk Menghadapinya

    7cloud.asia – Suhu permukaan bumi meningkat dengan cepat setiap tahun berdampak buruk pada manusia. Pengamatan sistem kebumian yang sistematis menjadi penting dalam menghadapinya.

    Hal ini diungkapkan oleh Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati dalam Ocean and Climate Change Dialogue 2024 yang diselenggarakan oleh United Nation Framework Convention on Climate Change (UNFCC) di Bonn, Jerman beberapa waktu lalu.

    Dwikorita menjelaskan peningkatan suhu global tidak dapat dianggap sepele. Laporan Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), suhu permukaan global telah meningkat dengan cepat.

    Baca: Cara mencegah kematian manusia akibat perubahan iklim

    Rata-rata tahunan mencapai 1,45 derajat celcius pada tahun 2023 dibandingkan dengan baseline setelah era Revolusi Industri.

    Padahal di tahun 2020, menurut laporan WMO tentang keadaan iklim global, kenaikan rata-rata suhu global adalah 1,2 derajat celcius. Artinya dalam beberapa tahun, ada peningkatan suhu permukaan yang signifikan.

    “Tahun 2023 tercatat sebagai tahun terpanas, dan informasi ini hanya dapat diperoleh melalui pengamatan sistematis untuk fenomena kebumian. Tanpa pengamatan kebumian yang sistematis, informasi yang diberikan bisa menyesatkan atau salah,” urai Dwikorita.

    “Pengamatan kebumian yang sistematis ini diperlukan baik di tingkat nasional, regional, maupun global,” lanjutnya lagi.

    Menurutnya pengamatan sistematis sangat dibutuhkan untuk berbagai keperluan. Misalnya untuk memberikan data dukung dalam aksi adaptasi iklim, aksi mitigasi iklim atau keputusan, kebijakan apa pun terkait mitigasi dan adaptasi iklim.

    Pengamatan sistematis tersebut, lanjut dia, juga harus diikuti oleh tindakan yang sistematis di segala lini.

    Baca: Perubahan iklim bisa bunuh 1 milyar orang

    Dia mencontohkan informasi mengenai fenomena El Nino yang menyebabkan kenaikan panas laut yang meluas di Pasifik tropis bagian timur.

    Hal ini, lanjut Dwikorita, merupakan hasil pengamatan kebumian sistematis yang didukung juga oleh pemantauan satelit.

    Selain itu, prediksi Food and Agriculture Organization (FAO) mengenai ancaman krisis pangan pada tahun 2050 mendatang juga merupakan hasil dari pengamatan kebumian yang sistematis secara global, nasional, dan lokal.

    Karena itu, mantan rektor Universitas Gajah Mada (UGM) tersebut menekankan pentingnya pengamatan sistematis di seluruh negara di dunia untuk melakukan analisis dan prediksi lebih lanjut.

    “Analisis masa lalu merupakan cara untuk memvalidasi dampak dari peningkatan suhu yang berlangsung dan kondisi Bumi kekinian,” kata Dwikorita.

    Baca: Batubara adalah salah satu penyebab utama krisis iklim

    “Selanjutnya, pada analisisi lebih lanjut yang didasarkan pada data pengamatan sistematis dapat diketahui bahwa ternyata perubahan iklim memberi tekanan pada sumber daya air yang sudah langka, menghasilkan hotspot air. Nah, hal ini dapat ditangkap dan dianalisis lagi berdasarkan pengamatan sistematis,” jelasnya.

    Kenaikan suhu global tidak hanya berdampak pada suhu bumi yang makin panas. Tetapi juga dapat meningkatkan frekuensi bencana hidrometeorologi.

    Dampak lainnya adalah kekeringan, buruknya kualitas udara, kebakaran hutan dan lahan, gelombang panas, risiko kesehatan, penurunan kualitas hidup, hingga ancaman kelangsungan hidup spesies di bumi.

    Kondisi ini lanjut Dwikorita, akhirnya akan menganggu stabilitas perekonomian dan politik dunia.

    Selanjutnya Dwikorita menjelaskan Indonesia meningkatkan jaringan pengamatan kebumian baik di laut maupun darat.

    Baca: Butuh triliunan dollar untuk hadang perubahan iklim

    Hal tersebut juga diiringi dengan peningkatan kapasitas pemrosesan data dan peningkatan penyebaran informasi kepada publik dan sektorpengguna.

    “Salah satu fokus pengamatan kami (Indonesia-red) terhadap dampak perubahan iklim adalah laut. Hal ini karena kunci dari perubahan iklim adalah laut, yang juga berinteraksi dengan atmosfer. Ini adalah upaya kami untuk memperkuat kapasitas prakiraan, prediksi ataupun proyeksi,” urainya.

    “Jadi ketika kita berbicara tentang dampak perubahan iklim, kita tidak bisa mengabaikan integrasi pengamatan laut dan atmosfer, mulai dari pemrosesan data, analisis, prediksi, dan proyeksinya, hingga penyebarluasan hasil analisis/ informasi utk berbagai kepentingan layanan, ” paparnya.

    Karena itu, dia berharap UNFCC dapat menjadikan pengamatan sistematis untuk fenomena kebumian sebagai dasar negosiasi dan pengambilan kebijakan.

    Hal ini perlu dilakukan untuk mendukung negara-negara di dunia untuk mengambil tindakan sistematis untuk mengatasi perubahan iklim.

    Dia khawatir jika kebijakan dibuat tanpa mempertimbangkan pengamatan sistematis fenomena kebumian bisa menjadi sesuatu yang salah atau menyesatkan.

     

  • Cuaca Hari Ini: Waspada, Suhu Panas Hingga 35 Derajat Celsius di Dua Kota Ini

    Cuaca Hari Ini: Waspada, Suhu Panas Hingga 35 Derajat Celsius di Dua Kota Ini

    7cloud.asia – Meski Indonesia masih aman dari terjangan gelombang panas seperti yang terjadi di Jepang dan lainnya, namun suhu panas hingga 35 derajat celsius berpotensi terjadi di dua kota ini pada Rabu (17/07/2024).

    Laman resmi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan suhu panas hingga 35 derajat celsius terjadi di Kota Pontianak dan Banda Aceh.

    Kota lainnya seperti Serang diprediksi suhu mencapai 34 derajat celsius. Sedangkan suhu terendah, 17 derajat celsius diperkirakan terjadi di Kota Bandung.

    BMKG memperkirakan seluruh kota di Indonesia cerah berawan pada pagi hari. Peluang hujan dengan intensitas ringan terjadi pada siang hari di Kota Ambon.

    Kemudian malam harinya hujan dengan intensitas ringan berpeluang terjadi di Kota Tarakan dan Medan.

    Sementara untuk wilayah Jakarta, seluruh wilayah diperkirakan cerah pada pagi hari. Siang harinya cuaca cerah berawan.

    Lalu malam hari cuaca di seluruh wilayah Jakarta berawan. Suhu berkisar antara 22 hingga 33 derajat celsius dengan tingkat kelembaban udara berkisar antara 50 hingga 80 persen.

       

      

     

  • BMKG: Generasi Muda Perlu Mitigasi Bahaya Peningkatan Suhu di Kota

    BMKG: Generasi Muda Perlu Mitigasi Bahaya Peningkatan Suhu di Kota

    7cloud.asia – Suhu di wilayah perkotaan kini meningkat jika dibandingkan dengan pedesaan. Karena itu generasi muda perlu melakukan mitigasi terhadap bahaya fenomena ini.

    Hal ini diungkapkan oleh Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati dalam acara Workshop Urban Heat Island (UHI) 2024.

    Urban Heat Island merupakan fenomena alam berupa tingginya temperatur daerah perkotaan dibandingkan pedesaan.

    “UHI ini harus kita mitigasi bersama. Perlu kesadaran dan aksi nyata untuk menghadapi UHI ini,” ungkap Dwikorita.

    Baca: Emisi gas rumah kaca memicu gelombang panas ekstrem

    Selanjutnya dia menjelaskan peningkatan suhu yang terkait dengan fenomena UHI perkotaan bervariasi tergantung pada tutupan lahan.

    Fenomena ini, kata dia, dipicu oleh beberapa faktor, diantaranya struktur geometris kota yang rumit, sedikitnya vegetasi, hingga efek rumah kaca.

    Selain itu, perubahan tutupan lahan yang menjadi lahan terbangun juga memperparah terjadinya UHI.

    Dwikorita menyebut dalam kurun waktu 30 tahun terakhir, efek UHI relatif cukup kuat dirasakan.

    Baca: Waspada panas menyengat di perkotaan

    Sejumlah kota besar di Indonesia seperti Jabodetabek, Medan, Surabaya, Makassar, dan Bandung, lanjut dia, termasuk dalam 20% kota dengan nilai Land Surface Temperature (LST) terbesar.

    Menurutnya, permukaan yang kedap air dan lebih sedikit vegetasi menambah efek dari UHI tersebut.

    Badan Meteorologi Dunia (WMO) baru saja menyatakan bahwa tahun 2023 tercatat sebagai tahun terpanas sepanjang pengamatan instrumental. Anomali suhu rata-rata global mencapai 1,45 derajat celcius di atas zaman pra industri.

    Baca: Hampir setengah juta orang meninggal per tahun akibat panas ekstrem

    Dwikorita menyebut angka ini nyaris menyentuh batas yang disepakati dalam Paris Agreement tahun 2015 bahwa dunia harus menahan laju pemanasan global pada angka 1,5 derajat celcius.

    Pada tahun 2023, terjadi rekor suhu global harian baru dan terjadi bencana heat wave ekstrem yang melanda berbagai kawasan di Asia dan Eropa.

    “Rekor iklim yang terjadi di tahun 2023 bukanlah kejadian acak atau kebetulan, melainkan tanda-tanda jelas dari pola yang lebih besar dan lebih mengkhawatirkan yaitu perubahan iklim yang semakin nyata. Maka dari itu, perlu langkah atau gerak bersama seluruh komponen masyarakat, tidak hanya pemerintah, namun juga sektor swasta, akademisi, media, LSM, dan lain sebagainya termasuk anak-anak muda,” jelasnya.

     

  • Cuaca Hari Ini: Kemarau, Waspada Suhu Panas Hingga 35 Derajat

    Cuaca Hari Ini: Kemarau, Waspada Suhu Panas Hingga 35 Derajat

    7cloud.asia – Musim kemarau melanda sejumlah wilayah di Indonesia. Bahkan suhu panas hingga 35 derajat berpotensi terjadi pada Rabu (21/08/2024).

    Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi suhu panas tersebut terjadi di Kota Samarinda. Meski hujan dengan intensitas ringan berpotensi terjadi di kota ini.

    Selain Samarinda, hujan dengan intensitas ringan bakal terjadi di Kota Medan, Pekanbaru, Padang, Tanjung Pinang, Palangkaraya, Banjarmasin Gorontalo, Palu.

    Kondisi serupa juga diperkirakan terjadi di Kota Ambon, Ternate, Sorong, Manokwari, Jayapura, Jayawijaya dan Merauke.

    Hujan dengan intensitas sedang berpotensi mengguyur Kota Kendari dan Nabire. Kemudian hujan disertai petir berpotensi melanda Kota Tanjung Selor, Pontianak, Manado dan Mamuju.

    Sedangkan untuk kota-kota lainnya termasuk DKI Jakarta cuaca cerah, berawan dari pagi hingga malam hari.

    Suhu udara berkisar antara 15 hingga 35 derajat celsius dengan tingkat kelembaban udara antara 42 hingga 100 persen. Suhu terendah diperkirakan terjadi di Kota Jayawijaya.

    Tak hanya di daratan, BMKG juga memperkirakan hujan dengan intensitas lebat berpotensi terjadi di sejumlah perairan seperti Selat Malaka, Perairan utara Sabang, Perairan barat Aceh hingga Kepulauan Mentawai.

    Selain itu Samudra Hindia barat Aceh hingga Kepulauan Nias, Perairan Riau, Perairan Kepulauan Anambas hingga Kepulauan Natuna, Perairan Halmahera berpotensi hujan lebat.

    Kondisi cuaca seperti ini berpeluang pula terjadi di Perairan Amamapare hingga Agats, Teluk Cendrawasih, Perairan utara Papua Barat hingga Papua, dan Samudra Pasifik utara Papua.

     

  • Cuaca Hari Ini: Mayoritas Kota Hujan, tapi Waspada Suhu Panas Hingga 36 Derajat di Kota Ini

    Cuaca Hari Ini: Mayoritas Kota Hujan, tapi Waspada Suhu Panas Hingga 36 Derajat di Kota Ini

    7cloud.asia – Meski sebagian besar kota di Indonesia diperkirakan hujan, namun cuaca panas masih berpotensi terjadi di kota ini pada Sabtu (09/11/2024).

    Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dalam akun youtube resminya, memperkirakan suhu panas hingga 36 derajat celsius terjadi di Kota Kupang. Cuaca di kota ini diperkirakan berawan tebal.

    Sementara hujan dengan intensitas ringan hingga hujan disertai petir berpotensi mengguyur mayoritas kota di Indonesia.

    Hujan dengan intensitas ringan berpotensi terjadi di Kota Banda Aceh, Medan, Pekanbaru, Tanjung Pinang, Jambi, Palembang, Serang, Yogyakarta, Denpasar.

    Baca: Awas! cuaca ekstrem, bencana mengintai

    Kondisi cauaca serua juga terjadi di Kota Tanjung Selor, Samarinda, Tanjung Selor, Banjarmasin, Palangkaraya, Manado, Gorontalo, Kendari, Ternate, Sorong, Manokwari dan Jayapura.  

    Selanjutnya hujan dengan intensitas sedang berpeluang mengguyur Kota Padang, Lampung, Palu, Ambon, Nabire, Jayawijaya dan Merauke. Kemudian hujan lebat berpotensi mengguyur Kota Mamuju.  

    BMKG mengajak masyarakat agar mewaspadai potensi hujan disertai petir di Kota Pangkal Pinang, Bengkulu, Bandung, Mataram, Pontianak dan Makassar.  

    Untuk wilayah DKI Jakarta, BMKG memperkirakan sebagian besar wilayah berawan tebal pada pagi hari. Peluang hujan dengan intensitas ringan terjadi di wilayah Jakarta Barat dan Jakarta Selatan.

    Baca: BMKG ajak masyarakat waspada banjir di musim hujan

    Siangnya wilayah Jakarta Pusat, Jakarta Timur, Jakarta Utara, Jakarta Barat diprediksi hujan dengan intensitas ringan.

    Hujan dengan intensitas sedang berpotensi mengguyur wilayah Jakarta Selatan pada siang hari. Cuaca cerah berawan diprediksi terjadi di wilayah Kepulauan Seribu.

    Pada malam hari, seluruh wilayah diprediksi cerah berawan kecuali wilayah Kepulauan Seribu yang diperkirakan terjadi hujan dengan intensitas ringan.  

    Suhu udara berkisar antara 16 hingga 36 derajat celsius dengan tingkat kelembaban antara 54 hingga 100 persen. Suhu terendah diprediksi terjadi di Kota Jayawijaya.

