Tahun 2023 Tahun Terpanas, Ini Dampaknya pada Suhu Laut dan Lingkungan

Written by

in

7cloud.asia – Pemanasan global menjadi satu ancaman nyata bagi kelestarian lingkungan dan kelangsungan hidup penghuni planet Bumi.

Suhu ekstrim tidak hanya berdampak pada manusia di seluruh dunia tetapi juga berimbas pada lingkungan dan ekosistem laut.

Hal ini, karena suhu laut dan samudera mencapai suhu permukaan terpanas yang pernah dicatat para ahli lingkungan.

Pada bulan Agustus secara keseluruhan terjadi suhu permukaan laut rata-rata bulanan global tertinggi yang pernah tercatat sepanjang bulan.

Sementara menurut data Copernicus., rekor suhu harian dipecahkan setiap hari dari tanggal 31 Juli hingga 31 Agustus 2023. 

Baca: Tahun 2023 tercatat sebagai tahun terpanas sepanjang sejarah

Di sejumlah tempat seperti Florida Amerika Serikat, suhu laut melampaui angka 38C (100F), menambah peringatan sebelumnya mengenai pemanasan air yang membahayakan kehidupan laut dan ekosistem.

Sementara itu, suhu permukaan Laut Mediterania mencapai 28,7C (83,7F), rekor median tertinggi setidaknya sejak tahun 1982.

Menurut penelitian yang didukung Uni Eropa dan diterbitkan Oktober lalu, peningkatan suhu laut dan permukaan air akibat perubahan iklim antropogenik mempunyai dampak luas terhadap kehidupan laut dan sistem cuaca global.

Melalui pengamatan satelit dan in situ, analisis ulang lautan, dan komputasi berkinerja tinggi yang memungkinkan pengamatan lautan 4D, hampir 100 pakar ilmiah yang mengerjakan laporan ini mampu mengidentifikasi berbagai pola “tidak biasa” di seluruh sistem lautan dunia.

Baca: Pemanasan global akan memicu lebih banyak bencana 

Perubahan itu termasuk perubahan yang terjadi, arus sirkulasi, gelombang panas laut yang lebih sering dan intens, dan kejadian tak terduga dalam produksi biologis.

Secara khusus, kenaikan suhu permukaan dan bawah permukaan laut dapat menimbulkan dampak serius bagi spesies laut, seperti terumbu karang, rumput laut, dan ikan.

Kondisi ini sering kali mengakibatkan kematian massal dan migrasi yang tentunya berujung pada berkurangnya jumlah tangkapan dan meningkatnya tekanan pada industri perikanan.

Hal ini juga dapat berdampak pada salinitas dan tingkat air tawar di lautan, mengubah sirkulasi lautan, arus, dan siklus air, serta dapat menyebabkan kenaikan permukaan laut.

Baca: Masalah lingkungan yang dipicu pemanasan global

Lantas seperti apa perkiraan kondisi di masa depan? Hal inisedkit banyak tercermin dari hasil KTT iklim PBB COP28 yang dihelat di Dubai awalDesember lalu.

Para pemimpin dunia mencapai kesepakatan yang secara eksplisit menyerukan negara-negara di duniauntuk mengurangi konsumsi bahan bakar fosil.

Meskipun belum mencapai tahap “penghentian” bahan bakar fosil, kesepakatan akhir ini memberikan terobosan baru.

Pasalnya, hal ini merupakan pertama kalinya teks COP menyebutkan peralihan dari minyak dan gas alam yang menyebabkan pemanasan global, bahan bakar yang telah mendukung pembangunan ekonomi global selama satu abad terakhir.

Baca: Dampak naiknya suhu air laut

Negara-negara peserta COP 28 juga sepakat untuk melipatgandakan kapasitas energi terbarukan dan melipatgandakan peningkatan efisiensi energi pada tahun 2030.

Meskipun para ahli masih mengatakan bahwa komitmen yang dibuat sejauh ini tidak cukup untuk menempatkan dunia pada jalur yang tepat untuk mencapai tujuan Paris.

Esti Utami, diterjemahkan dari earth.org

 

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *