Tag: sungai

  • Sungai dengan Kategori Cemar Berat di Jakarta Berkurang

    Sungai dengan Kategori Cemar Berat di Jakarta Berkurang

    7cloud.asia – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta menyampaikan, status mutu air sungai di Jakarta mengalami perubahan yang signifikan dalam dua tahun terakhir.

    Hasil identifikasi Indeks Pencemar (IP) menunjukkan bahwa sejumlah sungai yang semula masuk kategori cemar berat berkurang menjadi cemar sedang pada tahun 2024.

    Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Erni Pelita Fitratunnisa mengatakan, cemar berat mendominasi kondisi sungai di Jakarta pada tahun 2021 hingga 2023.

    Namun, pada tahun 2024 terjadi peningkatan kualitas air sungai menjadi cemar sedang. Secara keseluruhan, mutu air sungai Jakarta selama empat tahun terakhir masih dominan cemar berat pada 36 hingga 71 persen titik pemantauan.

    ”Ini menandakan perlunya intervensi pengelolaan limbah dan perbaikan tata kelola air limbah domestik dan industri,” ujar Erni, Jumat (18/7/2025) seperti dilansir beritajakarta.id

    Baca: Mayoritas sungai di Indonesia dalam kondisi tercemar

    Erni menyampaikan, penyebab sungai di Jakarta tercemar karena sebagian besar air limbah dari kegiatan mencuci, mandi dan limbah rumah tangga (greywater).

    Air cucian piring serta air bekas memasak langsung dibuang oleh warga ke saluran air tanpa adanya pengolahan terlebih dahulu. Tumpukan sampah di pinggir sungai juga menjadi sumber pencemar.

    Ia menilai, hal tersebut dilakukan karena masih banyak rumah di pemukiman padat dan kumuh belum memiliki sistem pengolahan limbah yang layak.

    “Seluruh limbah tersebut langsung dibuang, sehingga mencemari badan air,” ucapnya.

    Ia menjelaskan, bukan hanya dari kalangan permukiman padat penduduk, kondisi serupa pun terjadi di kegiatan usaha seperti pabrik tahu, laundry, peternakan, RPH, restoran dan bengkel yang belum memiliki sistem pengolahan limbah dengan baik.

    Baca: BRIN temukan kontaminasi bahan aktif obat di Sungai Citarum

    Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta juga akan berkoordinasi dengan instansi pembina baik SKPD/UKPD maupun lurah, camat dan Wali Kota setempat untuk membina pelaku usaha UMKM agar mengelola lingkungan dengan baik.

    “Beberapa pasar juga tidak memiliki sistem pengolahan limbah yang baik. Air buangan dari aktivitas jual beli seperti daging, sayuran, bahkan limbah organik langsung mengalir ke sungai dengan kandungan pencemar yang sangat tinggi,” katanya.

    Ia menekankan pentingnya setiap pelaku usaha terhubung dengan jaringan pengolahan air limbah terpadu. Upaya ini bisa mengurangi zat pencemar dalam air sehingga mencapai baku mutu yang aman untuk lingkungan.

    Erni menambahkan, pihaknya akan meningkatkan langkah penanganan dan pencegahan melalui pendekatan kolaboratif dan terintegrasi, seperti melakukan edukasi di kawasan padat penduduk dan kegiatan usaha.

    Termasuk melakukan penegakan hukum kepada pelaku usaha yang tidak mengelola limbahnya dengan baik.

    “Pemprov DKI Jakarta akan memperluas jaringan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) domestik melalui skema kerja sama lintas sektor, serta melakukan penertiban kegiatan usaha yang belum memiliki sistem pengolahan limbah,” tandasnya.

    Baca: Daerah Aliran Sungai Ciliwung dalam kondisi kritis

  • Hari Sungai Sedunia: Mayoritas Sungai di Indonesia dalam Kondisi Tercemar

    Hari Sungai Sedunia: Mayoritas Sungai di Indonesia dalam Kondisi Tercemar

    7cloud.asia – Pemantauan mutu air sungai yang dilakukan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) menemukan mayoritas sungai di Indonesia berada dalam kondisi tercemar,

    Hasil pemantauan mutu air oleh KLH pada semester I tahun 2025 di 4.480 lokasi pada 1.480 sungai menunjukkan bahwa 70,70 persen lokasi sungai pada kondisi tercemar sedang.

    “Hanya 29,3 persen sungai memiliki lokasi dengan baku mutu yang memadai, biasanya berada di hulu-hulu sungai,” kata Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) Hanif Faisol Nurofiq seperti dikutip Antaranews.com

    Selain itu, lima Daerah Aliran Sungai (DAS) prioritas yaitu Citarum, Ciliwung, Cisadane, Bengawan Solo dan Brantas juga memperlihatkan kecenderungan semakin tercemar di setiap segmennya.

    Baca: Indikator keberhasilan “Citarum Harum“ perlu diperjelas

    Berbicara di sela peringatan Hari Sungai Sedunia 2025 di Jakarta, Sabtu (27/9/2025) Hanif Nurofiq mengatakan, ada tiga provinsi yang seluruh titik pemantauannya berada dalam keadaan tercemar.

    Tiga provinsi yang seluruh titik pemantauannya berada dalam kondisi tercemar dengan berbagai tingkatan adalah DKI Jakarta, Kepulauan Riau dan Papua Selatan.

    DKI Jakarta bisa dibilang paling buruk, dengan kondisi air sungainya tercemar dan berbahaya untuk kesehatan manusia jika diminum.

    Dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 22 Tahun 2021 Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup dijelaskan bahwa pemerintah pusat dan daerah diwajibkan untuk menyusun Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Mutu Air sungai (RPPMA).

    Baca: Mungkinkah DAS Ciliwung dipulihkan kembali?

    Namun, sejauh ini baru tiga RPPMA yang dibuat untuk kawasan DAS prioritas, yaitu RPPMA Sungai Ciliwung (Jabar dan DKI Jakarta), RPPMA DAS Brantas (Jawa Timur), RPPMA Sungai Ayung (Bali)

    Untuk itu dia meminta perhatian khusus dari pemerintah daerah untuk melaksanakan penyusunan dokumen tersebut dalam bagian upaya membersihkan dan melindungi sungai-sungai di Indonesia yang berperan penting dalam kehidupan masyarakat.

    Dia mengingatkan bahwa lingkungan hidup yang bersih dan sehat merupakan hak setiap warga negara berdasarkan aturan perundang-undangan.

    “Ayo, kita kembalikan sungai bersih di seluruh tanah air kita,” ucap Menteri LH Hanif Faisol Nurofiq.

  • International Eco Jambore, Upaya KALIRA Ajak Masyarakat Menjaga Lingkungan

    International Eco Jambore, Upaya KALIRA Ajak Masyarakat Menjaga Lingkungan

    7cloud.asia – Berbagai upaya dilakukan Komunitas KALIRA untuk mengajak masyarakat peduli lingkungan. salah satunya dengan menggelar acara International Eco Jamboree pada 2–5 Desember 2025.

    Acara yang digelar dalam rangka memperingati Hari Tanah Dunia pada 5 Desember ini  bertujuan meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan.

    Tak hanya itu, acara yang akan berlangsung di Perpustakaan Nasional, Jakarta tersebut juga mengajak masyarakat, khususnya para pegiat lingkungan dan pecinta alam, untuk berpartisipasi aktif dalam pelestarian alam.

    Baca: Luas Hutan di Pulau Jawa Tinggal 15 Persen

    “Program ini bukan hanya kegiatan edukasi, tetapi juga inisiatif strategis untuk memperkuat budaya keberlanjutan di masyarakat,” jelas Rr. Kori Soenarko, koordinator Publicity International Eco Jamboree 2025.

    Lebih jauh, perempuan yang akrab disapa kak Oie ini berharap masyarakat dapat melihat bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari tanggung jawab bersama dan bisa dimulai dari langkah yang sederhana namun konsisten.

    Rencananya acara yang berlangsung selama empat hari ini melibatkan 500-an peserta termasuk perwakilan dari pegiat dan pecinta lingkungan, dan masyarakat umum.

    Baca: Pembakaran Plastik Jadi Sumber Utama Mikroplastik di Udara

    Selanjutnya kak Oie menjelaskan berbagai jenis kegiatan yang menginspirasi dan mendidik, seperti Eco Craft Display yang berlangsung pada 2 hingga 4 Desember 2025, Ruang Pameran Lt.4.

    Pameran ini menampilkan karya seni berbasis ramah lingkungan, mulai dari kerajinan tangan hingga kaligrafi dan lukisan. Para seniman dan peserta diharapkan dapat menunjukkan kreativitas mereka dalam menciptakan karya seni yang mencerminkan keberlanjutan dan kelestarian lingkungan.

    Selain itu, para peserta dapat mengikuti Eco Applicative Work Competition dengan mengajukan karya ilmiah aplikatif yang berfokus pada solusi praktis untuk masalah lingkungan. Kegiatan ini dilaksanakan pada 4 Desember di auditoriun Perpustakaan Nasional.

    Baca: Masalah Sampah Harus Ditangani dari Hulu ke Hilir

    Kegiatan lainnya adalah Eco Fashion yang menghadirkan koleksi busana berbahan ramah lingkungan.

    Kemudian para peserta diajak untuk mengikuti seminar yang membahas isu-isu global terkait lingkungan hidup seperti perubahan iklim, keberlanjutan dan inovasi lingkungan bersama para pakar lingkungan

    Di hari terakhir, 5 Desember, para peserta diajak bersih-bersih Sungai Cisadane bersama komunitas dan masyarakat setempat.

    “Harapan kami sederhana, melalui program ini semakin banyak pihak yang tidak hanya memahami isu lingkungan, tetapi juga tergerak untuk berkontribusi menjaga keberlanjutan bumi,” jelas kak Oie.

     

  • Riset BRIN Deteksi Obat Diabetes Cemari Sungai di Jakarta

    Riset BRIN Deteksi Obat Diabetes Cemari Sungai di Jakarta

    7cloud.asia – Perairan di Jakarta, baik sungai maupun pantai tak hanya tercemar sampah, tetapi juga mengandung limbah obat-obatan. Pada 2021 silam, riset penulis menemukan Teluk Jakarta terkontaminasi material acetaminophen atau parasetamol.

    Dalam penelitian terbaru, penulis kembali mendapati obat lain, yakni metformin terdeteksi di air sungai Jakarta untuk pertama kalinya. Metformin adalah obat diabetes yang paling umum diresepkan di dunia.

    Pada Juni 2022, penulis bersama tim peneliti dari BRIN, Laboratorium Kesehatan DKI Jakarta, serta dua universitas di Inggris menemukan metformin di tiga dari enam titik sampel di Sungai Angke.

    Temuan ini menambah daftar panjang pencemaran zat aktif farmasi di perairan dan sungai di Indonesia.

    Dari toilet ke sungai: Bagaimana metformin mencemari air?
    Metformin adalah obat untuk mengontrol kadar gula darah orang dengan diabetes tipe 2. Berbeda dengan obat kebanyakan, metformin tidak hancur diolah oleh tubuh manusia. Akibatnya, obat ini keluar hampir utuh melalui urine.

    Saat seseorang yang mengonsumsi metformin buang air kecil, obat tersebut langsung masuk ke sistem pembuangan rumah tangga.

     

    Masalahnya, di kota metropolitan seperti Jakarta, sebagian besar limbah dari toilet domestik berakhir di sungai tanpa diolah secara memadai.

    Sungai Angke sendiri, tempat ditemukannya metformin, menerima beban pencemaran dari berbagai sumber. Mulai dari limbah domestik yang tak diolah, limbah industri, hingga sampah padat.

    Kondisi inilah yang menciptakan jalur langsung bagi metformin dan zat farmasi lainnya untuk masuk ke ekosistem perairan.

    Analisis kualitas air di enam titik sampel yang kami lakukan menunjukkan tingkat pencemaran yang bervariasi antara 27 hingga 414 nanogram per liter (ng/L).

    Pencemaran air
    Kadar metformin yang terdeteksi di Sungai Angke, Jakarta. Koagouw et al (2024), CC BY
    Situs ketiga memiliki kadar metformin tertinggi. Ini ditandai dengan air yang lebih keruh, warna air yang pekat, dan kadar mangan (unsur logam) yang sangat tinggi.

    Kehadiran metformin di Sungai Angke tidak bisa dianggap sepele. Kadarnya memang tidak separah di negara lain, tapi juga tidak bisa dibilang aman.

