Dampak Perubahan Iklim pada Produksi Kopi Dunia

Written by

in

7cloud.asia – Pertanian merupakan salah satu sektor yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim,

Hal ini karena hasil pertanian berubah seiring dengan interaksi faktor-faktor iklim seperti suhu, pola curah hujan, lamanya musim tanam, serta hama dan penyakit yang dipicu perubahan iklim.

Seiring memburuknya perubahan iklim, pasokan pangan, kualitas pangan, dan mata pencaharian petani pun ikut memburuk.

Dalam beberapa tahun terakhir, meningkatnya peristiwa cuaca ekstrem akibat perubahan iklim telah menyebabkan anjloknya hasil panen global.

Perubahan iklim telah memberikan dampak negatif yang substansial terhadap pasokan pangan dunia, meningkatkan harga, dan memengaruhi ketahanan pangan, dan situasinya diperkirakan akan semakin memburuk.

Baca: Perubahan iklim mengancam produksi pangan global

Dilansir Earth.org, kenaikan suhu dan perubahan pola cuaca memengaruhi tiga tanaman pangan terpopuler di daerah tropis yakni pisang, kopi dan coklat Dalam artikel sebelumnya telah dibahas soal dampak perubahan iklim pada petani pisang.

Dalam artikel ini, kita akan mengulas tentang dampak perubahan iklim pada petani kopi.

Brasil dan Vietnam adalah produsen kopi terbesar di dunia, masing-masing menyumbang 39 persen dan 16 persen dari total produksi kopi dunia.

Namun, dalam beberapa bulan terakhir, kedua negara tersebut telah terdampak oleh peristiwa cuaca ekstrem yang parah akibat perubahan iklim, begitu pula panen kopi mereka.

Tahun lalu, Brasil mengalami tahun terkeringnya sejak pencatatan dimulai pada tahun 1950, dengan ketinggian air di banyak sungai di Lembah Amazon turun ke titik terendah sepanjang sejarah.

Baca: Perubahan iklim mempengaruhi produksi pisang dunia

Penelitian yang diterbitkan pada bulan April menunjukkan bahwa Brasil mengalami embun beku yang dahsyat pada tahun 2021, diikuti oleh kekeringan parah pada tahun 2023, yang berdampak parah pada panen kopi, terutama Arabika.

Kopi Arabika merupakan salah satu dari dua jenis biji kopi utama yang dikonsumsi di seluruh dunia bersama Robusta.

Di negara bagian Minas Gerais, Brasil, misalnya, kekeringan yang berlebihan akibat kondisi kekeringan yang tidak normal telah mengurangi pertumbuhan vegetatif cabang, yang sangat penting bagi pohon untuk menghasilkan buah dalam jumlah besar.

Sebaliknya, pada tahun 2024, hujan lebat yang tidak normal akibat Badai Tropis Trami memengaruhi provinsi-provinsi utama penghasil kopi di Vietnam tepat di awal musim panen.

Ini menjadi dilema bagi para petai, karena jika dibiarkan terlalu lama setelah matang, kualitas biji kopi akan terpengaruh.

Baca: Perubahan iklim dan anomali cuaca pengaruhi produksi kopi Indonesia

Serupa dengan pisang, kopi juga terganggu oleh hama dan penyakit, yang menyebar seperti api akibat peningkatan suhu dan kelembapan.

Misalnya, karat daun kopi, salah satu ancaman terbesar bagi tanaman kopi di daerah-daerah penghasil kopi utama di dunia, lebih mungkin menyebar dengan cepat di lingkungan yang hangat dan lembap, sehingga merusak pohon kopi.

Pada tahun 2020, para peneliti menemukan bahwa perubahan iklim akan mengurangi area yang cocok untuk menanam kopi – baik Arabika maupun Robusta – sekitar 50 persen pada pertengahan abad ini.

Tanpa intervensi, Vietnam diperkirakan dapat kehilangan setengah dari area produksi kopi Robusta saat ini pada tahun 2050 akibat perubahan iklim.

Kondisi ini akan berdampak khususnya pada petani kecil, yang memasok sekitar 95 persen kopi nasional Vietnam.

Baca: Penerapan pertanian cerdas iklim bagus untuk lingkungan

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *