Tag: perubahan iklim

  • Perubahan Iklim Memicu Cuaca Ekstrem: Sudah Saatnya Merombak Tata Kelola air

    Perubahan Iklim Memicu Cuaca Ekstrem: Sudah Saatnya Merombak Tata Kelola air

    7cloud.asia – Perubahan iklim membuat cuaca ekstrem makin sering terjadi. Sayangnya, sistem tata kelola air kita belum siap menghadapinya.

    Mayoritas infrastruktur dan sistem pengelolaan air di Indonesia masih dibangun berdasarkan asumsi lama saat iklim relatif stabil, belum mempertimbangkan skenario perubahan iklim.

    Hal ini terlihat dari bagaimana infrastruktur seperti bendungan, tanggul, dan sistem irigasi dirancang dengan mengacu pada pola curah hujan dan suhu yang stabil. Padahal, cuaca kini tak menentu.

    Akibatnya, sistem yang kita miliki mudah kolaps saat menghadapi cuaca ekstrem. Ketika hujan lebat mengguyur, jalan-jalan utama bisa tergenang hanya dalam hitungan jam. Sebaliknya, ketika kemarau datang, banyak wilayah mengalami kekeringan dan kekurangan air bersih.

    Butuh pendekatan baru
    Untuk menghadapi cuaca ekstrem dan krisis iklim, kita perlu merombak sistem tata kelola air menjadi lebih luwes, tersebar, dan terpadu, dengan melibatkan partisipasi masyarakat.

    Sistem yang luwes
    Sistem air masa depan harus mampu beradaptasi dengan kondisi lingkungan yang terus berubah.

    Salah satu contohnya ada di Bali. Beberapa kelompok subak—sistem irigasi tradisional berbasis komunitas—mulai menyesuaikan jadwal tanam berdasarkan curah hujan terkini.

    Dengan sistem ini, air irigasi tidak perlu membanjiri sawah secara terus-menerus. Kelompok subak membasahi lahan secara bergilir sesuai kebutuhan tanaman dan kondisi iklim.

    Baca: Air sebagai elemen penting kehidupan belum banyak dipelajari

    Metode ini dikenal sebagai intermittent flooding atau nyorog, meninggalkan kalender musiman konvensional.

    Data lapangan menunjukkan penerapan sistem pengairan selang-seling ini menghasilkan rata-rata panen padi 10,9 ton per hektare. Hasil panen tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan sistem pengairan terus-menerus atau FLD yang hanya menghasilkan 6,35 ton per hektare.

    Studi di Subak Guama mencatat peningkatan efisiensi penggunaan air irigasi dari 69,05 persen menjadi 86,52 persen melalui strategi nyorog—membagi jadwal tanam dalam empat kelompok bergilir per setengah bulan.

    Teknik ini juga mampu menurunkan emisi gas rumah kaca hingga 85 persen dan meningkatkan hasil panen hingga 72 persen

    Artinya, penyesuaian jadwal tanam berbasis kondisi nyata bukan hanya menghemat air, tetapi juga meningkatkan hasil panen secara signifikan.

    Desentralisasi
    Saat ini, sebagian besar sistem air Indonesia sangat bergantung pada satu sumber besar seperti sungai atau bendungan utama. Hal ini membuat seluruh jaringan menjadi sangat rentan ketika sumber besar tersebut tergangggu.

    Kita perlu mendorong pendekatan desentralistik, yakni pengelolaan air secara mandiri di tingkat lokal atau individu. Caranya bisa melalui penampungan air hujan, sistem penyimpanan lokal (rain tank), dan sumur resapan di rumah, sekolah, kantor, serta fasilitas publik lainnya.

    Selain mengurangi tekanan pada sistem pasokan air terpusat dan memperkecil risiko gangguan layanan saat terjadi bencana atau kerusakan infrastruktur utama, pengelolaan air hujan seperti ini penting untuk ketahanan air jangka panjang.

    Baca: Separuh populasi dunia terancam kekurangan air

    Selain itu, sistem ini juga bisa membantu mengelola limpasan air hujan secara lebih efektif, sehingga banjir lebih mudah dicegah.

    Pemerintah DI Yogyakarta sudah mulai melakukan pendekatan ini dengan membangun lebih dari 2.700 sumur resapan di kawasan pemukiman.

    Dampaknya sudah terasa. Contohnya di kawasan Pogung Baru, Sleman, pembangunan sumur resapan mampu mengurangi limpasan air hingga sekitar 70 persen. Sementara di area kampus UGM, debit air permukaan menurun antara 5–11 persen.

    Di Lampung, tim Institut Teknologi Sumatra (ITERA) bekerja sama dengan sekolah-sekolah dasar membangun sistem pemanenan air hujan. Hasilnya, air hasil tangkapan cukup untuk keperluan domestik sekolah dan mengurangi ketergantungan pada air tanah.

    Terintegrasi lintas sektor dan wilayah
    Air tak mengenal batas administrasi. Namun pengelolaan air di Indonesia masih terkotak-kotak antara pusat dan daerah, antarkementerian, bahkan antar instansi di satu wilayah.

    Solusi jangka panjang pengelolaan air membutuhkan integrasi lintas sektor dan tata ruang, pertanian, lingkungan, dan masyarakat.

    Dalam hal ini, pemerintah pusat harus menjadi koordinator utama, menetapkan standar nasional. Pemerintah juga perlu membangun sistem pemantauan berbasis data.

    Indonesia memang mempunyai Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2019 yang mengatur tata kelola air. Namun, pelaksanaannya masih lemah.

    Baca: Mengenal Subak, tata kelola air berkelanjutan di Bali

    Indonesia tertinggal jauh dengan Singapura yang sudah menerapkan Four Taps Strategy. Melalui strategi ini, Singapura mnerapkan diversifikasi sumber air nasional mencakup daerah tangkapan lokal, air impor, air daur ulang, dan desalinasi, untuk memastikan ketahanan air jangka panjang.

    Pendekatan ini pun tak hanya fungsi sebagai drainase dan penyimpanan air, tetapi juga rekreasi, estetika, dan pelestarian lingkungan lewat ABC Waters Programme.

    Air sebagai hak dan tanggung jawab bersama
    Tata kelola air tak bisa lagi dianggap sebagai urusan teknis belaka. Ini menyangkut hak dasar warga, keadilan ekologis, serta ketahanan sosial-ekonomi dalam menghadapi perubahan iklim.

    Kita perlu menggeser paradigma dari “mengatasi krisis” menjadi “membangun ketahanan”. Oleh karena itu, kita perlu berinvestasi pada sistem yang lentur, kolaboratif, dan berbasis masyarakat.

    Sistem pengairan seharusnya tidak runtuh saat kondisi ekstrem melanda, tapi justru mampu beradaptasi dan bangkit lebih kuat.

    Air adalah milik bersama. Mengelolanya dengan bijak di tengah krisis iklim adalah tanggung jawab kita semua. Kita harus bertindak sekarang, jangan menunggu krisis air benar-benar terjadi.

    Krisis air adalah ancaman nyata dan sedang berlangsung yang memengaruhi banyak negara, termasuk yang kaya sumber daya alam jika pengelolaannya tidak optimal.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Muhammad Hakiem Sedo Putra (Dosen Rekayasa Tata Kelola Air Terpadu, Institut Teknologi Sumatera)

     

  • Hujan Ekstrem Akibat Perubahan Iklim Memicu Bencana Hidrometeorologi di Sejumlah Negara

    Hujan Ekstrem Akibat Perubahan Iklim Memicu Bencana Hidrometeorologi di Sejumlah Negara

    7cloud.asia – Hujan ekstrem dengan intensitas jauh lebih tinggi dibanding kondisi normal telah menyebabkan sejumlah bencana hidrometeorologi di beberapa negara.

    Bencana hidrometeorologi tersebut, antara lain terjadi di Korea Selatan, Pakistan, China, beberapa negara bagian di India, bahkan di Amerika Serikat, telah menyebabkan kerusakan, gangguan layanan umum, dan mengakibatkan korban jiwa.

    Bencana hidrometeorologi ini mengingatkan bahwa dampak perubahan iklim sudah di depan mata, sehingga dunia tidak bisa lagi terus menutup mata dan harus segera mengambil langkah serius untuk menurunkan emisi karbon sekaligus memulihkan kondisi lingkungan.

    Berikut serangkaian bencana hidrometeorologi yang terjadi di beberapa negara di dunia dalam beberapa bulan terakhir, dikutip dari berbagai sumber.

    Baca: Bencana alam makin intens akibat perubahan iklim

    1. Banjir bandang di Texas, AS, tewaskan total 119 orang
    Banjir bandang yang terjadi di Texas, Amerika Serikat, hingga Rabu (9/7/2025) telah merenggut total korban jiwa hingga 119 orang.

    Kerr County melaporkan 95 korban jiwa, 36 di antaranya anak-anak. Korban tewas yang belum teridentifikasi terdiri dari 14 orang dewasa dan 13 anak, menurut kantor sheriff wilayah itu dalam unggahannya di Facebook.

    Selain jumlah kematian yang telah dikonfirmasi, lima anak dan seorang pembina dari Camp Mystic, sebuah perkemahan anak perempuan di Kerr County, belum ditemukan.

    Sebelumnya pada Senin, perkemahan musim panas itu menyatakan bahwa 27 peserta dan pembina tewas dalam bencana itu.

    Korban jiwa lainnya dilaporkan di beberapa wilayah: tujuh di Travis County, lima di Burnet County, delapan di Kendall County, tiga di Williamson County, dan satu di Tom Green County, menurut laporan CNN.

    Sementara itu, sedikitnya 172 orang masih dinyatakan hilang, 161 di antaranya di Kerr County.

    Baca: Banjir bandang di Texas Amerika Serikat tewaskan lebih dari 100 Orang

    2. Hujan monsun renggut 125 nyawa di Himachal Pradesh, India
    Hujan monsun mengakibatkan banjir besar di negara bagian Himachal Pradesh di India utara yang menewaskan 125 orang, sementara puluhan lainnya luka-luka dan hilang.

    Hujan deras yang terus berlanjut di seluruh negara itu, menurut keterangan pejabat pemerintah pada Senin.

    Menurut pernyataan dari Pusat Operasi Darurat negara bagian tersebut, sedikitnya 125 orang tewas dalam insiden yang terkait hujan sejak Juni, termasuk 55 orang dalam kecelakaan lalu lintas.

    Sebanyak 215 orang lainnya juga mengalami luka-luka, dan 34 orang dilaporkan masih hilang.

    Hujan deras mengguyur negara bagian Himalaya itu pada Senin sehingga menutup jalanan dan menghambat operasi penyelamatan, menurut pernyataan tersebut.

    Baca: Hujan deras guyur Korea Selatan dalam empat hari berturut-turut

    3. Hujan deras tewaskan 4 orang, 1 hilang di Korsel
    Empat orang tewas dan satu orang hilang seiring hujan deras melanda wilayah tengah dan selatan Korea Selatan (Korsel) selama berhari-hari, demikian pernyataan Kementerian Dalam Negeri dan Keamanan Korsel, Jumat (18/7/2025).

    Empat orang meninggal dunia dan satu orang masih dinyatakan hilang hingga pukul 06.00 pagi waktu setempat (04.00 WIB), papar kementerian itu.

    Sebuah tembok penahan tanah runtuh dan menimpa kendaraan yang sedang melaju di Provinsi Gyeonggi pada Rabu (16/7/2025), menewaskan seorang pengemudi berusia 40-an tahun.

    Seorang pria berusia 60-an tahun ditemukan mengalami serangan jantung di dalam kendaraan yang terendam banjir di Provinsi Chungcheong Selatan pada Kamis (17/7/2025) pagi. Dia sempat dilarikan ke rumah sakit terdekat, tetapi akhirnya meninggal dunia.

    Dua pria lainnya yang berusia 80-an tahun ditemukan tewas di tengah kondisi banjir pada Kamis tersebut.

    Upaya pencarian seorang pria yang dilaporkan hilang pada Kamis malam akibat terseret arus sungai di dekat jembatan di Provinsi Jeolla Selatan sedang dilakukan.

    Baca: Eropa alami bencana terburuk akibat perubahan iklim

    4. Banjir di Pakistan tewaskan 3 orang, 15 hilang
    Banjir yang dipicu oleh hujan lebat yang melanda Pakistan utara pada Senin menyebabkan sedikitnya tiga wisatawan lokal tewas dan 15 lainnya hilang, kata otoritas penanggulangan bencana negara itu.

    Empat orang juga luka-luka akibat insiden yang terkait hujan setelah hujan deras melanda Babusar Top, sebuah destinasi wisata terkenal yang terletak di Distrik Diamer di wilayah Gilgit-Baltistan (GB), kata Otoritas Penanggulangan Bencana Nasional (NDMA) dalam sebuah pernyataan.

    Juru bicara pemerintahan Gilgit-Baltistan, Faizullah Firaq, mengonfirmasi dalam sebuah pernyataan bahwa 15 wisatawan hilang saat delapan kendaraan wisata hanyut dalam banjir bandang yang terjadi di wilayah tersebut.

    Korban baru tersebut menambah jumlah korban tewas di seluruh negeri menjadi 188 orang selama musim hujan yang berlangsung sejak 26 Juni. Lebih dari 600 orang juga luka-luka selama periode tersebut.

    Baca: Xi Jinping tegaskan komitmen China dalam menahan laju perubahan iklim

    5. Banjir bandang di China timur tewaskan 2 orang, 10 hilang
    Sedikitnya dua orang tewas dan 10 orang lainnya hilang akibat banjir bandang di Provinsi Shandong, China Timur, yang disebabkan oleh hujan deras, menurut laporan surat kabar Global Times pada Selasa.

    Hujan deras melanda Distrik Laiwu, Kota Jinan, dengan puncak curah hujan mencapai 364 milimeter (atau 14,33 inci) sehingga menyebabkan banjir bandang di dua desa terdekat di daerah Dawangzhuang, dan menghancurkan atau merusak 19 rumah.

    Operasi pencarian dan penyelamatan masih berlangsung bersamaan dengan upaya bantuan dan pemulihan pascabencana yang dilakukan secara terkoordinasi.

    Perkembangan situasi tersebut terjadi setelah pada Senin China mengeluarkan peringatan darurat tingkat tertinggi menanggapi datangnya Topan Wipha, topan keenam pada tahun ini.

  • Menguji Skenario Pengurangan Emisi Karbon di Indonesia

    Menguji Skenario Pengurangan Emisi Karbon di Indonesia

    7cloud.asia – Di tengah perubahan iklim yang semakin parah, tidak ada jalan lain selain memangkas emisi karbon secara besar-besaran.

    Indonesia sendiri berkomitmen untuk mencapai target nol emisi (Net Zero Emission) pada 2060 atau lebih cepat sebagai bagian dari upaya global menangani perubahan iklim.

    Dalam usaha mencapai target ini, Indonesia membutuhkan beberapa peralatan untuk membantu menghitung dan merumuskan rencana pengurangan emisi karbon dengan akurat. Kalkulator NZE adalah salah satunya.

    Alat ini memungkinkan siapa saja, tak hanya pemerintah, tapi juga organisasi masyarakat sipil, akademisi, jurnalis, dan warga sipil—untuk bisa turut mengeksplorasi dan mengevaluasi berbagai opsi dan skenario pengurangan emisi karbon yang paling optimal, terutama di sektor energi.

    Kalkulator karbon pertama kali diperkenalkan Departemen Bisnis, Energi, dan Strategi Industri Inggris pada 2020 dengan nama UK Carbon Calculator dan kemudian berkembang menjadi MacKay Carbon Calculator, yang dinamai dari fisikawan energi Sir David MacKay.

    Versi lokal Indonesia dikembangkan pada 2023 dengan nama Kalkulator NZE Indonesia.

    Inisiatif ini dilakukan melalui program kemitraan UK-MENTARI (Menuju Transisi Energi Rendah Karbon Indonesia). Ini adalah program kemitraan antara pemerintah Indonesia dan pemerintah Inggris untuk mempercepat transisi energi.

    Baca: Gaya hidup orang kaya jadi sumber utama emisi karbon

    Fitur Kalkulator NZE Indonesia
    Kalkulator ini terbuka untuk publik dan bisa diakses gratis melalui situs resmi NZE Calculator.

    Dengan tampilan yang interaktif, pengguna bisa memodelkan dan menguji berbagai skenario kebijakan serta laju transisi energi menuju pengurangan emisi karbon paling optimal dengan panduan yang telah tersedia.

    Simulasi berbagai skenario transisi energi
    Kalkulator NZE mengandalkan data dari peta jalan NZE oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dalam Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN).

    Kalkulator ini memiliki empat level skenario dengan tingkat ambisi yang berbeda, mulai dari dari level 1 (rendah), level 2 (cukup), level 3 (baik), hingga level 4 (terbaik atau transformasi total).

    1. Skenario rendah
    Dalam skenario ini, penggunaan teknologi energi masih sangat sedikit. Pembangkit listrik dari batu bara masih bertahan cukup lama.

    Transportasi masih didominasi truk diesel dan kendaraan bensin, dengan adopsi kendaraan listrik yang lambat. Sektor industri dan pertambangan masih boros energi.

    Skenario ini menggambarkan emisi karbon yang masih sangat tinggi: sekitar 813 juta ton CO₂ pada 2060, hanya sedikit turun dari level saat ini.

    Baca: Negara miskin paling merasakan dampak perubahan iklim

    2. Skenario cukup
    Dalam skenario ini, teknologi carbon capture atau penangkapan karbon mulai dipakai di pembangkit batu bara pada 2040. Listrik bertenaga surya makin dominan (150 gigawatt/GW pada 2060).

    Ada dorongan untuk efisiensi energi di sektor industri, dan kendaraan listrik mulai mengambil alih ruang jalan, meski moda transportasi massal seperti kereta masih stagnan.

    Emisi karbon pada skenario ini turun cukup signifikan, yakni menjadi 435 juta ton CO₂ pada 2060. Ini adalah skenario sesuai dengan Peta Jalan NZE 2060 versi pemerintah.

    3. Skenario baik
    Di level ini, pembangkit listrik batu bara dihentikan lebih awal, dan energi terbarukan mendominasi.

    Transportasi dirombak secara masif dengan bus listrik beroperasi di 90 persen provinsi. Selain itu, truk berbasis hidrogen mulai masuk pasar, dan penumpang transportasi umum meningkat pesat. Industri juga beralih ke teknologi efisien, dan penggunaan bioenergi signifikan.

    Dalam skenario ini, emisi karbon turun hingga 129 juta ton CO₂ pada 2060.

    Baca: Prinsip bangunan hijau turut berkontribusi pada penurunan emisi karbon

    4. Skenario terbaik
    Emisi karbon turun drastis menjadi 42 juta ton CO₂ pada 2060. Teknologi canggih seperti pembangkit listrik berbasis hidrogen dan amonia digunakan secara luas. Semua kendaraan baru yang dijual adalah kendaraan listrik sejak 2045.

    Sistem energi Indonesia akan hampir sepenuhnya bersih. Bahkan intensitas energi di sektor industri dan pertambangan ditekan seminimal mungkin. Hutan terjaga, dan lahan dimanfaatkan secara cermat untuk bioenergi.

    Setiap skenario di Kalkulator NZE menunjukkan, semakin tinggi ambisi, semakin besar peluang Indonesia untuk memenuhi target iklim global.

    Sementara itu, jika menggunakan peta jalan pemerintah saat ini, maka kita masih berada di level cukup. Apabila ingin mendekati target nol emisi, maka skenario yang kita gunakan harus lebih ambisius lagi.

    Pengguna kalkulator bisa menguji sendiri berbagai skenario dengan mengubah dan menyesuaikan setiap teknologi, baik di sisi pasokan (seperti pembangkit energi terbarukan) maupun sisi permintaan energi (konsumsi) sesuai yang diinginkan.

    Dengan hanya menyesuaikan level, pengguna bisa langsung melihat dampak setiap kebijakan energi terhadap emisi, biaya, dan proyeksi penggunaan energi.

    Baca: Prinsip ekonomi sirkular berkontribusi pada penurunan emisi karbon

    Keterbukaan ini tidak hanya meningkatkan literasi energi dan iklim bagi publik, tapi juga mendorong diskusi publik berbasis bukti mengenai jalan terbaik menuju nol emisi.

    Meski demikian, kalkulator ini juga punya keterbatasan. Beberapa parameter tidak dapat diubah secara bebas. Skenarionya juga hanya bisa disimpan secara manual. Oleh karena itu, pengguna perlu mencatat/merekam setiap skenario yang dibuat dengan kalkulator ini.

    Menuju nol emisi
    Untuk mencapai target NZE pada 2060, Indonesia memerlukan transformasi sistem energi nasional secara menyeluruh.

    Seluruh sektor memerlukan perencanaan matang berbasis data. Pemerintah semestinya bisa memanfaatkan kalkulator NZE untuk membantu memodelkan skenario terbaik: sektor apa yang butuh pengembangan, teknologi apa yang diperlukan, dan kapan teknologi tersebut diperlukan.

    Dengan begitu, sektor swasta dan lembaga keuangan bisa mengarahkan dana mereka ke proyek-proyek rendah karbon yang paling berdampak.

    Publik juga bisa memantau proses kebijakan, apakah sudah sejalan atau justru bertentangan dengan target pengurangan emisi global.

    Lebih dari sekadar alat teknis, Kalkulator NZE Indonesia adalah alat demokratisasi pengetahuan yang bisa mengajak publik untuk ikut serta dalam merancang masa depan energi Indonesia.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Dwi Novitasari (Doctor candidate, Universitas Gadjah Mada)

  • Gelombang Panas Makin Ganas, Tapi Alam Menawarkan Cara Berkelanjutan untuk Menurunkan Suhu Perkotaan

    Gelombang Panas Makin Ganas, Tapi Alam Menawarkan Cara Berkelanjutan untuk Menurunkan Suhu Perkotaan

    7cloud.asia – Seiring dengan perubahan iklim di seluruh dunia, gelombang panas yang memecahkan rekor diperkirakan akan semakin sering terjadi terutama di kota-kota besar di dunia

    Gelombang panas ekstrem sering meninggalkan jejak gangguan perkotaan – dan seringkali mengakibatkan kematian – setelahnya.

    Namun, para ahli mengatakan kota-kota, yang sangat rentan terhadap pemanasan, dapat menangkal beberapa dampak terburuk gelombang panas dengan menanam pohon, memulihkan sumber air, dan memanfaatkan solusi alami lainnya.

    “Alam menawarkan begitu banyak cara berkelanjutan dan hemat biaya untuk menurunkan suhu,” kata Steven Stone, Wakil Direktur Divisi Industri dan Ekonomi Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP).

    Dia menambahkan, banyak kota mulai menyadari cara alami ini, yang merupakan langkah penting dalam beradaptasi dengan perubahan iklim dan panas ekstrem yang akan ditimbulkannya.”

    AC memperparah krisis iklim. Bisakah alam membantu?
    Para ahli iklim telah lama memperingatkan tentang kenaikan suhu global dan peningkatan risiko bagi kesehatan manusia.

    Baca: Mengapa gelombang panas semakin mematikan

    Laporan Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim atau IPCC 2022 menggambarkan gambaran suram tentang pemanasan global yang tidak terkendali: peningkatan gelombang panas, musim hangat yang lebih panjang, dan musim dingin yang lebih pendek.

    Kota-kota, yang dihuni 55 persen umat manusia, bisa menjadi sangat panas. Suhu di kota-kota biasanya 5°C hingga 9°C lebih hangat daripada daerah pedesaan karena bangunan beton dan trotoar menyerap dan memancarkan sinar matahari.

    Konsentrasi manusia, mobil, dan mesin di kota-kota juga mendorong kenaikan suhu. Pada tahun 2050, kecuali umat manusia secara drastis mengurangi emisi gas rumah kaca yang mengubah iklim, hampir 1.000 kota akan mengalami suhu tertinggi

    Diperkirakan, rata-rata suhu di musim panas sebesar 35°C atau hampir tiga kali lipat dari kondisi saat ini.

    Populasi perkotaan yang terpapar suhu tinggi ini juga diperkirakan meningkat hingga 800 persen, mencapai 1,6 miliar pada pertengahan abad ini.

    Panas ekstrem seringkali berakibat fatal. Sebuah studi baru dalam jurnal Nature Medicine menemukan bahwa di Eropa saja, terdapat lebih dari 61.000 kematian terkait panas pada musim panas lalu, banyak di antaranya terjadi di perkotaan.

    Baca: Konsep bangunan hijau sebagai solusi mengatasi panas perkotaan

    “Penyakit dan kematian akibat panas dapat dicegah dengan kesadaran, sumber daya, dan respons yang tepat, yang banyak di antaranya dapat diimplementasikan di skala perkotaan,” kata Eleni Myrivili, Global Chief Heat Officer UN-Habitat

    Ia menambahkan bahwa kota-kota dapat mengurangi risiko panas dengan mengeluarkan peringatan dini akan panas ekstrem dan membuka pusat pendingin, sekaligus “meningkatkan secara radikal” ruang hijau dan alam.

    Data UNEP menunjukkan bahwa menanam pohon di jalan-jalan kota dapat memberikan 77 juta orang pengurangan suhu hingga 1°C di hari-hari panas.

    Pada hari cerah biasa, sebatang pohon dapat mentranspirasikan beberapa ratus liter air, yang setara dengan efek pendinginan dua AC rumah tangga yang menyala selama 24 jam.

    Hutan kota dan taman-taman besar juga memberikan manfaat pendinginan hingga hampir 1 kilometer di luar batasnya dengan mengangkat udara hangat di atas permukaan tanah dan menyebarkan udara dingin.

    Baca: Kota-kota di belahan bumi selatan rentan terhadap panas ekstrem

    Ruang terbuka hijau yang terhubung menciptakan koridor angin yang mengurangi suhu lokal.

    Fakta ini membuktikan bahwa alam menawarkan begitu banyak cara berkelanjutan dan hemat biaya untuk mengurangi suhu.

    Selain itu melestarikan badan air, seperti danau, kanal, kolam maupun lahan basah di wilayah perkotaan, dapat memberikan efek pendinginan yang signifikan.

    Di ibu kota Yunani, Athena – yang terdampak parah oleh kenaikan suhu dan kebakaran hutan di sekitarnya – para pejabat kota menggunakan saluran air dari era Romawi untuk mengairi koridor pendingin hijau

    Otoritas kota Athena membangun koridor hijau sepanjang 24 kilometer yang mengarah ke pusat kota.

    Solusi alami seperti ini sangat penting karena membantu mengurangi suhu tanpa berkontribusi terhadap perubahan iklim.

    Baca: Menghijaukan Jakarta dengan memperbanyak ruang terbuka hijau

  • Perubahan Iklim Mempengaruhi Produksi Pisang Dunia

    Perubahan Iklim Mempengaruhi Produksi Pisang Dunia

    7cloud.asia – Pertanian merupakan salah satu sektor yang paling rentan terhadap perubahan iklim, karena hasil panen berubah seiring dengan interaksi faktor-faktor iklim seperti suhu, pola curah hujan, lamanya musim tanam, serta hama dan penyakit.

    Seiring memburuknya perubahan iklim, pasokan pangan, kualitas pangan, dan mata pencaharian petani pun ikut menurun.

    Dilansir Earth.org, sejumlah komoditas pertanian seperti pisang, kopi dan coklat merasakan dampak perubahan iklim. Dalam artikel ini kita akan ulas bagaimana tanaman pisang terimbas dampak perubahan iklim.

    Pisang (Musa Sp) merupakan tanaman pangan terbesar keempat di dunia setelah gandum, beras, dan jagung, dengan lebih dari 400 juta orang mengandalkannya untuk memenuhi 15-27 persen kebutuhan kalori harian mereka.

    Menurut penelitian terbaru oleh lembaga amal Christian Aid yang berbasis di Inggris, produksi di negara-negara seperti India dan Brasil diperkirakan akan menurun pada pertengahan abad ini akibat dampak perubahan iklim

    Penurunan produksi pisang dunia juga berdampak pada eksportir utama seperti Kolombia dan Kosta Rika.

    Baca: BRIN dorong pemuliaan pisang liar untuk pilar ketahanan pangan

    Para peneliti juga menemukan bahwa hingga 60 persen lahan di Amerika Latin dan Karibia, wilayah penghasil pisang terkemuka di dunia, tidak akan lagi cocok untuk ditanami pisang pada tahun 2080.

    “Perubahan iklim semakin parah setiap hari. Perubahan iklim merusak perkebunan kami dan juga membunuh kami,” ujar Aurelia, seorang petani Guatemala, kepada lembaga nirlaba tersebut.

    Beberapa faktor terkait iklim dapat memengaruhi tanaman pisang, termasuk peristiwa cuaca ekstrem seperti topan dan kekeringan. Namun, menurut Sophia, petani lain dari Guatemala, panas ekstremlah yang menghancurkan lahan-lahan pertanian di negaranya.

    “Masalah terbesar yang kami hadapi di komunitas ini adalah suhu panas yang tinggi, dan bagaimana iklim di sini memengaruhi perkebunan dan tanaman kami. Kami telah mengalami suhu panas tinggi ini selama dua tahun berturut-turut,” ujarnya.

    Menurut Christian Aid, kondisi cuaca yang tidak stabil memengaruhi produksi pisang dalam berbagai cara.

    Pertama, suhu di bawah 12°C dapat menyebabkan kerusakan akibat dingin pada tanaman, sementara suhu di atas 38°C biasanya menghentikan pertumbuhan,

    Baca: Indonesia punya lebih dari 300 jenis pisang lokal

    Kedua, angin kencang selama siklon tropis juga menjadi masalah, karena dapat merobek daun, sehingga memengaruhi fotosintesis tanaman.

    Selain itu, banjir yang disebabkan oleh hujan lebat juga dapat mengganggu pertumbuhan pisang karena dapat mengikis tanah.

    Masalah lain yang memengaruhi pisang adalah penyakit seperti Fusarium TR4 dan bercak daun hitam, yang semakin berkembang biak dalam kondisi panas dan basah, sehingga memengaruhi produktivitas tanaman.

    TR4, penyakit mematikan yang lebih dikenal sebagai penyakit Panama, pertama kali terdeteksi di Asia pada tahun 1970-an. Penyakit ini menyebar ke Afrika pada tahun 2013 dan tiba di Amerika Latin tujuh tahun kemudian.

    Sebagai ancaman terbesar dunia bagi produksi pisang, patogen yang berasal dari tanah ini mencemari lahan secara permanen, membuatnya tidak dapat ditanami.

    Sementara itu, garis hitam pada daun diketahui mengganggu pasokan oksigen tanaman, sehingga mengurangi hasil panen pisang hingga 80 persen.

    Baca: Pertanian regeneratif dilirik untuk amankan pasokan pangan

     

  • BRIN: Indonesia Masuki Babak Baru Terkait Perubahan Iklim

    BRIN: Indonesia Masuki Babak Baru Terkait Perubahan Iklim

    7cloud.asia – Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap bahwa Indonesia kini memasuki tahapan baru terkait perubahan iklim atau next level climate change.

    Temuan BRIN soal perubahan iklim ini berdasarkan sejumlah indikator utama yang dianalisis dalam studi iklim jangka panjang sejak 1990 hingga proyeksi 2050.

    Hasil studi ini telah dipublikasikan dalam berbagai jurnal ilmiah internasional dan menjadi acuan penting dalam memahami serta memitigasi dampak perubahan iklim di Indonesia ke depan.

    Peneliti dari Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Erma Yulihastin mengatakan bahwa tahapan baru ini mencerminkan respons regional Indonesia terhadap peningkatan suhu atmosfer bumi yang kini berfluktuasi di sekitar 1,5°C.

    “Karena Indonesia didominasi atas lautan, maka respons tiap wilayah terhadap perubahan iklim tak seragam,” kata Erma dalam keterangan tertulis, Juni lalu.

    Baca: Pemanasan global akibat penggunaan bahan bakar fosil

    Salah satu dampak utama perubahan iklim yang diidentifikasi adalah perubahan pola musim. Musim hujan kini cenderung berlangsung lebih lama, namun hari-hari kering tanpa hujan juga semakin sering terjadi.

    Di sisi lain, intensitas hujan deras dan hujan ekstrem meningkat di sejumlah wilayah, seperti Sumatera bagian selatan, Jawa bagian barat, Kalimantan bagian selatan, dan Sulawesi bagian selatan.

    Musim kemarau juga mengalami perubahan, menjadi lebih basah khususnya di wilayah selatan Indonesia.

    Wilayah Jawa bagian tengah dan timur, Bali, Lombok, serta Nusa Tenggara tercatat mengalami peningkatan frekuensi hujan ekstrem.

    Sementara di Sumatera bagian barat, Jambi, Pekanbaru, serta sebagian besar wilayah tengah pulau tersebut, hujan ekstrem diprediksi akan terjadi lebih sering.

    Baca: Banjir besar saat musim kemarau adalah dampak perubahan iklim

    Erma menambahkan, perubahan iklim mengakibatkan Pulau Jawa mengalami perubahan signifikan dalam variasi suhu maksimum dan minimum.

    “Dalam hal ini, wilayah di utara Jawa Timur, termasuk Surabaya, akan lebih sering terpapar suhu maksimum yang ekstrem,” tuturnya.

    Sementara itu, Jawa bagian barat akan lebih sering mengalami temperatur minimum yang lebih rendah.

    Menurut Erma, perubahan variasi temperatur di Pulau Jawa ini berpotensi memperkuat intensitas angin darat-laut dan meningkatkan ketidakstabilan angin di atas daratan.

    Akibatnya, badai akan semakin intens terjadi dan cuaca ekstrem semakin sering terjadi di Pulau Jawa.

    Baca: Perubahan iklim dapat memicu kemiskinan

    Sedangkan untuk Pulau Kalimantan, terdapat perbedaan antara Kalimantan Timur dan Kalimantan Barat dalam merespons perubahan iklim.

    “Kalimantan barat cenderung lebih sering mengalami ancaman hujan ekstrem, sedangkan Kalimantan timur dan Kaliamantan Selatan menghadapi ancaman kekeringan di masa depan,” katanya.

    Suhu udara lebih tinggi diperkirakan terjadi di wilayah timur, tengah, dan selatan Pulau Kalimantan.

    Kekeringan ekstrem di masa mendatang juga berdampak pada wilayah Kalimantan bagian tengah, timur dan selatan (termasuk IKN). Sedangkan Kalimantan bagian barat diproyeksikan mengalami hari-hari yang lebih basah.

     

  • Dampak Perubahan Iklim pada Produksi Kopi Dunia

    Dampak Perubahan Iklim pada Produksi Kopi Dunia

    7cloud.asia – Pertanian merupakan salah satu sektor yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim,

    Hal ini karena hasil pertanian berubah seiring dengan interaksi faktor-faktor iklim seperti suhu, pola curah hujan, lamanya musim tanam, serta hama dan penyakit yang dipicu perubahan iklim.

    Seiring memburuknya perubahan iklim, pasokan pangan, kualitas pangan, dan mata pencaharian petani pun ikut memburuk.

    Dalam beberapa tahun terakhir, meningkatnya peristiwa cuaca ekstrem akibat perubahan iklim telah menyebabkan anjloknya hasil panen global.

    Perubahan iklim telah memberikan dampak negatif yang substansial terhadap pasokan pangan dunia, meningkatkan harga, dan memengaruhi ketahanan pangan, dan situasinya diperkirakan akan semakin memburuk.

    Baca: Perubahan iklim mengancam produksi pangan global

    Dilansir Earth.org, kenaikan suhu dan perubahan pola cuaca memengaruhi tiga tanaman pangan terpopuler di daerah tropis yakni pisang, kopi dan coklat Dalam artikel sebelumnya telah dibahas soal dampak perubahan iklim pada petani pisang.

    Dalam artikel ini, kita akan mengulas tentang dampak perubahan iklim pada petani kopi.

    Brasil dan Vietnam adalah produsen kopi terbesar di dunia, masing-masing menyumbang 39 persen dan 16 persen dari total produksi kopi dunia.

    Namun, dalam beberapa bulan terakhir, kedua negara tersebut telah terdampak oleh peristiwa cuaca ekstrem yang parah akibat perubahan iklim, begitu pula panen kopi mereka.

    Tahun lalu, Brasil mengalami tahun terkeringnya sejak pencatatan dimulai pada tahun 1950, dengan ketinggian air di banyak sungai di Lembah Amazon turun ke titik terendah sepanjang sejarah.

    Baca: Perubahan iklim mempengaruhi produksi pisang dunia

    Penelitian yang diterbitkan pada bulan April menunjukkan bahwa Brasil mengalami embun beku yang dahsyat pada tahun 2021, diikuti oleh kekeringan parah pada tahun 2023, yang berdampak parah pada panen kopi, terutama Arabika.

    Kopi Arabika merupakan salah satu dari dua jenis biji kopi utama yang dikonsumsi di seluruh dunia bersama Robusta.

    Di negara bagian Minas Gerais, Brasil, misalnya, kekeringan yang berlebihan akibat kondisi kekeringan yang tidak normal telah mengurangi pertumbuhan vegetatif cabang, yang sangat penting bagi pohon untuk menghasilkan buah dalam jumlah besar.

    Sebaliknya, pada tahun 2024, hujan lebat yang tidak normal akibat Badai Tropis Trami memengaruhi provinsi-provinsi utama penghasil kopi di Vietnam tepat di awal musim panen.

    Ini menjadi dilema bagi para petai, karena jika dibiarkan terlalu lama setelah matang, kualitas biji kopi akan terpengaruh.

    Baca: Perubahan iklim dan anomali cuaca pengaruhi produksi kopi Indonesia

    Serupa dengan pisang, kopi juga terganggu oleh hama dan penyakit, yang menyebar seperti api akibat peningkatan suhu dan kelembapan.

    Misalnya, karat daun kopi, salah satu ancaman terbesar bagi tanaman kopi di daerah-daerah penghasil kopi utama di dunia, lebih mungkin menyebar dengan cepat di lingkungan yang hangat dan lembap, sehingga merusak pohon kopi.

    Pada tahun 2020, para peneliti menemukan bahwa perubahan iklim akan mengurangi area yang cocok untuk menanam kopi – baik Arabika maupun Robusta – sekitar 50 persen pada pertengahan abad ini.

    Tanpa intervensi, Vietnam diperkirakan dapat kehilangan setengah dari area produksi kopi Robusta saat ini pada tahun 2050 akibat perubahan iklim.

    Kondisi ini akan berdampak khususnya pada petani kecil, yang memasok sekitar 95 persen kopi nasional Vietnam.

    Baca: Penerapan pertanian cerdas iklim bagus untuk lingkungan

  • Petani Kakao Dunia Ikut Terpukul Akibat Perubahan Iklim

    Petani Kakao Dunia Ikut Terpukul Akibat Perubahan Iklim

    7cloud.asia – Pertanian merupakan salah satu sektor yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim. Dari sejumlah produk pertanian yang paling merasakan dampak perubahan iklim adalah petani cokelat atau kakao.

    Seperti kebanyakan tanaman, budidaya kakao juga sangat bergantung pada suhu dan kelembapan yang stabil serta curah hujan yang teratur, kondisi yang dipengaruhi oleh perubahan iklim di wilayah-wilayah penghasil kakao teratas dunia.

    Suhu tinggi menghambat pembungaan, yang mengakibatkan berkurangnya hasil panen dan percepatan pematangan yang memengaruhi kualitas biji kakao, sementara pola curah hujan yang tidak seimbang menciptakan dampak ganda berupa kekeringan dan banjir.

    Kekeringan melemahkan pohon kakao, membuatnya lebih rentan terhadap penyakit, sementara curah hujan yang berlebihan dapat mendorong penyebaran infeksi jamur seperti penyakit busuk buah, yang menyebabkan kerugian panen yang signifikan.

    Pantai Gading dan Ghana, yang menyumbang 50 persen dari produksi kakao global, serta negara tetangga Kamerun dan Nigeria, mengalami periode suhu enam minggu lebih lama di atas 32°C pada tahun 2024 dibandingkan dengan tahun 2023.

    Baca: Perubahan iklim mempengaruhi produksi pisang dunia

    Hal ini mengakibatkan kerugian produksi yang parah akibat gangguan fotosintesis pada pohon kakao dan kegagalan menghasilkan buah.

    Pola curah hujan yang tidak konsisten berdampak pada semua negara penghasil kakao di Afrika Barat tahun lalu, berkontribusi pada hasil panen yang lebih rendah dan kenaikan harga.

    Di beberapa wilayah Pantai Gading, curah hujan pada bulan Juli 40 persen lebih tinggi daripada rata-rata periode 1991 hingga 2020, dan banjir yang diakibatkannya menghancurkan perkebunan.

    Serangga dan penyakit juga merupakan faktor yang berkontribusi terhadap penurunan kuantitas dan kualitas panen cacao. Kutu putih tersebar luas di lingkungan yang panas dan lembap dan dapat menularkan virus mematikan yang dikenal sebagai Virus Batang Kakao Bengkak (CSSV).

