7cloud.asia – Kecanduan belanja online pada konsumen modern tidak hanya membawa rantai pasokan global ke titik yang tidak dapat kembali lagi, namun juga menimbulkan dampak lingkungan yang sangat besar.
Tanpa disadari kebiasaan belanja online yang belakangan makin booming membawa konsekuensi bencana yang sangat besar terhadap lingkungan dan planet Bumi.
Martina Igini dalam tulisannya di earth.org menyebut, dampak belanja online dapat dilihat di seluruh dunia.
Namun, ada satu negara yang dampak industri ini terhadap lingkungan sangat nyata: China. Para ahli memperkirakan bahwa 52,1% penjualan ritel di China berasal dari belanja online pada tahun 2021.
Keberhasilan ini terutama disebabkan oleh pesatnya evolusi internet dan digitalisasi sistem pembayaran di China. E-commerce di negara ini mampu menghasilkan pendapatan ratusan miliar dolar dari sehari promo belanja online.
Baca: Belanja sambil berbagi untuk sesama perempuan
Kelompok pencinta lingkungan hidup mengingatkan, bahwa ekstravaganza belanja ini menimbulkan dampak yang sangat besar terhadap lingkungan.
Kemasan produknya menyumbang sebagian besar emisi CO2 dari produksi plastik, mencemari ekosistem, serta menambah jumlah sampah dalam jumlah besar ke tempat pembuangan sampah.
Selain itu, setidaknya 3 miliar pohon ditebang setiap tahunnya untuk menghasilkan 241 juta ton karton pengiriman, demikian temuan kelompok konservasi hutan Canopy.
Dan dari 86 juta ton kemasan plastik yang diproduksi secara global setiap tahunnya, kurang dari 14% yang didaur ulang.
Sedangkan di China, statistik menunjukkan bahwa kurir negara tersebut menangani 83 miliar paket ekspres pada tahun 2020 saja, yang mencakup 1,8 juta ton sampah plastik dan hampir 10 juta ton sampah kertas.
Baca: Ini alasan mengapa anak muda makin gemari thrifting
Menurut penelitian terbaru yang dilakukan Green Sense, 780 juta keping sampah kemasan dari belanja online dihasilkan sepanjang tahun 2020 di Hongkong.
Penelitian itu juga menunjukkan bahwa rata-rata 2,18 buah kemasan digunakan untuk setiap produk pada tahun yang sama, sebagian besar terdiri dari bahan campuran yang sulit didaur ulang.
Ketika ruang untuk tempat pembuangan sampah semakin langka, China kesulitan mengimbangi tumpukan sampah e-commerce yang semakin meningkat.
Perusahaan seperti Alibaba kemudian mengembangkan kemasan yang lebih ramah lingkungan, mencoba membalikkan tren tersebut sementara pemerintah China mengambil langkah-langkah untuk mengatur standar kemasan.
Pengiriman barang dalam belanja online juga menimbulkan dampak yang tak kecil bagi lingkungan. Hal ini perlu dipertimbangkan.
Baca: Baju recycle dari ControlNew
Pengangkutan barang di seluruh dunia bertanggung jawab atas sebagian besar emisi CO2 yang dihasilkan oleh e-commerce. Pada tahun 2020, pengiriman dan pengembalian produk menyumbang 37% dari total emisi gas rumah kaca.
Masalah terbesarnya, sekali lagi, disebabkan oleh selera konsumen akan kenyamanan.
Diperkirakan pada tahun 2030, jumlah kendaraan pengantar barang akan meningkat sebesar 36%, mencapai sekitar 7,2 juta kendaraan.
Hal ini tidak hanya akan mengakibatkan peningkatan sekitar 6 juta ton emisi CO2, namun juga akan meningkatkan jumlah perjalanan sebesar 21%.
Hal ini karena kendaraan akan membutuhkan waktu lebih lama untuk melakukan perjalanan karena kemacetan lalu lintas yang semakin tinggi.
Diterjemahkan dari artikel di earth.org, baca artikel asli di sini

Leave a Reply