Cuaca Ekstrem Picu Banjir di Sejumlah Kota di Jawa dan NTB, 1 Orang Meninggal

Written by

in

7cloud.asia – Banjir dilaporkan terjadi di sejumlah daerah pada dua hari terakhir akibat curah hujan tinggi dan cuaca ekstrem.

Banjir merebak di banyak tempat di Pulau Jawa seperti Tangerang dan Serang (Banten), DKI Jakarta, Kudus (Jawa Tengah) dan Lombok (Nusa Tenggara Barat).

Di NTB dilaporkan, sebanyak tiga desa di wilayah Kabupaten Lombok Tengah, banjir terjadi sejak Selasa (13/1/2026) sore hingga malam di daerah setempat.

Dilansir Antaranews.com, tiga desa yang dilanda banjir tersebut adalah Desa Selong Belanak di Kecamatan Praya Barat, Desa Kabul dan Desa Nontong Ajan di Kecamatan Praya Barat Daya.

Banjir tersebut terjadi mulai menjelang malam dan air masuk ke rumah warga. Laporan terbaru dari BPBD NTB, banjir di Lombok Barat mengakibatkan satu orang meninggal dunia. Korban tercatat atas nama Ibu NR (69), warga Kecamatan Sekotong.

Sementara, BPBD Kabupaten Serang, Banten, melaporkan banjir yang telah meluas hingga mencakup 32 desa di 17 kecamatan hingga Selasa malam.

Sebanyak 5.386 kepala keluarga (KK) atau 19.088 jiwa terdampak banjir, tanah longsor, dan angin kencang.

Banjir juga dilaporkan melanda Tangerang. Banjir terjadi akibat hujan lebat yang mengguyur sepanjang hari Selasa menyebabkan kerusakan pada hunian warga.

Tercatat total 4.934 rumah terdampak, dengan rincian 4.889 rumah terendam banjir, 44 rumah terdampak longsor, dan satu rumah rusak akibat angin kencang.

Peringatan BMKG
Sementara, BMKG dalam Prospek Cuaca Mingguan periode 13-19 Januari 2026 mengingatkan potensi peningkatan hujan dengan intensitas sedang di wilayah Jawa-Bali dan Nusa Tenggara Barat.

Wilayah Jakarta termasuk daerah yang perlu mewaspadai potensi cuaca ekstrem yang ditandai dengan peningkatan curah hujan

Direktur Meteorologi Publik BMKG Andri Ramdhani sebelumnya menjelaskan bahwa kondisi cuaca ekstrem ini dipicu oleh kombinasi dinamika atmosfer skala regional yang saling memperkuat.

Pertama, dia menyebutkan, terdapat penguatan Monsoon Asia yang disertai dengan peningkatan kecepatan angin di wilayah Laut Cina Selatan yang bergerak ke arah selatan melalui Selat Karimata hingga mencapai Pulau Jawa.

Peningkatan kecepatan angin yang dikenal sebagai cold surge itu membentuk dan menguatkan daerah konvergensi yang berperan penting dalam memicu pertumbuhan awan hujan secara intensif.

“Khususnya di sepanjang Pulau Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara,” kata Andri.

Dia juga menunjuk adanya daerah tekanan udara rendah di Samudra Hindia sebelah selatan Nusa Tenggara Barat yang turut memengaruhi pola sirkulasi angin regional.

Sistem ini, menyebabkan aliran angin di Indonesia bagian selatan menjadi lebih dominan ke arah timur, sehingga semakin memperkuat konvergensi dan perlambatan massa udara di wilayah selatan Indonesia.

“Kondisi tersebut mendukung proses naiknya udara secara lebih intensif dan berkelanjutan, yang pada akhirnya meningkatkan potensi hujan lebat di sebagian besar pulau Jawa, Bali dan Nusa Tenggara,” tuturnya.

Keterangan itu senada dengan peneliti dari Pusat Riset Iklim dan Atmosfer di Badan Riset dan Inovasi Nasional Erma Yulihastin. Profesor bidang Klimatologi ini menggunakan istilah prakondisi vorteks untuk yang sedang terjadi di selatan NTB.

Erma pernah mengungkapnya pada pertengahan Desember lalu. Saat itu, fenomena yang sama telah menahan pergerakan bibit siklon tropis 93S, dari seharusnya ke barat-selatan menjauhi wilayah Indonesia ke arah Australia menjadi berbelok arah lagi ke timur. Dampaknya, hujan intensitas tinggi dan banjir di Bali.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *