Tag: perubahan iklim

  • Hasil COP 30 di Belem, Brasil: Cermin Krisis Tata Kelola Iklim Global

    Hasil COP 30 di Belem, Brasil: Cermin Krisis Tata Kelola Iklim Global

    7cloud.asia – Konferensi Perserikatan Bangsa Bangsa tentang Perubahan Iklim ke-30 (COP 30) di Belém, Brasil, bukanlah pertemuan internasional biasa. COP 30 menandai rapuhnya kerja sama antarnegara dalam menangani pemanasan global.

    Dua kekuatan besar dunia, Amerika Serikat (AS) dan China, tidak mengirimkan perwakilan yang berpengaruh. Akibatnya, pertemuan-pertemuan dalam COP 30 justru berantakan.

    Kekuatan-kekuatan besar dunia yang hadir di COP 30 saling berbeda pandangan, meski negara-negara di kawasan Amazon hadir dengan pesan-pesan kedaruratan dan harapan.

    Atmosfer di COP 30 Belém mencerminkan kontras ini. Panas ekstrem yang memukul Bumi selama tiga tahun berturut-turut berdampak besar bagi kehidupan kita.

    Misalnya, di wilayah di mana ratusan lumba-lumba sungai mati di air bersuhu 41°C, para pemimpin dunia mencoba memulihkan kembali kredibilitas sistem internasional yang terpecah belah.

    Dalam COP 30, Presiden Brasil Inácio Lula da Silva meluncurkan Tropical Forests Forever Fund (TFFF) atau Dana Abadi Hutan sebagai ajang kapitalisme hijau, dengan komitmen dana awal sebesar 5.5 miliar dolar AS (Rp92 triliun), termasuk di antaranya berasal dari Indonesia.

    Gampangnya, TFFF adalah uang apresiasi bagi negara dan komunitas yang berhasil menjaga hutan. Pendanaan ini mengakhiri era donasi bersyarat yang menjanjikan manfaat bagi investor dan praktisi konservasi lingkungan.

    Mencari uang untuk mencegah hutan musnah
    Inisiatif TFFF bertujuan untuk menyelaraskan etika lingkungan dan logika pasar. Namun, kesuksesannya bergantung pada perhitungan berapa keuntungan yang perlu dihasilkan untuk mencegah deforestasi.

    Perhitungan ini sekaligus mencerminkan dilema abad 21: Mendamaikan ambisi ekonomi dengan keberlangsungan Bumi.

    Tengok saja istilah-istilah ekonomi yang kental dalam Dana Abadi Hutan. Kentalnya narasi ekonomi mau tak mau menjadikan Amazon sebagai laboratorium yang memadukan cuan dan konservasi.

    Sebagai contoh, Menteri Keuangan Brasil Fernando Haddad, yang menargetkan penggalangan dana publik sebesar 10 miliar dolar AS (Rp16,5 triliun) untuk TFFF, menganggap sistem ini sebagai revolusi yang pragmatis. Sementara Menteri Lingkungan Brasil Marina silva berpendapat bahwa TFFF adalah investasi, bukan donasi.

    Nuansa di luar arena COP 30 sebenarnya masih kurang optimistis. Rombongan masyarakat adat muda melakukan perjalanan Yaku Mama dengan melintasi 3 ribu kilometer sungai untuk berdemonstrasi di lokasi COP 30.

    Mereka tiba di sana untuk menuntut keadilan. Sejauh ini, pendanaan iklim internasional untuk masyarakat adat sangatlah kecil. Porsinya kurang 1 persen dari dana yang sudah mengalir. Padahal, masyarakat adat membantu melestarikan sekitar 80 persen dari total ekosistem alami yang ada di dunia.

    Kaum muda Amazonia juga muncul sebagai aktor politik. Mereka menolak kelompok Global North (negara maju) yang terus-terusan melempar tanggung jawab, tanpa membagikan sumber daya yang berarti.

    Ketidakhadiran Donald Trump (AS) dan Xi Jinping (Cina), dalam beberapa forum iklim memperkuat nuansa kekosongan diplomatik. Trump menolak konsensus ilmiah dan melihat aktivisme lingkungan sebagai hambatan ekonomi.

    China sebenarnya mengirimkan perwakilan berpengaruh dan membawa target-target iklim baru. Mereka tampil jauh lebih kuat daripada perwakilan AS. Cina juga berinvestasi dalam teknologi hijau, meski mereka lebih berfokus pada pertumbuhan domestiknya sendiri.

    Hasilnya adalah dunia tanpa pusat gravitasi iklim yang jelas. Setiap negara tampaknya bertindak sesuai kepentingan sendiri.

    Menghadapi situasi itu, Brasil mencoba mengambil peran sebagai penengah antara kelompok Utara yang mengutamakan industri dan negara-negara Selatan yang ingin melestarikan lingkungan. Brasil pun mendekat ke Uni Eropa dan menghidupkan kembali wacana keadilan lingkungan.

    Pedro Sánchez, Perdana Menteri Spanyol, dalam pidatonya, mengingatkan bahwa perubahan iklim telah menyebabkan lebih dari 20 ribu kematian dalam lima tahun di negaranya. Nada Eropa menegaskan sikap berlawanan dengan penyangkalan dari Washington.

    Menjaga detak multilateralisme
    Uni Eropa berusaha menegaskan kembali kepemimpinan normatifnya. Namun, mereka menghadapi perpecahan internal dan tekanan dari sektor industri yang menolak transisi.

    Karena itulah Belém seakan menjadi panggung simbolis bagi perebutan legitimasi. Multilateralisme mencoba bertahan di tengah perpecahan politik dan upaya menguangkan urusan lingkungan.

    Sementara itu, dampak pemanasan global semakin intensif. Kekeringan ekstrem di Amazon, kematian massal ikan, dan kelangkaan air di komunitas-komunitas tepian sungai menggambarkan erosi dari sebuah sistem yang telah melampaui batas-batas kritisnya.

    Para ilmuwan mengingatkan bahwa sebagian hutan mendekati titik yang tak bisa dipulihkan: ketika wilayah luas berubah menjadi sabana yang rusak.

    Krisis ekologis pun bercampur dengan krisis kemanusiaan. Ribuan anak kehilangan akses ke sekolah dan juga makanan selama bulan-bulan kemarau ekstrem.

    Drama sehari-hari di wilayah tersebut menggugurkan setiap narasi optimisme iklim.

    COP 30 mencoba membalikkan keruntuhan simbolis dan politik ini. Brasil bertaruh pada kepemimpinan diplomasi lingkungan jalur ketiga, berdasarkan integrasi antara teknologi, inklusi sosial, dan pragmatisme ekonomi.

    Namun, keraguan tetap ada: apakah dana abadi hutan akan mewakili kesepakatan lingkungan baru atau hanya sebuah pemolesan finansial dari logika ekstraktif yang sama?

    Keberhasilan proyek ini bergantung pada ketahanan kita mengatasi godaan untuk menghasilkan laba lebih besar dari menebang pohon dibandingkan merawatnya.

    Pertemuan dan pidato-pidato selama COP 30 meninggalkan rasa campur aduk. Di antara janji kerja sama dan keheningan strategis, muncul kesadaran bahwa waktu untuk berdiplomasi semakin panjang. Padahal, waktu untuk mengatasi persoalan iklim semakin sempit.

    Alhasil, perdebatan global tentang penanganan perubahan iklim juga menjadi cermin bagi krisis tata kelola internasional.

    Tantangannya tidak lagi soal menuangkan komitmen, tetapi mengubahnya menjadi tindakan nyata yang menyatukan sains, politik, dan masyarakat.

    COP 30 Belém melambangkan titik balik itu: batas antara retorika dan keberlangsungan hidup.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation dalam bahasa Portugis, Penulis: Armando Alvares Garcia Júnior (Profesor de Derecho Internacional y de Relaciones Internacionales, UNIR – Universidad Internacional de La Rioja)

  • Banjir Sumatera: Mengapa Siklon Langka Melanda Kawasan Tropis

    Banjir Sumatera: Mengapa Siklon Langka Melanda Kawasan Tropis

    7cloud.asiaLebih dari 900 orang tewas ribuan hilang, dan jutaan lainnya terdampak akibat serangkaian siklon dan cuaca monsun ekstrem di selatan Asia.

    Hujan lebat memicu banjir terburuk dalam beberapa dekade, disertai tanah longsor. Indonesia, Sri Lanka, Thailand, Vietnam, dan Malaysia menjadi yang paling parah terdampak. Korban jiwa kemungkinan akan terus bertambah.

    Biasanya, siklon jarang terbentuk dekat garis khatulistiwa, termasuk wilayah Indonesia. Tapi kali ini, siklon Senyar muncul di utara khatulistiwa, tepatnya di Selat Malaka.

    Siklon ini memicu terjadinya banjir besar yang mematikan di Sumatera dan Semenanjung Malaysia pekan lalu.

    Senyar juga tidak muncul sendirian. Beberapa siklon tropis lain juga terbentuk bersamaan di zona pertemuan angin pasat di utara khatulistiwa. Salah satunya adalah Siklon Koto yang memicu banjir bandang dan tanah longsor parah di Filipina kemudian melemah saat mendekati Vietnam.

    Sementara itu, Siklon Ditwah memicu banjir besar yang menghancurkan Sri Lanka.

    Salah satu alasan Sumatra juga banjir sangat parah adalah karena adanya ‘tabrakan’ langka antara Siklon Koto and Siklon Senyar, yang kini sudah melemah

    Munculnya beberapa badai hebat hampir bersamaan bukan hal yang benar-benar baru. Siklon yang muncul dekat khatulistiwa memang jarang, tapi pernah terjadi pada 2021 silam.

    Baca Juga: Studi: Perubahan Iklim membuat Siklon Tropis Makin Tak Terduga

    Namun, kehancuran kali ini memang luar biasa. Presiden Sri Lanka Anura Kumara Dissanayake menyebut banjir ini sebagai “bencana alam paling menantang” dalam sejarah negaranya.

    Apakah hal ini terkait perubahan iklim? Belum pasti. Perubahan iklim justru kemungkinan akan membuat jumlah siklon berkurang, tapi badai yang terbentuk cenderung akan lebih kuat.

    Mengapa siklon jarang terjadi dekat khatulistiwa?

    Siklon, topan, dan badai tropis sebenarnya hanyalah beragam nama berbeda untuk menyebut berbagai jenis badai tropis yang kuat dan berputar. Badai ini terbentuk di laut yang luas dan hangat, tapi jarang terjadi tepat di sekitar khatulistiwa.

    Alasannya, karena kekuatan Coriolis atau gaya semu akibat rotasi bumi yang diperlukan untuk memutar badai, terlalu lemah di khatulistiwa. Tanpa putaran itu, badai sulit terbentuk menjadi siklon.

    Siklon paling dekat dengan khatulistiwa yang pernah tercatat adalah Siklon Vamei pada 2021—terbentuk di 1,4° LU. Sebagai perbandingan, Siklon Senyar muncul di 3,8° LU.

    Meski siklon tropis bisa terbentuk kapan saja, puncaknya biasa terjadi antara Juli dan Oktober di Samudra Pasifik Barat Laut dan Samudra Hindia Utara.

    Badai Siklon Senyar dan Topan Koto terbentuk di Wilayah Pasifik Barat Laut, wilayah dengan siklon tropis paling besar, paling sering, dan paling intens di dunia.

     Baca Juga: BRIN: Kemunculan Siklon Tropis adalah Indikasi Perubahan Iklim

    Tahun ini, beberapa topan dahsyat menerjang Filipina dan sebagian Cina Selatan.

    Salah satu alasan badai kali ini menyebabkan kerusakan begitu luas adalah karena siklon melanda negara yang jarang berhadapan dengan siklon besar, seperti Indonesia dan Malaysia.

    Di Samudra Hindia Utara, termasuk Teluk Benggala dan Laut Arab, siklon umumnya lebih kecil dan jarang terjadi.

    Namun, Siklon Ditwar bergerak langsung ke sepanjang pantai timur Sri Lanka, sehingga kerusakan yang ditimbulkan semakin parah.

    Apakah berkaitan dengan perubahan iklim?

    Seiring makin panasnya lautan dan atmosfer akibat emisi dari bahan bakar fosil, siklon tropis diperkirakan akan semakin intens terjadi.

    Ini karena siklon mendapatkan energi dari laut hangat. Semakin hangat laut, semakin banyak “bahan bakar” untuk membentuk badai.

    Atmosfer yang semakin panas memperkuat siklus air di seluruh dunia, sehingga puncak curah hujan semakin tinggi. Saat hujan deras turun dalam waktu singkat, risiko banjir bandang meningkat.

    Meski begitu, kita tidak bisa langsung buru-buru menyatakan perubahan iklim memperburuk badai ini. Diperlukan analisis lebih mendalam untuk menghubungkan peristiwa ini dengan pemanasan global.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Steve Turton (Adjunct Professor of Environmental Geography, CQUniversity Australia)

     

     

  • Ironi, Presiden Prabowo Perintahkan Pendidikan Perubahan Iklim Tapi Kebijakannya Memicu Kerusakan Lingkungan

    Ironi, Presiden Prabowo Perintahkan Pendidikan Perubahan Iklim Tapi Kebijakannya Memicu Kerusakan Lingkungan

    7cloud.asia – Pascabencana banjir Sumatera pada November 2025, Presiden Prabowo Subianto meminta adanya pendidikan perubahan iklim di sekolah-sekolah. Permintaan ini cukup kontradiktif dengan sikap politik dan kebijakan pemerintah yang kerap mengakibatkan kerusakan lingkungan seperti deforestasi besar-besaran yang memperparah perubahan iklim.

    Pendidikan saja memang tidak cukup untuk mengatasi perubahan iklim. Perubahan iklim dipengaruhi oleh politik, ekonomi, industrial dan kekuatan sistemik di luar jangkauan pendidikan.

    Namun, tanpa pendidikan, aksi perubahan iklim yang bermakna akan sulit dicapai.

    Sebenarnya, pemerintah sudah memiliki panduan pendidikan perubahan iklim pada 2024. Dalam panduan tersebut, tujuan pendidikan perubahan iklim adalah mengembangkan kesadaran dan meningkatkan kapasitas masyarakat untuk merespons isu krisis iklim secara relevan dan efektif.

    Ini senada dengan tujuan dari pendidikan perubahan iklim secara global: pemahaman yang kemudian dapat mendorong perubahan perilaku dan aksi kolektif dalam menghadapi perubahan iklim.

    Namun, saat pendidikan perubahan iklim di level global banyak mendorong peran aktif anak, praktiknya di Indonesia masih beragam.

    Dalam beberapa konteks, keterlibatan anak masih berada pada tingkat tokenisme: Anak memang ikut serta dalam kegiatan pembelajaran yang menarik—misalnya tur ekologi—tetapi kendali penuh atas percakapan, penjelasan, dan arah kegiatan tetap berada pada guru.

    Tokenisme ini kemudian membatasi ruang bagi anak untuk menyuarakan perspektif, rasa ingin tahu, atau interpretasinya.

    Selain itu, perhatian program-program yang berkaitan dengan pendidikan perubahan iklim masih lebih banyak menyasar anak remaja. Banyak yang menganggap bahasan perubahan iklim abstrak dan kompleks sehingga masih ragu untuk diterapkan di level PAUD dan SD.

    Padahal pendidikan perubahan iklim sejak dini adalah hal yang penting mengingat anak-anak merupakan kelompok yang paling terdampak perubahan iklim.

    Membangun relasi dengan lingkungan

    Banyak penelitian menekankan bahwa perubahan perilaku dalam pendidikan perubahan iklim pada anak-anak tidak hanya lahir dari pengetahuan kognitif, tetapi juga dari keterikatan emosional yang dapat memunculkan perilaku etis terhadap lingkungan.

    Pembelajaran berbasis tempat (place-based pedagogy) merupakan salah satu pendekatan yang banyak dipakai dalam pendidikan perubahan iklim. Pendekatan ini mempertimbangkan sejarah kolonial, ketidakadilan sosial-ekologis dan juga pengetahuan lokal.

    Pembelajaran berbasis tempat mendorong pengalaman belajar yang relasional dengan lingkungan yang anak amati dan memahami cerita sejarah tempat tersebut. Pembelajaran ini dapat memunculkan keterikatan emosi anak dengan lingkungannya.

    Ketika anak diberikan kesempatan untuk mengeksplorasi lingkungannya, mereka menjadi lebih terhubung dengan tempat tersebut dan banyak spesies di dalamnya.

    Hubungan ini menumbuhkan pengalaman afektif, seperti rasa sedih ketika melihat kehidupan lain yang hampir punah atau senang ketika melihat tanaman di sekitarnya yang memberikan kenyamanan. Pengalaman tersebut bisa memotivasi mereka untuk lebih merawat dan melindungi lingkungannya.

    Pendidikan perubahan iklim juga harus membuka ruang bagi anak mengembangkan kemampuan berpikir kritis sehingga dapat bertindak secara etis dalam merespons perubahan iklim.

    Melalui pembelajaran berbasis tempat, anak dapat mengembangkan kepedulian ekologis yang mendalam—bahwa kehidupan manusia tak terpisahkan dengan alam.

    Kegiatan seperti berjalan mengelilingi tempat sekitar anak, atau berjalan di lingkungan yang masih natural, bahkan berjalan di sekitar tempat yang secara ekologis sudah rusak, dapat memfasilitasi anak untuk lebih sadar mengenai persoalan lingkungan.

    Ini dapat menjadi sarana untuk membicarakan ketidakadilan yang dilihat oleh anak terhadap makhluk hidup lain ataupun lingkungan yang rusak.

    Misalnya, ketika anak melihat pohon ditebang, anak bisa diajak berdiskusi hewan apa saja yang sebelumnya tinggal di pohon itu. Apa akibat penebangan pohon tersebut terhadap hewan dan juga dampaknya bagi manusia.

    Ketika anak diajak mengeksplorasi lingkungan, pembelajaran juga dapat dilakukan untuk memberikan pemahaman anak mengenai sejarah tempat tersebut atau nilai lokal mengenai menjaga lingkungan.

    Dalam sebuah penelitian terhadap anak usia dini di Kanada tahun 2019, peneliti memberikan pertanyaan-pertanyaan kepada anak untuk berpikir kritis mengenai sungai: “Mengapa air sungai ini kotor?”, “Siapa yang tinggal di sini sebelum kita?”.

    Dari percakapan tersebut, anak menjadi tahu mengenai sejarah sungai dan siapa yang terpinggirkan karena pembangunan modern.

    Di tingkat SD, pengajaran berbasis tempat juga berpotensi meningkatkan keterlibatan anak dalam pendidikan perubahan iklim.

    Di level ini, pemahaman anak mengenai isu lingkungan dapat dikembangkan lebih kompleks melalui kegiatan eksplorasi dan pemeriksaan yang terhubung langsung dengan konteks lokal mereka.

    Penelitian di Australia tahun 2021 menunjukkan bagaimana anak-anak diajak untuk menyusuri sungai dekat sekolah. Mereka kemudian berdialog dengan tetua masyarakat setelah menguji kualitas air sungai dan mengamati keanekaragaman hayati di sekitarnya.

    Pendidikan perubahan iklim di SD menjadi lebih bermakna ketika anak-anak terlibat dalam praktik belajar yang berakar pada tempat, seperti penyelidikan ekosistem lokal, kegiatan konservasi, serta dialog dengan komunitas lokal.

    Pendidikan perubahan iklim berbasis tempat, baik di tingkat PAUD maupun SD, membantu anak-anak untuk memaknai perubahan iklim sebagai sesuatu yang terhubung erat dengan tempat tinggal mereka.

    Dengan memahami tempat, alih-alih sekadar mempelajari perubahan iklim, anak mengembangkan keterhubungan emosional, etika, dan aksi mendalam untuk merespons perubahan lingkungan. Jika sudah terhubung, mereka dapat dengan mudah memahami dampak perubahan iklim sekalipun di tempat yang jauh.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Dian Fikriani, Monash University

     

     

  • Para Pemenang Champions of The Earth 2025: Dari Arsitek hingga Pemerintah Daerah yang Peduli Lingkungan

    Para Pemenang Champions of The Earth 2025: Dari Arsitek hingga Pemerintah Daerah yang Peduli Lingkungan

    7cloud.asia – Seiring upaya masyarakat dunia untuk memperlambat laju perubahan iklim dan menciptakan masa depan yang lebih berkelanjutan, Program Lingkungan PBB (UNEP) baru-baru ini menobatkan lima pejuang lingkungan sebagai Champions of the Earth 2025.

    Kelima pemimpin luar biasa ini, yang bekerja pada isu-isu mulai dari keadilan iklim hingga pendinginan berkelanjutan dan perlindungan hutan, menunjukkan bahwa tindakan berani dapat mendorong perubahan nyata bagi manusia dan lingkungan.

    Direktur Eksekutif UNEP, Inger Andersen mengatakan, seiring dampak global perubahan iklim yang semakin intensif, inovasi dan kepemimpinan di setiap sektor masyarakat akan semakin penting.

    Inger menjelaskan para pemenang adalah mahasiswa muda yang menuntut keadilan iklim, pemerintah daerah dan arsitek yang memimpin dalam pendinginan berkelanjutan dan desain bangunan cerdas, lembaga penelitian yang memperlambat deforestasi, dan individu yang bersemangat mendorong pengurangan emisi metana,

    ”Mereka adalah para Champions of the Earth tahun ini menunjukkan jenis kepemimpinan yang akan menginspirasi dunia untuk menghadapi tantangan perubahan iklim,” ujarnya.

    Memasuki tahun ke-20, penghargaan Champions of the Earth UNEP adalah penghargaan lingkungan tertinggi PBB, yang merayakan para pemimpin lingkungan yang memberikan solusi penting di bidang mereka.

    Para penerima penghargaan tahun ini, yang diumumkan di sela-sela sesi ketujuh Majelis Lingkungan PBB – menangani beberapa tantangan paling mendesak di zaman kita: keadilan iklim, emisi metana, pendinginan berkelanjutan, bangunan tangguh, dan konservasi hutan. Sejak 2005, penghargaan ini telah mengakui 127 pemimpin yang visi dan keberaniannya menginspirasi aksi global.

    Dilansir di laman resmi UNEP, karya para penerima penghargaan tahun ini berfokus pada krisis perubahan iklim: suhu global diperkirakan akan melebihi 1,5°C dalam dekade berikutnya, dan janji-janji saat ini masih jauh dari tujuan Perjanjian Paris.

    Baca: Pemenang Champions of The Earth 2024

    Biaya adaptasi untuk negara-negara berkembang dapat mencapai 310–365 miliar dolar AS per tahun pada tahun 2035, dua belas kali lipat dari tingkat pendanaan saat ini.

    Namun, para Champion of the Earth tahun ini membuktikan bahwa tindakan itu mungkin—dan ampuh. Mengurangi emisi gas metana saat ini dapat mendinginkan planet dalam beberapa tahun, meningkatkan kualitas udara, dan menciptakan lapangan kerja. Memulihkan hutan melindungi air, mengurangi bencana, dan melindungi keanekaragaman hayati.

    Pendinginan berkelanjutan dan bangunan yang tangguh menyelamatkan nyawa, melestarikan makanan dan vaksin, serta menjaga produktivitas ekonomi. Keadilan iklim memastikan bahwa komunitas rentan memiliki suara dan perlindungan hukum.

    Para Champions of the Earth UNEP 2025 adalah:

    1. Mahasiswa Kepulauan Pasifik yang Memerangi Perubahan Iklim
    Sebuah LSM yang dipimpin oleh kaum muda yang memperoleh pendapat penting dari Mahkamah Internasional yang menegaskan kewajiban hukum negara untuk mencegah kerusakan iklim dan melindungi hak asasi manusia.

    Kampanye mereka membentuk kembali hukum iklim global dan memberdayakan negara-negara yang rentan mengantarkan mereka meraih Champion of The Earth 2025 untuk kategori Kepemimpinan Kebijakan

    2. Supriya Sahu, Sekretaris Utama Tambahan, Pemerintah Tamil Nadu
    Sebagai pelopor dalam pendinginan berkelanjutan dan restorasi ekosistem, inisiatif Ibu Sahu diganjar penghargaan Champions of the Earth 2025 untuk kategori Inspirasi dan Aksi.

    Sahu telah menciptakan 2,5 juta lapangan kerja hijau, memperluas tutupan hutan, dan mengintegrasikan adaptasi panas ke dalam infrastruktur, yang menguntungkan 12 juta orang dan menetapkan model untuk ketahanan iklim.

    3. Mariam Issoufou, Kepala dan Pendiri, Mariam Issoufou Architects, Niger/Prancis
    Dengan mendasarkan arsitekturnya pada material lokal dan warisan budaya, Issoufou mendefinisikan ulang bangunan berkelanjutan dan tahan iklim di seluruh Sahel dan menginspirasi generasi baru desainer yang membentuk lingkungan binaan Afrika.

    Melalui proyek-proyek seperti Kompleks Komunitas Hikma di Niger, ia mempelopori teknik pendinginan pasif yang menjaga suhu bangunan hingga 10°C lebih dingin tanpa pendingin udara.

    Atas karyanya ini, Issoufou diganjar Champion of the Earth 2025 untuk kategori Visi Kewirausahaan

    4. Imazon, Brasil
    Imazon, Sebuah lembaga penelitian yang menggabungkan sains dan alat geospasial berbasis AI untuk mengekang deforestasi meraih penghargaan Champion of the Earth 2025 untuk kategori Sains dan Inovasi.

    Karya Imazon telah memperkuat tata kelola hutan, mendukung ribuan kasus hukum, dan mengungkap skala deforestasi ilegal—mendorong perubahan sistemik di Amazon.

    5. Manfredi Caltagirone
    Mantan kepala Observatorium Emisi Metana Internasional UNEP mendapat Penghargaan Prestasi Seumur Hidup.

    Caltagirone memperjuangkan transparansi dan tindakan berbasis sains terkait metana, memengaruhi regulasi pertama Uni Eropa tentang emisi metana dan membentuk kebijakan energi global.

     

     

  • Gas Fosil Dipromosikan Lebih Ramah Lingkungan, Padahal Mendorong Perubahan Iklim

    Gas Fosil Dipromosikan Lebih Ramah Lingkungan, Padahal Mendorong Perubahan Iklim

    7cloud.asia – Negara-negara penghasil gas fosil (LNG) seperti Amerika Serikat, Qatar, dan Australia sedang mengembangkan produksi gas mereka dan mendorong Asia Tenggara untuk menjadi pasar LNG jangka panjang mereka.

    Mereka mempromosikan gas fosil sebagai bahan bakar yang bersih dan aman. Namun, LNG itu tidak stabil, mahal, dan mudah dipengaruhi oleh pasar global.

    Krisis gas di tahun 2022 menunjukkan kalau LNG bisa jadi tidak terjangkau dalam semalam. Menjerat Asia Tenggara ke dalam gas fosil juga dinilai membuat jutaan keluarga terjerumus dalam lonjakan harga dan ketidakstabilan selama puluhan tahun.

    Gas fosil kerap digambarkan sebagai pilihan yang lebih bersih dan aman untuk Asia Tenggara. Namun, kalau dikaji lebih lanjut, citra soal gas fosil itu berubah total.

    Greenpeace Asia Tenggara dalam pernyataannya menyebut, gas fosil membahayakan iklim, menguras pendapatan kita, merusak alam, mengancam kesehatan, dan membuat masyarakat dalam bahaya.

    Risikonya bukan cuma satu dua, tapi di seluruh rantai pasok — mulai dari ekstraksi ke saluran pipa, ke bentuk LNG, hingga pembangkit listrik.

    Baca: COP 30 berakhir tanpa komitmen pengurangan bahan bakar fosil

    Greenpeace dalam unggahannya menguraikan setiap dampak secara mendalam dan menunjukkan mengapa Asia Tenggara tidak boleh lagi bergantung pada gas fosil.

    1. Gas fosil dorong perubahan iklim
    Gas fosil bukanlah solusi iklim. Ketika dibakar, gas fosil melepaskan karbon dioksida — salah satu dari gas rumah kaca yang dapat mendorong adanya perubahan iklim. Saat ini, gas fosil menyumbang 21 persen dari total emisi karbon dioksida fosil global, dan masih terus akan meningkat.

    Tapi, masalah besarnya adalah metana. Gas fosil sebagian besar adalah metana, yang dapat memerangkap panas sekitar 84 kali lebih besar dibandingkan karbon dioksida selama dua puluh tahun pertama di atmosfer.

    Metana dapat bocor selama proses pengeboran, pemrosesan, distribusi, dan penyimpanannya. Kasus kebocoran ini menyebar luas di berbagai belahan dunia dan kerap diremehkan.

    Ketika risiko itu diperhitungkan secara menyeluruh, dampak dari gas fosil dapat menyamai dampak yang dihasilkan dari penggunaan batubara — bahkan beberapa kasus justru lebih buruk.

    Setiap satu ton gas fosil yang digunakan di Asia Tenggara menambah lebih banyak kandungan metana dan karbon dioksida di atmosfer, memanaskan satu kawasan yang sudah rentan akan cuaca ekstrim, banjir, dan kenaikan suhu udara.

    Baca: Emisi yang dihasilkan gas alam tak lebih baik ketimbang batu bara

    2. Gas fosil meningkatkan biaya hidup
    Gas fosil merupakan salah satu bahan bakar yang paling tidak stabil dan mahal di dunia. Penentuan harganya bergantung pada pasar global, bukan dari kebutuhan lokal. Ketika permintaan pasar global naik atau ketika konflik mengganggu rantai pasok, harga gas fosil meroket.

    Kawasan Asia Tenggara sudah merasakan dampaknya secara tajam selama krisis energi pada 2022 dan perang di Ukraina. Harga gas melonjak, dan sektor rumah tangga yang menanggung biaya yang mahal untuk listrik dan kebutuhan dasar mereka. Ketika keluarga-keluarga terdampak, perusahaan minyak dan gas meraup keuntungan yang besar.

    Selama sepuluh tahun terakhir, lima besar perusahaan fosil memperoleh lebih dari 800 miliar dollar. Sejak 2022, hampir setengah triliun dollar keuntungan yang didapat perusahaan itu datang langsung dari krisis.

    Semakin lama Asia Tenggara bergantung pada gas fosil, semakin banyak guncangan harga dan penderitaan ekonomi yang akan dihadapi oleh masyarakat. Itu adalah sistem energi yang dibangun di atas kekerasan, bukan keamanan.

    3. Gas fosil merusak alam dan keanekaragaman hayati
    Pembangunan infrastruktur gas fosil memiliki konsekuensi yang serius terhadap alam. Eksplorasi, pengeboran, dan ekstraksinya merusak hutan, mencemari sumber air, dan merusak tanah. Pipa-pipa penyaluran gas menembus ekosistem. Fasilitas terminal LNG merusak pantai serta menimbulkan polusi air dan udara.

    Eksplorasi gas lepas pantai menggunakan ledakan seismik, di mana prosesnya menimbulkan gelombang suara yang sangat kuat ke lautan untuk mendeteksi ladang gas.

    Baca: Penggunaan gas untuk pembangkit listrik jauhkan Indonesia dari target emisi nol

    Ledakan tersebut mengganggu dan terkadang dapat melukai paus, lumba-lumba, dan banyak spesies laut lainnya yang bergantung pada gelombang suara untuk berkomunikasi dengan sesama, mencari makanan, dan migrasi.

    Ekspansi infrastruktur gas juga mengancam nelayan dan komunitas masyarakat yang bergantung pada laut. Ketika habitat rusak, mereka kehilangan kemampuan untuk menyimpan karbon secara alami, sekaligus memperburuk iklim maupun meningkatkan krisis keragaman hayati.

    4. Gas fosil membahayakan kesehatan
    Gas fosil tidak bersih bagi tubuh kita. Ketika pembakaran bahan bakar gas terjadi, itu menghasilkan nitrogen oksida dan polutan lainnya yang berkaitan dengan penyebab asma, gangguan pernapasan, penyakit jantung, dan kanker.

    Selain polusi yang dapat dirasakan secara langsung, gas fosil juga memicu krisis iklim, dengan meningkatkan risiko gelombang panas, banjir, dan wabah penyakit. Itu semua memiliki konsekuensi yang serius bagi kesehatan manusia.

    5. Gas fosil mengancam keamanan masyarakat
    Gas fosil itu berbahaya. Kecelakaan sangat umum terjadi di seluruh rantai pasoknya. Ledakan, kebakaran, dan kebocoran muncul selama proses ekstraksi, distribusi, dan penyimpanan.

    Di Amerika Serikat, kecelakaan pipa gas terjadi setiap empat puluh jam sekali. Bencana yang terjadi di masa lalu seperti ledakan San Juanico di Meksiko dan ledakan pipa gas Ufa di Uni Soviet menunjukkan seberapa mematikannya infrastruktur gas itu.

    Baca: RUPTL 2025-2034 masih bergantung pada bahan bakar fosil

    Baru-baru ini, kebakaran besar juga terjadi di saluran pipa gas yang berlokasi dekat dengan pemukiman Putra Heights, Malaysia, yang dioperasikan oleh PETRONAS Gas Berhad.
    Kebakaran tersebut berdampak pada 364 orang. Setidaknya, 78 rumah, 10 ruko, dan 225 kendaraan terbakar.

    Asia Tenggara, dengan populasi pesisir, kota-kota padat, dan kerentanan iklimnya, tidak mampu menanggung semua risiko tersebut.

    Greenpeace menyebut, ada jalan yang lebih baik dan lebih ramah lingkungan ke depannya
    Asia Tenggara memiliki potensi energi terbarukan yang luas. Tenaga surya dan angin lebih murah, aman, dan lebih stabil dibandingkan gas fosil.

    Dengan investasi dalam jaringan listrik modern, dan kerja sama regional melalui ASEAN, energi terbarukan dapat memberdayakan kawasan dengan keterjangkauan dan reliabilitas.

    “Gas fosil bukan masa depan kita. Energi yang bersih, aman, dan terjamin dapat kita jangkau. Saatnya untuk memilih itu,“ demikian Greenpeace mengakhiri pernyataannya.

  • 10 Tahun Perjanjian Paris: Dunia Masih Terbelah dalam Ketidakadilan

    10 Tahun Perjanjian Paris: Dunia Masih Terbelah dalam Ketidakadilan

    7cloud.asia – Sepuluh tahun silam, tepatnya pada 12 Desember 2015, Perjanjian Paris diadopsi oleh 195 Pihak di tengah helatan Konferensi Perubahan Iklim PBB (COP21) di Paris, Prancis.

    Sebagai pakta internasional formal, Perjanjian Paris mulai berlaku pada November 2016. Tujuan utamanya adalah untuk menjaga kenaikan suhu global secara signifikan di bawah 2°C sambil berupaya membatasinya hingga 1,5°C dibandingkan dengan tingkat pra-industri.

    Setelah 10 tahun berlalu, masyarakat dunia mengakui Perjanjian Paris telah mampu sedikit mengerem emisi global. Namun demikian, ada sejumlah catatan menyertai peringatan 10 tahun Perjanjian Paris ini.

    Salah satunya adalah ketimpangan emisi karbon. Dilansir Earth.org, fenomena “ketidaksetaraan karbon” diilustrasikan dengan baik dalam laporan Oxfam tahun 2025, yang mengungkapkan bahwa emisi harian rata-rata 0,1 persen penduduk terkaya di dunia kini melampaui total emisi tahunan 50 persen penduduk termiskin.

    Jika semua orang hidup seperti para penghasil emisi tertinggi ini, anggaran karbon planet akan habis hanya dalam tiga minggu.

    Ketidaksetaraan ini tercermin di tingkat nasional. Data dari Anggaran Karbon Global tahun ini mengungkapkan dunia yang terpecah antara ekonomi penghasil emisi tinggi dan negara-negara yang, meskipun secara historis bertanggung jawab atas sedikit polusi, kini meningkatkan emisi per kapita mereka dengan kecepatan yang mengkhawatirkan.

    Baca: Emisi GRK 2024 jauh melampaui target Perjanjian Paris

    Analisis berikut, berdasarkan dataset Anggaran Karbon Global 2025, memetakan negara-negara penghasil emisi per kapita tertinggi, negara-negara dengan jejak karbon yang tumbuh paling cepat sejak 2015, dan korelasi antara kekayaan nasional dan intensitas karbon.

    1. Ekonomi bahan bakar fosil mendominasi
    Peringkat emisi karbon dioksida (CO2) per kapita negara-negara penandatangan Perjanjian Paris pada tahun 2024 didominasi oleh negara-negara dengan model ekonomi yang intensif sumber daya.

    Qatar berada di puncak daftar, dengan emisi per kapita sebesar 41,3 ton – jejak karbon yang sebagian besar didorong oleh industri gas alam cairnya yang luas dan infrastruktur yang intensif energi.

    20 besar didominasi oleh produsen bahan bakar fosil utama, khususnya di wilayah Teluk. Kuwait (26,2 t), Bahrain (23,9 t), dan Arab Saudi (19,8 t) menonjol, bersama dengan negara-negara pengekspor energi lainnya seperti Brunei (23,1 t) dan Trinidad dan Tobago (21,8 t).

    Negara-negara maju Barat seperti AS (14,2 t), Australia (14,5 t), dan Kanada (13,4 t) juga termasuk dalam daftar tersebut.

    Data menunjukkan bahwa emisi per kapita tertinggi sebagian besar terkonsentrasi di negara-negara yang kekayaannya secara intrinsik terkait dengan ekstraksi dan ekspor bahan bakar fosil.

    Baca: Mungkinkah target Perjanjian Paris dicapai?

    Ketergantungan ini menciptakan tantangan: ketika para ilmuwan menyerukan penghapusan bahan bakar fosil, ekonomi negara-negara ini terancam.

    Akibatnya, kemauan, kemampuan, dan kecepatan transformasi ekonomi mereka telah menjadi variabel kunci yang menentukan sejauh mana aksi iklim global.

    2. Sejak Perjanjian Paris, peningkatan emisi telah bergeser ke negara-negara berkembang
    Meskipun perhatian sering terfokus pada negara-negara penghasil emisi terbesar, pemeriksaan tingkat pertumbuhan sejak tahun dasar Perjanjian Paris (2015) mengungkapkan tren yang berbeda.

    Daftar negara dengan pertumbuhan emisi per kapita tercepat didominasi oleh negara-negara berkembang dan negara-negara dengan ekonomi yang sedang tumbuh.

    Di urutan teratas adalah Komoro, Afrika Timur, dengan peningkatan emisi per kapita yang mengejutkan sebesar 157,6 persen dari tahun 2015 hingga 2024. Diikuti oleh tiga negara Asia – Nepal (155,2 persen), Kamboja (136,8 persen), Laos (132,6 persen) – dan Guyana di Amerika Selatan (109,7 persen), yang mengalami transformasi ekonomi pesat karena penemuan minyak baru.

    Tren ini menandai titik kritis. Meskipun beberapa negara berkembang kini mempercepat pembangunan mereka, kurangnya akses terhadap teknologi bersih dan investasi berkelanjutan berarti mereka berisiko terjebak dalam sistem yang intensif karbon.

    Pertumbuhan persentase yang tinggi ini menggarisbawahi perlunya pendanaan iklim global untuk mendukung lompatan pembangunan rendah karbon.

    Baca: Arah aksi iklim dunia setelah AS mundur dari Perjanjian Paris

    3. Kekayaan berarti jejak karbon yang lebih besar
    Pola geografis global emisi pada tahun 2024 menunjukkan korelasi yang jelas dan langsung dengan pendapatan nasional.

    Pengelompokan data yang tersedia dari lebih dari 100 negara berdasarkan klasifikasi pendapatan Bank Dunia mengungkapkan kesenjangan: negara-negara berpenghasilan tinggi memiliki jejak karbon per kapita rata-rata 5,81 ton.

    Sementara itu, jejak karbon negara-negara berpenghasilan menengah ke atas turun tajam menjadi 1,86 ton, sedangkan jejak karbon negara-negara berpenghasilan menengah ke bawah hanya 0,27 ton – lebih dari dua puluh kali lebih rendah daripada rata-rata kelompok berpenghasilan tinggi.

    Kesenjangan ini menggambarkan inti dari dilema kesetaraan iklim: negara-negara berpenghasilan tinggi, dengan tanggung jawab historis dan kapasitas keuangan terbesar untuk memimpin transisi, mempertahankan jejak karbon per kapita terbesar.

    Sementara itu, negara-negara berpenghasilan rendah, yang paling sedikit berkontribusi pada masalah ini, menghadapi beban ganda kemiskinan dan dampak iklim yang meningkat, sementara aspirasi pembangunan mereka yang sah mendorong emisi naik dari basis yang rendah.

    Data menunjukkan dengan jelas: mencapai tujuan pemanasan global yang ditetapkan dalam Perjanjian Paris tidak mungkin kecuali masyarakat dunia mengatasi realitas ganda, yaitu emisi per kapita yang ekstrem di negara-negara kaya dan kaya sumber daya, dan kebutuhan mendesak untuk mendukung jalur berkelanjutan dan rendah karbon bagi negara-negara berkembang.

  • Yuk, Berkontribusi pada Lingkungan dengan Mengurangi Emisi Karbon

    Yuk, Berkontribusi pada Lingkungan dengan Mengurangi Emisi Karbon

    7cloud.asia – Mungkin kamu sudah sering mendengar tentang perubahan iklim. Dampak perubahan iklim juga sudah nyata di depan mata yang ditandai dengan semakin seringnya terjadi cuaca ekstrem.

    Tetapi masih di antara kita yang abai dengan penyebab perubahan iklim yakni pemanasan global yang dipicu emisi gas rumah kaca (baca: emisi karbon)

    Ya, tanpa kita sadari, aktivitas kita sehari-hari berkontribusi pada emisi karbon global. Lebih buruk, gaya hidup konsumtif dan boros energi berkontribusi lebih besar lagi pada emisi karbon yang memerangkap panas.

    Meninggalkan lampu menyala di kamar kosong, boros air, boros memproduksi sampah plastik sampai enggan naik transportasi publik adalah beberapa contoh kebiasaan yang menyumbang emisi karbon.

    Emisi karbon inilah yang membuat suhu bumi lebih hangat atau yang biasa disebut dengan pemanasan global. Selanjutnya pemanasan global menyebabkan perubahan iklim yang  dapat memicu bencana dan mengancam keselamatan lingkungan dan makhluk yang tinggal di planet Bumi.

    Hasil kajian IESR yang dirilis pada Juli lalu menunjukkan bahwa emisi gas rumah kaca warga yang tinggal di perkotaan lebih tinggi dibanding di pedesaan.

    Kajian itu menyebut, emisi individu di wilayah perkotaan mencapai 3,39 ton setara karbon dioksida per kapita per tahun. Angka ini lebih tinggi dibandingkan wilayah semi perkotaan sebesar 2,81 ton, dan perdesaan 2,33 ton setara karbon dioksida per kapita per tahun.

    Dan, untuk menyerap jumlah emisi karbon sebanyak 3,39 ton per tahun tersebut membutuhkan sekitar 25 pohon yang dipelihara selama 20 tahun.

    Jadi buat kamu yang masih berpikir, emisi yang saya hasilkan tidak banyak wajib hukumnya mengubah pola pikir ini.

    Karena bisa dibayangkan jika berjuta orang berpikiran sama, maka berapa juta ton emisi yang dihasilkan setiap hari? Berapa juta ton jika dikumpulkan setiap minggu, bulan dan kemudian setahun?

    Jadi mulai sekarang, tak ada salahnya kamu mulai mengurangi emisi karbon dari aktivitas sehari-hari dengan menghemat listrik dan mengonsumsi secara bijak. Sekecil apapun pengurangan emisi yang kamu lakukan akan berkontribusi bagi Bumi yang lebih sehat.

    Untuk mengurangi emisi karbon, kita bisa melakukan beberapa cara berikut ini:

    1. Efisiensi energi:
    – Matikan lampu saat tidak digunakan.
    – Jangan meninggalkan peralatan elektronik dalam posisi stand by. Usahakan mencabut alat dari sumber listrik.
    – Matikan kran ketika tidak digunakan
    – Manfaatkanlah sinar matahari untuk penerangan dan juga untuk mengeringkan cucian

    2. Kurangi penggunaan kendaraan bermotor
    – Untuk jarak kurang dari 500 m biasakan berjalan kaki, selain itu lebih sehat kan.
    – Gunakan sepeda untuk transportasi yang tidak memiliki gas buang.
    – Untuk jarak lebih dari 3 kilometer, gunakan car pooling.

    3. Kurangi penggunaan air minum dalam botol kemasan dan sedotan
    – Biasakan membawa tempat minum Anda sendiri.
    – Bila memungkinkan, hindari pemakaian sedotan plastik karena dapat menghasilkan emisi karbon cukup besar.

    4. Kurangi dan kelola sampah organik
    Meski dapat diurai oleh alam, sampah organik ternyata tidak kalah bahayanya dengan sampah lainnya. Jika tidak dikelola dengan baik, sampah organik dapat menghasilkan gas metana yang jauh mengikat panas dibanding karbondioksida.

    Karena itu kurangi sampah organik. Pengurangan emisi sampah dapat dilakukan dengan lebih baik apabila disertai dengan pemisahan sampah organik dari non-organik. Olah sampah organik Anda menjadi kompos.

    5. Kurangi penggunaan kertas
    Lakukan pencetakan bolak-balik (duplex) untuk mengehemat penggunaan kertas.
    Untuk dokumen berupa draft dan tidak memerlukan kertas bersih, gunakan kertas bekas untuk cetak.

    6. Hindari sampah makanan
    Limbah makanan memang menjadi masalah serius bagi lingkungan. Gas metana yang dilepas limbah makanan disebut lebih besar dampaknya pada pemanasan global ketimbang emisi karbon dari bahan bakar fosil.

    Cara sederhana untuk mengurangi sampah makanan di rumah adalah dengan menata makanan kita. Anda dapat menata lemari es agar barang-barang dengan tanggal kedaluwarsa terdekat berada di depan dan di tengah.

    Mencatat inventaris makanan dan tanggal kedaluwarsanya secara berkala juga dapat membantu mencegah pembelian berlebihan dan makanan yang terlupakan.

    Meskipun ini mungkin tampak memakan waktu, sebuah studi tahun 2020 menunjukkan bahwa kebiasaan kecil ini dapat menghasilkan penghematan yang signifikan, baik dari segi makanan maupun uang.

     

  • Siklon yang ‘Lemah’ Bisa Memicu Banjir Mematikan: Dampak Nyata Perubahan Iklim

    Siklon yang ‘Lemah’ Bisa Memicu Banjir Mematikan: Dampak Nyata Perubahan Iklim

    7cloud.asia – Pekan terakhir November lalu, sejumlah negara di Asia tenggara dan selatan porak-poranda akibat bencana yang menerjang sejumlah wilayah di negara tersebut.

    Warga Sri Lanka, Indonesia and Thailand terendam banjir ketika Siklon Ditwah dan Senyar mengakibatkan hujan tak henti-henti selama berhari-hari.

    Jutaan orang terdampak. Lebih dari 1.500 orang kehilangan nyawa. Ratusan orang masih hilang. Kerugian materi pun mencapai jutaan dolar AS. Presiden Sri Lanka bahkan menyebut peristiwa ini sebagai bencana alam paling menantang yang pernah dialami negaranya.

    Ketika bencana seperti ini terjadi, kesalahan biasanya dilemparkan pada sistem peringatan dini yang gagal atau kesiapsiagaan yang buruk. Hal ini juga terjadi ketika banjir besar melanda Kerala, India bagian selatan (kampung halaman saya), pada 2018.

    Namun kali ini, prakiraan cuaca sebenarnya cukup akurat. Otoritas mengetahui badai akan datang. Namun, kerusakannya tetap luar biasa besar. Mengapa demikian?

    Selain karena faktor kesiapan dan kondisi masing-masing negara, ada beberapa faktor yang memengaruhi terjadinya bencana besar ini.

    Angin lemah, tapi hujan ekstrem
    Salah satu penjelasan yang banyak muncul adalah badai-badai ini sebenarnya tidak berbahaya karena kekuatan anginnya. Justru kerusakan terjadi karena curah hujan yang sangat intens dan tidak biasa yang dibawanya.

    Dalam kasus Siklon Ditwah di Sri Lanka misalnya, kecepatan angin puncaknya sekitar 75 km/jam. Itu memang kencang, tetapi bukan sesuatu yang luar biasa. Sebagai perbandingan, di Inggris, kekuatan seperti itu bahkan hanya dikategorikan sebagai gale (angin kencang), bukan badai.

    Baca: Mengapa siklon langka melanda kawasan tropis

    Kekuatan siklon ini juga lebih lemah dibandingkan siklon dahsyat pada 1978 dengan kecepatan angin 220 km/jam yang juga menghantam Sri Lanka. Namun, Ditwah menimbulkan kerusakan lebih masif.

    Apa yang menjelaskan situasi ini? Masih terlalu dini untuk menyimpulkannya. Namun, perubahan iklim menjadi bagian penting dari cerita ini. Ketika angin badai tidak terlalu kencang, mengapa jumlah uap air yang dibawanya tetap sangat besar?

    Atmosfer yang hangat menampung lebih banyak uap air. Dalam ilmu meteorologi, setiap kenaikan suhu global 1ºC, atmosfer bakal menampung sekitar 7 persen lebih banyak uap air. Saat Bumi menghangat, udara pun menguap lebih banyak dan siap menjatuhkan lebih banyak air.

    Ketika badai terbentuk, mereka akan menyedot persediaan uap air ekstra ini, dan akhirnya menghasilkan hujan ekstrem dalam waktu yang sangat singkat. Jadi, meski anginnya hanya sedang, curah hujan deras yang dibawanya sudah bisa menyebabkan bencana.

    Lautan memainkan peran besar
    Laut yang semakin hangat punya pengaruh kuat, karena siklon mendapat energi dari perairan hangat.

    Data satelit pada akhir November menunjukkan betapa panasnya Samudra Hindia bagian timur, dengan area luas yang suhunya lebih dari 1°C di atas normal saat siklon Ditwah dan Senyar terbentuk.

    Kondisi anomali panas seperti ini kini tidak lagi langka. Lautan sudah menyerap lebih dari 90 persen panas yang terperangkap oleh gas rumah kaca, dan pengamatan jangka panjang menunjukkan tren kenaikan suhu laut yang jelas.

    Pemanasan ini memang belum tentu menyebabkan siklon yang lebih sering. Pembentukan badai tetap bergantung pada arah dan kecepatan angin serta struktur atmosfer yang mendukung.

    Baca: Perubahan iklim membuat siklon tropis makin tak terduga

    Meski begitu, lautan yang lebih hangat menentukan seberapa besar energi untuk membentuk badai. Ketika laut memanas, siklon memiliki bahan bakar lebih banyak sehingga penguapan meningkat. Alhasil, atmosfer yang terisi lebih banyak uap air bisa turun sebagai hujan ekstrem.

    Jadi, siklon yang “lemah” sekalipun bisa membawa curah hujan yang luar biasa.

    Angin permukaan turut mempercepat proses ini. Saat bergerak melintasi lautan, angin di atas permukaan air menyapu udara yang jenuh uap air lalu menggantinya dengan udara yang lebih kering. Ini memungkinkan penguapan terus berlanjut.

    Kombinasi lautan hangat, evaporasi tinggi, dan atmosfer yang berisi lebih banyak uap air membuat potensi hujan dalam siklon meningkat drastis.

    Kondisi garis pantai memperburuk banjir
    Faktor geografis lokal ikut memperparah dampak. Ditwah dan Senyar terbentuk sangat dekat dengan daratan dan bergerak mengikuti garis pantai dalam waktu cukup lama.

    Hal ini membuat mereka tetap berada di atas perairan hangat cukup lama untuk terus menyerap uap air, tapi juga cukup dekat dengan daratan untuk segera menumpahkan hujan ekstrem dalam waktu singkat.

    Siklon Ditwah, khususnya, bergerak lambat saat mendekati Sri Lanka. Badai yang bergerak lambat bisa sangat berbahaya karena terus-menerus mengguyur area yang sama dengan hujan lebat.

    Baca: Bencana alam makin intens akibat perubahan iklim

    Dalam kasus ini, anginnya yang lemah, berkombinasi lautan hangat dan kedekatannya dengan pantai justru bisa menghasilkan dampak yang menghancurkan.

    Ancaman baru
    Kedua badai ini menunjukkan bahwa perubahan iklim—khususnya pemanasan laut—mengubah tingkat risiko yang ditimbulkan siklon. Badai yang paling berbahaya mungkin bukan lagi yang anginnya paling kencang, tetapi yang paling lembap.

    Sistem prakiraan cuaca, termasuk pemodelan berbasis AI, memang semakin baik dalam memprediksi jalur dan kecepatan angin siklon. Namun, banjir akibat hujan ekstrem jauh lebih sulit diprediksi.

    Seiring lautan yang menghangat, pemerintah dan lembaga penanggulangan bencana perlu bersiap menghadapi badai yang mungkin lemah dari segi angin tetapi ekstrem dari sisi curah hujan.

    Kajian ini masih berdasarkan analisis awal dan pemahaman ilmiah yang tengah berkembang. Studi ilmiah yang lebih mendalam dan telah di-review tentunya dibutuhkan untuk memastikan penyebab spesifik mengapa Ditwah dan Senyar menghasilkan hujan begitu ekstrem.

    Namun, pola yang kini muncul—siklon lemah yang berujung banjir besar di dunia yang semakin hangat—tidak boleh dianggap enteng.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation dalam bahasa Inggris, Penulis: Ligin Joseph (PhD Candidate, Oceanography, University of Southampton)

  • Skenario Buruk Ini Bakal Terjadi Jika Masyarakat Global Tidak Mengubah Caranya Menjaga Lingkungan

    Skenario Buruk Ini Bakal Terjadi Jika Masyarakat Global Tidak Mengubah Caranya Menjaga Lingkungan

    7cloud.asia – Edisi ketujuh Global Environment Outlook atau GEO 7 yang diberi judul A Future We Choose, dirilis pada Desember 2025. Selama lebih 20 tahun, seri GEO menawarkan pandangan yang tak tertandingi tentang kondisi planet Bumi, pun demikian dengan GEO 7.

    Global Environment juga memberikan cetak biru bagi para pembuat kebijakan untuk menciptakan planet yang lebih sehat.

    GEO 7, karya hampir 300 ilmuwan, menciptakan model tentang bagaimana planet ini akan terlihat pada tahun 2050 jika negara-negara terus melakukan tiga hal yang merusak lingkungan: mencemari, mengeluarkan gas rumah kaca, dan menghancurkan ruang alam.

    Dalam cerita pertama dari tiga cerita tentang laporan tersebut, berikut adalah beberapa temuan utama dari pemodelan tersebut.

    Emisi gas rumah kaca yang menyebabkan pemanasan global diperkirakan akan meningkat menjadi 75 miliar ton per tahun pada tahun 2050, atau meningkat hampir 50 persen dari saat ini.

    Kondisi ini akan memperburuk perubahan iklim dan menyebabkan lonjakan gelombang panas, yang diperkirakan akan memengaruhi hampir semua penduduk Bumi yang mencapai sekitar 9,2 miliar orang pada tahun 2050.

    “Hampir tidak ada sudut planet ini yang akan terhindar dari panas ekstrem,“ demikian tulis laporan tersebut, sebagaimana dilansir di laman unep.org.

    Pada tahun 2050, manusia akan mengambil 165 miliar ton bahan mentah dari Bumi setiap tahunnya. Angka ini meningkat lebih dari 60 persen dari tahun 2020.

    Baca: Kondisi Planet Bumi pada 2050 jika perusakan lingkungan terus dilakukan

    GEO 7 mengatakan bahwa ekstraksi semua logam, mineral, dan bahan bakar fosil ini akan menghancurkan banyak ruang alam, memperburuk perubahan iklim, dan mempercepat hilangnya keanekaragaman hayati.

    GEO 7 memperkirakan, perubahan iklim akan mengurangi produk domestik bruto global sebesar 4 persen setiap tahunnya pada tahun 2050. Seiring dengan kenaikan suhu dan semakin dalamnya krisis, angka tersebut akan meningkat menjadi 20 persen pada tahun 2100.

    Angka tersebut sedikit lebih rendah daripada kontraksi yang dialami Amerika Serikat selama Depresi Besar tahun 1920-an dan 1930-an. Kemerosotan ekonomi akan diperparah oleh dampak polusi dan hilangnya alam.

    Kelompok miskin akan menjadi kelompok yang paling menderita akibat gejolak ekonomi ini dan kesenjangan antara penduduk miskin dan kaum kaya akan terus melebar.

    GEO 7 memperkirakan sedikit penurunan polusi udara pada tahun 2050. Namun karena meningkatnya urbanisasi, jumlah absolut orang yang terpapar polutan udara akan meningkat.

    Pada tahun 2050, 4,2 miliar orang akan secara teratur menghirup tingkat berbahaya dari salah satu zat yang sangat bermasalah, PM 2,5.

    Laporan tersebut memperkirakan bahwa kematian terkait polusi udara akan merugikan ekonomi global sebesar 18-25 triliun dolar AS hingga tahun 2060.

    Dunia akan kehilangan 1 juta kilometer persegi hutan, lahan gambut, dan ruang alam lainnya.

    Baca: Kerusakan hutan semakin mengkhawatirkan

    Hal ini sebagian besar disebabkan oleh perluasan lahan pertanian yang dibutuhkan untuk memberi makan populasi global yang meningkat dengan selera yang semakin besar terhadap daging.

    Karena hilangnya ekosistem, keragaman spesies rata-rata planet ini, angka tunggal yang menangkap keanekaragaman dan distribusi kehidupan, diperkirakan akan turun 3 persen.

    Perubahan iklim, jika tidak terkendali, akan membuat sekitar 1,1 miliar orang lagi terpapar hujan lebat dan 900 juta orang lagi terpapar kekeringan hebat pada tahun 2050.
    Dampak ganda iklim ini akan mendorong hingga 132 juta orang ke dalam kemiskinan dan menempatkan 24 juta orang lainnya berisiko kelaparan pada tahun 2040. Pada tahun 2050, 3,3 miliar orang – sepertiga dari populasi planet ini – akan menghadapi tekanan air.

    GEO 7 mengatakan dunia sedang mendekati serangkaian ambang batas terkait iklim yang mungkin tidak dapat dipulihkan. Lapisan es Greenland dan Antartika Barat dapat runtuh, menyebabkan permukaan laut naik 10 meter.

    Pencairan lapisan es abadi dapat melepaskan sejumlah besar metana, gas rumah kaca yang kuat, yang mempercepat pemanasan global. Hutan hujan Amazon mungkin akan berubah menjadi sabana, menghilangkan salah satu penyerap karbon terpenting planet ini.

    Hampir semua terumbu karang air hangat akan menghilang, menghancurkan ekosistem bawah laut dan mengancam perikanan di seluruh dunia. Bahkan arus laut dan Jet Stream pun bisa terpengaruh, sehingga menyebabkan kekacauan iklim.

    Seserius apa pun situasinya, laporan itu menyebut masih ada waktu untuk menyelamatkan planet Bumi dan seisinya.

    Masih ada waktu bagi umat manusia untuk mengatasi perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan polusi.

    Tetapi hal itu membutuhkan perubahan mendesak dan belum pernah terjadi sebelumnya dalam cara negara-negara mengatur perekonomian mereka, menangani material dan limbah, menghasilkan energi, memproduksi makanan, menggunakan bahan mentah, dan memperlakukan lingkungan.

  • Orang Kaya Harus Mengerem Emisinya Agar Warga Miskin Terpenuhi Hak Asasinya

    Orang Kaya Harus Mengerem Emisinya Agar Warga Miskin Terpenuhi Hak Asasinya

    7cloud.asia – Komisioner Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia (HAM), Volker Türk awal tahun 2025 lalu mengajukan pertanyaan reflektif di hadapan Dewan Hak Asasi Manusia:

    “Apakah kita mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk melindungi manusia dari kekacauan iklim, menjaga masa depan mereka, dan mengelola sumber daya alam dengan cara yang menghormati hak asasi manusia dan lingkungan?”

    Jawabannya sangat sederhana: masyarakat global belum melakukan cukup banyak.

    Dalam hal ini, dampak perubahan iklim harus dipahami tidak hanya sebagai keadaan darurat iklim, tetapi juga sebagai pelanggaran hak asasi manusia, kata Profesor Joyeeta Gupta kepada UN News baru-baru ini.

    Ia adalah ketua bersama badan penasihat ilmiah internasional Komisi Bumi dan salah satu perwakilan tingkat tinggi PBB untuk sains, teknologi, dan inovasi untuk Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).

    Siapa yang paling menderita? Profesor Gupta mengatakan bahwa konvensi iklim tahun 1992 tidak pernah mengukur kerugian manusia secara kuantitatif.

    Baca: Ketika kota semakin panas, warga miskin semakin menderita

    Ia mencatat bahwa ketika Perjanjian Paris diadopsi pada tahun 2015, konsensus global menetapkan pembatasan pemanasan global hingga 2°Celcius, kemudian menetapkan 1,5° Celcius sebagai target yang lebih aman.

    Namun bagi negara-negara kepulauan kecil, bahkan itu pun merupakan kompromi yang dipaksakan oleh ketidakseimbangan kekuatan, dan “bagi mereka, dua derajat bukanlah sesuatu yang dapat mereka atasi,” katanya.

    “Naiknya permukaan laut, intrusi air asin, dan badai ekstrem mengancam untuk menghapus seluruh negara. Ketika negara-negara kaya menuntut bukti ilmiah, Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) ditugaskan untuk mempelajari perbedaan antara 1,5° Celcius dan 2°Celcius,” lanjutnya.

    Ia mengatakan bahwa hasilnya jelas menunjukkan bahwa 1,5° Celcius jauh kurang merusak tetapi masih berbahaya.

    Dalam penelitiannya yang diterbitkan di Nature, Prof. Gupta menegaskan bahwa satu derajat Celcius adalah batas yang adil, karena di luar titik itu, dampak perubahan iklim melanggar hak lebih dari satu persen populasi global, sekitar 100 juta orang.

    Tragedi yang terjadi, menurutnya, adalah dunia telah melewati kenaikan suhu satu derajat Celsius pada tahun 2017, dan kemungkinan akan melampaui 1,5° Celsius pada tahun 2030.

    Baca: Orang kaya boros energi, tapi orang miskin yang menanggung dampaknya

    Ia menekankan bahwa janji-janji pendinginan di akhir abad ini mengabaikan kerusakan yang tidak dapat dipulihkan, termasuk mencairnya gletser, runtuhnya ekosistem, dan hilangnya nyawa.

    “Jika gletser Himalaya mencair, mereka tidak akan pernah kembali. Kita akan hidup dengan konsekuensinya selamanya.” katanya, “

    Lantas siapa yang paling bertanggung jawab. Prof. Gupta menegaskan bahwa keadilan iklim dan pembangunan berjalan beriringan. Setiap pemenuhan hak dasar –mulai dari air dan makanan hingga perumahan, mobilitas, dan listrik– membutuhkan energi.

    “Ada keyakinan bahwa kita dapat mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan tanpa mengubah cara hidup orang kaya. Itu tidak masuk akal secara matematis maupun etis,” jelas Profesor Gupta.

    Penelitiannya menunjukkan bahwa memenuhi kebutuhan dasar manusia memiliki jejak emisi yang signifikan.

    Penelitian tersebut juga menyoroti, karena planet Bumi telah melampaui batas aman, masyarakat kaya harus mengurangi emisi jauh lebih agresif, tidak hanya untuk melindungi iklim, tetapi juga untuk menciptakan ruang karbon bagi orang lain untuk memenuhi hak mereka.

    “Kegagalan untuk melakukan hal itu mengubah ketidaksetaraan menjadi ketidakadilan iklim,” tegasnya.

    Baca: Pembangunan ruang terbuka hijau mikro di kawasan kumuh Jakarta