    Baca: Mayoritas sungai di Indonesia dalam kondisi tercemar

    Studi ini menemukan bahwa konsentrasi terendah (27 ng/L) berada di persentil kelima data global, sementara konsentrasi tertinggi (414 ng/L) berada di persentil ke-40 dari kisaran global.

    Artinya, kadar terendah metformin di Sungai Angke lebih tinggi daripada 5 persen data sungai di dunia. Sementara, kadar tertingginya lebih tinggi daripada 40 persen data global, sehingga cukup mengkhawatirkan.

    Studi sebelumnya di berbagai belahan dunia sudah membuktikan bahwa metformin berdampak negatif terhadap organisme air, bahkan pada kadar rendah sekitar 100 ng/L saja sudah bisa memicu efek biologis.

    Misalnya pada kerang biru (Mytilus edulis), paparan metformin dapat memicu gangguan reproduksi dan kerusakan jaringan tubuh.

    Sedangkan pada ikan, metformin dapat menghambat perkembangan embrio, pertumbuhan, metabolisme, dan sistem reproduksi.

    Baca: Upaya Komunitas Tumbuh Pohon Nusantara merawat Sungai Angke

    Yang lebih mengkhawatirkan, metformin sulit terurai secara alami. Tanpa degradasi yang sempurna, senyawa kimia ini dan produk turunannya (guanylurea) bisa dengan mudah terakumulasi dan masuk kembali ke dalam rantai makanan.

    Air sungai yang tercemar juga berpotensi digunakan untuk irigasi pertanian atau perikanan. Ujungnya, metformin bisa kembali masuk ke tubuh manusia lewat air minum, ikan, atau sayuran yang menggunakan air tercemar.

    Paparan jangka panjang terhadap residu obat ini bisa menimbulkan resiko serius bagi kesehatan manusia, meskipun dampak pastinya masih terus diteliti.

    Pemerintah memang sudah mengatur standar baku mutu air sungai atau limbah. Namun, obat-obatan farmasi seperti metformin ini belum termasuk dalam daftar resmi zat berbahaya yang diatur dalam regulasi.

    Regulasi seperti apa dan apa yang harus dilakukan akan diulas dalam tulisan selanjutnya.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: Wulan Koagouw (Senior Researcher, Badan Riset dan Inovasi Nasional/BRIN)

  • China Siap Membagi Pengetahuan Pengelolaan Air dan Sungai dengan Masyarakat Dunia

    China Siap Membagi Pengetahuan Pengelolaan Air dan Sungai dengan Masyarakat Dunia

    7cloud.asia – China menyatakan siap berbagi keahlian dalam tata kelola sungai dengan masyarakat dunia, kata sebuah laporan yang dirilis baru-baru ini.

    Laporan berjudul “Harnessing Rivers for National Prosperity, Public Wellbeing — A Study on the New Era River Strategy“, dirilis oleh Wadah Pemikir Tingkat Tinggi Nasional Kantor Berita Xinhua bersama Institut Penelitian Sumber Daya Air dan Tenaga Air China.

    Populasi perkotaan yang menghadapi kekurangan air di Bumi diproyeksikan akan meningkat dari 930 juta jiwa pada 2016 menjadi antara 1,7 miliar hingga 2,4 miliar jiwa pada 2050.

    Seiring dengan percepatan perubahan iklim, ketahanan air global menghadapi tekanan yang semakin besar, dan tata kelola sungai menjadi tantangan yang semakin berat, menurut laporan tersebut.

    Dalam beberapa tahun terakhir, China telah mengumpulkan pengalaman yang luas dalam proyek-proyek besar, metode inovatif, dan pengelolaan air berbasis masyarakat.

    China telah memberikan pelatihan daring dan luring bagi hampir 4.000 profesional di bidang air dan pejabat pemerintah dari 112 negara.

    China juga telah mendirikan lima pusat transfer teknologi dan pengembangan kapasitas di Pakistan, Ethiopia, Indonesia, Serbia, dan Senegal.

    China juga telah melaksanakan kerja sama ekstensif dengan sejumlah badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di bidang sumber daya air, berbagi kemajuan dalam penelitian ilmu air global.

    Beijing juga siap bekerja sama dengan negara dan kawasan di seluruh dunia untuk mengatasi tantangan terkait masalah air yang semakin meningkat.

    China akan memberikan kontribusi yang lebih besar lagi untuk meningkatkan tata kelola air global dan memenuhi target-target terkait air dari Agenda Pembangunan Berkelanjutan 2030 PBB.

    Beijing juga siap membantu seluruh dunia mencapai visi baru tentang keselarasan antara manusia dan air, kata laporan itu.

    Sumber: Antaranews.com/Xinhua

  • Pemprov DKI Intensifkan Pengerukan Sungai dan Pengendalian Ikan Sapu-Sapu

    Pemprov DKI Intensifkan Pengerukan Sungai dan Pengendalian Ikan Sapu-Sapu

    7cloud.asia – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta akan mengintensifkan pengerukan sedimen dan pembersihan aliran sungai secara serentak di lima wilayah kota administrasi Jakarta pada Jumat (17/4/2026).

    Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung menyampaikan, upaya ini sekaligus untuk mengendalikan populasi ikan sapu-sapu yang makin mendominasi ekosistem sungai di Jakarta.

    “Kami sudah memutuskan dalam rapat tadi, di lima daerah kita akan adakan kegiatan untuk mengurangi ikan sapu-sapu tapi tidak semata-mata untuk ikan sapu-sapu tetapi kita juga mengangkut sedimen, kemudian memperbaiki saluran air,” ujar Pramono, di Balai Kota DKI Jakarta, Rabu (15/4/2026).

    Keberadaan ikan sapu-sapu (Hypostomus plecostomus) ini dinilai telah mengancam ekosistem lingkungan di aliran sungai karena menjadi predator bagi ikan-ikan lokal.

    Tak hanya itu, perilaku ikan sapu-sapu yang membuat lubang untuk sarang juga telah menyebabkan kerusakan tanggul-tanggul sungai di Jakarta. Pramono menyebut, ikan invasif ini sangat kuat karena bisa bertahan di berbagai kondisi lingkungan dan cuaca.

    Karena itu, kegiatan pengerukan sedimen aliran sungai sekaligus pengendalian pertumbuhan ikan sapu-sapu ini dilakukan untuk menjaga ekosistem lingkungan di sekitar aliran sungai.

    Baca: KLH percepat rehabilitasi hulu Sungai Ciliwung

    Selain itu, ikan ini tidak sehat jika dikonsumsi karena memiliki kandungan berbahaya.
    Dari hasil lab, hampir semua ikan yang dites di laboratorium kadar batasnya itu kan 0,3 miligram.

    “Ikan sapu-sapu lebih dari itu, sehingga akan sangat berbahaya kalau dikonsumsi, ada timbalnya, ada macam-macamnya dan itu benar-benar berbahaya bagi manusia kalau dikonsumsi,” jelas Pramono.

    Sebelumnya, pada Kamis (16/4/2026) puluhan personel gabungan dari tingkat kelurahan hingga Kecamatan Tanjung Priok, Jakarta Utara, menggelar aksi penangkapan ikan sapu-sapu di Kali Sunter, Jalan Agung Perkasa.

    Camat Tanjung Priok, Samsul Rizal Khadafi mengatakan, pengendalian populasi ikan sapu-sapu dilakukan secara masif di berbagai badan air, mulai dari sungai, kanal, hingga danau.

    Menurutnya, populasi ikan sapu-sapu saat ini telah mendominasi dan mengancam keseimbangan lingkungan perairan.

    “Keberadaan ikan sapu-sapu tidak hanya merusak ekosistem, tetapi juga mengganggu struktur tanggul serta berpotensi membahayakan kesehatan apabila dikonsumsi,” ujarnya, Kamis (16/4/2026).

    Baca: Setelah sempat terhenti, normalisasi Sungai Ciliwung kembali dilanjutkan

    Samsul mengimbau masyarakat untuk tidak mengonsumsi, memperjualbelikan, maupun melepasliarkan ikan sapu-sapu ke perairan umum.

    “Saya minta warga untuk berperan aktif dalam menjaga kebersihan sungai dan mendukung pengendalian populasi ikan sapu-sapu ini,” terangnya.

    Sementara itu, Lurah Sunter Jaya Eka Persilian Yeluma menambahkan, kegiatan tersebut melibatkan berbagai unsur, mulai dari Aparatur Sipil Negara (ASN), petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU), pengelola RPTRA, Karang Taruna, hingga pengurus RT/RW dan lintas sektor lainnya.

