Tag: Israel

  • Pemerintah Gaza Tolak Rencana Israel Dirikan Kamp Isolasi Mirip Ghetto Nazi

    Pemerintah Gaza Tolak Rencana Israel Dirikan Kamp Isolasi Mirip Ghetto Nazi

    ruangkota.vom – Israel berencana mendirikan kamp-kamp isolasi mirip “ghetto Nazi” bagi warga Palestina dengan menggunakan mekanisme distribusi bantuan.

    “Kami dengan tegas menolak rencana penjajah untuk membangun kamp isolasi paksa seperti ghetto Nazi melalui pengendalian dan pendistribusian bantuan kemanusiaan,” Kantor Media Pemerintah Gaza dalam sebuah pernyataan pada Rabu (7/5).

    “Ini adalah bagian dari kebijakan pemisahan sistematis yang jelas-jelas melanggar prinsip-prinsip hukum internasional,” kata pernyataan itu.

    Baca: Israel tangkap lebih dari 360 tenaga kesehatan

    Pada Minggu, Kabinet Keamanan Israel menyetujui rencana gabungan Israel-AS untuk menyalurkan bantuan secara terbatas ke Gaza melalui dana internasional dan perusahaan swasta.

    Bantuan itu akan dikirim ke “kompleks kemanusiaan” di Gaza selatan.

    Pemerintah Gaza menyebut rencana Israel itu “tidak manusiawi” dan “tidak bisa diterima”, seraya menegaskan bahwa seluruh rakyat Palestina akan menentang “skema kejahatan” itu.

    Mereka menilai rencana tersebut berupaya memanfaatkan bantuan kemanusiaan untuk mengepung, memicu kelaparan, dan menundukkan warga Palestina.

    Baca: Krisis kemanusiaan di Gaza semakin parah

    Pemerintah Gaza juga meminta masyarakat dan organisasi internasional untuk segera turun tangan menghentikan “lelucon” Israel tersebut dan mengakhiri kekacauan sistematis di wilayah kantong Palestina itu.

    Sejak pintu perlintasan ditutup Israel pada 2 Maret, 57 warga Gaza—sebagian besar adalah anak-anak—telah kehilangan nyawa akibat kelaparan, menurut otoritas kesehatan Gaza.

    Laporan terbaru dari Bank Dunia mengungkapkan bahwa 2,4 juta warga Palestina di Gaza saat ini bergantung sepenuhnya pada bantuan setelah 20 bulan menghadapi perang genosida dan blokade Israel yang menghancurkan perekonomian dan infrastruktur di wilayah itu. 

     

    Sumber: Anadolu/Antaranews

  • Krisis Air di Jalur Gaza, Warga Hampir Mati Kehausan

    Krisis Air di Jalur Gaza, Warga Hampir Mati Kehausan

    7cloud.asia – Otoritas Sumber Daya Air Palestina (Palestinian Water Authority/PWA) pada Sabtu (10/5) memperingatkan bahwa saat ini Jalur Gaza menghadapi krisis air dan “hampir mati kehausan” akibat layanan penyediaan air minum dan sanitasi yang nyaris sepenuhnya lumpuh di tengah konflik dengan Israel.

    Dalam sebuah pernyataan, pihak berwenang mengungkapkan bahwa operasi militer Israel, kerusakan infrastruktur yang meluas, pemadaman listrik, dan pembatasan suplai bahan bakar serta pasokan esensial lainnya hampir membuat layanan penyediaan air terhenti sepenuhnya.

    PWA melaporkan bahwa 85 persen fasilitas air dan sanitasi di daerah kantong tersebut rusak parah, sehingga warga hanya memiliki rata-rata tiga hingga lima liter air per orang setiap hari, jauh di bawah standar darurat minimum Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebanyak 15 liter.

    Baca: Israel blokir bantuan, kondisi anak-anak memburuk

    Pernyataan tersebut juga memperingatkan soal meningkatnya risiko kesehatan masyarakat, merujuk pada pembuangan air limbah yang belum diolah dengan ke daerah permukiman serta penggunaan air asin yang tidak layak konsumsi oleh warga.

    Dalam pernyataan yang dirilis pada Jumat (9/5), kantor tersebut mengungkapkan bahwa Israel menutup semua jalur perlintasan Gaza selama 70 hari berturut-turut.

    Selain itu, Israel juga memblokir akses masuk bagi sekitar 39.000 truk bantuan yang membawa bahan bakar, makanan, dan pasokan medis terlepas dari apa yang disebutnya sebagai krisis kesehatan dan kemanusiaan yang semakin memburuk.

    PWA menuding Israel telah melanggar hukum kemanusiaan internasional dan menyerukan penghentian operasi militer sesegera mungkin, penghentian atas apa yang disebutnya sebagai “praktik pendudukan sistematis”, pencabutan blokade, dan perlindungan terhadap para pekerja di sektor air.

    Baca: Puluhan anak di Gaza meninggal akibat kurang gizi

    Secara terpisah, kantor media pemerintah yang dikelola Hamas di Gaza menuduh Israel melakukan “kejahatan terorganisasi” terhadap lebih dari dua juta warga sipil di daerah kantong tersebut dengan memberlakukan blokade menyeluruh dan membatasi masuknya pasokan bantuan kemanusiaan.

    Israel menutup akses ke Gaza pada 2 Maret, menyusul berakhirnya tahap pertama dari kesepakatan gencatan senjata yang dicapai dengan Hamas pada Januari lalu.

    Sampai saat ini, tahap kedua gencatan senjata belum terlaksana akibat belum tercapainya kesepakatan di antara kedua pihak.

    Sumber: Antaranews

  • Hamas Siap Rundingkan Gencatan Senjata, Israel Justru Intensifkan Serangan ke Gaza

    Hamas Siap Rundingkan Gencatan Senjata, Israel Justru Intensifkan Serangan ke Gaza

    7cloud.asia – Kelompok perlawanan Palestina Hamas pada Senin (12/5/2025) mengatakan pihaknya siap untuk segera terlibat dalam perundingan guna mencapai gencatan senjata yang permanen di Jalur Gaza.

    Sayap bersenjata kelompok tersebut, Brigade Qassam, pada Senin malam membebaskan sandera keturunan Israel-Amerika Serikat bernama Edan Alexander setelah berunding dengan pemerintahan Donald Trump.

    “Hamas siap untuk segera memulai negosiasi guna mencapai kesepakatan komprehensif untuk gencatan senjata yang berkelanjutan, penarikan pasukan pendudukan, pengakhiran pengepungan, pertukaran tahanan, dan pembangunan kembali Jalur Gaza,” kata mereka dalam sebuah pernyataan.

    Alexander adalah sandera AS terakhir yang diketahui masih hidup yang ditahan di Gaza.

    Militer Israel melanjutkan serangan mereka di Jalur Gaza pada Senin (12/5/2025) malam setelah jeda sementara sehingga Hamas bisa membebaskan tentara berkewarganegaraan AS-Israel Edan Alexander.

    Serangan itu menargetkan wilayah Al-Daraj yang kemudian mengenai Sekolah Al-Ramlah, yang dijadikan tempat pengungsian, menurut reporter Anadolu, mengutip sumber para petugas medis.

    Dalam serangan berbeda di wilayah yang sama, beberapa warga Palestina terluka setelah serangan artileri Israel menghantam sebuah gedung apartemen.

    Dilaporkan seorang wanita tewas dalam serangan itu, dan menyebabkan luka parah pada seorang anak.

    Serangan bertubi-tubi tersebut kemudian meluas ke pinggiran timur Khan Younis di selatan dan bagian utara provinsi Rafah.

    Eskalasi tersebut terjadi setelah Israel mendapat konfirmasi pihaknya telah mendapatkan Alexander, warga negara ganda Israel-AS, dari Komite Palang Merah Internasional di Gaza.

    Dilaporkan Channel 14 pada Senin pagi, mengutip pejabat senior militer Israel yang mengatakan bahwa Israel akan melanjutkan genosida di Gaza segera setelah Alexander memasuki wilayah Israel.

    “Saat Edan Alexander berada di tanah Israel, kami akan melanjutkan serangan dan melanjutkan rencana operasional kecuali jika pimpinan politik memutuskan sebaliknya,” kata pejabat tersebut.

    Sumber: Antaranews.com/Anadolu

  • Organisasi Dokter Sebut Israel Sengaja Menciptakan Krisis Kemanusiaan di Gaza

    Organisasi Dokter Sebut Israel Sengaja Menciptakan Krisis Kemanusiaan di Gaza

    7cloud.asia – Organisasi medis internasional Doctors Without Borders (MSF) menuduh penjajah Israel sengaja menciptakan krisis kemanusiaan di Jalur Gaza.

    Seperti diketahui Israel menerapkan blokade terhadap wilayah Gaza sejak awal Maret lalu sehingga mengakibatkan jutaan warga Gaza kekurangan pasokan makanan, air dan obat-obatan.

    Dalam pernyataan resmi yang dipublikasikan di situs web resminya, MSF, Kamis (15/5/2025) memperingatkan bahwa kondisi di Gaza sudah semakin memprihatinkan.

    “Kondisi yang ada saat ini mengarah pada pemusnahan warga Palestina di Gaza,” dan menyebut wilayah tersebut sebagai “neraka di bumi bagi rakyat Palestina.”

    Baca: Layanan kesehatan di Gaza runtuh

    Organisasi tersebut juga menyoroti adanya peningkatan sebesar 32 persen dalam jumlah pasien yang mengalami malnutrisi selama dua pekan terakhir, berdasarkan temuan tim medis lapangan mereka.

    “Fasilitas kesehatan yang masih beroperasi — yang sudah sangat kekurangan kapasitas dan tenaga medis — terus menjadi sasaran serangan,” kata MSF.

    “Fasilitas kesehatan tersebut juga semakin kehabisan obat-obatan dan pasokan penting lainnya.”

    MSF juga melaporkan bahwa tim mereka di Gaza tidak menerima pasokan medis selama 11 pekan terakhir, dan saat ini menghadapi kekurangan bahan dasar yang sangat kritis seperti kasa dan sarung tangan steril.

    Sumber: Antaranews.com/WAFA-OANA

  • Hamas Sebut Israel Sengaja Menciptakan Kelaparan di Gaza

    Hamas Sebut Israel Sengaja Menciptakan Kelaparan di Gaza

    7cloud.asia – Kelompok Hamas menuduh Israel merekayasa kelaparan di Jalur Gaza dan memperingatkan agar tidak membangun kamp-kamp penahanan di wilayah selatan dengan dalih distribusi bantuan kemanusiaan.

    Dalam sebuah pernyataan, yang dirilis Kamis (22/5/2025) juru bicara Hamas mengatakan Israel secara sistematis membuat lebih dari 2 juta warga Palestina di Gaza kelaparan dengan membatasi bantuan kemanusiaan dan mengaitkannya dengan syarat politik dan keamanan.

    “Kebijakan ini merupakan bagian dari apa yang sekarang dikenal sebagai ‘rekayasa kelaparan’, yakni berupaya memaksakan fakta di lapangan melalui rencana ‘bantuan ghetto’, yang secara keliru digambarkan sebagai solusi kemanusiaan,” bunyi pernyataan Hamas tersebut.

    Hamas menambahkan bantuan yang diizinkan masuk ke Gaza setelah 81 hari blokade Israel “bahkan tidak ada setetes air di lautan jika dibandingkan dengan apa yang dibutuhkan.”

    Kelompok tersebut memperkirakan bahwa daerah kantong tersebut membutuhkan setidaknya 500 truk bantuan setiap hari untuk memenuhi kebutuhan dasar, tetapi jumlah yang diizinkan masuk kurang dari sepersepuluhnya.

    Baca: Hanya 9 truk bantuan kemanusiaan yang diizinkan masuk ke Gaza

    Krisis tersebut memburuk karena meningkatnya jumlah warga di lokasi pengungsian, runtuhnya sistem kesehatan, serta kondisi kelaparan yang meluas, terutama di kalangan anak-anak.

    Kantor Media Pemerintah Gaza mengonfirmasi 87 truk bantuan masuk pada Rabu (21/5/2025), pertama kalinya dalam hampir tiga bulan, namun menekankan bahwa dibutuhkan 500 truk bantuan dan 50 truk bahan bakar setiap hari untuk mempertahankan kehidupan di tengah kondisi kelaparan parah.

    Hamas memperingatkan militer Israel menggunakan bantuan sebagai kedok untuk menjalankan rencana yang menyerupai kamp penahanan di Gaza selatan.

    Hamas menggambarkan kondisi ini sebagai “skema kolonial yang pasti akan gagal menghadapi keteguhan rakyat kami.”

    Hamas menyerukan kepada komunitas internasional dan organisasi kemanusiaan untuk “segera menghentikan pengepungan, menolak kelaparan dan penghinaan yang direkayasa, serta memastikan koridor kemanusiaan yang bebas dan permanen.”

    Baca: Krisis kemanusiaan di Gaza semakin parah

    Israel dan Amerika Serikat mempromosikan mekanisme distribusi bantuan baru yang menurut para kritikus bertujuan untuk mengurangi jumlah pendudukan Gaza utara dengan mengarahkan warga Palestina ke wilayah selatan, terutama Rafah.

    Radio Tentara Israel pada Selasa (20/5/2025) melaporkan rencana tersebut menetapkan bahwa semua warga Jalur Gaza bagian utara yang menuju pusat distribusi bantuan di selatan poros Salah al-Din tidak akan diizinkan kembali ke utara Gaza.

    Ditambahkan bahwa dengan cara ini, Israel berniat mempercepat evakuasi warga Gaza dari jalur Gaza utara dan bahwa daerah tersebut dapat sepenuhnya dikosongkan dari penduduknya.

    Sebelumnya pada Kamis, lembaga penyiaran publik Israel, KAN, melaporkan bahwa distribusi makanan oleh perusahaan asal Amerika Serikat akan dimulai pada Minggu melalui empat pusat—satu di koridor Netzarim, Gaza tengah, dan tiga lainnya di dekat Rafah.

    Sejak 2 Maret, Israel telah menutup total semua penyeberangan ke Gaza, yang menurut lembaga bantuan telah menjebak wilayah kantong tersebut dalam kelaparan dan menyebabkan banyak korban jiwa.

    Sumber: Antaranews.com/Anadolu

  • Israel Kuasai 77 Persen Wilayah Gaza: Upaya Genosida terhadap Rakyat Palestina

    Israel Kuasai 77 Persen Wilayah Gaza: Upaya Genosida terhadap Rakyat Palestina

    7cloud.asia – Tentara Israel saat ini menguasai lebih dari 77 persen wilayah geografis Gaza. Demikian pernyataan Kantor Media Pemerintah Gaza pada Minggu (25/5/2025).

    “Data lapangan dan analisis yang telah diverifikasi menunjukkan bahwa pasukan pendudukan Israel kini secara efektif menguasai sekitar 77 persen dari total luas wilayah (Jalur) Gaza,” ujar pernyataan tersebut.

    Penguasaan itu dilakukan melalui “serangan darat langsung, penempatan pasukan di kawasan permukiman dan area sipil

    Pernyataan itu juga menyebut tentara Israel dengan sengaja mencegah warga Palestina mengakses wilayah, tanah, dan properti mereka melalui tembakan intensif atau evakuasi paksa.

