Tag: listrik

  • Aliran Listrik di Aceh Tamiang Belum Pulih

    Aliran Listrik di Aceh Tamiang Belum Pulih

    7cloud.asia – Sejak banjir bandang dan tanah longsor terjadi pada Rabu (26/11/2025), hingga Sabtu (20/12/2025) atau tiga pekan pascabanjir, aliran listrik di Sekerak Kiri, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, belum kembali menyala.

    Kondisi tersebut membuat warga yang berada di pengungsian dan tenda darurat kesulitan menjalani aktivitas sehari-hari, mulai dari mengisi daya handphone, memasak nasi, menonton televisi, hingga menyalakan lampu pada malam hari.

    Aceh Tamiang merupakan salah satu daerah yang paling parah merasakan dampak banjir Sumatera. 

    Bantuan Penerangan dari Donasi Pembaca Tim Kompas.com menyalurkan bantuan dari donasi pembaca Kompas.com kepada korban bencana Aceh Tamiang berupa genset, sembako, lampu solar cell, alat ibadah, buah-buahan, alas tikar, susu, pampers, hingga pakaian.

    Sebelumnya, Executive Vice President Komunikasi Korporat dan TJSL PLN, Gregorius Adi Trianto, menjelaskan bahwa Aceh Tamiang merupakan salah satu wilayah yang masih dalam tahap pemulihan sistem kelistrikan pascabencana.

    Kondisi tersebut menyebabkan pasokan listrik belum stabil sehingga dilakukan pemadaman secara bergantian.

    “Dalam pemulihan sistem interkoneksi kelistrikan Aceh, masih diperlukan manajemen beban untuk mengatur nyala dan padam secara bergantian sesuai tahapan pemulihan,” ujarnya kepada Kompas.com, dikutip Rabu (17/12/2025).

    Ia memastikan PLN terus berupaya mempercepat pemulihan sistem kelistrikan di Aceh di tengah medan yang berat.

    Pada sejumlah wilayah, termasuk Aceh Tamiang, pasokan listrik sementara disuplai melalui pembangkit diesel PLN dan diprioritaskan untuk fasilitas layanan umum seperti rumah sakit, PDAM, serta perkantoran publik.

    Sekretaris Desa Sekerak Kiri, Abdul Gofur, mengatakan warga terpaksa mengandalkan lampu minyak atau lilin setiap malam karena belum ada penerangan listrik.

    “Sampai hari ini belum ada penerangan. Warga kami pakai tisu campur minyak sayur atau lampu pakai minyak,” ujar Abdul Gofur usai menerima bantuan pembaca Kompas.com di Sekerak Kiri, Sabtu (20/12/2025).

    Menurut dia, bantuan yang paling dibutuhkan saat ini adalah penerangan, seperti genset dan lampu tenaga surya. Selain itu, warga juga membutuhkan kelambu karena jumlah nyamuk meningkat drastis pascabanjir.

    “Kami butuh penerangan tapi yang perlu warga setelah banjir butuh kelambu karena nyamuk luar biasa, butuh selimut, alas tikar, bantal,” kata dia.

    Abdul Gofur mengungkapkan terima kasihnya atas bantuan Kompas.com yang sudah memberikan bantuan genset, sembako, lampu solar cell yang sangat bermanfaat untuk mereka

    Hal senada disampaikan Kepala Desa Tanjung Mancang, Tengku Saipul Bahri. Ia menyebut warga di desanya juga sangat membutuhkan genset karena listrik masih padam sejak banjir.

    “Alhamdulillah ini sangat dibutuhkan seperti logistik, penerangan dan alat ibadah yang digunakan untuk salat sangat kami butuhkan,” kata Saipul.

    Krisis Air Bersih dan Biaya Tinggi
    Selain listrik, Saipul mengungkapkan bahwa wilayahnya juga menghadapi krisis air bersih. Hingga tiga pekan pascabencana, pasokan air belum pulih dan pihak desa masih mencari donasi untuk pengeboran sumur.

    “Listrik belum merata, air sedang berusaha untuk donator pengeboran memang harga air dari Sibaulangit mahal Rp 2,8 juta satu tangki untuk satu dusun, ada lima dusun berarti lima tangki,” ucap dia.

    Warga Dusun Baru, Sekerak Kiri, Aris, mengaku terharu saat menerima bantuan genset dan lampu tenaga surya dari donasi pembaca Kompas.com. Pasalnya, listrik di wilayah tersebut masih padam hingga kini.

    “Alhamdulillah sangat terbantu, tadi ada penerangan terasa hampir tertegun, senang ada lampu tadi membawa kita semangat kembali,” kata Aris.

    Ia menyebut selama ini warga hanya mengandalkan lampu minyak atau lilin setiap malam. Menurutnya, listrik kemungkinan baru kembali menyala dalam waktu lama karena banyak instalasi kabel yang rusak parah akibat banjir.

    “Listrik belum menyala karena instalasi rusak parah, mungkin lama menyala sebulan belum tentu,” ujar dia. Selain penerangan, warga masih membutuhkan kelambu dan tempat tinggal yang layak.

     

  • Update Banjir Sumatera: 224 Desa di Aceh Belum Teraliri Listrik

    Update Banjir Sumatera: 224 Desa di Aceh Belum Teraliri Listrik

    7cloud.asia – Lebih satu bulan pasca bencana banjir Sumatera, sebanyak 224 desa yang tersebar di 10 kabupaten di Aceh belum teraliri listrik.

    “Dalam catatan kami, masih ada 224 desa di Provinsi Aceh yang belum teraliri listrik,” ucap Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia di Pangkalan TNI AU (Lanud) Halim Perdanakusuma, Jakarta, Sabtu (27/12/2025)

    Desa-desa tersebut, ujar Bahlil, berlokasi di kabupaten yang infrastrukturnya masih dalam proses perbaikan, termasuk Aceh Tamiang, Bener Meriah, Aceh Tengah, dan Gayo Lues.

    Pernyataan ini bertentangan dengan pernyataan Bahlil tak lama setelah terjadinya banjir Sumatera. Saat itu Bahlil mengatakan listrik di daerah bencana akan segera pulih 100 persen.

    “Nah, dalam rangka bagaimana memberikan pelayanan maksimal, kami rapat dengan tim, bicara sama PLN,” ujarnya seperti dikutip Antaranews.com.

    ESDM pun mengirim bantuan berupa seribu unit genset serta 3 ribu unit kompor gas bagi warga yang terdampak bencana banjir di wilayah Aceh dan Sumatera.

    Baca: Kekerasan terhadap relawan bencana di Aceh Utara

    “Maka atas arahan Bapak Presiden, kami mencoba mengoptimalkan seluruh kekuatan negara, maka Kementerian ESDM hari ini mengirimkan seribu unit genset dengan kapasitas rata-rata di 5–7 kVA,” ucap Bahlil.

    Bantuan genset dikirim menggunakan pesawat Hercules Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU).

    Komandan Lanud Halim Perdanakusuma Marsekal Pertama TNI Erwin Sugiandi mengatakan pengiriman genset menggunakan lima pesawat hercules, dan masing-masing pesawat mengangkut 200 genset.

    Sebanyak dua pesawat mendarat di Lhokseumawe, dua pesawat di Rembele, dan satu pesawat di Banda Aceh.

    “Semua pesawat misinya adalah membawa genset dari Kementerian ESDM,” katanya.

    Bahlil menegaskan bahwa seribu genset yang dikirimkan saat ini masih tahap pertama. Selama infrastruktur kelistrikan di kawasan tersebut belum pulih, tutur dia, Kementerian ESDM akan terus melakukan intervensi, seperti mengirim bantuan berupa genset.

    Baca: Ada upaya untuk membatasi pemberitaan penanganan banjir Sumatera

    Terkait pasokan solar untuk seribu genset tersebut, Bahlil menyampaikan sudah membuat tim terpadu dengan Pertamina Patra Niaga.

    “Teman-teman Pertamina Patra Niaga yang akan memasok BBM-nya agar saudara-saudara kita yang kena musibah bisa cepat merasakan pelayanan negara, khususnya di sektor energi,” kata Bahlil.

    Proses pemulihan kelistrikan secara menyeluruh masih menghadapi sejumlah kendala. Kerusakan infrastruktur jalan serta kondisi cuaca yang tidak menentu menghambat mobilisasi alat berat dan material ke sejumlah lokasi yang masih terisolasi.