    Mereka tertular virus dengan menghisap getah pohon yang sakit dan kemudian bermigrasi ke pohon yang sehat untuk menyebarkannya, menyebabkan gejala seperti pembengkakan batang dan akar, daun menguning, dan organ mengerut, yang akhirnya mematikan tanaman.

    Baca: Produksi kopi dunia terdampak perubahan iklim

    Menurut Dewan Kakao Ghana, CSSV bertanggung jawab atas kerugian tahunan sekitar 17 persen dalam produksi kakao di negara tersebut. Hampir 600.000 hektare lahan di Ghana ditemukan terinfestasi CSSV pada tahun 2023.

    Menurut Organisasi Kakao Internasional, panen kakao global tahun 2024 13 persen lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya. Akibatnya, harga kakao meroket di pasar London dan New York, tempat komoditas ini diperdagangkan.

    Di New York, harga kakao melampaui 10.000 dolar per ton pada pertengahan Februari tahun ini, turun dari puncaknya di 12.500 dolar pada tahun sebelumnya.

    Harga di New York sebagian besar telah berkisar antara 2.000 hingga 3.000 dolar per ton selama beberapa dekade.

    Kondisi cuaca yang semakin tidak menentu dan buruk, meningkatnya biaya produksi, margin keuntungan produsen yang ketat, serta penyebaran hama dan penyakit tanaman menimbulkan kekhawatiran serius bagi industri tanaman pangan.

    Sekitar 40 hingga 50 juta orang menggantungkan hidup pada kakao, 25 juta orang menggantungkan hidup langsung dari biji kopi, sementara pisang merupakan sumber pendapatan bagi lebih dari 400 juta orang.

    Baca: Perubahan iklim mengancam produksi pangan global

    Ketika perubahan iklim memengaruhi panen mereka, hal itu juga memengaruhi pendapatan dan kemampuan mereka untuk memberi makan keluarga.

    Selain itu, peningkatan pengendalian hama berarti peningkatan penggunaan pestisida, yang dapat membahayakan kesehatan petani. Dalam industri kakao, setiap tahun 44 persen petani keracunan pestisida, dan konsumen cokelat juga berisiko.

    “Cuaca dan penyakit dapat memusnahkan seluruh perkebunan, sehingga pendapatan petani berada pada risiko yang lebih besar,” tambah Ojigho.

    Industri yang paling rentan terhadap perubahan iklim berdampak pada kelompok termiskin.

    Menurut Christian Aid, sebagian besar petani cokelat berpenghasilan kurang dari 1 dolar per hari. Karena harga ditetapkan di awal setiap panen kakao, petani tidak menerima pendapatan yang lebih tinggi ketika harga jual global naik.

    Petani juga dirugikan oleh rantai pasokan yang tidak adil: rata-rata petani kakao hanya memperoleh 6 persen dari nilai akhir sebatang cokelat.

    Baca: Penerapan pertanian cerdas iklim

     

     

  • Studi Baru Peringatkan Dunia Kehabisan Waktu Mengatasi Dampak Buruk Perubahan Iklim

    Studi Baru Peringatkan Dunia Kehabisan Waktu Mengatasi Dampak Buruk Perubahan Iklim

    7cloud.asia – Dalam beberapa tahun terakhir masyarakat dunia disuguhi berita buruk tentang dampak perubahan iklim.

    Afrika menjadi salah satu wilayah yang paling terdampak oleh perubahan iklim dan cuaca ekstrem, yang mengancam kehidupan dan mata pencaharian masyarakatnya.

    Manusia hidup di masa dunia mengalami laju pemanasan tercepat dalam rekor sejarah. Namun, respons pemerintah di berbagai belahan dunia masih saja lamban.

    Konferensi tahunan perubahan iklim dunia, conference of the parties (COP30) hanya tinggal beberapa bulan lagi. Sebanyak 197 negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) seharusnya sudah menyerahkan pembaruan rencana aksi iklim nasional mereka kepada PBB pada Februari lalu.

    Rencana-rencana ini, yang dikenal sebagai kontribusi yang ditetapkan secara nasional atau Nationally Determined Contributions (NDC), merinci bagaimana masing-masing negara akan memangkas emisi gas rumah kaca mereka sesuai dengan Perjanjian Paris.

    Perjanjian ini mewajibkan seluruh penandatangannya untuk membatasi pemanasan global yang disebabkan manusia tidak lebih dari 1,5°C di atas suhu praindustri.

    Baca: Penanganan perubahan iklim butuh cara luar biasa

    Pemerintah juga diminta untuk membawa rencana aksi iklim terbaru mereka ke COP30 dan menunjukkan bagaimana mereka akan beradaptasi terhadap dampak perubahan iklim.

    Namun sejauh ini, baru 25 negara—yang hanya mewakili sekitar 20 persen dari total emisi global— yang sudah menyerahkan pembaruan NDC mereka. Ini berarti masih ada 172 negara yang belum mengirimkan rencananya, termasuk Indonesia.

    NDC sangat penting dalam menentukan komitmen jangka pendek hingga menengah suatu negara terhadap perubahan iklim.

    NDC juga dapat memberikan arah kebijakan dan investasi yang lebih luas. Menyatukan rencana iklim dengan tujuan pembangunan nasional bisa membantu mengangkat 175 juta orang dari kemiskinan.

    Tetapi sepertinya, dari seluruh rencana yang telah diserahkan, hanya rencana aksi iklim Inggris yang dianggap sejalan dengan Perjanjian Paris.

    Kami adalah ilmuwan iklim, dan salah satu dari kami, Piers Forster, memimpin tim ilmuwan global yang menerbitkan laporan tahunan Indikator Perubahan Iklim Global. Laporan ini memberikan gambaran menyeluruh tentang kondisi sistem iklim dunia.

    Baca: Banjir Spanyol jadi contoh nyata perubahan iklim

    Laporan ini dibuat berdasarkan data perhitungan emisi bersih gas rumah kaca global, konsentrasi gas-gas ini di atmosfer, kenaikan suhu di permukaan Bumi, serta seberapa besar pemanasan yang disebabkan oleh manusia.

    Selain itu, laporan ini juga melihat bagaimana intensitas suhu ekstrem dan curah hujan semakin meningkat, seberapa besar kenaikan permukaan air laut.

    Serta berapa banyak karbon dioksida yang masih bisa dikeluarkan sebelum suhu planet ini melampaui ambang 1,5°C dibanding masa praindustri.

    Hal ini penting karena membatasi pemanasan di bawah 1,5°C sangat krusial untuk menghindari dampak terburuk dari perubahan iklim.

    Laporan kami menunjukkan bahwa pemanasan global akibat aktivitas manusia sudah mencapai 1,36°C pada 2024. Hal ini mendorong suhu rata-rata global (hasil kombinasi pemanasan alami dan buatan) menjadi 1,52°C.

    Dengan kata lain, dunia telah memasuki fase di mana dampak besar dari perubahan iklim tak lagi bisa dihindari. Kita sudah berada di situasi yang berbahaya.

    Baca: Pemanasan global memicu bencana akan lebih sering terjadi

    Planet kita yang semakin panas
    Meskipun suhu global tahun lalu sangat tinggi, sayangnya hanya dianggap “normal baru” yang tidak begitu mengkhawatirkan.

    Data menunjukkan tingkat emisi gas rumah kaca terus mencatat rekor tertinggi dan menyebabkan peningkatan konsentrasi karbon dioksida, metana dan nitrogen oksida yang mempercepat laju pemanasan.

    Akibatnya, suhu Bumi terus naik dan dengan cepat menghabiskan carbon budget atau jumlah emisi yang masih bisa dikeluarkan sebelum melewati ambang batas.

    Pada tingkat emisi gas rumah kaca saat ini, jatah karbon global akan habis dalam waktu kurang dari tiga tahun.

    Dunia harus menerima kenyataan bahwa kesempatan untuk menjaga suhu tetap di bawah 1,5°C nyaris tertutup. Bahkan jika nantinya suhu bisa diturunkan kembali, prosesnya akan panjang dan sulit.

    Pada saat yang sama, cuaca ekstrem terus meningkat, membawa risiko jangka panjang dan beban ekonomi global, serta berdampak pada kehidupan masyarakat.

    Baca: Pemanasan global memicu masalah serius pada lingkungan

    Benua Afrika misalnya, kini menghadapi dampak perubahan iklim paling mematikan dalam lebih dari satu dekade terakhir.

    Bayangkan jika situasi ini terjadi pada dunia bisnis. Saat harga saham anjlok atau pertumbuhan ekonomi mandek, para pemimpin negara dan pebisnis akan segera bertindak. Mereka bakal selalu update dan enggan memakai data lama untuk mengambil keputusan.

    Namun, dalam hal masalah iklim, perubahan yang terjadi sering kali lebih cepat daripada data yang kita punya. Akibatnya, keputusan penting jadi terlambat diambil.

    Seandainya data iklim dianggap sepenting laporan keuangan, mungkin setiap laporan baru akan membuat panik. Namun kenyataannya, pemerintah sering kali lamban merespons peringatan dari indikator iklim, tanda-tanda bahaya dari kondisi Bumi.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation dalam bahasa Inggris, Penulis: Piers Forster (Professor of Physical Climate Change; Director of the Priestley International Centre for Climate, University of Leeds) dan Debbie Rosen (Research and Innovation Development Manager for the Priestley Centre for Climate Futures, University of Leeds)

  • Perubahan Iklim Akibatkan Jumlah Kematian Akibat Gelombang Panas Meningkat Tiga Kali Lipat

    Perubahan Iklim Akibatkan Jumlah Kematian Akibat Gelombang Panas Meningkat Tiga Kali Lipat

    7cloud.asia – Gelombang panas yang memecahkan rekor baru-baru ini di Eropa menyebabkan 1.500 kematian. Angka ini lebih banyak daripada yang seharusnya terjadi tanpa pengaruh perubahan iklim, demikian sebuah studi baru menyimpulkan.

    World Weather Attribution, sebuah kolaborasi akademis yang mempelajari atribusi peristiwa ekstrem, menemukan bahwa perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia melipatgandakan jumlah kematian terkait panas

    Studi itu menyebut, perubahan iklim telah meningkatkan suhu gelombang panas hingga 4°C lebih tinggi di belasan kota.

    Para peneliti dari Imperial College London dan London School of Hygiene & Tropical Medicine berfokus pada data dari 23 Juni hingga 2 Juli 2025, dan 12 kota di Eropa di Italia, Spanyol, Portugal, Prancis, Inggris, Yunani, Kroasia, dan Hongaria.

    2.300 kematian terkait panas tercatat selama periode 10 hari tersebut. Dari jumlah tersebut, 1.500 – atau 65 persem – tidak akan terjadi jika perubahan iklim tidak memperparah gelombang panas, mereka menyimpulkan.

    Baca: Waktu yang tersedia untuk atasi dampak buruk perubahan iklim makin terbatas

    ‘Pembunuh Senyap’
    Panas sangat berbahaya bagi manusia karena mengganggu proses fisiologis yang seharusnya menjaga tubuh tetap dingin.

    Tekanan pada tubuh manusia akibat panas mencegah aktivitas sehari-hari yang normal dan kemampuan kita untuk mendinginkan diri dengan baik. Area yang umumnya memiliki kelembapan lebih tinggi juga dapat membahayakan nyawa.

    Keringat membantu tubuh kita mendinginkan diri, tetapi kelembapan mengubah cara keringat menguap dari tubuh.

    Tidak dapat mendinginkan diri membahayakan kesehatan, dan dapat menyebabkan peningkatan komplikasi kardiovaskular dan pernapasan, dehidrasi, sengatan panas, tekanan darah tinggi, dan kurang tidur. Beberapa kondisi ini dapat berakibat fatal jika tidak segera ditangani.

    Baca: Perubahan iklim akan menyebabkan bencana lebih sering terjadi

    Meskipun tidak ada yang benar-benar kebal terhadap panas ekstrem, faktor-faktor seperti usia dan kondisi kesehatan, serta variabel paparan termasuk pekerjaan dan keadaan sosial ekonomi, dapat meningkatkan kerentanan seseorang.

    Studi menunjukkan bahwa perempuan – terutama perempuan hamil, anak-anak, dan lansia – sangat berisiko mengalami gejala parah terkait panas.

    Gelombang panas bulan lalu secara tidak proporsional memengaruhi kelompok rentan ini, menurut studi World Weather Attribution, dengan penduduk berusia 65 tahun ke atas menyumbang sekitar 88 persen dari kematian berlebih.

    Gelombang panas membunuh hampir setengah juta orang setiap tahun di seluruh dunia, menjadikannya peristiwa cuaca ekstrem yang paling mematikan.

    Baca: Banjir besar di Eropa adalah bukti dampak buruk perubahan iklim

    Panas sering disebut sebagai “pembunuh diam-diam”, karena pemantauan akurat terhadap kematian akibat panas merupakan tantangan dan banyak negara masih kekurangan sistem pencatatan yang memadai.

    Asisten Profesor di London School of Hygiene & Tropical Medicine, Malcolm Mistry mengatakan kondisi ini mengakibatkan jumlah kematian akibat panas yang terdokumentasi seringkali jauh lebih rendah daripada jumlah sebenarnya.

    “Meskipun beberapa kematian telah dilaporkan di Spanyol, Prancis, dan Italia, ribuan orang lainnya diperkirakan meninggal akibat suhu yang sangat tinggi dan kematian mereka tidak akan tercatat sebagai kematian akibat panas,” kata Malcolm yang juga salah satu penulis studi ini.

    “Kebanyakan orang yang meninggal akibat gelombang panas meninggal di rumah atau di rumah sakit karena tubuh mereka kewalahan dan menyerah pada kondisi kesehatan yang sudah ada sebelumnya,” tambahnya.