    Baca: Israel disebut sengaja ciptakan kelaparan di Gaza

    Kantor Media Gaza mengecam keras rencana Israel yang dinilai sebagai bentuk pemindahan massal penduduk, pembersihan etnis, genosida sistematis, dan kolonialisme pemukim secara paksa.

    “Semuanya dilakukan “di bawah kedok blokade dan perang terbuka yang menyasar warga serta infrastruktur”,” demikian pernyataan media Gaza tersebut.

    Pemerintah Gaza juga menyatakan bahwa Israel beserta para pendukungnya, termasuk Amerika Serikat, Inggris, Jerman, dan Prancis, bertanggung jawab penuh atas kejahatan genosida yang terjadi di wilayah tersebut.

    Sebelumnya, pada Kamis (22/5/2025) lalu, surat kabar Israel Hayom melaporkan bahwa militer Israel berencana menguasai 70–75 persen wilayah Jalur Gaza dalam waktu hampir tiga bulan sebagai bagian dari kampanye militer yang diperluas di kantong tersebut.

    Baca: Krisis kemanusiaan di Gaza semakin parah

    Menolak seruan gencatan senjata dari komunitas internasional, tentara Israel terus melancarkan serangan brutal ke Jalur Gaza sejak Oktober 2023, yang telah menewaskan lebih dari 53.900 warga Palestina — mayoritas perempuan dan anak-anak.

    Pada November lalu, Mahkamah Pidana Internasional (ICC) mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap pemimpin otoritas Israel Benjamin Netanyahu dan mantan kepala pertahanan Yoav Gallant.

    Keduanya dituduh telah melakukan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza.

    Israel juga sedang menghadapi gugatan genosida di Mahkamah Internasional (ICJ) atas kejahatan perang terhadap warga sipil tak bersenjata di Gaza.

    Sumber: Antaranews.com/Anadolu

  • Dewan Eropa Tegaskan Israel Harus Tarik Tentaranya dari Gaza

    Dewan Eropa Tegaskan Israel Harus Tarik Tentaranya dari Gaza

    7cloud.asia – Presiden Dewan Eropa Antonio Costa pada Senin (26/5/2025) mendesak Israel untuk mencabut blokade Gaza dan mengizinkan akses kemanusiaan yang “segera, aman dan tanpa hambatan”

    Seruan ini disampaikan setelah Antonio Costa melakukan pembicaraan melalui telepon dengan Presiden Otoritas Palestina Mahmoud Abbas.

    Dalam unggahannya di platform media sosial X, Costa mengatakan bahwa dia telah menyampaikan “keprihatinan yang mendalam” terkait situasi kemanusiaan yang sangat memprihatinkan di Gaza dan kekerasan yang terus meningkat di Tepi Barat.

    Dia menyuarakan dukungan penuh terhadap rencana bantuan lima tahap Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres untuk Gaza.

    Baca: Israel kuasai 77 persen wilayah Gaza

    Bantuan itu meliputi pemeriksaan dan pemindaian pasokan bantuan di perlintasan perbatasan, pengangkutan ke fasilitas kemanusiaan, distribusi lanjutan, dan pengiriman kepada mereka yang membutuhkan.

    “Israel harus mencabut blokadenya dan mengizinkan akses yang segera, aman, dan tanpa hambatan untuk bantuan kemanusiaan dan bantuan, sesuai dengan hukum internasional dan prinsip-prinsip kemanusiaan,” tulis Costa.

    Dia juga menegaskan bahwa para sandera yang tersisa yang masih ditahan Hamas harus segera dibebaskan.

    Israel telah meningkatkan kampanye militernya di Jalur Gaza dalam beberapa hari terakhir.

    Sedikitnya 33 warga Palestina, termasuk 18 anak-anak dan enam wanita, tewas dan puluhan lainnya terluka dalam serangan udara Israel pada Senin (26/5/2025) pagi waktu setempat

    Baca: Israel sengaja menciptakan kelaparan di Gaza

    Serangan ini menargetkan sekolah Fahmi Al-Jarjawi yang menjadi tempat perlindungan bagi keluarga-keluarga yang mengungsi, menurut Pertahanan Sipil Gaza.

    Sebelumnya, pernyataan Kantor Media Pemerintah Gaza pada Minggu (25/5/2025) menyebut tentara Israel saat ini menguasai lebih dari 77 persen wilayah geografis Gaza.

    Penguasaan itu dilakukan melalui “serangan darat langsung, penempatan pasukan di kawasan permukiman dan area sipil

    Pernyataan itu juga menyebut tentara Israel dengan sengaja mencegah warga Palestina mengakses wilayah, tanah, dan properti mereka melalui tembakan intensif atau evakuasi paksa.

    Penerjemah: Antaranews.com/Xinhua-Anadolu

  • Korban Tewas di Jalur Gaza Terus Bertambah, Setidaknya 54.000 Warga Palestina Tewas Sejak Oktober 2023

    Korban Tewas di Jalur Gaza Terus Bertambah, Setidaknya 54.000 Warga Palestina Tewas Sejak Oktober 2023

    7cloud.asia – Jumlah warga Palestina yang tewas di Gaza telah melampaui 54.000 orang sejak pecahnya konflik antara Hamas dan Israel pada 7 Oktober 2023, demikian disampaikan otoritas kesehatan Gaza pada Selasa (27/5/2025).

    Selama 24 jam terakhir, 79 warga Palestina tewas dan 163 lainnya terluka akibat serangan Israel di berbagai daerah di Jalur Gaza, kata otoritas kesehatan dalam sebuah pernyataan pers.

    Data statistik tersebut tidak termasuk rumah sakit di Kegubernuran Gaza Utara karena sulitnya akses ke sana.

    Baca: Hamas sebut Israel sengaja ciptakan kelaparan di Gaza

    Otoritas itu mengindikasikan bahwa sejumlah korban tewas dan terluka masih terjebak di bawah reruntuhan bangunan yang hancur atau di jalan-jalan.

    Penembakan hingga kini masih berlangsung dan tidak adanya koridor yang aman terus menghalangi upaya kru ambulans dan pertahanan sipil.

    Sejak Israel melanjutkan kembali kampanye militernya yang kian intensif pada 18 Maret, sedikitnya 3.901 warga Palestina tewas dan 11.088 lainnya terluka.

    Sehingga jumlah keseluruhan warga Palestina yang tewas di Gaza sejak perang dimulai pada Oktober 2023 mencapai 54.056 orang, dengan total korban luka sebanyak 123.129 orang.

    Baca: Lebih dari 16 ribu anak tewas sejak Israel serang Gaza

    Jalur Gaza mengalami kondisi kemanusiaan yang memprihatinkan di tengah kondisi keamanan yang memburuk dan operasi militer yang masih berlangsung, yang menghambat upaya bantuan dan akses ke populasi yang terdampak.

    Israel dan Hamas mencapai kesepakatan gencatan senjata yang ditengahi oleh Mesir, Qatar, dan Amerika Serikat pada Januari 2025.

    Namun, kesepakatan tersebut kandas dua bulan kemudian ketika operasi militer Israel kembali dilanjutkan di Jalur Gaza setelah tahap pertama kesepakatan itu berakhir dan kesepakatan tentang tahap kedua atau perpanjangannya tidak tercapai.

    Sumber: Xinhua/Antaranews

  • Hamas dan Israel Sepakati Gencatan Senjata di Jalur Gaza Selama 60 Hari

    Hamas dan Israel Sepakati Gencatan Senjata di Jalur Gaza Selama 60 Hari

    7cloud.asia – Kelompok perjuangan Palestina, Hamas dan Zionis Israel menyepakati gencatan senjata selama 60 hari ke depan di Jalur Gaza, lapor penyiar Al Arabiya yang mengutip berbagai sumber pada Kamis (29/5).

    Sebelumnya pada hari itu, Hamas mengatakan pihaknya telah menerima usulan baru gencatan senjata di Jalur Gaza dari Utusan Khusus Amerika Serikat Steve Witkoff melalui mediator.

    Sementara itu penyiar Israel Kan, yang mengutip beberapa sumber, melansir bahwa Israel sepakat dengan usulan baru Witkoff.

    Namun Hamas keberatan dengan usulan tersebut lantaran tidak ada jaminan perang berakhir secara permanen dan penarikan penuh militer Israel dari wilayah kantong itu.

    Menurut laporan, Utusan Khusus Presiden Donald Trump itu sudah diberitahu bahwa kedua pihak setuju untuk melakukan gencatan senjata.

     

    Sumber: Antaranews/Sputinik-OANA

  • Hamas Desak AS Beri Jaminan Atas Gencatan Senjata di Gaza

    Hamas Desak AS Beri Jaminan Atas Gencatan Senjata di Gaza

    7cloud.asia – Kelompok perlawanan Palestina, Hamas meminta mediator dari Amerika Serikat, Steve Witkoff, untuk memberikan jaminan tertulis yang serius terkait penghentian serangan Israel di Jalur Gaza.

    Juru bicara Hamas, Jihad Taha mengatakan bahwa Hamas dalam koordinasi dengan kelompok perlawanan lainnya, sedang meninjau dengan cermat proposal yang diajukan Steve Witkoff

    Demikian Pusat Informasi Palestina sebagaimana dilaporkan IRNA pada Sabtu (31/5/2025) waktu setempat.

    Taha menyampaikan bahwa rencana yang diajukan Witkoff tidak memiliki jaminan yang diperlukan dan gagal mengakomodasi sejumlah permintaan dari Hamas.

    Kendati demikian, ia menegaskan bahwa Hamas tetap mempertahankan sikap positif terhadap setiap inisiatif atau usulan yang dapat mengarah pada penghentian perang dan penarikan pasukan Israel dari Gaza.

    Baca: Hamas dan Israel sepakati gencatan senjata selama 60 hari

    Ia juga menekankan bahwa setiap kesepakatan harus mencakup gencatan senjata penuh serta penarikan total militer Israel dari Jalur Gaza.

    Namun, versi final dari rencana Witkoff tidak mencantumkan jaminan langsung maupun bertahap untuk penghentian perang.

    Diberitakan sebelumnya Hamas dan Zionis Israel menyepakati gencatan senjata selama 60 hari ke depan di Jalur Gaza, lapor penyiar Al Arabiya yang mengutip berbagai sumber pada Kamis (29/5/2025).

    Hamas mengatakan pihaknya telah menerima usulan baru gencatan senjata di Gaza dari Utusan Khusus Amerika Serikat untuk Timur Tengah, Steve Witkoff.

    Sementara itu penyiar Israel Kan, dengan mengutip beberapa sumber, melansir bahwa Israel sepakat dengan usulan baru Witkoff.

    Baca: Blokade Israel picu krisis kemanusiaan di Gaza

    Namun Hamas keberatan dengan usulan tersebut lantaran tidak ada jaminan perang berakhir secara permanen dan penarikan penuh militer Israel dari wilayah kantong itu.

    Lebih lanjut, Taha menyerukan kepada organisasi-organisasi internasional untuk menyatakan status darurat guna menyelamatkan Gaza dari bencana kemanusiaan.

    Menurut kantor berita Wafa, agresi Israel di Gaza sejak 7 Oktober 2023 telah menewaskan 54.321 warga Palestina dan melukai 123.770 lainnya.

    Serangan Israel juga menghancurkan sebagian besar wilayah Gaza. Hingga saat ini tentara Israel masih menerapkan blokade terhadap Gaza yang dihuni lebih dari 2juta jiwa.

    Sumber: Antaranewscom/Sputnik-IRNA-OANA