Tag: gaza

  • Kelompok Hamas Tuntut Jaminan Israel Akhiri Perang di Gaza

    Kelompok Hamas Tuntut Jaminan Israel Akhiri Perang di Gaza

    7cloud.asia – Pemimpin Hamas Khalil al-Hayya, dalam pernyataan pada Selasa (7/10/2025) meminta “jaminan nyata” Israel yang memastikan berakhirnya perang di Jalur Gaza.

    “Kami menegaskan kesiapan kami mencapai (kesepakatan) untuk mengakhiri perang, menarik pasukan Israel dari Gaza, dan membebaskan semua tawanan Israel – baik yang hidup maupun yang mati – dengan imbalan tahanan Palestina sesuai rencana (Presiden AS Donald) Trump,” ujar al-Hayya kepada saluran berita pemerintah Mesir, Al-Qahera News.

    “Namun, Israel masih terus membunuh dan memblokade bantuan, terutama di Gaza utara, sejak kami mengumumkan persetujuan kami atas rencana Trump.”

    Pemimpin Hamas itu menekankan bahwa Israel pertama kali melanggar kesepakatan gencatan senjata pada November 2023 dan melanjutkan perang.

    “Israel tidak pernah menepati janjinya sepanjang sejarah,” katanya.

    Baca: Hamas setujui usulan Trump, tapi tolak serahkan senjata

    “Kami telah menguji pemerintahan pendudukan dan tidak mempercayainya sedetik pun,” kata al-Hayya, seraya meminta “jaminan nyata” dari komunitas internasional, Presiden Trump, dan negara-negara yang mendukung perundingan.

    Ia menekankan bahwa Hamas berupaya mencapai “tujuan dan aspirasi rakyat Palestina untuk stabilitas, kebebasan, kenegaraan, dan penentuan nasib sendiri.”

    “Perang harus diakhiri selamanya agar rakyat Palestina dapat hidup dalam stabilitas seperti bangsa-bangsa lain di kawasan ini.”

    Hamas dan Israel telah mengadakan perundingan tidak langsung hari kedua di kota Sharm el-Sheikh, Mesir, di Laut Merah, pada Selasa guna mencapai gencatan senjata dan pertukaran tahanan di bawah rencana Trump untuk Gaza.

    Baca: Trump umumkan 20 poin penyelesaian konflik Gaza

    Pada 29 September, Trump mengumumkan proposal 20 poin yang mencakup pembebasan semua tawanan Israel dengan imbalan tahanan Palestina, gencatan senjata, perlucutan senjata Hamas, dan pembangunan kembali Gaza.

    Hamas pada prinsipnya menyetujui rencana Trump tersebut, tetapi menolak penyerahan senjata hingga berdirinya negara Palestina yang berdaulat dan memiliki tentara nasional.

    Agresi militer Israel telah menewaskan hampir 67.200 warga Palestina di Gaza sejak Oktober 2023, sebagian besar perempuan dan anak-anak.

    Pengeboman yang tak henti-hentinya telah membuat daerah kantong Palestina itu hampir tak berpenghuni dan menyebabkan pengungsian massal, kelaparan, dan penyebaran penyakit.

    Sumber: Antaranews.com/Anadolu

  • Serangan Udara di Gaza Tetap Berlangsung, Meski Telah Sepakat Gencatan Senjata

    Serangan Udara di Gaza Tetap Berlangsung, Meski Telah Sepakat Gencatan Senjata

    7cloud.asia – Pejabat Pertahanan Sipil Gaza, Mohammed Al-Mughayyir pada Kamis (09/10/2025) mengungkapkan bahwa wilayah kantong Palestina tersebut kembali menghadapi beberapa kali serangan udara usai pengumuman kesepakatan antara Hamas dan Israel.

    Kelompok perjuangan Palestina itu, bersama dengan Israel menyepakati tahap pertama rencana perdamaian Gaza yang diusulkan Amerika serikat.

    Sebelumnya pada Rabu (8/10/20205), Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa Israel dan Hamas telah menandatangani tahap pertama perjanjian damai Gaza.

    Baca: Hamas Tuntut Jaminan Israel Akhiri Perang

    Hamas kemudian mengkonfirmasi bahwa pihaknya telah mencapai kesepakatan yang meliputi berakhirnya perang di Jalur Gaza, penarikan pasukan Zionis Israel, pengiriman bantuan serta pertukaran tahanan.

    “Sejak kesepakatan kerangka kerja gencatan senjata yang diusulkan di Gaza diumumkan tadi malam, sejumlah ledakan telah dilaporkan, terutama di wilayah-wilayah Gaza utara,” kata Al-Mughayyir, seperti dikutip kantor berita AFP.

    Sumber: AntaranewsSputnik/RIA Novosti-OANA

     

  • Hamas: Tim Mediator Akan Tentukan Waktu Pelaksanaan Gencatan Senjata di Gaza

    Hamas: Tim Mediator Akan Tentukan Waktu Pelaksanaan Gencatan Senjata di Gaza

    7cloud.asia – Kelompok perlawanan Palestina, Hamas, Kamis (9/10/2025) menyatakan bahwa waktu pelaksanaan kesepakatan gencatan senjata di Jalur Gaza dengan Israel akan ditentukan oleh para mediator.

    “Hamas telah mencapai formula kesepakatan gencatan senjata, dan para mediator akan memutuskan kapan kesepakatan itu mulai berlaku,” kata juru bicara Hamas, Hazem Qassem, dalam pernyataan yang dimuat di situs resmi kelompok tersebut.

    Kesepakatan itu diumumkan pada Kamis dini hari setelah empat hari perundingan tidak langsung antara Hamas dan Israel di kota Sharm el-Sheikh, Mesir, dengan mediasi dari Turki, Mesir, Qatar, serta Amerika Serikat (AS).

    Belum ada tanggapan langsung dari para mediator terkait pernyataan tersebut.

    “Seperti biasa, pihak pendudukan (Israel) berupaya memanipulasi jadwal, daftar, dan prosedur yang telah disepakati untuk membuat pemimpin otoritas Benjamin Netanyahu tampak seolah-olah mengendalikan situasi,” ujar Qassem.

    Baca: Kelompok Hamas tuntut jaminan Israel untuk akhiri perang di Gaza

    Ia menambahkan bahwa Hamas terus berkomunikasi dengan para mediator guna memastikan Israel mematuhi kesepakatan dan tidak diberi kesempatan untuk menunda pelaksanaannya.

    “Ada pembicaraan bahwa gencatan senjata akan mulai berlaku pada pukul 12.00 siang ini, namun pihak pendudukan menunda pengumumannya karena alasan internal,” katanya.

    Hamas juga mengatakan akan membutuhkan waktu setidaknya 10 hari untuk menemukan jenazah sandera Israel yang telah meninggal, lapor The Wall Street Journal, Kamis (9/10/2025) mengutip sumber yang mengetahui masalah tersebut.

    Pada Rabu (8/10/2025), Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa Israel dan Hamas telah menandatangani fase pertama perjanjian damai Gaza, yang menyepakati bahwa Hamas setuju untuk membebaskan sandera Israel dan Israel akan menarik pasukannya dari Jalur Gaza.

    Pada saat yang sama, pejabat Israel meyakini bahwa sulit bagi Hamas untuk menemukan seluruh jenazah sandera yang tersisa dan prosesnya kemungkinan bisa memakan waktu lebih dari 10 hari.

    Baca: Hamas setujui usulan Trump, tapi menolak letakkan senjata

    Adapun pembicaraan tidak langsung antara delegasi Hamas dan Israel yang dimediasi oleh Mesir, Qatar, dan Turki telah berlangsung di Mesir sejak Senin (6/10/2025).

    Pada 29 September, Trump mengumumkan rencana 20 poin untuk menyelesaikan konflik Gaza. Rencana tersebut di antaranya menyerukan gencatan senjata segera dan pembebasan sandera dalam waktu 72 jam.

    Rencana itu turut menetapkan bahwa Hamas dan faksi-faksi lainnya harus melepaskan keterlibatan mereka dalam pemerintahan Gaza, yang nantinya akan dipercayakan kepada “komite teknokrat dan non -politik Palestina” yang diawasi oleh dewan internasional yang dipimpin oleh Trump.

    Pada 3 Oktober, Hamas menyatakan telah setuju untuk menyerahkan pemerintahan Jalur Gaza kepada komite Palestina berdasarkan konsensus nasional.

    Hamas juga menyatakan kesiapannya untuk membebaskan seluruh sandera Israel yang masih hidup dan menyerahkan jenazah yang sudah meninggal sesuai rencana Trump.

    Hamas juga akan berpartisipasi dalam diskusi mengenai masa depan Jalur Gaza dalam kerangka struktur lintas-Palestina.

    Sumber: Antaranews.com/Anadolu-Sputnik/RIA Novosti-OANA

  • Pasukan Israel Mulai Ditarik Mundur dari Gaza

    Pasukan Israel Mulai Ditarik Mundur dari Gaza

    7cloud.asia – Israel mulai menarik pasukannya secara bertahap dari Jalur Gaza, Palestina, pada Jumat (10/10/2025) dan akan mundur sepenuhnya dalam 24 jam ke lokasi yang telah disepakati

    Mengutip media setempat, penarikan pasukan Israel tersebut adalah bagian dari rencana yang diusulkan Presiden AS Donald Trump untuk mengakhiri perang di Gaza yang dikepung oleh Israel tersebut.

    “Dalam 24 jam ke depan, tentara Israel akan menyelesaikan penarikan pasukannya dari beberapa wilayah di Jalur Gaza sampai ke garis kuning, seperti yang disepakati dalam rencana Trump antara Israel dan Hamas,” Channel 12 melaporkan.

    Stasiun televisi Israel itu menyebutkan bahwa pasukan diperkirakan akan mundur ke arah timur dari Rafah dan Khan Younis di selatan serta dari wilayah utara Gaza sampai mendekati perbatasan dengan Israel.

    Baca: Hamas sebut tim mediator tentukan pelaksanaan gencatan senjata di Gaza

    Pada Kamis (9/10/2025) pagi, Trump mengumumkan bahwa Israel dan kelompok perlawanan Palestina Hamas telah mencapai kesepakatan mengenai tahap pertama rencana gencatan senjata dan pertukaran tawanan.

    Kesepakatan itu dicapai dalam perundingan tidak langsung antara kedua pihak yang bertikai di Sharm el-Sheikh, Mesir, dengan partisipasi delegasi dari Turki, Mesir, dan Qatar, di bawah pengawasan AS.

    Sejak Oktober 2023, serangan Israel ke Gaza telah menewaskan hampir 67.200 warga Palestina, kebanyakan dari mereka adalah perempuan dan anak-anak,

    Serangan Israel ke Gaza juga membuat wilayah kantung Palestina rusak parah sehingga tidak layak huni.

    Sumber: Antaranews.com/Anadolu

     

  • Kesepakatan Gencatan Senjata di Gaza, Ribuan Warga Palestina Berbondong-bondong Kembali dari Pengungsian

    Kesepakatan Gencatan Senjata di Gaza, Ribuan Warga Palestina Berbondong-bondong Kembali dari Pengungsian

    7cloud.asia – Kesepakatan gencatan senjata mulai diberlakukan di Gaza pada Kamis (9/10/2025) malam, namun tim penyelamat pada Sabtu (11/10/2025) melaporkan bahwa sekitar 9.500 warga Palestina di Jalur Gaza masih hilang.

    Perang di Gaza meletus sejak Oktober 2023. Mengakibatkan lebih dari 67.000 warga Palestina di Gaza tewas dan sekitar 170.000 lainnya terluka. Mayoritas korban adalah anak-anak dan perempuan.

    Sementara itu, bencana kelaparan akibat blokade Israel telah merenggut nyawa 460 orang, termasuk 154 anak-anak.

    Baca: Tentara Israel mulai ditarik mundur dari Gaza

    Perang juga mengakibatkan sebagian besar wilayah Gaza hancur sehingga tidak lagi layak dihuni.

    Sebelumnya pada Kamis (9/10/2025), Israel secara resmi menyetujui kesepakatan gencatan senjata yang diusulkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, menandai awal fase pertama dari rencana perdamaian yang lebih luas.

    Kesepakatan itu meliputi penghentian semua permusuhan, penarikan pasukan Israel dari Gaza, akses masuk bantuan kemanusiaan serta pertukaran tahanan.

    Baca: Hamas tolak serahkan senjata hingga terwujudnya Palestina merdeka

    Keesokan harinya, ribuan pengungsi Palestina mulai kembali ke Kota Gaza Utara yang selama ini dibombardir serangan oleh Israel.

    Berbagai sumber lokal melaporkan bahwa orang-orang mulai kembali ke rumahnya sejak Jumat (10/10/2025) pagi melalui pesisir Jalan Rashid dan Jalan Salah al-Din, dua jalan artileri utama yang membentang dari utara ke selatan Jalur Gaza.

    Para pengungsi setidaknya berjalan sejauh tujuh kilometer, dengan membawa barang seadanya, setelah mereka terpaksa meninggalkan rumah akibat serangan berulang Zionis.

    Sumber: Antaranews.com/WAFA-OANA

  • WFP: Bantuan Pangan ke Gaza Masih di Bawah Kebutuhan

    WFP: Bantuan Pangan ke Gaza Masih di Bawah Kebutuhan

    7cloud.asia – Program Pangan Dunia (WFP) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyalurkan sekitar 560 ton bahan pangan setiap hari ke Gaza sejak gencatan senjata diberlakukan pada 11 Oktober 2025.

    Namun, lembaga tersebut memperingatkan bahwa jumlah itu masih jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan mendesak warga di wilayah tersebut.

    “Gencatan senjata telah membuka sedikit peluang, dan WFP bergerak cepat untuk memperluas bantuan pangan serta menjangkau keluarga yang telah berbulan-bulan menghadapi blokade, pengungsian, dan kelaparan,” kata juru bicara WFP, Abeer Etefa, kepada wartawan di Jenewa, Jumat (17/10/2025).

    Pada periode 11–15 Oktober, sekitar 230 truk membawa sekitar 2.800 ton pasokan pangan ke Gaza. Dua konvoi tambahan masuk melalui perlintasan Kerem Shalom pada Kamis dengan membawa tepung gandum dan bahan pangan bergizi, meski jumlah pastinya masih dihitung.

    “(Jumlah bantuan) yang kami (kirimkan) masih berada di bawah angka kebutuhan, tetapi kami sedang menuju ke arah yang benar,” ujarnya, menambahkan bahwa rata-rata pengiriman harian telah mencapai sekitar 560 ton sejak gencatan senjata berlaku.

    Baca: Nobel Perdamaian untuk Maria Corina Machado menuai gugatan

    Untuk mendekatkan bantuan kepada warga, WFP telah membuka lima titik distribusi pangan di seluruh Gaza dan berencana memperluasnya menjadi 145 lokasi.

    Etefa mengatakan, rencana perluasan itu bergantung pada kelancaran arus truk bantuan yang masuk secara konsisten.

    Saat ini, sembilan toko roti telah beroperasi di Gaza dan memproduksi lebih dari 100 ribu bungkus roti setiap hari.

    Masing-masing bungkus memiliki berat dua kilogram dan dapat memberi makan satu keluarga beranggotakan lima orang selama sehari, atau sekitar setengah juta orang dari total populasi Gaza yang mencapai lebih dari dua juta jiwa.

    WFP menargetkan jumlah toko roti meningkat menjadi 30 di seluruh wilayah Gaza.

    Badan tersebut juga telah menyiapkan hampir 60 ribu ton pasokan pangan di Mesir, Yordania, dan Israel untuk menjaga keberlanjutan pengiriman selama gencatan senjata berlangsung.

    Baca: Kelompok Hamas tuntut Israel akhiri perang di Gaza

    Menurut data Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) yang dikutip dari informasi Israel kepada para mediator, sebanyak 950 truk memasuki Gaza pada Kamis (16/10/2025).

    Ini termasuk delapan truk membawa bahan bakar dan tiga truk membawa gas—807 di antaranya melalui Kerem Shalom dan 143 melalui Kissufim.

    Sehari sebelumnya, tercatat 716 truk melintasi perbatasan, dengan 16 di antaranya membawa bahan bakar dan gas. Dari jumlah tersebut, 623 truk masuk melalui Kerem Shalom dan 93 melalui Kissufim.

    Total pengiriman itu mencakup bantuan melalui sektor komersial, donasi bilateral, dan sistem yang dikoordinasikan oleh PBB, dengan sekitar sepertiganya dikelola melalui mekanisme PBB.

    Sumber: Antaranews.com/Anadolu

  • Ratusan Ribu Anak di Gaza Bersiap Kembali Sekolah

    Ratusan Ribu Anak di Gaza Bersiap Kembali Sekolah

    7cloud.asia – Sekitar 300.000 siswa di Jalur Gaza, Palestina, akan melanjutkan pendidikan mereka pada Sabtu (18/10/2025), menurut badan PBB untuk pengungsi Palestina (UNRWA).

    “UNRWA telah menyusun rencana untuk melanjutkan proses pendidikan bagi 300.000 siswa Palestina dan jumlah ini kemungkinan akan meningkat,” kata Adnan Abu Hasna, penasihat media UNRWA, dalam pernyataan di platform X.

    Dia mengatakan sekitar 10.000 siswa akan belajar secara tatap muka di sekolah dan tempat penampungan, sedangkan sebagian besar lainnya akan menerima pembelajaran jarak jauh. Sekitar 8.000 guru akan berpartisipasi dalam program ini.

    Pembelajaran jarak jauh terpaksa dilakukan karena banyak sekolah hancur akibat perang yang dilancarkan Israel, sementara siswa harus segera kembali belajar setelah empat tahun putus sekolah sejak pandemi melanda dunia.

    Menurut data Kementerian Pendidikan Palestina, sejak perang meletus pada Oktober 2023, Israel telah menghancurkan 172 sekolah negeri, mengebom atau merusak 118 sekolah lainnya, dan menyerang lebih dari 100 sekolah yang dikelola UNRWA.

    Baca: Bantuan pangan ke Gaza masih di bawah kebutuhan

    Kementerian itu juga melaporkan bahwa 17.711 siswa tewas di Gaza sejak Israel melancarkan genosida, dan 25.897 lainnya terluka. Selain itu, 763 pekerja pendidikan gugur dan 3.189 lainnya terluka.

    “Kami juga berencana untuk merevitalisasi 22 klinik kesehatan pusat di Jalur Gaza,” kata Abu Hasna. “Kami memiliki puluhan titik distribusi makanan dan ribuan pegawai dengan pengalaman tinggi di bidang logistik.”

    Dia menambahkan bahwa UNRWA telah membeli pasokan senilai ratusan juta dolar yang masih tertahan di luar Gaza.

    “Banyak kebutuhan pokok, termasuk bahan-bahan bangunan tempat tinggal, selimut, pakaian musim dingin, dan obat-obatan tidak diizinkan masuk ke Gaza oleh Israel, sehingga memperburuk situasi kemanusiaan,” kata Abu Hasna.

