Tag: tanaman

  • PT KAI Daop 2 Bandung Hijaukan Jalur Rawan Longsor dengan Tanaman Akar Wangi

    PT KAI Daop 2 Bandung Hijaukan Jalur Rawan Longsor dengan Tanaman Akar Wangi

    7cloud.asia – PT KAI Daop 2 Bandung memilih tanaman akar wangi atau vetiver, (Chrysopogon zizanioides syn. Vetiveria zizanioides), untuk penghijauan di sepanjang jalur rel di wilayahnya.

    Setidaknya 9.236 tanaman akar wangi ditanam PT KAI di lereng bukit dan jembatan, sejak September 2024 untuk mengantisipasi curah hujan yang mulai tinggi.

    Penanaman tanaman akar wangi atau vetiver ini sebagai upaya antisipasi yang dilakukan dalam penanganan erosi melalui metode bio-engineering/vegetatif.

    Tanaman akar wangi dipilih karena memiliki akar serabut yang tumbuh lurus (bukan menyamping seperti tumbuhan rumput pada umumnya) sehingga mampu mengikat tanah.

    Akar yang dalam berfungsi untuk stabilitas permukaan tanah sedangkan akar dengan susunan yang tebal dan rapat berfungsi untuk menyebarkan air, menahan sedimen dan sangat tahan terhadap berbagai macam bahan kimiawi untuk rehabilitasi lahan.

    Executive Vice President Daerah Operasi 2 Bandung Takdir Santoso mengatakan penanaman akar wangi itu merupakan salah satu langkah antisipatif untuk meminimalisasi gangguan perjalanan kereta api.

    Baca: Heboh tarif KRL naik menjadi Rp25.000

    Selama ini gangguan seperti banjir, tanah longsor, dan pohon tumbang sering muncul saat curah hujan meningkat sehingga perjalanan kereta terhambat.

    “Kami selalu berkomitmen untuk terus bersiaga dan melakukan perbaikan jalur agar perjalanan kereta api di Wilayah Daop 2 Bandung senantiasa lancar dan selamat,” kata Takdir dalam keterangan di Bandung, Sabtu (5/10/2024).

    Takdir mengatakan, Daop 2 sudah melakukan metode bio-engineering ini di lereng bukit pada kanan kiri jalur rel maupun lereng pada jembatan jalur rel KA di berbagai lokasi.

    Salah satunya berada di lereng bukit jalur rel KM 236+1/2 petak jalan Cipeundeuy -Cirahayu, lereng bukit jalur rel KM 239+4/5 petak jalan Cipeundeuy – Cirahayu dan lereng bukit jalur rel KM 243+6/7 petak jalan Cirahayu – Ciawi.

    “Sejak September 2024, hingga saat ini sudah tertanam sebanyak 9.236 buah rumput akar wangi pada daerah tersebut dan terus kami kembangkan di berbagai wilayah lain yang rawan erosi juga ditanam tanaman serupa,” ujar Takdir.

    Daop 2 Bandung juga melakukan normalisasi saluran drainase dari sumbatan sampah serta membuang lumpur keluar ruang milik jalan (Rumija) jalur kereta api.

    Baca: Mengenal satu-satunya stasiun kereta di Boyolali

     

    Selain itu, Daop 2 juga melakukan sterilisasi jalur dari pepohonan dengan memotong dahan pohon yang mengarah ke jalur untuk menghindari terjadinya pohon tumbang di jalur rel yang dapat mengganggu perjalanan kereta api.

    Dia menambahkan, Alat Material Untuk Siaga (AMUS) juga disiapkan di 14 titik yaitu di Stasiun Bandung, Kiaracondong, Cicalengka, Cibatu, Ciawi, Tasikmalaya, Banjar, Cimahi, Padalarang, Cianjur, Cibeber, Rendeh, Purwakarta dan Cibungur.

    AMUS yang disiapkan tersebut berupa pasir dalam kantong karung, bantalan rel, perancah dari besi untuk penahan pondasi jalur, dan lainnya.

    Sejumlah peralatan ringan hingga alat berat seperti Multi Tie Tamper (MTT) juga disiagakan untuk merawat kondisi jalur rel agar tetap laik dilintasi kereta api.

    Upaya antisipasi lainnya, yaitu dengan menyiagakan petugas khusus di titik-titik rawan.

    Petugas tersebut secara bergantian bersiaga selama 24 jam untuk terus memantau daerah rawan gangguan dan dapat langsung melakukan tindakan jika terjadi masalah pada jalur rawan tersebut.

    Sumber:Antaranews.com

  • Waktu Penanaman Jadi Kunci Keberhasilan Penerapan Tanaman Perangkap

    Waktu Penanaman Jadi Kunci Keberhasilan Penerapan Tanaman Perangkap

    7cloud.asia – Dampak perubahan iklim terhadap sektor pertanian antara lain dirasakan dengan semakin ganasnya serangan hama.

    Sebuah laporan menunjukkan bahwa 23 negara bagian di India menyaksikan serangan hama antara tahun 2015-2016 dan 2021-2022.

    Kabar baiknya, pemanfaatan tanaman perangkap merupakan bagian penting dari respons terhadap serangan hama ini.

    Petani umumnya menggunakan kacang hijau dan kacang hitam atau kacang eceng gondok sebagai tanaman perangkap untuk sorgum, sedangkan kacang gude dan kacang eceng gondok lebih disukai untuk kacang tanah.

    Sementara tanaman perangkap seperti jewawut atau kacang panjang umumnya digunakan untuk menanam padi.

    Baca: Pertanian tradisional yang lebih ramah lingkungan kembali dilirik

    “Ada beberapa kombinasi seperti itu yang digunakan petani sebelumnya,” kata Shailaja Gaikwad, seorang petani di India.

    Dia berjuang melawan hama yang menyerang tanaman sorgumnya pada tahun 2022. Mengikuti saran ayah mertuanya untuk membudidayakan kacang eceng gondok atau kacang India sebagai tanaman perangkap.

    Sebuah studi tinjauan yang diterbitkan dalam Applied Soil Ecology pada tahun 2019 mengamati tanaman perangkap yang potensial untuk mengurangi risiko dari spesies nematoda parasit tanaman yang menyebabkan kerusakan signifikan pada berbagai tanaman di seluruh dunia.

    Di Eropa Utara, serangan hama mengakibatkan kehilangan hasil panen mencapai 40 hingga 80 persen untuk sayuran seperti wortel, selada, bawang, dan bit gula.

    Penelitian tersebut menyatakan bahwa tanaman perangkap seperti lobak pakan ternak dapat mengurangi populasi nematoda apabila dilakukan mulsa lebih awal, yaitu proses pemotongan tanaman perangkap sebelum hama yang terperangkap di akar mulai berkembang biak.

    Baca: Tanaman perangkap jadi solusi alternatif pengganti pestisida

    Penelitian itu juga mengungkapkan waktu penanaman memainkan peranan penting dalam penanaman perangkap.

    Uji coba lapangan telah menunjukkan bahwa jika tanaman penutup rumput-polong ditanam pada musim gugur dan dibuat mulsa pada akhir musim semi atau awal musim panas, hal tersebut membantu mengurangi populasi nematoda hingga 90 persen.

    Namun, penundaan dalam menanam tanaman perangkap atau pemberian mulsa dapat meningkatkan jumlah nematoda karena mereka mencapai ambang batas suhu dan berkembang biak.

    Selain itu, kacang-kacangan juga memberikan manfaat tambahan dengan memperkaya tanah dengan nitrogen, yang membantu meningkatkan kesuburan tanah.

    “Tantangan utama dalam merancang sistem tanaman perangkap yang membutuhkan pengetahuan intensif meliputi pemahaman perilaku hama, optimalisasi pemilihan spesies tanaman, dan pengintegrasian sistem ini ke dalam praktik pertanian yang ada,” kata Sarkar.

    Baca: Mengenal teknik pertanian regeneratif untuk memulihkan lahan yang rusak

    Tanaman perangkap yang efektif, katanya, memerlukan pengetahuan mendalam tentang interaksi hama-inang, ekologi kimia senyawa pemikat, dan teknik manipulasi habitat.

    Untuk mengatasi hal ini, ia menyarankan mengidentifikasi makanan tambahan, warna tanaman perangkap, dan bahan kimia pemikat untuk mengembangkan pemikat yang andal bagi hama dan musuh alaminya.

    Yang juga penting adalah “membangun kemitraan dengan pemerintah dan organisasi penelitian untuk memastikan dukungan yang memadai bagi petani dalam mengintegrasikan strategi ini,” tambahnya.

    Banyak petani di Jambhali dan beberapa desa lainnya di India, terutama yang lebih muda, enggan menggunakan tanaman perangkap dan tetap menggunakan pestisida.

    Mereka berharap dapat memaksimalkan hasil panen satu jenis tanaman saja tanpa harus menyediakan lahan untuk tanaman perangkap.

  • Entrepreneur Asal Inggris Ciptakan Cara yang Mampu Menyerap Fosfat yang Cemari Perairan

    Entrepreneur Asal Inggris Ciptakan Cara yang Mampu Menyerap Fosfat yang Cemari Perairan

    7cloud.asia – Seorang wirausahawan dari Inggris memenangkan penghargaan Innovate UK Women in Innovation Award, untuk produk yang mampu mendaur ulang kelebihan fosfat di saluran air.

    Jane Pearce, dari Bath, Sommerset sekitar 156 kilometer sebelah barat kota London, berhasil merancang spons yang terbuat dari 100 persen bahan alami.

    Jika diletakkan dalam air, spon ini dapat menyerap fosfat di area yang kandungan fosfatnya tinggi sehingga dapat memicu pertumbuhan alga berbahaya dan memicu kontaminasi.

    Hasil pengolahan kelebihan fosfat ini selanjutnya bisa digunakan kembali menjadi pupuk di lahan pertanian.

    “Ini semua tentang memulihkan keseimbangan lingkungan dan melakukannya dengan memulihkan dan menggunakan kembali fosfat untuk membersihkan saluran air kita,” kata Pearce, dikutip dari BBC Environment Jumat (7/2/2025).

    Jane Pearce mengatakan dia merasa terhormat memenangkan penghargaan tersebut. Dia tak menyangka akan meraih penghargaan tersebut

    “Saya terkejut saat tahu saya menang, tetapi kini saya merasa terhormat bisa berada di antara wanita hebat lainnya dalam dunia bisnis.” imbuhnya.

    Fosfat merupakan sumber unsur yang banyak digunakan petani untuk menyuburkan tanaman yang ditanamnya.

    Fosfat adalah unsur hara yang penting untuk pertumbuhan tanaman. Fosfat antara lain berperan untuk membantu pertumbuhan akar, membantu pertumbuhan tanaman muda menjadi dewasa, membantu pembungaan dan pembuahan dan membantu fotosintesis

    Saat mendesain alat ini, Pearce menggunakan teknologi untuk menyerap fosfat dari air secara aman dan membuatnya siap digunakan kembali guna mengurangi ketergantungan pada fosfat impor atau tambang.

    Ia mengakui alat ini sangat sederhana, tetapi pihaknya telah berupaya keras untuk mewujudkan alat yang sangat bermanfaat tersebut.

    “Ini akan menciptakan solusi bagi masalah lingkungan yang besar, dan masalah ini sangat dekat dengan tempat tinggal kami di Somerset,” tambahnya.

    Pearce, yang menjalankan Rookwood Operations, juga menerima hadiah sebesar 75.000 pounsterling

    “Elemen keuangan dari penghargaan ini sangat bagus untuk perusahaan rintisan seperti kami,” katanya.

    “Ini akan memungkinkan kami untuk terus maju dengan proyek-proyek lain yang tengah kami kerjakan dan meningkatkan kesadaran terhadap bisnis ini yang akan membantu mempercepat pengembangan usaha kami.”

  • Mengenal Garut: Tanaman Pangan Cadangan Saat Musim Paceklik

    7cloud.asia – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bekerja sama dengan Perhutani
    mengembangkan sistem agroforestri jati (Tectona grandis) dengan tanaman garut (Maranta arundinacea) dengan melibatkan warga Desa Barengkok, Jasinga Bogor Jawa Barat

    Dalam sistem ini tanaman garut ditanam di bawah tegakan pohon jati. Peneliti Pusat Riset Ekologi dan Etnobiologi atau PREE BRIN, Dona Octavia mengatakan, garut dipilih karena mampu tumbuh dengan baik meski berada di bawah naungan lebih dari 50 persen.

    Selain itu tumbuhan berbentuk terna yang menghasilkan umbi yang dapat dimakan ini juga menyimpan banyak manfaat untuk kesehatan.

    “Manfaat umbi garut luar biasa terutama bagi kesehatan, antara lain untuk penderita diabetes dan dispepsia atau maag. Hasil riset kami juga menunjukkan bahwa kandungan antioksidannya cukup tinggi, umbi garut yang kami tanam merupakan Kultivar Creole yang lebih tahan,” paparnya.

    Selama ini garut yang sering juga disebut ararut, atau irut tidak pernah menjadi sumber pangan pokok namun ia kerap ditanam di pekarangan di pedesaan sebagai cadangan pangan dalam musim paceklik.

    Umbi garut, kata Dona, memiliki kandungan nutrisi lengkap dan sumber antioksidan, dengan kandungan protein yang lebih tinggi dibandingkan umbi lainnya. Kaya karbohidrat, serat, dan asam folat, sehingga baik untuk ibu hamil, balita, dan lansia.

    Baca: Mengenal apa itu sistem agroforestri

    “Umbi garut sangat mudah ditanam, bahkan saat disimpan dalam karung dalam waktu lima bulan, ia dapat tumbuh sendiri. Cara penanamannya pun sederhana, misalnya umbi dipotong sekitar 5 centimeter, ditanam mendatar, lalu ditimbun tanah setebal 5 centimeter agar tidak kering oleh sinar matahari langsung,” bebernya.

    Dia menambahkan, di bawah naungan pola agroforestri, tanaman ini mampu tumbuh dengan baik. Menghasilkan umbi yang dapat diolah menjadi tepung pati, emping, keripik, sereal, kukis, dan produk olahan lainnya.

    Dona berharap masyarakat mengetahui cara budidaya tanaman garut, pemanfaatan dan pengolahan hasil panennya agar memiliki nilai tambah dan daya jual tinggi.

    ”Saat ini, produk pangan berbasis umbi garut sudah berkembang di Yogyakarta, Sragen, dan Jawa Tengah,” ungkapnya.

    Dona berharap, Bogor juga bisa mengembangkan lebih lanjut. Kuncinya adalah kolaborasi lintas sektor dalam pengembangan umbi garut, yang tidak hanya bernilai ekonomi tetapi juga berkontribusi pada ketahanan pangan.

    Pada kesempatan yang sama Murniati Peneliti PREE BRIN sebagai Ketua Tim dalam sambutannya menyampaikan, umbi garut berperan dalam mendukung program ketahanan pangan pemerintah.

    Baca: Peran penting serangga dalam menjaga keseimbangan ekosistem

    Dia menjelaskan, kegiatan ini bertujuan untuk mensosialisasikan berbagai manfaat umbi garut serta pengolahannya menjadi produk turunan.

    Dari sekian banyak produk yang dapat dihasilkan, alih teknologi kali ini berfokus pada pengolahan umbi garut menjadi emping dan tepung pati garut.

    Satu setengah tahun lalu, di tempat ini juga telah dilakukan sosialisasi budidaya tanaman garut dalam sistem agroforestri, yakni dengan menanamnya di bawah tegakan pohon Jati.

    “Program ini merupakan kerja sama antara BRIN dan Perhutani KPH Bogor, dengan plot penelitian yang berlokasi di petak 28B, RPH Maribaya, BKPH Parung Panjang, KPH Bogor,” ujarnya.

    Dirinya menambahkan, penelitian tersebut telah selesai, tanaman telah dipanen, dan kini hasilnya dapat dimanfaatkan lebih lanjut.

    “Semoga pelatihan ini memberikan manfaat dan pengolahan umbi garut dapat menjadi nilai tambah bagi masyarakat Barengkok,” ujarnya.

    Baca: Populasi serangga turun signifikan

    Kepala Desa Barengkok Hermawan menyampaikan, kegiatan yang sedang berlangsung merupakan tindak lanjut dari upaya pengelolaan umbi garut yang telah dipanen lima bulan lalu.

    “Melalui sosialisasi dan pelatihan yang diberikan oleh para narasumber, diharapkan peserta dapat memahami proses pengelolaan dan produksi umbi garut hingga berhasil,” harapnya.

    Ia juga menguraikan, sejak lama umbi garut telah menjadi produk unggulan Desa Barengkok, berkat inisiasi BRIN dalam pengembangannya kini kualitasnya semakin meningkat, dan diharapkan masyarakat dapat membudidayakannya secara lebih luas.

    Pada kesempatan yang sama, Kepala BKPH/Asper Parung Panjang Ihsan mengungkapkan harapannya agar masyarakat Desa Barengkok dapat memanfaatkan kesempatan ini untuk memperoleh ilmu dari peneliti BRIN.

    ”Mulai dari teknik budidaya di lahan hutan jati, pengelolaan dan produksi, hingga potensi pasarnya. Dengan demikian, umbi garut diharapkan dapat berkontribusi dalam meningkatkan perekonomian masyarakat,” tuturnya.

    Baca: Peran kupu-kupu dan burung bagi kelestarian lingkungan

  • Tanaman Putri Malu Kaya Senyawa Bioaktif untuk Industri Farmasi

    Tanaman Putri Malu Kaya Senyawa Bioaktif untuk Industri Farmasi

    7cloud.asia – Tanaman putri malu (Mimosa pudica), yang sering dianggap sebagai gulma, ternyata menyimpan potensi besar sebagai sumber senyawa bioaktif untuk industri farmasi dan kosmetik.

    Dosen Departemen Kimia dan Peneliti Pusat Studi Biofarmaka Tropika IPB University, Dr Trivadila, mengungkapkan kandungan senyawa aktif pada daun, batang, dan akar tanaman putri malu memiliki manfaat yang luas, termasuk sebagai antibakteri, antikanker, hingga antioksidan.

    “Tanaman putri malu mengandung berbagai senyawa metabolit sekunder seperti alkaloid, saponin, terpenoid, flavonoid, dan kumarin,” jelasnya dikutip ipb.ac.id.

    Pada bagian daun dan batang putri malu, terkandung flavonoid seperti isoquercitrin, avicularin, apigenin-7-O-D-glikosida, cassiaoccidentalin B, orientin, dan isoorientin.

    Selain itu, terdapat mineral penting seperti magnesium, fosfor, kalsium, nitrogen, dan kalium.

    Baca: Manfaat tanaman meniran untuk kesehatan

    Lebih lanjut, Trivadila memaparkan bahwa daun putri malu juga mengandung senyawa karotenoid, termasuk neoxanthin, violaxanthin, lutein, lycopene, dan karoten, serta tokoferol yang berperan sebagai antioksidan alami.

    Senyawa unik lainnya adalah mimopudine, yang memicu mekanisme membuka daun, dan turgorin, yang memengaruhi gerakan menutup daun saat disentuh.

    “Pada bagian akar, juga ditemukan senyawa asam lemak, protein, sterol, alkaloid, tanin, terpenoid, flavonoid, dan senyawaan fenolik,” tambahnya.

    Beberapa senyawa lainnya di antaranya 2-hydroxymethyl-chroman-4-one dan betulinic acid. Seluruh bagian tanaman juga mengandung asam amino non-protein L-mimosine, serta hormon jasmonic acid dan abscisic acid yang berperan dalam perkembangan dan respon stres tanaman.

    Trivadila menjelaskan, potensi pemanfaatan senyawa-senyawa tersebut terbuka luas, terutama dalam industri farmasi dan kosmetik.

    Baca: 8 Tanaman herbal yang sebaiknya ditanam di pekarangan

    “Ekstrak dan senyawa dari putri malu memiliki aktivitas antibakteri, antifungi, antivirus, antikanker, antidiabetes, antioksidan, hingga antidepresan,” ujarnya.

    L-mimosine, misalnya, dilaporkan memiliki aktivitas sitotoksik yang menjanjikan untuk terapi kanker, sementara senyawa 2-hydroxymethyl-chroman-4-one menunjukkan aktivitas antifungi.

    Meski potensinya besar, proses ekstraksi dan pemurnian senyawa aktif dari putri malu menghadapi sejumlah tantangan. Rendemen hasil ekstraksi sering kali rendah, terutama jika senyawa berada pada bagian akar yang volumenya sedikit.

    Selain itu, proses standardisasi kandungan senyawa aktif memerlukan perlakuan budi daya khusus.

    “Metabolit sekunder biasanya diproduksi oleh tanaman sebagai respons terhadap stres lingkungan. Budi daya yang kurang optimal justru dapat menurunkan bahkan menghilangkan senyawa aktif tersebut,” ucap Trivadila.

    Baca: Garut jadi tanaman pangan cadangan saat musim paceklik

  • BRIN dan UGM Jalin Kerjasama Kembangkan Teknologi Radiasi untuk Pengendalian Hama

    BRIN dan UGM Jalin Kerjasama Kembangkan Teknologi Radiasi untuk Pengendalian Hama

    7cloud.asia – Tim Peneliti Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sepakat menjalin kolaborasi riset pemanfaatan teknologi radiasi nuklir untuk pengendalian lalat buah sebagai hama utama komoditas hortikultura.

    Kolaborasi pemanfaatan teknologi radiasi di bidang perlindungan tanaman, khususnya tanaman buah hortikultura ini untuk mengatasi kendala akibat terserang hama.

    Ketua Program Studi Magister Ilmu Hama Tanaman Faperta UGM, Dr. Suputa, S.P., M.P., mengatakan kolaborasi ini akan fokus pada peningkatan daya saing komoditas hortikultura lokal, terutama salak pondoh sebagai ikon Yogyakarta.

    “Serangan lalat buah menjadi hambatan serius dalam ekspor buah Indonesia,” kata Suputa saat menerima kunjungan tim peneliti BRIN di Joglo Fakultas Pertanian UGM, Sabtu (23/8/2025).

    Baca: Pertanian tradisional yang lebih ramah lingkungan makin dilirik

    Suputa menyebutkan salah satu kasus di tahun 2016, salak yang diekspor ke Australia dimusnahkan karena ditemukan belatung lalat buah. Sejak itu, Australia tidak lagi menerima ekspor salak dari DIY.

    Padahal menurut Suputa, dengan dukungan teknologi nuklir, telur maupun larva lalat buah di dalam salak dapat dimatikan. “Kita harapkan produk buah kita diterima negara mitra dagang,” terangnya.

    Suputa menambahkan, harapan terbesar dari kolaborasi ini adalah meningkatkan devisa negara melalui sektor ekspor sekaligus menjaga keberlangsungan buah lokal.

    Menurut Supta, kolaborasi riset ini bisa menjadi langkah awal yang produktif untuk membangun sinergi riset.

    Riset difokuskan dalam penerapan fitosanitari dan Teknik Serangga Mandul (TSM) berbasis teknologi nuklir, yang bermanfaat bagi peningkatan keamanan pangan dan daya saing komoditas hortikultura Indonesia.

    Baca: Pertanian regeneratif dilirik untuk amankan pasokan pangan dunia

    Perwakilan BRIN, Murni Indarwatmi, menyampaikan bahwa peluang pemanfaatan teknologi nuklir di sektor perlindungan tanaman sangat besar, terutama dalam proses pascapanen untuk memenuhi standar ekspor.

    Murni menambahkan, peluang pemanfaatan teknologi ini besar sekali. Untuk bagian pascapanen, pemanfaatan iradiasi khususnya untuk buah-buahan adalah untuk perlakuan fitosanitari.

    “Dengan iradiasi, radiasi bisa menembus hingga ke dalam buah dan membunuh telur maupun larva hama lalat buah yang tersembunyi,” tuturnya.

    Meski begitu, Murni mengakui masih ada tantangan berupa persepsi masyarakat terkait nuklir yang kerap diasosiasikan dengan bom atau kecelakaan reaktor.

    “Sebenarnya iradiasi ini tidak ada bahan radioaktif yang menempel sama sekali di produk. Dosisnya kecil dan aman, justru memastikan buah yang diekspor bebas dari hama,” pungkasnya.

  • Tanaman Endemik Bali, Palem Nyabah Terancam Punah

    Tanaman Endemik Bali, Palem Nyabah Terancam Punah

    7cloud.asia – Palem nyabah (Pinanga arinasae) yang merupakan palem endemik Bali kini terancam kelestariannya. Habitatnya terbatas di dataran tinggi, seperti Bedugul dan Jatiluwih sehingga tanaman ini penting untuk dilestarikan.

    Selain berfungsi sebagai tanaman hias, daun palem nyabah juga dimanfaatkan sebagai bahan upacara adat Hindu di Bali. Daunnya yang masih muda dapat dikonsumsi, dan buahnya sebagai pengganti pinang.

    Dilansir brin.go.id, peneliti Pusat Riset Botani Terapan (PRBT), Organisasi Riset Hayati dan Lingkungan (ORHL), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arief Priyadi memaparkan upaya pelestarian palem nyabah ini.

    Sebagai upaya konservasi, para periset Kelompok Riset Genetika Tumbuhan, Pusat Riset Botani Terapan (PRBT), menggunakan genome sequencing atau pengurutan genom demi menjaga kelestarian palem nyabah.

    Arief memaparkan bahwa genome sequencing adalah proses pembacaan seluruh informasi genetik atau asam deoksiribonukleat (ADN/DNA) yang terkandung dalam organisme.

    Baca: Tantangan konservasi tumbuhan dan pohon langka di Indonesia

    “Bagi palem nyabah, metode ini bukan sekadar riset akademis, melainkan upaya mendesak untuk memahami fondasi biologisnya yang belum pernah dilakukan sebelumnya pada tanaman ini,” imbuhnya.

    Metode pengurutan genom palem nyabah dilakukan dengan mengambil sampel daun segar pada tanaman.

    Hal ini diperlukan mendapatkan sekuen yang kemudian dianotasi (diberi keterangan) dan disimpan di repositori GenBank, National Center for Biotechnology Information (NCBI) sehingga bisa diakses oleh publik internasional.

    Dengan demikian semua pihak yang memerlukannya bisa mengakses dan mengunduh sekuen tersebut dalam format standar, seperti fasta, genbank, dan rangkumannya.

    Pengguna dapat melakukan analisis ulang ataupun membandingkan dengan data serupa yang dimilikinya.

    Penerapan pengurutan genom merupakan langkah nyata dan memiliki manfaat dalam identifikasi keragaman hayati. Selain itu, juga optimalisasi metode konservasi, dan menjadi basis data ilmiah terstruktur sebagai cetak biru dalam bank data digital abadi.

    Baca: Budidaya tanaman tengkawang di Kalimantan Barat

    “Jika populasi di alam liar terancam kepunahan, cetak biru genetiknya tetap tersimpan sebagai referensi ilmiah untuk potensi reintroduksi di masa depan”, tambahnya.

    Hal senada diungkapkan oleh Ni Putu Sri Asih, Periset PRBT. Ia menerangkan bahwa genom kloroplas Pinanga arinasae telah berhasil dikarakterisasi dan dibandingkan dalam subfamili Arecoideae.

    Lebih lanjut Asih mengatakan bahwa temuan ini membantu menjembatani kesenjangan pengetahuan dalam filogenetika palem.

    Penanda molekuler yang dihasilkan dapat menjadi alat yang hemat biaya untuk menilai keanekaragaman genetik serta mendukung upaya konservasi dan pemanfaatan berkelanjutan.

    “Dengan pembacaan seluruh informasi genetik atau ADN/DNA pelem nyabah, diharapankan dapat bermanfaat untuk studi dan pemanfaatan lebih lanjut untuk kelestarian tanaman ini,” tutupnya.

    Baca: Hutan di kawasan Gunung Ciremai rawan terdegradasi

  • BRIN Sukses Mengidentifikasi Subspesies Baru Tanaman Bisbul Asal Papua

    BRIN Sukses Mengidentifikasi Subspesies Baru Tanaman Bisbul Asal Papua

    7cloud.asia – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berhasil mengidentifikasi subspesies baru tanaman bisbul (Diospyros blancoi) asal Papua yang diberi nama Diospyros blancoi subsp. papuensis.

    Tanaman bisbul merupakan tanaman buah tropis yang memiliki nilai ekonomi dan manfaat dalam pengobatan tradisional. Spesies ini umumnya tersebar di Filipina dan beberapa wilayah Asia Tenggara, namun sebelumnya tidak tercatat secara resmi di Papua.

    Tumbuhan ini berkerabat dengan kesemek dan kayu hitam. dapat tumbuh hingga ketinggian 15–32 meter. Diameter batangnya dapat mencapai 80 cm.

    Berbatang lurus, dengan pepagan berwarna hitam atau kehitaman, diameter hingga 50 cm atau lebih di pangkal batang, bercabang kurang lebih mendatar dan bertingkat, dengan tajuk keseluruhan berbentuk kerucut yang lebat dan rapat daun-daunnya sehingga gelap di bagian dalamnya.

    Hasil penelitian BRIN telah dipublikasikan dengan judul: “Discovery of a New Subspecies of Diospyros blancoi A. DC. through Phenetic and Phylogenetic Analyses”, dapat diakses melalui jurnal Egyptian Journal of Botany.

    Baca: Tantangan Konservasi Tumbuhan Langka di Indonesia

    Mereka yang tertarik dapat mengakses laporan BRIN ini melalui https://ejbo.journals.ekb.eg/article_491898.html

    Peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, Irvan Fadli Wanda dalam keterangan di Jakarta, Selasa (21/4/2026) mengungkapkan tim menganalisis sebanyak 93 karakter morfologi subspesies tersebut, yang terdiri dari 53 karakter vegetatif dan 40 karakter generatif.

    Hasilnya menunjukkan adanya variasi signifikan pada 32 karakter, terutama pada bagian buah dan biji, yang menjadi kunci dalam membedakan populasi dari Papua dengan populasi dari Filipina.

    “Subspesies dari Papua memiliki jumlah biji lebih banyak, berkisar 5–10 biji per buah, dengan bentuk biji menyerupai irisan (wedge-shaped), serta kepadatan rambut pada permukaan buah yang lebih rendah dibandingkan dengan populasi dari Filipina,” kata Irvan.

    Selain analisis morfologi, kata Irvan, penelitian ini juga menggunakan pendekatan molekuler melalui penanda DNA, yaitu gen matK dan psbA-trnH.

     

    Baca: Tanaman Endemik Bali, Palem Nyabah Terancam Punah

    Hasil analisis filogenetik menunjukkan bahwa populasi dari Papua membentuk kelompok tersendiri yang berbeda secara genetik dari populasi lainnya, sehingga mendukung penetapan sebagai subspesies baru.

    “Pendekatan kombinasi antara morfologi dan data molekuler memberikan bukti yang kuat bahwa populasi dari Papua memiliki jalur evolusi yang berbeda, sehingga layak ditetapkan sebagai subspesies baru,” ujarnya.

    Menariknya, menurut dia, spesimen yang menjadi bagian dari kajian ini juga merupakan koleksi Kebun Raya Bogor, yang berperan penting sebagai pusat konservasi tumbuhan dan sumber data ilmiah bagi penelitian biodiversitas di Indonesia.

    Penelitian juga menunjukkan bahwa variasi morfologi pada tanaman ini dipengaruhi oleh faktor lingkungan, seperti intensitas cahaya dan kondisi habitat, serta faktor genetik yang mengatur karakter reproduktif yang lebih stabil.

    Penemuan subspesies baru ini menegaskan pentingnya integrasi pendekatan morfologi dan molekuler dalam kajian taksonomi.

    Selain itu, hasil penelitian ini juga diharapkan dapat mendukung upaya konservasi dan pemanfaatan keanekaragaman hayati Indonesia secara berkelanjutan.