7cloud.asia – Potensi wisata dan ekonomi Maluku masih belum tergarap maksimal hingga kini karena tingginya biaya akses transportasi.
Padahal, Maluku memiliki kekayaan alam dan budaya yang sangat beragam, mulai dari tujuan wisata bahari, kuliner khas daerah, hingga potensi industri perikanan yang besar.
“Kalau tiket pesawat ke Maluku mahal, bagaimana wisatawan mau datang? Padahal sektor pariwisata bisa menjadi sumber pendapatan daerah yang signifikan. Maka, biaya transportasi menjadi persoalan yang harus segera dicarikan solusinya,” ujar Wakil Ketua Komisi VII DPR Lamhot Sinaga usai kunjungan kerja ke Ambon, Rabu (11/6/2025).
Lebih lanjut ia mengungkapkan bahwa tingginya harga tiket pesawat tidak hanya terjadi di Maluku, tetapi juga di berbagai daerah lain di Indonesia.
Ia menilai, kondisi ini dipicu oleh berbagai faktor teknis seperti harga avtur, biaya penggunaan terminal bandara, hingga tarif parkir pesawat yang tinggi.
“Kami sedang mengkoordinasikan dengan berbagai pihak, termasuk maskapai penerbangan, pengelola bandara, hingga Kementerian Perhubungan agar ada formulasi yang dapat menekan ongkos transportasi udara ini,” tambahnya.
Maka dari itu, pemerintah kini tengah mendorong agar maskapai memberikan harga tiket yang lebih terjangkau demi mendorong pertumbuhan sektor pariwisata nasional.
“Presiden Prabowo sudah menegaskan agar maskapai diberikan kemudahan sehingga harga tiket pesawat bisa dijangkau masyarakat. Karena kalau tiket tetap mahal, sektor pariwisata kita tidak akan optimal,” jelasnya.
Selain persoalan transportasi, Lamot mengungkapkan bahwa Komisi VII mendorong penguatan sektor ekonomi kreatif dan pengembangan potensi kuliner lokal Maluku sebagai bagian dari strategi soft power daerah.
Maluku dinilai memiliki kekayaan kuliner yang khas, namun belum sepenuhnya dikelola sebagai daya tarik utama bagi wisatawan mancanegara.
“Kalau kita ke Jepang, kita tahu mau cari makanan khas apa. Di Maluku sebenarnya banyak makanan tradisional yang memiliki keunikan, tapi belum dikembangkan secara serius. Ini potensi ekonomi yang juga harus digarap,” kata politisi Partai Golkar ini.
Dalam pertemuan tersebut, Lamhot juga menyoroti pentingnya mendorong hilirisasi industri perikanan di Maluku.
Ia mengungkapkan bahwa selama ini, hasil laut Maluku masih banyak diekspor dalam bentuk bahan mentah tanpa ada pengolahan di daerah.
Maka dari itu, ia berharap ke depannya, ada percepatan pembangunan industri pengolahan ikan di Maluku agar nilai tambah bisa dinikmati masyarakat setempat.
Komisi VII DPR ingin paradigma Jawa-sentris dalam pembangunan harus diubah. Pemerataan pembangunan di 38 provinsi, termasuk Maluku, menjadi prioritas.
“Pemerintah pusat bersama DPR harus hadir untuk mendorong tumbuhnya investasi, industri, pariwisata, dan ekonomi kreatif di sini,” pungkasnya.
7cloud.asia – TransJakarta memperkenalkan program baru yakni ‘Open Top Tour of Jakarta’ sebagai layanan wisata baru menggunakan bus tingkat berkonsep atap terbuka.
Program ‘Open Top Tour of Jakarta’ ini ditujukan bagi warga Jakarta, wisatawan domestik, maupun wisatawan mancanegara yang ingin menikmati ibu kota dari perspektif berbeda.
Lewat program ‘Open Top Tour of Jakarta’ ini wisatawan berkesempatan mengakrabi landmark Jakarta dalam sudut pandang baru dalam wisata perkotaan yang memadukan budaya, sejarah, dan kehidupan kota modern.
Rute perdana program ‘Open Top Tour of Jakarta’ ini merupakan hasil kolaborasi dengan Brightspot bertajuk Jakarta Skyline, yang mengeksplorasi area Sudirman hingga Bundaran HI.
Kolaborator kedua adalah Sarinah melalui rute Jakarta Heritage, yang membawa penumpang melewati berbagai lokasi bersejarah seperti Bundaran HI, Museum Nasional, dan Sarinah sebagai pusat perbelanjaan legendaris di Jakarta.
Buat kamu yang tertarik, untuk mendapatkan tiket layanan ini, bisa diperoleh melalui aplikasi TJ: Transjakarta.
Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno saat menjajal pengalaman menaiki bus tingkat atap terbuka ‘Open Top Tour of Jakarta’ pada Sabtu (5/7/2025) menilai kehadiran bus wisata ini menambah sudut pandang baru dalam menikmati wajah Jakarta.
“Ini menambah pengalaman, mungkin bagi masyarakat Jakarta yang sudah tahu tentang kota ini, jadi nilai tambah karena dari sudut yang lain Jakarta bisa dilihat,” ujar Rano usai tur singkat tersebut.
Rano bersama rombongan memulai perjalanan dari Ratu Plaza, Jalan Jenderal Sudirman, menuju Bundaran HI dan kembali ke titik awal keberangkatan.
Rano menyampaikan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta telah menunjukkan komitmennya dengan menghadirkan fasilitas transportasi publik yang juga menjadi daya tarik wisata.
Menurutnya, inovasi sektor transportasi ini juga mendukung citra Jakarta sebagai kota global.
Rano mendorong masyarakat untuk memanfaatkan layanan ini, sembari berharap ke depan program ini terus dikembangkan.
“Layanan ini masih bisa diperluas baik dari segi armada maupun cakupan rute demi menjangkau lebih banyak destinasi wisata di Jakarta,” tandasnya.
7cloud.asia – Anggota Komisi XIII DPR dalam Kunjungan Kerja Reses di Labuan Bajo, Manggarai Barat, Jumat (25/7/2025) menyoroti tingginya lalu lintas atau mobilitas orang asing di sana.
Berdasarkan data yang diperoleh Komisi XIII DPR, Labuan Bajo tercatat sebagai salah satu daerah dengan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) tertinggi di sektor imigrasi. Namun, permintaan paspor justru tercatat paling tinggi berasal dari Kupang dan Atambua.
“Banyaknya permintaan paspor di daerah wisata tentu harus kita sikapi hati-hati. Kami mengingatkan agar koordinasi antara instansi imigrasi dan Dinas Tenaga Kerja, serta Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI), dapat dilakukan lebih optimal,” ujar Wakil Ketua Komisi XIII DPR, Dewi Asmara seperti dikutip Parlementaria.
Dewi mengingatkan bahwa besarnya arus permintaan paspor untuk keperluan wisata bisa saja menjadi celah untuk praktik perdagangan orang.
“Jangan sampai paspor yang dibuat untuk tujuan wisata justru disalahgunakan, terutama untuk kegiatan yang mengarah pada tindak pidana perdagangan orang (TPPO). Banyak kasus baru terungkap setelah para korban menderita di luar negeri,” tegasnya.
Ia juga mengusulkan agar pengawasan terhadap proses penerbitan paspor ditingkatkan, khususnya di daerah dengan tingkat migrasi tinggi.
“Kami tentu mendukung pelayanan yang semakin cepat dan maksimal, tapi tetap harus dibarengi dengan kewaspadaan. Penting agar pengeluaran dokumen perjalanan dilakukan dengan selektif, agar tidak dimanfaatkan oleh pihak-pihak tidak bertanggung jawab,” pungkas Dewi.
Di kesempatan yang sama, anggota Komisi XIII DPR Maruli Siahaan, menekankan pentingnya penguatan sistem pengawasan dan sumber daya manusia di daerah tujuan wisata strategis, seperti Labuan Bajo.
Hal itu khususnya dalam menghadapi tantangan yang berkaitan dengan tingginya mobilitas orang, perdagangan orang, serta keterbatasan kapasitas lembaga hukum dan pemasyarakatan di daerah.
Maruli mencatat, Labuan Bajo mencatat hampir 441 ribu perlintasan orang. Tapi kita belum punya data pasti, apakah mereka berstatus wisatawan, pekerja, atau pemilik usaha.
”Ini harus menjadi perhatian serius karena bisa saja berimplikasi pada persoalan monopoli ekonomi oleh tenaga kerja asing,” ujarnya saat Kunjungan Kerja Reses Komisi XIII DPR di Labuan Bajo, Manggarai Barat.
Politisi Partai Golkar ini menekankan perlunya peningkatan koordinasi antarinstansi, khususnya unit khusus seperti Biro Kriminal Khusus (Krimsus) dan Pengamanan Objek Vital (Pam Obvit), dalam melakukan pengawasan terpadu terhadap perlintasan dan keberadaan WNA di kawasan tersebut.
Ia juga menyarankan agar pengumpulan data dilakukan lebih akurat dan sistematis.
Selain itu, Maruli juga menyoroti minimnya fasilitas dan dukungan operasional di lembaga pemasyarakatan, yang menunjukkan lemahnya alokasi untuk pembinaan warga binaan.
“Jangan sampai pembangunan fasilitas Lapas hanya sebatas rencana. Perlu ada program konkret termasuk pelatihan, pembinaan narapidana narkoba, dan penjagaan keamanan yang lebih sistematis,” tegasnya.
Terkait isu perlindungan Hak Asasi Manusia (HAM), Maruli menyoroti belum terealisasinya anggaran untuk program-program di bidang hak asasi manusia.
“Kita perlu pertanyakan kenapa sampai tidak ada realisasi anggaran di bidang HAM. Padahal data menunjukkan bahwa selama delapan bulan di tahun 2023 saja, tercatat 256 korban tindak pidana perdagangan orang (TPPO), dan Komnas HAM sudah menetapkan NTT dalam status darurat TPPO,” ungkapnya.
Ia menilai perlunya peningkatan jumlah personel dan mendesak pemerintah pusat agar menambah kuota penempatan aparat di wilayah ini.
Selain itu, Komisi III diharapkan dapat mendorong pembentukan posko khusus Satuan Tugas Tindak Pidana Perdagangan Orang (Satgas TPPO) di Labuan Bajo dan wilayah-wilayah perbatasan lainnya.
“NTT bukan hanya gerbang wisata, tetapi juga salah satu pintu masuk persoalan serius yang beririsan dengan hukum, HAM, dan keimigrasian. Kita perlu kerja bersama untuk menjawab tantangan ini, termasuk usulan posko khusus Satgas TPPO yang permanen,” tutup Maruli.
7cloud.asia – Papua adalah habitat penting bagi hewan langka hiu paus muda (Rhincodon typus). Lebih dari 75 persen hiu paus di kawasan ini terluka akibat interaksi dengan aktivitas manusia.
Karena itu perlu pengelolaan wisata dan alat tangkap yang lebih ramah agar tidak membahayakan populasi hiu paus.
Hiu paus adalah satu jenis ikan terbesar di dunia, dengan panjang tubuh bisa mencapai 18-20 meter.
Riset terbaru penulis bersama tim di Frontiers in Marine Science menunjukkan bahwa hiu paus ternyata juga banyak hidup di Bentang Laut Kepala Burung, Papua, utamanya Kaimana dan bagian selatan Teluk Cenderawasih. Dua area ini menjadi habitat penting bagi hiu paus muda.
Tapi sayangnya, keberadaan hiu paus di wilayah tersebut menghadapi berbagai ancaman akibat aktivitas manusia di sekitar habitat mereka, bahkan kami menemukan mayoritas hiu paus ini dalam kondisi terluka.
Jadi, meskipun Teluk Cenderawasih merupakan taman nasional yang merupakan area konservasi, tekanan pada hiu paus dari aktivitas manusia masih tetap tinggi karena penggunaan alat tangkap bagan masih diperbolehkan di zona tradisional—area masyarakat lokal boleh menangkap ikan secara terbatas.
Jika tidak dikelola dengan bijak, interaksi dengan manusia justru bisa memperparah ancaman terhadap hiu paus dan bisa saja membuat mereka tidak lagi betah di sana.
Risiko wisata hiu paus Hiu paus punya kebiasaan muncul di sekitar bagan saat dini hari hingga pagi untuk menikmati “kudapan gratis” ikan-ikan kecil hasil tangkapan nelayan.
Kebiasaan unik ini lantas dimanfaatkan nelayan untuk wisata hiu paus. Mereka sengaja memberi makan hiu paus supaya tetap berada di sekitar bagan. Dengan begitu, wisatawan bisa berjam-jam ‘berenang bersama’ raksasa laut ini.
Belakangan wisata ini semakin populer, terutama setelah banyak artis dan influencer memamerkan foto bersama hiu paus di Botubarani (Gorontalo) atau Teluk Saleh.
Begitu pula di Papua, khususnya Teluk Cenderawasih, yang sejak dimulainya wisata ini pada 2011, kini menarik ribuan wisatawan setiap tahun.
Ke depan, perlu riset lebih lanjut untuk mengetahui apakah kebiasaan memberi makan hiu paus di bagan ini berdampak negatif pada perilaku makan alami, serta kesehatan raksasa berdarah dingin ini akibat terpapar suhu air yang relatif hangat dalam waktu lama.
Perbaikan kualitas bagan dan perketat aturan wisata Wisata hiu paus tentu bisa mendukung ekonomi lokal, namun dapat berdampak negatif pada hiu paus jika aturan interaksi tidak ditegakkan dengan ketat.
Aturan wisata hiu paus sebenarnya sudah ada, seperti menjaga jarak aman (2 meter dari tubuh dan 3 meter dari ekor), membatasi jumlah wisatawan (1 kapal per bagan dengan batas 1 grup berisi wisatawan dan 1 pemandu).
Selain itu juga ada larangan mengejar dan memegang hiu paus, serta waktu interaksi maksimal 60 menit atau 1 jam per grup.
Namun, aturan ini belum diterapkan sepenuhnya. Selain memperketat aturan wisata, desain bagan juga perlu disesuaikan agar lebih ramah terhadap hiu paus.
Misalnya, melapisi bagian bawah struktur bagan dan perahu dengan karet atau bahan halus untuk mengurangi risiko gesekan dengan sirip hiu paus. Selain itu, tali pancing sebaiknya tidak dibiarkan tergantung agar tidak menjerat hewan ini.
Dengan cara ini, nelayan bagan tetap bisa menangkap ikan dan memperoleh tambahan penghasilan dari wisata tanpa membahayakan hiu paus.
Untuk ikut memantau hiu paus, masyarakat umum, terutama wisatawan juga bisa berkontribusi mengirimkan potret hiu paus ke basis data nasional hiu paus melalui platform yang dikelola oleh Elasmobranch Institute Indonesia.
Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Edy Setyawan (Lead Conservation Scientist, Elasmobranch Institute Indonesia)
7cloud.asia – Wisatawan pada masa mendatang diproyeksikan semakin cermat dan peduli lingkungan dalam merancang perjalanan wisatanya.
Kemajuan teknologi dan era digital menjadi salah satu dari tiga unsur utama yang membentuk lanskap sektor pariwisata di masa yang akan datang.
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana dalam konferensi pers di Jakarta pada Kamis (18/11/2025) menekankan pentingnya mengantisipasi dan membaca pergeseran perilaku wisatawan lebih awal.
Dia juga mengajak pelaku wisata menangkap peluang lebih cepat, serta mempersiapkan strategi untuk menghadapi tantangan pariwisata serta mencapai target kunjungan wisatawan.
Selanjutnya dia memaparkan tiga faktor utama yang menentukan masa depan perjalanan wisata, salah satunya kemajuan teknologi pendukung perencanaan perjalanan.
Mengutip hasil survei Skyscanner bertajuk “The Future of Travel 2025”, Menpar mengatakan 54 persen wisatawan akan merasa lebih percaya diri merancang liburan menggunakan dukungan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Kecakapan digital akan membuat wisatawan semakin cermat dan fokus pada tujuan serta pengalaman yang ditawarkan oleh daerah tujuan dalam merencanakan perjalanan wisata.
Menteri Pariwisata juga mengemukakan bahwa kepedulian terhadap kelestarian lingkungan akan meningkat di kalangan wisatawan masa depan.
“Gen Z sebagai segmen pasar yang kian dominan, mengedepankan inklusivitas, kelestarian lingkungan dan dampak sosial,” katanya dikutip Antaranews.com
Selain itu, menurut dia, personalisasi perjalanan akan menjadi kebutuhan wisatawan pada masa mendatang. Wisatawan akan cenderung menginginkan perjalanan yang personal, fleksibel, tetapi tetap nyaman dan lancar.
Oleh karena itu, Widiyanti mengatakan, peningkatan konektivitas menjadi hal yang sangat penting dalam upaya untuk meningkatkan kenyamanan wisatawan.
Kementerian Pariwisata menargetkan 16 juta sampai 17,6 juta kunjungan wisatawan mancanegara serta 1,18 miliar kunjungan wisatawan nusantara pada 2026.
“Ini adalah target nasional yang membutuhkan visi dan langkah kita bersama demi mewujudkan pertumbuhan pariwisata Indonesia yang semakin berkualitas dan berkelanjutan,” katanya.
7cloud.asia – Bali mengukuhkan diri sebagai tujuan wisata terbaik dunia dengan meraih peringkat pertama dalam ‘The Travelers’ Choice Awards Best of the Best Destination List 2026” versi TripAdvisor.
Peringkat pertama pada ‘The Travelers’ Choice Awards Best of the Best Destination List 2026, merupakan posisi tertinggi yang pernah diraih Bali dalam sejarah penilaian TripAdvisor.
Sebelumnya, Bali konsisten masuk dalam jajaran Top 10 dalam kategori yang sama, namun belum pernah menempati peringkat pertama.
Penghargaan ini disusun berdasarkan ulasan dan penilaian wisatawan global terhadap destinasi terbaik dunia sepanjang 2025.
Dalam daftar tersebut, Bali berhasil mengungguli berbagai destinasi ikonik dunia, seperti London (pemenang 2024), Dubai, Hanoi, Paris, dan Roma.
Selain dinobatkan sebagai Destinasi Terbaik Dunia, Bali juga meraih sejumlah penghargaan bergengsi lainnya, yakni peringkat pertama Destinasi Bulan Madu Terbaik (Honeymoon Destination)
Juga Top 10 Destinasi Budaya Terbaik (Cultural Destination), Top 10 Destinasi Wisata Solo Terbaik (Solo Travel Destination), serta Top 20 Kota Paling Tren di Dunia (Trending Cities).
Bali dikenal sebagai tujuan wisata unggulan berkat keberagaman yang dimilikinya. Keindahan alam berpadu dengan kekayaan budaya lokal, seni, tradisi, dan upacara keagamaan yang terus dilestarikan oleh masyarakatnya.
Pengalaman yang ditawarkan Bali tidak hanya memanjakan mata, tetapi juga menghadirkan kedalaman makna bagi setiap pengunjung.
Harmoni antara alam dan budaya inilah yang menjadikan Bali sebagai tujuan yang selalu dirindukan wisatawan dari berbagai penjuru dunia.
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mengapresiasi kepercayaan dan penilaian positif wisatawan internasional yang mengantarkan Bali meraih penghargaan bergengsi ini.
“Terima kasih atas ulasan dan rating yang diberikan kepada Bali melalui TripAdvisor. Terpilihnya Bali sebagai destinasi wisata terbaik di dunia versi Tripadvisor menunjukkan bahwa Bali masih jadi magnet pariwisata dunia,” katanya seperti dikuti Antaranews.com.
Pencapaian ini diharapkan menjadi pemicu bagi peningkatan kualitas layanan dan penguatan prinsip pariwisata berkelanjutan di seluruh wilayah Indonesia, sekaligus menarik lebih banyak wisatawan berkualitas di masa mendatang.
“Ke depan, kami ingin memastikan Bali terus tumbuh sebagai destinasi pariwisata berkualitas, yang memberi manfaat bagi masyarakat lokal, menjaga kelestarian lingkungan, dan menginspirasi dunia,” kata Widiyanti.
7cloud.asia – Di lingkungan yang bersejarah di Bairro Alto Lisabon, Portugal, hampir 200 tempat usaha berjejer di beberapa jalan sempit. Hingga baru-baru ini disadari, bahwa wisatawan dan penduduk setempat membuang hampir 25.000 gelas sekali pakai per hari.
“Kami memiliki masalah besar dengan gelas yang hanya bisa digunakan sekali lalu dibuang, terutama di musim panas yang panas,” kata Pedro Pinto, pemilik bar lokal Mojito, kepada Earth.Org.
“Jalanan menjadi kotor, dan gelasnya terbuat dari plastik tipis. Orang bisa terluka.” imbuhnya.
Untuk mengatasi hal ini, pemerintah kota Lisabon membentuk kemitraan yang dikenal sebagai CopoMais, bersama dengan Tomra Reuse dan AHRESP, asosiasi hotel dan restoran nasional Portugal.
Bar yang berpartisipasi mengumpulkan deposit ketika mereka menyajikan minuman dalam gelas standar yang dapat digunakan kembali, dan deposit tersebut dapat ditukarkan di mesin pengumpul mana pun.
Empat mesin telah dipasang di lokasi pribadi di distrik bar, dengan 21 mesin lagi yang diharapkan akan ditambahkan – termasuk sejumlah mesin publik yang akan dipasang mulai Maret.
Selama fase “kampanye” proyek ini, 36 bar dan restoran mulai menggunakan cangkir yang dapat digunakan kembali untuk melayani pelanggan, jumlah yang diperkirakan akan mencapai 200 ketika sistem sepenuhnya beroperasi.
Inisiatif ini hanya berfokus pada cangkir, yang tersedia dalam empat ukuran. Dan, saat ini tidak ada rencana untuk memperkenalkan mangkuk atau peralatan makan lain dalam inisiatif ini.
Para pemimpin proyek menyadari bahwa kemudahan penggunaan sangat penting untuk mendorong partisipasi pelanggan.
Dalam sistem CopoMais di Lisbon, deposit 0,50 euro atau sekitar 0,58 dolar AS dapat dikembalikan kepada siapa pun yang memasukkan cangkir ke mesin pengumpul, dan tidak diperlukan aplikasi untuk mendapatkan kembali deposit.
Dilansir Earth.org, uang tersebut dikembalikan ke kartu atau dompet digital apa pun yang disentuh pada mesin, biasanya dalam waktu dua hari.
Poin lain yang perlu dipertimbangkan adalah penempatan mesin pengumpul, yang biasanya memerlukan persetujuan, menurut Jalé.
“Misalnya dalam arkeologi Lisbon, setiap kali Anda menggali batu, mungkin ada reruntuhan Romawi di bawahnya. Tetapi jika jumlah mesinnya sedikit, itu tidak praktis. Jika mesinnya berjarak 300 meter, itu terlalu jauh,” katanya.
“Kami memetakan berdasarkan lahan. Kami menempatkan mesin di tempat-tempat di mana orang masuk dan keluar dari area bar. Kami ingin orang-orang ini, ketika mereka pulang, memiliki mesin dalam jarak 100 meter.”
Logistik, Kebersihan, dan Dampak Steve, seorang pelanggan asal Inggris di salah satu bar yang berpartisipasi, mengamini pendapat Jale.
Dia mengatakan, kenyataannya adalah tempat sampah [pengumpulan] harus berada di tempat yang banyak dilewati.
“Saya tahu diri saya sendiri, saya hanya akan mengumpulkan gelas-gelas itu di rumah, meskipun saya mungkin akhirnya mengembalikannya semua untuk mendapatkan kembali deposit,” katanya kepada Earth.Org.
