Tag: udara

  • Menanam Vegetasi Penyerap Polutan, Alternatif Atasi Polusi Udara

    Menanam Vegetasi Penyerap Polutan, Alternatif Atasi Polusi Udara

    7cloud.asia – Polusi udara masih terjadi terutama di kota-kota besar. Salah satu upaya mengatasinya dengan menanam vegetasi penyerap polutan.

    Direktur Pengendalian Pencemaran Udara Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Luckmi Purwandari menjelaskan tak hanya adanya  tanaman penyerapan polutan tetapi perlu adanya Ruang Terbuka Hijau (RTH).

    “Khususnya untuk perbaikan kualitas udara di perkotaan ini tadi contohnya, salah satunya untuk mengurangi pencemaran udara dari kendaraan bermotor,” jelas Luckmi seperti yang dilansir Antaranews.

    “Berikutnya untuk RTH penyerap polutan di daerah-daerah yang padat penduduk, yang padat kendaraan bagaimana melakukan mitigasi untuk perbaikan kualitas udara,” lanjutnya.

    Baca: Dinas kehutanan Kalsel tanam 1500 pohon kayu putih

    Memang di wilayah perkotaan sering dijumpai adanya keterbatasan lahan. Karena itu, dapat diatasi dengan memperbanyak penanaman di pot-pot.

    “Jadi tidak mesti RTH itu seperti taman yang indah, tidak mesti. Yang penting tanamannya adalah menyerap polutan. Ini suatu terobosan untuk menjadi salah satu contoh kegiatan yang bisa dilakukan oleh pemerintah daerah dalam meningkatkan indeks reponsnya di dalam Program Langit Biru,” urainya.

    Pihaknya, lanjut Luckmi sudah mendata jenis-jenis yang dapat menyerap polutan melalui petunjuk teknis (juknis) tengah disusun dan dibahas oleh pakar untuk memastikan manfaat dan tidak membahayakan lingkungan.

    “Akan terus dilakukan kajian lagi untuk kelanjutannya ,tetapi penyerapan polutan ini paling tidak juga untuk memberikan suasana di perkotaan yang padat penduduk lebih teduh, tentu mengurangi panas, juga bisa menyerap CO2, paling tidak itu sudah bisa dilakukan,” terangnya.

    Baca: Pemkot Cirebon kembangkan urban farming

    Sementara itu, pakar tanaman hutan kota, Prof. Endes N Dahlan mengatakan tanaman pepohonan sangat efektif dalam menyerap polutan yang menyebabkan polusi udara dibandingkan tanaman jenis lain.

    “Mawar, anggrek, lidah mertua juga bisa, tapi tidak setinggi tanaman pepohonan kemampuan serapan polutannya,” ujarnya.

    Tanaman yang dapat menyerap polutan sangat tinggi, ujarnya adalah tanaman pepohonan yang berdaun banyak dan diameter daunnya cukup lebar, contohnya pohon trembesi atau disebut juga pohon hujan.

    “Semua daun bisa menyerap dan menjerap. Tapi jumlah daunnya banyak tidak? Luas tidak?,” tegasnya.

    Baca: Mitigasi perubahan iklim dengan tanam pohon serentak

    Dalam menyerap polutan tersebut, tanaman pada umumnya memiliki dua fungsi, yaitu menyerap polusi yang berbentuk gas dan menjerap polutan yang berbentuk debu. Semua dedaunan, kata dia dapat menyerap polutan yang berbentuk gas.

    Tetapi jika konsentrasi polutannya terlalu tinggi, maka tanaman tersebut akan mati keracunan.

    Karena itu, sebaiknya tanaman tersebut perlu ditanam jauh sebelum konsentrasi gas polutan di udara terlalu tinggi.

    Saat berhadapan dengan polutan debu, tanaman juga memiliki fungsi menjerap partikel debu tersebut.

    Baca: Pemprov DKI tanam 200 pohon langka

    Tanaman akan menjerap partikel debu yang terbawa angin sementara waktu. Partikel debu tersebut akan luruh ketika tanaman diguyur hujan.

    Tanaman yang memiliki daya jerap cukup tinggi adalah tanaman yang bentuk daunnya berlekuk-lekuk tidak licin, contohnya daun jambu, kata dia.

     Reporter: Nurakhmayani

     

  • Mulai Kemarau, Suhu Udara di Kota Ini Capai 35 Derajat Celsius

    Mulai Kemarau, Suhu Udara di Kota Ini Capai 35 Derajat Celsius

    7cloud.asia – Sejumlah Kota di Indonesia mulai memasuki musim kemarau. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan suhu udara meningkat,

    Bahkan di Kota Serang, Banten suhu udara diperkirakan mencapai 35 derajat Celsius pada Rabu (29/05/2024).

    Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan cuaca di Kota Serang cerah pada pagi hari.

    Kemudian diprediksi terjadi hujan ringan pada siang hari. Lalu malam harinya diperkirakan berawan.

    Baca Juga: Beragam Dampak Positif Program Kampung Iklim

    Memang memasuki musim kemarau BMKG memperkirakan sebagian besar kota di Indonesia cerah berawan.

    Namun demikian, peluang hujan dengan intensitas ringan masih saja terjadi di sejumlah kota.

    Seperti Kota Bengkulu, Banjarmasin, Tanjung Pinang, Ambon, Jayapura, Kendari, Manado dan Padang yang diperkirakan terjadi hujan dengan intensitas ringan.

    Kondisi cuaca serupa juga diperkirakan terjadi di Kota Bengkulu, Jayapura, Padang dan Medan pada malam hari.

    Baca Juga: Perubahan Iklim Bebani Penduduk Miskin di Pesisir Jakarta

    Suhu udara berkisar antara 20 hingga 35 derajat celsius. Suhu terendah diperkirakan terjadi di Kota Bandung.

    Sementara di wilayah Jakarta, BMKG memperkirakan seluruh wilayah cerah berawan seharian.

    Suhu udara berkisar antara 24 hingga 32 derajat celsius dengan tingkat kelembaban antara 65 hingga 95 persen.

     

  • Musim Kemarau, Tapi Udara Terasa Dingin? Ini Penyebabnya

    Musim Kemarau, Tapi Udara Terasa Dingin? Ini Penyebabnya

    7cloud.asia – Beberapa pekan terakhir ini udara dingin kerap dirasakan oleh warga di sejumlah wilayah di Indonesia. Padahal saat ini tengah memasuki musim kemarau. Hal ini akibat adanya fenomena bediding.

    Dari laman resmi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) fenomena bediding adalah kondisi di mana suhu lingkungan terasa lebih dingin dari biasanya, khususnya di wilayah Indonesia bagian selatan, termasuk Jawa.

    Fenomena bediding ditandai dengan rendahnya intensitas hujan. Kurangnya tutupan awan menyebabkan radiasi panas dari permukaan bumi tidak terperangkap, sehingga suhu udara menjadi lebih dingin.

    Baca: Wisatawan berburu embun beku di dataran tinggi Dieng

    Fenomena ini terjadi selama musim kemarau, ketika angin monsun timuran membawa udara kering dan dingin. Munculnya angin monsun ini karena 4 faktor, yaitu udara kering, langit cerah, dan topografi.

    Di Pulau Jawa, suhu terendah yang tercatat selama fenomena bediding bisa mencapai sekitar 11-15°C. Suhu dingin yang ekstrem ini akan mencapai puncaknya pada Agustus nanti.

    Fenomena bediding umum terjadi di Indonesia, khususnya di wilayah yang berdekatan dengan khatulistiwa hingga bagian utara.

    Baca: Mengenal fenomena embun es di Dieng dan dampaknya

    Pada wilayah ini, pada pagi hari udara cenderung lebih dingin dari biasanya. Kemudian siang harinya udara akan terasa lebih panas.

    Tak hanya di Pulau Jawa, fenomena bediding juga terjadi di daerah dataran tinggi di Indonesia bagian selatan lainnya, seperti Bali, NTB dan NTT.

     

     

  • Tak Hanya Pada Manusia, Fenomena Bediding Juga Berdampak Pada Pertanian dan Peternakan

    Tak Hanya Pada Manusia, Fenomena Bediding Juga Berdampak Pada Pertanian dan Peternakan

    7cloud.asia – Udara yang terasa lebih dingin akibat adanya fenomena bediding beberapa minggu terakhir ini berdampak buruk pada sektor pertanian dan peternakan.

    Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat beberapa fakta penting tentang dampak fenomena perubahan udara menjadi lebih dingin pada pagi serta malam hari ini terhadap pertanian dan peternakan.

    Seperti yang terjadi di dataran tinggi Dieng, Banjarnegara, Jawa Tengah. Di tempat ini setiap musim kemarau terjadi fenomena embun es atau frost.

    Kondisi ini dapat merusak tanaman, menyebabkan layu atau bahkan kematian tanaman sehingga berdampak pada hasil panen serta kesejahteraan petani.

    Baca: Musim kemarau, udara terasa lebih dingin? Ini penyebabnya

    Untuk mengatasi embun es ini, petani dapat mengupayakan berbagai cara untuk melindungi tanamannya.

    Misalnya dengan menutupi tanaman dengan plastik atau kain pada malam hari untuk melindungi dari embun es.

    Upaya lainnya adalah dengan menyemprotkan air ke tanaman pada pagi hari. Hal ini dilakukan untuk memecah embun es serta menjaga tanaman agar tidak kering karena udara dingin.

    Tak hanya petani. Peternak pun ikut terdampak dengan fenomena bediding. Hewan ternak mereka terancam mati akibat udara yang dingin ekstrem.

    Hewan ternak yang paling rentan terhadap cuaca dingin ekstrem adalah  unggas. Karena itu peternak harus mengantisipasinya.

    Baca: Dampak fenomena bediding bagi kesehatan

    Salah satu caranya adalah dengan memastikan hewan ternaknya mendapatkan perlindungan yang cukup dari suhu dingin.

    Pastikan kandang hewan hangat dan nyaman serta memiliki ventilasi yang baik. Jika perlu sediakan sumber panas di kandang hewan.

    Dengan demikian hewan ternak terlindungi dari angin dingin terutama pada malam dan pagi hari.

    Seperti yang diberitakan sebelumnya, fenomena bediding adalah kondisi di mana suhu lingkungan terasa lebih dingin dari biasanya, khususnya di wilayah Indonesia bagian selatan, termasuk Jawa.

    Baca: Dampak fenomena embun es bagi pertanian

    Fenomena bediding ditandai dengan rendahnya intensitas hujan. Kurangnya tutupan awan menyebabkan radiasi panas dari permukaan bumi tidak terperangkap, sehingga suhu udara menjadi lebih dingin.

    Fenomena ini terjadi selama musim kemarau, ketika angin monsun timuran membawa udara kering dan dingin.

    Penulis: Nurakhmayani/berbagai sumber

  • Jakarta Peringkat Ketiga Kualitas Udara Terburuk di Dunia

    Jakarta Peringkat Ketiga Kualitas Udara Terburuk di Dunia

    7cloud.asia – Kota Jakarta menempati peringkat ketiga dengan kualitas udara terburuk di dunia pada Selasa (06/08/2024) pagi.

    Berdasarkan situs pemantau kualitas udara IQAir pada pukul 05.18 WIB, indeks kualitas udara (AQI) di Jakarta berada di urutan ke-3 dengan angka 134.

    Angka ini termasuk dalam kategori tidak sehat dengan polusi udara PM2,5 dan nilai konsentrasi 49 mikrogram per meter kubik. Dengan kondisi udara seperti ini, kualitas udara tidak sehat bagi kelompok sensitif.

    Sebab karena dapat merugikan manusia ataupun kelompok hewan yang sensitif atau bisa menimbulkan kerusakan pada tumbuhan ataupun nilai estetika.

    Baca: Paparan polusi udara sebabkan jantung

    Sementara kota dengan kualitas udara terburuk peringkat pertama yaitu Kinshasa, Kongo-Kinshasa di angka 170, peringkat kedua Baghdad, Iraq di angka 153.

    Peringkat keempat Kampala, Uganda di angka 131, kelima Cairo City, Mesir di angka 113, keenam Nairobi, Kenya di angka 102, ke tujuh Riyadh, Arab Saudi di angka 97,

    Peringkat ke delapan Dubai, Uni Emirat Arab di angka 97, ke sembilan Kuwait City, Kuwait di angka 93, dan ke sepuluh Manama, Bahrain di angka 84.