    General Manager PLN Unit Induk Distribusi (UID) Aceh, Eddi Saputra, menyampaikan pihaknya masih berupaya menormalkan 139 gardu distribusi tambahan yang terdampak banjir bandang, salah satunya berada di wilayah Takengon.

    “Kami terus mengupayakan perbaikan gardu-gardu distribusi tersebut, termasuk jaringan distribusi dan sarana pendukung lain yang membutuhkan penanganan lanjutan,” ujar Eddi.

    Ia menegaskan seluruh petugas PLN di lapangan bekerja dengan menyesuaikan kondisi infrastruktur dan medan, serta tetap mengutamakan keselamatan dan keandalan pasokan listrik bagi masyarakat.

    Baca: Masyarakat sipil somasi Presiden karena tak kunjung tetapkan status bencana nasional

    Upaya dan kerja keras petugas PLN mendapat apresiasi dari Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah. Bupati Aceh Tengah, Haili Yoga, menyampaikan terima kasih atas dedikasi petugas PLN yang terus bertugas di tengah medan yang sulit.

    “Atas nama pemerintah dan seluruh masyarakat Kabupaten Aceh Tengah, kami mengucapkan terima kasih kepada PLN. Hingga hari ini, para petugas PLN masih terus bekerja di lapangan,” ujar Haili.

  • Ratusan Rumah di Jawa Barat Belum Mendapat Aliran Listrik

    Ratusan Rumah di Jawa Barat Belum Mendapat Aliran Listrik

    7cloud.asia – Komisi XII DPR dalam Kunjungan Kerja ke Bandung, Provinsi Jawa Barat mengevaluasi langsung implementasi program elektrifikasi nasional, khususnya kinerja PT PLN (Persero) UID Jawa Barat.

    Dalam kesempatan itu Wakil Ketua Komisi XII DPR, Dony Maryadi Oekon, memberikan catatan kritis terkait klaim rasio elektrifikasi Jawa Barat yang diproyeksikan mencapai 99,99 persen hingga akhir 2025.

    Fakta di lapangan menunjukkan bahwa masih ada sekitar 300 ribu kepala keluarga di daerah pedesaan dan terpencil di berbagai daerah di Jawa Barat yang belum teraliri listrik.

    Dony mengingatkan, kalau bicara elektrifikasi, fokus PLN jangan hanya berdasarkan persentase yang sekarang dikatakan sudah 99 persen.

    Baca: Pensiun dini PLTU batu bara berdampak positif bagi perekonomian nasional

    “Angka 99 persen yang sering dipresentasikan oleh PLN itu kadang basisnya baru mencapai tingkat kelurahan atau desa, bukan basis rumah tangga,” tegas Dony kepada Parlementaria di Bandung, Provinsi Jawa Barat, Jumat, (20/02/2026).

    Untuk mengatasi ketimpangan tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa Barat telah menggulirkan program “Jabar Caang” atau Jawa Barat terang.

    Program ini menargetkan elektrifikasi 100 persen pada tahun 2026 melalui pemasangan listrik bagi 121.871 rumah di daerah pelosok di Jawa Barat.

    “Kami juga, mendesak agar program Bantuan Pasang Baru Listrik (BPPL) juga terus dijalankan bagi masyarakat tidak mampu agar akses listrik riil di tingkat rumah tangga bisa segera terwujud,” tutupnya.

    Baca: Hingga 2024, lebih 100 desa di Kalimantan Timur belum mendapat aliran listrik

  • BAKN DPR Ingatkan Potensi Kerugian Negara Akibat Tingginya Idle Capacity

    BAKN DPR Ingatkan Potensi Kerugian Negara Akibat Tingginya Idle Capacity

    7cloud.asia – Besarnya idle capacity (kapasitas menganggur) pada sistem kelistrikan nasional yang berpotensi membebani keuangan PT PLN (Persero), terlebih dengan adanya kewajiban skema Take or Pay.

    Badan Akuntabilitas Keuangan Negara (BAKN) mencatat, bahwa idle capacity kelistrikan, baik di wilayah Jawa, Madura, dan Bali (Jamali) maupun secara nasional, saat ini terpantau sangat tinggi.