     

  • Bulan Januari 2025 Tercatat Sebagai Bulan Januari Terpanas

    Bulan Januari 2025 Tercatat Sebagai Bulan Januari Terpanas

    7cloud.asia – Bulan Januari 2025 tercatat sebagai bulan Januari terpanas dalam sejarah pencatatan suhu Bumi.

    Data dari satelit program Copernicus milik Uni Eropa menyebut suhu Januari 2025, melampaui rekor sebelumnya yang dicapai pada Januari 2024.

    Hal ini cukup mengejutkan karena biasanya kondisi La Niña di Samudra Pasifik membantu menurunkan suhu global, tapi kali ini, menurut laporan The Conversation, efeknya tampak melemah.

    Rata-rata suhu permukaan udara global bulan Januari 2025 meningkat hingga 1,75°C di atas tingkat pra-industri.

    Kenaikan suhu paling ekstrem, bahkan mencapai 6°C lebih tinggi, terjadi di wilayah utara Kanada, Rusia, serta negara-negara Skandinavia. Selain itu, beberapa wilayah seperti Eropa, Amerika Selatan, Afrika, dan Australia juga mengalami suhu yang jauh di atas rata-rata.

    “Gelombang panas di sebagian besar lautan telah menjadi lebih luas dan lebih kuat, sehingga pengaruh La Niña semakin tertutupi,” ujar Jennifer Francis, pakar Arktik dari Woodwell Climate Research Center di Amerika Serikat, dikutip dari laporan Mongabay, Ahad, 9 Februari 2025.

    Baca: Pemanasan Suhu Laut 2024 Cetak Rekor

    “Arktik telah menghangat sekitar empat kali lebih cepat dibandingkan rata-rata global dan saat ini mengalami ‘demam’ yang berbahaya.”

    Pada 2024, fenomena El Niño yang sangat kuat memicu lonjakan suhu global, menjadikan periode Januari hingga Juni sebagai bulan-bulan terpanas dalam sejarah.

    Peneliti dari Copernicus mencatat bahwa dalam 19 bulan terakhir, 18 bulan di antaranya memiliki suhu minimal 1,5°C di atas tingkat pra-industri, melewati batas yang ditetapkan dalam Perjanjian Paris untuk membatasi pemanasan global.

    “Januari 2025 adalah bulan yang mengejutkan lagi, melanjutkan tren suhu ekstrem yang telah terjadi selama dua tahun terakhir,” kata Samantha Burgess, pemimpin strategis untuk iklim di European Centre for Medium-Range Weather Forecasts, dalam pernyataannya.

    Meski demikian, ilmuwan menekankan bahwa data dari beberapa tahun terakhir belum cukup untuk menyimpulkan bahwa perubahan iklim secara keseluruhan telah melewati batas Perjanjian Paris.

    Dibutuhkan catatan data selama beberapa dekade untuk memastikan hal tersebut.

    Baca: Dunia Keluar Jalur dari Pembatasan Pemanasan Global 1,5°C

    Sejak awal 1900-an, pembakaran bahan bakar fosil terus berkontribusi terhadap pemanasan global, tapi tren pemanasan meningkat secara signifikan dalam satu dekade terakhir.

    Menurut Arctic Report Card 2024 yang diterbitkan oleh Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional AS (NOAA), sembilan tahun terakhir adalah periode terpanas dalam sejarah Arktik.

    Selain meningkatnya emisi gas rumah kaca, berkurangnya polusi udara dari industri dan kapal besar juga berperan dalam tren pemanasan ini.

    Polusi sebelumnya sempat membantu memantulkan sebagian sinar matahari, tapi udara yang lebih bersih saat ini memungkinkan lebih banyak panas terserap oleh bumi.

    Untuk membalikkan tren ini, dunia harus segera dan secara drastis mengurangi konsumsi minyak, batu bara, dan gas alam yang melepaskan metana, serta menghentikan deforestasi.

  • Cuaca Makin Terik? WMO Prediksi Dunia Memasuki Era Panas Ekstrem

    Cuaca Makin Terik? WMO Prediksi Dunia Memasuki Era Panas Ekstrem

    7cloud.asia – Cuaca terasa lebih panas akhir-akhir ini? Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memprediksi kondisi ini akan terus berlanjut dalam beberapa tahun ke depan.

    Dalam laporan Global Annual-to-Decadal Climate Update,  memprediksi suhu rata-rata global akan tetap berada pada atau mendekati level tertinggi yang pernah tercatat hingga 2030.

    WMO memperkirakan suhu rata-rata global pada periode 2026-2030 akan berada 1,3 hingga 1,9 derajat Celsius di atas rata-rata era pra-industri (1850-1900).

    Laporan tersebut menyebutkan terdapat peluang 86 persen bahwa salah satu tahun antara 2026 hingga 2030 akan melampaui rekor panas tahun 2024 (sebagai tahun terpanas yang pernah tercatat).

    Baca: Kematia Terkait Cuaca Panas Ekstrem di Negara Miskin Lebih Tinggi 10 Kali Lipat

    WMO juga memperkirakan peluang 91 persen suhu global akan melampaui ambang 1,5 derajat Celsius setidaknya dalam satu tahun selama periode tersebut.

    Bahkan, kemungkinan rata-rata suhu lima tahunan 2026-2030 melebihi 1,5 derajat Celsius mencapai 75 persen.

    Penulis utama laporan, Dr. Leon Hermanson, dalam rilis WMO mengatakan prediksi kemunculan fenomena El Niño pada akhir 2026 berpotensi mendorong 2027 menjadi tahun pemecahan rekor suhu global berikutnya.

    Baca: Skenario Terburuk El Nino 2026, Neraka Panas yang Mengancam

    “Ada prediksi El Niño pada akhir tahun 2026, yang meningkatkan peluang tahun berikutnya, 2027, menjadi tahun pemecahan rekor berikutnya,” kata Leon.

    Selain itu, kawasan Arktik diprediksi mengalami pemanasan jauh lebih cepat dibandingkan rata-rata global. Suhu musim dingin di wilayah tersebut diperkirakan mencapai 2,8 derajat Celsius di atas rata-rata periode 1991-2020, disertai penyusutan es laut di sejumlah wilayah utama.

    WMO menegaskan bahwa peningkatan suhu sementara di atas 1,5 derajat Celsius tidak otomatis berarti target jangka panjang dalam Perjanjian Paris gagal tercapai.

    Namun, frekuensi kejadian tersebut diperkirakan akan semakin sering seiring terus meningkatnya suhu bumi akibat perubahan iklim.

    Baca: Mengenal Lebih Jauh Godzilla El Nino

    Sementara di Indonesia, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak musim kemarau 2026 di Indonesia pada Agustus mendatang.

    Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani menerangkan pada musim kemarau kali ini, Indonesia akan memasuki fenomena El Niño dengan intensitas lemah hingga moderat pada Juli.

    Kondisi ini memperkuat terjadinya musim kemarau hingga mencapai puncaknya pada Agustus mendatang.  “Puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada Agustus dan akan dirasakan di banyak daerah,” ungkap Faisal.

    Selanjutnya Faisal menjelaskan, sebenarnya musim kemarau telah dimulai pada April dan akan berlangsung lebih panjang dari tahun-tahun sebelumnya.

    “Musim kemarau mulai dari April, Mei hingga Juni, dan banyak wilayah masuk pada Mei,” katanya.

    Baca: BMKG Prediksi Puncak Musim Kemarau Agustus Mendatang

    Musim kemarau pada April akan lebih dahulu terjadi di wilayah timur Indonesia, seperti Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Bali.

    Bulan-bulan selanjutnya musim kemarau mulai meluas ke Pulau Jawa, terutama wilayah pesisir dan dataran tinggi, hingga ke Sumatera bagian selatan.

    BMKG menyebut ada enam provinsi yang diprediksi paling terdampak, yaitu Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan.