Tag: tanah longsor

  • Curah Hujan Tinggi, 14 Desa di Kabupaten Simeulue Terendam

    Curah Hujan Tinggi, 14 Desa di Kabupaten Simeulue Terendam

     

    7cloud.asia – Curah hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur Kabupaten Simeulue, Aceh mengakibatkan 14 gampong/desa yang tersebar di dua kecamatan tersebut terendam banjir hingga 1 meter dan tanah longsor.

    Kepala Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA), Ilyas menjelaskan banjir dan tanah longsor di Simeulue mulai terjadi pada Senin (2/10/2023) sekitar pukul 05.00 WIB.

    “Kondisi terakhir sampai saat ini air masih tergenang di pemukiman warga,” ujar Ilyas seperti yang dikutip Antaranews.

    Di Kecamatan Simeulue Timur wilayah yang terkena banjir adalah Gampong Suka Karya, Air Dingin, Kuala Makmur, Sefoyan, Linggi, Suka Jaya, Air Pinang.

    Selain itu Ganting, Suka Damai, Suak Buluh, Sinabang, Amaiteng Mulia, Suka Maju, serta satu gampong di Kecamatan Teluk Dalam yakni Gampong Luan Balu juga terendam banjir.

    “(Banjir) akibat intensitas curah hujan yang tinggi mengakibatkan air meluap sampai ke bahu jalan dengan ketinggian air 30-100 centimeter,” ungkapnya.

    Selain merendam pemukiman penduduk, satu unit rumah warga tertimpa pohon tumbang di Gampong Sefoyan, kemudian pohon tumbang di Gampong Linggi, dan tanah longsor di Gampong Sefoyan.

    “Korban terdampak dan pengungsi masih dalam pendataan. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut,” ucapnya.

    Saat ini, lanjut Ilyas, BPBD Simeulue terus melakukan pemantauan di beberapa titik yang banjir dan longsor, sekaligus melakukan penanganan terhadap pohon tumbang yang menimpa rumah warga.

    “Petugas BPBD Simeulue juga melakukan pendataan korban dan pemberian logistik masa panik,” katanya.

    Sebelumnya Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengeluarkan peringatan agar masyarakat di wilayah Provinsi Aceh mewaspadai potensi banjir dan tanah longsor yang dipicu curah hujan tinggi.

    “Musim peralihan dari puncak musim kemarau ke musim penghujan yang diprakirakan hingga awal Oktober,” ujar prakirawan BMKG Kelas I Sultan Iskandar Muda Aceh Besar, Faqih Musyaffa.

    Musim pancaroba ini diperkirakan akan berakhir pada awal Oktober 2023, kemudian Aceh mulai memasuki musim penghujan.

    “Maka perlu waspada potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, angin kencang dan lainnya akibat hujan lebat,” jelasnya.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Korban Tewas Akibat Banjir dan Tanah Longsor di Sumatera Barat Bertambah, Pemerintah Tetapkan Status Tanggap Darurat

    Korban Tewas Akibat Banjir dan Tanah Longsor di Sumatera Barat Bertambah, Pemerintah Tetapkan Status Tanggap Darurat

    7cloud.asia – Korban tewas terus bertambah sejak banjir dan tanah longsor melanda Kabupaten Pasaman Barat dan Pariaman, Sumatera Barat. Pemerintah Kabupaten Pasaman Barat menetapkan masa tanggap darurat selama 14 hari.

    Hingga Selasa (12/03/2024) sore, Badan Nasional Penaggulangan Bencana (BNPB) mencatat 32 orang tewas dalam bencana banjir di Sumatera Barat ini.

    Karena itu, pemerintah menetapkan masa tanggap darurat bencana selama 14 hari dalam upaya percepatan penanganan daerah yang terdampak banjir dan longsor.

    “Benar, kita telah menetapkan masa tanggap darurat sejak 8 Maret sampai 21 Maret 2024. Saat ini penanganan daerah terdampak sedang dilakukan,” kata Sekretaris Daerah Kabupaten Pasaman Barat, Hendra Putra di Simpang Empat seperti yang dikutip Antaranews.

    Baca: Korban banjir di Sumatera Barat terus bertambah  

    “Di masa tanggap darurat itu kita melakukan pengkajian secara cepat, membuat perencanaan dan penanggulangan bencana serta mengusulkan rencana kebutuhan belanja,” sambungnya.

    Penetapan status tersebut berdasarkan Keputusan Bupati Pasaman Barat Nomor 100.3.3.2/220/Bup-Pasbar/2024, masa tanggap darurat bencana banjir dan longsor di sembilan kecamatan.

    Sembilan kecamatan itu adalah Kecamatan Talamau, Sungai Aur, Kinali, Sasak Ranah Pasisia, Ranah Batahan, Lembah Melintang, Sungai Beremas, Koto Balingka dan Kecamatan Pasaman.

    Selanjutnya Hendra mengungkapkan di Jorong Limpato Kajai Kecamatan Talamau jalan terputus mengakibatkan terputusnya akses Simpang Empat-Talu.

    Banjir Batang Pasaman mengakibatkan merendam perumahan warga dan terputusnya akses Ujung Gading-Simpang Empat.

    Baca: BNPB ingatkan ancaman bencana hidrometeorologi

    Selain itu, banjir di wilayah Rura Patontang Parit Koto Balingka mengakibatkan putusnya jembatan dari Parit menuju Rura Patontang.

    Di wilayah Aek Napal, Kecamatan Ranah Batahan banjir mengakibatkan satu unit rumah warga hanyut dan merendam puluhan rumah warga.

    Banjir di Salawai Sungai Beremas mengakibatkan akses jalan Air Bangis-Ujung Gading terputus, banjir di Sungai Aur juga mengakibatkan jalan tidak bisa dilalui.

    Kemudian banjir di Kecamatan Lembah Melintang merendam pemukiman warga, banjir di Anam Koto Selatan Kecamatan Kinali mengakibatkan 30 kepala keluarga terdampak.

    Di wilayah Wonosari Kinali banjir menyebabkan terendamnya pemukiman warga dan di Koja Kinali menyebabkan terputusnya satu unit jembatan.

    Baca: BRIN sebut cuaca ekstrem makin sering terjadi 

    ‘Banjir juga terjadi di Rantau Panjang dan Sialang Kecamatan Sasak Ranah Pasisia yang merendam rumah warga,” ujarnya.

    Saat ini pihaknya saat ini akan mempercepat pembangunan jembatan darurat di Rura Patontang dan jalan darurat di Jorong Limpato Rimbo Kejahatan Kajai Talamau.

    “Jalan Simpang Empat-Talu telah kembali bisa dilalui pengendara namun diperlukan penanganan lebih lanjut dari Pemprov Sumbar. Untuk jembatan di Koja Kinali akan dibuat jembatan belly,” jelasnya.

    Salah seorang warga Kajai, Elwa, mengharapkan Pemprov Sumbar segera memperbaiki jalan yang ada di sepanjang Rimbo Kejahatan Kajai karena sangat rawan dan sudah membahayakan pengendara.

    “Kami mengharapkan tindakan cepat Pemprov Sumbar karena jalan ini adalah jalan provinsi dan ramai dilalui kendaraan setiap harinya,” harapnya.

    Baca: 3 Jenis cuaca ekstrem yang merusak

    Saat ini pemerintah daerah bersama SAR dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) serta instansi lainnya terus berusaha mencari lima korban lain yang belum ditemukan.

    Sementara itu, Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi mengatakan bencana banjir dan tanah longsor diakibatkan oleh beberapa faktor di antaranya intensitas curah hujan yang tinggi lebih dari 12 jam.

    Kemudian bencana hidrometeorologi juga akibat saluran drainase yang kurang berfungsi dengan baik sehingga terjadi penyumbatan di beberapa titik.

    Selain itu, pembangunan infrastruktur dan pemukiman warga yang tidak memerhatikan tata ruang wilayah.

    Baca: Kearifan lokal efektif memitigasi bencana

    Dari hasil pendataan di lapangan pemerintah menemukan beberapa titik di kawasan longsor terjadi penggundulan hutan dan deforestasi. Bangunan penahan dinding sungai rusak dan sejumlah faktor lainnya.

    Total terdapat 871 rumah mengalami rusak berat, 135 rusak sedang, dan 593 rusak ringan.

    Selain itu ada 51 rumah ibadah, 28 sekolah, dan 13 ruas jalan ikut terdampak banjir dan longsor. Kemudian ada 23 jembatan dan dua unit irigasi mengalami kerusakan serius.

    Bencana alam ini juga memaksa 78.877 orang untuk mengungsi ke tempat yang lebih aman. Seluas 5.550 hektare lahan dan 1.960 hewan ternak ikut terdampak. 

    Reporter: Nurakhmayani

     

     

  • BNPB Kembangkan Sistem Peringatan Dini Bencana Tanah Longsor Skala Nasional

    BNPB Kembangkan Sistem Peringatan Dini Bencana Tanah Longsor Skala Nasional

    7cloud.asia – Pemerintah melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama sejumlah perguruan tinggi di Indonesia siap mengembangkan kembali sistem informasi peringatan dini bencana tanah longsor skala besar.

    Sistem informasi peringatan dini bencana tanah longsor yang dikembangkan BNPB ini diharapkan dapat mencakup seluruh wilayah rawan nasional.

    Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari di Jakarta, Senin (1/4/2024), mengatakan bahwa dalam prosesnya saat ini instansinya sedang melakukan studi berbasis ilmiah bersama para ahli teknologi inovasi, iklim, dan geologi dalam negeri.

    Studi tersebut dilakukan BNPB untuk menentukan seperti apa mekanisme peringatan dini tanah longsor yang memenuhi standar keakuratan tinggi, cepat, terintegrasi, dan mudah diakses oleh publik.

    Baca: Pemanasan global memicu beragam bencana

    Setidaknya ada tiga mekanisme yang umum diadopsi dalam pembuatan sistem peringatan dini bencana tanah longsor tersebut.

    Abdul mencontohkan, sistem peringatan dini berbasis citra satelit time-series untuk memantau perubahan tata lahan dan pergerakan mahkota longsor untuk menghasilkan peringatan dini bagi masyarakat yang berisiko tinggi.

    Peringatan dini berbasis sensor; setiap daerah rawan bencana longsor dipasangkan alat sensor untuk memantau pergerakan tanah, curah hujan dan parameter lain. Data ini kemudian diolah untuk menghasilkan peringatan dini bagi masyarakat.

    Selanjutnya, sistem peringatan yang berbasiskan masyarakat, yang mana sistem ini melibatkan masyarakat dalam proses pemantauan dan pelaporan tanda-tanda awal tanah longsor.

    “Tapi kami masih mengkaji opsi terbaik untuk mekanisme tanah longsor nasional ini,” ujarnya.

    Baca: Paduan kearifan lokal dan teknologi untuk antisipasi bencana hidrometeorologi

    Dia mengaku pembuatan sistem peringatan dini tanah longsor berskala nasional ini merupakan hasil tindak lanjut setelah kalangan peneliti Indonesia yang berhasil mengembangkan sistem bencana serupa di 35 daerah, satu dekade lalu.

    Namun, sistem buatan peneliti yang salah satunya dari Universitas Gadjah Mada bersama tim BNPB itu kapasitas dan wilayah jangkauannya masih tergolong lokal yang mencakup 200 desa lebih.

    “Karena yang kita miliki masih sangat lokal, sehingga selama ini kita masih cenderung mengandalkan sistem informasi prakiraan cuaca yang belum spesifik tanah longsor,” kata dia.

    Padahal, lanjutnya, secara prinsip seluruh masyarakat Indonesia membutuhkan informasi peringatan dini tanah longsor ini.

    Baca: Kearifan lokal dalam mengantisipasi bencana

    Karena ini sama pentingnya seperti peringatan gempa bumi dan tsunami nasional yang lebih dulu dikembangkan untuk mengantisipasi besarnya dampak kerusakan yang ditimbulkan dan korban jiwa.

     

    Berdasarkan data yang dihimpun dari BNPB pada awal tahun ini, terhitung sejak Januari-Maret telah terjadi beberapa kali bencana banjir disertai tanah longsor yang menyebabkan lebih dari ratusan ribu warga terdampak, puluhan ribu rumah warga sekaligus fasilitas umum mengalami kerusakan.

    Bahkan, bencana hidrometeorologi basah itu memakan korban jiwa dan hingga saat ini jasadnya masih dinyatakan hilang.

    Misal, tanah longsor di Pesisir Selatan, Sumatera Barat (empat korban belum ditemukan), di Distrik Sugapa, Intan Jaya, Papua (lima korban belum ditemukan), dan terakhir tanah longsor di Cipongkor Bandung Barat, Jawa Barat (tiga korban belum ditemukan).

    “Ya, ini masih menjadi PR (pekerjaan rumah) bersama yang perlu kita telaah lebih lanjut untuk dikembangkan,” ujarnya.

    Sumber: Antaranews.com

  • Lebih 2000 Orang Terkubur Hidup-hidup Akibat Tanah Longsor di Papua Nugini

    Lebih 2000 Orang Terkubur Hidup-hidup Akibat Tanah Longsor di Papua Nugini

    7cloud.asia – Tanah longsor mematikan yang menurut penduduk desa di lereng bukit yang dulunya ramai di Provinsi Enga, Papua Nugini terjadi seperti “bom yang meledak”.

    Diperkirakan lebih dari 2.000 orang terkubur hidup-hidup akibat tanah longsor itu, demikian pernyataan otoritas setempat.

    Angka yang diungkapkan oleh penjabat direktur Pusat Bencana Nasional di negara tersebut – jauh lebih tinggi dari 670 yang diperkirakan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada akhir pekan lalu.

    Jumlah pasti korban bencana tanah longsor yang melanda desa di Provinsi Enga, Papua Nugini pada Jumat (24/5/2024) dini hari tersebut sulit untuk diketahui.

    Baca Juga: WMO: Kenaikan Suhu Global Picu Bencana Akan Lebih Sering Terjadi

    Upaya untuk menyelamatkan korban selamat atau mengeluarkan jenazah dari reruntuhan sejauh ini terhambat oleh puing-puing sedalam 10 meter di beberapa tempat.

    Akses yang terhambat dan peralatan yang kurang memadai menghambat upaya evakuasi korban.

    Namun di lapangan, empat hari pasca bencana harapan memudar bagi warga pegunungan yang terkena bencana di provinsi Enga ini.

    “Tidak ada yang lolos. Kami tidak tahu siapa yang meninggal karena catatannya terkubur,” kata seorang guru sekolah dari desa tetangga, Jacob Sowai, seperti dilansir BBC.

    Baca Juga: WMO Kembali Ingatkan Tahun 2023 sebagai Tahun Terpanas Sepanjang Pencatatan Suhu Bumi

    Reruntuhan bencana membentang hampir satu kilometer. Seorang warga bernama Evit Kambu mengaku merasa tidak berdaya.

    “Ada 18 anggota keluarga saya yang terkubur di bawah puing-puing dan tanah tempat saya berdiri, dan masih banyak lagi anggota keluarga di desa yang tidak dapat saya hitung,” katanya kepada kantor berita Reuters.

    Lasen Iso mengatakan kepada surat kabar lokal The National bahwa bom tersebut meledak “seperti bom yang meledak dalam hitungan detik”,

    Sementara Eddie Peter mengatakan dia menyaksikan bom tersebut meluncur menuju rumahnya “seperti gelombang laut”.

    Baca Juga: OCHA: Krisis Iklim Picu Masalah Kemanusiaan di Afghanistan, Pakistan dan Sudan

    “Suami saya berbalik ketika keempat anak kami sedang tidur. Saya melarikan diri dan mereka semua terjebak dan terbunuh,” katanya kepada surat kabar tersebut.

    Sekitar 3.800 orang dilaporkan tinggal di daerah tersebut sebelum bencana terjadi.

    Surat yang dikeluarkan oleh Lusete Laso Mana dari Pusat Bencana Nasional mengatakan kerusakan yang terjadi “luas” dan “menyebabkan dampak besar pada jalur perekonomian negara”.

    Sumber:BBC.com

  • Banjir dan Tanah Longsor di Sukabumi Terparah dalam 10 Tahun Terakhir

    Banjir dan Tanah Longsor di Sukabumi Terparah dalam 10 Tahun Terakhir

    7cloud.asia – Data BPBD Sukabumi menunjukkan, setidaknya 38 kecamatan di Sukabumi terdampak bencana tanah bergerak ini.

    “Jumlah desa yang terdampak juga meningkat menjadi 101, dengan rincian 100 desa dan 1 kelurahan,” kata Sekretaris Daerah Kabupaten Sukabumi, Ade Suryaman,

    Ade merinci, tanah longsor terjadi di 90 titik, banjir di 52 titik, angin kencang melanda 18 lokasi, dan pergerakan tanah tercatat di 35 titik. Data ini diperkirakan terus bertambah karena hujan masih mengguyur deras.

    Beberapa laporan terbaru dari Kecamatan Palabuhanratu dan Warungkiara menyebutkan pergerakan tanah yang belum masuk ke dalam data resmi.

    “Kabandungan yang sebelumnya tidak terdampak kini mulai dilaporkan,” tambahnya.

    Sementara itu, korban terdampak bencana mencapai 744 KK atau 1.749 jiwa, dengan 99 KK atau 258 jiwa mengungsi. Sebanyak 182 KK atau 365 jiwa berada dalam kondisi terancam.

     

    Baca: Cuaca Ekstrem picu banjir dan tanah longsor di Sukabumi dan Cianjur

    Data korban meninggal dunia bertambah menjadi empat, sedangkan enam orang lainnya masih dinyatakan hilang.

    Ade menegaskan bahwa bencana ini merupakan salah satu yang terparah dalam satu dekade terakhir.

    “Kita menghadapi tantangan berat, terutama dalam distribusi logistik dan bahan bakar. Jalur menuju beberapa wilayah seperti Sagaranten masih terputus,” ungkapnya.

    “Kalau lihat gambaran tadi yang Pak Deputi sampaikan memang 10 tahun terakhir ini kita yang paling parah Kabupaten Sukabumi. Awalnya tidak separah ini,” sambungnya.

    Saat ini para korban membutuhkan kebutuhan mendesak meliputi selimut, bahan makanan, pakaian layak, dan tenda. Namun, penggunaan tenda dinilai kurang optimal di tengah curah hujan tinggi.

    Baca: BMKG ingatkan potensi cuaca ekstrem beberapa pekan ke depan

    “Kami menyarankan pengungsian di masjid atau sekolah, tetapi saat ini sekolah masih digunakan untuk ujian,” ujar Ade.

    Untuk masyarakat yang ingin memberikan bantuan, posko utama telah disiapkan. Posko lapangan juga tersedia di tingkat kecamatan untuk memudahkan penyaluran bantuan langsung.

    Pascakejadian bencana tanah bergerak di sejumlah wilayah di Sukabumi, Wakil Ketua DPR Cucun Ahmad Syamsurijal menyerukan penataan geospasial untuk meminimalkan risiko bencana serupa di masa depan.

    “Pemda Sukabumi harus segera berkoordinasi dengan Kementerian PUPR untuk menata ulang kawasan ini. Relokasi (warga) juga menjadi opsi, tentunya disesuaikan dengan anggaran pemerintah daerah dan dukungan pusat,” kata Cucun saat mengunjungi lokasi pengungsian bencana tanah bergerak di Desa Mekarsari, Sukabumi, Jumat (06/12/2024).

    Bencana yang terjadi memaksa 260 jiwa dari 72 KK mengungsi. Menurut Cucun, warga masih diliputi trauma, namun bantuan darurat dari BNPB, Kemensos, TNI, dan Polri sudah berjalan.

    “Trauma healing akan dilakukan, terutama untuk anak-anak. Saat ini kebutuhan utama adalah makanan, pakaian, tenda, dan selimut,” ujar Politisi PKB ini.

    Ia juga menegaskan pentingnya kehadiran pemerintah untuk memberikan dukungan moral kepada warga terdampak.

    “Kami ingin memastikan pengawasan terhadap penanganan bencana berjalan optimal dan sesuai dengan tugas masing-masing,” pungkasnya.

     

  • Alih Fungsi Hutan Picu Banjir dan Tanah Longsor di Jawa Tengah

    Alih Fungsi Hutan Picu Banjir dan Tanah Longsor di Jawa Tengah

    7cloud.asia – Alih fungsi lahan di beberapa tempat terutama di pegunungan dan perbukitan menjadi salah satu penyebab terjadinya bencana alam seperti banjir dan tanah longsor di Jawa Tengah

    Seperti diberitakan sebelumnya, cuaca akstrem telah mengakibatkan banjir dan tanah longsor di sejumlah daerah di Jawa Tengah, seperti Pemalang, Pekalongan, Kendal dan Banjarnegara.

    Bencana paling parah terjadi di Pekalongan. Tanah longsor yang terjadi di daerah ini menewaskan setidaknya 17 meninggal dan 9 orang lainnya hilang.

    “Beberapa tempat iya. Ada beberapa lokasi yang memang penyebabnya memang alih fungsi lahan,” kata Penjabat Gubernur Jawa Tengah Nana Sudjana di Semarang, Kamis (23/1/2025).

    Ia mencontohkan bencana tanah longsor di Desa Kasimpar, Kecamatan Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan yang disebabkan alih fungsi lahan.

    Baca: Cuaca ekstrem picu bencana hidrometeorologi di Jawa Tengah

    Kemudian, kata dia, peristiwa banjir di Kabupaten Brebes juga disebabkan adanya alih fungsi lahan di wilayah hulu atau perbukitan yang semula lahan hutan menjadi kebun.

    Berkaitan dengan alih fungsi lahan itu, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus berupaya untuk melakukan antisipasi, salah Satunya dengan penanaman pohon yang mampu menyerap dan menahan air.

    Selain itu, ia juga mendorong untuk adanya edukasi kepada masyarakat agar sadar dengan lingkungan dan menjauhi wilayah rawan bencana alam.

    Seandainya masih ada masyarakat yang memilih tinggal di lereng-lereng perbukitan serta tempat rawan bencana lainnya maka bisa diedukasi mengenai faktor risiko yang dihadapi.

    Baca: Pemanasan global lampaui 1,5C, kelestarian lingkungan makin terancam

    Nana sebelumnya menyampaikan duka cita kepada korban tanah longsor di Petungkriyono, Kabupaten Pemalang, yang menelan banyak korban jiwa dan ada belum ditemukan.

    Ia memastikan penanganan dan pencarian orang hilang korban bencana tanah longsor di Petungkriyono masih terus dilakukan oleh tim gabungan yang berjumlah sekitar 500-an petugas, termasuk sukarelawan.

    Ratusan petugas tersebut ada yang ditugaskan untuk mencari orang hilang, dan ada yang membuka akses jalan yang tertutup tanah dan pepohonan.

    Atas kejadian bencana tersebut, berbagai bantuan untuk korban juga sudah berdatangan, mulai dari kementerian Sosial, Pemprov Jateng, Pemkab Pekalongan, Bulog, dan lainnya.

    Beberapa bantuan yang dibutuhkan masyarakat seperti kasur lipat, pakaian, selimut, alat mandi, dan sembako sudah berada di posko penanganan bencana Kecamatan Petungkriyono.

  • Cuaca Ekstrem Picu Banjir dan Tanah Longsor di Sejumlah Daerah

    Cuaca Ekstrem Picu Banjir dan Tanah Longsor di Sejumlah Daerah

    7cloud.asia – Cuaca ekstrem dan bencana hidrometeorologi basah terpantau masih melanda sejumlah wilayah di Indonesia di pekan ketiga Februari 2025.

    Tercatat sebanyak 9 kejadian baru yang cukup berdampak terjadi di wilayah Indonesia sepanjang pekan ini, yang sebagian besar disebabkan cuaca ekstrem.

    Di Banten, dilaporkan tanah longsor terjadi di Kabupaten Pandeglang, akibat cuaca ekstrem.

    Akibat kejadian ini, satu orang warga dilaporkan meninggal dunia dan satu orang warga luka ringan. Adapun dampak kerusakan masih dalam pendataan.

    Jawa Barat juga dilaporkan cuaca ekstrem melanda Kabupaten Karawang pada Sabtu (15/2/2025), akibat kejadian ini sebanyak 45 KK atau 145 warga terdampak dan sedikitnya sebanyak 40 unit rumah dan satu fasilitas kesehatan rusak.

    Baca: Cuaca ekstrem picu banjir di Makassar Sulawesi Selatan

    Cuaca ekstrem juga terjadi di Kabupaten Majalengka dan Kabupaten Bandung. Di Majalengka tercatat sebanyak 21 KK dan 59 unit rumah serta 5 fasilitas umum terdampak

    Sedangkan di Kabupaten Bandung, tercatat sebanyak 44 KK dan 44 unit rumah serta 5 fasilitas umum terdampak cuaca ekstrem.

    Selain cuaca ekstrem, Jawa Barat juga dilanda tanah longsor, adapun lokasi kejadian berada di Kabupaten Tasikmalaya dimana tercatat sebanyak 33 KK dan 22 unit rumah terdampak serta 11 unit rumah dilaporkan rusak berat.

    Cuaca ekstrem juga melanda Kabupaten Pati, Provinsi Jawa Tengah, tercatat sebanyak 35 KK dan 35 unit rumah terdampak serta satu fasilitas ibadah, satu tiang listrik dan satu kendaraan roda empat rusak.

    Sementara, banjir yang sebelumnya menerjang Kabupaten Demak dilaporkan sudah mulai surut.

    Baca: Indonesia sedang berada di puncak musim hujan

    Tidak hanya di Jawa Tengah, cuaca ekstrem juga terjadi di Provinsi Jawa Timur, tepatnya di Kabupaten Trenggalek dan dampak ke 23 KK dan 23 unit rumah.

    Di Sumatera, banjir dilaporkan terjadi di Kabupaten Aceh Besar dan Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan dimana 333 KK dan 333 unit rumah terdampak.

    Menghadapi potensi ancaman bahaya hidrometeorologi, BNPB tetap mengimbau pemerintah daerah dan warga untuk tetap waspada dan siap siaga.

    Misalnya untuk mitigasi angin kencang, BPBD dan dinas terkait dapat memangkas ranting-ranting pohon atau warga dapat mengecek kekuatan struktur atap rumah masing-masing.

  • Banjir dan Longsor Sukabumi Akibatkan Satu Warga Tewas dan Tujuh Lainnya Hilang

    Banjir dan Longsor Sukabumi Akibatkan Satu Warga Tewas dan Tujuh Lainnya Hilang

    7cloud.asia – Cuaca ekstrem yang ditandai hujan deras memicu bencana banjir dan tanah longsor kembali melanda Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, pada Kamis dan Jumat (6-7 Februari 2025).

    Bencana banjir dan tanah longsor ini mengakibatkan seorang warga tewas dan tujuh lainnya hingga kini masih dinyatakan hilang.

    “Para korban tersebut berasal dari Kecamatan Simpenan, Lengkong, dan Palabuhanratu,” kata Manajer Pusat Pengendalian Operasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (Pusdalops BPBD) Kabupaten Sukabumi Daeng Sutisna di Sukabumi, Jumat (7/3/2025).

    Adapun rincian korban hilang dan meninggal, yakni di Kecamatan Simpenan satu warga meninggal dunia dan satu lainnya hilang. Kecamatan Lengkong tiga korban hilang, dan Kecamatan Palabuhanratu dua korban hilang.

    Baca: BMKG kembali lakukan modifikasi cuaca

    Menurut Daeng, hingga saat ini tim SAR gabungan masih melakukan pencarian terhadap tujuh korban hilang pada peristiwa bencana banjir dan tanah longsor yang melanda wilayah selatan Kabupaten Sukabumi.

    Untuk jumlah warga yang terdampak bencana masih dalam pendataan, karena data masih terus berkembang. Namun demikian, seluruh daerah yang terdampak banjir dan longsor sudah tertangani.

    Dari pendataan sementara, jumlah kecamatan yang yang terdampak bencana banjir dan longsor yang dipicu oleh cuaca ekstrem, yakni Kecamatan Kadudampit, Curugkembar, Simpenan, Palabuhanratu, Waluran.

    Banjir dan longsor juga dilaporkan terjadi di Bantargadung, Cisaat, Cikembar, Warungkiara, Sagaranten, Lengkong, Jampangtengah, Ciemas, Cimanggu, Pabuaran, Gunungguruh, Cikakak, dan Cisaat.

    Baca: Cuaca ekstrem berpotensi terjadi hingga 10 Maret 2025

    BPBD Kota Sukabumi, Jawa Barat, menyebutkan bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor yang melanda wilayah itu pada 6-7 Maret semakin meluas, yang awalnya sembilan titik menjadi 18 titik.

    “Hingga saat ini dari hasil pendataan petugas di lapangan, jumlah lokasi yang terdampak bencana tersebar di 18 titik,” kata Kepala Pelaksana BPBD Kota Sukabumi Novian Rahmat di Sukabumi, Jumat.

    Novian memaparkan untuk banjir terjadi di 14 titik, Tembok Penahan Tanah (TPT) ambruk di tiga titik, dan longsor di satu titik. Tidak ada korban jiwa pada bencana yang melanda Kamis (6/3/2025) malam hingga Jumat (7/3/2025) dini hari.

    Kemudian untuk data sementara jumlah warga yang terdampak bencana sebanyak 91 jiwa, kata dia, kemungkinan jumlah ini masih akan terus bertambah karena petugas penanggulangan bencana masih melakukan asesmen di lokasi bencana.

  • Tim SAR Gabungan Berhasil Evakuasi 5 Jenazah Korban Longsor Pegunungan Arfak, 14 Lainnya Dinyatakan Hilang

    Tim SAR Gabungan Berhasil Evakuasi 5 Jenazah Korban Longsor Pegunungan Arfak, 14 Lainnya Dinyatakan Hilang

    7cloud.asia – Tim SAR gabungan berhasil mengevakuasi lima jenazah korban banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Kampung Jim, Distrik Catubouw, Kabupaten Pegunungan Arfak, Papua Barat.

    Kepala Badan SAR Nasional (Basarnas) Manokwari Yefri Sabaruddin di Manokwari, Senin (19/5/2025) mengatakan, untuk sementara korban yang meninggal akibat bencana alam tersebut ada enam orang. Sedangkan 14 orang lainnya masih belum berhasil ditemukan.

    “Operasi pencarian hari ketiga menemukan lima korban, jadi totalnya sudah enam orang,” kata dia.

    Dia menyebut evakuasi lima korban berlangsung antara pukul 10.WIT hingga pukul 12.05 WIT, setelah itu dikirim ke Rumah Sakit Bhayangkara Polda Papua Barat di Manokwari untuk dilakukan identifikasi.

    Baca: Cuaca ekstrem picu banjir dan tanah longsor 

    Tim SAR gabungan menghentikan sementara operasi pencarian korban hilang, karena kondisi cuaca di lokasi kejadian membahayakan keselamatan tim.

    “Korban meninggal dunia yang ditemukan sehari sebelumnya, bernama Harun Maidodga. Jenasahnya sudah diserahkan ke pihak keluarga,” ujar Yefri.

    Ia menjelaskan personel yang terlibat dalam operasi berasal dari Basarnas Manokwari 12 orang, 13 personel Kodim 1812/Pegunungan Arfak, dan 28 personel Polres Pegunungan Arfak.

    Kemudian, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Papua Barat 10 orang, BPBD Pegunungan Arfak 3 orang, masyarakat setempat, dan pihak keluarga korban.

    “Jumlah korban ada 24 orang. Empat orang selamat, enam orang meninggal dunia, dan 14 korban masih dalam pencarian,” jelasnya.

    Baca: Tren bencana banjir di Indonesia semakin mengkhawatirkan

    Selain cuaca esktrem, kata dia, keterbatasan alat berat menghambat proses pencarian yang dilakukan oleh tim karena material longsoran berupa lumpur, batu, dan pohon belum bisa dipindahkan.

    Tim SAR gabungan akan melanjutkan operasi pencarian korban pada Selasa (20 Mei 2025) dengan bantuan alat berat yang memudahkan proses pelaksanaan evakuasi secara cepat dan tepat.

    “Setelah menghentikan operasi, seluruh personel kembali ke posko dan melakukan debriefing pada pukul 13.28 WIT,” ucap Yefri.

    Banjir bandang dan tanah longsor di Kampung Jim, Distrik Catubouw, terjadi pada Jumat (16/5/2025) sekira pukul 21.00 WIT karena intensitas curah hujan yang sangat tinggi.

    Luapan air dari daerah hulu menghantam kawasan tempat tinggal sementara para pencari emas tradisional sekitar pukul 21.00 WIT, menghanyutkan tenda dan perlengkapan mereka.

    Baca: Penanganan banjir bandang jadi fokus BNPB

  • Cuaca Ekstrem Picu Banjir dan Tanah Longsor di Sinjai, Ribuan Warga Terdampak

    Cuaca Ekstrem Picu Banjir dan Tanah Longsor di Sinjai, Ribuan Warga Terdampak

    7cloud.asia – Hujan deras sejak Minggu-Senin (6-7 Juli 2025) telah memicu tanah longsor di Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan yang mengakibatkan ratusan warga di lima kecamatan terdampak

    Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sinjai melaporkan ada dua dusun dengan jumlah 180 jiwa terdampak longsor.

    “Longsor terparah berada di Kecamatan Sinjai Barat,” kata Kepala BPBD Sinjai Budiman saat dikonfirmasi wartawan, Selasa lalu.

    Secara akumulatif total korban terdampak mencapai 3.152 atau 893 keluarga, pengungsi 46 jiwa, korban luka berat dua orang, lahan persawahan seluas 179 hektare lebih, dan 22,57 hektare kebun rusak.

    Tiga jembatan penghubung antardesa terputus, 18 saluran irigasi rusak, empat gedung sekolah terdampak serta 6 ekor sapi hanyut dibawa air.

    Adapun lima kecamatan yang terdampak tanah longsor adalah Kecamatan Sinjai Selatan, Bulupoddo, Sinjai Borong, dan Sinjai Barat.

    Baca: Kemarau basah landa Indonesia hingga Agustus 2025

    Lokasi yang terdampak parah, kata dia, berada di Desa Bontolempangan, Sinjai Barat. Jalan sepanjang 100 meter tertimbun material tanah longsor dengan ketebalan 8-10 meter sehingga sulit diakses.

    Selain itu, ada 10 rumah warga tertimbun material tanah tersebar di enam desa pada Kecamatan Sinjai Borong, Sinjai Tengah dan Sinjai Barat. Sejauh ini tim BPBD dan tim gabungan telah melakukan penanganan.

    Data sementara, terdapat dua warga yang terdampak tanah longsor telah dievakuasi dan dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan karena mengalami luka berat.

    Selain itu, dampak kerusakan yang ditimbulkan dari bencana tersebut yakni jembatan penghubung antardesa terputus sehingga sulit diakses. Sejauh ini, warga masih mengungsi dan sebagian lainnya masih terisolasi dan membutuhkan bantuan logistik serta obat-obatan.

    Tim SAR Gabungan terus bekerja membersihkan material longsor yang menutup akses jalan. Tim juga berusaha menyalurkan bantuan kepada masyarakat terdampak.

    Warga diimbau agar tetap hati-hati, waspada dan siaga longsoran susulan di tengah perubahan cuaca tidak menentu.

    Baca: Perubahan iklim membuat banjir akan makin sering terjadi

    Sebelumnya, Analis kebencanaan BPBD Sinjai Andi Octave menyebutkan dampak cuaca ekstrem pada 6-7 Juli 2025 ada ratusan rumah terendam air hingga 1,5 meter. Selain banjir, bencana tanah longsor juga menutupi jalan.

    Di Kecamatan Pulau Sembilan tercatat empat rumah rusak ringan dampak angin puting beliung. Di Kecamatan Sinjai Barat ada delapan titik longsor, dua rumah tertimbun tanah, delapan tiang listrik rubuh dan sebanyak 23 unit rumah mengalami pergerakan tanah.

    Di Kecamatan Sinjai Tengah, tercatat sebanyak 12 titik longsor, ada empat rumah rusak berat, 15 hektare kebun dan 47 hektare sawah terdampak banjir.

    Sedangkan di Kecamatan Sinjai Borong, tercatat tiga rumah rusak, 6 hektare sawah tergenang, jembatan Alenangka–Samaturue terputus.

    Di Kecamatan Sinjai Timur 64 rumah tergenang, 122 hektare sawah terendam dengan 204 jiwa terdampak.

    Di Kecamatan Bulupoddo, dampak longsor di kebun warga dan satu ekor sapi hanyut. Sedangkan di Kecamatan Sinjai Utara, ada tiga kelurahan terdampak banjir, sebanyak 855 unit dengan 3.072 jiwa terdampak.

    Sementara di Kecamatan Tellulimpoe, Jembatan Biroro–Massaile terputus, saluran irigasi 26 meter rusak, serta di Kecamatan Sinjai Selatan Jembatan Puncak–Songing terputus, lima ekor sapi dinyatakan hilang karena dibawa hanyut oleh air.

    Baca: Mendesain kota responsif terhadap banjir