    Ia memperingatkan bahwa 95 persen penduduk Gaza kini bergantung pada bantuan kemanusiaan setelah kehilangan mata pencaharian dan kondisi itu memburuk dengan cepat.

    Baca: Kelompok Hamas minta jaminan Israel akhiri perang di Gaza

    “Ratusan ribu orang yang mengungsi tinggal di tempat terbuka setelah kembali ke Kota Gaza, menyusul diberlakukannya gencatan senjata pada 10 Oktober,” kata dia. “Masuknya bantuan menjadi kebutuhan mendesak menjelang musim dingin.”

    Israel dan kelompok perlawanan Palestina, Hamas, menyepakati gencatan senjata pekan lalu berdasarkan rencana yang diajukan Presiden AS Donald Trump.

    Tahap pertama kesepakatan itu mencakup pertukaran tawanan dan tahap selanjutnya adalah pembangunan kembali Gaza dan pembentukan pemerintah baru tanpa keterlibatan Hamas.

    Sejak Oktober 2023, perang yang dilancarkan Israel telah menewaskan hampir 68.000 warga Gaza, kebanyakan dari mereka wanita dan anak-anak, dan membuat sebagian besar wilayah kantong Palestina itu tidak layak huni.

    Sumber: Antaranewscom/Anadolu

  • Donald Trump: Israel Akan Kehilangan Dukungan AS Jika Caplok Tepi Barat

    Donald Trump: Israel Akan Kehilangan Dukungan AS Jika Caplok Tepi Barat

    7cloud.asia – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump mengatakan bahwa Israel akan kehilangan seluruh dukungan Amerika Serikat jika mencaplok wilayah Tepi Barat, Palestina.

    Dalam peryataan pada Kamis (23/10/2025) Trump mengatakan, pencaplokan itu tidak akan terjadi karena ia sudah berjanji kepada negara-negara Arab dan AS telah memperoleh dukungan besar dari mereka.

    “Israel akan kehilangan seluruh dukungannya dari Amerika Serikat jika itu terjadi,” katanya kepada harian Time ketika ditanya apa konsekuensinya jika Israel menganeksasi Tepi Barat.

    Trump juga mengatakan bahwa di bawah kepemimpinannya, situasi di Timur Tengah akan membaik. Namun, jika ia digantikan oleh seorang presiden yang gagal mendapatkan rasa hormat, semuanya bisa berakhir dengan mudah.

    “Jika presiden yang buruk datang, itu bisa berakhir dengan sangat mudah… Jika mereka menghormati presiden, itu akan menjadi perdamaian jangka panjang yang indah,” katanya.

    Baca: Kesepakatan gencatan senjata di Gaza

    Pada September lalu, Trump juga telah mengatakan bahwa ia tidak akan mengizinkan Israel mencaplok Tepi Barat.

    Portal Axios, yang mengutip sumber anonim yang mengetahui masalah itu, melaporkan bahwa Gedung Putih telah menjelaskan kepada pemimpin Israel Benjamin Netanyahu bahwa melanjutkan konflik di Timur Tengah hanya akan membuat Israel kian terisolasi.

    Trump mengusulkan rencana perdamaian di Gaza berisi 20 poin pada 29 September, yang menyerukan gencatan senjata segera, dengan syarat pembebasan sandera dalam waktu 72 jam.

    Rencana itu juga mengusulkan agar Hamas atau kelompok bersenjata Palestina lainnya tidak disertakan dalam pemerintahan baru di Jalur Gaza dan kendali wilayah itu diserahkan kepada komite teknokrat yang diawasi badan internasional pimpinan Trump.

    Baca: Pasukan Israel mulai ditarik mundur dari Gaza

    Pada 9 Oktober, Israel dan Hamas mencapai kesepakatan untuk melaksanakan tahap pertama rencana itu guna mengakhiri konflik bersenjata di Jalur Gaza yang telah berlangsung selama dua tahun.

