Tag: banjir

  • Operasional Transjakarta Terdampak Kemacetan Akibat Banjir di Sejumlah Titik

    Operasional Transjakarta Terdampak Kemacetan Akibat Banjir di Sejumlah Titik

    7cloud.asia – Hujan deras mengakibatkan banjir dan genangan air di sejumlah titik di Jakarta, sehingga memicu kepadatan lalu lintas di sejumlah wilayah Jakarta pada Senin (12/1/2026) pagi.

    Kondisi tersebut berdampak pada keterlambatan layanan bus Transjakarta pada beberapa koridor dan rute yang melintasi area terdampak.

    Kepala Divisi Sekretaris Perusahaan dan Hubungan Masyarakat Transjakarta, Tjahyadi DPM menyampaikan, keterlambatan terjadi pada Koridor 5, 7, 9, dan 10.

    Selain itu, sejumlah rute seperti 5C, 7C, 7D, 7P, 7W, 9A, 9C, B41, dan D11, serta beberapa rute mikrotrans juga terdampak akibat kondisi lalu lintas yang padat.

    “Transjakarta menyampaikan permohonan maaf kepada pelanggan atas ketidaknyamanan yang terjadi dan mengimbau masyarakat untuk tetap waspada serta berhati-hati di perjalanan,” ujarnya.

    Informasi terkini terkait layanan dapat dipantau melalui aplikasi TJ: Transjakarta maupun media sosial resmi Transjakarta.

    Baca: Hujan lebat disertai angin kencang berpotensi terjadi di sejumlah daerah

    Sebelumnya, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem di wilayah Jakarta untuk periode 11 hingga 13 Januari 2026.

    Berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat diperkirakan terjadi di sejumlah wilayah Jakarta.

    Kepala Pelaksana BPBD DKI Jakarta, Isnawa Adji, mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan guna mengantisipasi dampak cuaca ekstrem, terutama potensi genangan dan banjir.

    “Pentingnya kesiapan individu dan keluarga, seperti membawa payung atau jas hujan serta menyiapkan tas siaga bencana saat beraktivitas,” ujar Isnawa Adji, Senin (12/1/2026).

    BPBD DKI Jakarta juga mengingatkan masyarakat untuk aktif memantau kondisi lingkungan sekitar. Informasi tinggi muka air dapat diakses melalui laman bpbd.jakarta.go.id atau ppdb.jakarta.go.id/waterlevel.

    Sementara laporan genangan atau banjir dapat disampaikan melalui aplikasi JAKI. Selain itu, pembaruan informasi banjir tersedia di situs pantau banjir.jakarta.go.id.

    Baca: Penurunan muka tanah dan perubahan iklim perburuk banjir di Jakarta

    “BPBD DKI Jakarta terus berkoordinasi dengan instansi terkait untuk memastikan kesiapsiagaan personel dan sarana prasarana dalam menghadapi potensi bencana hidrometeorologi selama periode cuaca ekstrem tersebut,” tandasnya.

    Terpisah, Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung mengajak masyarakat beralih menggunakan transportasi umum (Transum) guna menekan angka kemacetan di ibu kota, terlebih saat musim hujan seperti saat ini.

    Pramono menegaskan, integrasi transportasi di Jakarta saat ini sudah semakin baik guna mempermudah mobilitas warga. Apalagi Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta juga telah memberikan layanan gratis transportasi umum bagi 15 golongan masyarakat tertentu.

    “Saya berharap bahwa dengan konektivitas Jakarta yang semakin baik, baik itu LRT, MRT, Transjakarta, Mikrotrans, dan sebagainya, harapan saya apalagi digratiskan mereka mau dan bersedia naik transportasi umum,” ujar Pramono di Waduk Cilangkap Batu Licin, Jakarta Timur, Senin (12/1/2026).

    Menurutnya, kesediaan warga untuk beralih dari kendaraan pribadi ke moda transportasi massal menjadi kunci utama dalam menurunkan kepadatan lalu lintas secara signifikan.

    “Kalau dengan naik transportasi umum pasti kemacetan di Jakarta juga turun secara signifikan,” kata dia.

  • Banjir di Sejumlah Titik di Jakarta Sudah Mulai Surut

    Banjir di Sejumlah Titik di Jakarta Sudah Mulai Surut

    7cloud.asia – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jakarta Timur melaporkan kondisi genangan air serta banjir di sejumlah wilayah Jakarta Timur akibat hujan deras pada Senin (12/1/2026) sudah surut.

    “Update hingga pukul 20.00 WIB kemarin, sebagian besar titik genangan sudah kering. Namun, masih terdapat beberapa lokasi dengan genangan cukup tinggi,” kata Kepala Satuan Tugas Koordinator Wilayah BPBD Jakarta Timur Ali Kojim, Selasa (12/1/2026).

    BPBD Jakarta Timur mencatat, genangan air serta banjir tercatat di 15 titik yang tersebar di beberapa kecamatan di wilayah Jakarta Timur.

    Ali merinci di wilayah Kelurahan Lubang Buaya, Kecamatan Cipayung, genangan sempat terjadi di Jalan Pelita dan Jalan Masjid Albariyah dengan ketinggian mencapai 20 sentimeter (cm) pada Senin (12/1/2026) pagi.

    Namun, genangan di kedua lokasi tersebut telah surut dan dinyatakan kering pada siang hari.

    Baca: Operasional Transjakarta terdampak banjir

    Sementara itu, di Kecamatan Cakung, banjir di Jalan Kramayuda, Kampung Petukangan, Rawa Terate, sempat mencapai ketinggian maksimal 50 cm pada siang hingga sore hari sebelum akhirnya surut dan kering pada pukul 17.00 WIB.

    Banjir cukup signifikan juga terjadi di Kecamatan Kramat Jati, khususnya di Kelurahan Cawang dan Cililitan.

    Lalu, di Jalan Taman Harapan dan Jalan Raya Kalibata Gang Haji Maliki, ketinggian air mencapai 80 cm pada pukul 15.00 WIB sebelum berangsur surut dan kering pada malam hari.

    Sedangkan di Jalan Musholla Al-Hikmah dan Jalan Seruni, Kelurahan Cililitan, banjir sempat mencapai ketinggian 70 cm sebelum surut sepenuhnya.

    Genangan air yang paling tinggi tercatat di wilayah Kampung Melayu, Kecamatan Jatinegara, yakni di Jalan Kebon Pala II, dengan ketinggian genangan mencapai 100 cm atau satu meter pada pukul 15.00 hingga 16.00 WIB.

    Baca: Penurunan muka tanah dan perubahan iklim perburuk banjir di Jakarta

    Hingga pukul 20.00 WIB, genangan di lokasi tersebut masih tersisa sekitar 50 cm.

    Selain itu, genangan juga masih terpantau di Kelurahan Bidara Cina, Kecamatan Jatinegara, tepatnya di Jalan Baiduri Bulan, dengan ketinggian air mencapai 80 cm dan tersisa sekitar 30 cm pada malam hari.

    Selanjutnya, di Jalan Tanjung Lengkong, Gang Macan, banjir dengan ketinggian air maksimal yang mencapai 85 cm berangsur turun menjadi 25 cm pada pukul 20.00 WIB.

    Sebelumnya BPBD DKI Jakarta mengungkapkan bahwa banjir sempat meluas, bahkan hingga Senin (12/1/2026) petang sebanyak 57 Rukun Tetangga (RT) dan 39 ruas jalan terendam.

    “Hingga pukul 17.00 WIB, terdapat 57 RT dan 39 ruas jalan terendam,” kata Kepala Pusat Data dan Informasi Kebencanaan BPBD Provinsi DKI Jakarta, Mohamad Yohan di Jakarta, Senin.

    Baca: Kekeliruan pembangunan yang terus dibiarkan memicu bencana kemanusiaan

    Banjir yang disebabkan hujan deras di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya menyebabkan terjadinya genangan air dengan ketinggian 20 centimeter (cm) hingga 1 meter.

    BPBD DKI Jakarta mengerahkan personel untuk memonitor kondisi genangan di setiap wilayah.

    BPBD mengkoordinasikan unsur Dinas Sumber Daya Air (SDA), Dinas Bina Marga serta Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) untuk melakukan penyedotan genangan.

    BPBD DKI Jakarta mengimbau kepada masyarakat agar tetap berhati-hati dan waspada terhadap potensi genangan. “Dalam keadaan darurat, segera hubungi nomor telepon 112,” ujarnya.

  • Cuaca Ekstrem Picu Banjir di Sejumlah Kota di Jawa dan NTB, 1 Orang Meninggal

    Cuaca Ekstrem Picu Banjir di Sejumlah Kota di Jawa dan NTB, 1 Orang Meninggal

    7cloud.asia – Banjir dilaporkan terjadi di sejumlah daerah pada dua hari terakhir akibat curah hujan tinggi dan cuaca ekstrem.

    Banjir merebak di banyak tempat di Pulau Jawa seperti Tangerang dan Serang (Banten), DKI Jakarta, Kudus (Jawa Tengah) dan Lombok (Nusa Tenggara Barat).

    Di NTB dilaporkan, sebanyak tiga desa di wilayah Kabupaten Lombok Tengah, banjir terjadi sejak Selasa (13/1/2026) sore hingga malam di daerah setempat.

    Dilansir Antaranews.com, tiga desa yang dilanda banjir tersebut adalah Desa Selong Belanak di Kecamatan Praya Barat, Desa Kabul dan Desa Nontong Ajan di Kecamatan Praya Barat Daya.

    Banjir tersebut terjadi mulai menjelang malam dan air masuk ke rumah warga. Laporan terbaru dari BPBD NTB, banjir di Lombok Barat mengakibatkan satu orang meninggal dunia. Korban tercatat atas nama Ibu NR (69), warga Kecamatan Sekotong.

    Sementara, BPBD Kabupaten Serang, Banten, melaporkan banjir yang telah meluas hingga mencakup 32 desa di 17 kecamatan hingga Selasa malam.

    Sebanyak 5.386 kepala keluarga (KK) atau 19.088 jiwa terdampak banjir, tanah longsor, dan angin kencang.

    Banjir juga dilaporkan melanda Tangerang. Banjir terjadi akibat hujan lebat yang mengguyur sepanjang hari Selasa menyebabkan kerusakan pada hunian warga.

    Tercatat total 4.934 rumah terdampak, dengan rincian 4.889 rumah terendam banjir, 44 rumah terdampak longsor, dan satu rumah rusak akibat angin kencang.

    Peringatan BMKG
    Sementara, BMKG dalam Prospek Cuaca Mingguan periode 13-19 Januari 2026 mengingatkan potensi peningkatan hujan dengan intensitas sedang di wilayah Jawa-Bali dan Nusa Tenggara Barat.

    Wilayah Jakarta termasuk daerah yang perlu mewaspadai potensi cuaca ekstrem yang ditandai dengan peningkatan curah hujan

    Direktur Meteorologi Publik BMKG Andri Ramdhani sebelumnya menjelaskan bahwa kondisi cuaca ekstrem ini dipicu oleh kombinasi dinamika atmosfer skala regional yang saling memperkuat.

    Pertama, dia menyebutkan, terdapat penguatan Monsoon Asia yang disertai dengan peningkatan kecepatan angin di wilayah Laut Cina Selatan yang bergerak ke arah selatan melalui Selat Karimata hingga mencapai Pulau Jawa.

    Peningkatan kecepatan angin yang dikenal sebagai cold surge itu membentuk dan menguatkan daerah konvergensi yang berperan penting dalam memicu pertumbuhan awan hujan secara intensif.

    “Khususnya di sepanjang Pulau Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara,” kata Andri.

    Dia juga menunjuk adanya daerah tekanan udara rendah di Samudra Hindia sebelah selatan Nusa Tenggara Barat yang turut memengaruhi pola sirkulasi angin regional.

    Sistem ini, menyebabkan aliran angin di Indonesia bagian selatan menjadi lebih dominan ke arah timur, sehingga semakin memperkuat konvergensi dan perlambatan massa udara di wilayah selatan Indonesia.

    “Kondisi tersebut mendukung proses naiknya udara secara lebih intensif dan berkelanjutan, yang pada akhirnya meningkatkan potensi hujan lebat di sebagian besar pulau Jawa, Bali dan Nusa Tenggara,” tuturnya.

    Keterangan itu senada dengan peneliti dari Pusat Riset Iklim dan Atmosfer di Badan Riset dan Inovasi Nasional Erma Yulihastin. Profesor bidang Klimatologi ini menggunakan istilah prakondisi vorteks untuk yang sedang terjadi di selatan NTB.

    Erma pernah mengungkapnya pada pertengahan Desember lalu. Saat itu, fenomena yang sama telah menahan pergerakan bibit siklon tropis 93S, dari seharusnya ke barat-selatan menjauhi wilayah Indonesia ke arah Australia menjadi berbelok arah lagi ke timur. Dampaknya, hujan intensitas tinggi dan banjir di Bali.

  • Hujan Deras Picu Banjir di 39 RT di Jakarta

    Hujan Deras Picu Banjir di 39 RT di Jakarta

    7cloud.asia – Badan Penanggulangan Bencana Daerah atau BPBD DKI Jakarta menyebut, hingga Minggu (18/1/2026) siang banjir masih merendam sedikitnya 39 rukun tetangga (RT) dan 28 ruas jalan di Ibu Kota.

    Banjir yang melumpuhkan Jakarta ini dipicu curah hujan tinggi yang mengguyur Jakarta dan sekitarnya sejak Sabtu malam. Sebelumnya, BMKG sudah mengingatkan potensi hujan deras di Jakarta hingga 23 Januari mendatang.

    Kepala Pusat Data dan Informasi Kebencanaan BPBD Provinsi DKI Jakarta Mohamad Yohan di Jakarta, menyebutkan hingga Minggu siang pukul 11.00 WIB sebanyak 19 RT di Jakarta Barat terendam dengan ketinggian air 15-60 sentimeter (cm).

    Di Jakarta Pusat tercatat 13 RT terendam banjir dengan ketinggian 30-110 centimeter, tiga RT di Jakarta Timur (30-110 cm) dan empat RT di Jakarta Utara (25-30 cm).

    Sementara untuk jalan, tercatat lima jalan terendam banjir dengan ketinggian air 10 – 30 cm di Jakarta Pusat, 18 jalan di Jakarta Utara (15-100 cm), lima di Jakarta Barat (10-50 cm).

    Baca: Penurunan muka tanah dan perubahan iklim perburuk banjir di Jakarta

    Yohan juga menyebutkan ketinggian air tertinggi di Kelurahan Kedaung Kali Angke, Jakarta Barat, di mana ada 8 RT yang mencapai 30-60 cm, Kelurahan Tegal Alur empat RT (30-40 cm).

    Sementara di Jakarta Timur, dua RT di Kelurahan Rawa Terate 40-110 cm, sedangkan Jakarta Utara, dua RT di Kelurahan Pademangan Barat 30 cm dan satu RT di Kelurahan Kapuk Muara 30 cm.

    Yohan menyebutkan dampak banjir di pemukimkan mengakibatkan warga di sejumlah kelurahan harus pengungsi ke tempat yang lebih aman.

    Pengungsi banjir antara lain dilaporkan terjadi di Kelurahan Tegal Alur, Jakarta Barat, dengan lokasi di Ruang Publik Terpadu Ramah Anak Alur Anggrek yaitu sebanyak 12 KK atau 29 jiwa dan Kelurahan Rawa Terate, Jakarta Timur, dengan lokasi Lapangan United Tractor sebanyak 8 KK atau 14 jiwa.

    Sementara, untuk ruas jalan tertinggi banjir, delapan ruas jalan di Jakarta Utara setinggi 40-100 cm, yakni Jalan Karang Bolong Raya, Jalan Kampung Sepatan, Jalan Gaya Motor Raya (Depan Kodim 0502).