    Sebelumnya Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta sebelumnya telah melakukan berbagai upaya untuk menangani masalah polusi udara di Jakarta.

    Diantaranya memperbanyak Stasiun Pemantauan Kualitas Udara (SPKU) untuk mengidentifikasi sumber polusi udara di Jakarta sehingga penanganan masalah tersebut bisa maksimal.

    Baca: Polusi udara di Jakarta tinggi, anak-anak sebaiknya banyak makan buah

    Selain itu DLH DKI menambah dua mobil kabut air (watermist). Mobil tersebut beroperasi mengelilingi Jakarta untuk melanjutkan kegiatan penyiraman di jalan-jalan protokol.

    Mobil ini memiliki kemampuan menyiram dengan jangkauan 50 meter dan kapasitas tanki air 5.000 liter.

    Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Asep Kuswanto menjelaskan kebijakan terkait pengoperasian “watermist” ini akan dimasukkan dalam susunan rancangan peraturan gubernur agar lebih kuat secara regulasi.

    “Ke depannya untuk kebijakan ‘watermist’ itu kami akan coba dikuatkan dengan peraturan gubernur,” katanya seperti yang dilansir Antaranews.

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

  • Cemari Udara di Sekitarnya, Pabrik Tekstil di Bandung Barat Didesak Tutup Sementara

    Cemari Udara di Sekitarnya, Pabrik Tekstil di Bandung Barat Didesak Tutup Sementara

    7cloud.asia – Puluhan warga yang mayoritas mengenakan masker berunjuk rasa di depan pabrik tekstil, PT. Mahugi Jaya Sejahtera, Jalan Raya Batujajar, Bandung Barat Regency, Jawa Barat pada Sabtu (18/10/2025) siang.

    Mereka menuntut penghentian operasional pabrik untuk sementara karena mencemari udara dan membahayakan warga sekitar yang bermukim di wilayah tersebut.

    “Bau limbah pabrik. Kami kena imbasnya sudah 10 bulan. Bermacam-macam cara sudah ditempuh. Mulai bikin surat keluhan langsung secara resmi. Kita dimediasi. Tapi sampai hari ini nggak ada solusinya,” jelas Miftah, koordinator aksi kepada 7cloud.asia.

    Baca: Butuh Waktu Berbulan-bulan Tangani Pencemaran Cesium 137 di Serang Banten

    Sebenarnya, lanjut Miftah, pada Januari 2025, ada mediasi pihak perusahaan dan warga yang dihadiri oleh muspida Bandung Barat. Mediasi itu menghasilkan beberapa butir perjanjian.

    Diantaranya adalah jika terjadi pousi udara kembali dan warga dapat memberikan bukti yang jelas, maka perusahaan itu harus berhenti sampai polusi itu benar-benar tidak ada.

    “Tapi itu tidak pernah dilaksanakan,” kata Miftah.

    Selanjutnya Miftah mengungkapkan polusi udara ini menyebabkan banyak korban. Umumnya mereka terkena Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA), bahkan beberapa diantaranya harus menjalani perawatan di rumah sakit.

    Baca: Pencemaran Logam Berat di Laut Sangihe Tak Hanya Mengancam Ekosistem

    Seperti yang dialami oleh seorang ibu, warga setempat. Dia mengungkapkan anaknya yang masih kecil terpaksa harus dirawat di rumah sakit karena terpapar polusi udara.

    Bantu kami, kesehatan kami. Sudah lama asap mengepul, gelap, bau.

    “Saya sedih sebagai warga karena menimpa keluarga saya, anak saya sampai harus dirawat karena ISPA. Harusnya perusahaan cari solusinya biar tidak bau menyengat, mencemari lingkungan,” kata seorang ibu sambil menangis.

    Mereka berharap pihak perusahaan dapat segera mencari solusi agar tidak ada lagi pencemaran udara. Salah satunya mereka dapat belajar ke perusahaan lain atau menggunakan tenaga ahli dalam mengatasi polusi udara, sehingga tidak merugikan warga.