    Data 2024 menunjukkan kapasitas terpasang mencapai 75.936,46 megawatt (MW), sementara beban puncak hanya 61.287,80 MW, menunjukkan potensi kelebihan daya nasional atau idle capacity di atas 14.000 MW atau 14 gigawatt (GW).

    Kondisi tersebut dinilai sudah jauh melampaui batas ideal cadangan operasional. Padahal, batas ideal cadangan operasional untuk menjaga keandalan listrik suatu negara berada di kisaran 20 hingga 25 persen.

    Wakil Ketua Badan Akuntabilitas Keuangan Negara (BAKN) DPR, Herman Khaeron mengatakan, kelebihan kapasitas ini berpotensi merugikan keuangan PLN yang saat ini masih menerima subsidi dari negara,

    “Kelebihan kapasitas ini berpotensi menjadi kerugian karena adanya skema perjanjian take or pay. Artinya, listrik tersebut dipakai atau tidak, PLN tetap harus membayar kepada pembangkit, baik itu milik PLN sendiri maupun Independent Power Producer (IPP),” ujar Herman usai Kunjungan Kerja Spesifik BAKN DPR di Surabaya, Jawa Timur, Kamis (2/4/2026).

    Untuk menekan risiko tersebut, Herman mendorong agar pembangunan sistem di sektor hulu dapat diimbangi dengan program elektrifikasi yang menyentuh rakyat secara langsung.
    Langkah ini dinilai krusial agar jarak (gap) antara pasokan dan permintaan tidak semakin membesar.

    Selain masalah kapasitas, BAKN turut menggarisbawahi pentingnya perencanaan ketersediaan energi primer serta transisi menuju Energi Baru Terbarukan (EBT).

    Meski investasi awal EBT tergolong besar, biaya pemeliharaan dan operasional kedepannya dinilai akan jauh lebih efisien dan berkelanjutan jika dibandingkan dengan terus bergantung pada energi fosil seperti batu bara dan gas yang lambat laun akan habis.

    Sebagai tindak lanjut dari uji petik tersebut, BAKN DPR berencana memanggil sejumlah pemangku kepentingan tingkat atas guna membenahi sengkarut ekosistem kelistrikan nasional.

    “Kami belum selesai sampai di sini. Ke depan, kami akan mengundang pengambil kebijakan dari lintas kementerian, mulai dari Kementerian ESDM, BP Danantara, Kementerian BUMN, hingga Kementerian Keuangan.

    Kita harus duduk bersama agar ke depan PLN lebih sehat, tarif listrik lebih murah untuk rakyat, dan mampu memberikan kontribusi fiskal ke negara,” pungkas Politisi Fraksi Partai Demokrat ini.

    Ketua BAKN DPR, Andreas Eddy Susetyo, menilai saat ini terdapat beberapa kebijakan tata kelola BUMN yang perlu ditinjau ulang menyusul adanya perubahan regulasi di tingkat pusat.

    “Jadi ini ada suatu kebijakan yang perlu kita tinjau ulang karena dasar hukumnya pun sekarang sudah berubah. Kalau dulu dasar hukumnya adalah Undang-Undang BUMN, sekarang UU tersebut sudah berubah, termasuk dengan adanya pembentukan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara),” ujarnya.

    Payung Hukum untuk Akurasi Subsidi
    Selain aspek regulasi kelembagaan, BAKN DPR juga memberikan catatan penting terkait penyaluran subsidi listrik agar benar-benar tepat sasaran. Andreas menyebut bahwa PLN membutuhkan payung hukum yang kuat terkait masa transisi penggunaan data penerima subsidi.

    “Kita perlu memastikan bahwa subsidi ini tepat sasaran. Saat ini, PLN membutuhkan payung hukum untuk peralihan data yang selama ini menggunakan Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) menjadi Data Terpadu Sasaran Ekonomi Nasional (DTSEN),” jelasnya.

    Lebih lanjut, Andreas menyoroti masalah pemanfaatan kapasitas pembangkit yang ideal guna menekan Biaya Pokok Penyediaan (BPP) tenaga listrik. Ia melihat kapasitas yang ada saat ini sebagai peluang emas untuk melakukan restrukturisasi subsidi energi secara nasional.

    Menurutnya, optimalisasi kapasitas ideal listrik dapat diarahkan untuk mempercepat program elektrifikasi, yang pada akhirnya mampu menekan beban subsidi gas LPG.

  • Sejumlah Negara Sediakan Listrik Gratis Saat Produksi Setrum Berlebih, Bisakah Indonesia Melakukannya?

    Sejumlah Negara Sediakan Listrik Gratis Saat Produksi Setrum Berlebih, Bisakah Indonesia Melakukannya?

     

    7cloud.asia – Di Jerman dan Australia, fenomena rumah tangga ditawari listrik gratis semakin sering terjadi.

    Hal ini terjadi pada waktu-waktu tertentu ketika produksi
    energi dari tenaga surya atau angin sedang tinggi-tingginya. Alhasil, listrik yang dihasilkan lebih banyak daripada yang dibutuhkan masyarakat.

    Sementara itu, kapasitas penyimpanan energi yang tersedia juga terbatas. Sebagian besar listrik pun perlu disalurkan untuk menjaga kestabilan sistem kelistrikan.

    Seiring banyaknya negara yang memperluas penggunaan energi angin dan surya, semakin banyak pula masyarakat yang bisa menyalakan mesin cuci atau merebus air dengan ketel listrik tanpa kena tagihan listrik.

    Ketika pasokan melebihi permintaan, harga listrik bisa turun drastis, bahkan terkadang sampai negatif. Harga listrik negatif itu sederhananya, produsen listrik yang membayar konsumen untuk menggunakan kelebihan listrik yang tersedia.

    Fenomena ini bahkan sudah mulai terjadi di beberapa negara Eropa lain seperti Spanyol. Pada 2024 saja, pasar listrik Eropa mencatat tagihan listrik negatif melebihi seribu jam.

    Energi terbarukan telah berkembang pesat beberapa tahun terakhir. Sebagian besar pertumbuhan ini merupakan sokongan tenaga surya.

    Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA)
    memperkirakan kapasitas tenaga surya akan meningkat lebih dari dua kali lipat pada 2030 dan menyumbang hampir 80% dari seluruh kapasitas pembangkit listrik baru di dunia. Energi terbarukan juga diprediksi bakal memenuhi lebih dari 90% pertumbuhan kebutuhan listrik global pada 2030.

    Tahun 2025, produksi listrik rendah karbon global meningkat sekitar 887 TWh (terawatt-jam), sedikit lebih tinggi daripada kenaikan permintaan listrik.

    Energi surya memenuhi sekitar 75% pertumbuhan tersebut. Sementara gabungan energi surya dan angin memenuhi hampir semua kebutuhan listrik.

    Sejumlah negara memiliki kelebihan pasokan listrik

    Di berbagai belahan dunia lain, surplus pasokan kian melimpah pada tahun 2025 menunjukkan harga listrik negatif menjadi semakin tidak bernilai.

    Di Spanyol, angka ini meningkat dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya. Di Prancis meningkat hampir 50 persen, sementara Belanda mengalami kenaikan sekitar 25 persen.

    Pola serupa juga mulai terlihat di berbagai negara Eropa seperti Finlandia, Swedia, Inggris, dan Jerman,

    Sedangkan di Jerman, produksi listrik yang tinggi dari angin dan surya—terutama pada akhir pekan—juga menghasilkan surplus pasokan. Kondisi ini kini cukup sering terjadi sehingga memengaruhi harga listrik.

    Bergeser ke Australia, tren serupa terjadi karena pertumbuhan panel surya atap yang menghasilkan listrik dalam jumlah besar pada siang hari ketika kebutuhan rumah tangga relatif rendah.

    Di Australia Selatan, harga listrik negatif mencakup sekitar seperempat dari pasokan listrik secara keseluruhan pada 2023 dan 2024.

    Pun di California, Amerika Serikat, proporsi jam dengan harga listrik negatif meningkat dari sekitar 4% pada 2023 menjadi 15 persen di 2024. Semua terjadi karena bauran energi terbarukan yang konsisten dan terealisasi dengan optimal. 

    Kelebihan pasokan jadi berkah tersendiri bagi masyarakat Australia

    Pola terjadinya kelebihan pasokan ini sebenarnya menunjukkan bahwa sistem kelistrikan saat ini belum cukup fleksibel untuk merespons perubahan pasokan yang sangat cepat. Akibatnya operator terkadang terpaksa “membuang” kelebihan listrik dengan cara menyalurkan listrik secara cuma-cuma agar sistem tetap dapat beroperasi dengan baik.


    Pada saat-saat ketika pasokan energi dari tenaga surya di Australia melimpah, tarif listrik pun diturunkan.
    anatoliy_gleb/Shutterstock

    Namun, Australia sepertinya sudah mulai menemukan cara mengatasi masalah ini. Harga listrik negatif kini umum terjadi dua hingga tiga jam setiap hari. Tapi di sisi lain lonjakan harga listrik bisa ditekan sedemikian rupa.

    Harga listrik nol atau negatif itu terjadi di pasar grosir (wholesale markets), yaitu pasar tempat pembangkit menjual listrik ke perusahaan listrik. Namun, tagihan listrik rumah tangga biasanya memakai harga eceran yang juga mencakup biaya jaringan dan pajak.

    Sebagian konsumen mungkin bisa merasakan manfaat, seperti pelanggan yang menggunakan tarif fleksibel (harga berubah mengikuti kondisi pasar). Mereka bisa menikmati listrik lebih murah atau bahkan “gratis” pada jam-jam tertentu.

    Namun pelanggan yang memiliki baterai penyimpanan atau sistem pintar bakal mendapat manfaat lebih besar dari tren ini. Sebab, mereka bisa menyimpan energi untuk malam hari ketika konsumsi biasanya lebih tinggi. Artinya, mereka tidak perlu membeli setrum saat harga lebih mahal.

    Hal ini mencerminkan sistem yang mulai beradaptasi. Operator Pasar Energi Australia (AEMO) menyebut baterai skala besar semakin berperan penting untuk menyimpan listrik saat pasokan melimpah dan melepaskannya ketika permintaan meningkat.

    Langkah ini membantu meredam fluktuasi harga dan menstabilkan sistem.

    Secara keseluruhan, perubahan ini menandai perubahan besar dalam operasi sistem kelistrikan. Seiring bertambahnya pembangkit energi terbarukan, pasokan listrik akan semakin dipengaruhi oleh kondisi cuaca. Oleh karenya, sistem listrik pun juga harus lebih fleksibel.

    Mulai diterapkan di Inggris

    Perubahan ini sudah mulai memengaruhi kebijakan di negara lain seperti Inggris. Menurut Operator Sistem Energi Nasional UK/NESO, mulai musim panas 2026, rumah tangga dan pelaku usaha akan didorong untuk menggunakan lebih banyak listrik pada saat pasokan berlebih, terutama saat produksi tenaga surya tinggi dan permintaan rendah.

    Waktu penerapan kebijakan ini bukanlah kebetulan. Sebagai bagian dari transisi menuju energi terbarukan, terutama tenaga surya, periode kelebihan pasokan listrik di Inggris, semakin sering terjadi.

    Pola serupa pernah terlihat di Jerman, ketika melonjak tajam, produksi tenaga surya menciptakan kebutuhan mendadak akan fleksibilitas sistem yang lebih besar.

    Pemadaman massal atau blackout yang terjadi di Spanyol dan Portugal pada 2025, menunjukkan betapa cepatnya ketidakstabilan dapat terjadi jika sistem tidak mampu merespons secara efektif.

    Untuk menanggulanginya, operator sistem Inggris memprioritaskan pemantauan kondisi semacam ini dan dikelola secara aktif.

    Pada akhirnya, listrik gratis mencerminkan perubahan yang lebih mendalam dalam cara kerja sistem energi modern.

    Seiring pertumbuhan energi terbarukan, kelebihan pasokan listrik bakal menjadi semakin hal lumrah di sejumlah negara. Listrik gratis—atau bahkan situasi saat konsumen ‘dibayar’ untuk menggunakan listrik—kemungkinan akan semakin sering terjadi di masa depan.


    Salma Al Arefi, Senior Lecturer in Renewable Energy, University of Leeds

    Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.