    Genangan air setinggi 40-100 cm juga dilaporkan terjadi di Jalan Jembatan Tiga Raya, Jalan Pluit Raya (Depan Hotel JP), Jalan Babek TNI, Jalan Muara Baru, Depan Pintu Masuk Pelabuhan Nizam Zachman.

    Baca: Banjir Jabodetabek juga dipicu tata ruang yang amburadul

    Sementara di Jakarta Pusat setinggi 30 cm yakni di Jalan Letjen Suprapto dan Jalan Ruko Cempaka Mas, sedangkan Jakarta Barat setinggi 50 cm di Jalan Benda Raya.

    Oleh karena itu, pihaknya mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi banjir lanjutan.

    “Jika situasi darurat, warga bisa segera menghubungi layanan Jakarta Siaga 112 yang beroperasi selama 24 jam gratis,” katanya.

    Ia menambahkan pihaknya telah mengerahkan personel untuk memonitor kondisi genangan di setiap wilayah dan mengkoordinasikan unsur Dinas SDA, Dinas Bina Marga, Dinas Gulkarmat untuk melakukan penyedotan genangan.

    “Selain itu juga memastikan tali-tali air berfungsi dengan baik bersama dengan para lurah dan camat setempat serta menyiapkan kebutuhan dasar bagi penyintas. Banjir ditargetkan untuk surut dalam waktu cepat,” kata Yohan.

    BPBD DKI juga mengimbau kepada masyarakat agar tetap berhati-hati dan waspada terhadap potensi genangan. Dalam keadaan darurat, segera hubungi nomor telepon 112. Layanan ini gratis dan beroperasi selama 24 jam non-stop.

    Baca: Rekomendasi IAI untuk tanggulangi banjir besar di Jabodetabek

  • DKI Jakarta Bangun Sembilan Waduk untuk Kurangi Intensitas Banjir

    DKI Jakarta Bangun Sembilan Waduk untuk Kurangi Intensitas Banjir

    7cloud.asia – Waduk Batu Licin di Cilangkap, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur, yang sebelumnya bernama Waduk Giri Kencana diresmikan pada Senin (12/1/2026) lalu.

    Waduk Batu Licin ini memiliki luas lahan sekitar 4,5 hektare (ha) dengan area tampungan air mencapai 2,7 hektare.

    Peresmian ini menegaskan komitmen Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta dalam memperkuat pengelolaan sumber daya air sekaligus mengendalikan banjir dan pengurangan risiko genangan, khususnya di wilayah Jakarta Timur dan sekitarnya.

    Saat meresmikan Waduk Batu Licin, Gubernur DKI Jakarta Pramono menyampaikan, sejak awal menjabat, persoalan banjir menjadi salah satu perhatian utama saya. Karena itu, pembangunan waduk dilakukan secara serius dan terencana.

    ”Saat ini, terdapat sembilan waduk yang telah dibangun dan tersebar di Jakarta Timur, Jakarta Selatan, dan Jakarta Barat, dengan tujuan utama mengurangi genangan di kawasan permukiman padat,” ujarnya.

    Pramono menjelaskan, berdasarkan testimoni warga, kawasan Cilangkap sebelumnya kerap mengalami genangan setiap kali hujan deras.

    Baca: Revitalisasi Waduk Giri Kencana untuk tingkatkan daya tampung air

    Kini, dengan kapasitas tampung Waduk Batu Licin sekitar 92.000 meter kubik dan kedalaman enam meter, potensi genangan diharapkan dapat ditekan secara signifikan.

    Selain berfungsi sebagai infrastruktur pengendali banjir, Waduk Batu Licin juga dikembangkan sebagai ruang terbuka hijau yang dapat dimanfaatkan publik.

    Sejumlah fasilitas telah disediakan, antara lain jogging track, lapangan basket, musala, serta area rekreasi warga.

    Pramono menambahkan, sebelum waduk dibangun, kawasan tersebut tidak memiliki area resapan dan tampungan air yang memadai.

    Kehadiran Waduk Batu Licin sebagai daerah tangkapan air (catchment area) baru diharapkan mampu memperkuat sistem pengendalian banjir di wilayah sekitarnya.

    “Saya berharap tujuh waduk lainnya yang sedang dan akan diresmikan dapat segera dimanfaatkan masyarakat,” tambahnya.

    Baca: DKI Jakarta andalkan 147 waduk dan embung untuk konservasi air 

    Pramono menegaskan, pembangunan waduk merupakan bagian dari strategi jangka menengah pengendalian banjir yang selaras dengan program prioritas normalisasi Sungai Ciliwung, Sungai Sunter, dan Kali Krukut.

    “Dengan dukungan sistem pompa yang ada serta pemantauan harian terhadap curah hujan dan potensi rob, Alhamdulillah saat ini jika terjadi genangan, dalam waktu satu hingga satu setengah jam sudah dapat tertangani,” jelasnya.

    Terkait pengembangan waduk di wilayah lain, Pramono menyebutkan, saat ini lima waduk di Jakarta Timur telah selesai dibangun, disusul dua waduk di Jakarta Selatan dan dua waduk di Jakarta Barat.

    Secara keseluruhan, keberadaan waduk-waduk tersebut diharapkan dapat meningkatkan daya tampung air dan memperkuat ketahanan Jakarta terhadap risiko banjir.

    Pramono menambahkan, Pemprov DKI Jakarta membuka peluang bagi masyarakat untuk memanfaatkan kawasan waduk, termasuk untuk kegiatan memancing.

    “Silakan dimanfaatkan, termasuk untuk memancing, dan saya minta digratiskan tanpa pungutan. Namun, masyarakat juga harus bersama-sama menjaga fasilitas publik ini agar tetap tertata dan berkelanjutan,” pungkasnya.

    Baca: Mungkinkah Jakarta dan sekitarnya terbebas dari banjir?

  • Banjir Genangi Puluhan Desa di Karawang dan Bekasi, Ribuan Warga Mengungsi

    Banjir Genangi Puluhan Desa di Karawang dan Bekasi, Ribuan Warga Mengungsi

    7cloud.asia – Hujan lebat yang mengguyur Jawa Barat mengakibatkan air Sungai Citarum dan Cibeet meluap dan memicu banjir di puluhan kecamatan di Bekasi dan Karawang, pada Minggu (18/1/2026) dini hari.

    Hingga Senin (19/1/2026) banjir masih menggenangi sejumlah wilayah di Kabupaten Bekasi dan Karawang, dengan tinggi muka air sekitar 30 – 200 cm.

    BPBD Karawang menyebut setidaknya 28 desa/kelurahan yang tersebar di 12 kecamatan terdampak banjir ini.

    Banjir antara lain terjadi Kecamatan Karawang Timur, Telukjambe Timur, Pangkalan, Telukjambe Barat, Karawang Barat, Jayakerta, Cilebar, Rawamerta, Rengasdengklok dan Lemahabang, Cilamaya Watan dan Klaro.

    Menurut data BPBD Karawang, setidaknya 3.162 rumah terendam dengan Desa Karangligar, Kecamatan Telukjambe Barat merupakan salah satu daerah banjir yang cukup parah, dengan ketinggian air hampir mencapai 2 meter.

    Data Senin (19/1/2026), setidaknya 4.304 kepala keluarga atau 13.841 jiwa. Dari total jiwa, kelompok prioritas di antaranya balita berjumlah 374 jiwa. bayi 86 jiwa dan lanjut usia 77 jiwa.

    Kepala Pusat Data dan Informasi BNPB, Abdul Muhari menyebut warga yang mengungsi tersebar di 4 titik pos pengungsian dengan total jiwa sebanyak 2.413 jiwa.

    Konsentrasi pengungsian berada di kantor kelurahan Tanjungpura, ruko Karaba, Jalan Pemancingan Ajo dan ruko Tupperware.

    Di Bekasi, sebanyak 14.855 kepala keluarga (KK) terdampak banjir yang melanda wilayah Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Ribuan KK tersebut tersebar di 39 desa pada 17 kecamatan.

    Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Bekasi, Dodi Supriadi mengatakan data itu merupakan pembaruan terakhir pada Senin, 19 Januari 2026 pukul 08.00 WIB.

    “Dampak kejadian ada 14.855 KK terdampak, ada 1.336 mengungsi di 12 lokasi titik pengungsian,” kata Dodi di Bekasi.

    Menurut dia, 17 kecamatan yang terdampak meliputi Tarumajaya, Babelan, Tambun Utara, Sukawangi, Cabangbungin, Cibitung, Tambun Selatan, Cikarang Barat, Karangbahagia, Cikarang Utara, Cikarang Timur, Pebayuran, dan Cikarang Pusat. BPBD Kabupaten Bekasi terus melakukan langkah penanganan darurat di lapangan.

    “Kami melakukan asesmen, evakuasi, dan pemberian bantuan logistik kepada korban terdampak,” ujar Dodi.

    Adapun 12 titik pengungsian yang disiapkan tersebar di sejumlah lokasi. Di Kecamatan Babelan, pengungsi ditampung di Masjid Al Maghfur, Desa Babelan Kota.

    Di Kecamatan Tambun Utara, lokasi pengungsian berada di Perumahan Green Avenue, Desa Sriamur, serta Pondok Pesantren Nahdatul Watan di Desa Srimukti.

    Sementara di Kecamatan Sukawangi, pengungsian dipusatkan di Aula Kantor Desa Sukamekar, SDN Sukamekar 01, Musala Nurul Huda, Masjid Al Muhajirin, dan Perumahan Lavender.

    Lokasi lainnya berada di Kecamatan Sukakarya tepatnya di Kantor Sukajadi, Kantor Kecamatan Kedungwaringin, Kampung Kali Ulu Desa Karang Raharja, serta Kampung Poncol Desa Tanjung Sari, Kecamatan Cikarang Utara.

    “Kami juga melakukan koordinasi dengan dinas dan instansi teknis terkait untuk penanganan lebih lanjut,” tutur Dodi.

    BPBD mengimbau warga tetap waspada terhadap potensi peningkatan debit air, mengingat BMKG menyebut adanya potensi cuaca ekstrem hingga 21 Januari 2026, wilayah Provinsi Jawa Barat berpotensi hujan lebat hingga sangat lebat.

    Hujan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai kilat dan angin kencang berpotensi di Kabupaten Tasikmalaya dan Subang, serta dapat meluas ke Kabupaten Purwakarta, Sukabumi, Tasikmalaya, Ciamis, Indramayu, Pangandaran dan Kota Tasikmalaya.

    BNPB mengimbau pemerintah daerah bersiaga dan mengambil langkah-langkah pencegahan serta mitigasi. Di samping itu, masyarakat dapat menyiapkan tas siaga bencana yang dibutuhkan apabila mereka harus evakuasi ke tempat aman atau pos pengungsian.

  • Antisipasi Cuaca Ekstrem: Pemprov DKI Jakarta Siapkan Anggaran Modifikasi Cuaca Selama Sebulan Penuh

    Antisipasi Cuaca Ekstrem: Pemprov DKI Jakarta Siapkan Anggaran Modifikasi Cuaca Selama Sebulan Penuh

    7cloud.asia – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta tetap memprioritaskan upaya penanganan banjir dengan menyiapkan berbagai infrastruktur pengendali banjir.

    Tak hanya itu, alokasi anggaran penanganan banjir dan mitigasi cuaca ekstrem juga dipastikan tidak akan terdampak pengurangan APBD 2026.

    ”Jadi hal yang berkaitan dengan penekanan cuaca buruk dan juga normalisasi sungai, apakah itu Ciliwung atau Krukut, dan juga pembelian beberapa pompa-pompa baru, saya menegaskkan bahwa tidak ada pengurangan,” tegas Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung di Balai Kota DKI Jakarta, Rabu (21/1/2026).

    Pramono menambahkan, kesiapan infrastruktur dan upaya penanganan banjir harus disiapkan dengan baik.

    Baca: BMKG ingatkan potensi peningkatan curah hujan di akhir Januari

    Ia melanjutkan, Pemprov DKI bahkan menyiapkan anggaran untuk pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) selama sebulan penuh. Biasanya, OMC ini hanya disiapkan untuk satu hingga tiga hari.

    Alokasi anggaran Operasi Modifikasi Cuaca untuk sebulan penuh ini disiapkan guna mengantisipasi prakiraan cuaca ekstrem yang melanda Jakarta.

    “Kami tidak ingin kemudian, karena memang cuaca-cuaca ini lagi ekstrem sekali. Hampir semua sepanjang Pantai Utara Jawa kan hari ini juga masih kebanjiran semua,” kata dia.

    Meski tengah menghadapi cuaca ekstrem, namun Pramono menyebut banjir yang terjadi di Jakarta lebih cepat surut dibandingkan daerah lainnya.

    Baca: Perubahan iklim membuat Indonesia tak lagi bebas dari siklon

    Hal ini didukung dengan adanya fasilitas infrastruktur pengendali banjir yang sudah siap beroperasi penuh.

    “Karena memang fasilitas pompanya cukup untuk melakukan itu. Walaupun, kalau kemudian curah hujannya rata-rata seperti hari Sabtu-Minggu di atas 250, itu pasti akan terjadi genangan banjir di mana-mana,” jelas Pramono.

    Terkait dampak kemacetan yang selalu terjadi saat hujan deras, Pramono membuka peluang adanya kebijakan untuk menerapkan work from home atau WFH jika curah hujan kembali tinggi. Kebijakan ini terutama diberlakukan untuk para siswa di Jakarta.

    “Kalau kemudian ada indikasi seperti itu dan di hari biasa, saya akan memutuskan untuk dilakukan Work From Home, terutama untuk anak-anak didik kita,” tandas Pramono.

  • Hujan Deras Picu Banjir di 132 RT di Jakarta

    Hujan Deras Picu Banjir di 132 RT di Jakarta

    7cloud.asia – Hujan deras yang mengguyur Jakarta dan sekitarnya pada Kamis, (22/1/2026) memicu banjir yang menggenangi 132 rukun tetangga (RT) di lima wilayah kota.

    Curah hujan tinggi mengakibatkan sejumlah sungai, seperti Kali Angke, Kali Krukut, Kali Pesanggrahan, Kali Ciliwung, dan Kali Mampang meluap dan memicu genangan di banyak tempat.

    Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jakarta menyatakan banjir tersebar di Jakarta Barat, Jakarta Pusat, Jakarta Selatan, Jakarta Timur, dan Jakarta Utara. Ketinggian air bervariasi, mulai dari 15 sentimeter hingga 150 sentimeter.

    BPBD Jakarta mencatat, hingga pukul 20.00 WIB banjir juga terjadi di 22 ruas jalan.

    Di Jakarta Barat, banjir merendam 31 RT yang tersebar di tujuh kelurahan, antara lain Duri Kosambi, Kapuk, Kedaung Kali Angke, Rawa Buaya, dan Kedoya Utara. Ketinggian air di wilayah ini mencapai 150 sentimeter di Rawa Buaya akibat hujan lebat.

    Jakarta Pusat mencatat 27 RT di Kelurahan Karet Tengsin terendam banjir dengan ketinggian 30 hingga 70 sentimeter.

    Sementara itu, Jakarta Selatan menjadi wilayah dengan jumlah RT terdampak terbanyak, yakni 46 RT di tujuh kelurahan, termasuk Petogogan, Pela Mampang, dan Pondok Pinang. Di kawasan Petogogan, genangan setinggi 50 sentimeter dipicu luapan Kali Krukut.

    Di Jakarta Timur, banjir merendam 26 RT yang tersebar di delapan kelurahan, seperti Kampung Melayu, Cawang, Bidara Cina, dan Cipinang Melayu. Ketinggian air di Kampung Melayu mencapai 100 sentimeter.

    Baca: Paradigma penanganan bencana harus diubah menjadi tindakan preventif dan mitigasi

    Adapun di Jakarta Utara, genangan terjadi di dua RT di Kelurahan Kapuk Muara dengan ketinggian sekitar 40 sentimeter.

    BPBD mencatat sedikitnya 11 kepala keluarga atau 28 jiwa mengungsi di Masjid Jami Al Khaeer, Kelurahan Kedaung Kali Angke, Jakarta Barat. Sejumlah wilayah dilaporkan mulai surut, antara lain satu RT di Kelurahan Gandaria Selatan dan satu RT di Kelurahan Jagakarsa.

    Daftar 22 ruas jalan terdampak sebagai berikut:
    1. Jl. Percetakan Negara II RT 12/RW 06, Kel. Johar Baru, Jakarta Pusat Ketinggian: 20 cm

    2. Jl. GBI, Kel. Kelapa Gading Barat, Jakarta Utara Ketinggian: 25 cm

    3. Jl. Srengseng Raya, Kel. Srengseng, Jakarta Barat Ketinggian: 35 cm

    4. Jl. Daan Mogot KM 13 (Seberang Victoria / Pabrik Gelas ), Kel. Cengkareng Timur, Jakarta Barat Ketinggian: 50 cm

    5. Jl. Peternakan 2 RT.06 RW 07 , Kel. Kapuk, Jakarta Barat Ketinggian: 20 cm

    6. Jl. Gotong Royong RT.06 RW 08, Kel. Kapuk, Jakarta Barat Ketinggian: 40 cm

     

    Baca: Mitigasi bencana adalah upaya jangka panjang

    7. Jl. Manyar 1 RT.01/011 , Kel. Tegal Alur, Jakarta Barat Ketinggian: 20 cm

    8. Jl. Kapuk Bongkaran RT.022 RW 012 , Kel. Kapuk, Jakarta Barat Ketinggian: 40 cm

    9. Depan RS. Soeharto Heerdjan Jl. Prof. Dr. Latumeten No.1, RT.1/RW.4, Kel. Jelambar, Jakarta Barat Ketinggian: 10 cm

    10. Jl. Taman Kota, Kel. Kedaung Kali Angke, Jakarta Barat Ketinggian: 20 cm

    11. Perumahan BTN Jl. Delima VIII, Kel. Kembangan Utara, Jakarta Barat Ketinggian: 40 cm

    12. Jl. Strategi Raya, Kel. Joglo, Jakarta Barat Ketinggian: 65 cm

    13. Jl. Basoka Raya, Kel. Joglo, Jakarta Barat Ketinggian: 65 cm

    Baca: Pemerintah diminta lebih serius bangun sistem manajemen bencana

    14. Jl Pulo Raya IV RT 6 RW 1 (Akses Jalan), Kel. Petogogan, Jakarta Selatan Ketinggian: 50 cm

    15. Jl. Kemang Utara IX Rt 004/04, Kel. Bangka, Jakarta Selatan Ketinggian: 30 cm

    16. Kantor Kelurahan Ciganjur Jl. Anda No.1B 7, RT.7/RW.3 , Kel. Ciganjur, Jakarta Selatan Ketinggian: 10 cm

    17. Jl. Kemang Utara IX, Kel. Duren Tiga, Jakarta Selatan Ketinggian: 30 cm

    18. Jl. Bintaro Permai Raya, Kel. Bintaro a, Jakarta Selatan Ketinggian: 30 cm

    19. Jl. Taruna Pahlawan Revolusi (Titik Kenal SMPN 117), Kel. Pondok Bambu, Jakarta Timur Ketinggian: 60 cm

    20. Jl. Raya Cipinang Indah, Kel. Pondok Bambu, Jakarta Timur Ketinggian: 40 cm

    21. Jl. Kebon Pala II RW 04, Kel. Kebon Pala , Jakarta Timur Ketinggian: 60 cm

    22. Jl. Kebon Pala II RW 05, Kel. Kebon Pala , Jakarta Timur Ketinggian: 40 cm

  • Jadi Pemicu Banjir di Jakarta Utara, Pramono Anung Instruksikan Segera Normalisasi Kali Cakung Lama

    Jadi Pemicu Banjir di Jakarta Utara, Pramono Anung Instruksikan Segera Normalisasi Kali Cakung Lama

    7cloud.asia – Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, pada Jumat (23/1/2026) meninjau langsung Kali Cakung Lama, khususnya Segmen Sungai Begog di Semper Timur, Jakarta Utara.

    Usai peninjauan, Pramono menyampaikan sejumlah langkah strategis dalam menangani banjir di sejumlah wilayah Jakarta akibat cuaca ekstrem.

    Ia mengungkapkan, penyebab utama banjir di Jakarta Utara khususnya wilayah Kelapa Gading, Sukapura, Cilincing, hingga Pegangsaan Dua yakni karena adanya penyempitan aliran sungai atau bottleneck di Kali Cakung Lama.

    “Saya melihat, mengecek secara langsung, memang di Kali Cakung Lama ini terjadi bottleneck. Dan ini menyebabkan beberapa daerah kemudian banjir di antaranya adalah Kelapa Gading, Sukapura, dan Cilincing, Pegangsaan Dua, dan sebagainya,” jelas Pramono.

    Karena itu, Gubernur telah menginstruksikan Kepala Dinas Sumber Daya Air agar segera melakukan normalisasi Kali Cakung Lama sepanjang sekitar dua kilometer.

    Baca: Hujan deras picu banjir di 132 RT di Jakarta

    Langkah normalisasi Kali Cakung Lama menjadi salah satu program prioritas yang dilakukan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta untuk menangani masalah banjir.

    Menurut Pramono, selama ini sebagian masyarakat di sekitar Kali Cakung Lama menolak untuk dilakukan normalisasi.

    Namun karena banjir yang terus menerus terjadi, mereka pun kini memberikan dukungannya terhadap upaya ini.

    “Sekarang ini sebagian besar masyarakat sudah bersedia untuk dilakukan normalisasi,” kata Pramono.

    Pramono menyebut, di sejumlah titik Kali Cakung Lama kini hanya memiliki lebar dua meter dari semula 15 hingga 20 meter. Karena itu, normalisasi diperlukan agar sungai mampu menampung debit air saat curah hujan tinggi.

    Baca: Paradigma penanganan bencana harus diubah menjadi pencegahan dan mitigasi

    “Tadi saya sudah memberikan persetujuan secara langsung dan langsung minggu depan kita rapatkan untuk kita lakukan normalisasi di sungai ini supaya Kelapa Gading dan sebagainya tidak berdampak seperti sekarang ini,” kata Pramono.

    Pramono juga menyampaikan, lamanya durasi dan tingginya curah hujan dalam beberapa hari ini menyebabkan penambahan titik banjir di sejumlah wilayah.

    Untuk mengatasinya, Pemprov DKI berkomitmen untuk terus menambah infrastruktur pengendali banjir, seperti pompa, serta melakukan normalisasi baik di Kali Cakung Lama, Kali Krukut, dan juga Ciliwung.

    “Jadi tiga itu yang menjadi konsentrasi pemerintah DKI Jakarta,” tandasnya.

  • Banjir di Jakarta Mulai Surut, Tetapi Warga Diminta Tetap Waspada

    Banjir di Jakarta Mulai Surut, Tetapi Warga Diminta Tetap Waspada

    7cloud.asia – Banjir yang menggenangi sejumlah kawasan di Jakarta sejak Rabu (21/1/2026) dilaporkan mulai surut seiring dengan berkurangnya curah hujan.

    Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta melaporkan, hingga Jumat (23/1/2026) malam, sebanyak 81 RT dan 15 ruas jalan yang tergenangmasih tergenang air.

    Kepala Pusat Data dan Informasi Kebencanaan BPBD DKI Jakarta, Mohammad Yohan mengatakan, jumlah tersebut menurun cukup signifikan dibandingkan data sebelumnya, yang menunjukkan jumlah RT tergenang masih berada di atas 100 RT.

    Yohan memastikan BPBD DKI Jakarta terus mengerahkan personel untuk memantau kondisi genangan di setiap wilayah.

    BPBD juga terus mengoordinasikan unsur Dinas Sumber Daya Air (SDA), Dinas Bina Marga, dan Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) untuk melakukan penyedotan genangan serta memastikan tali-tali air berfungsi dengan baik.

    Hal ini dilakukan bersama lurah dan camat setempat. Adapun, data lengkap terkait sebaran RT di Jakarta yang masih tergenang, sebagai berikut:

    Jakarta Barat terdapat 50 RT, yang terdiri:
    – Kel. Duri Kosambi: 5 RT dengan ketinggian: 50 s.d 120 cm

    – Kel. Kapuk: 3 RT dengan ketinggian: 50 s.d 70 cm

    – Kel. Kedaung Kali Angke: 8 RT dengan ketinggian 50 cm

    – Kel. Rawa Buaya: 8 RT dengan ketinggian: 50 s.d 120 cm

    – Kel. Jelambar: 4 RT dengan ketinggian 20 cm

    – Kel. Kedoya Selatan: 4 RT dengan ketinggian: 60 cm, disebabkan luapan Kali Pesanggrahan

    – Kel. Kedoya Utara: 7 RT dengan ketinggian: 15 s.d 80 cm

    – Kel. Sukabumi Utara: 1 RT dengan ketinggian: 60 cm

    – Kel. Joglo: 1 RT dengan ketinggian: 40 cm

    – Kel. Kembangan Selatan: 5 RT dengan ketinggian: 25 s.d 60 cm dipicu luapan Kali Pesanggrahan

    – Kel. Kembangan Utara: 4 RT dengan ketinggian: 30 s.d 60 cm karena luapan Kali Angke

    – Kel. Meruya Selatan: 1 RT dengan ketinggian: 50 cm

    Jakarta Selatan terdapat 9 RT, yang terdiri:
    – Kel. Tanjung Barat: 2 RT dengan ketinggian: 75 s.d 80 cm akibat luapan Kali Ciliwung

    – Kel. Cipulir: 1 RT dengan ketinggian: 40 cm

    – Kel. Duren Tiga: 1 RT dengan ketinggian ketinggian: 40 cm

    – Kel. Pejaten Timur: 3 RT dengan ketinggian: 140 cm akibat luapan Kali Ciliwung

    Jakarta Timur terdapat 15 RT, yang terdiri:
    – Kel. Rawa Terate: 1 RT dengan ketinggian: 80 cm

    – Kel. Bidara Cina: 4 RT dengan ketinggian: 100 s.d 110 cm akibat luapan Kali Ciliwung

    – Kel. Cipinang Muara: 2 RT dengan ketinggian: 30 cm

    – Kel. Kampung Melayu: 4 RT dengan ketinggian 75 s.d 90 cm

    – Kel. Cipinang Melayu: 4 RT dengan ketinggian: 20 s.d 50 cm akibat luapan Kali PHB Sulaiman

    Jakarta Utara terdapat 7 RT, yang terdiri:
    – Kel. Kapuk Muara: 7 RT dengan ketinggian: 40 s.d 75 cm