Tag: tanah longsor

  • 12 Orang Meninggal Akibat Banjir Bandang dan Tanah Longsor di Sumatera Barat, Pemerintah Tetapkan Status Tanggap Darurat

    12 Orang Meninggal Akibat Banjir Bandang dan Tanah Longsor di Sumatera Barat, Pemerintah Tetapkan Status Tanggap Darurat

    7cloud.asia – Banjir bandang dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera Barat pada Kamis (27/11/2025) mengakibatkan 12 orang meninggal. Pemerintah provinsi Sumatera Barat menetapkan status darurat bencana.

    Hal ini disampaikan Wakil Gubernur (Wagub) Sumbar Vasko Ruseimy dalam rapat tingkat menteri secara virtual pada Kamis sore.

    “Data terakhir di Sumatra Barat, korban meninggal dunia sebanyak 12 orang dan warga terdampak sekitar 12.000 jiwa,” ujar Vasko.

    Pihaknya, lanjut Vasko, bersama unsur organisasi perangkat daerah bersama TNI-Polri terus melakukan operasi penanganan darurat.

    Baca: Banjir dan Longsor si Sumatera Utara Akibatkan 13 Orang Meninggal

    Sebelumnya, sejak Kamis dinihari cuaca ekstrem berupa hujan sangat lebat mengakibatkan banjir bandang di wilayah di Lubuk Minturun, Koto Tengah, Kota Padang.

    Material berupa batang pohon dan lumpur merusak rumah warga dan 4 orang meninggal dalam kejadian ini.

    Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Abdul Muhari, dalam rilisnya menjelaskan, cuaca ekstrem tersebut menyebabkan banjir, longsor dan sejumlah pohon tumbang di 14 titik.

    Selain itu jembatan penghubung di Koto Luar, Kecamatan Pauh, Kota Padang, putus akibat struktur jembatan yang dihantam material yang hanyut terbawa arus banjir.

    Baca: Tiga Kabupaten di Aceh Tetapkan Status Darurat Bencana Banjir

    Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Padang hingga kini masih melakukan proses evakuasi serta pengamanan di lapangan yang berpotensi mengancam keselamatan warga dan pelayanan warga yang terdampak.

    Berdasarkan data Pusat Pengendalian Operasi BPBD Provinsi Sumbar mencatat cuaca ekstrem berupa hujan sangat lebat disertai petir dan angin kencang berdampak pada 17 kelurahan di 7 kecamatan di Kota Padang.

  • Longsor di Jepara Akibatkan Ribuan Warga Desa Tempur Terisolasi

    Longsor di Jepara Akibatkan Ribuan Warga Desa Tempur Terisolasi

    7cloud.asia – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jepara mencatat sebanyak 3.522 jiwa dari 1.445 kepala keluarga (KK) di Desa Tempur masih terisolasi akibat terputusnya akses jalan secara total menyusul bencana tanah longsor di sejumlah titik.

    “Dari hasil asesmen awal, terdapat 18 titik longsor dengan karakteristik rusak berat sampai kritis yang terjadi pada Jumat (9/1/2026) setelah diguyur hujan deras, sehingga menyebabkan akses ke luar masuk Desa Tempur terputus total,” kata Kepala Pelaksana Harian BPBD Kabupaten Jepara Arwin Noor Isdiyanto dikutip Antaranews.com, Minggu (11/1/2026)

    Dampak tanah longsor tidak hanya merusak akses transportasi. Laporan situasi (SITREP) BPBD Jepara juga mencatat sedikitnya enam unit rumah warga mengalami kerusakan, mulai dari terendam lumpur hingga rusak total.

    Selain itu, jaringan listrik di Desa Tempur dilaporkan padam total setelah satu tiang listrik roboh dan satu tiang lainnya dalam kondisi miring sehingga membahayakan.

    Ia menjelaskan, titik longsor terparah berada di lokasi pertigaan dekat spot foto “Selamat Datang”. Karena di lokasi tersebut, badan jalan hilang total sepanjang sekitar 50 meter setelah tergerus aliran Sungai Gelis.

    “Titik kritis lainnya berada di Jembatan Mbah Sujak. Di lokasi itu, badan jalan terkikis hingga sedalam enam meter akibat sungai yang berpindah aliran,” ujarnya.

    Terputusnya akses jalan dan padamnya aliran listrik turut berdampak pada perekonomian warga. Puluhan hektare lahan persawahan di sepanjang aliran Sungai Gelis dilaporkan hanyut dan rusak akibat terjangan tanah longsor dan luapan air.

    “Untuk data rinci potensi kerugian di sektor pertanian saat ini masih dalam tahap pendataan,” ujarnya.

    Hingga Sabtu (10/1/2026) pukul 17.00 WIB, BPBD Kabupaten Jepara terus melakukan berbagai upaya darurat. Namun demikian, akses jalan utama hingga kini masih belum dapat dibuka.

    “Pembersihan material longsor di titik pertama sudah dilakukan sejak malam hari, tetapi belum tuntas karena terkendala kondisi cuaca,” ujarnya.

    Arwin menambahkan kendala utama di lapangan terkait cuaca ekstrem yang masih berpotensi memicu tanah longsor susulan serta banyaknya material batu berukuran besar yang masih terus berjatuhan dari tebing.

    Untuk mempercepat penanganan dan membuka kembali akses warga yang terisolasi, BPBD Jepara mengajukan sejumlah kebutuhan mendesak.

    Kebutuhan tersebut meliputi tambahan alat berat berupa ekskavator tipe PC-75 untuk menangani material besar, mesin Alkon guna mempercepat proses pembersihan, serta dukungan logistik untuk menjamin pasokan kebutuhan dasar bagi ribuan warga terdampak.

  • Pencarian Korban Tanah Longsor Bandung Barat Dilanjutkan, 6 Orang Belum Ditemukan

    Pencarian Korban Tanah Longsor Bandung Barat Dilanjutkan, 6 Orang Belum Ditemukan

    7cloud.asia – Memasuki hari ke-9, operasi pencarian korban tanah longsor di Desa Pasirlangu, Cisarua Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat dilaksanakan secara terukur dan berfokus pada aspek keselamatan personel.

    Berdasarkan hasil evaluasi lapangan, pada Minggu (1/2/2026) dilakukan perluasan area pencarian dengan membuka Worksite A3, sebagai bagian dari upaya maksimal menemukan seluruh korban yang masih dalam pencarian.

    Dalam keterangannya kepada media, Pusdatin BNPB menyebutkan bahwa sepanjang Minggu, tim SAR gabungan berhasil menemukan 4 bodypack, dengan rincian 2 bodypack di Worksite A2 dan 2 bodypack di Worksite A3.

    Penemuan ini menunjukkan bahwa perluasan worksite yang dilakukan memberikan hasil positif dalam proses pencarian.

    Baca: Tanah longsor di Bandung Barat, 80 orang tertimbun

    Secara keseluruhan, hingga Minggu sore, total bodypack yang telah berhasil dievakuasi berjumlah 74 pack, dengan perkiraan korban yang masih dalam pencarian sekitar 6 jiwa.

    Untuk proses identifikasi, hingga pukul 16.13 WIB, DVI telah berhasil mengidentifikasi 57 jiwa dari 58 bodypack, sementara 16 bodypack lainnya masih dalam proses identifikasi lebih lanjut.

    Dari sisi kondisi lapangan, cuaca hari ini relatif cukup baik, meskipun sempat terjadi hujan ringan dalam durasi singkat. Namun, kondisi tersebut tidak secara signifikan menghambat jalannya operasi pencarian

    Baca: Potensi bencana alam di Jawa Barat tergolong tinggi

    Dalam pernyataannya BNPB menyampaikan operasi pencarian akan terus dilanjutkan dengan evaluasi harian, penyesuaian rencana operasi, serta tetap mengedepankan keselamatan personel sebagai prioritas utama.

    Peristiwa tanah longsor di Bandung Barat ini terjadi pada Sabtu sekitar pukul 02.30 WIB, saat sebagian besar warga masih tertidur. Longsor dipicu hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah Cisarua sejak Jumat siang, 23 Januari 2026.

    Setidaknya 8 orang meninggal saat kejadian dan 82 lainnya tertimbun longsor. Operasi pencarian yang dilakukan sejak kejadian akan terus dilanjutkan hingga Jumat, 6 Februari 2026

    Baca: Krisis ekologi yang dihadapi Jawa Barat

  • Alih Fungsi Hutan dan Faktor Alam Jadi Pemicu Tanah Longsor di Bandung Barat

    Alih Fungsi Hutan dan Faktor Alam Jadi Pemicu Tanah Longsor di Bandung Barat

    7cloud.asia – Menteri Lingkungan Hidup (LH) Hanif Faisol Nurofiq mengatakan, untuk mencegah tanah longsor, kawasan dataran tinggi lebih baik ditanami pohon tegakan daripada ditanami tanaman jenis palawija atau hortikultura.

    “Bagian yang tinggi selalu lebih baik menjadi hutan daripada menjadi tanaman palawija karena bahayanya lebih tinggi,” katanya menanggapi tanah longsor di Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Minggu (1/2/2026)

    Ia menilai ada kecenderungan dataran tinggi saat ini ditanami jenis tanaman subtropis, seperti kentang, kol, dan paprika yang membutuhkan lahan dengan ketinggian 800-2.000 meter di atas permukaan laut.

    Penanaman jenis hortikultura di dataran tinggi itu, kata dia, dampak kebutuhan pangan masyarakat terhadap jenis pangan tersebut sehingga perlu memikirkan pola makan yang mengurangi jenis tanaman subtropis.

    Hanif mengatakan jenis tanaman hortikultura itu sebenarnya bukan endemi tanaman Indonesia. Untuk itu, katanya, sebaiknya lahan dataran tinggi ditanami dengan jenis tanaman sesuai dengan khas Indonesia.

    “Kita kembalikan sama tanaman asli Indonesia yang kemudian tidak memerlukan tempat tumbuh yang tinggi,” katanya.

    Baca: Pencarian korban tanah longsor di Bandung Barat

    Pandangan tersebut disampaikan terkait tanah longsor di Bukit Burangrang, Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, di mana perbatasan antara hutan dengan pemukiman warga terdapat lahan ditanami jenis tanaman semusim atau hortikultura.

    Sebelumnya, Hanif mengatakan aspek urbanisasi menjadi salah satu faktor perubahan tata guna lahan yang memicu tanah longsor Cisarua, Bandung Barat Januari lalu.

    “Sebenarnya ini aspek dari urbanisasi yang cukup masif di kota-kota sehingga membawa perubahan pola makan yang bukan kebiasaan kita, seperti kentang, kol, paprika, itu semua di daerah subtropis,” katanya.

    Dia menjelaskan bahwa tanaman subtropis tersebut biasanya tumbuh di ketinggian 800-2.000 meter di atas permukaan laut, sementara karakter wilayah lokal berbeda.

    “Kita sebenarnya karakternya tidak seperti itu. Tahun 2025 dulu tidak semasif ini, sehingga ini membawa dampak pertanian naik ke gunung dan membuka lahan pertanian seperti ini,” jelasnya.

    Ia menambahkan, untuk mencegah terulangnya bencana ini, KLH akan membentuk tim untuk mengkaji kondisi di Cisarua, Bandung Barat.

    Baca: Krisis ekologi di Jawa Barat berpotensi memicu bencana

    Ditambahkan, kajian ini tidak hanya akan melihat dampak fisik dari longsor, tetapi juga menilai aspek ekologis, seperti kondisi tanah, vegetasi, dan potensi risiko bencana susulan, sehingga setiap langkah mitigasi bisa dilakukan secara tepat.

    Untuk memastikan kajian ini berjalan tepat, tim ahli akan segera bergabung dengan pemerintah kabupaten di bawah pimpinan bupati.

    Hanif mengatakan bahwa KLH akan melakukan pendalaman sangat detil terhadap landscape ini, dan kemudian akan dilakukan langkah-langkah penanganan lebih lanjut.

    “Kami mungkin perlu waktu 1-2 minggu untuk menyelesaikan kajian detil bersama para ahli dari akademisi, dari badan riset dan lain-lain,” tuturnya dikutip Antaranews.com.

    Faktor alami turut berpengaruh
    Terpisah, Pakar geologi longsoran Institut Teknologi Bandung (ITB) Imam Achmad Sadisun mengatakan, tanah longsor yang melanda Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Sabtu (24/1/2026) tidak dapat hanya dipahami sebagai dampak alih fungsi lahan.

    Menurutnya, kejadian tersebut merupakan hasil dari interaksi faktor alamiah yang kompleks dengan berbagai faktor manusia. Kemudian, menghasilkan mekanisme aliran lumpur (mudflow) yang dipicu longsoran di bagian hulu sistem alirannya.

    Baca: Potensi bencana alam di Jawa Barat tergolong tinggi

    Bandung Barat, ujarnya, termasuk dalam lingkungan geologi yang berada pada produk-produk vulkanik tua yang secara alamiah memiliki lapisan pelapukan relatif tebal.

    Batas antara tanah hasil pelapukan dan batuan dasar yang relatif lebih kedap air kerap menjadi bidang gelincirnya. Kondisi ini makin diperlemah oleh hujan dalam durasi panjang yang menyebabkan air meresap dan mengisi pori-pori tanah hingga jenuh.

    “Ketika pori-pori tanah sudah jenuh oleh air, kekuatan geser material pembentuk lereng akan menurun drastis. Pada kondisi inilah lereng sering tidak lagi mampu menahan beratnya sendiri,” ujar Imam dikutip dari laman resmi ITB, Senin (26/1/2026).

    Menurut dia, pemicu longsor tidak hanya ditentukan durasi hujan melainkan juga oleh intensitasnya. Dalam ilmu kebumian dikenal hubungan antara durasi dan intensitas hujan.

    Hujan dengan intensitas sedang namun berlangsung lama dapat sama berbahayanya dengan hujan sangat lebat dalam durasi yang singkat.

    Salah satu temuan penting dalam kejadian ini adalah indikasi longsoran di hulu salah satu sungai pada sistem lereng selatan Gunung Burangrang yang menutup alur sungai tersebut hingga membentuk sumbatan atau bendungan alam (landslide dam).