Tag: lingkungan

  • Pulau Eigg, Pulau Milik Masyarakat yang Hidup dari Energi Terbarukan dan Ramah Lingkungan

    Pulau Eigg, Pulau Milik Masyarakat yang Hidup dari Energi Terbarukan dan Ramah Lingkungan

    7cloud.asia – Meskipun merupakan salah satu pulau terkecil di Skotlandia, dengan jumlah penduduk yang hanya 110 orang, Pulau Eigg menjadi contoh bagaimana masyarakat yang menatap masa depan hidup dengan konsep berkelanjutan dan sadar lingkungan.

     

    Pulau Eigg adalah salah satu dari kumpulan pulau di kawasan yang dikenal dengan Scottish Inner Hebrides. Wilayah ini juga kerap disebut sebagai Small Isles (Kepulauan Kecil).

    Pulau Eigg terletak 24 kilometer dari daratan. Kehidupan warga pulau ini bergantung pada kapal feri yang operasionalnya ditentukan cuaca.

    Kapal yang datang beberapa kali seminggu itu menjadi penentu pasokan kebutuhan dasar dan transportasi. Oleh karena itu, sampah bukanlah suatu pilihan di sini. Keberlanjutan adalah suatu keharusan.

    “Keberlanjutan selalu menjadi bagian dari kehidupan di sini,” kata Norah Barnes, penjaga hutan Scottish Wildlife Trust di Pulau Eigg.

    “Anda menjadi lebih sadar akan apa yang Anda gunakan. Anda tidak bisa hanya pergi ke toko di ujung jalan untuk mendapatkan sesuatu. Apa pun yang kami inginkan, kami benar-benar harus bergantung pada kapal,” tuturnya.

    Baca: Mengapa Kopenhagen selalu menjadi kota paling ramah lingkungan

    Jika digabungkan, Pulau Kecil Eigg, Canna, Sanday, Rùm, dan Muck hanya berpenduduk 150 hingga 200 orang.

    Berukuran 32 kilometer persegi, Pulau Eigg merupakan pulau terbesar kedua. Namun sejauh ini Eigg merupakan pulau terpadat dengan sekitar 110 penduduk.

    Jumlah penduduk ini turut membantu menumbuhkan komunitas yang secara kolektif mampu mengambil alih masa depan pulau tersebut.

    An Laimhrig, pusat dermaga di Pulau Eigg merupakan jantung kehidupan masyarakat setempat.

    Toko itu juga berfungsi sebagai kantor pos dan titik kumpul masyarakat seperti kafe.

    Selain kafe dan toko kelontong, kompleks ini juga memiliki toko kerajinan, persewaan sepeda, toilet, dan kamar mandi bagi mereka yang berkemah di alam atau tinggal di tempat perkemahan milik komunitas.

    Di sinilah juga berdiri monumen batu untuk memperingati pembelian pulau oleh masyarakat pada tahun 1997.

    Baca: Pusat kota Tirano hanya diperuntukan untuk pejalan kaki

    Setelah sejumlah pemilik tanah keluar dari pulau tersebut atau tidak tertarik dengan pembangunannya, penduduk Eigg yakin bahwa kepemilikan dengan sistem komunal adalah satu-satunya cara untuk menjamin masa depan pulau tersebut.

    “Pulau ini menyadari bahwa kita tidak akan dapat membangun sebuah komunitas kecuali kita melakukannya sendiri,” kata Maggie Fyffe, sekretaris Isle of Eigg Heritage Trust (organisasi yang memiliki Pulau Eigg).

    Ketika pulau itu dijual pada tahun 1996 , penduduk setempat mulai mengumpulkan uang.

    “Warga berkontribusi dan kami mengadakan kampanye penggalangan dana besar-besaran. Tapi kami punya donor misterius yang akhirnya memberi kami satu juta poundsterling (sekitar Rp9,5 miliar dengan kurs saat ini).

    “Itulah yang membuat kami akhirnya berhasil memiliki pulau ini,” ujarnya.

    Meskipun pengunjung datang karena berbagai alasan, Eigg paling cocok bagi mereka yang tertarik dengan alam terbuka.

    Baca: Slow city, konsep baru pengelolaan kota yang lebih manusiawi

    Pemandangan yang paling terkenal adalah Pantai Singing Sands di utara pulau yang berdecit ketika pasir bergerak dan pemandangan punggung bukit An Sgurr yang menjulang tinggi.

    Bukit ini terbentuk sekitar 58 juta tahun yang lalu dari letusan gunung berapi yang membayangi timur pulau itu.

    Di pulau itu juga terdapat dataran terjal, tegalan, hutan, pantai berpasir putih, dan bahkan sebagian kecil hutan hujan beriklim sedang.

    Sebagian besar wilayah pulau ini belum tersentuh oleh industri yang telah mengubah pedesaan di sebagian besar wilayah Inggris.

    “Kami tidak memiliki pertanian yang sangat intensif di sini,” kata Barnes.

    “Bentang alamnya kondusif bagi satwa liar. Tidak ada penangkapan ikan komersial atau pertanian skala besar dan garis pantai dan laut merupakan perairan yang bersih dan jernih,” tuturnya.

    Baca: Cara Bogota memanusiakan warganya

    Untuk memanfaatkan langit cerah dan pemandangan dari puncaknya, saya berangkat mendaki An Sgurr.

    Lanskap ini tampak curam dengan dinding batu hitam tipis yang menjulang tinggi. Namun jalan setapak yang melengkung di punggungnya menawarkan pendakian yang relatif mudah ke puncak.

    Pada ketinggian hampir 400 meter, pemandangan dari puncak sungguh luar biasa, membentang hingga ke arah Rùm, Skye dan daratan utama.

    Tapi tidak ada tempat yang menawarkan panorama Eigg yang lebih baik, dan saat angin mulai berhembus, mata saya tertuju ke tempat turbin angin di pulau itu.

    Diluncurkan pada tahun 2008, Eigg adalah komunitas pertama di dunia yang meluncurkan sistem listrik independen yang memanfaatkan tenaga angin, air, dan sinar matahari.

    Ketiga sistem tersebut saling melengkapi sehingga hampir semua kondisi cuaca kondusif untuk menghasilkan listrik.

    Baca: Penataan kawasan dengan konsep TOD di Jakarta

    Untuk menjamin pasokan listrik, warga juga memiliki generator cadangan. Namun sebagian besar listrik berasal dari sumber terbarukan.

    “Jumlah energi terbarukan yang kami gunakan bervariasi tergantung cuaca, tapi kami telah melakukan sebanyak 90%,” kata Fyffe.

    Manfaat sistem energi terbarukan sangat banyak. Sebelumnya, pulau ini bergantung pada generator diesel, yang menurut Barnes merupakan masalah logistik.

    “Solar harus dibawa dengan kapal, dituangkan ke dalam tong, membawa tong tersebut ke rumah Anda dan mengisi generator Anda. Ini adalah pekerjaan yang sangat besar. Penggunaan energi terbarukan telah memberikan banyak manfaat bagi kehidupan sehari-hari masyarakat dan juga lingkungan,” ujarnya.

    Hal ini juga merupakan sebuah langkah menuju swasembada. Ketika krisis energi global mendorong kenaikan harga di seluruh dunia, Fyffe menjelaskan bagaimana pendekatan ini bisa turut mencegah warga pulau tersebut dari peningkatan biaya hidup.

    “Pada mulanya, harga satuan di wilayah kami lebih tinggi dibandingkan di wilayah daratan, tapi saat ini kami mungkin lebih murah,” kata Fyffe.

    Baca: UNESCO akui sumbu filosofi Yogyakarta menjadi warisan budaya dunia

    “Kami menaikkannya sedikit dari waktu ke waktu, namun kami belum melakukan hal ini dalam beberapa tahun terakhir karena banyak orang mengalami kesulitan belakangan ini,” tuturnya.

    Dengan pencapaian mereka saat ini, warga Pulau Eigg belum berpuas diri. Mereka terus berupaya menjadi lebih ‘ramah’ terhadap lingkungan.

    “Kami sedang terlibat dalam studi kelayakan lainnya untuk mencari cara bagaimana kami bisa mencapai karbon netral,” kata Fyffe.

    “Kami berharap bisa membangun rumah dan merenovasi ruang operasi dokter untuk disewakan.

    “Kami akan menguji coba pompa panas sumber udara (yang berasal dari jaringan listrik) untuk melihat seberapa efisiennya. Lalu, orang bisa pindah ke sana. Kami memerlukan lebih banyak pasokan untuk ini, mungkin tiga turbin besar, meskipun ini masih tahap awal,” ucapnya.

    Pulau Eigg adalah komunitas pertama di dunia yang meluncurkan sistem listrik ‘off-grid’ yang ditenagai oleh angin, air, dan surya.

    Untuk pemanas ruangan, sebagian besar rumah di Pulau Eigg saat ini menggunakan tungku berbahan bakar kayu.

    Baca: Kiat slow living di perjalanan

    Warga Eigg menjalankan proyek kehutanan berkelanjutan untuk menjamin pasokan, menebang pohon untuk menyediakan kayu bakar bagi penduduk pulau dan kayu untuk ekspor sekaligus melakukan penanaman kembali dan memperluas hutan.

    Untuk membantu reboisasi, Barnes mengatakan, “Pembibitan pohon telah didirikan untuk menanam kembali pohon-pohon baru dari pohon-pohon tua yang ditebang.

    Beberapa akan digunakan untuk bahan bakar kayu, dan beberapa akan dipertahankan untuk satwa liar. Ini adalah pohon asli wilayah ini. Pohon yang kuat.”

    Populasi di pulau ini saat ini merupakan yang tertinggi selama setidaknya setengah abad terakhir.

    Eigg juga tampaknya menghindari masalah ‘rumah kedua’ yang mempengaruhi beberapa pulau di Skotlandia.

    Pulau-pulau itu kosong saat musim dingin. Faktanya, saat berjalan melintasi pulau, tantangan utama yang dihadapi warga pulau ini adalah menyediakan rumah permanen bagi penduduk yang tinggal di karavan atau akomodasi sementara.

    “Kami mencoba menyediakan rumah bagi orang-orang yang tinggal di sini. Kami memiliki beberapa orang yang tinggal sementara sehingga pihak Trust mencoba meningkatkan properti yang tersedia untuk disewa,” kata Fyffe.

    Baca: Terdampak perubahan iklim, desa ini bangkit berkat listrik tenaga surya

    “Ada cukup banyak orang yang menunggu properti sewaan tersedia.”

    Meskipun infrastruktur mengalami kemajuan, pertumbuhan dan permintaan akan perumahan merupakan pertanda positif dalam melawan ancaman depopulasi yang dihadapi oleh banyak pulau kecil di kawasan ini.

    Optimisme ini tampaknya juga dimiliki oleh satwa liar.

    “Kami melihat sepasang elang laut kembali ke pulau ini empat tahun lalu setelah punah di Eigg,” kata Barnes.

    “Mereka diperkenalkan kembali ke Rhum tetapi kembali dengan sendirinya ke Eigg dan telah menghasilkan anak selama tiga tahun terakhir,” ujarnya.

    Sumber: BBC environment

  • Demi Lingkungan, Perempuan Ini Mengurangi Frekuensi Mencuci Pakaian

    Demi Lingkungan, Perempuan Ini Mengurangi Frekuensi Mencuci Pakaian

    7cloud.asia – ’Saya membersihkan noda di pakaiannya saya selama sebulan dan tidak terlihat lebih kotor dari biasanya’

    Demikian kesaksian Chitra Ramaswamy, soal kebiasaan barunya untuk lebih jarang mencuci pakaian demi mengurangi mikroplastik yang mencemari lingkungan.

    Chitra merupakan salah satu penulis Guardian yang mengikuti program bagaimana cara mengurangi dampak iklim dengan slow fashion, salah satunya adalah dengan lebih jarang mencuci.

    Selama sebulan, tiga orang penulis Guardian menjual, menyesuaikan, dan memperbaiki pakaian mereka guna mencegah lebih banyak seratmikro mencemari bumi. 

    Mari kita ikuti kesaksian Chitra lebih lanjut: 

    Baca: Slow fashion menjadi alternatif fast fashion

    Saya merasa saya harus mulai dengan mencuci pakaian kotor saya: Saya adalah seorang ibu paruh baya yang memiliki anak kecil yang tidak mencuci pakaian apa pun di rumah kami.

    Saya tahu, seperti apa tingkat mikroplastik di perairan kita: yakni belum pernah terjadi sebelumnya.

    Tapi rekan saya, Claire yang sangat teliti dalam berbusana, yang mencuci pakaian sementara tugas saya termasuk mengajak jalan-jalan anjing, memasak, bersih-bersih, berbelanja, merawat anak yang semuanya itu menimbulkan banyak noda di lemari pakaian saya.

    Jadi ketika saya ditantang untuk mengurangi frekuensi mencuci pakaian – yang merupakan salah satu cara kecil yang bisa kita lakukan untuk mengurangi masuknya mikroplastik ke laut– hal pertama yang terjadi adalah perselisihan dengan pasangan saya.

    Baca: Jika demi lingkungan, perempuan bisa lebih jarang mencuci pakaian

    Ini mengenai pertanyaan sensitif apakah saya dapat mengklaim untuk “mencuci lebih sedikit” ketimbang tidak mencuci sama sekali.

    Tetap saja, saya bisa berusaha untuk mengurangi jumlah pakaian di keranjang cucian. Saya mulai dengan membawa kain mikrofiber kemanapun saya pergi, ala Lady Macbeth memilih kain yang antinoda.

    Saya sangat merekomendasikannya kain mikrofiber yang sangat meringankan beban cucian. Ternyata jumper wol domba Uniqlo berukuran sedang tidak perlu dicuci jika saya menjatuhkan pasta gigi ke atasnya.

    Saya hanya menyelubungi jari telunjuk saya dengan kain mikrofiber, membasahinya dengan air dingin, mengoleskannya, lalu pergi.

    Baca: Brian Sczabo perkenalkan trend tidak mencuci pakaian demi lingkungan

    Saya membersihkan jumper, jeans, celana panjang, dan kemeja selama sebulan dan tidak terlihat lebih acak-acakan dari biasanya. Sukses!

    Untuk memutuskan kapan akan mencuci barang, aturan umum saya adalah jika belum menyentuh bagian tubuh secara langsung, jangan repot-repot.

    Saya akhirnya mencuci lebih sedikit pakaian meskipun itu berarti menghabiskan banyak waktu untuk mengendus bagian ketiak dan selangkangan pakaian saya.

    Saat kami mencuci, kami menggunakan siklus ramah lingkungan selama tiga jam – mesin menggunakan lebih sedikit air dan suhu lebih rendah – dan saya tidak melihat perbedaannya.

    Baca: Dampak buruk fast fashion pada lingkungan

    Saya juga mempelajari kiat-kiat hidup lainnya: mengenakan celemek saat memasak, memasukkan celana ke dalam kaus kaki saat saya mengajak anjing jalan-jalan, menggantung pakaian di tali untuk diangin-angikan.

    Sementara itu, anak-anak saya terus membuang pakaian mereka ke dalam keranjang, maksud saya ke lantai, setiap lima menit.

    Hal ini mulai terasa seperti sebuah metafora untuk keadaan darurat iklim di mana, tentu saja, saya adalah pejuang kebersihan dan anak-anak saya adalah miliarder perusak iklim yang bertanggung jawab atas lebih banyak emisi karbon dibandingkan 66% masyarakat termiskin.

    Bukan berarti saya akan berhenti berusaha, tapi itu berarti hanya ada sedikit yang bisa saya lakukan.

    Chitra Ramaswamy, sudah dimuat di Guardian.

  • DLHK Sumatera Utara Tanami DAS Asahan dengan Tanaman Bambu dan Beringin

    DLHK Sumatera Utara Tanami DAS Asahan dengan Tanaman Bambu dan Beringin

    7cloud.asia – Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Sumatera Utara melakukan penanaman bibit tanaman bambu dan beringin di Desa Simangulampe, Kecamatan Bakti Raja, Kabupaten Humbang Hasundutan

    Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Sumatera Utara Yuliani Siregar mengatakan penanaman bibit bambu ini untuk pemulihan alam pascabanjir bandang dan longsor.

    “Pascabanjir bandang ini kami telah berkoordinasi dengan pemerintah setempat untuk melakukan penanaman bibit tanaman bambu dan beringin,” ujar Yuliani Siregar di Medan, Minggu (10/12/2023).

    Baca: Mengenal manfaat hutan bambu

    Menurutnya dua jenis tanaman ini mudah tumbuh dan akarnya kuat untuk menahan erosi di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) di lingkungan wilayah tersebut.

    “Selain itu, normalisasi sungai yang akan diperluas, dibuatkan dam untuk solusi penahan banjir sambil menunggu tanaman tersebut tumbuh,” tutur Yuliani.

    Pihaknya juga mengundang para pemangku kepentingan untuk membahas penanganan di kawasan yang terdampak pascabanjir bandang dan longsor.

    “Kami juga meminta masyarakat menjaga lingkungan seperti tidak menebang pohon sembarangan terutama di hutan lindung maupun di sekitar sungai,” ucapnya.

    Baca: Teknik daisugi, budidaya kayu hutan yang berkelanjutan

    Menurutnya dari pengamatan terjadi banjir bandang diakibatkan di antaranya curah hujan yang cukup tinggi di wilayah itu.

    “Di sana juga ada air terjun dan ada sungai yang mungkin mengarah ke desa. Di air terjun itu ada juga tebing dan bebatuan, mungkin saja karena tergerus hujan lebat bisa jadi batu itu sehingga menimbulkan erosi,” katanya.

    Sebelumnya, Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Masyarakat  Sumatra Utara Basarin Yunus Tanjung mengatakan, dokumen pemetaan risiko bencana DAS Asahan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sangat bermanfaat untuk mitigasi bencana.

    “Kajian pemetaan risiko ini menjadi penting untuk pemerintah daerah dalam melakukan mitigasi bencana,” ujarnya.

    Baca: Bahaya deforestasi untuk lingkungan

    Ia menjelaskan pemetaan risiko bencana oleh BNPB merupakan panduan bagi kabupaten/kota untuk mengelola DAS Asahan Toba.