    Pada 13 Oktober, Trump, Presiden Mesir Abdel Fattah El-Sisi, Emir Qatar Tamim bin Hamad Al Thani, dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menandatangani deklarasi gencatan senjata di wilayah kantong Palestina itu.

    Kesepakatan  gencatan senjata tersebut mensyaratkan Hamas untuk membebaskan 20 sandera Israel yang masih hidup dan telah ditahan di Jalur Gaza sejak 7 Oktober 2023.

    Sebagai imbalannya, Israel membebaskan 1.718 tahanan Palestina dari Gaza dan 250 tahanan Palestina yang ditahan di penjara-penjara Israel.

    Sumber: Antaranews.com/Sputnik-RIA Novosti

  • UNRWA Mendesak Bantuan Kemanusiaan Diizinkan Masuk Gaza

    UNRWA Mendesak Bantuan Kemanusiaan Diizinkan Masuk Gaza

    7cloud.asia – Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) pada Sabtu (25/10/2025) kembali mendesak agar pengiriman bantuan kemanusiaan diizinkan masuk ke Jalur Gaza.

    Menurut pernyataan yang dikutip dari situs UNRWA, badan PBB itu menyatakan bahwa menjelang musim dingin di Gaza, kebutuhan masyarakat untuk tempat mengungsi dan menjaga kehangatan semakin meningkat.

    Dalam pernyataannya, UNRWA menambahkan bahwa bahan bangunan untuk pengungsian dan perlengkapan musim dingin bagi keluarga pengungsi Palestina sebenarnya tersedia di gudang-gudang UNRWA di Yordania dan Mesir, namun pengirimannya tertahan.

    Saat genosida di Gaza memasuki tahun kedua, para pengungsi menghadapi kondisi yang sulit dan tak tertahankan di tenda-tenda yang bahkan tidak memiliki perlindungan dasar.

    Mereka adalah manusia yang mencari tempat untuk berlindung, dan beberapa di antaranya, khususnya anak-anak, meninggal akibat cuaca dingin ekstrem selama dua musim dingin terakhir.

    Sebelumnya, badan pangan dunia (WFP) juga memperingatkan bahwa jumlah itu masih jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan mendesak warga di wilayah tersebut.

    “Gencatan senjata telah membuka sedikit peluang, dan WFP bergerak cepat untuk memperluas bantuan pangan serta menjangkau keluarga yang telah berbulan-bulan menghadapi blokade, pengungsian, dan kelaparan,” kata juru bicara WFP, Abeer Etefa, kepada wartawan di Jenewa, Jumat (17/10/2025).

    Pada periode 11–15 Oktober, sekitar 230 truk membawa sekitar 2.800 ton pasokan pangan ke Gaza. Dua konvoi tambahan masuk melalui perlintasan Kerem Shalom pada Kamis dengan membawa tepung gandum dan bahan pangan bergizi, meski jumlah pastinya masih dihitung.

    “(Jumlah bantuan) yang kami (kirimkan) masih berada di bawah angka kebutuhan, tetapi kami sedang menuju ke arah yang benar,” ujarnya, menambahkan bahwa rata-rata pengiriman harian telah mencapai sekitar 560 ton sejak gencatan senjata berlaku.

    Sumber: Antaranews.com/WAFA

  • 83 Persen Bangunan di Gaza Hancur, Mungkinkah Mengembalikan Seperti Semula

    83 Persen Bangunan di Gaza Hancur, Mungkinkah Mengembalikan Seperti Semula

    7cloud.asia – Jalur Gaza di Palestina sepanjang 40 kilometer dan lebar 11 kilometer telah hancur lebur akibat perang selama dua tahun terakhir.

    Sejumlah 2,3 juta jiwa memadati area seluas sekitar 360 kilometer persegi. Luas ini hanya separuh dari luas kota Jakarta.