    Menurutnya, kegiatan dilakukan secara terbuka dengan melibatkan partisipasi warga sebagai sarana edukasi sekaligus meningkatkan kesadaran kolektif terhadap pentingnya menjaga ekosistem perairan.

    “Total hasil tangkapan ikan sapu-sapu mencapai lebih dari 30 kilogram,” bebernya.

    Eka menuturkan, kegiatan serupa akan dilakukan secara berkala untuk menjaga kualitas lingkungan perairan. Kolaborasi antara aparatur dan masyarakat akan terus diperkuat agar perairan di Jakarta semakin bersih, sehat, dan berkelanjutan.

    “Semoga upaya ini memberikan dampak nyata terhadap pemulihan ekosistem perairan, khususnya di Jakarta Utara,” tandasnya.

    Baca: Mengenal mikroalga berpotensi menjadi sumber pangan dunia

  • Ratusan Kilogram Ikan Sapu-sapu Ditangkap dalam Gerakan Pembersihan di 13 Sungai di Jakarta

    Ratusan Kilogram Ikan Sapu-sapu Ditangkap dalam Gerakan Pembersihan di 13 Sungai di Jakarta

    7cloud.asia – Ratusan ekor ikan sapu-sapu berhasil ditangkap secara serentak yang digelar di 13 aliran sungai di Jakarta pada Jumat (17/4/2026).

    Di Jakarta Pusat, penangkapan ikan sapu-sapu dilaksanakan oleh petugas gabungan terdiri dari PPSU, Gulkarmat, Lingkungan Hidup, Sudin SDA dan KPKP Jakarta Pusat.

    Wali Kota Jakarta Pusat, Arifin mengatakan, pihaknya menggelar penangkapan ikan sapu sapu secara serentak di tujuh titik saluran atau kali/sungai serta embung sesuai arahan Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung.

    “Penangkapan ikan sapu – sapu digencarkan untuk mengurangi populasi yang saat ini menguasai kali atau sungai di Jakarta. Populasi ikan sapu-sapu sangat invasif dan predator sehingga jenis ikan lainnya yang hidup semakin sedikit,” ujarnya.

    Arifin mengungkapkan, pihaknya mencanangkan penangkapan ikan sapu-sapu dilaksanakan setiap hari Jumat di delapan kecamatan se Jakpus.

    “Penangkapan tidak sekadar ikan sapu-sapu berukuran besar, tapi juga membersihkan telor yang menempel di dinding dan sarang juga menjadi target sehingga bisa mengembalikan habitat ikan lokal di perairan Jakarta Pusat,” ungkapnya.

    Baca: Pemprov DKI Intensifkan Pengerukan Sungai dan Pengendalian Ikan Sapu-Sapu

     

    Arifin menjelaskan, ikan sapu-sapu yang berhasil ditangkap akan dipatahkan sebelum dikubur agar tidak ada yang memanfaatkannya.

    “Saya juga mengajak warga dan pemerhati bersama membersihkan ikan sapu sapu di saluran, kali atau sungai di Jakarta Pusat,” jelasnya.

    Sementara itu, Kasudin Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian Jakarta Pusat, Siti Halimah menambahkan, hasil penangkapan ikan sapu sapu yang dilaksanakan serentak di tujuh lokasi sebanyak 578 ekor berukuran besar dan kecil.

    “Penangkapan gencar dilakukan di Jakarta sesuai hasil penelitian Dinas KPKP DKI bahwasanya ikan sapu sapu yang marak di perairan Jakarta ini mengandung e-coli dan merkuri yang berbahaya bagi kesehatan jika dikonsumsi oleh masyarakat,” tandasnya.

    Di Jakarta Timur, Walikota Munjirin memimpin langsung upaya pengendalian kan sapu-sapu di Kali Ciliwung, kawasan Cililitan, Kecamatan Kramat Jati.

    Baca: KLH Percepat Rehabilitasi Sungai Ciliwung

    Berpusat di Dermaga Agro Edu Wisata Ciliwung, Munjirin turun ke lapangan bersama jajaran pejabat, termasuk Asisten Perekonomian dan Pembangunan Fauzi, Kepala Sudin Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (KPKP) Taufik Yulianto.

    Para camat, lurah, dan unsur terkait lainnya turut hadir dalam kegiatan tersebut bersama 150 personel gabungan terdiri dari unsur Suku Dinas KPKP, SDA, Satpol PP, BPBD, Perhubungan, Gulkarmat, dan unit terkait lainnya.

    Dua perahu dikerahkan dalam operasi ini dengan pengamanan dari satu perahu karet berisi personel Sudin Gulkarmat. Meski arus Kali Ciliwung cukup deras, proses penangkapan tetap berlangsung lancar.

    Munjirin menjeladkan, dari lokasi Agro Edu Wisata Ciliwung saja, sekitar 200 kilogram ikan sapu-sapu berhasil diangkat. Sementara, hasil dari titik lain masih dalam proses pendataan karena operasi masih berlangsung.

    Ia memastikan, operasi serupa akan terus dilakukan secara rutin ke depan, bahkan dengan melibatkan berbagai pihak serta mendorong partisipasi warga.

    “Upaya ini penting untuk menjaga kesehatan warga serta memastikan ekosistem lingkungan terjaga,” tandasnya.

  • Studi: Kadar Oksigen Terlarut di 80 Persen Sungai di Dunia Merosot Tajam Sehingga Mengancam Kelestarian Lingkungan

    Studi: Kadar Oksigen Terlarut di 80 Persen Sungai di Dunia Merosot Tajam Sehingga Mengancam Kelestarian Lingkungan

    7cloud.asia – Kadar oksigen terlarut di hampir 80 persen sungai di seluruh dunia, dilaporkan menurun signifikan dan sungai-sungai tersebut akan terus kehilangan sumber daya berharga ini kecuali dilakukan perubahan serius.

    Demikian hasil studi dari tim di Akademi Ilmu Pengetahuan China, yang dipimpin oleh ilmuwan lingkungan Qi Guan yang telah diterbitkan di Science Advances.

    Data satelit dan iklim yang dikumpulkan antara tahun 1985 dan 2023 mengungkapkan bahwa lebih dari 16.000 sungai di seluruh dunia telah kehilangan kadar oksigennya.

    Rata-rata, sungai-sungai ini kehilangan 0,045 miligram oksigen per liter setiap dekade (10 tahun).

    Tanpa oksigen terlarut yang cukup yang penting untuk menopang kehidupan di bawah air, sungai – dan komunitas yang bergantung pada air dan sumber dayanya – berada dalam ancaman serius.

    Dilansir di sciencealert.com, tim tersebut mengumpulkan data dari 3,4 juta citra satelit selama empat dekade terakhir untuk mendeteksi pola oksigen terlarut di sungai-sungai di seluruh dunia dan memprediksi masa depan mereka di bawah berbagai skenario iklim.

    Pada akhir abad ini, dengan asumsi emisi karbon dioksida terus meningkat pada tingkat yang sama (berbeda dengan beberapa skenario terburuk), sungai-sungai di sebagian besar Amerika Selatan, India, Arktik, dan Amerika Serikat bagian Timur diperkirakan akan kehilangan sekitar 10 persen oksigen terlarutnya.

    Pergeseran paling parah sejauh ini terjadi di sungai-sungai tropis, seperti Sungai Gangga di India dan Sungai Amazon di Amerika Selatan. Sungai Gangga khususnya kehilangan oksigen 20 kali lebih cepat daripada rata-rata global.

    Para ilmuwan tidak memperkirakan hal ini akan terjadi. Sebelumnya, mereka berasumsi bahwa sungai-sungai di lintang tinggi akan mengalami deoksigenasi terburuk karena wilayah-wilayah ini merupakan titik panas perubahan iklim.

    Namun, sungai-sungai tropis memiliki kelemahan sejak awal: Karena airnya sudah lebih hangat, sehingga kadar oksigen terlarutnya sudah lebih rendah.

    Ini berarti, sungai-sungai tersebut sudah lebih dekat dengan kondisi hipoksia (kekurangan oksigen untuk menopang sebagian besar kehidupan).

    Guan dan timnya menemukan banyak faktor yang berkontribusi terhadap deoksigenasi sungai global, tetapi tidak ada yang lebih berpengaruh daripada perubahan iklim.

    Perubahan iklim yang didorong oleh aktivitas manusia mengurangi kelarutan oksigen (kemampuan suatu badan air untuk menahan oksigen terlarut). Menurut studi baru ini, kelarutan oksigen menyumbang sekitar 63 persen dari deoksigenasi sungai global.

    Suhu air kemungkinan besar mendorong perubahan kelarutan oksigen ini. Air yang lebih hangat menahan lebih sedikit oksigen terlarut karena molekul oksigen dan air menerima lebih banyak energi dalam bentuk panas.

    Oksigen terlarut sangat berbeda dari atom oksigen yang berpasangan dengan hidrogen untuk membentuk air. Oksigen terlarut adalah yang dibutuhkan kehidupan akuatik untuk ‘bernapas’: itu berlaku untuk hewan, tumbuhan, plankton, bakteri, dan apa pun yang hidup di bawah air.

    Namun, ikatan yang menjaga gas oksigen tetap terlarut dalam air relatif lemah. Sedikit perubahan suhu saja sudah cukup untuk memutus ikatan tersebut, sehingga oksigen dapat keluar.

    Spesies akuatik sangat beragam dalam hal kebutuhan oksigen terlarut untuk bertahan hidup. Namun, perubahan sebesar 0,1 miligram per liter air sungai – yang kira-kira sama dengan jumlah oksigen yang hilang, rata-rata, selama empat dekade terakhir – sudah cukup untuk menyebabkan perubahan serius pada ekosistem sungai.

    Kehidupan akuatik dapat menambah kadar oksigen terlarut melalui fotosintesis, itulah sebabnya tumbuhan bawah air menjaga kesehatan perairan.

    Oksigen dari atmosfer juga dapat larut dalam air melalui gaya fisik, seperti arus deras sungai yang bergelembung atau aerator yang digunakan di kolam buatan manusia.

    Itulah mengapa, di banyak sungai yang termasuk dalam penelitian ini, bendungan di perairan dangkal dan gelombang panas telah berkontribusi pada penurunan kadar oksigen terlarut.

    Aliran air yang berkurang berarti lebih sedikit oksigen yang masuk ke dalam air dari udara; gelombang panas pada dasarnya memeras oksigen keluar dari sungai.

    Komposisi air juga memiliki dampak besar pada kadar oksigen terlarut yang dapat ditampung oleh sebuah sungai.

    Aktivitas manusia mengubah komposisi air di kedua ujungnya, dengan mengurangi jumlah air di sungai, dan menambah beban zat terlarut dalam air, seperti garam, nutrisi, dan bahan organik (yang selanjutnya mengurangi kelarutan oksigen).

    Karena kehidupan akuatik bergantung pada oksigen terlarut untuk bertahan hidup, bahkan penurunan kecil pada kadar oksigen dapat dengan cepat menyebabkan kematian massal.

    Setelah itu terjadi, sungai yang penuh dengan ikan dan alga mati dengan cepat menggunakan oksigen terlarut yang tersisa karena bakteri mulai bekerja menguraikan bahan organik yang tertinggal.

    Dengan meningkatnya laju deoksigenasi sungai di seluruh dunia, zona mati seperti ini mungkin akan menjadi lebih umum.

    “Deoksigenasi adalah proses yang sangat lambat. Jika kita memiliki periode yang panjang, dampak negatifnya akan menyerang ekosistem sungai,” kata Guan kepada Seth Borenstein di Associated Press.

    “Rendahnya kadar oksigen dapat menyebabkan serangkaian krisis ekologi seperti penurunan keanekaragaman hayati [dan] degradasi kualitas air.”

    Skenario tersebut jauh lebih mungkin terjadi jika sungai kehilangan tambahan 4 atau 5 persen oksigen terlarutnya: jumlah yang sama dengan yang diperkirakan akan hilang dalam tujuh dekade mendatang, kecuali jika umat manusia mengambil tindakan mendesak untuk mencegah emisi bahan bakar fosil lebih lanjut.

    “Memahami perubahan ini secara sistematis sangat penting untuk meningkatkan ketahanan ekosistem sungai terhadap risiko deoksigenasi berkelanjutan melalui langkah-langkah dan strategi yang tepat sasaran, dan membantu mencapai pengelolaan berkelanjutan di sungai-sungai global,” demikian kesimpulan Guan dan timnya.