    Peta ini juga penting untuk mempertahankan daya dukung DAS dengan kondisi lahan, kualitas, kuantitas, kontinuitas air, sosial ekonomi, investasi bangunan air, dan pemanfaatan ruang wilayah yang berfungsi sebagaimana mestinya.

    Oleh karena itu pemetaan risiko bencana DAS Asahan Toba amat bermanfaat dan bersifat strategis bagi Pemprov Sumut serta 10 pemerintah kabupaten/kota dalam pengelolaan dan pengendalian DAS lebih baik di masa mendatang

    “Sehingga dapat mengurangi risiko bencana di sepanjang DAS,” kata Basarin.

    Sumber: Antaranewscom

  • Cerita Slow Fashion: Saya Memperpanjang Umur Dua Jumper Hanya dalam Beberapa Jam

    Cerita Slow Fashion: Saya Memperpanjang Umur Dua Jumper Hanya dalam Beberapa Jam

    ruangkotacom – Slow fashion belakangan sering didengungkan untuk mengurangi dampak yang ditimbulkan fast fashion pada lingkungan

    Inti dari slow fashion adalah memperpanjang penggunaan pakaian selama mungkin, guna mengurangi limbah yang mencemari lingkungan

    Masuk dalam slow fashion adalah memperbaiki dan mendaurulang pakaian yang rusak dan tidak bisa lagi dipakai.

    Dan itulah yang dilakukan Emma Beddington salah seorang penulis dari The Guardian. Berikut kisah Emma saat menerapkan slow fashion dengan mendaur ulang jumpersnya.

    Baca: Demi lingkungan mereka mengurangi frekuensi mencuci

    Saya punya cukup banyak jumper, tapi sepertinya terlalu ketat. Rajutan kelas atas tidak dikenal karena kekokohannya dan ada juga pencuri kesenangan yang nyaman: ngengat pakaian.

    Inventarisasi menunjukkan tujuh jumpers wol saya berlubang; satu jumper hitam bisa dibilang saringan dan rajutan Uniqlo bergaris favorit saya lebih banyak lubangnya daripada selongsongnya.

    Saya sangat ingin memperbaikinya dan yang lain butuh sedikit sentuhan  agar tetap dapat dipakai. Apa yang bisa saya lakukan?

    Syukurlah, saya berhasil menemukan cara yang tepat pada saat yang tepat: gerakan perbaikan sangat besar dari kerusakan yang saya temukan.

    Beberapa perbaikan, tampak seperti karya seni dan kerajinan yang diproduksi  seniman tekstil seperti Celia Pym dan Hikaru Noguchi. Bagaimana keduanya mengeksplorasi keindahan perbaikan dalam karya mereka, dan kemudian menceritakan kisah-kisah tentang hubungan kita dengan pakaian.

    Baca: Mengapa slow fashion ada

    Untuk pemula, bisa mengikuti video petunjuk yang bermanfaat; ada juga kit, workshop dan tutorial Zoom.

    Saya lalu berkonsultasi dan meminta saran Jane Mercer, seorang seniman tekstil yang menjadi sukarelawan di kafe Groves Repair and Share di York, untuk menunjukkan kepada saya bagaimana caranya.

    Kami mulai dengan sederhana, pada praktik kain persegi, saat Mercer menjelaskan cara membuat kisi-kisi benang secara bertahap melintasi lubang dengan jarum permadani dan wol.

    Saya tidak punya keahlian menjahit dan jarang memamsang kancing.Tapi ini mudah dimengerti, ditambah teknik perbaikan yang terlihat dengan menggunakan warna-warna kontras membuatnya lebih mudah untuk melihat apa yang sedang dilakukan.

    Meski hasilnya miring, tapi saya berhasil menyelesaikan jumper pertama saya.

    Didukung oleh kesuksesan ini, saya membeli benang wol biru pucat untuk mengatasi lubang sederhana pada jumper abu-abu kesayangan saya.

    Baca: Mengurai dampak fast fashion bagi lingkungan

    Saya butuh waktu berjam-jam; Saya membongkar pekerjaan saya berkali-kali dan merasa frustrasi dengan ketidakmampuan saya, namun hasil akhirnya jelas dapat dipakai.

    Sebelum menangani lengan Uniqlo saya – perbaikan Everest bagi pemula – saya meminta saran dari desainer pakaian rajut dan pakar perbaikan nyata Flora Collingwood-Norris.

    Menurutnya, lubang besar seharusnya bisa digunakan dan saya tidak perlu terintimidasi oleh skalanya:

    “Tidak ada perbedaan mendasar mengenai lubang besar. Mereka hanya terlihat lebih menakutkan dan memakan waktu lebih lama.”

    Namun, yang benar-benar membuat saya kehilangan rasa takut adalah ketika dia berkata: “Segera setelah masalah ini terlihat membaik, tidak ada aturan apa pun yang harus Anda patuhi. Dengan membuatnya terlihat, Anda memberi tahu orang-orang bahwa Anda memutuskan bahwa itu akan terlihat seperti itu, jadi yang harus Anda lakukan hanyalah memakainya dengan niat.”

    Saran itu membebaskan saya, dan saya berhasil mengurangi  sampah. Butuh tiga sesi, wol merah yang saya pilih sangat tidak kooperatif, tetapi semua itu berakhir dengan sesuatu yang tidak membuat saya malu.

    Baca: Dampak gaya hidup konsumtif pada lingkungan

    Perbaikan saya adalah apa yang disebut Collingwood-Norris sebagai “lukisan impresionis” (OK, dari jarak jauh dan jarak dekat yang kacau) tetapi siapa selain saya yang akan mengetahuinya?

    Saya telah berhasil memperpanjang umur dua jumper saya hanya dalam beberapa jam dan merasakan kemungkinan yang nyata: Saya bisa melakukan ini dan saya akan melakukannya lagi.

    Sumber: The Guardian ditulis Emma Beddington,

  • Permak Pakaian: Solusi Jitu untuk Membuat Pakaian Bisa Kembali Dikenakan

    Permak Pakaian: Solusi Jitu untuk Membuat Pakaian Bisa Kembali Dikenakan

    7cloud.asia – Ini masih soal pakaian atau slow fashion, tentang bagaimana kita tidak menambah cemaran terhadap lingkungan karena cara kita memilih fesyen.

    Soal fesyen atau pakaian, menurut saya orang cenderung minimalis atau maksimalis.

    Hal ini terlihat jelas bagi saya ketika saya tumbuh dewasa, ketika adik perempuan saya yang koleksi pakaian atau fesyen nya terus bertambah, yang sebagian besar sepertinya tidak dia pakai.

    Sementara itu, saya selalu menganggap berbelanja pakaian lebih membuat stres daripada bermanfaat.

    Saya juga tidak pernah menyimpan pakaian karena sentimen – terutama karena keterbatasan tempat yang saya miliki.

    Ketimbang menumpuk pakaian, saya lebih suka memberikan pakaian yang tidak akan pernah saya pakai lagi ke toko amal setempat.

    Baca: Aplikasi ini membantu penjualan barang preloved

    Namun saya tetap mempunyai pakaian yang sebagian besar masih belum dipakai karena tidak muat.

    Kadang pakaian itu perlu diperbaiki, tetapi  saya tidak memiliki keterampilan untuk melakukannya.

    Seperti saat ini, saya memiliki celana linen putih yang bagian pinggangnya terlalu rendah yang tak sesuai dengan selera saya.

    Saya juga menyimpan kemeja sutra dengan kancing hilang di salah satu mansetnya; dan mantel Cos pea yang dibeli baru dengan lima kancingnya hilang,  tidak ada satupun yang tersisa.

    Ternyata, saya telah menunda mengunjungi penjahit lokal saya karena membayangkan biaya perbaikan barangnya akan mahal.

    Baca: Aplikasi ini membantu memadumadankan pakaian untuk penderita buta warna

    Tapi, akhirnya, saya mengemas pakaian itu dan membawanya ke penjahit. Orang di belakang konter itu cepat dan efisien.

    Saya mengenakan celana panjang dan menunjukkan kepadanya seberapa tinggi pinggang yang saya inginkan.

    Dia memasang pin di tempat yang tepat, lalu menyarankan perubahan lain pada kaki-kaki, tepat di bawah tempat duduk.

    Ini bukanlah sesuatu yang terpikir oleh saya, namun meskipun hanya dipasang dengan peniti, saya dapat melihat bahwa pendapatnya memang benar.

    Dia menyatukan ukuran celana itu menjadi pakaian baru dan menjadikannya sesuai dengan celana berpinggang tinggi yang saya inginkan.

    Baca: Jangan dulu membuang pakaian yang rusak, siapa tahu cara ini bisa ditiru

    Saya sadar, inilah daya tarik pergi ke penjahit: mengubah pakaian sesuai pesanan, sehingga nyaman dipakai.

    Tidak ada keraguan bahwa sekarang, menurut saya, mereka terlihat lebih mahal daripada sebelumnya.

    Pada minggu-minggu berikutnya, saya menerima pujian atas celana linen yang  tidak pernah saya kenakan itu.

    Ternyata hanya dengan harga sekitar 35 poundsterling, biaya untuk mengubahnya hampir sama dengan biaya yang saya bayarkan pada awalnya.

    Namun kini setelah pakaian tersebut kembali bisa saya kenakan. Dan, ternyata  kekhawatiran saya yang berakar pada alasan ekonomi sebuah kekeliruan besar:

    Tidak ada pakaian yang lebih mahal, bagi lingkungan atau saldo bank Anda, selain pakaian yang tidak pernah Anda kenakan.

    Tulisan ini diterjemahkan dari The Guardian, penulis Elle Hunt

  • Aplikasi Vinted, Bantu Warga Inggris Menjual Pakaian yang Tak Lagi Dikenakan

    Aplikasi Vinted, Bantu Warga Inggris Menjual Pakaian yang Tak Lagi Dikenakan

    7cloud.asia – Ini masalah saya: Saya punya terlalu banyak pakaian. Tapi, saya hanya punya sedikit pilihan pakaian yang benar-benar saya kenakan.

    Ada setumpuk pakaian di lemari pakaian yang sudah bertahun-tahun tidak saya lihat apalagi saya kenakan.

    Saya sadar bahwa kondisi ini sepenuhnya merupakan masalah yang saya buat sendiri – dan merupakan suatu hal yang istimewa.

    Masalah ini saya sebut “eBay backlog”: barang-barang yang saya simpan, yang ingin saya jual, selama beberapa dekade sekarang.

    Sayangnya, pakaian-pakaian ini bukanlah barang investasi yang dibuat dengan indah dan selalu saya rencanakan untuk disimpan selamanya.

    Baca: Jangan dulu buang pakaian yang rusak

    Tapi bisa ditebak, pakaian itu adalah fast fashion dengan harga miring  dipadukan dengan “permata” vintage yang kumuh dan pembelian barang bekas yang tidak dapat dikembalikan dan tidak pernah benar-benar pas.

    Saya bisa saja menyumbangkan semuanya untuk amal – tapi saya ingin melihat apakah saya bisa mendapatkan kembali sebagian uang yang telah saya keluarkan dulu.

    Hingga akhirnya saya menemukan aplikasi Vinted. Aplikasi Vinted telah menjadi terobosan dalam penjualan pakaian.

    Mirip dengan situs penjualan kembali lainnya, Anda mengambil foto barang, menulis deskripsi singkat, dan mengunggah – tetapi ini lebih cepat dan mudah digunakan dibandingkan tempat lain seperti eBay.

    Meski begitu, simpanan saya masih ada. Saya akan menyisihkan waktu berhari-hari untuk membuat daftar semuanya, tetapi perhatian saya selalu terganggu oleh hal-hal lain.

    Baca: Demi lingkungan, muncul gerakan jarang mencuci pakaian

    Mungkin, kuncinya adalah menangani tumpukan barang bekas saya sedikit demi sedikit, berjanji untuk membuat daftar satu item setiap hari untuk menghindari perasaan kewalahan.

    Ini dimulai dengan baik: Saya tidak menyukai rutinitas dan terbiasa dengan alur makan malam-televisi-Vinted.

    Tumpukan pakaian saya mulai  teratasi dan barang-barang mulai terjual. Vinted melacak saldo kumulatif Anda dan, seiring dengan hilangnya dopamin yang disebabkan oleh aplikasi, keadaan bisa menjadi lebih buruk.

    Namun, sesekali saya suka keluar atau pergi dan itu berarti penjualan saya ketinggalan. Jadi saya beralih ke penjual pihak ketiga untuk membantu saya.

    Stae adalah toko barang bekas yang menjual atas nama Anda dengan imbalan potongan keuntungan.

    Baca: Trend anak muda: beli baju bekas demi lingkungan

    Saya menawarkan 10 item kepada pendiri Stae, Jenna dan dia setuju untuk mengambil setengahnya. Dan, itu berarti lima hari libur untuk saya

    Itu semua membantu. Perlahan-lahan, tumpukan pakaian saya berkurang drastis dan berpindah ke pemilik barunya. 

    Tantangannya, Vinted juga menjadi sarang godaan untuk belanja pakaian. Karena banyak pakaian keren yang dijual disana

    Namun dalam hal peralihan ke cara berbelanja yang lebih ramah lingkungan, cara yang dikembangkan di Vinted ini masih merupakan kebiasaan yang baik untuk dikembangkan.

    Diterjemahkan dari The Guardian, Penulis Ellen Hunt

     

  • Ekowisata di Sepanjang Aliran Sungai Ciliwung, Jalan-jalan Sambil Merawat Lingkungan

    Ekowisata di Sepanjang Aliran Sungai Ciliwung, Jalan-jalan Sambil Merawat Lingkungan

    7cloud.asia – Gerakan Ciliwung Bersih yang didukung oleh 36 Komunitas Peduli Ciliwung dan sejumlah perusahaan meluncurkan kawasan ekowisata dan eduwisata lingkungan di sepanjang aliran Sungai Ciliwung.

    Kawasan ekowisata dan eduwisata lingkungan yang diluncurkan berasal dari berbagai daerah yang dialiri oleh Sungai Ciliwung baik di Bogor, Depok maupun Jakarta.

    Kawasan ekowisata lingkungan ini mulai dari Puncak, Bogor, Depok, Lenteng Agung, Pejaten, Condet dan Kantor Gerakan Ciliwung Bersih (GCB) di Penjernihan, Jakarta Pusat.

    “Seiring dengan mutu air Sungai Ciliwung yang mulai membaik hingga ke level 2, kami akhirnya memberanikan diri membuka ekowisata dan eduwisata lingkungan di sepanjang Sungai Ciliwung,” kata Ketua Gerakan Ciliwung Bersih Peni Susanti
    pada Peringatan Hari Ciliwung di Penjernihan, Jakarta Pusat beberapa waktu lalu.

    Baca: 8 spot wisata alam yang mudah diakses dari Jakarta

    Peni menjelaskan, dengan dibukanya ekowisata dan eduwisata di Sungai Ciliwung akan menambah pilihan wisata untuk warga Jakarta.

    Di eduwisata Ciliwung ini masyarakat umum sampai pelajar dapat berwisata sambil mempelajari seluk-beluk, sejarah serta upaya pelestarian sungai sepanjang 120 kilometer tersebut.

    Peni mengungkapkan bahwa saat GCB berdiri pada 1989, kualitas air Sungai Ciliwung pada saat itu sangat tercemar.

    Dengan upaya dari Komunitas Peduli Ciliwung (KPC) dan perusahaan, seperti seperti Indofood, Indonesia Power, PLN dan PAM Jaya, mutu air Sungai Ciliwung berangsur membaik.

    Baca: Ini caranya wisata ramah lingkungan

    Saat ini mutu air Sungai Ciliwung  mencapai tingkat dua atau sudah layak sebagai bahan baku air minum.

    Sebagai tujuan ekowisata dan eduwisata, ada beberapa titik lokasi wisata yang bisa dikunjungi masyarakat.

    Mulai dari Kantor Sekretariat GCB yang terletak di Jln Penjernihan, Karet Bivak, masyarakat bisa mempelajari sejarah Sungai Ciliwung di Galeri Sungai Ciliwung.

    Warga juga bisa mempelajari pemilahan dan pengolahan sampah sungai dengan TOSS (Teknologi Olah Sampah Sungai) melalui metode peyeumisasi, susur sungai.

    Baca: Mengintip pilihan penganut slow living saat berwisata

    Selain itu warga juga bisa memanen hasil hidroponik ventikultur sambil menikmati kopi di kedai pinggir Sungai Ciliwung.

    Ketua KPC Pejaten H Royani mengungkapkan, di Sekolah Sungai KPC Pejaten, masyarakat bisa melihat hewan purba endemik dan langka

    Binatang itu adalah Senggawangan atau bulus raksasa (Chitra Chitra javanensis) yang memiliki berat 300 kilogram (kg) yang ditemukan pada 11 November 2011.

    “Tidak hanya itu para pengunjung juga dapat mempelajari budaya masyarakat sepanjang Sungai Ciliwung sekaligus menikmati makanan dan minuman khas Betawi seperti dodol dan bir pletok,” kata Royani.

    Baca: Ke Papua Barat nggak cuma ada Raja Ampat

    Ketua KPC Lenteng Agung, Sarmili mengatakan, masyarakat dapat melakukan kegiatan susur sungai Ciliwung dengan suasana taman.

    Sehingga para pengunjung dari titik awal hingga akhir dapat menikmati pemandangan taman-taman yang bagus dan indah.

    “Mereka juga bisa belajar tentang kerajinan tangan dan berbagai produk inovatif seperti ‘eco print’ dan produk kreatif lainnya di ekowisata Ciliwung ini,” kata Sarmili.

    Sumber: Antaranews.com

     

     

     

  • Sampah Makanan Tak Hanya Picu Masalah Lingkungan, Tapi Juga Kerugian hingga Ratusan Triliun Setahun

    Sampah Makanan Tak Hanya Picu Masalah Lingkungan, Tapi Juga Kerugian hingga Ratusan Triliun Setahun

    7cloud.asia – Urusan sampah, khususnya sampah makanan, memang masih menjadi masalah pelik di Indonesia.

    Direktur Pengelolaan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup (KLHK) Novrizal Tahar mengakui bahwa masalah sampah terutama sampah makanan, menjadi pekerjaan rumah yang tak kunjung bisa teratasi. 

    Data KLHK menyebutkan volume sampah makanan atau food waste mencapai 28,5 juta ton atau 40,6 persen dari seluruh total timbunan sampah di Tanah Air pada 2022.

    Sektor terbanyak yang menyumbangkan sampah makanan tersebut adalah rumah tangga, sebesar 38,3 persen.

    “Perilaku masyarakat pada 2018 yang disurvei oleh BPS (Badan Pusat Statistik -red) itu, 72 persen orang Indonesia nggak peduli terhadap persoalan sampah. Ini juga satu tantangan,” tukas Novrizal.

    Baca: Seperti ini dampak sampah makanan pada lingkungan

    Hampir sama, Bappenas menyebutkan Indonesia membuang 23-48 juta ton sampah makanan per tahun pada periode 2000-2019.

    Food waste tersebut, menurut Bappenas, menimbulkan kerugian ekonomi sebesar Rp213-551 triliun per tahun dan secara sosial sebetulnya dapat memberi makan kepada 61-125 juta orang per tahun.

    Menurut Badan Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) (United Nations Environment Program/UNEP), Indonesia merupakan negara penghasil limbah makanan terbesar di Asia Tenggara.

    Yang menjadi masalah, bukan hanya food waste menjadi pemborosan semata. Namun juga memberi dampak terhadap lingkungan yang banyak tidak orang sadari.

    “Kalau food waste itu dibawa ke TPA (Tempat Pembuangan Akhir -red) kemudian terdekomposisi, dia akan mengeluarkan, merilis gas metan. Jadi food waste ini kalau tidak dikelola dengan baik, akan menyebabkan emisi gas rumah kaca dalam bentuk gas metan,” ujar Novrizal.

    Baca: Start up dari Singapura ini olah sampah makanan jadi produk bernilai tinggi

    Padahal, lanjutnya, gas metana memiliki potensi pemanasan global yang efeknya sangat dahsyat, yaitu mencapai 28 kali lipat lebih besar dari karbondioksida (CO2).

    Artinya, meskipun metana dilepaskan dalam jumlah yang jauh lebih kecil daripada CO2, dampaknya dalam jangka pendek akan sangat signifikan terhadap temperatur Bumi.

    Data Climate Watch menunjukkan, sampah menyumbang hampir 10 persen dari total emisi karbon Indonesia pada 2020 yang mencapai 1.48 gigaton (Gt).

    Novrizal menekankan pemerintah terus menggodok skenario untuk memangkas volume sampah organik, terutama sampah sisa makanan.

    Pararel dengan program pembangunan industri pengelolaan sampah, imbuhnya, pemerintah juga terus mengampanyekan gerakan hidup minim sampah “zero waste, zero emission.”

    Baca: Gerakan sedekah sampah

    Tujuannya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa urusan sampah sesungguhnya urusan bersama dan dapat diselesaikan pada level rumah tangga.

    Caranya cukup mudah, kata Novrizal, yaitu dengan menyortir sampah organik dan non-organik di rumah, dan kemudian membuat pupuk kompos dari sisa-sisa sampah organik tersebut.

    Jika semua orang Indonesia mau melakukan komposting sisa-sisa makanan dan sampah dari dapur di rumah, diperkirakan bisa menurunkan emisi gas rumah kacanya kurang lebih 7 juta ton setahun. 

    “Dan bisa mengolah sampah makanan (dari seluruh sektor) kurang lebih 11 juta ton sampai 12 juta ton setahun,” papar Novrizal.

    Novrizal menambahkan membangun industrialisasi pengolahan sampah organik, baik secara komersial dengan teknologi BSF dan teknik pengomposan rumah tangga menjadi bagian upaya pemerintah untuk mencapai target pengurangan karbon.

    Baca: Pemprov DKI Jakarta akan terapkan retribusi layanan kebersihan

    Pemerintah menargetkan pengurangan Gas Emisi Rumah Kaca (GRK) sebesar 31,89 persen pada 2030 dengan usaha sendiri, atau 43,2 persen jika dibantu oleh dunia internasional.

    Dalam Konferensi Iklim PBB COP-26 di Glasgow, Skotlandia, Pemerintah Indonesia menargetkan bisa mencapai emisi nol karbon atau net zero emission pada 2060.

     

  • Ekonomi Hijau Justru Menjanjikan Lebih Banyak Pendapatan dan Berkelanjutan untuk Negara

    Ekonomi Hijau Justru Menjanjikan Lebih Banyak Pendapatan dan Berkelanjutan untuk Negara

    7cloud.asia – Krisis iklim yang melanda Bumi saat ini membuat transisi ke ekonomi hijau semakin mendesak.

    Transisi ke ekonomi hijau ini dibutuhkan agar Indonesia, sebagai salah satu negara dengan emisi karbon terbesar ke-10 di dunia, beralih dari industri ekstraktif yang menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat.

    Momen pemilihan umum atau Pemilu 2024 menjadi kesempatan bagi pemerintah Indonesia untuk mengakselerasi transisi ke ekonomi hijau.

    Momentum ini juga menjadi kesempatan bagi para kandidat calon presiden dan wakil presiden untuk menunjukkan komitmennya dalam mengatasi krisis iklim, menjamin ketersediaan lapangan kerja, stabilitas harga pangan, pemerataan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

    Baca: Pengembangan energi terbarukan di Indonesia berjalan lamban

    Greenpeace Indonesia sebagai salah satu organisasi nirlaba lingkungan bersama Center of Economics and Law Studies (CELIOS) bekerja sama untuk melakukan studi dampak ekonomi yang ditimbulkan dari transisi ekonomi hijau.

    Hasil penelitian ini kemudian disampaikan sebagai rekomendasi kepada para pemangku kebijakan dan para caleg/capres yang akan maju di Pemilu 2024.

    Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira saat peluncuran hasil studi pada Selasa (19/12/2023), mengatakan transisi ke ekonomi hijau ini sudah tidak bisa ditunda lagi.

    “Industri ekstratif nggak bisa terus diharapkan, karena saat komoditas habis berpotensi menimbulkan masalah baik sosial maupun ekonomi,” ujarnya.