    Selama ribuan tahun, masyarakat dan berbagai dinasti kekuasaan telah menghidupi, membangun, memperebutkan, juga meluluhlantakkan Jalur Gaza.

    Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan lebih dari 67 ribu warga Palestina meninggal dan hampir 170 ribu terluka akibat perang ini. Sekitar 1.200 warga Israel tewas dan 5.400 orang terluka sejak 7 Oktober 2023.

    Sebagian besar area Gaza terkubur di bawah reruntuhan. PBB menaksir bahwa 83 persen struktur bangunan dan area pemukiman di Kota Gaza dalam kondisi rusak. Kini, tersisa sebuah pertanyaan: Apakah Gaza masih mampu membangun kembali kehidupan seperti sediakala?

    Gencatan senjata yang baru terjadi membuka secercah harapan akan kedamaian jangka panjang. Saat artikel ini ditulis, gencatan senjata masih berlangsung, tetapi tak menjanjikan.

    Baca: Pembangunan kembali Gaza butuh 50 miliar dolar AS

    Perdamaian tak akan bertahan lama tanpa memulihkan kemampuan Gaza untuk menopang kehidupan jutaan warganya.

    Prioritas dalam pembangunan ulang Gaza
    Gaza kini menjadi kawasan bencana. Hampir seluruh infrastrukturnya lenyap ditelan perang, meninggalkan warga tanpa rumah, air bersih, atau listrik.

    Kerusakan Gaza setara dengan level teratas dalam indikator badai Saffir-Simpson, yaitu 4 atau 5, baik secara skala maupun cakupan.

    Terdapat beberapa langkah yang harus diprioritaskan dalam pembangunan ulang Gaza.

    1. Bantuan jangka pendek
    Seperti area bencana pada umumnya, bantuan yang harus diprioritaskan adalah makanan, air kemasan, dan obat-obatan. Bantuan ini akan menyambung hidup warga dalam jangka pendek.

    Dengan asumsi penyeberangan di perbatasan bisa dilakukan, bantuan langsung berupa makanan dan obat-obatan dapat menyelamatkan jiwa di tengah krisis makanan dan obat-obatan.

    Baca: Ratusan ribu warga Palestina berbondong-bondong kembali ke Gaza

    2. Mengembalikan infrastruktur dasar sebuah kota
    Para insinyur berperan penting dalam membangun kembali Gaza. Setelah pengeboman berkepanjangan, langkah pertama merekonstruksi Gaza adalah mendeteksi dan memfungsikan kembali pembangkit listrik, saluran air, pompa, dan saluran pembuangan.

    Meskipun jalur asli pipa yang terkubur dapat diketahui dari peta kota, sebagian besar jalur kemungkinan sudah retak, rusak, atau hancur.

    Tanpa langkah ini, masyarakat akan hidup dalam ancaman penyakit akibat sanitasi buruk, seperti tifus dan disentri.

    3. Pembersihan total
    Terdapat beberapa hal yang perlu dibersihkan secara total di kota yang mengalami perang.

    Pertama, bom dan amunisi yang belum meledak karena berisiko meledak jika bersinggungan dengan aktivitas masyarakat sehari-hari.

    Kedua, rumah dan fasilitas publik yang rusak dan berpotensi runtuh. Ketiga, jutaan ton puing bangunan yang memerlukan pembongkaran dan pembersihan besar-besaran.

    Setelah seluruh langkah di atas dilakukan, fasilitas yang perlu segera dipulihkan adalah rumah sakit, tempat tinggal, sekolah, jalan raya, dan infrastruktur pemerintah—yang jelas telah terkubur di bawah reruntuhan.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation dalam bahasa Inggris, Penulis: John Tookey (Professor of Construction Management, Auckland University of Technology), Kezia Kevina Harmoko berkontribusi dalam penerjemahan artikel ini.