7cloud.asia – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bekerja sama dengan Perhutani
mengembangkan sistem agroforestri jati (Tectona grandis) dengan tanaman garut (Maranta arundinacea) dengan melibatkan warga Desa Barengkok, Jasinga Bogor Jawa Barat
Dalam sistem ini tanaman garut ditanam di bawah tegakan pohon jati. Peneliti Pusat Riset Ekologi dan Etnobiologi atau PREE BRIN, Dona Octavia mengatakan, garut dipilih karena mampu tumbuh dengan baik meski berada di bawah naungan lebih dari 50 persen.
Selain itu tumbuhan berbentuk terna yang menghasilkan umbi yang dapat dimakan ini juga menyimpan banyak manfaat untuk kesehatan.
“Manfaat umbi garut luar biasa terutama bagi kesehatan, antara lain untuk penderita diabetes dan dispepsia atau maag. Hasil riset kami juga menunjukkan bahwa kandungan antioksidannya cukup tinggi, umbi garut yang kami tanam merupakan Kultivar Creole yang lebih tahan,” paparnya.
Selama ini garut yang sering juga disebut ararut, atau irut tidak pernah menjadi sumber pangan pokok namun ia kerap ditanam di pekarangan di pedesaan sebagai cadangan pangan dalam musim paceklik.
Umbi garut, kata Dona, memiliki kandungan nutrisi lengkap dan sumber antioksidan, dengan kandungan protein yang lebih tinggi dibandingkan umbi lainnya. Kaya karbohidrat, serat, dan asam folat, sehingga baik untuk ibu hamil, balita, dan lansia.
Baca: Mengenal apa itu sistem agroforestri
“Umbi garut sangat mudah ditanam, bahkan saat disimpan dalam karung dalam waktu lima bulan, ia dapat tumbuh sendiri. Cara penanamannya pun sederhana, misalnya umbi dipotong sekitar 5 centimeter, ditanam mendatar, lalu ditimbun tanah setebal 5 centimeter agar tidak kering oleh sinar matahari langsung,” bebernya.
Dia menambahkan, di bawah naungan pola agroforestri, tanaman ini mampu tumbuh dengan baik. Menghasilkan umbi yang dapat diolah menjadi tepung pati, emping, keripik, sereal, kukis, dan produk olahan lainnya.
Dona berharap masyarakat mengetahui cara budidaya tanaman garut, pemanfaatan dan pengolahan hasil panennya agar memiliki nilai tambah dan daya jual tinggi.
”Saat ini, produk pangan berbasis umbi garut sudah berkembang di Yogyakarta, Sragen, dan Jawa Tengah,” ungkapnya.
Dona berharap, Bogor juga bisa mengembangkan lebih lanjut. Kuncinya adalah kolaborasi lintas sektor dalam pengembangan umbi garut, yang tidak hanya bernilai ekonomi tetapi juga berkontribusi pada ketahanan pangan.
Pada kesempatan yang sama Murniati Peneliti PREE BRIN sebagai Ketua Tim dalam sambutannya menyampaikan, umbi garut berperan dalam mendukung program ketahanan pangan pemerintah.
Baca: Peran penting serangga dalam menjaga keseimbangan ekosistem
Dia menjelaskan, kegiatan ini bertujuan untuk mensosialisasikan berbagai manfaat umbi garut serta pengolahannya menjadi produk turunan.
Dari sekian banyak produk yang dapat dihasilkan, alih teknologi kali ini berfokus pada pengolahan umbi garut menjadi emping dan tepung pati garut.
Satu setengah tahun lalu, di tempat ini juga telah dilakukan sosialisasi budidaya tanaman garut dalam sistem agroforestri, yakni dengan menanamnya di bawah tegakan pohon Jati.
“Program ini merupakan kerja sama antara BRIN dan Perhutani KPH Bogor, dengan plot penelitian yang berlokasi di petak 28B, RPH Maribaya, BKPH Parung Panjang, KPH Bogor,” ujarnya.
Dirinya menambahkan, penelitian tersebut telah selesai, tanaman telah dipanen, dan kini hasilnya dapat dimanfaatkan lebih lanjut.
“Semoga pelatihan ini memberikan manfaat dan pengolahan umbi garut dapat menjadi nilai tambah bagi masyarakat Barengkok,” ujarnya.
Baca: Populasi serangga turun signifikan
Kepala Desa Barengkok Hermawan menyampaikan, kegiatan yang sedang berlangsung merupakan tindak lanjut dari upaya pengelolaan umbi garut yang telah dipanen lima bulan lalu.
“Melalui sosialisasi dan pelatihan yang diberikan oleh para narasumber, diharapkan peserta dapat memahami proses pengelolaan dan produksi umbi garut hingga berhasil,” harapnya.
Ia juga menguraikan, sejak lama umbi garut telah menjadi produk unggulan Desa Barengkok, berkat inisiasi BRIN dalam pengembangannya kini kualitasnya semakin meningkat, dan diharapkan masyarakat dapat membudidayakannya secara lebih luas.
Pada kesempatan yang sama, Kepala BKPH/Asper Parung Panjang Ihsan mengungkapkan harapannya agar masyarakat Desa Barengkok dapat memanfaatkan kesempatan ini untuk memperoleh ilmu dari peneliti BRIN.
”Mulai dari teknik budidaya di lahan hutan jati, pengelolaan dan produksi, hingga potensi pasarnya. Dengan demikian, umbi garut diharapkan dapat berkontribusi dalam meningkatkan perekonomian masyarakat,” tuturnya.
Baca: Peran kupu-kupu dan burung bagi kelestarian lingkungan
Leave a Reply