    Baca: Pro kontra power wheeling di UU Terbarukan

    Bhima mengatakan, kekhawatiran bahwa transisi ke ekonomi hijau akan mengancam pertumbuhan ekonomi sama sekali tidak benar. 

    Bahkan menurutnya, dengan ekonomi hijau tidak hanya menjamin keberlanjutan tetapi akan menghasilkan potensi pendapatan yang lebih besar bagi ekonomi nasional. 

    “Jika bisnis dijalankan seperti sebelumnya, diperkirakan akan menyumbang Rp 1843 triliun kepada ekonomi. Jika beralih ke ekonomi hijau akan hasilkan potensi Rp 3000 triliun ke PDB, jadi hampir dua kali lipat,” terangnya. 

    Potensi ini terutama ada di sektor pertanian, perkebunan dan perikanan. Transisi ke ekonomi hijau akan mendorong sirkular ekonomi, dan dapat menciptakan 19,4 lapangan kerja di berbagai sektor.

    Baca: Aktivis lingkungan minta PLN tak halangi penggunaan pembangkit tenaga surya

    Dari sisi pendapatan pajak, itung-itungan CELIOS menemukan ekonomi hijau berpotensi menghasilkan tambahan pajak bersih hingga Rp 80 triliun.

    “Angka ini hampir dua kali lipat jika dibandingkan dengan perhitungan jika bisnis dilakukan seperti sekarang, di mana perkiraan pendapatan pajak Rp 34,8 Triliun,” ujarnya. 

    Bhima juga melihat adanya potensi sumber pembiayaan untuk ekonomi hijau yang mungkin digali yakni debt cancellation (potongan utang) dan dana loss and damage.

    “Bukan pinjaman baru tapi pemotongan utang pokok dan bunganya, sehingga tersedia cukup ruang fiskal untuk membiayai ekonomi hijau,” terangnya.

    Baca: Ini alasan pemerintah menunda penerapan pajak karbon

     

  • Seperti Ini Dampak Belanja Online pada Lingkungan

    Seperti Ini Dampak Belanja Online pada Lingkungan

    7cloud.asia – Kecanduan belanja online pada konsumen modern tidak hanya membawa rantai pasokan global ke titik yang tidak dapat kembali lagi, namun juga menimbulkan dampak lingkungan yang sangat besar.

    Tanpa disadari kebiasaan belanja online yang belakangan makin booming membawa konsekuensi bencana yang sangat besar terhadap lingkungan dan planet Bumi.

    Martina Igini dalam tulisannya di earth.org menyebut, dampak belanja online dapat dilihat di seluruh dunia.

    Namun, ada satu negara yang dampak industri ini terhadap lingkungan sangat nyata: China. Para ahli memperkirakan bahwa 52,1% penjualan ritel di China berasal dari belanja online pada tahun 2021.

    Keberhasilan ini terutama disebabkan oleh pesatnya evolusi internet dan digitalisasi sistem pembayaran di China. E-commerce di negara ini mampu menghasilkan pendapatan ratusan miliar dolar dari sehari promo belanja online.

    Baca: Belanja sambil berbagi untuk sesama perempuan

    Kelompok pencinta lingkungan hidup mengingatkan, bahwa ekstravaganza belanja ini menimbulkan dampak yang sangat besar terhadap lingkungan. 

    Kemasan produknya menyumbang sebagian besar emisi CO2 dari produksi plastik, mencemari ekosistem, serta menambah jumlah sampah dalam jumlah besar ke tempat pembuangan sampah.

    Selain itu, setidaknya 3 miliar pohon ditebang setiap tahunnya untuk menghasilkan 241 juta ton karton pengiriman, demikian temuan kelompok konservasi hutan Canopy.

    Dan dari 86 juta ton kemasan plastik yang diproduksi secara global setiap tahunnya, kurang dari 14% yang didaur ulang.

    Sedangkan di China, statistik menunjukkan bahwa kurir negara tersebut menangani 83 miliar paket ekspres pada tahun 2020 saja, yang mencakup 1,8 juta ton sampah plastik dan hampir 10 juta ton sampah kertas.

    Baca: Ini alasan mengapa anak muda makin gemari thrifting

    Menurut penelitian terbaru yang dilakukan Green Sense, 780 juta keping sampah kemasan dari belanja online dihasilkan sepanjang tahun 2020 di Hongkong.

    Penelitian itu juga menunjukkan bahwa rata-rata 2,18 buah kemasan digunakan untuk setiap produk pada tahun yang sama, sebagian besar terdiri dari bahan campuran yang sulit didaur ulang.

    Ketika ruang untuk tempat pembuangan sampah semakin langka, China kesulitan mengimbangi tumpukan sampah e-commerce yang semakin meningkat.

    Perusahaan seperti Alibaba kemudian mengembangkan kemasan yang lebih ramah lingkungan, mencoba membalikkan tren tersebut sementara pemerintah China  mengambil langkah-langkah untuk mengatur standar kemasan.

    Pengiriman barang dalam belanja online juga menimbulkan dampak yang tak kecil bagi lingkungan. Hal ini perlu dipertimbangkan.

    Baca: Baju recycle dari ControlNew

    Pengangkutan barang di seluruh dunia bertanggung jawab atas sebagian besar emisi CO2 yang dihasilkan oleh e-commerce. Pada tahun 2020, pengiriman dan pengembalian produk menyumbang 37% dari total emisi gas rumah kaca.

    Masalah terbesarnya, sekali lagi, disebabkan oleh selera konsumen akan kenyamanan.

    Diperkirakan pada tahun 2030, jumlah kendaraan pengantar barang akan meningkat sebesar 36%, mencapai sekitar 7,2 juta kendaraan.

    Hal ini tidak hanya akan mengakibatkan peningkatan sekitar 6 juta ton emisi CO2, namun juga akan meningkatkan jumlah perjalanan sebesar 21%.

    Hal ini karena kendaraan akan membutuhkan waktu lebih lama untuk melakukan perjalanan karena kemacetan lalu lintas yang semakin tinggi.

    Diterjemahkan dari artikel di earth.org, baca artikel asli di sini