Tag: kemarau

  • Sejumlah Daerah Berpotensi Mengalami Kekeringan, Pemerintah Harus Antisipasi

    Sejumlah Daerah Berpotensi Mengalami Kekeringan, Pemerintah Harus Antisipasi

    7cloud.asia – Sejumlah wilayah di Indonesia berpotensi mengalami kekeringan meteorologis pada musim kemarau.

    Pemerintah pusat dan pemerintah daerah diminta siaga guna mengantisipasi dampak kekeringan ini.

    Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati memperkirakan kekeringan meteorologis tersebut berlangsung selama 21 hingga 30 hari atau bisa lebih panjang.

    “Laporan kepada Presiden perihal kondisi iklim dan kesiap-siagaan kekeringan 2024 sudah kami sampaikan agar mendapat atensi khusus pemerintah sehingga risiko dan dampak yang ditimbulkan dapat diantisipasi dan diminimalisir sekecil mungkin,” jelas Dwikorita dalam rilis yang dimuat pada laman resmi BMKG.

    Baca: Cuaca ekstrem makin sering terjadi

    Bahkan beberapa daerah seperti mayoritas wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara kini sudah mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH).

    Berdasarkan analisis curah hujan dan sifat hujan yang dilakukan BMKG, menunjukkan bahwa kondisi kering sudah mulai memasuki wilayah Indonesia, khususnya di bagian Selatan Khatulistiwa.

    Sebagian wilayah Indonesia, sebanyak 19% dari Zona Musim sudah masuk Musim Kemarau, dan diprediksi sebagian besar wilayah Jawa, Bali dan Nusa Tenggara segera menyusul memasuki musim kemarau dalam tiga dasarian ke depan.

    “Kondisi kekeringan ini saat musim kemarau akan mendominasi wilayah Indonesia sampai akhir bulan September,” jelasnya.

    Baca: 60 hari tak turun hujan di 4 kabupaten NTT

    Karena itu, Dwikorita merekomendasikan agar daerah yang masih mengalami hujan atau transisi dari musim hujan ke musim kemarau agar dapat mengoptimalkan secara lebih masif upaya memanen air hujan.

    Pemanenan dapat dilakukan melalui tandon-tandon/ tampungan-tampungan air, embung-embung, kolam-kolam retensi, sumur-sumur resapan, dan lain sebagainya seiring dengan upaya mitigasi dampak kejadian ekstrem hidrometeorologi basah yang sedang dilakukan.

    “Terkait pertanian, maka pola dan waktu tanam untuk iklim kering pada wilayah terdampak dapat menyesuaikan. Karenanya, BMKG akan melakukan koordinasi lebih lanjut dengan Menteri Pertanian dan Gubernur Provinsi terdampak,” urainya.

    Dia berharap agar peringatan dini kesiap-siagaan musim kemarau tersebut dapat dimanfaatkan secara efektif oleh pemerintah pusat dan daerah.

  • Akhir Pekan, Mayoritas Kota di Indonesia Bakal Cerah Berawan

    Akhir Pekan, Mayoritas Kota di Indonesia Bakal Cerah Berawan

    7cloud.asia – Memasuki musim kemarau, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan mayoritas kota di Indonesia cerah dan berawan pada Sabtu (22/06/2024).

    Meski demikian peluang hujan dengan intensitas ringan hingga sedang masih terjadi di beberapa kota di Indonesia.

    Seperti Kota Gorontalo, Samarinda, Tanjung Pinang, Ambon, Makassar dan Kendari berpeluang hujan dengan intensitas ringan pada pagi hari.

    Kota Gorontalo, Jambi, Banjarmasin, Ambon, Ternate, Manokwari dan Manado pada siang hari berpeluang hujan dengan intensitas ringan.

    Sementara hujan dengan intensitas sedang berpotensi mengguyur Kota Mamuju dan Kendari pada Sabtu siang.

    Kemudian pada malam hari hujan dengan intensitas ringan berpotensi mengguyur Kota Samarinda, Tarakan, Manokwari dan Mamuju.

    Suhu udara berkisar antara 20 hingga 35 derajat celsius. Suhu terendah diperkirakan terjadi di Kota Bandung. Suhu tertinggi diperkirakan terjadi di Kota Surabaya.

    Sementara itu, untuk seluruh wilayah Jakarta cuaca diperkirakan cerah dan berawan dari pagi sampai malam.

    Sementara itu suhu udara di Jakarta berkisar antara 24 hingga 32 derajat celsius dengan tingkat kelembaban antara 55 hingga 90 persen.

     

  • Musim Kemarau, Kok Masih Hujan? Ini Dia Penyebabnya

    Musim Kemarau, Kok Masih Hujan? Ini Dia Penyebabnya

    7cloud.asia – Sejumlah wilayah di Indonesia masih diguyur hujan meski telah memamsuki musim kemarau. Hal ini akibat beberapa faktor diantaranya adanya gelombang Kelvin.

    Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati menjelaskan selain adanya gelombang Kelvin, ada faktor lain yang menyebabkan peningkatan curah hujan.

    Yaitu aktifnya fenomena atmosfer Madden Julian Oscillation (MJO) dan Rossby Equatorial.

    “Sehingga berdasarkan analisis cuaca dan pengamatan perkembangan kondisi cuaca, sepekan ke depan masih terdapat potensi peningkatan curah hujan yang signifikan di wilayah Indonesia meskipun telah memasuki musim kemarau,” jelas Dwikorita dalam konferensi pers.

    Baca: Musim kemarau 2024 bakal mundur

    Dia menjelaskan fenomena MJO yang saat ini aktif menyebabkan pergerakan atau propagasi kumpulan awan-awan hujan dari Samudra Hindia sebelah timur Afrika.

    Kumpulan awan hujan tersebut bergerak di sepanjang khatulistiwa menuju Samudra Pasifik melintasi wilayah Indonesia.

    Umumnya, arak-arakan awan hujan ini masuk melalui wilayah barat menuju wilayah timur Indonesia.

    Di sisi lain, dalam sepekan ke depan fenomena gelombang atmosfer Kelvin dan Rossby Equatorial juga berpengaruh terhadap peningkatan curah hujan di wilayah Indonesia.

    Baik di wilayah barat, tengah, dan timur, seperti sebagian wilayah Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Kepulauan Maluku, dan Papua.

    Baca: BMKG ingatkan hujan deras di 4 provinsi

    Selain itu, suhu permukaan laut yang hangat di sekitar perairan Indonesia juga turut berkontribusi dalam menciptakan kondisi yang mendukung pertumbuhan awan hujan di wilayah tersebut.

    Berdasarkan analisa tersebut, BMKG mengeluarkan peringatan dini cuaca dimana diperkirakan akan terjadi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat disertai kilat petir dan angin kencang di sebagai wilayah Indonesia pada 8-14 Juli.

    “Yaitu di sebagian besar wilayah Sumatra, sebagian Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Maluku Utara, dan Papua. Khusus untuk pulau Jawa akan mengalami penurunan potensi hujan mulai periode tanggal 11 Juli “, ujarnya.

    Baca: Sejumlah wilayah hadapi cuaca ekstrem

    Namun, lanjut Dwikorita, fenomena hujan di musim kemarau tidak lepas dari letak geografis wilayah Indonesia yang berada di dua benua,benua Asia dan benua Australia.

    Letak geografis Indonesia juga berada pada pertemuan di antara dua Samudra besar yaitu Samudra Pasifik dan Samudra Hindia.

    “Fenomena iklim dan cuaca di Indonesia sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor dinamika cuaca yang beragam. Selama musim kemarau, adanya potensi gangguan seperti MJO (Madden-Julian Oscillation) dan gelombang atmosfer lainnya tetap dapat menyebabkan pembentukan awan hujan” terangnya.

    Sementara itu, Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto menambahkan bahwa peningkatan curah hujan akibat gangguan fenomena atmosfer tidak akan terjadi berhari-hari.

    Baca: BMKG ajak pihak swasta mitigasi bencana

    Setiap wilayah diprediksi hanya 1-3 hari. Di mana saat ini wilayah Jakarta, Banten, yang pada pekan kemarin diguyur hujan lebat saat ini sudah mulai cerah kembali.

    “Kondisi tersebut diprediksikan akan menurun, dimana wilayah Jawa, Banten, Bali, dan Nusa Tenggara akan kembali mengalami kondisi musim kemarau yang normal,” ujar Guswanto.

    Oleh karenanya, penting untuk masyarakat Indonesia dalam memahami kompleksitas fenomena iklim dan cuaca di Indonesia-plus dampak perubahan iklim.

     

  • BMKG Prediksi Hujan Lebat Saat Musim Kemarau Masih Akan Berlangsung hingga Pekan Depan

    BMKG Prediksi Hujan Lebat Saat Musim Kemarau Masih Akan Berlangsung hingga Pekan Depan

    7cloud.asia – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG memperkirakan sejumlah wilayah di Indonesia masih akan diguyur hujan lebat disertai angin kencang dan petir walau sudah memasuki musim kemarau pada Juli 2024.

    BMKG juga menemukan beberapa wilayah yang sudah diguyur hujan lebat sejak Jumat (5/7/2024) hingga Sabtu (6/7/2024).

    Wilayah tersebut adalah Kota Bengkulu, Bengkulu yang diguyur hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat di atas 100 milimeter.

    Di sisi lain, Kabupaten Mimika, Papua juga dilanda hujan lebat hingga sangat lebat sebesar 117,2 mm.

    Menurut Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, terjadinya hujan di tengah musim kemarau 2024 tak lepas dari letak geografis Indonesia yang berada di antara dua benua, yakni Australia dan Asia dan dua samudera, yakni Pasifik dan Hindia.

    ”Letak geografis ini menjadikan Indonesia memiliki dua musim yang berbeda, yaitu musim hujan dan musim kemarau. Angin monsun barat dari benua Asia membuat Indonesia mengalami musim hujan,” ujar Dwikorita, dikutip Kompas.com, Rabu (10/7/2024).

    Baca: Indonesia bersiap hadapi La Nina

    Sementara secara umum, lanjutnya, musim kemarau di Indonesia berkaitan dengan aktifnya angin monsun timur dari Australia yang bersifat kering.

    Lantas, sampai kapan hujan lebat saat musim kemarau 2024 ini akan berlangsung? Deputi Bidang Meteorologi BMKG Guswanto mengatakan, pihaknya memprediksi hujan lebat saat musim kemarau masih akan terjadi hingga Senin (15/7/2024).

    Guswanto menjelaskan, turunnya hujan saat musim kemarau tahun ini berkaitan dengan Madden Julian Oscillation (MJO) yang sudah memasuki fase tiga atau Indian Ocean.

    MJO adalah aktivitas intra seasonal yang terjadi di wilayah tropis yang dapat dikenali dengan pergerakan aktivitas konveksi yang bergerak ke arah timur dari Samudera Hindia ke Samudera Pasifik yang biasanya muncul setiap 30-40 hari.

    Kemunculan MJO dapat memberikan pengaruh yang signifikan terhadap musim kemarau yang sedang berlangsung

    “Meskipun umumnya musim kemarau ditandai dengan cuaca kering dan minim hujan, fase MJO ini bisa mempengaruhi pola cuaca dengan meningkatkan kemungkinan adanya periode hujan yang lebih intens atau tidak biasa selama musim kemarau, terutama pada puncak musim kemarau,” ujarnya kepada Kompas.com, Selasa (9/7/2024).

    Baca: Sebagian besar wilayah Indonesia masuki musim kemarau

    “Hal ini menunjukkan bahwa cuaca ekstrem pada musim kemarau yang cenderung konsisten kering dapat dipengaruhi oleh faktor regional seperti MJO,” tambahnya.

    Selain MJO, faktor lain yang menyebabkan musim kemarau tahun ini menjadi basah adalah gelombang atmosfer Rossby Ekuatorial, gelombang Kelvin, sirkulasi siklonik, daerah perlambatan angin (konvergensi), daerah pertemuan angin (konfluensi), intrusi udara kering, dan labilitas lokal kuat.

    Beberapa wilayah yang diperkirakan bakal dilanda hujan dengan intensitas sedang-lebat hingga Senin mendatang adalah Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Bengkulu dan Lampung.

    Juga Banten, Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Timur Kalimantan Utara Kalimantan Selatan Sulawesi Utara Gorontalo Sulawesi Tengah Sulawesi Barat Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara.

    Maluku Utara, Maluku Papua Barat Daya Papua Barat Papua Tengah Papua Pegunungan Papua Papua Selatan.

     

  • Cuaca Hari Ini: Waspada Suhu Panas Hingga 36 Derajat Celsius di Kota Ini

    Cuaca Hari Ini: Waspada Suhu Panas Hingga 36 Derajat Celsius di Kota Ini

    7cloud.asia – Musim kemarau mulai melanda Indonesia. Suhu panas berpotensi melanda beberapa kota. Bahkan ada yang mencapai suhu 36 derajat celsius.

    Berdasarkan laman resmi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), suhu udara hingga 36 derajat diperkirakan terjadi di Kota Banda Aceh pada Senin (15/07/2024). 

    Kota-kota lain yang juga diperkirakan mengalami cuaca panas adalah Kota Serang dan Kota Medan yang suhu udaranya mencapai 34 derajat celsius.

    Sedangkan suhu terendah diprediksi terjadi di Kota Bandung dengan suhu udara 19 derajat celsius.

    Meski demikian, BMKG memperkirakan potensi hujan dengan intensitas ringan masih bisa terjadi di Kota Jayapura dan Manokwari pada siang hari.

    Kemudian Senin malamnya, hujan dengan intensitas ringan berpotensi terjadi di Kota Samarinda.

    Sementara cuaca kota-kota lainnya BMKG memperkirakan cerah dan berawan dari pagi hingga malam hari. 

    Untuk wilayah Jakarta, seluruh wilayah diperkirakan cerah pada pagi hari. lalu siang dan malamnya cuaca diperkirakan cerah berawan.

    Suhu udara berkisar antara 20 hingga 31 derajat celsius dengan tingkat kelembaban udara berkisar antara 45 hingga 80 persen.

  • Musim Kemarau, Tapi Udara Terasa Dingin? Ini Penyebabnya

    Musim Kemarau, Tapi Udara Terasa Dingin? Ini Penyebabnya

    7cloud.asia – Beberapa pekan terakhir ini udara dingin kerap dirasakan oleh warga di sejumlah wilayah di Indonesia. Padahal saat ini tengah memasuki musim kemarau. Hal ini akibat adanya fenomena bediding.

    Dari laman resmi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) fenomena bediding adalah kondisi di mana suhu lingkungan terasa lebih dingin dari biasanya, khususnya di wilayah Indonesia bagian selatan, termasuk Jawa.

    Fenomena bediding ditandai dengan rendahnya intensitas hujan. Kurangnya tutupan awan menyebabkan radiasi panas dari permukaan bumi tidak terperangkap, sehingga suhu udara menjadi lebih dingin.

    Baca: Wisatawan berburu embun beku di dataran tinggi Dieng

    Fenomena ini terjadi selama musim kemarau, ketika angin monsun timuran membawa udara kering dan dingin. Munculnya angin monsun ini karena 4 faktor, yaitu udara kering, langit cerah, dan topografi.

    Di Pulau Jawa, suhu terendah yang tercatat selama fenomena bediding bisa mencapai sekitar 11-15°C. Suhu dingin yang ekstrem ini akan mencapai puncaknya pada Agustus nanti.

    Fenomena bediding umum terjadi di Indonesia, khususnya di wilayah yang berdekatan dengan khatulistiwa hingga bagian utara.

    Baca: Mengenal fenomena embun es di Dieng dan dampaknya

    Pada wilayah ini, pada pagi hari udara cenderung lebih dingin dari biasanya. Kemudian siang harinya udara akan terasa lebih panas.

    Tak hanya di Pulau Jawa, fenomena bediding juga terjadi di daerah dataran tinggi di Indonesia bagian selatan lainnya, seperti Bali, NTB dan NTT.

     

     

  • Cuaca Hari Ini: BMKG Keluarkan Peringatan Dini, Waspada Hujan di 19 Wilayah Ini

    Cuaca Hari Ini: BMKG Keluarkan Peringatan Dini, Waspada Hujan di 19 Wilayah Ini

    7cloud.asia – Meski telah memasuki musim kemarau, sejumlah wilayah di Indonesia berpotensi diguyur hujan dengan intensitas sedang hingga lebat.

    Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dalam prakiraan cuaca nya merilis peringatan dini untuk 19 wilayah tersebut yang berpotensi hujan mulai 27 Juli hingga awal Agustus 2024 atau saat puncak musim kemarau.

    Kondisi cuaca tersebut berpotensi terjadi di Aceh, Sumatera Utara, Riau, Bengkulu, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Maluku Utara, dan NTT.

    Baca: BMKG keluarkan peringatan dini potensi angin kencang

    Kondisi cuaca serupa juga berpotensi terjadi di wilayah Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Papua, Papua Barat, Papua Pegunungan, Papua Barat Daya, dan Papua Selatan.

    Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto dalam rilisnya memaparkan kondisi cuaca ini dipengaruhi oleh Gelombang Ekuator Rossby yang diprakirakan aktif di wilayah tersebut.

    “Aktivitas gelombang ini mendukung potensi pertumbuhan awan hujan di wilayah-wilayah itu. Selain itu faktor pemanasan skala lokal memberikan pengaruh cukup signifikan dalam proses pengangkatan massa udara dari pemukaan bumi ke atmosfer,” terang Guswanto.

    Sementara itu, Kepala Pusat Meteorologi Publik BMKG, Andri Ramdhani menjelaskan, sirkulasi siklonik membentuk daerah pertemuan dan perlambatan kecepatan angin (konvergensi) di sekitar Samudera Pasifik sebelah utara Papua.

    Baca: Hujan disertai petir berpotensi terjadi di 4 wilayah ini

    “Secara umum, kombinasi fenomena-fenomena cuaca tersebut diprakirakan menimbulkan potensi cuaca signifikan dalam periode 26 Juli – 1 Agustus 2024. Angin kencang juga berpotensi terjadi di wilayah Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Sulawesi Selatan, Maluku, Papua Selatan, Papua Tengah, dan Papua Barat,” jelas Andri.

    Lebih lanjut Andri mengatakan, meski sejumlah wilayah diprediksi diguyur hujan selama sepekan ke depan, namun saat ini Indonesia tengah berada di puncak musim kemarau.

    BMKG mengimbau agar pemerintah daerah dan masyarakat soal potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Terutama di Pulau Sumatra dan Kalimantan yang memilki banyak kawasan gambut.

    “Kepada masyarakat, kami imbau untuk menggunakan air dengan bijaksana dan hemat. Selain itu, hindari membuka lahan dengan membakar, terutama pada daerah hutan yang bertanah gambut karena mudah terbakar dan sulit dimatikan,” katanya.

  • Masih Kerap Turun Hujan, Musim Kemarau Kali Ini Tak Separah Tahun Lalu

    Masih Kerap Turun Hujan, Musim Kemarau Kali Ini Tak Separah Tahun Lalu

     

    7cloud.asia – Musim kemarau tengah melanda sejumlah wilayah di Indonesia. Namun kemarau kali ini tidak separah tahun lalu, 2023.

    Koordinator Bidang Data dan Informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel), Nandang Pangaribowo mengatakan kemarau kali ini masih ada potensi hujan.

    “Tahun 2023 lalu cuaca ekstrem terjadi karena El Nino ya dan tahun 2024 ini kita sedikit diuntungkan karena pada bulan Mei hingga Juli ada pasokan air dari uap lautan Indonesia sehingga masih terjadi hujan di wilayah Sumsel,” jelas Nandang.

    Baca: Tiga bulan tak hujan, sejumlah wilayah kekeringan

    Melansir Antaranews, Nandang menerangkan adanya belokan masa udara di wilayah Sumatera Selatan menyebabkan potensi hujan dan angin kencang dapat terjadi sewaktu-waktu.

    “Meskipun sudah memasuki musim kemarau, karena potensi hujan yang sudah menurun, namun warga tetap harus mewaspadai potensi hujan dan angin kencang bisa saja terjadi sewaktu-waktu karena terdapat belokan masa udara di wilayah Sumatera Selatan,” terangnya.

    Meski kemarau tahun ini tak separah tahun lalu, namun hotspot atau titik panas tetap berpeluang terjadi di Sumsel. Sebab, BMKG memprediksi hingga bulan Agustus wilayah Sumsel berpotensi terjadi kekeringan.

    Baca: Hampir setengah juta orang meninggal per tahun akibat panas ekstrem

    Karena itu, pihaknya mengimbau warga agar tidak melakukan aktivitas pembakaran yang bisa memicu besarnya titik panas sebab kondisi kekeringan saat ini sudah mulai pada level yang mudah terbakar.

    Pada kemarau kali ini Nandang juga meminta instansi terkait untuk gerak cepat membantu bibit pertanian dan menangani permasalahan air.

    Hal ini perlu dilakukan agar sektor perkebunan dan pertanian tidak terdampak musim kemarau kali ini.

     

     

     

  • Kekeringan Mulai Melanda Yogyakarta, Status Kini Siaga Darurat Bencana

    Kekeringan Mulai Melanda Yogyakarta, Status Kini Siaga Darurat Bencana

    7cloud.asia – Kekeringan akibat musim kemarau tengah melanda sejumlah wilayah di Indonesia. Termasuk wilayah Yogyakarta. Status siaga darurat bencana kekeringan diberlakukan sejak 1 Agustus lalu.

    Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan Hamengku Buwono X menetapkan Status Siaga Darurat Bencana Kekeringan sejak 1 Agustus hingga 31 Agustus 2024.

    “Surat Keputusan (SK) Gubernur DIY sudah ke luar untuk 1 Agustus sampai dengan tanggal 31 Agustus, waktunya sebulan,” ujar Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY, Noviar Rahmad.

    Melansir Antaranews, Noviar menjelaskan  surat Keputusan Gubernur Nomor 286/KEP/2024 tentang Penetapan Status Siaga Darurat Bencana Kekeringan di DIY dapat diperpanjang jika kekeringan masih berlanjut.

    Baca: Sebagian wilayah Aceh berpotensi kekeringan hingga September

    Penetapan status ini, lanjut Noviar menyusul adanya tiga kabupaten di wilayah ini yakni Kabupaten Kulon Progo, Gunungkidul, dan Sleman yang telah berstatus siaga darurat hidrometeorologi.

    “Provinsi bisa melakukan penetapan siaga darurat apabila lebih dari satu kabupaten sudah menetapkan. Sementara yang di kabupaten/kota ini sudah tiga,” jelasnya.

    Status siaga darurat ini sangat berarti bagi BPBD DIY untuk merealisasikan rencana operasi modifikasi cuaca di wilayah ini.

    Rencananya program hujan buatan itu bakal melibatkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

    Selain itu BPBD DIY dapat membantu kebutuhan dropping air bersih ke masyarakat kabupaten/kota yang membutuhkan.

    “Dasarnya SK itu. Tapi anggarannya kami mintakan melalui dana siap pakai yang ada di BNPB pusat,” ujar dia.

    Baca: Wilayah Jatim, NTB dan NTT berpotensi kekeringan

    Sementara itu, Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD DIY, Edhy Hartana mengimbau masyarakat di DIY mulai berhemat menggunakan air sehingga tidak sekadar bergantung pada bantuan pemerintah.

    “Kami mengimbau kepada warga yang khususnya terdampak kekeringan, berhematlah menggunakan air. Setelah digunakan air bisa disalurkan ke tanaman jadi jangan terbuang-buang,” ujarnya.

    Sebelumnya, Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Yogyakarta, Reni Kraningtyas memprediksi puncak musim kemarau 2024 di DIY antara Juli hingga Agustus 2024.

    Musim kemarau akan berakhir pada September 2024 dasarian pertama yang dimulai Kabupaten Kulon Progo bagian utara.

     

     

  • Cuaca Hari Ini: Puncak Musim Kemarau, Waspada Suhu Panas

    Cuaca Hari Ini: Puncak Musim Kemarau, Waspada Suhu Panas

    7cloud.asia – Memasuki puncak musim kemarau, beberapa kota dilanda suhu panas. Bahkan diperkirakan ada wilayah yang mencapai hingga 35 derajat celsius.

    Dalam kanal youtube resmi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) suhu panas yang mencapai 35 derajat celsius diperkirakan terjadi di Kota Palembang pada Kamis (29/08/2024).

    Prakirawan BMKG, Sekar Anggaraeni mengatakan dengan adanya suhu panas ini, kebakaran hutan dan lahan dapat mudah terjadi.

    “Waspadai potensi tingkat kemudahan terbakar di lapisan atas tanah pada kategori sangat mudah terbakar,” kata Sekar.

    Dia menyebutkan beberapa wilayah mudah terbakar seperti Aceh, Sumatera bagian tengah hingga Selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian kecil Kalimantan bagian selatan.

    Selain itu wilayah Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara serta di Papua bagian selatan juga merupakan wilayah yang mudah terbakar.

    “Berhati-hati saat membakar sampah atau lahan dan tidak membuang puntung rokok di sembarang tempat untuk menghindari terjadinya kebakaran lahan dan hutan,” ujarnya.

    Sementara itu, hujan dengan intensitas ringan hingga hujan disertai petir berpotensi melanda sejumlah kota di Indonesia.

    Hujan berintensitas ringan diperkirakan terjadi di Kota Medan, Bengkulu, Serang, Bandung, Samarinda, Palangkaraya, Palu, Ternate, Sorong dan Manokwari.

    Hujan dengan intensitas sedang berpotensi mengguyur Kota Nabire dan Jayawijaya. Hujan lebat berpotensi mengguyur Kota Mamuju.

    BMKG juga mengimbau warga agar mewaspadai hujan disertai petir yang berpotensi mengguyur Kota Palembang, Pontianak, Tanjung Selor, Manado dan Ambon.

    Untuk seluruh wilayah DKI Jakarta dan kota-kota lainnya cuaca diperkirakan cerah, berawan sepanjang hari.

    Suhu terendah diperkirakan terjadi di Kota Jayawijaya. Sedangkan tingkat kelembaban rata-rata di wilayah Indonesia antara 32 hingga 100 persen.