“Namun, saya mungkin akan lebih cenderung minum di sini karena mereka memiliki sistem ini. Penting untuk sadar lingkungan.”
Setelah gelas-gelas dikumpulkan, gelas-gelas tersebut harus dicuci, disterilkan, dan dikembalikan ke bar dan restoran.
Meskipun beberapa bar mencuci dan mengeringkan cangkir mereka sendiri, layanan pencucian terpusat yang memvalidasi kualitas, dan memastikan tidak ada jamur atau noda, membantu memberikan jaminan kualitas.
“Standar untuk mencuci peralatan makan yang dapat digunakan kembali sama dengan peralatan makan biasa,” jelas Tostevin.
“Tidak ada standar kebersihan untuk peralatan makan yang dapat digunakan kembali yang diterapkan secara global, jadi di sebagian besar pasar kami mengikuti praktik terbaik internasional dan standar nasional.” ujarnya.
7cloud.asia – Beberapa tahun terakhir pascapandemi Covid-19, banyak tempat wisata baru yang mendadak ramai karena viral di media sosial. Dalam hitungan hari, sebuah lokasi yang sebelumnya relatif sepi atau bahkan baru dikembangkan langsung dipadati pelancong yang FOMO atau khawatir ketinggalan tren.
Di berbagai destinasi pariwisata unggulan nasional, seperti Bali, lonjakan wisatawan kerap terjadi dan terus meluas karena viralitas. Setelah Canggu dan Ubud, keviralan beralih ke kawasan Nusa Penida.
Fenomena ini sekilas tampak menguntungkan karena meningkatkan eksposur, jumlah wisatawan, dan mempercepat lajunya roda ekonomi lokal. Tak salah jika pelaku industri pariwisata menganggap viralitas sebagai indikator keberhasilan utama pengembangan kawasannya.
Svargabumi Magelang jadi salah satu contoh situs destinasi pariwisata yang sempat viral. Tapi kini antusiasme warga terhadap lokasi ini amat rendah.
Sayangnya, begitu masa viralnya lewat, tempat wisata tersebut bak tak pernah muncul sejak awal. Jadi apakah pendekatan berbasis viralitas ini benar-benar ideal dan berkelanjutan bagi pariwisata Indonesia?
Ketika algoritma menjadi acuan keberhasilan
Dalam perspektif pemasaran, viralitas memang efektif untuk meningkatkan kesadaran merek (brand awareness). Strategi pemasaran digital saat ini cenderung berfokus pada satu metrik utama, yakni jangkauan (reach).
Semakin banyak orang melihat dan membagikan konten, pemasaran suatu produk semakin dianggap berhasil. Peran influencer dalam ekosistem ini juga tidak bisa diabaikan. Promosi destinasi melalui figur dengan jutaan pengikut mampu mempercepat arus kunjungan dalam waktu singkat.
Visual yang indah, pengalaman unik, dan lokasi yang “instagrammable” menjadi bahan bakar utama. Akibatnya, destinasi wisata direduksi menjadi sekadar objek visual yang siap dikonsumsi, bukan ruang hidup yang memiliki batas ekologis dan sosial.
Namun, pendekatan ini sering mengabaikan satu faktor krusial, yakni daya dukung destinasi. Sayangnya, peningkatan ini tidak selalu diikuti dengan kesiapan infrastruktur dan pengelolaan destinasi yang memadai.
Ketika kualitas pengalaman melancong menurun akibat keramaian berlebih, citra destinasi juga ikut terdampak. Dalam jangka panjang, hal ini dapat menurunkan daya saing dan keberlanjutan industri pariwisata.
Rentetan risiko yang muncul setelah viral
Yang perlu dipahami adalah algoritma media sosial tidak dirancang untuk mempertimbangkan keberlanjutan. Algoritma bekerja dengan logika keterlibatan (engagement), sehingga konten yang paling menarik perhatian akan diperkuat dan disebarkan lebih luas.
Dalam konteks pariwisata, awareness tanpa kontrol justru dapat menjadi bumerang. Destinasi yang belum siap secara infrastruktur, tata kelola, maupun regulasi akan kesulitan mengelola lonjakan pengunjung yang datang secara tiba-tiba dan masif.
Siapa yang mau kembali, ketika mendatangi sebuah situs pariwisata baru, tetapi mengalami susah parkir, makanan mahal, dan berdesak-desakan tak karuan?
Ketika promosi tidak disertai informasi mengenai kapasitas destinasi, aturan lokal, atau etika berwisata, dampaknya tak hanya terhadap lingkungan tapi juga masyarakat dan penghidupan mereka.
Kelebihan jumlah wisatawan (overtourism) secara tiba-tiba kerap mendorong kenaikan harga barang dan jasa, yang pada akhirnya membebani masyarakat lokal. Lalu lintas kawasan jadi macet, penuh polusi, dan pembangunan yang cepat.
Dalam beberapa kasus, warga setempat justru tersisih dari ruang hidupnya akibat komersialisasi yang berlebihan.
Di kawasan seperti Canggu dan Seminyak, misalnya, peningkatan jumlah wisatawan mancanegara mendorong kenaikan harga sewa properti, tanah, hingga makanan.
Situasi serupa juga terlihat di Labuan Bajo. Pengembangan pariwisata yang berorientasi pada konsep super premium cenderung lebih banyak melibatkan investor berskala besar yang tak terjangkau oleh wisatawan berkantong tipis.
Tekanan terhadap lingkungan juga semakin terlihat di sejumlah destinasi utama. Di Kuta dan beberapa pantai populer lainnya di Bali, peningkatan jumlah wisatawan berkontribusi pada lonjakan volume sampah yang kerap melampaui kapasitas pengelolaan setempat.
Kondisi ini tidak hanya mengganggu kenyamanan wisatawan, tetapi juga berdampak pada kualitas lingkungan pesisir.
Sementara itu, di Labuan Bajo, aktivitas pariwisata yang semakin intensif turut memberi tekanan pada ekosistem laut.
Pun lalu lintas kapal wisata yang sibuk berlebih berisiko merusak terumbu karang dan mengganggu keseimbangan biodiversitas laut.
Sebelum semua terlambat
Meski tidak bisa dibenarkan sepenuhnya, kondisi yang terjadi di Canggu dan Seminyak masih sedikit lebih baik. Sebab, kawasan ini tetap hidup meskipun menjelma jadi wilayah “jajahan” turis internasional dan meminggirkan masyarakat lokal, .
Persoalannya adalah tunas situs-situs pariwisata di wilayah nonpopuler tapi potensial. Tak sedikit dari mereka yang mati sebelum berkembang karena pengelola tak siap menghadapi lonjakan instan akibat sempat viral di media sosial.
Karena itu, konsep pemasaran berbasis keberlanjutan menjadi semakin relevan dalam konteks ini. Fokusnya tidak lagi semata-mata pada seberapa luas jangkauan promosi, tetapi juga pada seberapa sesuai jumlah wisatawan dengan kapasitas destinasi.
Dalam pendekatan ini, promosi pariwisata tidak hanya bertujuan meningkatkan jumlah kunjungan, tetapi juga mendukung keberlanjutan destinasi dan kesejahteraan masyarakat lokal. Salah satu pendekatan yang dapat diterapkan adalah kurasi promosi destinasi.
Tidak semua lokasi perlu dipromosikan secara masif. Dilema antara algoritma dan keaslian alam bukanlah tentang memilih salah satu, melainkan tentang menemukan keseimbangan.
Media sosial dan teknologi digital tetap berperan penting dalam mempromosikan pariwisata. Namun, tanpa pengelolaan yang bijak, kekuatan tersebut dapat berubah menjadi ancaman bagi keberlanjutan destinasi.
Pariwisata yang berkelanjutan tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak orang yang datang, tetapi juga oleh seberapa baik sebuah destinasi mampu menjaga keseimbangan antara kepentingan ekonomi, lingkungan, dan masyarakat lokal.
Tanpa perubahan sudut pandang dan sikap, viralitas hanya akan menjadi kemenangan jangka pendek yang berujung pada kerugian jangka panjang dan permanen.