Tag: sungai

  • Ekowisata di Sepanjang Aliran Sungai Ciliwung, Jalan-jalan Sambil Merawat Lingkungan

    Ekowisata di Sepanjang Aliran Sungai Ciliwung, Jalan-jalan Sambil Merawat Lingkungan

    7cloud.asia – Gerakan Ciliwung Bersih yang didukung oleh 36 Komunitas Peduli Ciliwung dan sejumlah perusahaan meluncurkan kawasan ekowisata dan eduwisata lingkungan di sepanjang aliran Sungai Ciliwung.

    Kawasan ekowisata dan eduwisata lingkungan yang diluncurkan berasal dari berbagai daerah yang dialiri oleh Sungai Ciliwung baik di Bogor, Depok maupun Jakarta.

    Kawasan ekowisata lingkungan ini mulai dari Puncak, Bogor, Depok, Lenteng Agung, Pejaten, Condet dan Kantor Gerakan Ciliwung Bersih (GCB) di Penjernihan, Jakarta Pusat.

    “Seiring dengan mutu air Sungai Ciliwung yang mulai membaik hingga ke level 2, kami akhirnya memberanikan diri membuka ekowisata dan eduwisata lingkungan di sepanjang Sungai Ciliwung,” kata Ketua Gerakan Ciliwung Bersih Peni Susanti
    pada Peringatan Hari Ciliwung di Penjernihan, Jakarta Pusat beberapa waktu lalu.

    Baca: 8 spot wisata alam yang mudah diakses dari Jakarta

    Peni menjelaskan, dengan dibukanya ekowisata dan eduwisata di Sungai Ciliwung akan menambah pilihan wisata untuk warga Jakarta.

    Di eduwisata Ciliwung ini masyarakat umum sampai pelajar dapat berwisata sambil mempelajari seluk-beluk, sejarah serta upaya pelestarian sungai sepanjang 120 kilometer tersebut.

    Peni mengungkapkan bahwa saat GCB berdiri pada 1989, kualitas air Sungai Ciliwung pada saat itu sangat tercemar.

    Dengan upaya dari Komunitas Peduli Ciliwung (KPC) dan perusahaan, seperti seperti Indofood, Indonesia Power, PLN dan PAM Jaya, mutu air Sungai Ciliwung berangsur membaik.

    Baca: Ini caranya wisata ramah lingkungan

    Saat ini mutu air Sungai Ciliwung  mencapai tingkat dua atau sudah layak sebagai bahan baku air minum.

    Sebagai tujuan ekowisata dan eduwisata, ada beberapa titik lokasi wisata yang bisa dikunjungi masyarakat.

    Mulai dari Kantor Sekretariat GCB yang terletak di Jln Penjernihan, Karet Bivak, masyarakat bisa mempelajari sejarah Sungai Ciliwung di Galeri Sungai Ciliwung.

    Warga juga bisa mempelajari pemilahan dan pengolahan sampah sungai dengan TOSS (Teknologi Olah Sampah Sungai) melalui metode peyeumisasi, susur sungai.

    Baca: Mengintip pilihan penganut slow living saat berwisata

    Selain itu warga juga bisa memanen hasil hidroponik ventikultur sambil menikmati kopi di kedai pinggir Sungai Ciliwung.

    Ketua KPC Pejaten H Royani mengungkapkan, di Sekolah Sungai KPC Pejaten, masyarakat bisa melihat hewan purba endemik dan langka

    Binatang itu adalah Senggawangan atau bulus raksasa (Chitra Chitra javanensis) yang memiliki berat 300 kilogram (kg) yang ditemukan pada 11 November 2011.

    “Tidak hanya itu para pengunjung juga dapat mempelajari budaya masyarakat sepanjang Sungai Ciliwung sekaligus menikmati makanan dan minuman khas Betawi seperti dodol dan bir pletok,” kata Royani.

    Baca: Ke Papua Barat nggak cuma ada Raja Ampat

    Ketua KPC Lenteng Agung, Sarmili mengatakan, masyarakat dapat melakukan kegiatan susur sungai Ciliwung dengan suasana taman.

    Sehingga para pengunjung dari titik awal hingga akhir dapat menikmati pemandangan taman-taman yang bagus dan indah.

    “Mereka juga bisa belajar tentang kerajinan tangan dan berbagai produk inovatif seperti ‘eco print’ dan produk kreatif lainnya di ekowisata Ciliwung ini,” kata Sarmili.

    Sumber: Antaranews.com

     

     

     

  • Aksi Bebersih Kali dan Sungai di Tangerang Sukses Angkut 3,5 Ton Sampah dari Sungai Ledug

    Aksi Bebersih Kali dan Sungai di Tangerang Sukses Angkut 3,5 Ton Sampah dari Sungai Ledug

    7cloud.asia – Pemerintah kota atau Pemkot Tangerang bersama dengan komunitas Bank Sampah Sungai Cisadane (Banksasuci) menyelenggarakan kegiatan Bebersih Kali dan Sungai.

    Aksi Bebersih Kali dan Sungai dilakukan pada Jumat (19/1/2024) ini sebagai bentuk kepedulian terhadap kebersihan lingkungan.

    Penjabat (Pj) Wali Kota Tangerang Nurdin di Tangerang mengatakan kegiatan Bebersih Sungai dan Kali yang dilakukan bersama dengan komunitas menjadi upaya untuk memberikan edukasi kepada masyarakat melalui aksi nyata.

    Baca: Mengenal sistem RDF yang mampu mengolah sampah menjadi sumber energi terbarukan

    Lewat aksi ini masyarakat diajak untuk lebih bertanggung jawab atas sampah yang dihasilkannya dan tidak lagi membuang sampah ke saluran air ataupun sungai.

    “Upaya yang bisa dilakukan adalah membiasakan warga untuk tertib membuang sampah, agar meminimalisir potensi terjadinya genangan karena saluran air yang terhambat,” kata Pj Wali Kota Nurdin dalam kegiatan yang berlangsung di Sungai Ledug, Kecamatan Periuk.

    Nurdin juga menyebutkan jika Pemkot Tangerang terus mendorong masyarakat untuk mengurangi produksi sampah dari sumbernya, yakni rumah tangga.

    Baca: Lebih murah, Pemprov DKI Jakarta lebih memilih RDF ketimbang ITF

    Pengurangan sampah ini dilakukan dengan pendampingan dari komunitas yang ada di masing-masing RW. Selain memilah sampah, warga juga diminta untuk mengolah sampah yang dihasilkannya.

    Komposing adalah salah satu langkah yang bisa dihasilkan untuk mengurangi sampah.

    “Untuk RW yang telah melakukan pengelolaan sampah dengan baik akan menjadi role model bagi wilayah lain,” ujarnya.

    Baca: Sampah makanan bisa picu masalah serius untuk lingkungan

    Ia menjelaskan berbagai upaya teknis telah dilakukan oleh Pemkot Tangerang untuk meminimalisir banjir dan genangan di Kota Tangerang.

    Namun upaya ini tidak akan optimal jika masyarakat tidak peduli akan pentingnya menjaga lingkungan.

    “Dimulai dari pilah sampah di tingkat rumah tangga, untuk mengurangi volume sampah yang masuk ke tempat pembuangan akhir (TPA) sampah dan tentunya juga atas peran para komunitas,” katanya.

    Baca : Bantuan kapal pembersih sampah dari Coldplay

    Sumber: Antaranews.com

  • Sungai Bengawan Solo Tercemar, DLH Sukoharjo Surati Pengusaha

    Sungai Bengawan Solo Tercemar, DLH Sukoharjo Surati Pengusaha

    7cloud.asia – Sungai Bengawan Solo kembali tercemar. Kali pencemarannya akibat limbah ciu yang diduga dibuang oleh pengusaha industri etanol. Akibatnya air keruh, bau dan ikan-ikan mati.

    Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, menyurati pengusaha industri etanol di Kecamatan Polokarto dan Mojolaban.

    Surat itu menerangkan regulasi pembuangan limbah sebagaimana diatur dalam Pasal 20 ayat 3 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

    Menurut kepala DLH Sukoharjo, Agus Suprapto, pihaknya juga telah melakukan pengecekan langsung Sungai Bengawan Solo.

    “Dari hasil pengecekan oleh petugas, didapati bladu (ikan muncul di permukaan air) ini muncul karena tercemar limbah ciu. Pembuatan ciu tersebut berada di Polokarto perbatasan sungai dengan Kecamatan Grogol,” jelas Agus seperti yang dilansir CNN Indonesia.

    Baca: Sungai Bengawan Solo tercemar

    Selain itu pihaknya juga melakukan koordinasi dengan kades-kades di Kecamatan Polokarto dan Mojolaban serta melayangkan surat yang sama untuk pengusaha industri etanol dan alkohol .

    Lebih lanjut Agus menjelaskan ada tiga poin yang diterangkan dalam surat tersebut. Pertama mengolah air limbah yang dihasilkan sehingga memenuhi baku mutu.

    Kedua, tidak membuang air limbah ke badan air permukaan dan/atau media lingkungan hidup lainnya sebelum memenuhi baku mutu. Ketiga,  ancaman sanksinya.

    “Apabila melanggar, dapat dikenakan sanksi berupa sanksi administratif dan pidana sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” kata Agus.

    Meski terjadi pencemaran air akibat limbah ciu, namun pencemaran ini masih belum menggganggu kualitas air yang diproduksi PDAM Toya Wening Solo.

    Baca: Limbah pabrik cokelat mencemari aliran irigasi

    Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID) PDAM Solo, Bayu Tunggul menjelaskan debit air di Sungai Bengawan Solo saat ini masih cukup besar.

    Sehingga antara polusi dan air yang ada di Bengawan Solo masih bisa dinetralisir. “Walaupun terhadap biota sungai sudah berpengaruh, tapi kita masih bisa mengolah dan hasil olahan sesuai dengan batu muku Kementerian Kesehatan,” terang Bayu.

    Meski saat ini belum terpengaruh, namun Bayu khawatir jika kondisi tersebut masih tetap terjadi saat musim kemarau.

    Sebab, beberapa tahun belakangan PDAM sempat menghentikan produksi air bersih akibat limbah ciu muncul saat debit air mengecil akibat kemarau.

    Karena itu, lanjut Bayu, pihaknya telah berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait mulai dari hulu hingga hilir. Serta berkoordinasi dengan pemerintah daerah setempat.

    Reporter: Nurakhamayani

  • Sungai Ngarai Sianok Meluap, 7 Rumah Rusak Berat Diterjang Banjir

    Sungai Ngarai Sianok Meluap, 7 Rumah Rusak Berat Diterjang Banjir

    7cloud.asia – Banjir melanda pemukiman warga yang berada disekitar sungai Ngarai Sianok, Bukittinggi, Sumatera Barat pada Senin (03/06/2024) sore.

    Banjir ini akibat curah hujan yang tinggi di kawasan hulu sungai Ngarai Sianok. Sebanyak 7 rumah rusak berat dan hanyut akibat meluapnya Sungai Ngarai Sianok hanya dalam waktu 15 menit.

    Salah seorang warga terdampak, Ilham (31) mengungkapkan Sungai Ngarai Sianok memang kerap meluap. Namun kali ini yang terparah.

    Apalagi posisi rumahnya berada di dataran terendah di bibir Sungai Sianok. Hal ini membuat rumahnya rusak parah.

    Baca: Korban akibat banjir bandang di Sumatra Barat bertambah hingga menjadi 37 orang

    “Air tadi bahkan sampai setinggi dada saya, keluarga memang sudah mengungsi. Ini kejadian ketiga sejak akhir April 2024 lalu,” ungkapnya seperti yang dilansir Antaranews.

    Sementara itu Komandan Kodim (Dandim) 0304/ Agam, Letkol Arm Bayu Ardhitya menjelaskan luapan ini berasal dari aliran pertengahan Sungai di Ngarai Sianok bagian Koto Gadang.

    Dia memperkirakan terjadi ada sumbatan kemudian jebol dan meluap tiba-tiba ke bawah.

    Pihaknya bersama Kapolresta Bukittinggi dan pemerintah daerah setempat menegaskan larangan tinggal sementara di wilayah aliran Sungai Sianok.

    “Ini Buffer Zone atau wilayah penyangga. Diminta warga menjauhi kiri kanan 50 meter dari sungai. Tidak layak menjadi tempat tinggal, arus masih kencang,” jelas Bayu.

    Baca: Cegah banjir bandang susulan, BMKG lakukan modifkasi cuaca

    Pemerintah Kota Bukittinggi, Sumatera Barat (Sumbar) segera mencarikan solusi terkait musibah banjir aliran Sungai Ngarai Sianok yang telah terjadi beberapa kali.

    “Kami akan meminta kajian Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) jika dari Pemerintah Provinsi Sumatera Barat tidak ada solusi, kami akan minta ke pusat,” jelas Wakil Wali Kota Bukittinggi, Marfendi saat meninjau lokasi bencana.

    Marfendi mengungkapkan kejadian ini sudah ketiga kalinya yang memang lebih besar dampaknya saat ini.

    Menurutnya warga sudah diminta waspada dengan sebagian mengungsi ke rumah kerabatnya di daerah aman.

    Baca: Banjir lahar dingin di Gunung Marapi

    “Kejadian tadi tanpa adanya hujan, tiba-tiba saja. Nantinya BKSDA kami minta bekerjasama mengecek titik aliran yang jebol. Normalisasi sungai diperlukan agar kejadian tidak berulang,” katanya.

    Pemkot Bukittinggi memastikan tidak ada korban jiwa yang timbul dari kejadian yang mirip dengan musibah banjir bandang di Kabupaten Agam.

    “Tidak ada korban jiwa karena di kejadian serupa pada akhir April lalu sudah dilarang adanya aktivitas jual beli di bibir sungai,” katanya.

  • Mengenal Lebih Dekat Kali Angke dan Banjir di Jakarta Barat

    Mengenal Lebih Dekat Kali Angke dan Banjir di Jakarta Barat

    7cloud.asia – Meluapnya Kali Angke mengakibatkan sejumlah wilayah di Jakarta tergenang banjir sejak Sabtu (6/7/2024).

    Hingga Minggu (7/7/2024) pagi setidaknya 4 rukun tetangga (RT) di pinggiran Kali angke masih tergenang banjir dengan ketinggian air antara 30 hingga 60 centimeter.

    Wilayah yang masih tergenang tersebut antara lain Kelurahan Kedaung Kaliangke, terdapat 3 RT yang masih tergenang dengan ketinggian 30 centimeter, dan Kelurahan Rawa Buaya terdapat 1 RT yang tergenang dengan ketinggian 60 centimeter.

    Daerah di sepanjang Kali Angke seperti Pinang, Cipondoh, Ciledug, Joglo, Kembangan, Rawa Buaya, Duri Kosambi, dan Cengkareng memang sudah lama dikenal sebagai daerah langganan banjir.

    Namun demikian, dibanding sungai lain yang memicu banjir di Jakarta, Kali Angke memang relatif kurang dikenal.

    Baca Juga: Tunas: Upaya Komunitas Tumbuh Pohon Nusantara Merawat Kali Angke

    Padahal sungai yang berhulu di Kabupaten Bogor, Jawa Barat ini juga memegang peran penting bagi kehidupan dan perjalanan sejarah Kota Jakarta.

    Dalam tulisan ini, 7cloud.asia ingin mengajak para pembaca untuk mengenal lebih dekat Kali Angke.

    Kali Angke atau Cikeumeuh adalah nama sebuah sungai di Jakarta, Indonesia. Dilansir di wikipedia.com, ada dua pendapat yang menyebt asal Kali Angke.

    Pendapat pertama menyebut Nama Kali Angke diberikan setelah terjadinya peristiwa pembantaian etnis Tionghoa selama tiga hari oleh VOC di Batavia pada tanggal 9 Oktober 1740.

    Dikatakan demikian, karena warna air sungai ini berubah menjadi merah oleh darah etnis Tionghoa. Sejak itu namanya berubah menjadi Kali Angke.

    Baca Juga: Puluhan Remaja Ramaikan Aksi Rehabilitasi Kali Angke yang Dihelat Komunitas Tunas

    Kali adalah pengganti kata sungai. Sedangkan angke disebut berasal dari dialek Hokkian, yang berarti merah.

    Pendapat yang lain beranggapan bahwa nama Angke berasal dari perkataan Hokkian ang kee dengan arti yang lain, yaitu ‘sungai yang kerap banjir’.

    Hal ini dituliskan dalam “Sejarah Kawasan Angke Di Batavia” karya Horde, G. dkk pada tahun 2012.

    Artikel pada laman Budaya Tionghoa bertanggal 20 Maret 2012 ini memaparkan adanya tokoh bernama Ratu Bagus Angke yang tinggal di dekat sungai ini kira-kira pada akhir abad-16.

    Atau sekitar 150 tahun sebelum kejadian pembantaian besar-besaran etnis Tionghoa.
    Fakta ini mengisyaratkan kemungkinan bahwa nama Angke telah dikenal orang setidaknya pada saat itu atau bahkan pada waktu yang sebelumnya.

    Baca Juga: Ciliwung Muara Bersama: Cara Sederhana Warga Jagakarsa Merawat Sungai Ciliwung

    Hidrologi
    Kali Angke memiliki panjang 9.125 kilometer dan berhulu di daerah Bogor, melintasi wilayah Jawa Barat, Banten dan Jakarta sebelum bermuara di Laut Jawa tepatnya di Muara Angke, Jakarta Barat.

    Sungai ini berhulu di Kelurahan Menteng dan Cilendek Timur di Kota Bogor, Jawa Barat. Sungai ini selanjutnya melewati wilayah Tangerang Selatan, Kota Tangerang dan bermuara di wilayah Muara Angke, Jakarta Utara.

    Sungai ini tidak pernah kering selama musim kemarau, karena berhulu langsung di wilayah yang kawasan banyak hujan di daerah Bogor, sebagaimana Kali Pesanggrahan dan Ciliwung.

    Panjang sungai tercatat 91,25 kilometer, dengan Daerah Pengaliran Sungai (DPS) seluas 480 kilometer persegi.

    Seperti yang dicerminkan oleh namanya, setiap musim hujan Kali Angke meluap dan menimbulkan banjir, khususnya pada hari-hari dengan curah hujan yang tinggi.

    Baca Juga: Sungai Ciliwung, Sejarah dan Maknanya Bagi Warga Jakarta

    Ekologi
    Flora yang tumbuh di tepian Kali Angke di antaranya adalah rengas (Gluta renghas), pandan kapur (Pandanus tectorius), bambu tali (Bambusa vulgaris), putat (Planchonia valida).

    Ada juga pulai (Alstonia scholaris), kecapi (Sandoricum koetjape), waru (Hibiscus tiliaceus) dan sebagainya.

    Kali angke juga memiliki tempat bersejarah, salah satunya adalah Benteng Angke dibangun oleh Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) di sebelah barat kota Jakarta pada tahun 1657.

    Benteng Angke dibangun di titik pertemuan Kali Mookervaart dan Kali Angke. Nama benteng ini sering ditulis dalam berbagai bentuk: Anké, Anckee, Anke, Ankee.

    Esti Utami, dari berbagai sumber

  • Peneliti BRIN: Ketidakpedulian Konservasi Tanah dan Air Picu Kerusakan di Banyak Aliran Sungai Indonesia

    Peneliti BRIN: Ketidakpedulian Konservasi Tanah dan Air Picu Kerusakan di Banyak Aliran Sungai Indonesia

    7cloud.asia – Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof Subarudi mengatakan kondisi sungai di Indonesia secara umum menghadapi banyak tantangan.

    Sebagai salah satu sumber utama air untuk masyarakat, sungai di Indonesia justru sering diposisikan menjadi halaman belakang.

    Bahkan, tidak jarang sungai menjadi tempat pembuangan sampah dan limbah. Itu sebabnya, Indonesia memiliki salah satu sungai paling tercemar di dunia yaitu Sungai Citarum.

    Penelitian yang dilakukan BRIN menemukan bahwa sampah plastik yang banyak ditemukan mencemari sungai di Indonesia bersumber dari kegiatan manusia termasuk berasal dari rumah tangga, lalu lintas, TPA, industri dan lain sebagainya.

    “Dengan pencemar utamanya adalah limbah plastik dan limbah hasil pemrosesan pabrik yang tercampur menjadi satu di sungai,” ujar Subarudi dalam diskusi daring yang diikuti dari Jakarta, Kamis (29/8/2024).

    Baca: Ekspedisi BRIN temukan cemaran mikroplastik di Sungai Citarum sudah mengkhawatirkan 

    Rusaknya ekosistem sungai, kata Subarudi, seringkali menjadi faktor penyebab peningkatan erosi, penurunan produktivitas, dan percepatan degradasi lahan serta banjir.

    “Jadi sebenarnya gampang kalau kita lihat sungai itu, kalau sungai itu merah saat hujan berarti pengolahan lahan di atas itu tidak berjalan sesuai dengan konservasi tanah dan air,” katanya.

    Selain itu Subarudi juga menyoroti isu pengelolaan DAS di Tanah Air, termasuk pemahaman yang masih rendah masyarakat yang kebanyakan tinggal di sekitar bantaran sungai.

    Hal itu menjadi salah satu penyebab tidak optimalnya penerapan aturan terkait DAS yang sudah dimiliki oleh Indonesia.

    Tidak hanya itu, kata dia, masih ada tumpang tindih peraturan perundangan antar-sektor dan belum adanya rencana terstruktur terkait pengelolaan DAS sebagai pedoman yang disertai dengan sistem informasi terpadu.

    Baca: Upaya Komunitas Tunas merawat Kali Angke

    Karena itu menurutnya, perlunya memperhatikan kaidah konservasi tanah dan air dalam pengelolaan lahan, mengingat perannya dalam menjaga kondisi hidrologis Daerah Aliran Sungai (DAS).

    “Kerusakan kondisi hidrologis DAS itu sebagai dampak perluasan lahan budi daya dan pemukiman yang tidak terkendali, kadang-kadang dia tidak peduli adanya konservasi tanah dan air,” kata Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN itu.

    Dibutuhkan kelembagaan pengelolaan DAS yang kuat, mengingat banyak instansi yang terlibat dalam pengelolaan DAS di Indonesia saat ini, mulai dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Kementerian Dalam Negeri dan pemerintah daerah serta berbagai unsur masyarakat.

    Selain dari sisi tata kelola kelembagaan, perubahan pola pikir dan sudut pandang masyarakat perlu juga menjadi perhatian, mengingat masih ada masyarakat yang menganggap sungai sebagai “halaman belakang” tempat untuk membuang sampah yang menjadi salah satu sumber pencemar aliran sungai.

    “Kalau bagian belakang pasti jadi tempat sampah, kalau dianggap bagian muka dia akan malu untuk membuang sampah,” jelasnya.

    Strategi diperlukan karena kondisi sungai-sungai di Indonesia yang beberapa bagiannya berada dalam kondisi tercemar. Termasuk Sungai Citarum di Jawa Barat, yang masuk dalam daftar sungai paling tercemar di dunia.

    Sumber:Antaranews.com

  • Muncul Lubang Besar yang Menyerap Air Sungai hingga Kering di Blitar, Jawa Timur

    Muncul Lubang Besar yang Menyerap Air Sungai hingga Kering di Blitar, Jawa Timur

    7cloud.asia – Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengirimkan tim khusus untuk menyelidiki fenomena munculnya lubang besar yang menyerap air aliran sungai hingga kering di Kabupaten Blitar, Jawa timur.

    “Besok (Jumat) siang kami berangkat ke lokasi untuk memastikan fenomena tersebut,” ujar Husna, Penyelidik Bumi, Pusat Air Tanah Badan Geologi Kementerian ESDM, dilansir Antaranews.com.

    Dia menjelaskan lubang tersebut berada di aliran Sungai Kalisat Tenggong di Dusun Kaliandong, Desa Dawuhan, Kecamatan Kademangan, Kabupaten Blitar.

    Merujuk laporan dari BPBD Blitar diketahui lubang ini memiliki diameter sekitar 1,5 meter dan kedalaman diduga sekitar 10 meter dan telah menyerap air aliran sungai hingga mengering.

    Baca: Fenomena langka Komet A3 melintas di Indonesia

    Sementara berdasarkan analisis sederhana terhadap visual dan peta yang dimiliki oleh Badan Geologi, kata dia, diduga lubang tersebut terbentuk akibat proses pelarutan tanah yang berlangsung dalam jangka waktu lama.

    Ia menyebutkan hal ini kemungkinan terjadi karena adanya rongga atau gua di bawah aliran sungai (sink hole) yang sebelumnya tertutup oleh lapisan tanah.

    Namun seiring waktu, lapisan tersebut larut dan akhirnya menimbulkan lubang yang kini menyedot air sungai.

    “Jika melihat kondisi tanah di daerah tersebut yang dekat dengan lokasi tambang batu kapur, kemungkinan pelarutan terjadi pada lapisan kapur yang memang memiliki sifat mudah larut ketika terkena air,” kata dia.

    Baca: Fenomena Supermoon picu banjir rob

    Kendati demikian tim dari Badan Geologi masih perlu melakukan investigasi mendalam untuk memastikan potensi bahaya dari fenomena ini.

    Husna bersama sejumlah anggota timnya akan melakukan pemeriksaan langsung di lokasi guna memastikan apakah lubang tersebut berisiko bagi warga sekitar dan lingkungan.

    Pihaknya mengharapkan hasil dari penyelidikan dapat memberikan penjelasan lengkap mengenai penyebab munculnya lubang tersebut.

    Badan Geologi juga menyiapkan langkah-langkah mitigasi yang perlu dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan dampak yang lebih luas di daerah sekitar sungai.

  • Sampah Plastik yang Kotori Pantai di Bali Berasal Dari Enam Sungai di Jawa dan Bali

    Sampah Plastik yang Kotori Pantai di Bali Berasal Dari Enam Sungai di Jawa dan Bali

    7cloud.asia – Menteri Lingkungan Hidup (LH) Hanif Faisol Nurofiq mengatakan, pemerintah akan menangani sampah plastik yang mengotori sejumlah pantai di Pulau Bali.

    Hanif memperkirakan sampah plastik ini terbawa aliran empat sungai di Jawa dan dua sungai di Bali sebelum akhirnya terdampar di pesisir Pulau Bali.

    “Yang terutama itu Sungai Ciliwung menyumbang 20-30 persen sampah di laut,” kata Hanif Faisol Nurofiq di sela aksi bersih sampah laut di Pantai Kedonganan, Kabupaten Badung, Bali, Minggu (19/1/2025).

    Ia menjelaskan sampah yang terbawa melalui aliran Sungai Ciliwung menjadi kontributor utama karena membelah kota-kota besar di antaranya Provinsi Jawa Barat dan DKI Jakarta.

    Selain Sungai Ciliwung, sungai lain yang juga membawa sampah termasuk sampah plastik adalah Sungai Citarum, Sungai Bengawan Solo, dan Sungai Brantas.

    Sedangkan dua sungai di Bali yang menjadi sumber sampah atau sampah plastik, yakni Tukad (Sungai) Badung dan Tukad Mati.

    “Kedua sungai itu tidak terlalu panjang sekitar 20 kilometer dan 22 kilometer,” katanya.

    Baca: Thailand resmi melarang impor sampah plastik

    Ada pun upaya penanganannya, kata dia, pihaknya akan memasang jaring-jaring yang menangkap sampah dan kemudian akan dipungut agar tidak bermuara hingga ke laut.

    Sebelumnya, Hanif Faisol Nurofiq mengungkapkan sampah kiriman yang terdampar di beberapa pesisir pantai di Bali sebagian besar berasal dari aliran sungai di Pulau Jawa yang bermuara di Laut Jawa.

    “Sampah ini akan mengikuti arus terus bergerak ke arah timur, kemudian selatan dan sebagian terdampar di pantai Bali,” kata Hanif Faisol Nurofiq di sela aksi bersih sampah laut di Pantai Kuta, Kabupaten Badung, Bali, Sabtu.

    Dia menjelaskan sampah laut itu terjadi saat angin musim barat yang terjadi pada Oktober-Maret tiap tahun.

    Dalam sambutannya, Menteri LH memperkirakan jumlah sampah kiriman yang ditemukan di pesisir Bali pada 2024-2025 lebih tinggi dibandingkan pada 2020-2021 yang mencapai sekitar 6.000 ton dan pada 2023 sekitar 2.900 ton.

    Sampah kiriman itu terdampar, salah satunya di pesisir Pantai Kuta, Pantai Kedonganan dan pantai lainnya yang selama ini menjadi daya tarik wisata.

    Baca: KLH kaji kebijakan impor sampah plastik

    Peningkatan timbunan sampah itu, dipicu peningkatan jumlah penduduk dan aktivitas yang tidak ramah lingkungan.

    Tak hanya dari aliran sungai di Pulau Jawa, lanjut dia, sampah laut kiriman di Pantai Kuta tersebut juga berasal dari negara lain, meski ia tidak menyebutkan detail asal negara tersebut.

    “Bahkan, berdasarkan data timbunan sampah yang terbawa di Pantai Kuta ini sebagian dari negara lain,” ucapnya ketika memberikan sambutan.

    Selain mendarat di pesisir Bali, lanjut dia, sampah laut yang terbawa arus tersebut juga sampai di pesisir Afrika tepatnya di Madagaskar.

    “Jadi ini perjalanan sampah dari hilir Pulau Jawa sampai Madagaskar,” ucapnya.

    Menyikapi kondisi tersebut, Hanif menyebutkan bahwa pihaknya akan membangun program kali (sungai) bersih dari sampah dengan menyasar sungai-sungai utama.

    Baca: KLHK targetkan emisi nol dari sektor sampah pada 2050

    Adapun target pertama, yakni menyasar tiga hingga empat sungai yang ada di destinasi wisata unggulan Kementerian Pariwisata (Kemenpar).

    “Dari 17 destinasi wisata unggulan dari Kemenpar, saya minta tiga-empat yang kami selesaikan sampahnya dulu tahun ini,” imbuhnya.

    Pemerintah menggandeng Badan PBB Bidang Program Pembangunan (UNDP) dan didukung sejumlah negara di antaranya Norwegia dan Uni Emirat Arab (UEA).

    Pemerintah UEA memberikan bantuan jaring penangkap sampah atau trach boom yang rencananya akan ditempatkan di 14 titik lokasi sungai di Bali.

    “Saya minta di Tukad Mati dan Tukad Badung tahun ini harus selesai tidak boleh ada lagi sampah, tidak ada lagi pencemaran karena kami sudah memiliki sumber daya manusia, tim dan dana yang cukup,” katanya.

    Aksi bersih sampah laut tersebut kembali diadakan para menteri Kabinet Merah Putih setelah perdana diadakan pada Sabtu (4/1/2025) lalu di Pantai Kuta, Kabupaten Badung.

    Hingga saat ini sampah plastik masih terus ditemukan di sepanjang kawasan pantai wisata di antaranya Jimbaran, Kelan, dan Kedonganan.

     

  • Kementerian Lingkungan Hidup Gandeng TNI Untuk Tangani Sampah di Daerah Aliran Sungai yang Kritis

    Kementerian Lingkungan Hidup Gandeng TNI Untuk Tangani Sampah di Daerah Aliran Sungai yang Kritis

    7cloud.asia – Menteri Lingkungan Hidup (LH) Hanif Faisol Nurofiq mengatakan kolaborasi dengan TNI akan dilakukan juga untuk menangani sampah tidak hanya pantai tapi juga di daerah aliran sungai (DAS) yang kritis.

    Ditemui media usai meninjau perahu pengangkut sampah inovasi TNI di Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, Minggu (23/2/2025) Menteri Lingkungan Hidup Hanif menyampaikan apresiasi terhadap Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto dan jajaran TNI yang melaksanakan inovasi mendukung pengurangan sampah di sungai tersebut.

    “Tadi kita dengan Pak Panglima mencoba menjajaki lebih lanjut dalam rangka penyelesaian beberapa sungai krusial yaitu sungai, beberapa di antaranya, Citarum, Cisadane dan Ciliwung,” jelas Hanif.

     

    Baca: Aksi bersih-bersih bagus tapi tak memadai atasi sampah

    Penanganan sampah di sungai tersebut merupakan bagian dari upaya membersihkan pesisir, mengingat sampah dari daratan biasanya terbawa melalui sungai-sungai utama itu.

    Secara khusus Hanif mengatakan inovasi kapal pengangkut sampah yang dilakukan oleh TNI dapat mendukung upaya tersebut.

    Dia bersama Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto telah berkomunikasi mengenai rencana operasional pelaksanaan penyelesaian sampah di sungai memanfaatkan kapal-kapal tersebut.

    Dalam kesempatan yang sama Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto menyampaikan kolaborasi aksi bersih sampah yang dilakukan bersama KLH juga sudah dilakukan di tujuh wilayah lain hari ini, dalam rangka Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2025.

    Baca: Saset produk FMCG penyumbang terbesar sampah plastik

    Pihak TNI juga membahas memanfaatkan inovasi pengambilan sampah di sungai dengan menggunakan perahu.

    TNI dan Kementerian Lingkungan Hidup sudah mengerahkan jenis perahu pengangkut sampah tersebut ke Danau Toba di Sumatera Utara dan Danau Tondano di Sulawesi Utara masing-masing enam perahu.

    “Nanti bisa dengan Pak Menteri berkolaborasi ke depan kita di daerah-daerah sampai di pedesaan kita ada penampungan sampah dan pengolah sampah. Sehingga masalah sampah itu bisa ada solusinya,” kata Panglima TNI.

  • Hari Air Sedunia: Mayoritas Sungai di Indonesia dalam Kondisi Tercemar

    Hari Air Sedunia: Mayoritas Sungai di Indonesia dalam Kondisi Tercemar

    7cloud.asia – Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) menyoroti urgensi untuk melakukan konservasi air di Tanah Air ketika menghadapi kondisi cemaran di sungai-sungai, mengingat peran penting air dalam kehidupan.

    Hal ini diungkapkan oleh Deputi Bidang Tata Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Berkelanjutan KLH Sigit Reliantoro dalam diskusi Forum Air Indonesia di Jakarta, Rabu (26/3/2025).

    Sigit mengatakan banyak Daerah Aliran Sungai (DAS) di Indonesia yang berada dalam kondisi tercemar, sebagian besar karena limbah rumah tangga dan industri.

    Dari segi kualitas, Kementerian Lingkunan Hidup melakukan pemantauan di 2.198 sungai, dan 8.627 titik. Namun, yang memenuhi baku mutu hanya 2,19 persen.

    “Sebagian besar, 96 persen itu cemar ringan kemudian ada beberapa yang cemar berat,” kata Sigit dalam acara untuk memperingati Hari Air Sedunia yang dilakukan setiap 22 Maret.

    Baca: Sungai Citarum di Kelokan Cikukang kembali dipenuhi sampah

    Menghadapi kenyataan bahwa mayoritas sungai Indonesia berada dalam beragam tingkatan cemaran, dia menyebut untuk memenuhi kebutuhan air diperlukan teknologi pengolahan.

    Di sisi lain, lanjutnya, perlu juga dilakukan pemulihan ekosistem untuk memastikan terjadinya konservasi air.

    Dia menyoroti bagaimana kejadian banjir yang terjadi di Bekasi baru-baru ini dipengaruhi faktor kehilangan tutupan hutan di DAS Kali Bekasi, yang tersisa hanya 3,53 persen.

    Dalam kesempatan yang sama Wakil Menteri Pekerjaan Umum (PU) Diana Kusumastuti menyebut pemerintah terus berupaya untuk mengelola sumber daya air dan meningkatkan daya tampungnya.

    Baca: Warga di DAS Citarum diimbau tak lagi buang sampah ke sungai

    Hal ini terutama diperuntukkan bagi konsumsi masyarakat untuk berbagai kebutuhan.
    Pada saat bersamaan, lanjutnya, saat ini juga sedang mendukung ketahanan pangan.

    “Untuk ketahanan pangan ini, kita juga harus melakukan peningkatan efektivitas penggunaan air untuk pangan Dan salah satunya itu dengan melakukan penerapan irigasi yang hemat air,” katanya.

    “Teknologi yang tidak hanya teknologi yang harus modern, tapi yang tepat guna yang harus dilakukan di situ,” ucapnya.

    Dia memberikan contoh program penyediaan air minum berbasis masyarakat Pamsimas, mencari sumber air yang bisa dimanfaatkan. Selain itu itu terdapat juga teknologi Reverse Osmosis (RO) untuk proses pemurnian air.