7cloud.asia – Kelompok perlawanan Palestina, Hamas, Kamis (9/10/2025) menyatakan bahwa waktu pelaksanaan kesepakatan gencatan senjata di Jalur Gaza dengan Israel akan ditentukan oleh para mediator.
“Hamas telah mencapai formula kesepakatan gencatan senjata, dan para mediator akan memutuskan kapan kesepakatan itu mulai berlaku,” kata juru bicara Hamas, Hazem Qassem, dalam pernyataan yang dimuat di situs resmi kelompok tersebut.
Kesepakatan itu diumumkan pada Kamis dini hari setelah empat hari perundingan tidak langsung antara Hamas dan Israel di kota Sharm el-Sheikh, Mesir, dengan mediasi dari Turki, Mesir, Qatar, serta Amerika Serikat (AS).
Belum ada tanggapan langsung dari para mediator terkait pernyataan tersebut.
“Seperti biasa, pihak pendudukan (Israel) berupaya memanipulasi jadwal, daftar, dan prosedur yang telah disepakati untuk membuat pemimpin otoritas Benjamin Netanyahu tampak seolah-olah mengendalikan situasi,” ujar Qassem.
Baca: Kelompok Hamas tuntut jaminan Israel untuk akhiri perang di Gaza
Ia menambahkan bahwa Hamas terus berkomunikasi dengan para mediator guna memastikan Israel mematuhi kesepakatan dan tidak diberi kesempatan untuk menunda pelaksanaannya.
“Ada pembicaraan bahwa gencatan senjata akan mulai berlaku pada pukul 12.00 siang ini, namun pihak pendudukan menunda pengumumannya karena alasan internal,” katanya.
Hamas juga mengatakan akan membutuhkan waktu setidaknya 10 hari untuk menemukan jenazah sandera Israel yang telah meninggal, lapor The Wall Street Journal, Kamis (9/10/2025) mengutip sumber yang mengetahui masalah tersebut.
Pada Rabu (8/10/2025), Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa Israel dan Hamas telah menandatangani fase pertama perjanjian damai Gaza, yang menyepakati bahwa Hamas setuju untuk membebaskan sandera Israel dan Israel akan menarik pasukannya dari Jalur Gaza.
Pada saat yang sama, pejabat Israel meyakini bahwa sulit bagi Hamas untuk menemukan seluruh jenazah sandera yang tersisa dan prosesnya kemungkinan bisa memakan waktu lebih dari 10 hari.
Baca: Hamas setujui usulan Trump, tapi menolak letakkan senjata
Adapun pembicaraan tidak langsung antara delegasi Hamas dan Israel yang dimediasi oleh Mesir, Qatar, dan Turki telah berlangsung di Mesir sejak Senin (6/10/2025).
Pada 29 September, Trump mengumumkan rencana 20 poin untuk menyelesaikan konflik Gaza. Rencana tersebut di antaranya menyerukan gencatan senjata segera dan pembebasan sandera dalam waktu 72 jam.
Rencana itu turut menetapkan bahwa Hamas dan faksi-faksi lainnya harus melepaskan keterlibatan mereka dalam pemerintahan Gaza, yang nantinya akan dipercayakan kepada “komite teknokrat dan non -politik Palestina” yang diawasi oleh dewan internasional yang dipimpin oleh Trump.
Pada 3 Oktober, Hamas menyatakan telah setuju untuk menyerahkan pemerintahan Jalur Gaza kepada komite Palestina berdasarkan konsensus nasional.
Hamas juga menyatakan kesiapannya untuk membebaskan seluruh sandera Israel yang masih hidup dan menyerahkan jenazah yang sudah meninggal sesuai rencana Trump.
Hamas juga akan berpartisipasi dalam diskusi mengenai masa depan Jalur Gaza dalam kerangka struktur lintas-Palestina.
Sumber: Antaranews.com/Anadolu-Sputnik/RIA Novosti-OANA

Leave a Reply